dimaknai sebagai kebaikan, tetapi
tidaksedikit juga yang menyebutnya
sebagaikeburukan. Populisme adalah lingkaran setan:
ia
membantu menciptakanruang dan
proses yang memungkinkan orang biasa (miskin), dankelompok sosial marjinal untuk
mengambilkebaikan dari keterlibatan popular; ia juga
sebagai patologi demokrasi karena kaum populis cenderung memanfaatkan
demi
kepentinganpolitik elektoral,
propagandadan
kharisma personaluntuk menarik konstituen
(Manor,2013; Muhtadi, 2015). Dilema
partisipasi populer inilah yang akan kita bahas selanjutnya.Mengapa
dan
bagaimana populisme tersebutterjadi dalam praktik demokrasi
elektoraldi Indonesia. Untuk tujuan tersebut
kami menggunakananalisis teoretis
tentang post-clientelist
dannew clientelism.
Pada bagianakhir, kami
menguraikan beberapa rumusan masa depan Pilkada di Indonesia.Partisipasi Populer sebagai Populisme
Jika partisipasi populer
adalah melibatkan apa yang disebut sebagai rakyat-
disukai olehkebanyakan orang -makapartisipasi populer dapat disimpulkan sebagai populisme.
Meskipun sebenarnya belum ada konsep baku tentang
definisi
populisme.Tetapi,
sejumlah defi nisi telah menghadirkan perdebatan teoretis yang terus berkembang sampai saat ini. Beberapa ilmuwan menyebut "populisme dalampolitik"
sebagai
model hubungan karismatik
antara pemilih dan politisi (Acemo glu et al. 20 13 : 7 7 2).Yang lain menyebut populisme adalah gerakan
politik mayoritas, bukan sejenis
organisasi atau ideologi yang bisa dibandingkan denganjenis lain
seperti liberalisme, konservatisme,komunisme atau sosialisme, melainkan sebagai dimensi budaya
politik
yang dapat hadir dalam gerakan ideologisyang
sangat berbeda (lihat Laclau, 2005: 14-15).Definisi yang
mungkintepat untuk
menjelaskanpartisipasi
populer merupakan bagian dari populisme disimpulkanoleh Margaret
Canovanyang
menyebutkan bahwa populisme sebagaia political
appealto
the people,and a claim to
legitimacy that restson the
democraticideologt of popular
sovereignty and majority rule (2002:
25).Populisme merupakan sebuah gerakan
politik
atas nama
rakyat, dan klaim legitimasi
yangbertumpu pada ideologi demokratik
melalui kedaulatan rakyat dan kekuasaan mayoritas.Terdapat
kesimpulan kritis
mengenai bagaimana populismeini lahir. Deiwiks
danCanovan
(ihat
Muhtadi, 2015) menyimpulkan bahwa populismehadir
akibatkrisis
dan sifatparadoks demokrasi. Situasi krisis
sepertikrisis ekonomi, kemiskinan,
penganggwffi, ketimpangan pembangunan, dampak globalisasi,dan eksploitasi sumber daya alam
menjadi pemicuklaim
populisme. Sementaraitu,
sifat paradoks demolaasi ditandai dengan gagalnyapraktik demokrasi perwakilan
(representatif)yang telah
dimanfaatkanoleh politisi
untuk melancarkan retorikapolitik
populisme.Artinya bahwa populisme merupakan bagian
dari pelibatan unsur-unsurpopuler
sebagai bagian partisipasipolitik baik dalam
sebuah sistem (demokrasi) maupun dalam kehidupan sosio-politik
sehari-hari.Terkait
dengandefinisi yang
berbeda- beda dalam populisme, halitu
disebabkan studi yang ada memang sifatnya kontekstual. MenurutTaggart (2002: 63) studi tentang
populisme tergantung dengan kondisipolitik
pada saat itu.Taggart mencontohkan
dalam
kasus AmerikaLatin,
populisme adalah sebuahrczim
dengan kepemimpinan karismatikindividu
seperti Juan Peron diArgentina dan Getulio Vargas di Brazil.Sementara
itu,
kemunculanPartai
Reformasipada
1980-andan
1990-andi
Kanadajuga
disimpulkan sebagai konsep populisme dalam
konteks Kanada. Di Asia Tenggar4
contoh populismemirip
dengan AmerikaLatin
sepertiyang dilakukan olek Thaksin
Shinawatradi Thailand dan
Joseph Estradadi
Filipina.Bagaimana dengan Indonesia?
