• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAI\ TEORETIK

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 102-106)

PARTISIPASI POLITIK ETNIS JAWA DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAII KABT]PATEN TEBO

Nomor 32 Nomor 32 tahun 2004 pasal 56 ayat (l)

II. TINJAUAI\ TEORETIK

1. Partisipasi Politik

Dalam bukuny4

Political

Participation,

"International Encyclopedia of the

Social

Sciences, ed. Ke-2 (New York: The

Macmillan Company, 1972),

XJI,h1m.252,

Herbert Mc

Closky dalam Dalam Dasar-Dasar

Ilmu Politik oleh Miriam Budiardjo,

memberikan batasan tentang partisipasi

politik

sebagai "keterlibatan masyarakat,

individu

maupun kelompok dalam

proses pengambilan

keputusan-keputusan pemerintahan". Sementara Hebbert McClosky

dalam (Budiardjo; 2002) bahwa:

Partisipasi

politik adalah kegiatan-kegiatan

sukarela

dari

warga masyarakat

melalui

mana mereka

mengambil bagian dalam proses

pemilihan penguasa,

dan secara langsung, atau tidak

langsung, dalam proses pembentukan kebij akan umum. (The term pol itic al participati on will refer to those voluntary activities by which members

ofa

society share

in

the selection

ofrules

and, directly

or

indirectly,

in

the

formation

of

public policy).

Berdasarkan definisi

di

atas dapat

kita pahami bahwa partisipasi politik

mencakup segala macam aktifitas

politik. Aktifitas politik tersebut mulai dari mempengaruhi

sebuah

keputusan atau kebijakan, memilih

atau menentukan

orang yang

membuat kebijakan

sampai pada menghambat atau

menentang kebijakan.

2.

Budaya

Politik

Budaya politik adalah pola

tingkah

laku individu dan

orientasinya terhadap

kehidupan politik yang dihayati oleh

para

anggota suatu sistem politik

(Kantaprawira,

2004). Adapun Almond dan Verba

(1990)

mengungkapkan bahwa "budaya politik merupakan sikap individu

terhadap sistem

politik dan komponen-komponenny4

juga

sikap individu

terhadap peranan yang dapat

dimainkan dalam sebuah sistem politik".

Persepsi budaya politik sering

diartikan

sebagai peradaban politik yang

dikaitkan dengan prestasi dalam bidang peradaban dan teknologi.

Hal ini terlihat pula dari

lingkup budaya

politik yang meliputi pola

orientasi

individu

yang diperoleh

dari

pengetahuan luas maupun sempit, orientasiny a y ang dipengaruhi

oleh 'perasiulrl keterlibatan,

keterlekatan

ataupun penolakan, orientasi yang

bersifat

menilai

terhadap

objek,

dan peristiwa

politik,

hal tersebut

dinilai

sebagai peradaban daripada sebagai kebudayaan. Oleh karena budaya

politik

merupakan persepsi manusia,

pola

sikapnya terhadap berbagai masalah

politik

dan peristiwa

politik

terbawa

pula ke dalam

pernbentukan struktur dan proses kegiatan

politik

masyarakat

maupun pemerintah, karena sistem politik sendiri

merupakan

intenelasi

artana manusia yang menyangkut soal kekuasaan, aturan, dan wewenang.

Pada prinsipnya budaya

politik

sebagai

salah satu unsur atau

bagian kebudayaan merupakan salah satu

jenis

lingkungan yang

mengelilingi, mempengaruhi, dan

menekan sistem

politik.

Dalam budaya

politik itu

sendiri berinteraksi sejumlah sistem antara

lain

sistem

ekologi,

sistem sosial, dan sistem kepribadian

yang tergolong dalam kategori

lingkungan

dalam

masyarakat, maupun lingkungan luar masyarakat, sebagai hasil kontak sistem

politik

dengan

dunia luar. Secara tidak

langsung, yang paling dianggap mendasari

sistempolitik

Indonesia tentunya budaya

politik.

3. Prilaku Politik

Perilaku politik atau (Inggis: Politic

Behaviour) adalah perilaku yang dilakukan oleh

insan/

individu

atau kelompok guna memenuhi

hak dan

kewajibannya sebagai insan

politik.

Seorang

individu/ kelompok diwajibkan

oleh negara untuk melakukan hak dan kewajibannya

guna melakukan perilaku politik (httpll wikipedia.org). Perilaku politik dapat

pula dirumuskan sebagai kegiatan

yang

berkenaan

dengan proses

pembuatan

dan

pelaksanaan keputusan

politik. Interaksi arfian

pemerintah dengan masyarakat, antar lembaga pemerintah

dan antar kelompok dan individu

dalam masyarakat dalam rangka proses pembuatan,

pelaksanaan, penegakan keputusan politik pada

dasarnya merupakan

perilaku politik.

Perilaku

politik

dapat dijumpai di dalam negara misalnya, ada pihak yang memerintah dan yang diperintah.

Perilaku politik berkenaan

dengan tujuan masyarakat, kebijakan

untuk

mencapai

suatu tujuan, serta sistem

kekuasaan yang memungkinkan adanya

suatu otoritas

untuk mengatur kehidupan masyarakat secara umum dan bukan tujuan perorangan.

