• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 172-176)

PROYEKSI KONSTITUSIONAL BADAi\ PERADILAN KIIUSUS PIKADA

E. Analisis

Analisis dalam tulisan ini

mencakup

2

(dua) bahasan,

yakni (1)

mengenai Institusi Pemutus Perselisihan

Hasil Pilkada

mentrut

UUD

1945 dan (2) Pengaturan Badan Peradilan Khusus Pilkada.

a. Institusi Penutus Perselisihan llasil Pilkada menurutWD

1945

Untuk melakukan

ProYeksi

konstitusionalperihal "badan

peradilan

khusus"ke depan, harus diperhatikan

3

(tiga)

hal penting, yaitu (1) pilkada bukan

rezim Pemilu; (2) MKtidakberwenang lagi mengadili perselisihan hasil pilkada; dan (3) Kewenangan

MK mengadili perselisihan hasil

pilkada berdasar UU 8/201 5 bersifat transisional. Ketiga

hal tersebut merupakan perasan

substansi Putusan

MK

Nomor 97 IPUU -XI|20I3 .

Berprjak pada

tiga hal

tersebut, maka

8

Hal ini

salah satunya disampaikan Ketua BAWASLU, Muhammad, ketika Rapat Dengar Pendapat KPU-BAWASLU dengan Komisi III DPR RI, Kamis 22 Januari 2015.

menyangkut proyeksi konstitusional

"badan peradilan khusus

pilkada", perlu

dikemukakan beberapa hal berikut.

Pertama, menurut Pasal

24C

aYat (1)

UUD

1945,

MK memiliki

5 (lima) kewenangan.

Merujuk pada pendapat Harjono,

MK memiliki

kewenanganutam4 yakni menguji UU terhadap

UUD dan memutus sengketa

kewenangan

lembaga negara. Dua hal ini

sejatinya

menyangkut pendapa! bukan fakta.

Jadi,

Putusan

MK

adalah mengenai pendapat, bukan putusan

atas

dasar pemeriksaan fakta.elebih

lanjut menurut Harjono, kedua

kewenangan

tersebut berbeda dengan tiga

kewenangan

lainny4 yaitu memutus pembubaran

partai

politik,

memutus perselisihan hasil Pemilu, dan memutus

terkait

impeachmeral Presiden/Wakil Presiden. Dalam pembubaranpartai politik, yang diperiksa

MK

adalatr pelanggaran-pelanggaran

yang dilakukan partai politik.

Menyangkut

kewenangan memutus perselisihan

hasil

Pemilu, MK

memeriksa

fakta

berupa angka- angka

jumlah

perolehan suara. Demikian pula,

terkait

dengan impeachment,

MK

memeriksa fakta terkait apakah Presiden melakukan tindak pidana.to

Oleh

karena

MK'

memeriksa fakta, maka semestinya diperkenankan upaya banding.

Pada saat perumusan ketpntuan tersebut di PAH

I

BP MPR, Harjono pemah menyatakan bahwa,

tiga

kewenangan tersebut

tidak perlu

menjadi kewenangan

MK.

Alasannya, putusan dalam

ketiga kewenangan tersebut

dimungkinkan

upaya banding. Oleh karenanya,

Harjono

menegaskan mengenai perlunya

dipahami

bahwa ketiga

kewenangan tersebut bukanlah kewenangan

inti MK. Harjono

mengusulkan

agffi ketiga

kewenangan

tersebut

diberikan

kepada

MA,

karena

MA memiliki

hukum acara berikut hakim-hakim pidana.

Perlu diketahui, suasana perubahan

UUD

1945 kala

itu diliputi

oleh

kondisi

merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap

MK,

sehingga orang berusaha memungut asa dengan adanya lembaga baru bernama

MK. Akhimya, jadilah e

Harjono, Konstitusi sebagai Rumah Bangsa, Sekretariat Jenderal

dan

Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 2008, hlm. 126.

to lbid.hlm.126.

a.

kemudian sejumlah wewenang yang

terkait dengan pemeriksaan

fakta

tersebutdiserahkan kepada

MK.

