• Tidak ada hasil yang ditemukan

II\DEPENDENSI LEMBAGA STJRVEI DALAM PEIIYELENGGARAAI\

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 177-182)

SURVEI DAI\ IIITTJNG CEPAT PILKADA MELALTII TELAAH PUTUS$I MK NO 9|PW.WT]2009 DAI\ PUTUS$I MK NO z4IPrtIU.xJA2ftr4

Nuzul Qur'aini Mardiyar

ABSTRAK

Survei dan demokrasi memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Survei opini publik sebelum dimulainya proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan hal yang lumrah ditemukan pada negara demokraiis seperti Indonesia- Survei jatnak dilakukan menjelang Pilkada guna mengetahui persepsi publik terhadap popularitas sosok pemimpin calon kepala daerah yang maju dalam Pemiiihan Kepala Daerah serta partai yang akan bertalung dalam Pilkada itu sendiri. Survei ataujajak pendapat adalah hal yang penting dilakukan,

hut::lv1bagi

kepentingan publik, peserta Pilkada, dan KPU sendiri terkait persiapan Oan t<esaOaran pemilih

atas Pilkada yang akan dilaksanakan di daerahnya yang kesemuanya ini dapat dipeigunakan sebagaifeedback untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan Pilkada ke depan. Proses hitung iepit (quick

couifl

juga turut memberikan peran penting dalam menjamin perlindungan hak asasi manusia (HAM) terutama hak masyarakat untuk tahu (rights to know)yakni kebebasan untuk mendapatkan informasi dan kebebasan untuk memberikan atau menyampaikan informasi (freedom

of

information) sebagaimana yang diatur dalam pasal 2gF UUD 1945. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No 9/PUU-MV200} dan Putusan No 24lpUU -XII/2014 telah memberikan penafsiran sehubungan dengan ketentuan pelarangan pengumuman hasil survei pada masa tenalq' pelarangan penghitungan cepat di hari Pemilu, dan ketentuan pidana atas publikasi hasil survei dan penghitungan cepat tersebut. Kedua putusan

ini

setidaknya telah mempertimbangkan pentingnya aspek kebebasan

HAM

dalam hal penyampaian informasi dan menjaga kepentingan publik daiam

-.niuputl*

informasi yarr9 up to date tanpa batasan waktu. Mahkamah menekankan

ru*"i

dan hitung cepat haruslah dilakukan dengan prinsip metodologis-ilmiah dan tidak bertendensi untuk mempengaruhi -alon

pemilih di

masa tenang.

Kata kunci: Survei, Hitung cepat (quick cotmt), Metode Ilmiah, Lembaga Survei, pilkada.

survey and democracy had a symbio,i"

*rrrai#ff#"cfnip.

survey or pglt before the process ofregionol election is a common thing found in the democratic country like indonesia. UsiAry survey conductid iust before the election to determiie public perceptions related the popularity of the

figure

which is appointed

as candidate in regional election an well as the parties itself, Survey or

poll k viry

important to be done, especiallyfor the benefit of the public, participants of the election, and General Election Commission

(Kp(,

related to preparation and awareness of the voters.

It will

be implemented in the regions which is can be usedforfeedback systems in order to increase the quality of the implementation regioiat election in the next election. The activities of quick count were also give an important role in ensuring p:rotection on human rights especially the rights of the public to lcnow (rights to lmow) which is the freedoi 7or obtatn information-and freedom to give or convey information (the freedom of information as arranged in-article 28F of Constitution.

constitutional court tlrough the Decision Number 9

/PUU-vil /

2009 and Decision Number 24

/puu-xl /

2014 gave interpretation with respect of the provisions restriction on announcing survey results conducted in cooling offper;iod, a restriction on a quick count on the dayfor general election, and sanctionsfor publication the survey result and quick count. These decisions had to consider the importance of freedom himan rights in terms of communicating information and sake of interest of pubtic in getting rnformation that up to

iate

without any of time limit Constitutional Court emphasize survqt and quick

coini

shalt be done

due

to the principles of scientific method and not having the tendency to influence the constituents during the cooling

off

period.

