PROYEKSI KONSTITUSIONAL BADAi\ PERADILAN KIIUSUS PIKADA
E. Analisis
Analisis dalam tulisan ini
mencakup2
(dua) bahasan,yakni (1)
mengenai Institusi Pemutus PerselisihanHasil Pilkada
mentrutUUD
1945 dan (2) Pengaturan Badan Peradilan Khusus Pilkada.a. Institusi Penutus Perselisihan llasil Pilkada menurutWD
1945Untuk melakukan
ProYeksikonstitusionalperihal "badan
peradilankhusus"ke depan, harus diperhatikan
3
(tiga)hal penting, yaitu (1) pilkada bukan
rezim Pemilu; (2) MKtidakberwenang lagi mengadili perselisihan hasil pilkada; dan (3) KewenanganMK mengadili perselisihan hasil
pilkada berdasar UU 8/201 5 bersifat transisional. Ketigahal tersebut merupakan perasan
substansi PutusanMK
Nomor 97 IPUU -XI|20I3 .Berprjak pada
tiga hal
tersebut, maka8
Hal ini
salah satunya disampaikan Ketua BAWASLU, Muhammad, ketika Rapat Dengar Pendapat KPU-BAWASLU dengan Komisi III DPR RI, Kamis 22 Januari 2015.menyangkut proyeksi konstitusional
"badan peradilan khususpilkada", perlu
dikemukakan beberapa hal berikut.Pertama, menurut Pasal
24C
aYat (1)UUD
1945,MK memiliki
5 (lima) kewenangan.Merujuk pada pendapat Harjono,
MK memiliki
kewenanganutam4 yakni menguji UU terhadapUUD dan memutus sengketa
kewenanganlembaga negara. Dua hal ini
sejatinyamenyangkut pendapa! bukan fakta.
Jadi,Putusan
MK
adalah mengenai pendapat, bukan putusanatas
dasar pemeriksaan fakta.elebihlanjut menurut Harjono, kedua
kewenangantersebut berbeda dengan tiga
kewenanganlainny4 yaitu memutus pembubaran
partaipolitik,
memutus perselisihan hasil Pemilu, dan memutusterkait
impeachmeral Presiden/Wakil Presiden. Dalam pembubaranpartai politik, yang diperiksaMK
adalatr pelanggaran-pelanggaranyang dilakukan partai politik.
Menyangkutkewenangan memutus perselisihan
hasilPemilu, MK
memeriksafakta
berupa angka- angkajumlah
perolehan suara. Demikian pula,terkait
dengan impeachment,MK
memeriksa fakta terkait apakah Presiden melakukan tindak pidana.toOleh
karenaMK'
memeriksa fakta, maka semestinya diperkenankan upaya banding.Pada saat perumusan ketpntuan tersebut di PAH
I
BP MPR, Harjono pemah menyatakan bahwa,tiga
kewenangan tersebuttidak perlu
menjadi kewenanganMK.
Alasannya, putusan dalamketiga kewenangan tersebut
dimungkinkanupaya banding. Oleh karenanya,
Harjonomenegaskan mengenai perlunya
dipahamibahwa ketiga
kewenangan tersebut bukanlah kewenanganinti MK. Harjono
mengusulkanagffi ketiga
kewenangantersebut
diberikankepada
MA,
karenaMA memiliki
hukum acara berikut hakim-hakim pidana.Perlu diketahui, suasana perubahan
UUD
1945 kalaitu diliputi
olehkondisi
merosotnya kepercayaan masyarakat terhadapMK,
sehingga orang berusaha memungut asa dengan adanya lembaga baru bernamaMK. Akhimya, jadilah e
Harjono, Konstitusi sebagai Rumah Bangsa, Sekretariat Jenderaldan
Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 2008, hlm. 126.to lbid.hlm.126.
a.
kemudian sejumlah wewenang yang
terkait dengan pemeriksaanfakta
tersebutdiserahkan kepadaMK.