Perilaku

politik tidaklah

sesuatu yang dapat

berdiri

tegak sendiri tetapi mengandung

keterkaitan dengan hal yang lain.

Dalam

Wkipedia, adapun yang dimaksud

dengan perilaku

politik

contohnya adalah: melakukan

pemilihan untuk memilih wakil rakyat I

pemimpin, mengikuti dan berhak menjadi insan

politik yang mengikuti suatu partai politik

atau

parpol, mengikuti

ormas atau organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat,

ikut

serta dalam pesta

politik, ikut

mengkritik

atau

menurunkan

para pelaku politik

yang berotoritas,

berhak untuk menjadi

pimpinan

politik,

berkewajiban

untuk melakukan

hak dan kewajibannya sebagai insan

politik

guna melakukan perilaku

politik

yang telah disusun secara

baik oleh

undang-undang

dasar

dan pemndangan hukum yang berlaku

ilI. METODE

Jenis penelitian kuantitatif

dengan

menggunakan metode Survei.

Penelitian

kuantitatif adalah penelitian ilmiah

yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena

serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian

kuantitatif adalah mengembangkan

dan menggunakan model-model matematis, teori- teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan

fenomena alam.

Proses pengukuran adalah bagian yang

sental

dalam penelitian

kuantitatif karena hal ini

memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan

empiris

dan ekspresi matematis

dari

hubungan-hubungan

kuantitatif. Melalui survei, peneliti

hendak menggambarkan

karakteristik tertentu

dari suatu populasi, dimana tempat kenyataan sosial berkembang.

Nazir

1983

dan Goodall,

1987 dalam (Yunus;

2010)

Survei suatu penyelidikan yang dilakukan

untuk

memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara fakhral,

baik

mengenai

institusi

sosial, ekonomi,

politik dari

suatu kelompok ataupun daerah dan hal ini dapat dilakukan secura sensus ataupun menggunakan sampel.

Berdasarkan pendapat

tersebut,

peneliti

hendak mendeskripsikan karakteristik

tertentu dari suatu populasi serta

diajukan

untuk mempelajari kasus atau fenomena yang terjadi pada pemilihan umum kepala daerah

di

Kabupaten Tebo tentang bagaimana partisipasi

politik

etnis jawa.

Unit

analisis penelitian yaitu

etnis

jawa

dalam wilayah Bujang Kabupaten Tebo.

Kecamatan Rimbo

tV. HASIL

1. Partisipasi Politik Etnis Jawa Dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten

Tebo

Secara

umum

bahwa masyarakat etnis

Jawa di Kabupaten Tebo, memiliki

tingkat

partisipasi tergolong rendah

dalam

pemilihan

umum kepala

daerah kabupaten

Tebo

tahun

2011. Dari hasil analisis survei

penelitian

ini

terhadap

48

responden

berusia 17

tahun

atau sudah menikah yang

diwawancarai menunjukkan bahwa, sebagian besar responden memiliki tingkat partisipasi

politik

rendah dalam

Pemilihan Umum Kepala

Daerah Kabupaten Tebo tahun 2011. Secaraberturut a) pendaftaran

calon

sebanyak

25 % ikut dalam

kegiatan

pendaftaran calon sementara 75

%tidakikut,

b) kampanye 47

%

rkltfi dalam kegiatan kampanye sementara 52,1 oA

tidak ikut, c)

pemungutan suara 60,4

Yo ikut

dalam pemungutan suara sementara 39,6 yo

tidak ikut, d)

penghitungan suara sebanyak 41,7

o ikut dalam

kegiatan

penghitungan suara

sementara 58,3 %

tidak ikut.

Tingkat Partisipasi Politik Etnis Jarrua f,}alarn Pernilukada di Kabupaten

Tetro tahun ZOLL

74",6 6Ao/o 5Ao.r'o 4Ao/L 3()9..t;

2A.A 1()?ti

OY/o

6494

P(lnclattaran Calon Kar]1pany(!' Pernun€lLjtan Strsra Penghitufr$:an SLrara

I Tirngkat partisipasi P{)lftik glnis Jar,va Dalarn Penrilukade di Kabupaterr Telf,o tahun 2011

Gambar

l:

Tingkat Partisipasi

politik

Etnis

Jawa Dalam

Pemilukada di Kabupaten Tebo tahun 2011

MMW

Angka-angka diatas

merupakan

akumulasi dari perhitungan

masing-masing tahapan sehingga ketika dijumlahkan rnelebihi 100%. Perhitungan secara

rinci terlihat

dalam tabel berikut

ini:

Tabel 1.