Kqwords: survey, quick count, methodological-scientfic principle, survey institutions, regional election.

'

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Jl. Medan Merdeka Barat No. 6 Jakartapusat. Email: nuzul

yahoo.com _qm@

A.

PENDAHULUAI\

Keberadaan lembaga survei seharusnya mampu dipahami dengan baik bahwa kebutuhan

akan lembaga

independen

yang

melakukan survei penting dalam proses demokrasi. Survei menyajikan secara ringkas gambaran masyarakat atau

publik

kepada

pemimpin politik

selaku

pembuat kebijakan yang akan

berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup bernegara. Hal

ini

seperti yang diungkapkan oleh Sidney Verba

(2011) melalui

pandangannya menyatakan survei akan menghasilkan apa yang seharusnya demokrasi hasilkan

-

perwakilan yang sama dari semua warga negara. Sampel

dari

survei yang sama

rat4

dirancang sedemikian rupa sehingga

setiap warga negara memiliki

kesempatan

sama untuk berpartisipasi dan suara yang sama

ketika

berpartisipasi.t

Karena survei

begitu

berharga dalam demokrasi, maka orang-orang

yang

melalnrkan

dan

melaporkan

pun

harus transparan dan terbuka. Begitupula sebalikny4 dengan

era

keterbukaan

informasi saat ini,

masyarakat

juga

harus

kritis

terhadap lembaga survei yang melakukan

rilis

hasil surveinya.

Di Indonesi4

seperti halnya

di

negara lain, secara teknis menggali opini

publik

secara sistematis, seperti lewat survei, tentang masalah yang berkaitan dengan kepentingan

publik

dan publikasi terhadap hasilnya lebih dimungkinkan

dilakukan dalam sebuah rezim

demokratis.

Penggalian opini publik merupakan konsekuensi logis dari demokrasi itu sendiri sebab sifat dasar demokrasi

yang

membedakannya

dari

rezim

lain adalah

ketanggapan

pemerintah

secara berkesinambungan terhadap preferensi warga negara

(Dahl, l97l).2

Survei

jarnak

dilakukan menjelang

Pilkada

guna mengetahui persepsi

publik

terhadap popularitas sosok pemimpin calon kepala daerah yang maju dalam Pemilihan Kepala Daerah serta partai yang akan bertarung

dalam Pilkada itu sendiri. Survei

atau

jajak

pendapat adalah

hal yang penting

dilakukan, khususnya

bagi

kepentingan

publik,

peserta

t

http://surveikampus. com/author/survei

kampus/, diakses pada7 Oktober 2015.

2 http://www.lsi.or.id/risetl 66 I iaiak'pendapat- publik-membantu-demokrasi-bekerja, diakses pada 7 Oktober 2015.

Pilkada, dan KPU sendiri terkait

persiapan

dan kesadaran

pemilih

atas Pilkada yang akan dilaksanakan

di

daerahnya

yang

kesemuanya

ini

dapat dipergunakan sebagaifeedback untuk memperbaiki kualitas penyelengg araan Pilkada ke depan. Namun demikian tidak menutup fakta

pula masih banyak pihak seperti elit politis

dan masyarakat yang meragukan

hasil

survei.

Ketidakpercayzum

ini timbul

sebagian berasal dari

tadisijajak

pendapat yang belum kuat dan tidak jarang

jajak

pendapat

dilakukan

dengan mengabaikan kaidah

yang

seharusnya' namun hasilnya sering dilaporkan

oleh media

massa secara luas. Tentunya

hal ini

mertrgikan survei dan kepentingan publik.

Dalam beberapa tahun terakhir terutama dalam penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2004,

2009, dan 201 4 lalu dan jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bermunculan hasil survei yang

menarik peliputan oleh media

massa secara luas.

Strvei

atau jajak pendapat yang dilaktrkan pra pemilihan umum dilakukan biasanya untuk mengetahui seberapa dalam

publik

mengetahui rekam

jejak

anggota dewan

dan bakal

calon

kepala daerah, fatzcara prosedur

memilih, preferensi

memilih

berdasarkan

partai politik yang

mendukung

dan

mengusulkan qnggota dewan dan pasangan calon kepala daerah tersebut.