Untuk itu,
marikita lihat seperti apa praktik populisme di
Indonesia.Populisme
di
IndonesiaStudi yang
pertamakali
menyinggung permasalahanpopulisme di Indonesia
telahdilakukan oleh Pratikno dan Cornelis Lay
(2011). Kedua llmuwan
politik
dari UniversitasGadjah Mada
tersebutmeneliti kasus
yangterjadi di Solo dengan kesimpulan
bahwa populisme adalah sebuah politisasi demokrasi representatif melalui mobilisasi populer.Artinya
bahwa munculnya partisipasi rakyat (populisme)
berakar pada contentious politik
lokal:eksekutif mendorong keterlibatan masyarakat
untuk
menantanglegitimasi
parlemen. Padagilirannya elit eksekutif (Joko
Widodo)memiliki
hubungan langsung yang kuat dengan masyarakatdan berdiri
sebagai perwakilan utama rakyat, menggantikan peran partaipolitik
dan parlemen. Populisme Joko Widodo adalah
unik
karenaia tidak
membangunnya melaluikebijakan populis seperti berkaitan
dengan kesehatan dan pendidikan, tetapi kemampuanuntuk bernegosiasi dengan
masyarakat.Negosiasi
ini
dikenal dengan nama blusuknn.Hasilny4
dalam Pilkada Surakarta pada 2010Joko Widodo menang dengan
memperoleh 90,06 persen suara.Ada
dua alasan untuk halini
(PratiknodanLay,2}ll:54).
Pertama, JokoWidodo tampil sebagai perwujudan
senta perbedaantunfutan rakyat, terutama
karena kemampuannyadalam
mengelola perbedaantersebut melalui negosiasi dan
membanguncitra
kebersamaan(wong ndeso atau
wong cilik). Kedua, karena sistem pemilihan langsung kepala daerah (Pilkada) memungkinkan oranguntuk
secaraindividual
memanfaatkan hakpilihnya. Artinya
bahwa Pilkada adalah lahan subur tumbuhnya populisme di Indonesia.Kasus
yang sedikit
berbedaterjadi
diSulawesi
Selatan. Sebuahklan politik
yang bertahancukup lama sejak awal
Reformasi memanfaatkan kekuatan klientelisme dan jugapopulisme untuk
melanggengkan kekuasaanpolitiknya (Haryanto, 2014).
Pendekatankulturalis yang dilakukan dalam studi ini
meyimpulkan bahwa bertahannyaklan politik
cenderung didorong oleh budaya doxical yang kemudian menciptakan populisme (Haryanto,
2014: 228). Populisme telah
melenakan masyarakat secara'lanpa sadar" memilih calon pemimpinnya. Dalam kasus Sulawesi Selatan,populisme bukan sebuah proses
agregasikebijakan publik, tetapi populisme
adalahmetode rekrutmen kepemimpinan.
