SURVEI DAI\ IIITTJNG CEPAT PILKADA MELALTII TELAAH PUTUS$I MK NO 9|PW.WT]2009 DAI\ PUTUS$I MK NO z4IPrtIU.xJA2ftr4
Nuzul Qur'aini Mardiyar
ABSTRAKSurvei dan demokrasi memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Survei opini publik sebelum dimulainya proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan hal yang lumrah ditemukan pada negara demokraiis seperti Indonesia- Survei jatnak dilakukan menjelang Pilkada guna mengetahui persepsi publik terhadap popularitas sosok pemimpin calon kepala daerah yang maju dalam Pemiiihan Kepala Daerah serta partai yang akan bertalung dalam Pilkada itu sendiri. Survei ataujajak pendapat adalah hal yang penting dilakukan,
hut::lv1bagi
kepentingan publik, peserta Pilkada, dan KPU sendiri terkait persiapan Oan t<esaOaran pemilihatas Pilkada yang akan dilaksanakan di daerahnya yang kesemuanya ini dapat dipeigunakan sebagaifeedback untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan Pilkada ke depan. Proses hitung iepit (quick
couifl
juga turut memberikan peran penting dalam menjamin perlindungan hak asasi manusia (HAM) terutama hak masyarakat untuk tahu (rights to know)yakni kebebasan untuk mendapatkan informasi dan kebebasan untuk memberikan atau menyampaikan informasi (freedomof
information) sebagaimana yang diatur dalam pasal 2gF UUD 1945. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No 9/PUU-MV200} dan Putusan No 24lpUU -XII/2014 telah memberikan penafsiran sehubungan dengan ketentuan pelarangan pengumuman hasil survei pada masa tenalq' pelarangan penghitungan cepat di hari Pemilu, dan ketentuan pidana atas publikasi hasil survei dan penghitungan cepat tersebut. Kedua putusanini
setidaknya telah mempertimbangkan pentingnya aspek kebebasanHAM
dalam hal penyampaian informasi dan menjaga kepentingan publik daiam-.niuputl*
informasi yarr9 up to date tanpa batasan waktu. Mahkamah menekankan
ru*"i
dan hitung cepat haruslah dilakukan dengan prinsip metodologis-ilmiah dan tidak bertendensi untuk mempengaruhi -alonpemilih di
masa tenang.
Kata kunci: Survei, Hitung cepat (quick cotmt), Metode Ilmiah, Lembaga Survei, pilkada.
survey and democracy had a symbio,i"
*rrrai#ff#"cfnip.
survey or pglt before the process ofregionol election is a common thing found in the democratic country like indonesia. UsiAry survey conductid iust before the election to determiie public perceptions related the popularity of thefigure
which is appointedas candidate in regional election an well as the parties itself, Survey or
poll k viry
important to be done, especiallyfor the benefit of the public, participants of the election, and General Election Commission(Kp(,
related to preparation and awareness of the voters.
It will
be implemented in the regions which is can be usedforfeedback systems in order to increase the quality of the implementation regioiat election in the next election. The activities of quick count were also give an important role in ensuring p:rotection on human rights especially the rights of the public to lcnow (rights to lmow) which is the freedoi 7or obtatn information-and freedom to give or convey information (the freedom of information as arranged in-article 28F of Constitution.constitutional court tlrough the Decision Number 9
/PUU-vil /
2009 and Decision Number 24/puu-xl /
2014 gave interpretation with respect of the provisions restriction on announcing survey results conducted in cooling offper;iod, a restriction on a quick count on the dayfor general election, and sanctionsfor publication the survey result and quick count. These decisions had to consider the importance of freedom himan rights in terms of communicating information and sake of interest of pubtic in getting rnformation that up to
iate
without any of time limit Constitutional Court emphasize survqt and quickcoini
shalt be donedue
to the principles of scientific method and not having the tendency to influence the constituents during the coolingoff
period.