Selanjutnya, masyarakat tentunya sudah akrab dengan

istilah quick count

atau hitung

cepat.

Proses

hitung

cepat

(quick count)

di Indonesia juga turut memberikan peran penting

dalam menjamin perlindungan hak

asasi

manusia

(HAM)

terutama hak masyarakat untuk tahu

(rights to lmow) yakni

kebebasan untuk mendapatkan

informasi dan

kebebasan untuk

memberikan atau menyampaikan

informasi

(freedom of information)

sebagaimana yang

diatur dalam

Pasal

28F lruD 1945.

Hitung

cepat merupakan

survei dari hasil

mengukur sampel (sebagian dari populasi) sehingga yang

dihasilkan

merupakan

statistik yang

bersifat dugaan.

Hitung

cepat dapat

dimaknai

sebagai sebuah metode statistik

valid

untuk melalarkan prediksi hasil

jika

dilakukan dengan proses dan prosedur yang ilmiah serta bersandar pada aspek etika penelitian dan dari segi hasil selisihnya tidak tipis (atau lebih

kecil

dart margin of

error).Dat''

segi aspek non pengukuran, baik survei maupurl hitung cepat memiliki kemungkinan untuk keliru

yang

disebabkan

oleh faktor

penelitilmanusi4

dan rentan

disalahgunakan

karena

punya kepentingan. Namun demikian, seiring dengan perkembangan

keilmuan statistik4

peneliti bisa mengontrol ercor dari proses penelitiannya

melalui jurnlah sampel maupun

metodologi teknis yang digunakarq kesemuanya

ini

untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi.

Bahwa mengenai adanya

perbedaan

dalam rilis jajak

pendapat

dan hitung

cepat dapat menjadi polemik tersendiri di masyarakat menjelang

Pilkada

apabila

pihak KpU

tidak mempersiapkan instrumen aturan bagi lembaga

survei yang akan

melaksanakannya.

Melalui

Putusan

MK

mengenai survei dan hitung cepat, Mahkamah Konstitusi memberikan penafsiran

mengenai pelaksanaan survei dan

hitu.rg cepat agar tetap dilaksanakan namun dengan memperhatikan prinsip metodologi

ilmiah

dan

hasil

yang dapat dipertanggungiawabkan agar masyarakat dapat merasakan secara langsung akan keberadaan lembaga survei dan khususnya

survei dan hitung

cepat. yang,dilaksanakan.

Namun,

bagaimana ha.lnya

bila

independensi lembaga survei tersebut "dimanfaatkan,' oleh pasangan

calon

kepala daerah ataupun partai

politik yang

tendensius mempengaruhi agar masyarakat dapat memilih calon yang dij agokan dan mendukurrg. partai yang mengusung calon tersebut.

B. TINJAUAN TEORITIS

Jaj ak pendapat dan hitung cepat keduanya merupakan metode ilmiah dengan menggunakan survey sampling: dengan mempelajari sampel

3 Menurut

Suharsimi

Arikunto,

sctm-

pling didefinisikan sebagai sejumlah subjek penelitian sebagai wakil dari populasi sehingga dihasilkan sample yang mewakili populasi dimaksud. Semakin banyak ciri dan karakteristik yang ada pada populasi, maka akan semakin sedikit subjek yang tercakup dalam populasi, dan sebaliknya. Jenis teknik sampling yang dimaksud adalah cara untuk menentukan sample yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sample yang akan dijadikan sumber data sebenamya, dengan memeperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi yang di. peroleh sample representatif.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur penelitian Suatu Pendekqtan Prqktek. Jakarta: Rineka Cipta.

dari

masing-masing

unit dari

suatu populasi

dan terkait teknik

pengumpulan

data

survei, seperti konstruksi kuesioner dan metode untuk meningkatkan

jumlah

dan ketepatan tanggapan terhadap survei. Survei statistik yang dilakukan

untuk

membuat kesimpulan

statistik

tentang populasi

yang

dipelajari.