Namun, saya sependapat dengan pendapat tersebut bahwa,ketiga
kewenangantersebut bukanlah merupakan
kewenangan utamaMK,
melainkan kewenangan sekunder.Kedua, dengan didasarkan
pada argumentasidi
atas, sesungguhnya sudah tepatlogika
PutusanMK Nomor 97lPllJU-XI20l3 'mengeluarkan' kewenangan
mengadili perselisihanhasil pilkada dari MK.
putusantersebut bukan hanya mengakhiri kewenangan
MK memutus perselisihan hasil
pilkada,melainkan menjadi tonggak bagi
purifikasikewenangan
MK yang telah
ditentukan oleh Pasal24C ayat (1)UUD
1945.MK
merupakanorgan konstitusional, bukan organ
undang- undang sehingga kewenanganMK
merupakanatribusi langsung dari UUD 1945,
bukan diberikan oleh undang-undang.b. Proyeksi Badan Peradilan
KhususPillrida "
'$ej alandenganhal tersebut, maka gagasan pembentuk UU 8/20 I 5 untuk membentuk badan peradildn khusus guna henyelesaikan perkara perselisihan
hasil pilkada juga
mendapatkanjustifikasi konstitusional.
Persoalannya seka-rang, lfU 8D015 tidak
menjelaskan secara lebih lanjut mengenai apa dan bagaimana badan peradilan khusus tersebut.Atas
dasar itulah, menurut saya, desain badan peradilan khusus ke depan haruslah didasarkan pada:Pasal24 ayat(2)
UUD
1945, kehasaankehakiman dilakukon oleh
sebuahMahkamah Agung dan
badan-badonperadilan yang berada di
bowahnyadqlam lingkungan peradilan
rrmum,I ingkungan per adil an agama, I ingkungan
peradilan militer
lingkunganperadilan tata usaha negarq, dan oleh
sebuah M(rhkomah Konstitusi.Pasal 24A ayat (l) UUD
1945, Mahkamah Agung b erw enang me ngadili
pada
tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangon di bnvah undang-undang terhadap
undang-undang,dan
mempunyai v,ewenonglain
yang diberikan undang-undang.c.
Pasal24Aayat (5)WD
1945, Swunen, keduduknn, keanggotaandan
hukumacoro
MohkomahAgung serta
badanperadilan di
bawahnyadiatur
dengan undang-undang.Berdasarkan Pasal
24 ayat (2) UUD
1945, kekuas&ln kehakiman dilakukan oleh 2 (dua) lembaga, yaituMK
dan MA.Artiny4
tidak ada lembagalain
yang boleh menjadi pelaku kekuasaan kehakimanselain kedua
lembaga tersebut. Dalam hal ini, karena nomenklaturnya adalah "badan peradilan", sementara putusanMK
Nomor97lPUU-XIl20l3
menyatakanMK tidak
berwenang mengadil perselisihan hasil pilkada, maka jelaslah, badan peradilan khususyang menangani perselisihan hasil
pilkada haruslah merupakan bagian dari atau berada di bawahMA.
Oleh karena itu, penulis
tidak sependapa$ ika"badan peradilan khusus" pilkadadimaknai
sebagailembagasemiatau
quasiperadilan.ilAlasannya, perkara
perselisihanhasil pemilu adalah perkara formal
yang membutuhkan teknik-teknik pembuktian yang bersifatformal
dan denganjadwal
yang pasti.Kepastian hukum sangat diutamakan dalam hal
ini. Sikap
mengutamakan keadilanbagi
satuorang tidak mungkin
dibenarkan apabila halitu justru akan menimbulkan
ketidakpastianhukum
(rechtszekerheid)sebab dalam
jenis perkara perselisihan hasil pemilu, tanpa adanya kepastianhukum yang
tegas,niscaya
dapat timbul ketidakadilan dalam seluruh mekanismett
Seperti diketahui, dewasa ini banyak tumbuhdan berkembang lembaga-lembaga yang meskipun
tidak disebut eksplisit sebagai pengadilan, akan tetapi
memiliki kewenangan dan mekanisme kerja yang juga bersifat mengadili. Lembaga-lembaga tersebut diberikan kewenangan oleh rurdang-undang untuk memeriksa dan memutus sesuatu perselisihan ataupun perkara pelanggaran hukum. Bahkan dengan keputusan yang bersifat final dan mengikat (final and binding) sebagaimana putusan pengadilan yang bersifat "inkrachf'. Sebagai contoh, ada
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KppU), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Informasi pusat (KIp) dan Komisi Informasi Daerah (KID); Badan pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu); dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI).