Kqwords: survey, quick count, methodological-scientfic principle, survey institutions, regional election.
'
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Jl. Medan Merdeka Barat No. 6 Jakartapusat. Email: nuzulyahoo.com _qm@
A.
PENDAHULUAI\
Keberadaan lembaga survei seharusnya mampu dipahami dengan baik bahwa kebutuhan
akan lembaga
independenyang
melakukan survei penting dalam proses demokrasi. Survei menyajikan secara ringkas gambaran masyarakat ataupublik
kepadapemimpin politik
selakupembuat kebijakan yang akan
berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup bernegara. Halini
seperti yang diungkapkan oleh Sidney Verba(2011) melalui
pandangannya menyatakan survei akan menghasilkan apa yang seharusnya demokrasi hasilkan-
perwakilan yang sama dari semua warga negara. Sampeldari
survei yang samarat4
dirancang sedemikian rupa sehinggasetiap warga negara memiliki
kesempatansama untuk berpartisipasi dan suara yang sama
ketika
berpartisipasi.tKarena survei
begituberharga dalam demokrasi, maka orang-orang
yang
melalnrkandan
melaporkanpun
harus transparan dan terbuka. Begitupula sebalikny4 denganera
keterbukaaninformasi saat ini,
masyarakat
juga
haruskritis
terhadap lembaga survei yang melakukanrilis
hasil surveinya.Di Indonesi4
seperti halnyadi
negara lain, secara teknis menggali opinipublik
secara sistematis, seperti lewat survei, tentang masalah yang berkaitan dengan kepentinganpublik
dan publikasi terhadap hasilnya lebih dimungkinkandilakukan dalam sebuah rezim
demokratis.Penggalian opini publik merupakan konsekuensi logis dari demokrasi itu sendiri sebab sifat dasar demokrasi
yang
membedakannyadari
rezimlain adalah
ketanggapanpemerintah
secara berkesinambungan terhadap preferensi warga negara(Dahl, l97l).2
Surveijarnak
dilakukan menjelangPilkada
guna mengetahui persepsipublik
terhadap popularitas sosok pemimpin calon kepala daerah yang maju dalam Pemilihan Kepala Daerah serta partai yang akan bertarungdalam Pilkada itu sendiri. Survei
ataujajak
pendapat adalahhal yang penting
dilakukan, khususnyabagi
kepentinganpublik,
pesertat
http://surveikampus. com/author/surveikampus/, diakses pada7 Oktober 2015.
2 http://www.lsi.or.id/risetl 66 I iaiak'pendapat- publik-membantu-demokrasi-bekerja, diakses pada 7 Oktober 2015.
Pilkada, dan KPU sendiri terkait
persiapandan kesadaran
pemilih
atas Pilkada yang akan dilaksanakandi
daerahnyayang
kesemuanyaini
dapat dipergunakan sebagaifeedback untuk memperbaiki kualitas penyelengg araan Pilkada ke depan. Namun demikian tidak menutup faktapula masih banyak pihak seperti elit politis
dan masyarakat yang meragukan
hasil
survei.Ketidakpercayzum
ini timbul
sebagian berasal daritadisijajak
pendapat yang belum kuat dan tidak jarangjajak
pendapatdilakukan
dengan mengabaikan kaidahyang
seharusnya' namun hasilnya sering dilaporkanoleh media
massa secara luas. Tentunyahal ini
mertrgikan survei dan kepentingan publik.Dalam beberapa tahun terakhir terutama dalam penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2004,
2009, dan 201 4 lalu dan jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bermunculan hasil survei yang
menarik peliputan oleh media
massa secara luas.Strvei
atau jajak pendapat yang dilaktrkan pra pemilihan umum dilakukan biasanya untuk mengetahui seberapa dalampublik
mengetahui rekamjejak
anggota dewandan bakal
calonkepala daerah, fatzcara prosedur
memilih, preferensimemilih
berdasarkanpartai politik yang
mendukungdan
mengusulkan qnggota dewan dan pasangan calon kepala daerah tersebut.Selanjutnya, masyarakat tentunya sudah akrab dengan
istilah quick count
atau hitungcepat.