Namun, saya sependapat dengan pendapat tersebut bahwa,

ketiga

kewenangan

tersebut bukanlah merupakan

kewenangan utama

MK,

melainkan kewenangan sekunder.

Kedua, dengan didasarkan

pada argumentasi

di

atas, sesungguhnya sudah tepat

logika

Putusan

MK Nomor 97lPllJU-XI20l3 'mengeluarkan' kewenangan

mengadili perselisihan

hasil pilkada dari MK.

putusan

tersebut bukan hanya mengakhiri kewenangan

MK memutus perselisihan hasil

pilkada,

melainkan menjadi tonggak bagi

purifikasi

kewenangan

MK yang telah

ditentukan oleh Pasal24C ayat (1)

UUD

1945.

MK

merupakan

organ konstitusional, bukan organ

undang- undang sehingga kewenangan

MK

merupakan

atribusi langsung dari UUD 1945,

bukan diberikan oleh undang-undang.

b. Proyeksi Badan Peradilan

Khusus

Pillrida "

'

$ej alandenganhal tersebut, maka gagasan pembentuk UU 8/20 I 5 untuk membentuk badan peradildn khusus guna henyelesaikan perkara perselisihan

hasil pilkada juga

mendapatkan

justifikasi konstitusional.

Persoalannya seka-

rang, lfU 8D015 tidak

menjelaskan secara lebih lanjut mengenai apa dan bagaimana badan peradilan khusus tersebut.

Atas

dasar itulah, menurut saya, desain badan peradilan khusus ke depan haruslah didasarkan pada:

Pasal24 ayat(2)

UUD

1945, kehasaan

kehakiman dilakukon oleh

sebuah

Mahkamah Agung dan

badan-badon

peradilan yang berada di

bowahnya

dqlam lingkungan peradilan

rrmum,

I ingkungan per adil an agama, I ingkungan

peradilan militer

lingkungan

peradilan tata usaha negarq, dan oleh

sebuah M(rhkomah Konstitusi.

Pasal 24A ayat (l) UUD

1945, Mahkamah Agung b erw enang me ngadil

i

pada

tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangon di bnvah undang-

undang terhadap

undang-undang,

dan

mempunyai v,ewenong

lain

yang diberikan undang-undang.

c.

Pasal24Aayat (5)

WD

1945, Swunen, keduduknn, keanggotaan

dan

hukum

acoro

Mohkomah

Agung serta

badan

peradilan di

bawahnya

diatur

dengan undang-undang.

Berdasarkan Pasal

24 ayat (2) UUD

1945, kekuas&ln kehakiman dilakukan oleh 2 (dua) lembaga, yaitu

MK

dan MA.

Artiny4

tidak ada lembaga

lain

yang boleh menjadi pelaku kekuasaan kehakiman

selain kedua

lembaga tersebut. Dalam hal ini, karena nomenklaturnya adalah "badan peradilan", sementara putusan

MK

Nomor

97lPUU-XIl20l3

menyatakan

MK tidak

berwenang mengadil perselisihan hasil pilkada, maka jelaslah, badan peradilan khusus

yang menangani perselisihan hasil

pilkada haruslah merupakan bagian dari atau berada di bawah

MA.

Oleh karena itu, penulis

tidak sependapa$ ika"badan peradilan khusus" pilkada

dimaknai

sebagailembagasemi

atau

quasi

peradilan.ilAlasannya, perkara

perselisihan

hasil pemilu adalah perkara formal

yang membutuhkan teknik-teknik pembuktian yang bersifat

formal

dan dengan

jadwal

yang pasti.

Kepastian hukum sangat diutamakan dalam hal

ini. Sikap

mengutamakan keadilan

bagi

satu

orang tidak mungkin

dibenarkan apabila hal

itu justru akan menimbulkan

ketidakpastian

hukum

(rechtszekerheid)

sebab dalam

jenis perkara perselisihan hasil pemilu, tanpa adanya kepastian

hukum yang

tegas,

niscaya

dapat timbul ketidakadilan dalam seluruh mekanisme

tt

Seperti diketahui, dewasa ini banyak tumbuh

dan berkembang lembaga-lembaga yang meskipun

tidak disebut eksplisit sebagai pengadilan, akan tetapi

memiliki kewenangan dan mekanisme kerja yang juga bersifat mengadili. Lembaga-lembaga tersebut diberikan kewenangan oleh rurdang-undang untuk memeriksa dan memutus sesuatu perselisihan ataupun perkara pelanggaran hukum. Bahkan dengan keputusan yang bersifat final dan mengikat (final and binding) sebagaimana putusan pengadilan yang bersifat "inkrachf'. Sebagai contoh, ada