Hal ini

seperti yang diungkapkan oleh penulis terkenal asal Spanyol

Miguel de Cervantes (1547-1616)

dalam

bukunya

Don

Quixote:

"by

a small somple we may judge the whole piece".

Pada dasarnya

quick

count merupakan

salah satu contoh

penerapan metode survey

sampling,

dengan

meneliti kondisi

beberapa sampel untuk mengambil kesimpulan terhadap

kondisi

populasi. Dengan mengambil sampel dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagai

unit

sampel dan menggunakan metode cluster- random sampling,a untuk mengetahui cerminan perolehan suara secara menyeluruh.

Sedangkan definisi lembaga

survei adalah lembaga

yang

telah terdaftar

di KpU Provinsi/IilP Aceh

atau

KPU/ICP

Kabupaten/

Kota untuk melakukan survei atauj aj ak pendapat dan penghitungan cepat hasil pemilihan. 5 C.

METODE

Tulisan

ini

termasuk penelitian hukum

normatif yang juga sering disebut

dengan penelitian

doktinal

dengan obyek atau sasaran penelitian berupa peraturan, perundang-undangan dan bahan hukum lainnya.6Hasil dari penelitian hukum sekalipun bukan teori hukum baru paling

a

Cluster Random Sampling adalah teknik memilih sebuah sampel dari kelompok-kelompok unit yang kecil. Populasi dari cluster merupakan subpopulasi

dari total

populasi. Pengelompokan secara cluster menghasilkan unit elementer yang heterogen seperti

halnya

populasi

sendiri.

http://yosiabdiantindaon.

b I o gsp ot. c o . id/ 20 | 2 / 0 5 / mac am -m ac am -tekn ik - sampling-menurut-dra.html, diakses pada

8

Oktober 2015.

5

Pasal 42 ayat

I

Peraturan Komisi pemilihan Umum

No 5

Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Patisipasi Masyarakat Dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

6 Mudzakir,

Metode Penelitiqn Huktm, Program Magister (S2) Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia.

tidak adalah

argumentasi

baru.7

Penelitian yang dilakukan adalah yuridis normatif dengan

mengkaji pokok

permasalahan sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Selain itu, peneliti juga akan melengkapinya dari aspek-aspek lain

yang

relevan berdasarkan

ruang lingkup

dan identifikasi masalah yang dirumuskan.

D. TEMUAI\

Pada Pilpres 2014 lalu

ditemukan adanya perbedaan

hasil quick count

lembaga survei yang berbeda dari hasil yang

dirilis

oleh

Komisi Pemilihan Umum (KPU)

sehingga

menimbulkan polemik di

masyarakat yang mempertanyakan mengapa hasilnya bisa berbeda dan metode apa yang digunakan oleh lembaga survei tersebut. Bahkan,

hulu dari

pertanyaan

tersebut apakah lembaga surveinya

merilis hasilnya secara independen ataukah memang

ada pihak-pihak yang melakukan

'opesanan

pribadi" yang hanya ingin

menguntungkan kepentingan kelompoknya dengan mengabaikan

fakta-fakta dan kaidah-kaidah ilmiah

yang bertanggungiawab. Sehingga dalam tulisan

ini, penulis ingin

mengupas

terkait

independensi

dari

lembaga

survei yang melakukan

survei

jajak

pendapat

dan

penghitungan cepat pemilihan dan bagaimana memanfaatkan

peran lembaga survei ini dalam

Pilkada

bagi

kepentingan

publik khususnya

terkait

peningkatan partisipasi masyarakat

dalam penyelenggaraan Pilkada.

E.

ANALISIS

Dalam proses persaingan jabatan

politik jelang Pilkada

Serentak

2015

banyak wajah-

wajah baru yang baru akan

mencalonkan

diri maupnn incumbent yang

mencalonkan

diri kembali untuk

masa

jabatan kedua. Di

masa-masa sebelum

Pilkada hingga

Pilkada

dilaksanakan, lembaga swvei

memegang

peranan penting dalam

memperkenalkan

calon-calon tersebut kepada

masyarakat.