Proseshitung
cepat(quick count)
di Indonesia juga turut memberikan peran pentingdalam menjamin perlindungan hak
asasimanusia
(HAM)
terutama hak masyarakat untuk tahu(rights to lmow) yakni
kebebasan untuk mendapatkaninformasi dan
kebebasan untukmemberikan atau menyampaikan
informasi(freedom of information)
sebagaimana yangdiatur dalam
Pasal28F lruD 1945.
Hitungcepat merupakan
survei dari hasil
mengukur sampel (sebagian dari populasi) sehingga yangdihasilkan
merupakanstatistik yang
bersifat dugaan.Hitung
cepat dapatdimaknai
sebagai sebuah metode statistikvalid
untuk melalarkan prediksi hasiljika
dilakukan dengan proses dan prosedur yang ilmiah serta bersandar pada aspek etika penelitian dan dari segi hasil selisihnya tidak tipis (atau lebihkecil
dart margin oferror).Dat''
segi aspek non pengukuran, baik survei maupurl hitung cepat memiliki kemungkinan untuk keliru
yang
disebabkanoleh faktor
penelitilmanusi4dan rentan
disalahgunakankarena
punya kepentingan. Namun demikian, seiring dengan perkembangankeilmuan statistik4
peneliti bisa mengontrol ercor dari proses penelitiannyamelalui jurnlah sampel maupun
metodologi teknis yang digunakarq kesemuanyaini
untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi.Bahwa mengenai adanya
perbedaandalam rilis jajak
pendapatdan hitung
cepat dapat menjadi polemik tersendiri di masyarakat menjelangPilkada
apabilapihak KpU
tidak mempersiapkan instrumen aturan bagi lembagasurvei yang akan
melaksanakannya.Melalui
PutusanMK
mengenai survei dan hitung cepat, Mahkamah Konstitusi memberikan penafsiranmengenai pelaksanaan survei dan
hitu.rg cepat agar tetap dilaksanakan namun dengan memperhatikan prinsip metodologiilmiah
danhasil
yang dapat dipertanggungiawabkan agar masyarakat dapat merasakan secara langsung akan keberadaan lembaga survei dan khususnyasurvei dan hitung
cepat. yang,dilaksanakan.Namun,
bagaimana ha.lnyabila
independensi lembaga survei tersebut "dimanfaatkan,' oleh pasangancalon
kepala daerah ataupun partaipolitik yang
tendensius mempengaruhi agar masyarakat dapat memilih calon yang dij agokan dan mendukurrg. partai yang mengusung calon tersebut.B. TINJAUAN TEORITIS
Jaj ak pendapat dan hitung cepat keduanya merupakan metode ilmiah dengan menggunakan survey sampling: dengan mempelajari sampel
3 Menurut
SuharsimiArikunto,
sctm-pling didefinisikan sebagai sejumlah subjek penelitian sebagai wakil dari populasi sehingga dihasilkan sample yang mewakili populasi dimaksud. Semakin banyak ciri dan karakteristik yang ada pada populasi, maka akan semakin sedikit subjek yang tercakup dalam populasi, dan sebaliknya. Jenis teknik sampling yang dimaksud adalah cara untuk menentukan sample yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sample yang akan dijadikan sumber data sebenamya, dengan memeperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi yang di. peroleh sample representatif.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur penelitian Suatu Pendekqtan Prqktek. Jakarta: Rineka Cipta.