I
penyelenggaraan negara dan karena
itu
dapat menimbulkan ketidakadilan bagi semua warga Negara.r2Oleh
karenanya, lembaga peradilan mumi dianggap paling tepat dan mumpuni dalam hal tersebut.Di samping itu, meskipun cara kerja dan dampak dari eksistensinya harus dipandangterkait
denganfungsi
kekuasaan kehakimanpada umumnyq rulmun lembaga-lembaga quasi
peradilan ini
cenderungdipandang
sebagailembaga
yang
berada dalam ranah eksekutif, bukan lembaga yudikatif.Lebih lanjut
berdasarkanPasal
241^ayat (1) UUD 1945, MA
memungkinkan untuk diberikan wewenang lain yang diberikan undang-undang.Hal ini
berbeda denganMK
yang kewenangannya bersifat
limitatil
kepadaMA,
pembentukUU
dapat memberikan atau menambahkankewenangan lain
sepanjangdiberikan melalui
undang-undang. Dengan demikian, berdasarkan Pasal24Aayat (5)UUD
1 945, pembentukanbadanperadilankhusus yang menangani perselisihan
hasil
pilkada haruslah diatur dengan undang-undang. Demikian pula dengan, susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara badan peradilan khusus tersebut, harus diatur dalam undang-undang dimaksud.Jika
pertanyaannyakemudian
adalah, harus masukke dalam
lingkungan peradilanyang
manakah badan peradilan khusus yang menangani perselisihan hasil pilkada, mengingat ada4
(empat) lingkungan peradilandi
bawahMA, yaitu
peradilanulnun,
peradilan agama,peradilan tata usaha negara, dan
peradilanmiliter?
Pengelompokanempat
lingkungan peradilan tersebut diresmikan nonnanya dalam UU Nomor I 4 Tahun 1 970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang kemudian diubahUU Nomor 4
Tahun 2004. Setelah reformasi,tanpa dilandasi pemikiran yang
mendalam,pengelompokan tersebut ditingkatkan menjadi
materi muatan UUD, padahal belum
tentutepat merulmpung berbagai
perkembangan yang ada. Sebagaimana diketahui, dewasaini
telah berkembang berbagai jenis peradilan baru yang bersifat khusus ataupun yang bersifat ad-'2
Jimly
Asshiddiqie, Konstitusionalismedi
Indonesia,hlm. 189-190
Konstitusi
danKonpress, Jakarta,
hoc.13 Seandainyapun harus
memilih,
menurut saya, badan peradilan khusus yang menangani perselisihan hasil pilkada dimasukkan ke dalam lingkungan peradilan umum.Dilihat dari desain
kelembagaan, pembentukanpengadilan khusus di
bawahMA
diperkenankan olehIIIJ Nomor
48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. MenurutPasal I angka 8,
PengadilanKhusus
adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa,mengadili, dan
memutus perkaratertentu yang hanya dibenttrk dalam
salahsatu lingkungan peradilan
di
bawahMA
yang diatur dalam undang-undang. Pasal27
ayat(l)
menegaskan kembali, pengadilan khusus hanya dapat
dibentuk dalam salah satu
lingkungan peradilandi
bawahMA.
Dalam Pasal27
ayat(2) dinyatakan, pembentukan pengadilan khusus diatur dalam undang-undang.