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KppU), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Informasi pusat (KIp) dan Komisi Informasi Daerah (KID); Badan pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu); dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

I

penyelenggaraan negara dan karena

itu

dapat menimbulkan ketidakadilan bagi semua warga Negara.r2

Oleh

karenanya, lembaga peradilan mumi dianggap paling tepat dan mumpuni dalam hal tersebut.Di samping itu, meskipun cara kerja dan dampak dari eksistensinya harus dipandang

terkait

dengan

fungsi

kekuasaan kehakiman

pada umumnyq rulmun lembaga-lembaga quasi

peradilan ini

cenderung

dipandang

sebagai

lembaga

yang

berada dalam ranah eksekutif, bukan lembaga yudikatif.

Lebih lanjut

berdasarkan

Pasal

241^

ayat (1) UUD 1945, MA

memungkinkan untuk diberikan wewenang lain yang diberikan undang-undang.

Hal ini

berbeda dengan

MK

yang kewenangannya bersifat

limitatil

kepada

MA,

pembentuk

UU

dapat memberikan atau menambahkan

kewenangan lain

sepanjang

diberikan melalui

undang-undang. Dengan demikian, berdasarkan Pasal24Aayat (5)

UUD

1 945, pembentukanbadanperadilankhusus yang menangani perselisihan

hasil

pilkada haruslah diatur dengan undang-undang. Demikian pula dengan, susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara badan peradilan khusus tersebut, harus diatur dalam undang-undang dimaksud.

Jika

pertanyaannya

kemudian

adalah, harus masuk

ke dalam

lingkungan peradilan

yang

manakah badan peradilan khusus yang menangani perselisihan hasil pilkada, mengingat ada

4

(empat) lingkungan peradilan

di

bawah

MA, yaitu

peradilan

ulnun,

peradilan agama,

peradilan tata usaha negara, dan

peradilan

militer?

Pengelompokan

empat

lingkungan peradilan tersebut diresmikan nonnanya dalam UU Nomor I 4 Tahun 1 970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang kemudian diubah

UU Nomor 4

Tahun 2004. Setelah reformasi,

tanpa dilandasi pemikiran yang

mendalam,

pengelompokan tersebut ditingkatkan menjadi

materi muatan UUD, padahal belum

tentu

tepat merulmpung berbagai

perkembangan yang ada. Sebagaimana diketahui, dewasa

ini

telah berkembang berbagai jenis peradilan baru yang bersifat khusus ataupun yang bersifat ad-

'2

Jimly

Asshiddiqie, Konstitusionalisme

di

Indonesia,

hlm. 189-190

Konstitusi

dan

Konpress, Jakarta,

hoc.13 Seandainyapun harus

memilih,

menurut saya, badan peradilan khusus yang menangani perselisihan hasil pilkada dimasukkan ke dalam lingkungan peradilan umum.

Dilihat dari desain

kelembagaan, pembentukan

pengadilan khusus di

bawah

MA

diperkenankan oleh

IIIJ Nomor

48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Menurut

Pasal I angka 8,

Pengadilan

Khusus

adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa,

mengadili, dan

memutus perkara

tertentu yang hanya dibenttrk dalam

salah

satu lingkungan peradilan

di

bawah

MA

yang diatur dalam undang-undang. Pasal

27

ayat

(l)

menegaskan kembali, pengadilan khusus hanya dapat

dibentuk dalam salah satu

lingkungan peradilan

di

bawah

MA.

Dalam Pasal

27

ayat

(2) dinyatakan, pembentukan pengadilan khusus diatur dalam undang-undang.

