• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arab Saudi

Dalam dokumen dummy - Undip Repository (Halaman 191-199)

RUAnG ASMARA DI BEBERAPA nEGARA

D. Arab Saudi

termasuk hak untuk mendapatkan kunjungan keluarga (suami-istri) sehingga narapidana dapat menghabiskan waktu pribadi dengan pasangannya, namun hak itu didapatkan jika telah memenuhi prosedur.

Berdasarkan perbandingan dengan negara lain yang sudah menyediakan ruang asmara/ruangan khusus bagi narapidana agar bisa memenuhi kebutuhan seksualnya, maka diharapkan ke depannya lembaga pemasyarakatan di Indonesia bisa memberikan fasilitas khusus berupa ruangan yang khusus digunakan oleh narapidana yang sudah menikah.

Di lembaga pemasyarakatan Arab Saudi pun mengatur bahwa narapidana berhak melakukan khalwah syar’iyah (hubungan intim) dengan istrinya di luar lembaga pemasyarakatan, jika narapidana sudah menjalani setengah masa pidananya, maka hubungan intim diberikan waktu selama 1 (satu) jam (bagi rumahnya yang dekat dengan lembaga pemasyarakatan) dan hubungan intim diberikan waktu selama 3 (tiga) jam bagi rumahnya yang jauh dari lembaga pemasyarakatan.263

Seorang narapidana yang menghafal seluruh Al-Quran/

sebagiannya, berhak mendapatkan peringanan hukuman/masa hukuman (maksimal setengah hukuman), bahkan jika narapidana selain menghafal juga memahami tafsir dan hukum bacaannya maka narapidana berhak mendapatkan hadiah berharga berupa uang tunai dan lain-lain.264

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM I Wayan Dusak memberikan pernyataan mengenai pengalaman beliau ketika mendatangi lembaga pemasyarakatan di Arab Saudi.

Lembaga pemasyarakatan di Arab Saudi sangat memerhatikan pemenuhan hak asasi manusia para narapidana. Penjara Arab Saudi dilengkapi dengan fasilitas ruang asmara yang diperuntukkan pada narapidana ketika melakukan hubungan biologis dengan pasangan sahnya. Ukuran kamar untuk ruangan kunjungan suami/

istri sangatlah layak yang berukuran 3x4 m karena fasilitas kamar disediakan dimulai dari tempat tidur, kebutuhan mandi, dapur, kulkas tersedia, sehingga membuat para narapidana yang sedang melakukan hubungan intim dengan pasangannya menjadi nyaman dan tenteram, serta anggaran ditentukan sesuai dengan standar kebutuhan hidup lembaga pemasyarakatan.265

263Peraturan Menteri No. 1745 tanggal 17 Desember 1411 H (17 Desember Tahun 1990) tentang Hak Kunjungan Suami Istri.

264Berdasarkan Keputusan Raja Fahd No.2545, tanggal 24 Maret 1429 H (24 Maret 2008).

265Ihsanudin, Pengalaman Dirjen PAS soal Bilik Asmara di Lapas Arab Saudi,https://nasional.kompas.com/read/2017/04/26/13333161/cerita.dirjen.

pas.soal.bilik.asmara.di.lapas.arab.saudi, diakses pada tanggal 1 November 2019, Pukul: 11.06 WIB.

DUMMY

Arab Saudi juga merupakan sebuah negara tumbuhnya Islam, kebijakan mengenai ruang asmara menunjukkan bahwa negara tersebut sangat apresiasi dalam memerhatikan hak-hak narapidana. Sebenarnya ada banyak model dalam memenuhi kebutuhan seksual para tahanan di dalam lembaga pemasyarakatan. Jika dilihat dari konteks Indonesia, ada beberapa alternatif model dalam memenuhi kebutuhan seksual para tahanan.

