• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 126-130)

Penelitian dilaksanakan di Kota Ambon.

Alasan

dipilihnya

Kota

Ambon

sebagai daerah peneliti an karena daerah KotaAmbon merupakan daerah pasca

konflik SARA

sehingga penulis

tertarik melihat peran dan netralitas

Gereja Protestan

Maluku

dalam

pemilihan

Gubemur

dan Wakil Gubemur Provinsi Maluku.

Tipe

dan Dasar

Penelitian

Dasar pe'nelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metodologi

kualitatif

dengan pendekatan studi kasus. Penelitian

ini

penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif.

Sumber

Data

Peneliti turun langsung ke

daerah

penelitian untuk

mengumpulkan

data

dalam

berbagai bentuk, seperti rekaman

hasil

wawancara dan foto kegiatan di

lapangan.

Penulis selain turun ke lapangan, juga melakukan telaah pustaka

yakni

mengumpulkan data dari

buku, jurnal, koran, dan sumber

informasi

lainnya yang

erat

kaitannya

dengan masalah penelitian.

TeknikAnalisa Data

Data dan informasi Yang

telah

dikumpulkan dari informan akan diolah

dan

dianalisa secara kualitatif dengan

melihat peran dan netralitas Gereja Protestan

Maluku

pada pernilihan Gubernur dan

Wakil

Gubemur

Provinsi Maluku.. Langkah yang

digunakan datam

analisis data

adalah sebagai

berikut

:

reduksi data, sajian data, dan verifikasi data.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menemukan praktik

politik

yang berlangsung di daerah-daerah pasca

konflik SARA

seperti

di Maluku,

komposisi agaff:-a

menjadi referensi penting

untuk mencapai keseimbangan

politik.

Kek*rawatiran akan terjadinya

konflik

yang berkedok agama menj adi alasan tersendiri untuk menggabungkan pasangan

calon dari latar belakang

agarrra

berbeda. Konfigurasi

pasangan

calon

pasca rekonsiliasi perdamaian

konflik Ambon

pada

pemilihan gubemur, walikota maupun bupati di

Maluku

diarahkan berlandaskan Islam-Kristen, atau Kristen-Islam.

Tujuan

utama konfigurasi

untuk meminimalisir kecemburuan

dan mengantisipasi agar

tidak terjadi lagi konflik

bernuansa

SARA.

Jika dicermati

konflik

yang katanya adalah

konflik

agama, secara tersirat sebenamya terjadi karena dominasi kekuasaan agarna.

Hasil penelitian SNPK The

Habibie Centre yang kemudian dibukukan (Demokrasi Pasca

Konflik,

Kekerasan

dan

Pembangunan Perdamaian

di Aceh dan Maluku),

terhadap insiden dampak kekerasan dalam Pemilukada

di

wilayah pasca

konflik, Maluku

berada pada urutan ketiga, setelahAceh dan Maluku Utara.

Luas wilayah daratan KotaAmbon secara keseluruhan adalah 359,45 Km2

memilikijumlah

penduduk sebesar 3 87. 47 5 Jiwapadatahun 20 1 1.

Dengan demikian rcta-rata kepadatan penduduk

di Kota Ambon

adalah 1.078 Jiwa/I(m2. Dari

data

kependudukan

di atas, Kota

Ambon digolongkan pada kelas

kota

sedang. Karena berdasarkan kriteria BPS mengenai kelas kota, kota sedang adalah kota yang

memiliki jumlah penduduk antara 100.000 sampai

500.000.

berdasarkan

wilayah administrasi

kecamatan

maka di tahun 2011

konsentrasi kepadatan penduduk tertinggi masih berada

di

Kecamatan Sirimau dengan jurnlah penduduk 158.865

jiwa

atau

4l %

danjumlatr penduduk Kota Ambon dan

memiliki

kepadatan penduduk 1.830 Jiwa/

Kmz

yang merupakan

kepadatan penduduk tertinggi diantara 5.kecamatan

di

Kota Ambon.

Persentase agarfla

Islam

dan

Kristen di

Kota

Ambon pada tahun 2011 pemeluk agama Islam 49

yo,pemeluk

Protestan

4l yo, KatolikT

Yo ,

(BPS,20tI).