dari
masing-masingunit dari
suatu populasidan terkait teknik
pengumpulandata
survei, seperti konstruksi kuesioner dan metode untuk meningkatkanjumlah
dan ketepatan tanggapan terhadap survei. Survei statistik yang dilakukanuntuk
membuat kesimpulanstatistik
tentang populasiyang
dipelajari.Hal ini
seperti yang diungkapkan oleh penulis terkenal asal SpanyolMiguel de Cervantes (1547-1616)
dalambukunya
Don
Quixote:"by
a small somple we may judge the whole piece".Pada dasarnya
quick
count merupakansalah satu contoh
penerapan metode surveysampling,
denganmeneliti kondisi
beberapa sampel untuk mengambil kesimpulan terhadapkondisi
populasi. Dengan mengambil sampel dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagaiunit
sampel dan menggunakan metode cluster- random sampling,a untuk mengetahui cerminan perolehan suara secara menyeluruh.Sedangkan definisi lembaga
survei adalah lembagayang
telah terdaftardi KpU Provinsi/IilP Aceh
atauKPU/ICP
Kabupaten/Kota untuk melakukan survei atauj aj ak pendapat dan penghitungan cepat hasil pemilihan. 5 C.
METODE
Tulisan
ini
termasuk penelitian hukumnormatif yang juga sering disebut
dengan penelitiandoktinal
dengan obyek atau sasaran penelitian berupa peraturan, perundang-undangan dan bahan hukum lainnya.6Hasil dari penelitian hukum sekalipun bukan teori hukum baru palinga
Cluster Random Sampling adalah teknik memilih sebuah sampel dari kelompok-kelompok unit yang kecil. Populasi dari cluster merupakan subpopulasidari total
populasi. Pengelompokan secara cluster menghasilkan unit elementer yang heterogen sepertihalnya
populasisendiri.
http://yosiabdiantindaon.b I o gsp ot. c o . id/ 20 | 2 / 0 5 / mac am -m ac am -tekn ik - sampling-menurut-dra.html, diakses pada
8
Oktober 2015.5
Pasal 42 ayatI
Peraturan Komisi pemilihan UmumNo 5
Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Patisipasi Masyarakat Dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.6 Mudzakir,
Metode Penelitiqn Huktm, Program Magister (S2) Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia.tidak adalah
argumentasibaru.7
Penelitian yang dilakukan adalah yuridis normatif denganmengkaji pokok
permasalahan sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Selain itu, peneliti juga akan melengkapinya dari aspek-aspek lainyang
relevan berdasarkanruang lingkup
dan identifikasi masalah yang dirumuskan.D. TEMUAI\
Pada Pilpres 2014 lalu
ditemukan adanya perbedaanhasil quick count
lembaga survei yang berbeda dari hasil yangdirilis
olehKomisi Pemilihan Umum (KPU)
sehinggamenimbulkan polemik di
masyarakat yang mempertanyakan mengapa hasilnya bisa berbeda dan metode apa yang digunakan oleh lembaga survei tersebut. Bahkan,hulu dari
pertanyaantersebut apakah lembaga surveinya
merilis hasilnya secara independen ataukah memangada pihak-pihak yang melakukan
'opesananpribadi" yang hanya ingin
menguntungkan kepentingan kelompoknya dengan mengabaikanfakta-fakta dan kaidah-kaidah ilmiah
yang bertanggungiawab. Sehingga dalam tulisanini, penulis ingin
mengupasterkait
independensidari
lembagasurvei yang melakukan
surveijajak
pendapatdan
penghitungan cepat pemilihan dan bagaimana memanfaatkanperan lembaga survei ini dalam
Pilkadabagi
kepentinganpublik khususnya
terkaitpeningkatan partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan Pilkada.E.
ANALISIS
Dalam proses persaingan jabatan
politik jelang Pilkada
Serentak2015
banyak wajah-wajah baru yang baru akan
mencalonkandiri maupnn incumbent yang
mencalonkandiri kembali untuk
masajabatan kedua. Di
masa-masa sebelum
Pilkada hingga
Pilkadadilaksanakan, lembaga swvei
memegangperanan penting dalam
memperkenalkancalon-calon tersebut kepada
masyarakat.Objektivitas
dari
lembaga surveidiuji
karena ditengarai ada lembaga surveijuga
merangkap7
Peter MahmudMarzuki.