Perbandingan dari berbagai negara mengenai penyediaan ruang asmara digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel 7.2 Penyediaan Ruang Asmara di Lembaga Pemasyarakatan di Beberapa Negara

No. Kebijakan Amerika

Serikat Australia Jerman Arab Saudi 1. Hak

mendapatkan fasilitas ruang asmara

Memberikan akses kunjungan suami istri

Memberikan akses kunjungan suami istri

Narapidana dapat mengajukan permohonan untuk kunjungan suami-istri dan jika disetujui, pasangan diperbolehkan waktu pribadi setelah prosedur terpenuhi

Narapidana yang mempunyai hubungan pernikahan dengan menunjukkan buku nikah kepada petugas penjagaan

2. Waktu kunjungan suami istri

Kunjungan suami istri diberikan sebulan sekali dan jika tidak ada pelanggaran selama 6 bulan sebelum kunjungan suami istri dilakukan

Kunjungan suami istri diberikan tiga bulan sekali

Kunjungan suami istri diberikan per bulan selama 1 jam setiap kali menggunakan akses ruang asmara

Untuk narapidana laki-laki, dapat menggunakan ruangan hubungan intim suami istri dua kali sebulan untuk setiap istrinya (artinya jika narapidana punya empat

DUMMY

No. Kebijakan Amerika

Serikat Australia Jerman Arab Saudi istri, maka masing- masing istrinya dapat berhubungan intim dua kali sebulan) 3. Fasilitas

Ruang Asmara

Ruangan khusus yang diberi nama

Red House

yang terdiri 5-6 Kamar.

Ruangan asmara ukurannya kecil dan minim perabotan, yaitu terdiri dari tempat tidur, cermin dan kamar mandi

Terdiri dari 5 kamar di dalam Lapas.

Fasilitas yang ada di ruangan berupa tempat tidur, kamar mandi dan lainnya

Ruangan yang mempunyai kandungan udara yang cukup dan dilengkapi pemanas dan ventilasi serta perabotan kamar

Ukuran ruangan 3x4m, didukung fasilitas tempat tidur, kebutuhan mandi, dapur dan kulkas

4. Anggaran Mempunyai standar kebutuhan hidup narapidana

Mempunyai standar kebutuhan hidup narapidana

Mempunyai standar kebutuhan hidup narapidana

Mempunyai standar kebutuhan hidup narapidana Berdasarkan penyediaan ruang asmara di lembaga pemasyarakatan di negara Amerika Serikat, Australia, Jerman, dan Arab Saudi, maka kunjungan suami istri Arab Saudi dan Jerman dapat dijadikan rujukan dalam mereformulasi penyediaan ruang asmara di lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Narapidana yang memiliki pasangan suami/istri yang sah akan diperbolehkan mendapat secara pribadi untuk melakukan hubungan seksual. Namun salah satu permasalahan yang terjadi di dalam lembaga pemasyarakatan adalah keterbatasan anggaran.

Setiap negara mempunyai anggaran standar kebutuhan hidup narapidana, karena pemenuhan kebutuhan dasar sebagai hak narapidana pada prinsipnya merupakan kewajiban negara. Berkaitan

DUMMY

hal tersebut maka pemenuhan hak narapidana berdampak pula pada jumlah anggaran yang dihabiskan negara berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan narapidana selama di dalam lembaga pemasyarakatan.

Adapun perbandingan mengenai besarnya anggaran biaya hidup yang dikeluarkan oleh beberapa negara untuk narapidana sebagai berikut. 266267268269

Tabel 7.3 Biaya Hidup Narapidana Per Tahun di Beberapa Negara

No. Negara Biaya Hidup Per Tahun

1. Amerika28 $34.704

2. Australia29 $109,821

3. Jerman30 € 65.700

4 Indonesia31 Rp. 1.735.647.294,-

Berdasarkan perhitungan biaya hidup narapidana per tahun di beberapa negara di atas, setiap negara mempunyai biaya hidup narapidana per tahun yang berbeda. Standar kebutuhan hidup narapidana harus berdasarkan Standard Minimum Rules yang disepakati oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa yang meliputi keamanan, makanan, kesehatan dan obat-obatan, layanan psikologi dan psikiater, penyediaan pakaian, kegiatan pembinaan narapidana, peralatan/fasilitas sarana dan prasarana, pemeliharaan berkas narapidana, penerimaan dan transportasi, serta pengurusan administrasi.270