Peta

Politik di Kota Ambon tidak

bisa dilepas dari momentum Reformasi 1988. Sejak

jatuhnya rcztm Orde Baru,

konstelasi partai

politik

yang menguasai peta kekuasaan

di

Kota Ambon juga mengalami perubahan. Partai-partai berhaluan sekuler manjadi panguasa di berbagai

pemilu

maupun pemilihan

wali kota

Ambon.

Selain itu, PDI

Perjuangan

(PDIP)

sebagai partai yang

identik

dengan simbol perlawanan terhadap Orde Baru muncul sebagai actor

politik

yang mempunyai pengaruh besar. Keberadaan

PDI-P di Kota Ambon memiliki

hubungan

erat dengan komunitas Kristen di

wilayah tersebut. Bahkan, beberapa pengurus maupun anggota partai tersebut merupakan fi.ngsionaris Gereja Protestan Maluku

(GPIO

Kota Ambon.

Seperti yang dikatakan

Novi

Penantuan

:

"Neh

sedanglran kita tau selama ini tanda kutip

PDIP

itu sangat

lant

dengan GPM akang ada

di

posisi Herman Ko e dubun (MANDAT)I

Pemilihan Gubemur dan Wakil Gubernur

Maluku

2013 yang dilaksanakan pada 11 Juni

2013.

Terdapat enam pasang

kandidat

yang mendaftar

ke I(PUD

Maluku. Namun, KPUD menyatakan hanya lima pasangan yang lolos dan dapat mengikuti Pilgub Maluku. Pada 26

April

2013, KPUD telah mengundi nomor urut peserta Pilgub Maluku.

No Urut

1. Abdullah Tuasikal

- Hendrik

Lewerissa

(Beta Tulus)

Abdullah

tuasikal sendiri

beragama

islam

sedangkan pasangan wakilnya beragama Kristen protestan,

No Urut 2. Jacobis Puttileihalat - Arifin Tapi Oyihoe (Bob-Arifl Jacobis

Putilehalat merupakan bupati

di

kabupaten seram bagian barat beilau sendiri beragama Kristen protestan sedangkan

Arifin Tapi

beragama

Islam,

No

urut

3.

Abdullah

Vanath

- Martin

Maspaitella (Damai) Abdullah Vanat juga merupakan Bupati Seram Bagian Barat beliau beragama Islam dan pasanganya

Martin Maspaitellah

beragama Kristen Protestan. No urut 4 Herman Koedoboen

-

Daud Sangadji (Mandat) Herman Koedoboen beragama

Kristen

Protestan dan

Daud

sendiri beragama

Islam

,

No Urut 5.

Said Assagaff

-

Zeth

Sahuburua (Setia), Said Assagaf adalah mantan Wakil GUbemur Maluku dan beragama Islam sedangakan pasanganya Zeth Sahuburua beragama Kristen Protestan.

Dalam Kampanye Calon

Gubemur

Maluku

nomor

urut 4

yang diusung 14 partai nonparlemen

Abdullah

Vanath

berjanji

akan memprogramkan pemberian

gaji

kepada para imam masjid, pendeta, dan pastor

jika terpilih menjadi Gubemur Maluku. Melihat

begitu besamya kekuatan yang

dimiliki

oleh para elit

'

Wawancara dengan

Novi

Penantuan selaku

Pimpinan Redaksi Koran Suara Maluku pada 11 Agustus 201 5 di kediamannya di Jalan Diponegoro Kota Ambon

agama Calon Gubemur

No

utur

4

menjadikan

program ini sebagai salah satu

program unggulanya. Peran pendeta kemudian menjadi sangat menentukan

partisipasi umat

Kristen

dalam politik dan menciptakan

perubahan dalam pemerintahan

KPU Provinsi Maluku telah menetapkan pasangan Said AssagaflZeth Sahuburua sebagai Calon Gubernur dan

Wakil

Gubemur Maluku

Terpilih.

Rekapitulasi penghitungan

suara

11 kabupatenlkota menunjukkan pasangan SETIA menang dengan memperoleh suara terbanyak

3 89. 884 sedangkan

DAMAI

hanya 3 83.705 suara dari jumlah suara sah 773.589. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 794.403 (67 persen) dari total pemilih dalam DPT sebanyak 1.186.603 pemilih.