2005. PenelitianHukum, Surabaya: Kencana Prenada Media Group.
sebagai konsultan partai, sehingga
hasilsurveinya dikuatirkan akan
mempengaruhipublik yang akan memilih. Lembaga
surveimemiliki
peranan dalam mengolah data yang mendukung calon kepala daerah baik dalam hal meningkatkan popularitas, akseptabilitas dan elektabilitasnyadi
masyarakat.Melalui
hasil survei ataujajak
pendapat oleh lembaga surveiini tidak dipungkiri
membentuk persepsi di masyarakat mengenai sosokcalon
pemimpin/kepala daerah yang ideal.
Putusan MK No
9/PUU-VII /2009 tanggal30 Maret 2009 diajukan oleh
Denny YanuarAli
dan(Ketum
AsosiasiRiset Opini Publik
Indonesiadan Direktur Eksekutif
PTLingkar Survei
Indonesia)dan Umar
Bakry (Sekjen Asosiasi RisetOpini Publik
Indonesiadan Direktur Eksekutif PT Lingkar
Survei Indonesia)yang menguji
Pasal245
ayat (2), ayat (3), dan ayat (5), serta Pasal282 dan Pasal 307UU No
10/2008 tentang Pemilihan UmumAnggota Dewan Perwakilan Rakyat,
DewanPerwakilan Daerah dan Dewan
PerwakilanRakyat Daerah
terhadapUUD 1945
terkait larangan pengumumanhasil
survei pada masa tenang, larangan penghitungancepat di
hariPemilu, dan
hukumanpidana
atas publikasi hasil survei danpenghitungan cepat. Mahkamahdalam
Putusan etquo
menyatakanbila jajak
pendapatatau suryei maupun
penghitungan cepat(quick count) hasil
pemungutan suara dengan menggunakanmetode ilmiatt
adalahsuatu bentuk pendidikan,
pengawasan, dan penyeimbangdalam
proses penyelenggaruun negaratermasukpemilihanumum. Pengumumanhasil survei dan
penghitungancepat
(quick count) haruslah dilakukan dengan menjunjung prinsip metodologis ilmiah dan tidak bertendensimempengaruhi pemilih pada masa
tenangmaka
pengumumanhasil survei tidak
dapat dilarang. Sedangkan terkait pengumuman quickcoun6 khalayak
dianggap sudah mengetahui secaraumum
(notoirfeiten) bila quick
countbukanlah hasil resmi namun
masyarakat berhak mengetahuinya.Hak
masyarakat untuk mengetahui(rights to
lcnow)dan
kebebasan berekspresi yang berfokus pada kegiatan yang berbasis metodologis-ilmiah merupakan bagiandari hak asasi manusia
(HAM),
yaitu kebebasanuntuk
mendapatkaninformasi
dan begitupula hak untuk menyampaikan informasi.Survei
dapatdilakukan oleh
lembagayang
independenyang tidak terikat
kepadasalah satu
kontestanpolitik
peserta pemilu,namun dapat juga
merupakanbagian
atau atas permintaan (pesanan) salah satu pesertapemilu. Dan
terlepasdari
apakahsurvei
dan lembaga survei merupakan bagian dari strategi kampanye pesertaPemilu atau
independen, namun sebagai suatu kegiatan ilmiah, kegiatan survei dan lembaga survei harus tetap mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dalam surveiyang
dapatdiketahui oleh publik.