266Sarah Qureshi, Annual Determination of Average Cost of Incarceration, 2018, The daily journal of the united states government, diakses pada https://www.

federalregister.gov/documents/2018/04/30/2018-09062/annual-determination- of-average-cost-of-incarceration

267Lorna Knowles, Australia spending more on prisons, policing than other comparable countries: report, diakses pada https://www.abc.net.au/news/2017-08-08/

australia-spending-more-on-prisons-than-other-oecd-countries/8784466

268https://www.fluter.de/alltag-im-knast

269Sistem Database Pemasyarakatan, 2020, Data Terakhir Jumlah Hasil Laporan Penyerapan Perkanwil, diakses pada http://smslap.ditjenpas.go.id/public/

ung/current/monthly

270Standar Minimum Rules /SMR, Lihat juga Irma Cahyaningtyas, Op. Cit., hlm. 304.

DUMMY

Kemudahan dalam reintegrasi sosial untuk narapidana saat selesai menjalani masa tahanan dimuat dalam standar internasional yang berkaitan dengan perlindungan hak asasi narapidana. Standar tersebut sebagai prinsip dasar diberlakukan pada seluruh sistem peradilan pidana seluruh dunia serta berlaku pada seluruh narapidana, terutama dalam memerhatikan kebutuhan fasilitas sarana prasarana, makanan, serta kesehatan narapidana.

Kesehatan di lembaga pemasyarakatan masuk dalam integral kesehatan masyarakat, maksudnya adalah ketika selesai masa tahanan maka narapidana tetap merupakan bagian dari masyarakat di luar lembaga pemasyarakatan. Oleh sebab itu, pemberian layanan dan fasilitas kesehatan di lembaga pemasyarakatan memberikan dampak positif pada kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Akan tetapi, faktanya lembaga pemasyarakatan masih belum berhasil dalam memenuhi kebutuhan dasar serta kesehatan yang dianjurkan oleh lembaga internasional sesuai dengan prinsip hak asasi manusia dan keadilan sosial.

Lembaga pemasyarakatan harus berpedoman pada tujuan yang legal (legitimate purposes) yang berlandaskan pada pertalian tiga kepentingan yaitu: narapidana, keluarganya, dan keamanan. Oleh karena itu, untuk kebijakan yang akan ditetapkan mengenai pemasyarakatan seharusnya berdasarkan pada analisis tiga kepentingan tersebut.

Analisis yang dilakukan tentang kebutuhan seksual narapidana sebenarnya tidak terlepas dari konteks kondisi isolatif di dalam lembaga pemasyarakatan. Isolatif yang dilakukan yang bersifat mengekang rasa bebas seseorang untuk bergerak, seharusnya dilaksanakan sesuai dengan tujuan pengisolasian itu sendiri yang secara normatif digariskan dalam Pasal 1 Nomor (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yaitu Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan narapidana di lembaga pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, warga binaan, serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas narapidana di lembaga pemasyarakatan sehingga dapat menumbuhkan rasa kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan, koreksi dan memperbaiki diri, serta tidak melakukan kembali tindak pidana, yang pada akhirnya nanti masyarakat dan lingkungan dapat

DUMMY

menerima mereka kembali, dapat berperan aktif dalam pembangunan, serta melakukan kegiatan secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

Dalam komentar yang lebih spesifik, dari pandangan hak asasi manusia, Komite Hak Asasi Manusia untuk Kovenan Hak-Hak Sipil dan Politik dalam Komentar Umum 27 tentang Kebebasan untuk Bergerak menjelaskan bahwa:271