Terhadap ketentuan

"Pembenfukan

pengadilan khusus diatur dalam

undang- undang"

perlu

dipahami

lebih lanjut. Hal ini

seiring dengan Putusan

MK Nomor

012-016-

019/PUU-M2006

tanggal 19 Desember 2006,

yang omengeluarkan" ketentuan

mengenai

pengadilan tindak pidana korupsi

(tipikor)

dari

UU KPK

serta memerintahkan pengaturannya dengan UU tersendiri. Dalam pertimbangannya'

MK merujuk

pada Pasal

24A ayat (5) UUD

1945 yang menyatakan," Susunan, kedudakan, keanggotaan,

dsn hukum 'acaro

Mahkamah

Agung serta

badan

peradilan di

bawahnya

diatur dengan undang-undang."

Dari

segi

teknik

perundang-undangan,

frasa "diatur

dengan undang-undang" berarti harus diatur dengan undang-undang tersendiri.

Di

samping

itu,

frasa

"diatur

dengan undang-

undang" juga berarti bahwa hal

dimaksud

harus diatur dengan peraturan

perundang-

undangan dalam bentuk undang-undang, bukan

dalam bentuk

peraturan perundang-undangan

lainnya. Jadi, jika tidak ingin

eksistensi

badan peradilan khusus

pilkada

dipersoalkan

konstitusionalitasnya di MK, maka

badan

peradilan khusus pilkada nantinya wajib

t3 Jimly Asshiddiqie, Komentar Atas Undang' Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun I 945, Jakarta. Sinar Grafika,2009, hlm. 95-96.

dibentuk dengan undang-undang, bukan ohanya' dalam undang-undang.'o

Merujuk pada contoh

pengadilan khusus yang sudah ada, sampai saat

ini

tercatat sekwangnya I 0 lembaga peradilan yang bersifat khusus, yang seluruhnya diatur dengan undang-

undang.

Sebagai

contoh,

Pengadilan Niaga

dibentuk

dengan

UU Nomor 4 tahun

1998.

Dengan

UU Nomor 26

Tahun 2000, dibentuk Pengadilan

HAM.

Melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dibentuk Pengadilan

Tipikor.

Pengadilan

Anak dibentuk

dengan

UU Nomor 3

Thhun 1997 tentartg Pengadilan Anak.

Hal yang tidakkalahpenting dalam desain kelembagaan badan peradilan khusus pilkada adalah sifatrya, apakah ad-hoc atau permanen?

Dalam pandangan saya, badan peradilan khusus

pilkada

sebaiknya

bersifat ad hoc.

Desain kesernentaraan tersebut lebih disandarkan pada alasan,bahwa pilkada serentak nantinya digelar

lima

tahunan. Dipadankan dengan pengertian

ad hoc dalam UU

Kekuasaan Kehakiman,

maka

pengadilan

ad hoc dimaknai

sebagai

pengadilan khusus yang bersifat

sementara dengan kompetensi absolut dan relatif di bidang

tertentu untuk memeriks4 mengadili,

dan tnemutus suatu perkara yang diatur dalam UU.

Misalny4 pengadilan khusus pilkada dibentuk 6 (enam) bulan sebelum tahapan pertama pilkada dan berakhir paling lama 1 tahun setelah seluruh tahapan pilkada selesai.

Dalam hal isu-isu berikutnya,

saya sepakat

jika

secara

umum

merupakan

cory-

paste dengan penyesuaian sewajarnya dari hal- hal yang dulu pernah

dimiliki

dan dilaksanakan

MK. Seperti misalnya tempat

kedudukan, pengadilan khusus

pilkada, menurut

Penulis, merupakan pengadilantunggal, bukan dilekatkan disesuaikan dengan kompetensi yang

dimiliki,

pengadilan negeri menangani perselisihan hasil pilkada tingkat kabupaten atau kota, sedangkan pengadilan tinggi mengadili pilkada (gubernw)

'a Bandingkan dengan Dian Agung Wicaksono dan Ola Anisa Ayutama, Inisiasi Pengadilan Khusus

Pemilihan

Kepala Daerah dalam

Menghadapi Keserentakqn Pemilihan Gubernwi

Bupati,

dan

Ilalikota di Indonesia, Jurnal Rechtsvinding, Volume 4 Nomor l, April 2015,h1m. 174.

di provinsi. Meletakkan pengadilan

khusus

pilkada di daerah amat beresiko,

terutama resiko gesekan antar pendukung calon kepala daerah. Imbasnya gesekan tersebut bukan tidak mungkin berujung contempt

of

courtmanakala sikap

tidak

siap kalah masih bertahan. Resiko

demikian dapat diminimalisir

manakala venue pengadilan bukan

di

daerahnya sendiri.