Meskipun survei dan lembaga survei bersifat independendan bukan
merupakanbagian dari
strategi kampanye salah satu pesertaPemilu,
namun ketentuan masa tenang dalam kampanye pemilu harus tetap dipatuhi oleh lembaga survei.Putusan MK No 24lpIJIl-){JV20t4
tanggal 3April
2014 diajukan oleh pT IndikatorPolitik
Indonesia,PT
Saifi.rlMujani
(SaifrrlMujani Research & Consulting
(SMRC),PT
Pedoman Global,Utam4 pT
IndonesianConsultant Mandiri, dan yayasan
populiIndonesia
yang menguji
Pasal,247
ayat (2), ayat (5), dan ayat (6), Pasal 291, sertapasal 317 ayat{1)
dan ayat(2) UU No
8/2012 tentangPemilihan Umum Anggota Dewan perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah terhadap UUD 1945 terkait larangan pengumuman
hasil survei atau jajak pendapat tentang pemilu yangdilakukan pada masa tenang,
pengumumanhasil penghitungan cepat beberapa
waktu sesudah pemungutan suaradan
pelanggaranyang dilakukan tersebut merupakan
tindak pidana Pemilu dengan ancaman pidana tertentu.Mahkamah dalam Putusan
a
quo menegaskan kembali pertimbangan hukum yang diambil pada PutusanMK No
9/PUU-VII12009 sebelumnya dan menambahkan bahwa objektivitas lembagayang melakukan survei dan
penghitungan cepat(quick count)
haruslah independen dan tidak dimaksudkan untuk menguntungkan atau memihak salah satu peserta Pemilu. Sehinggalembaga survei yang
mengumumkan hasilsurvei dan
penghitungan cepat(quick
count\harus tetap
bertanggungjawab baik
secara ilmiah maupun secara hukum.Dari
kedua PutusanMK
diatas, dapatditarik
kesimpulanbila
kebebasan berekspresidan hak untuk
mengetahui(rights to
know)yang berfokus pada kegiatan yang
berbasis metodologis-ihniah merupakan bagian dari hak asasi manusia(HAM), yaitu
kebebasan untuk mendapatkaninformasi dan begitupula
hakuntuk
menyampaikaninformasi oleh
publik.Selain itu, survei dan hitung
cepat (quickcount)
merupakansuatu bentuk
pendidikan, pengawasan, dan penyeimbang dalam proses penyelenggarazm negaratermasuk
pemilihan umum. Angka 80 Pasal 13|
ayat2UU No gl20l 5tentang Perubahan atas
UU No l/2015
tentang PenetapanPeraturan Pemerintah
pengganti Undang-UndangNomor
1 Tahun 2014 tentangPemilihan Gubemur, Bupati, dan
Walikota me4jadi UU telah mengatur bila survei ataujajak pendapat danpenghitungan cepat hasil pemilihan merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam bidangpolitik. Bentuk
partisipasi masyarakat tersebut dilaksanakan dengan ketentuan tidak melakukan keberpihakan yang menguntungkan salah satu pasangan calon,tidak
menggangguproses
penyelenggaraantahapan
pemilihan,dan selalu
mendorongterwujudnya
suasana kondusif selama penyelenggaraan pemilihan.Namun kiranya, dalam penyelenggaraan survei dan
hitung
cepat tersebut peran negara tetap hadir semata-mata untuk menjaga kualitas demokrasi, memelihara ketertiban umum, danmengawasi agar lembaga-lembaga
survei, pers, dan pengguna (users) dari lembaga survei tersebut bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, profesional, dan menghormati hak asasi oranglain. Hal ini
sejalan dengan pernyataanProf.
Soetandyo Wignjosoebroto,MpA
dalam bukunya "Hubungan Negaradan
Masyarakat dalam KonteksHAM:
Sebuah Tinjauan Historis dari PerspektifRelativisme Budayapolitik"
yangdikutip dalam
Pendapat Berbeda (dissentingopinion) oleh Hakim Konstitusi M.
Arsyad Sanusi dalam PutusanMK
No 9/PUU-VII12009 yakni"tatkala
hak-hak wqrga untuk kebebasandan berpolitik ternyata tidak
meniaminterwujudnya hak-hak di bidang ekonomi, sosial
dan
budaya, kewenangan negora untuk lebihbertindak proahf meniadi dapat
diterima.Kalaupun te tap harus hands - offdal am pers o al an menjaga hak kebebasan dan hak berpolitik
para
warga negara, negorakini
bisa bekeria dengan kewenanganyang dapat dibenarkan
untuk bertindakproahif guna
menciptaknn situasiyang tebih
knndusifbagi setiap
manusiadi
bumi ini untuk mere alis asikan hak-haknya guna mengoptimalkan keseiahteraannya
di
bidangekonomi, sosial dan budaYd'.