“...tidak cukup pembatasan-pembatasan (terhadap kebebasan bergerak) digunakan untuk tujuan-tujuan yang diperbolehkan;

pembatasan-pembatasan tersebut juga harus melindungi tujuan- tujuan tersebut. Langkah-langkah pembatasan harus sesuai dengan prinsip proporsionalitas; langkah-langkah pembatasan harus selayaknya guna mencapai fungsi perlindungannya;

langkah-langkah pembatasan harus menjadi instrumen intervensi terakhir dari langkah-langkah lain yang dapat mencapai hasil yang diinginkan; dan langkah-langkah pembatasan harus proporsional bagi kepentingan mereka yang ingin dilindungi.”

Ikatan keluarga (family bond) dapat ditingkatkan jika tersedianya akses terhadap kebutuhan seksual bagi narapidana, sehingga dapat memberikan kemudahan dalam proses reintegrasi narapidana ketika kembali ke keluarga dan masyarakat. Praktiknya yang dilakukan oleh negara lain memperlihatkan bahwa di sisi lain petugas di lembaga pemasyarakatan memberikan pernyataan tentang kerisauan mereka terhadap ancaman negatif atas akses demikian yang berkaitan dengan keamanan.

Mengenai masalah keamanan, hasil penelitian yang dilakukan di beberapa penjara di Amerika Serikat membuktikan bahwa negara-negara bagian yang menyiapkan ruangan asmara mempunyai risiko pelecehan seksual lebih rendah jika dibandingkan dengan penjara yang tidak menyediakannya.272 Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan seksual yang dilakukan ketika kunjungan keluarga memberikan dampak positif seperti: memelihara dan mempertahankan kehidupan rumah tangga

271General Comment No. 27: Freedom of movement (Art.12): 02/11/1999.

CCPR/C/21/Rev.1/Add.9, paragraf 14.

272Stewart J. D’Alessio & Jamie Flexon & Lisa Stolzenberg, 2012, The Effect of Conjugal Visitation on Sexual Violence in Prison, American Journal of Criminal Justice.

DUMMY

narapidana pada pasangan suami atau istri; memperbaiki perilaku narapidana, menangkis dampak negatif terhadap budaya penjara, serta adanya peningkatan keberhasilan narapidana pasca pemidanaan.273 Penyediaan fasilitas “ruang asmara” di beberapa negara merupakan penjabaran hak pribadi para narapidana.

Undang-undang pemasyarakatan memberikan definisi sistema pemasyarakatan dengan menyebutkan pembinaan narapidana sebagai peningkatan kualitas agar narapidana dapat menyadari kesalahannya, dan memperbaiki diri, serta tidak kembali mengulangi perbuatan yang telah dilakukan sehingga dapat kembali diterima oleh lingkungan masyarakat. Pengertian tersebut memberikan arti tentang keharmonisan hubungan narapidana, keluarga, dan petugas di lembaga pemasyarakatan merupakan faktor yang dapat menentukan keberhasilan reintegrasi narapidana ketika kembali ke masyarakat.

273Hoffmann, H. C., Dickinson, G. E., & Dunn, C. L, 2007, Communication policy changes in state adult correctional facilities from 1971 to 2005. Criminal Justice Review 32, p. 47–64.

DUMMY

Berdasarkan kajian komparatif, pemenuhan prinsip dasar hak narapidana, dan pembaruan hukum pidana maka reformulasi penyediaan ruang asmara sebagai upaya pemenuhan hak kebutuhan seksual narapidana secara singkat dapat digambarkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 8.1 Reformulasi Penyediaan Ruang Asmara Sebagai Upaya Pemenuhan Hak Kebutuhan Seksual Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan No. Unsur Komponen Reformulasi Penyediaan Ruang Asmara di

Lembaga Pemasyarakatan 1. Struktur

Hukum - Petugas Pengelola program Penyediaan Ruang

Dalam dokumen dummy - Undip Repository (Halaman 191-199)