Objektivitas

dari

lembaga survei

diuji

karena ditengarai ada lembaga survei

juga

merangkap

7

Peter Mahmud

Marzuki.

2005. Penelitian

Hukum, Surabaya: Kencana Prenada Media Group.

sebagai konsultan partai, sehingga

hasil

surveinya dikuatirkan akan

mempengaruhi

publik yang akan memilih. Lembaga

survei

memiliki

peranan dalam mengolah data yang mendukung calon kepala daerah baik dalam hal meningkatkan popularitas, akseptabilitas dan elektabilitasnya

di

masyarakat.

Melalui

hasil survei atau

jajak

pendapat oleh lembaga survei

ini tidak dipungkiri

membentuk persepsi di masyarakat mengenai sosok

calon

pemimpin/

kepala daerah yang ideal.

Putusan MK No

9/PUU-VII /2009 tanggal

30 Maret 2009 diajukan oleh

Denny Yanuar

Ali

dan

(Ketum

Asosiasi

Riset Opini Publik

Indonesia

dan Direktur Eksekutif

PT

Lingkar Survei

Indonesia)

dan Umar

Bakry (Sekjen Asosiasi Riset

Opini Publik

Indonesia

dan Direktur Eksekutif PT Lingkar

Survei Indonesia)

yang menguji

Pasal

245

ayat (2), ayat (3), dan ayat (5), serta Pasal282 dan Pasal 307

UU No

10/2008 tentang Pemilihan Umum

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat,

Dewan

Perwakilan Daerah dan Dewan

Perwakilan

Rakyat Daerah

terhadap

UUD 1945

terkait larangan pengumuman

hasil

survei pada masa tenang, larangan penghitungan

cepat di

hari

Pemilu, dan

hukuman

pidana

atas publikasi hasil survei danpenghitungan cepat. Mahkamah

dalam

Putusan et

quo

menyatakan

bila jajak

pendapat

atau suryei maupun

penghitungan cepat

(quick count) hasil

pemungutan suara dengan menggunakan

metode ilmiatt

adalah

suatu bentuk pendidikan,

pengawasan, dan penyeimbang

dalam

proses penyelenggaruun negaratermasukpemilihanumum. Pengumuman

hasil survei dan

penghitungan

cepat

(quick count) haruslah dilakukan dengan menjunjung prinsip metodologis ilmiah dan tidak bertendensi

mempengaruhi pemilih pada masa

tenang

maka

pengumuman

hasil survei tidak

dapat dilarang. Sedangkan terkait pengumuman quick

coun6 khalayak

dianggap sudah mengetahui secara

umum

(notoir

feiten) bila quick

count

bukanlah hasil resmi namun

masyarakat berhak mengetahuinya.

Hak

masyarakat untuk mengetahui

(rights to

lcnow)

dan

kebebasan berekspresi yang berfokus pada kegiatan yang berbasis metodologis-ilmiah merupakan bagian

dari hak asasi manusia

(HAM),

yaitu kebebasan

untuk

mendapatkan

informasi

dan begitupula hak untuk menyampaikan informasi.

Survei

dapat

dilakukan oleh

lembaga

yang

independen

yang tidak terikat

kepada

salah satu

kontestan

politik

peserta pemilu,

namun dapat juga

merupakan

bagian

atau atas permintaan (pesanan) salah satu peserta

pemilu. Dan

terlepas

dari

apakah

survei

dan lembaga survei merupakan bagian dari strategi kampanye peserta

Pemilu atau

independen, namun sebagai suatu kegiatan ilmiah, kegiatan survei dan lembaga survei harus tetap mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dalam survei

yang

dapat

diketahui oleh publik.

Meskipun survei dan lembaga survei bersifat independen

dan bukan

merupakan

bagian dari

strategi kampanye salah satu peserta

Pemilu,

namun ketentuan masa tenang dalam kampanye pemilu harus tetap dipatuhi oleh lembaga survei.