Di Aceh lain lagi. Setelah MoU
Helsinki, terjadi momentum yang memberikan ruang bagi eks-GAM (GerakanAceh Merdeka)dalam
prosespolitik seperti lahimya
PartaiAceh
sebagaiafiliasi politik
kombatan eks-GAM (Darwin, 2015: 53). Namun
berbeda dengan kasusdi
daerahlain di
Indonesia,jika
padaPemilu 2009
PartaiAceh
menggunakanpola populisme melalui ideologi
(wacana identitasAceh, MoU Helsinki dan
heorisme perjuangan) tetapi pada Pemilu 2014, bergeserdari
populismeke
patronase dan klientelisme(Darwin, 2015: 54). Meskipun
komponenideologis
kampanyepartai lokal Aceh
masih tetap bertahan, ia j uga menampilkan diri sebagai sebuahpartai yang
bertransformasi menuju partai berbasis klientelisme.Sementara
itu,
kesimpulanyang
lebih luas tentang populisme dilakukan oleh Power,Conflict, and
Democracy(PCD) pada
2014, sebuahprogram riset
kerjasama Universitas Gadjah Mada dan Universityof
Oslo. Programini
melakukan surveidi 30
kabupatenlkota di24 provinsi di
Indonesia. Risetyang
mereka lalnrkan sampai pada kesimpulan bahwapolitik Indonesia saat ini
cenderung mengarah ke liberalisasipolitik
yang menguat namun tidakselalu identik dengan
penguatan demokrasi (more liberalism, less democracy). Liberalisasipolitik yang dimaksud adalah
menguatnya peran aktorpolitik
dalam menentukan praktikpolitik
di daerah.Riset PCD tersebut
menyimpulkanadanya keberlanjutan politik
klientelisme dalam demokrasidi
Indonesia. Caranya: untuk menj adi pemimpin politik yang terle gitimasi dan otoritatif, aktor politik memobilisasi sumberdaya ekonomi (modal ekonomi) dan hubungan sosial yang baik (modal sosial). Meskipun demikian,hubungan klientelisme tidak lagi
menjadi satu-satunyaaltematif. Riset PCD
tersebutjuga menyimpulkan
kecenderungan kearahpopulisme. Para politisi menjadi
semakintergantung pada upaya
mengembangkanpopulisme dan kepemimpinan
kharismatik dalam memobilisasi dan mengelola dukunganpolitik. Sekitar 20
persendari survei
PCDmenunjukkan bahwa aktor
politik
mengunakanmetode populisme untuk memobilisasi
dan mengorganisasi dukunganpolitik
(PCD, 2014:l5).
Namunpopulisme disini tidaklah dibangun dengan metode-metode yang bisa diasosiasikan dengan model akuntabilitas demokratis dalam memobilisasi dan mengelola dukungan seperti membangundan
mengembangkan organisasi dengan cara b ottom-up dan mengkoordinasikan kelompok-kelompok kepentingan dan gerakansosial. Populisme lebih peduli pada
upaya memperkuat basis kekuasaan dan popularitas, daripada membuka dan mengajakpublik
untuk berdebat tentang kebij akan.Mengingat banyak contoh
populismedari
seluruh dunia-
termasuk populismedi
Indonesia yang telah diuraikan diatas-
makamerujuk pada
Deiwils
(2009: 8) setidaknya ada dua faktoryang menunjukkan bahwaunsur-unsur populis dalampolitik
akan tetap atau bahkan meningkatdi
masa depan. Pertama, demokrasi hampir pasti sejalan dengan populisme.Kedu4
konsensuspolitik
membuatbanyak
peluangbagi politisi untuk
mengumpulkan dukungan dengan menyampaikan pesan sederhana dan menampilkandiri
sebagai pemimpin karismatik danwakil
sejati dari masyarakat. Oleh karena itu, populisme kemungkinan akanterus menjadi bagiandari politik
dan analisispolitik.
Salahsatu diantaranya bahwa populisme
adalah"transformasi ideologi masyarakat
klientelistiK'
bergerak ke pasca klientelism e (trto st-client elist)
di banyak negara-negara berkembang.Populisme Meninggalkan Klientelisme @ost-
Clientelist)
Setelah cukup lama klientelisme menjadi salah satu cara
yang
dilakukanpolitisi
untuk menarik dukungan pemilih,kini
cukup banyak politisi telah beralih ke "p o s t -cliente llsf" (Manor,2013
243). Asumsinya bahwa implikasi posr- clientelist selalukonstruktif
dan progresif.Di
beberapa tempat,
telah
membuat pemerintah lebih terbuka dan responsif terhadap kebutuhan orang-orang biasadan miskin. Pratikno
dan Lay (2011) memberi contoh kasus seperti yangterjadi di
negaraBrazil melalui
perencanaandan penganggaran partisipatif oleh Partrai Buruh
(PT); di Keral4
negara bagianIndia,
melalui gerakanpendidikan; dan di Solo,
Indonesia, dalam kasus blusukan Joko Widodo.Perubahan
ini terjadi
terutama karenapolitisi telah
menyimpulkanbahwa
distribusi klientelisme tidak cukup untuk mempertahankan popularitas dan legitimasi mereka dan dengandemikian mereka terus berupaya
untuk menghasilkan pembangunan yang memuaskanyang pada gilirannya dapat
meningkatkanpopularitas mereka. Dalam banyak
kasusklientelisme, para politisi ini melihat
bahwabeberapa anak
buah
mereka(broker politik), yang
seharusnya membuatjaringan
patronase bekerja secaraefektil
cenderung malah menelip beberapa sumber daya yang dialokasikan untukpemilih (klien).