Terhadap ketentuan
"Pembenfukanpengadilan khusus diatur dalam
undang- undang"perlu
dipahamilebih lanjut. Hal ini
seiring dengan PutusanMK Nomor
012-016-019/PUU-M2006
tanggal 19 Desember 2006,yang omengeluarkan" ketentuan
mengenaipengadilan tindak pidana korupsi
(tipikor)
dariUU KPK
serta memerintahkan pengaturannya dengan UU tersendiri. Dalam pertimbangannya'MK merujuk
pada Pasal24A ayat (5) UUD
1945 yang menyatakan," Susunan, kedudakan, keanggotaan,dsn hukum 'acaro
MahkamahAgung serta
badanperadilan di
bawahnyadiatur dengan undang-undang."
Dari
segiteknik
perundang-undangan,frasa "diatur
dengan undang-undang" berarti harus diatur dengan undang-undang tersendiri.Di
sampingitu,
frasa"diatur
dengan undang-undang" juga berarti bahwa hal
dimaksudharus diatur dengan peraturan
perundang-undangan dalam bentuk undang-undang, bukan
dalam bentuk
peraturan perundang-undanganlainnya. Jadi, jika tidak ingin
eksistensibadan peradilan khusus
pilkada
dipersoalkankonstitusionalitasnya di MK, maka
badanperadilan khusus pilkada nantinya wajib
t3 Jimly Asshiddiqie, Komentar Atas Undang' Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun I 945, Jakarta. Sinar Grafika,2009, hlm. 95-96.
dibentuk dengan undang-undang, bukan ohanya' dalam undang-undang.'o
Merujuk pada contoh
pengadilan khusus yang sudah ada, sampai saatini
tercatat sekwangnya I 0 lembaga peradilan yang bersifat khusus, yang seluruhnya diatur dengan undang-undang.
Sebagaicontoh,
Pengadilan Niagadibentuk
denganUU Nomor 4 tahun
1998.Dengan
UU Nomor 26
Tahun 2000, dibentuk PengadilanHAM.
Melalui UU Nomor 30 Tahun 2002 dibentuk PengadilanTipikor.
PengadilanAnak dibentuk
denganUU Nomor 3
Thhun 1997 tentartg Pengadilan Anak.Hal yang tidakkalahpenting dalam desain kelembagaan badan peradilan khusus pilkada adalah sifatrya, apakah ad-hoc atau permanen?
Dalam pandangan saya, badan peradilan khusus
pilkada
sebaiknyabersifat ad hoc.
Desain kesernentaraan tersebut lebih disandarkan pada alasan,bahwa pilkada serentak nantinya digelarlima
tahunan. Dipadankan dengan pengertianad hoc dalam UU
Kekuasaan Kehakiman,maka
pengadilanad hoc dimaknai
sebagaipengadilan khusus yang bersifat
sementara dengan kompetensi absolut dan relatif di bidangtertentu untuk memeriks4 mengadili,
dan tnemutus suatu perkara yang diatur dalam UU.Misalny4 pengadilan khusus pilkada dibentuk 6 (enam) bulan sebelum tahapan pertama pilkada dan berakhir paling lama 1 tahun setelah seluruh tahapan pilkada selesai.
Dalam hal isu-isu berikutnya,
saya sepakatjika
secaraumum
merupakancory-
paste dengan penyesuaian sewajarnya dari hal- hal yang dulu pernah
dimiliki
dan dilaksanakanMK. Seperti misalnya tempat
kedudukan, pengadilan khususpilkada, menurut
Penulis, merupakan pengadilantunggal, bukan dilekatkan disesuaikan dengan kompetensi yangdimiliki,
pengadilan negeri menangani perselisihan hasil pilkada tingkat kabupaten atau kota, sedangkan pengadilan tinggi mengadili pilkada (gubernw)
'a Bandingkan dengan Dian Agung Wicaksono dan Ola Anisa Ayutama, Inisiasi Pengadilan Khusus
Pemilihan
Kepala Daerah dalam
Menghadapi Keserentakqn Pemilihan GubernwiBupati,
danIlalikota di Indonesia, Jurnal Rechtsvinding, Volume 4 Nomor l, April 2015,h1m. 174.