SETIA menang

di

7 kabupaten/kota yaitu Kota Ambon, Buru, Bursel,

Malr4

Kota

Tual, MTB

dan

MBD.

Sedangkan

DAMAI

hanya mampu unggul

di

Kabupaten Malteng,

SBB,

SBT dan KepulauanAru.

Komposisi Kristen

protestan

GPM

di Maluku hampir 70%yang lainya adalah gereja- gereja

aliran. MUI

Kota Ambon lebih dinamis

berbeda dengan struktur Gereja

Protestan

Maluku yang hirakhis dan

cenderung sistem komando. Dalam peraturan tata gereja tentang sinode pasal 1 terhadap ketentuan umum yang

memberi pengertian bahwa Sinode

adalah badan

tertinggi

dalam

jenjang

kepemimpinan

Gereja Protestan Maluku.

Kenyataannya praktek presbiterial sinodal GPM menyebabkan penumpukan kuasa pada satu tangan yaitu sinode pada level gereja di Maluku secara menyeluruh maupun

klasis

pada

level wilayah yang

ada.

Sebab

dalam

gereja kuasa

yang ada

bukan dengan tujuan untuk

mendominasi

melainkan untuk melayani dan memberdayakan.

I

Wayan Sutapa mengatakan:

"SINODE itu satu komando

beda

dengan MUI,

MUI

itu dong seng satu komando,

jadi

apayang dikatakan ketua

MUI

belum tentu

diikuti

dibowah.

jadi pernah

kejadian pendeta

tidak mengikuti SINODE

dipindahkan karena secoro

tidak

langsung apa yang

dilakukon pendeta pasti diketahui SINODE."2 Kecenderungan

yang lain jug4

yaitu

lebih berorientasi pada penguatan

institusi ketimbang penguatan jemaat.

Memang

dalam pergeseran

titik tolak wawasan

eklesiologi

GPM jelas mengalami pergeseran

dari penguatan institusi kepada jemaat.

Ada hirarki jabatan, pada level

atas, menengah maupun bawah dan

berarti

pejabat

level

bawah harus

tunduk kepada pejabat atas.

Pemberlakuan presbyterial-sinodal dalam

ekklesiologi

GPM, seharusnya memposisikan

jemaat, klasis,

dan

sinode adalah setara. Sehingga

mekanisme

bergereja tidak boleh to|-4orn

melainkan

egaliteristis, sebab yang membedakan mereka adalah peran

dan firngsi. Ekklesiologi

GPM

harus didudukan kembali

sehingga

yang di mengerti

tentang gereja

bukanlah klasis

dan

sinode melainkan jemaat setempat.

Jemaat setempat

itulah gereja yang

sesungguhnya.

Sebab kehadiran

klasis dan sinode

hanyalah merupakan

kelanjutan dari kehidupan

gereja

yang sudah ada di jemaat

setempat. Klasis Gereja Protestan

Maluku (GPM)

Kota Ambon mengajak seluruh jemaat

untuk

tetap menjaga ketenangan dan keharmonisan

hidup

bersama, dengan menghindari berbagai isu dan provokasi dalam bentuk selebaran, pesan singkat melalui telepon seluler yang memfitnah dan bemuansa SARA, yang berpotensi menciptakan kerawanan keamanan

dan

memecah

belah

persekutuan

hidup dalam jemaat dan Perselisihan

dan masyarakat

Elit politik menyadari agama itu

terkonsolidasi kalau mereka berhasil mengakses institusi agama dan memobilisasi dukungan dari institusi itu. mereka paling tidak meyakini akan menang, karena

relatif

terkonsolidasi, apalagi agama-agama besar islam dan Kristen itu

relatif

terkonsolidasi.

Kalau

mereka

bisa

mengkases

institusi agama memobilisasi

dukungan terutama memainkan isu-isu sectarian misalnya

mereka membayangkan akan

mendapatkan dukungan

itu juga salah satu faktor

dimana

2

Wawancara dengan

I

Wayan Sutapa selaku Ketua HINDU Parisada Provinsi Maluku pada tanggal Tanggal 12 Agustus 2015 kediamannya Jalan Patimura KotaAmbon

yong jauh,

elit

agama tertarik masuk

ke

dalam konstalasi

politik praktik.