Putusan MK No 24lpIJIl-){JV20t4

tanggal 3

April

2014 diajukan oleh pT Indikator

Politik

Indonesia,

PT

Saifi.rl

Mujani

(Saifrrl

Mujani Research & Consulting

(SMRC),

PT

Pedoman Global

,Utam4 pT

Indonesian

Consultant Mandiri, dan yayasan

populi

Indonesia

yang menguji

Pasal

,247

ayat (2), ayat (5), dan ayat (6), Pasal 291, sertapasal 317 ayat

{1)

dan ayat

(2) UU No

8/2012 tentang

Pemilihan Umum Anggota Dewan perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah terhadap UUD 1945 terkait larangan pengumuman

hasil survei atau jajak pendapat tentang pemilu yang

dilakukan pada masa tenang,

pengumuman

hasil penghitungan cepat beberapa

waktu sesudah pemungutan suara

dan

pelanggaran

yang dilakukan tersebut merupakan

tindak pidana Pemilu dengan ancaman pidana tertentu.

Mahkamah dalam Putusan

a

quo menegaskan kembali pertimbangan hukum yang diambil pada Putusan

MK No

9/PUU-VII12009 sebelumnya dan menambahkan bahwa objektivitas lembaga

yang melakukan survei dan

penghitungan cepat

(quick count)

haruslah independen dan tidak dimaksudkan untuk menguntungkan atau memihak salah satu peserta Pemilu. Sehingga

lembaga survei yang

mengumumkan hasil

survei dan

penghitungan cepat

(quick

count\

harus tetap

bertanggung

jawab baik

secara ilmiah maupun secara hukum.

Dari

kedua Putusan

MK

diatas, dapat

ditarik

kesimpulan

bila

kebebasan berekspresi

dan hak untuk

mengetahui

(rights to

know)

yang berfokus pada kegiatan yang

berbasis metodologis-ihniah merupakan bagian dari hak asasi manusia

(HAM), yaitu

kebebasan untuk mendapatkan

informasi dan begitupula

hak

untuk

menyampaikan

informasi oleh

publik.

Selain itu, survei dan hitung

cepat (quick

count)

merupakan

suatu bentuk

pendidikan, pengawasan, dan penyeimbang dalam proses penyelenggarazm negara

termasuk

pemilihan umum. Angka 80 Pasal 13

|

ayat2UU No gl20l 5

tentang Perubahan atas

UU No l/2015

tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah

pengganti Undang-Undang

Nomor

1 Tahun 2014 tentang

Pemilihan Gubemur, Bupati, dan

Walikota me4jadi UU telah mengatur bila survei ataujajak pendapat danpenghitungan cepat hasil pemilihan merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam bidang

politik. Bentuk

partisipasi masyarakat tersebut dilaksanakan dengan ketentuan tidak melakukan keberpihakan yang menguntungkan salah satu pasangan calon,

tidak

mengganggu

proses

penyelenggaraan

tahapan

pemilihan,

dan selalu

mendorong

terwujudnya

suasana kondusif selama penyelenggaraan pemilihan.

Namun kiranya, dalam penyelenggaraan survei dan

hitung

cepat tersebut peran negara tetap hadir semata-mata untuk menjaga kualitas demokrasi, memelihara ketertiban umum, dan

mengawasi agar lembaga-lembaga

survei, pers, dan pengguna (users) dari lembaga survei tersebut bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, profesional, dan menghormati hak asasi orang

lain. Hal ini

sejalan dengan pernyataan

Prof.

Soetandyo Wignjosoebroto,

MpA

dalam bukunya "Hubungan Negara

dan

Masyarakat dalam Konteks

HAM:

Sebuah Tinjauan Historis dari PerspektifRelativisme Budaya

politik"

yang

dikutip dalam

Pendapat Berbeda (dissenting

opinion) oleh Hakim Konstitusi M.

Arsyad Sanusi dalam Putusan

MK

No 9/PUU-VII12009 yakni

"tatkala

hak-hak wqrga untuk kebebasan

dan berpolitik ternyata tidak

meniamin

terwujudnya hak-hak di bidang ekonomi, sosial

dan

budaya, kewenangan negora untuk lebih

bertindak proahf meniadi dapat

diterima.