F. KESIMPULAI\ DAI\ IMPLIKASI 1. KESIMPULAII
Batrwa berdasarkan pembahasan diatas
dapat ditarik kesimpulan guna
peningkatan partisipasi masyarakat dan pendidikanpolitik yang baik terkait
pemanfaatansurvei
danhitung
cepat pada saatpra
dan pasca Pilkada dilaksanakan, sebagaiberikut:
PutusanMK No
9/PUU-VII12009 dan PutusanMK No 24l PUU-XIV20I4
menekankan bila kegiatan yang berbasis metodologis-ilmiahyaitu survei
ataujajak
pendapatdan hitung
cepat merupakan bagiandari hak
asasi manusia(HAM),
yaitu kebebasanuntuk
mendapatkaninformasi
dan begitupula hak untuk menyampaikan informasioleh publik. Selain itu, survei dan
hitung cepat(quick count)
merupakan suatu bentukpendidikan,
pengawasan,dan
penyeimbang dalam proses penyelenggar&ilr negara termasuk pemilihan umum. Bahwa objektivitas lembagayang melakukan survei dan
penghitungan cepat(quick count)
haruslah independen dan tidak dimaksudkan untuk menguntungkan atau memihak salah satu peserta Pemilu. Sehinggalembaga survei yang mengumumkan
hasil survei dan penghitungan cepat(quick
count)harus tetap
bertanggungjawab baik
secarailmiah maupun secara hukum.
2. IMPLIKASI
Kemudian untuk menjaga independensi dari lembaga survei yang melakukan survei atau
jajak
pendapat serta hitung cepat,publik
dapatturut serta mengawasi lembaga yang melakukan survei
dari
beberapa segi:(1)
kejelasan badanhukum dan
susunan kepengurusan lembagasurvei, (2)
sumber pendanaandari
lembaga survei. Bahwa laiknya lembaga penerbitan ataupublikasi media
massalainny4
penyandangdana atau sponsor seringkali bisa mempengaruhi
atau bahkan
menentukanhasil survei,
(3) metodologi yang digunakan dalam survei ataujajak
pendapat dan hitung cepat, berapajumlah
responden, tanggal pelaksanaan survei, cakupan pelaksanaan survei tersebut, (4) lembaga survei haruslah mendapatkan akreditasidari
lembag terkait,(5)
lembaga survei melaporkan kepadapublik
secara transparanmengenai
laporan hasil survei dan hitung cepat yang dilaksanakan sertamau
melaksanakanaudit
keuangan atas sumber pendanaan kegiatansurvei
ataujajak
pendapat danhitung
cepat yang dilaksanakan.Selanjutnya
dad KPU pun telah
menerbitkan PeraturanKPU Nomor 5
Thhun 2015 tentang Sosialisasidan
Partisipasi Masyarakat dalamPemilihan Gubemur dan Wakil
Gubernur' Bupati dan Wakil Bupati, danlatauWalikota danWakil
Walikota terutama pada bagian Paragraf 5 tentang Lembaga Survei atau Jajak Pendapat dan Penghitungan Cepat yaitu Pasal 41 -49.KPU dalam
PeraturanKPU tersebut
menerapkan sejumlah aturan mengenai persyaratan lembaga yang dapat mengikuti survei atau jajak pendapat, proses pelaksanaan survei dilakukan dan ruanglingkupnya, mekanisme aduan
masyarakatterhadap pelaksanaan survei, dan sanksi yang dapat dikenakan kepada lembaga survei yang terbukti melakukan pelanggaran etika.