Seperti

yang

diutarakan Lucy Peilow:

" Dukungan ins titus i s angat b erp engaruh kuat terhadap

pilihan politik

masyarakat,

jadi kolau

ketua

SINODE berdiri dia tidak perlu bilang pilih SETIA, nomun dalam

khotbah minggu

dia

singgung

saja terkait

dengon

visi

misi calon tertentu secora tidak langsung umat menangkap

makna itu knrenq diq

bermain

dengan psikologi umot, jadi susah

untuk menjebak tokoh agama

di

situ.

Jadi

Pengaruh lretua

sinode itu ikut

mempengaruhi

pilihon politik

masyarakat tradisional yang ada di

luar

kota ambonjadi secara langsung ada pengaruh

s o s ok pimpinan gerej a terhadap pemilih-pemilih

tradisional yang adalah warga gereja sehingga warga gereja tetntu dia punya pendeta-pendeta malah memakai umat

ini

untuk memilih

SETA di

bgnding

yang lain. Apabila

RUHULESSIN (retua sinode) dan dia bilang

pilih SETA

orang smua

miring

ke SETIA

biar

orang

kei ad alai

dong aknn kasi tinggal MANDAT dan memilih

Memilihsetio."3 ,

, ..

Justus Patipawae juga mengatakan:

"cerita

pengalaman

pitkada

gubernur kemorin itu cukup kuat tarik menarik dari kntong

pung

semocam organisasi

pemuda di

bawah

sinode GPM, Angkatan Muda GPM

l<Btua

umumnya

itu kaknk laki-lakinya calon wakil

gubernur pasongan dengan VANATH

yaitu

L.

MASPITELIA nah

jaringan

angkann muda

ini

terpisah

dan

solidaritas teman-teman pendeta itulran tinggi, knrena

dia itu

tokoh muda yang mempunyai

karaher dan

sekarang

ini

beliau

adalah salah satu knndidat ketua

SINODE

pimpinan tertinggi di GPM, nah jaringan-

jaringan ini yang kemarin wahu

pemilihan

gubernur bermain cukup kuat, dia punya teman- teman pendeta

di

bawah di

jaringan-jaringan

banyak apapunjuga kepentingan ketua SINODE

jua

punya knpentingan ada. Ketua SINODE

ini

banyak

lari

ke Gubernur seknrong SETA."4

3

Wawancara dengan

Lucy

Peilow

Komisioner Bawaslu Provinsi Maluku tanggal 2015 di Kafe Cinderela Comer Kota Ambon

a

Yustus Patipawae selaku Ketua LSM selaku

3

juli

TIFA

Menyikapi dinamika politik

yang berkembang

saat menjelang

berlangsungnya

pemilihan Gubemur dan Wakil

Gubernur

Maluku, GPM secara moril turut

merasa

bertanggung jawab untuk

menyukseskan

pilkada tersebut. Ketua Sinode GPM

juga

menyampaikan sejumlah pesan

moral menjelang pelaksanaan

pilkada.

Pesan moral tersebut mengajak seluruh

umat

beragama di Provinsi Maluku terlebih khusus di KotaAmbon

untuk tetap

menjaga

kondisi

keamanan dan ketertiban

demi

menyukseskan

pilkada

yang aman dan demokratis dan menghimbau seluruh

tim

sukses dan pendukung dari pasangan yang akan

mengikuti

pilkada putaran

untuk

tidak

melakukan

penyimpangan

dan sportif

baik

dalam

proses

pemilihan,

penghitungan suara maupun penetapan hasil.

Gubemur

Maluku Karel Albert

Rala-

halu juga menghimbau Gereja

Protestan

Maluku (GPM)

dapat menjaga netralitas saat

momentum Pemilihan Gubemur dan

Wakil Gubernur Maluku periode 2013-2018. Harapan tersebut disampaikan Ralahalu saat membuka Sidang Majelis Pekerja Lengkap

(MPL)

Sinode

GPM XXXIV

Tiahun 2012, yang berlangsung

di

Jemaat

Tep4 Klasis

Pulau Babar, Minggu

(11/ll). Dikatakan, GPM

hendaknya dapat bersikap

dan

memposisikan

diri

secara tepat

dalam pesta

demokrasi

tersebut.