di provinsi. Meletakkan pengadilan
khususpilkada di daerah amat beresiko,
terutama resiko gesekan antar pendukung calon kepala daerah. Imbasnya gesekan tersebut bukan tidak mungkin berujung contemptof
courtmanakala sikaptidak
siap kalah masih bertahan. Resikodemikian dapat diminimalisir
manakala venue pengadilan bukandi
daerahnya sendiri.Psikologi massa akan berbed4 berani bertindak
di
'kandang'sendiri, belum tentu di daerah lain.Setidaknya pengalaman
MK
selamaini
dapat dijadikan rujukan.Demikian pula dengan susunan hakim, 9 orang hakim kiranya angka yang cukup realistis
dengan jumlah pilkada serentak.
Merekanantinyaharusterdiri dari kombinasihakim karier dan non-karir. Hakim non-karir diutamakan para akademisi untuk dapat memperkaya putusannya dengan perspektif akademis. Pengadilan khusus
pilkada hanya mengadili perselisihan
hasil pilkada,tidak
menyelesaikan seluruh sengketa yang timbul dalam pilkada, mencakup sengketa administrasi,tindak
pidanapilkada
maupunperselisihan hasil pilkada. Untuk
menjaga kulitas demokrasi berdarkn hukum, pengadilan khususpilkada
sebaiknyabukan
merupakan peradilan"kalkulator",
yang mengadili terkait dengan jumlah perolehan suara saja, melainkan mencakupjuga
susbtansi proses, seperti dulu dikenaldi MK
sebagai pelanggaran terstruktur, sistematis,dan massif (TSM). Jika hal itu
dapat dibuktikan, maka pilkada dapat diulang,hasilinya
dianulir, pemungutan suara diulang,dan lain-lain.
Kemudian, putusan pengadilan khusu pilkadaharuslahfinal
andbinding
agar kepastian hukum dapat diperole\j us ti s iob e I e n.Selain
itu,
agenda ketatanegaraan nasional,incasu
penyelenggaraan pemerintahan daerah, tidak terganggu kelangsungannya.Terakhir,
hal
yangtidak
kalah penting dipertimbangkan, sifat dasar putusan pengadilankhusus pilkada haruslah
memrioritaskankeadilan restitutif (memulihkan)
kerugian Pemohon.Jika terbukti
ada kecurangan yangmengurangi atau menghilangkan
perolehan suara Pemohon, suara sejumlah yang terkurangi atauhilang
tersebut terlebihdulu
harus dapatdikembalikan
secarasah. Jika sudah,
baru kemudian putusan bersifat represif, menghukum pihak-pihak yang melakukan kecurangan. Bagi saya, ini prinsip dan semangat penting yang perlu disuntikkan dalam pengadilan khusus pilkadayang
berwenang menyelesaikan perselisihan hasil pilkada.E. Kesimpulan
1. Pasal24
ayatQ),
Pasal24A ayat
(1),P asa124 Aayat (5)
UUD
1 945 merupakan dasar konstitusionaluntuk
memberikan kewenangan penyelesaian perselisihan hasil pilkada kepada Mahkamah Agung;2. Desain pengadilan khusus
pilkadamempersyaratkan
dan
memperhatikan:(1) dibentuk dengan
undang-undangagar tidak menimbulkan
masalah konstitusionaldi MK, (2) betsifat
ad-hoc
mengingat pilkada serentak digelarlima
tahunan;(3)
pengadilan tunggal, bukan terletak didaerah untuk mencegah benturan massa pendukung calon kepala daerah;(4)
mengadili perselisihan hasilpilkada bukan
seluruh sengketa yangtimbul dalam pilkada; (5) terdiri
atas hakim karier dan non-karir. Hakim non-karir
diutamakan'para akademisi untuk dapat memperkaya putusannya denganperspektif akademis; (6)
pengadilanmemrioritaskan keadilan restitutif
(memulihkan),baru
kemudian bersifatrepresif.; dan (7) hal-hal lain
dapat diatur dengan merujuk pada praktikMK
selama ini.