Ditambah dengan permintaan alokasi bantuan (dana, barang, maupun jasa)yang begitu
besardari klien dan
kelompok kepentingan lainnya sebagai bentuk sumbangan atau balas budi (Manor, 2013; lihatjugaAspinall
dan Sukmajati,2015).Di Indonesi4 terjadinya
desentralisasipolitik
telah menciptakan struktur kesempatanpolitisi untuk
melepaskandiri dalam
sistem yang lebih terpusat (partaipolitik)
dan mencari kekuasaan di tingkat lokal.Di
Sulawesi Selatan misalnya dalam setiap proses pemilu,nilai
danjaringan pribadi lebih penting
dibandingkan instrumentasi demokrasi representatif (Buehler, 2009). Dalam mekanisme pemilihan langsung,jaringan
sosial sampaike tingkat
desa sangatberperan penting untuk
memenangkanpemilihan kepala daerah,
sedangkan partaihanya memainkan peran kecil dalam
nasibkandidat kepala
daerah.Disinilah
partisipasipopuler melalui logika
desentralisasimenyebabkan jaringan klientelisme
yangmenghubungkan pusat dan lokal
menjadi terfragmentasi.Krisis
dan kesempatan tersebutmembuka kemungkinan gerakan anti
sistem representatifdan
populisme terdepan sebagaialtematif. Disamping itu, para elit politik
membutuhkan
sesuatuyang lebih
daripadasekedar klientelisme untuk
memenangkanpemilu
dengan menawarkan skema populismeberbasis kesejahteraan melalui
program-program pemerintah yang
dikoordinasikan dengan sejumlah organisasi masyarakat sipil(PCD,20t4).
Singkatnya, post-clientelist
dapatdiartikan sebagi "kegagalan"
klientelisme, dikarenakansistem politik di
negara-negara berkembangtelah menjadi lebih
terbuka dandemokratis dalam
beberapatahun
terakhir.Fakta ini telah
memaksabanyak
pemimpindan politisi untuk
mengamankan dukunganpopuler
agar tetap berkuasamelalui
program dan kebijakan progresif.Populisme Mengembalikan Klientelisme
(NewClientelism)
Diatas telah disimpulkan
bahwapopulisme meninggalkan dan
membuangpraktik klientelistik dalam
demokrasi. Tetapipada bagian ini, kami akan
menjelaskanbagaimana populisme kembali
membawa pulang klientelisme ke rumah demokrasi. Kami menyebutrya sebagai wajah baru klientelisme (new clientelism)..Klientelisme baru lebih
diasosiasikan sebagai demokrasiklientelistik.
Klientelisme baru merupakan sebuah hubunganyang ditandai dengan pemberian sumberdaya dari sang patron yang biasanya memiliki kekuasaan yang bersifatpersonal dan
adanyapamrih loyalitas
dandukungan'politik dari
sang penerima. Model klientelisne baruini
telah menciptakan sebuah sebuah rezim legitimasi yang secara fundamental terkait dengan imbalan distribusi materi, bukan ideologi, identitas, atau beberapa faktor lainnya (Kenny, 2013). Politisi bertindak sebagai brokerdalam
sistem demokrasi, melakukan mediasi antara negara dan masyarakat dalam penyediaan barangpublik (Aspinall
dan Sukmaj ati, 2015).Artinya bahwa
demokrasielektoral
menjadilahan subur hidupnya klientelisme
melalui distribusipublic
goods olehpolitisi
dan balas jasa suara daripemilih.