"Melintasi tugas-tugas pelayanan

dan bergerej4

sesu- ngguhnya warga GPM

juga

terpanggil untuk menyatakan

karya dan

kesaksiannya dengan memenuhi hak-hak

politik

selaku warga negara.

Klasis GPM Kota

Ambon

meminta warga jemaat untuk berdoa

agar penyelenggaraan

Pemilihan Gubemur

dan

Wakil Gubernur Maluku masa bakti

2013- 2018, yang diselenggarakan

di

seluruh Provinsi Maluku berlangsurg tertib, aman dan lancar dan semua orang yang diberi tanggung jawab dalam penyelenggaraan pesta demokrasi

ini

diberikan kekuataan

dan hikmat untuk

bekerja dengan

jujur

dan adil.

Cara elit agama di

KotaAmbon

terlihar

dari

ceramah,

dakwah, khotbah atau

pesan DAMAI, tanggal24 Juni20l5 di kediamannya di Jalan Dr Soetomo, Pohon Pule Kota Ambon

politik

yang dilakukan oleh elit agama terhadap masyarakat

di Kota Ambon

didasarkan pada tanggung

jawab

iman. Tanggung

jawab

inilah

yang

kemudian mendorong

elit

agama untuk

memberikan

ceramah,

dakwa atau

khotbah kepada masyarakat

untuk turut aktif

dalam

pemilihan Gubemur dan Wakil

Gubernur Maluku di

KotaAmbon.

Lewat moment

politik diharapkan dapat menghasilkan

pemimpin

Maluku yang

dapat

melihat dan

melindungi semua kepentingan masyarakat, sehingga rasa arnan, kedamaian

dan

kebersamaan diantara semua kemajemukan umat bisa terwujud.

Proses komunikasi

politik elit

agama di

Kota Ambon

secara

psikologis

menghasilkan gambaran

psikologis

berupa persepsi, sikap, perilaku dan tindakan terhadap objek politik atau sikap dan perilaku politik yang ditunjukkan oleh

elit

agama. Perilaku memilih yang diperagakan oleh masyarakat di KotaAmbon terhadap objek

politik

yang dikomunikasikan oleh

elit

agama

juga

merupakan pengaruh

psikologis

dalam proses

komunikasi politik elit

agama. Pada aspek komunikator,

elit

agama

di

Kota Ambon

memiliki

sumber daya pengaruh

yang

secara pribadi dapat menumbuhkan sikap dan perilaku ketundukan masyarakat terhadap pandangan dan anjuran

politik

yang ditunjukkannya.

Indikasi

sudah

bisa di telusuri

ketika para kandidat mendatangi tokoh-tokoh agama terutama

tokoh yang punya

pengaruh yang mereka presepsikan berpengaruh,

bukan

safu

dua

pasangan

tapi hampir

semua pasangan mendatangi

islam, katolik,

protestan, hindu,

budha mereka datangi untuk

meyakinkan sehinggamendapatkan dukungan. Jadi sejak awal penulis melihat indikasinya sudah ada, terlebih

lagi

fasilitas

yang

diberikan kepada institusi-

institusi

agama.

Karakteristik

masyarakat di Maluku masih dikatakan patrenialistik sehingga tokoh-tokoh atau orang-orang yang dituakan di masyarakat cukup memiliki pengaruh. Sebagian

besar masih bergantung pada

pandangan- pandangan agama atau

elit

agama.

Pada kenyataanya

pilihan-pilihan

politik

masyarakat dalam orientasi kebinekaan Indonesia

termasuk di Kota Ambon

belum rasional.

Pilihan-pilihan itu masih di

bentuk

oleh sentiment

primordial

sehingga sebetulnya diharapkan kalaupun ada keterlibatan elit agama

mereka mestinya membantu

berkontribusi

untuk

menyehatkan

dalam arti

memberikan

pertimbangan-pertimbangan dalam

rangka membantu pilihan

politik

masyarakat, ny atany a

tidak, justru

keterlibatan mereka memperkuat segmentasi-segmentasi

masyarakat

berbasis primordial dalam konteks pilihan.

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 126-130)