Perhitungan

masing-masing tahapan

Pilkada

No Thhapan Ya Tidak

83,3yo

n:48

menyatakan tidak,

2)

rekam jejak (track record)/ latar belakang historis sebanyak

8

responden 16,70/o

n:48

menyatakan

ya

dan sebanyak 40 responden 83,3o/o n:4Smenyatakan

tidak, 3) tingkat

pendidikan

dan

komunikasi sebanyak 6 responden

I2,5yon:48

menyatakan

ya dan

sebanyak

42

responden 87,5%o n=48 menyatakan tidak, 4) budaya politik masy arakat/

kebiasaan sebanyak 17 responden 35,4%o

rr48

menyatakan

ya dan

sebanyak

31

responden 64,604

n:48

menyatakan

tidak, 5)

kondisi geografis sebanyak 15 responden 3l,3Yo ll-.48 menyatakan

ya dan

sebanyak

33

responden 68,8yo

n:48

menyatakan

tidak, 6)

lingkungan sosial

politik

sebanyak

16

responden 33,3%o

n:48

menyatakan ya dan sebanyak 32 responden 66,7yo

n:48

menyatakan tidak, 7) kepribadian, agama dan keyakinan sebanyak 14 responden 29,2o/o

rr48

menyatakan

ya dan

sebanyak

34

responden 70,8o/o

n:48

menyatakan tidak, dan selanjutnya

8)

ucapan/ ajakan

dari

tokoh masyarakat sebanyak I 6 re sponde n 3 3,3o/o

rr-48

menyatakan

ya dan

sebanyak

3l

responden

64,60

n:48

menyatakan tidak.

Jika

diterjemahkan

dalam tabel

maka, dapat disajikan sebagai berikut:

I 2 3

Pendaftaran Calon Kampanye

Pemungutan Suara

25% 75%

47

%

53%

60% 40%

Penghitungan Suara

42%

58 %

2. X'aktor-faktor yang mempengaruhi Partisipasi Politik Etnis Jawa Dalam Pemilihan Kepala I)aerah Kabupaten

Tebo

,

Berdasarkan hasil survei

peneliti

faktor

yang

mempengaruhi Partisipasi

Politik

Efrris Jawa dalam Pemilihan

Umum

Kepala Daerah Langsung kabupaten Tebo

tahun

2011. Secara

berurut l) latar belakang keturunan/

latar belakang

suku

sebanyak

8

responden 16,70/o

n:48

menyatakan ya dan sebanyak 40 responden

4A%

35%

30%

z5%

20o/o

L5%

LA%

SP/o

o%

33%

ffi

3L%

ffi

35%

ffi

M

Budaya Politik r2%

ffi

L796

M

Faktor Partisipasi Politik Etnis Jawa Dalam Pemilukada di Kabupaten Tebo tahun ?:OLL

Kondisi LingkunganKepribadian Ucapan/

Geografis Sosial Politik Agamadnn Aiakan

Masyarakat

Keyakinan Tokoh

m Faktor Pdrtisipasi Politik Etnis Jawa D*lam Pemilukada di Kabupaten Tebo t*hun 2011g1q5ygy1161

Gambar 2: Faktor Partisipasi

Politik

Etnis Jawa Dalam Pemilukada di Kabupaten Tebo tahun 2011

Latar

RekanJejak Tingkat

Belakang

Pendidikan

No Tahapan

Tabel 2.

Indikator

Partisipasi

Politik hak pilihnya dalam pemilihan umum

kepala daerah dan

wakil

kepala daerah

di

kabupaten Tebo tahun 2011 karena dipengaruhi beberapa faktor utama

yaitu l)

menunaikan hak sebagai wuuga negara yang baik, 2)

ingin

mendapatkan

pemimpin yang bisa

merubah keadaan lebih baik (efikasi

politik),

3) sebagai momen rutinitas semata.

Keterlibatan politik masyarakat

etnis jawa di kabupaten Tebo dalam pemilihan umum

kepala daerah (pemilukada) di

Kabupaten

Tebo tahun 20ll untuk tahap

pendaftaran calon tergolong rendah

yakni

25Yo tesponden.

Berikut hasil

survei tentang partisipasi

politik

masyarakat etnis

jawa

di kabupaten tebo dalam

pemilihan umum

kepala daerah (pemilukada)

di

Kabupaten

Tebo tahun 2011 untuk

tahap pendaftaran calon.

2. X'alctor-faktor yang mempengaruhi Partisipasi Politik Etnis Jawa Dalam ps6ilihan Kepala Daerah Kabupaten

Tebo.

Pafiisipasi masyarakat dalam

Pe-

rnilukada Kabupaten Tebo

cenderung

memperhatikan aspek kekerabatan

(Primordia- lisme) yaitu meliputi etnis (suku),

agama

dan geografis (daerah). Dikabupaten

Tebo Pemilukada tahun 2001,2006 dan 2011 berasal

dali Etnis

Jm,va (masyarakat pendatang) dan

Etnis

Melayu

Jambi

(masyarakat

asli

daerah).

Dengan demikian maka setiap pasangan calon kepala daerah dan

wakil

kepala daeratr yang akan

ikut

pada

pemilihan kepala

daerah dan

wakil

kepala daerah

mewakili efiris

tersebut.

Jika Calon Kepala daerahnya berasal dai^ Etnis Jm,va, maka

untuk

calon

wakil

kepala daerah berasal dari

Etnis

Melayu

Jambi.

Begitu

juga

sebaliknya.

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 102-106)