Singkatnya, demokrasitergantung pada perihal
mempertahankan kekuasaanmelalui
perrukaransumber
daya dengan imbalan dukunganpolitik.
kandidat lebih
memaksimalkankinerja tim
sukses ataujaringan klientelisme pribadi
di luar partaipolitik
untuk kemenangan kandidat(Darwin, 2015:55).Dalam
kasus Partai Aceh,partai lokal
tersebutmemiliki sumber
dayaekonomi, dukungan pemerintah,
jaringan, danideologi.
Merekamemiliki KPA
(Komite PeralihanAceh) yang
dianggap sebagai alat represi yang tangguhuntuk
menekan pemilih secara langsung maupuntidak
langsung untukmendukung caleg Partai Aceh yang
mana masing-masing personelnya dapat mendukung masing-masing calegdari
PartaiAceh;
KPPA(Komite
Pemenangan PartaiAceh);
dan juga pemerintah desa (kepala desa)(Darwin,
2015:62). Jaingan yang terbangun tersebut berbasis perhrkaran
timbal balik
antaramaterial
dan dukunganpolitik. Dengan demikian, politik
elektoralAceh
menjalani proses normalisasi, bergeserdari sifat yang
sangat ideologis dan populis ke pada fase yang menyerupai distribusipublic
goods.Di
Aceh, klientelisme baru telah menggantikanideologi
sebagai senjatapolitik
yang utama.
Selain
itu,
kekuatan kharismatik yangdimiliki oleh populisme dapat
menjadikan seorang figur populis tersebut kembali menjadi patron. Kasusdi
Sulawesi Selatan misalnya,figur kharismatik yang dimiliki oleh
klanpolitik telah menjadikan
masyarakat secara langgeng memilih figur populis tersebut sebagaipemimpin lokal
(Haryanto, 2014). Populisme tersebut menciptakan dominasi kekuasaan oleh tokoh-tokoh populer dan tentunya kelanggengan kekuasaanyang dipraktikkan berujung
padalahimya klien. Pada akhirnya,
klientelismekembali
berperandalam relasi kuasa
arfiaraelit
dan pemilih dengan penggunaan instrumen populisme tersebut.Peluang dan Tantangan dalam Pilkada di
Masa DepanKita telah mendiskusikan
bahwapartisipasi populer adalah populisme.
Dan populisme beratijuga
sebuah transformasi ke arah post-clientelist, tetapi populismeitu
jugatelah mengembalikan klientelisme dalam bentuk setiap
Dalam pola klientelisme
baru,yang baru. Kami menyebut ambiguitas
int sebagai hipokrisi demokrasi. Populisme adalahsituasi paradoks, sebuah perangkap
dalam kondisi kontradiktif dari demokrasi. Populisme dapat menjadibaik bagi
representasi populerdalam demokrasi,
sekaligusrentan
menjadi tumpangan parapembtru
rente.Di lihat
dari sudut pandangpolitik,
baik populisme maupunklientelisme baru
cenderung mengkooptasi, dan bukan melibatkan rakyat ke dalam prosespolitik,
meskipunia
bisa sajabaik bila
aktorpolitik
mau untuk melakukannya. Lantas, apa dampaknya dalam demokrasi elektoral seperti Pilkada di masa yang akan datang?Pertama, tantangan Paling
Pentingsekitar populisme adalah bahwa ia dapat beralih
ke dalam bentuk baru praktik
klientelisme.Partisipasi populer yang terkonsentrasi di
sekitar populismeelit
penguasa dapatjatuh ke dalam bentuk-bentuk baru bossism ataulocal strongmen,jika tidak
diubah menjadi formulatertentu yang memfasilitasi
pelembagaan kepentinganpolitik yang inklusif dan
bukan disalurkan untuk kepentingan pribadi (Pratikno dan Lay, 2011:54).Kedua, populisme dan
klientelismedalam Pilkada menghantarkan
pergeseran demokrasi elektoral dengan keberadaan partaipolitik ke arah demokrasi populis
dengankekuatan personal kandidat lewat
program populisnya.Hal
tersebut melemahkan partaipolitik sebagai penghubung
masyarakatdan negara (intermediary actor),
bahkan institusionalisasi partaipolitik
sebagai wadah rekrutmen dan kaderisasi elit,jauh
panggaangdari api.