Kalaupun te tap harus hands - offdal am pers o al an menjaga hak kebebasan dan hak berpolitik

para

warga negara, negora

kini

bisa bekeria dengan kewenangan

yang dapat dibenarkan

untuk bertindak

proahif guna

menciptaknn situasi

yang tebih

knndusif

bagi setiap

manusia

di

bumi ini untuk mere alis asikan hak-haknya guna mengoptimalkan keseiahteraannya

di

bidang

ekonomi, sosial dan budaYd'.

F. KESIMPULAI\ DAI\ IMPLIKASI 1. KESIMPULAII

Batrwa berdasarkan pembahasan diatas

dapat ditarik kesimpulan guna

peningkatan partisipasi masyarakat dan pendidikan

politik yang baik terkait

pemanfaatan

survei

dan

hitung

cepat pada saat

pra

dan pasca Pilkada dilaksanakan, sebagai

berikut:

Putusan

MK No

9/PUU-VII12009 dan Putusan

MK No 24l PUU-XIV20I4

menekankan bila kegiatan yang berbasis metodologis-ilmiah

yaitu survei

atau

jajak

pendapat

dan hitung

cepat merupakan bagian

dari hak

asasi manusia

(HAM),

yaitu kebebasan

untuk

mendapatkan

informasi

dan begitupula hak untuk menyampaikan informasi

oleh publik. Selain itu, survei dan

hitung cepat

(quick count)

merupakan suatu bentuk

pendidikan,

pengawasan,

dan

penyeimbang dalam proses penyelenggar&ilr negara termasuk pemilihan umum. Bahwa objektivitas lembaga

yang melakukan survei dan

penghitungan cepat

(quick count)

haruslah independen dan tidak dimaksudkan untuk menguntungkan atau memihak salah satu peserta Pemilu. Sehingga

lembaga survei yang mengumumkan

hasil survei dan penghitungan cepat

(quick

count)

harus tetap

bertanggung

jawab baik

secara

ilmiah maupun secara hukum.

2. IMPLIKASI

Kemudian untuk menjaga independensi dari lembaga survei yang melakukan survei atau

jajak

pendapat serta hitung cepat,

publik

dapat

turut serta mengawasi lembaga yang melakukan survei

dari

beberapa segi:

(1)

kejelasan badan

hukum dan

susunan kepengurusan lembaga

survei, (2)

sumber pendanaan

dari

lembaga survei. Bahwa laiknya lembaga penerbitan atau

publikasi media

massa

lainny4

penyandang

dana atau sponsor seringkali bisa mempengaruhi

atau bahkan

menentukan

hasil survei,

(3) metodologi yang digunakan dalam survei atau

jajak

pendapat dan hitung cepat, berapa

jumlah

responden, tanggal pelaksanaan survei, cakupan pelaksanaan survei tersebut, (4) lembaga survei haruslah mendapatkan akreditasi

dari

lembag terkait,

(5)

lembaga survei melaporkan kepada

publik

secara transparan

mengenai

laporan hasil survei dan hitung cepat yang dilaksanakan serta

mau

melaksanakan

audit

keuangan atas sumber pendanaan kegiatan

survei

atau

jajak

pendapat dan

hitung

cepat yang dilaksanakan.

Selanjutnya

dad KPU pun telah

menerbitkan Peraturan

KPU Nomor 5

Thhun 2015 tentang Sosialisasi

dan

Partisipasi Masyarakat dalam

Pemilihan Gubemur dan Wakil

Gubernur' Bupati dan Wakil Bupati, danlatauWalikota dan

Wakil

Walikota terutama pada bagian Paragraf 5 tentang Lembaga Survei atau Jajak Pendapat dan Penghitungan Cepat yaitu Pasal 41 -49.

KPU dalam

Peraturan

KPU tersebut

menerapkan sejumlah aturan mengenai persyaratan lembaga yang dapat mengikuti survei atau jajak pendapat, proses pelaksanaan survei dilakukan dan ruang

lingkupnya, mekanisme aduan

masyarakat

terhadap pelaksanaan survei, dan sanksi yang dapat dikenakan kepada lembaga survei yang terbukti melakukan pelanggaran etika.

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 177-182)