Psikologi massa akan berbed4 berani bertindak

di

'kandang'sendiri, belum tentu di daerah lain.

Setidaknya pengalaman

MK

selama

ini

dapat dijadikan rujukan.

Demikian pula dengan susunan hakim, 9 orang hakim kiranya angka yang cukup realistis

dengan jumlah pilkada serentak.

Mereka

nantinyaharusterdiri dari kombinasihakim karier dan non-karir. Hakim non-karir diutamakan para akademisi untuk dapat memperkaya putusannya dengan perspektif akademis. Pengadilan khusus

pilkada hanya mengadili perselisihan

hasil pilkada,

tidak

menyelesaikan seluruh sengketa yang timbul dalam pilkada, mencakup sengketa administrasi,

tindak

pidana

pilkada

maupun

perselisihan hasil pilkada. Untuk

menjaga kulitas demokrasi berdarkn hukum, pengadilan khusus

pilkada

sebaiknya

bukan

merupakan peradilan

"kalkulator",

yang mengadili terkait dengan jumlah perolehan suara saja, melainkan mencakup

juga

susbtansi proses, seperti dulu dikenal

di MK

sebagai pelanggaran terstruktur, sistematis,

dan massif (TSM). Jika hal itu

dapat dibuktikan, maka pilkada dapat diulang,

hasilinya

dianulir, pemungutan suara diulang,

dan lain-lain.

Kemudian, putusan pengadilan khusu pilkada

haruslahfinal

and

binding

agar kepastian hukum dapat diperole\j us ti s iob e I e n.

Selain

itu,

agenda ketatanegaraan nasional,in

casu

penyelenggaraan pemerintahan daerah, tidak terganggu kelangsungannya.

Terakhir,

hal

yang

tidak

kalah penting dipertimbangkan, sifat dasar putusan pengadilan

khusus pilkada haruslah

memrioritaskan

keadilan restitutif (memulihkan)

kerugian Pemohon.

Jika terbukti

ada kecurangan yang

mengurangi atau menghilangkan

perolehan suara Pemohon, suara sejumlah yang terkurangi atau

hilang

tersebut terlebih

dulu

harus dapat

dikembalikan

secara

sah. Jika sudah,

baru kemudian putusan bersifat represif, menghukum pihak-pihak yang melakukan kecurangan. Bagi saya, ini prinsip dan semangat penting yang perlu disuntikkan dalam pengadilan khusus pilkada

yang

berwenang menyelesaikan perselisihan hasil pilkada.

E. Kesimpulan

1. Pasal24

ayat

Q),

Pasal

24A ayat

(1),

P asa124 Aayat (5)

UUD

1 945 merupakan dasar konstitusional

untuk

memberikan kewenangan penyelesaian perselisihan hasil pilkada kepada Mahkamah Agung;

2. Desain pengadilan khusus

pilkada

mempersyaratkan

dan

memperhatikan:

(1) dibentuk dengan

undang-undang

agar tidak menimbulkan

masalah konstitusional

di MK, (2) betsifat

ad-

hoc

mengingat pilkada serentak digelar

lima

tahunan;

(3)

pengadilan tunggal, bukan terletak didaerah untuk mencegah benturan massa pendukung calon kepala daerah;

(4)

mengadili perselisihan hasil

pilkada bukan

seluruh sengketa yang

timbul dalam pilkada; (5) terdiri

atas hakim karier dan non-karir. Hakim non-

karir

diutamakan'para akademisi untuk dapat memperkaya putusannya dengan

perspektif akademis; (6)

pengadilan

memrioritaskan keadilan restitutif

(memulihkan),

baru

kemudian bersifat

represif.; dan (7) hal-hal lain

dapat diatur dengan merujuk pada praktik

MK

selama ini.

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 172-176)