Dimanaelit
dapat/sudah melekat di masyarakat tanpakinerja dari partai politik.
Lable party menghilang seiring
denganmeningkatnya kandidat
populis.
Dengan katalain, jaringan klien yang terbentuk
adalahjaringan tak terikat. Terlebih lagi
kandidat yang maju dapat dari calon independen dengan meniadakan dukungan partaipolitik.
Ketiga, hadirnya populisme
dalamPilkada
sebagai stategiuntuk
memenangkanpemilihan memberikan peluang
bangkitnyanegara kesejahteraan (welfare
state).Kronologisnya: melalui
program-programpemerintah yang dikoordinasikan
dengan sejumlah organisasi masyarakatsipil
sehinggapara politisi atau kandidat
berkepentinganuntuk
mengamankan posisinya,birokrat
tentumengamini karena skema ini lebih
bersifatteknokratis, sedangkan media, LSM,
dan aktivis menyediakandiri
sebagai mediator dan mempromosikanfigur
populis tersebut (PCD, 2014:22).Keempat, tokoh-tokoh poPulis
Yangtelah hadir di sejumlah
daerah memberikan harapanpublik
tentang pembangunan. Sebut saja sepertiRidwan Kamil di Kota
Bandung,Tri Rismaharini di Kota
Surabaya,Nurdin
Abdullah
di
Bantaeng, atau Presiden Indonesia JokoWidodo. Meskipun
mereka hanya renik dibandingkan dengan jumlahelit
kepala daerah yang korupTerakhir,
jika populisme kita
anggapbaik karena
politik
populis yang diterapkanny4 maka ia akan menghadapi tantangan yang beratdari oligarki.
Sebagai pemegang kekuasaandi
banyak daerahdi
Indonesia,oligarki
lokaltentu tidak ingin aliansi politik-birokratis
(bureaucraticpolity)
danbisnis ini
tergangguoleh kebijakan-kebijakan yang
banyakmenyasar
rakyat kecil. Model
penganggarandan kebijakan partisipatif dalam
populismeakan
sangat menggangguzona nyaman elit
birokrasi, partaipolitik,
dan pebisnis. Faktaini
bisa berujung pada inkonsistensi pemerintahan.
Kesimpulan
Dalam demokrasi elektoral
sepertiPilkada, populisme telah memberikan strategi
politik yang kini lebih majemuk dan
cukupprogresif. Populisme bersama
klientelisme adalahinstumen untuk meraih
suara dalamPilkada di
Indonesia.Di
satusisi
populismedalam Pilkada adalah tunas negara kesej ahteraan, sementara
di
sisi lain ia adalah modus operandi kekuasaan. Kampanye-kampanye welfare stateyang
menghiasitagline pala politisi lokal
di Indonesia telah mengindikasikan adanya sebuah transformasipolitik
demokratis (tr ansformative demo cr atic politic s). Akan tetapi perkembanganyang menggembirakan
ini,
bisa saja berujung padamodel baru
hegemoni kuasa mayoritas.Karena kemunculan populisme dipicu
olehkegandrungan para aktor mengejar
dan memperoleh kekuasaanpolitik
yang jugadiringi
oleh/dan tampaknyaberuj.*g
pada tampilnyasejumlah figur populer (politik
pencitraan).Dengan
kata lain, politik
Indonesia saatini
cenderung mengarah ke liberalisasipolitik
yang menguatnamun tidak selalu identik
dengan penguatan demokrasiNamun, bukan berarti
bahwa menjamumyapraktik
populismedi
Indonesiaadalah kemajuan ataupun
kemunduran demokrasi. Sebagai alat mencapai kesejahteraan,demokrasi dalam konteks Indonesia
masih terus mencari bentuk idealnya dengan berbagai paradoksyang
mewamainya. Sebagai wamadalam praktik politik, populisme
adalah ambiguitas demokrasi:dalam
konteks proses keputusanpolitik
(kebijakanpublik),
harapan demokratisasiitu mungkin
akanhadir,
tetapi dalam hal rekrutrnen kepemimpinan, bisa sajatidak.
Sepertikata
Margaret Canovan (2002)bahwa proyek demokrasi
adalah kontradiksi antara membawa rakyatke
dalampolitik,
dan membawapolitik
kepada rakyat. Sederhanany4kita bisa menyebutnya sebagai
hipokrisi demokrasi.Referensi
Acemoglu, D., G. Egorov dan
K.
Sonin (2013).A Political Theory of Populism. Tlte
Quarterly Journal of Economics, 128 (2)hlm.77l-805.
Aspinall,E. & G. Fealy. (2003).LocalPowerand
Politics in
Indonesia: Decentralizationand Democratization.
Singapura:ISEAS.
Barrington, L. (2010).
Comparative Poliics:Structures and Choices.
USA:Wadsworth
Buehler,
M. (2009). "The Rising
Importanceof
PersonalNetworks In
IndonesianLocal
Politics:An Analysis of
District GovemmentHead Elections in
South Sulawesiin 2005" dalam M. Erb &
P. Sulistiyanto (peny.)
DeepeningDemocracy in Indonesia?
Direct Electionsfor Local
Leaders (Pilknda).Singapura: I SEAS Publishing.
Canovan,
M. Q002). "Taking Politics to
the People:Populism as the Ideology of
Democracy", dalamY. M6ny danY. Surel
(eds)
Democraciesand The
Populist Challenge. New York: Palgrave.Darwin, R. L.
(2015). "Bireun,Aceh: Dampakdari Politik Pasca Konflik
danKemerosotan Partai Aceh"dalam
E.Aspinall dan
M.
Sukmajati (eds)politik Uang di Indonesia: Patronase
danKlientelisme pada Pemilu Legislatif
2 0 I 4. Yogyakarta: Polgov.
Erb, M. & P. Sulistiyanto (peny.)
(2009) DeepeningDemocracy in
Indonesia?Direct Elections for Local
Leaders(P ilknda). Singapura: ISEAS publishing.
Laclau, E. (2005). On Populist Reason.London:
Verso.
Haryanto (2014). Klanisqsi Demolvasi:
politik Klan Qahhar Mudzakkar di
SulowesiS e I at an. Yogyakarta: Polgov.
Kenny, Paul D. (2013). The
PatronageNetwork: Brolcer Power
Populism,and Democracy in India.
Disertasidoktoral di Yale University.
Diaksespada 4 Oktober 2015 melalui
http://search.proquest. com. ezproxy.ugm. ac.
id/
ocvied
1 43 2387 684?accountid: l 3 77 I .Manor, J. (20 1 0). "Beyond Clientelism : Digvij ay Singh's Participatory Pro- Poor Strategy
in Madhya
Pradesh",dalam P.
Price danA.
Engelsen-Ruud (eds) Power and Infiuencein India:
Bosses,Lords
and Captains. London,New York
and New Delhi: Routledge.Manor, J.
(2013). "Post-clientelist Initiatives"dalam
K.
Stokke& O.
Tomquist (eds) Democratizationin the Global
South:The Importance of
TrandormativeP o I iti c s. New York: Palgrave Macmillan.
Muhtadi, B. (2015). Populisme: Madu
atau Racun bagi DemolvasiZ (online) Di akses pada 25 September 201 5 melalui http.lI
saifulmuj
ani. com/blogs/populisme-
madu-atau-racun-bagi-demokrasi.Power, Welfare, and Democracy
Project(2014). Demolcrasi di Indonesia: antara Potronase
dan
Populisme. RingkasanEksekutif Riset dari Power,
Welfare,and DemocracY Project
kerjasamaUniversitas Gadjah Mada
dengan University of Oslo.Pratikno
dan C. Lay (20t1). From
Populismto Democratic PolitY: Problems
andChallenges in Surakarta,
Indonesia.PCD Journal,
Vol. III No. l-2,h'im.33-
61.
Taggart,P. (2002). "Populism and the Pathology
of
RepresentativePolitics", dalam
Y.M6ny
danY.
Surel (eds) Democracies and The Populist Challenge. New York:Palgrave.