DALAM SISTEM PERADILAn PIDAnA
C. Sistem Peradilan Pidana
maka sistem hukum dapat berjalan secara baik, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Apa yang telah dikemukakan oleh Friedman, merupakan penjabaran hukum sebagai suatu sistem. Dalam praktiknya, hukum sebagai sistem maka ketiga komponen/unsur sistem hukum tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat sekali.
1. mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan;
2. menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana;
dan
3. mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Pelanggar hukum telah terintegrasi ke dalam masyarakat serta menjadi warga yang taat dan patuh hukum, hal ini mengandung makna bahwa tujuan sistem peradilan pidana sudah tercapai. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan berbagai pendekatan. Pendekatan yang digunakan dalam sistem peradilan pidana, yaitu sebagai berikut. 87 1. Pendekatan normatif, yaitu memandang keempat aparat
penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga pemasyarakatan) sebagai institusi pelaksanaan perundang- undangan yang berlaku sehingga keempat aparatur tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem penegakan hukum smata-mata.
2. Pendekatan administrasi yang memandang keempat penegak hukum sebagai suatu organisasi manajemen yang memiliki mekanisme kerja, baik hubungan yang bersifat vertikal sesuai dengan struktur organisasi yang berlaku dalam organisasi tersebut, sistem yang digunakan adalah sistem administrasi.
3. Pendekatan sosial memandang keempat aparatur penegak hukum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem sosial sehingga berhasil atau tidak berhasilnya aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sangat memengaruhi sistem sosial dalam masyarakat.
Dengan ketiga pendekatan tersebut, pengaturan secara normatif lembaga penegak hukum juga didukung oleh pendekatan administratif dalam suatu kerangka mekanisme kerja yang melihat semua subsistem sebagai suatu mata rantai kesatuan penegakan hukum, dan pendekatan
87Mohammad Taufiq Makarao, Pembaruan Hukum Pidana Indonesia, (Yogyakarta:
Kreasi Wacana, 2005), hlm. 84.
DUMMY
sosial menekankan bahwa keberhasilan penegakan hukum melalui sistem peradilan pidana bermuara pada sistem yang jauh lebih luas lagi, yakni sistem sosial.
Menurut Herbert Pecker yang merupakan seorang pakar dalam criminal justice system membagi dua model dalam criminal justice system yaitu due process model dan crime control model. Kedua model tersebut memiliki perbedaan dan kesamaan, yaitu kedua model tersebut mengakui bahwa batasan perihal tingkah laku kriminal harus lebih dahulu ditetapkan sebelum dilakukan proses identifikasi pelaku kriminal, dan juga kedua model tersebut sama-sama sependapat bahwa perlu adanya pembatasan-pembatasan terhadap kekuasaan pemerintah di dalam menyelidiki kejahatan.88
1. Crime Control Model, yang didasarkan pada anggapan bahwa penyelenggaraan peradilan pidana adalah semata-mata untuk menindas pelaku kriminal (criminal conduct) dan ini adalah tujuan utama dari proses peradilan pidana. Sebab dalam hal ini yang diutamakan adalah ketertiban umum (publik order) dan efisiensi.
Dalam model seperti ini berlaku sarana cepat dalam rangka pemberantasan kejahatan. Asumsi dasar dalam model ini semua tersangka yang terlibat dan diproses dalam sistem penegakan hukum ada kemungkinan bersalah dan seharusnya diperiksa dengan prosedur administrasi yang semaksimal dan seefisien mungkin.
Serta berlaku apa yang disebut sebagai presumption of Guilty, kelemahan dalam model ini adalah sering kali terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia demi efisiensinya
2. Due Process Model , yaitu konsep perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia dan pembatasan kekuasaan pada peradilan pidana.
Dalam model ini proses kriminal harus dapat dikendalikan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, dan sifat otoriter dalam rangka maksimum efisiensi. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap orang yang disangka melakukan kejahatan harus dianggap tidak bersalah sampai pengadilan membuktikan kesalahannya.
88Herbert L. Packer, The Limits of The Criminal Sanction, (California: Standford University, 1978), hlm. 37.
DUMMY
Dalam model ini diberlakukan apa yang dinamakan presumption of Innocence.89
Pada dasarnya proses peradilan pidana dapat bekerja merupakan rangkaian ketetapan-ketetapan tentang suatu tindak pidana sesuai pendapat petugas yang berwenang dalam kerangka interelasi antara petugas-petugas dalam sub-subsistem peradilan pidana.
Kebijakan pengembangan atau peningkatan kualitas peradilan terkait menggunakan banyak sekali aspek yang mensugesti kualitas peradilan/
penegakan hukum. Aneka macam aspek tersebut mencakup kualitas individu sumber daya Indonesia, kualitas sarana/prasarana, kualitas substansi/perundang-undangan, dan kualitas lingkungan (sosial, ekonomi, politik dan budaya).90
Sistem peradilan mempunyai arti sempit sebagai “sistem pengadilan yang menyelenggarakan keadilan atas nama negara sebagai mekanisme dalam menyelesaikan suatu perkara/sengketa”. Pengertian itu merupakan pengertian dalam arti sempit, sebab hanya dipandang dari aspek struktural (device of courts sebagai suatu institusi) serta hanya dipandang dari aspek kekuasaan mengadili/menyelesaikan perkara (administer justice a mechanism for the resolution of disputes).91 Sistem peradilan pada dasarnya identik dengan sistem penegakan hukum, sebab proses peradilan hakikatnya adalah proses penegakan hukum.
Pendapat Muladi menyatakan bahwa sistem peradilan merupakan jaringan (network) peradilan dengan memakai hukum pidana sebagai sarana utama, yaitu sarana dalam hukum pidana materiil, hukum pidana formal, dan hukum pelaksanaan pidana. Muladi juga menyatakan, makna “integrated criminal justice system” merupakan penyesuaian serta keselarasan yang bisa dibedakan dalam:
1. Sinkronisasi struktural (structural synchronization) yang menuntut keserampakan dan keselarasan dalam mekanisme administrasi peradilan pidana (the administration of justice) dalam hubungan antar lembaga penegak hukum.
89Ibid.
90Kadri Husin dan Budi Rizki Husin, Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, Op.
Cit., hlm. 72-75.
91M. Sholehudin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Ide Dasar Double Track System dan Implementasinya, Op. Cit., hlm. 55.
DUMMY
2. Sinkronisasi substansi (substantial synchronization) adalah keserempakan yang mengandung makna baik vertikal maupun horizontal dalam kaitannya dengan hukum positif yang berlaku.
3. Sinkronisasi kultural (cultural synchronization) yang mengandung usaha untuk selalu serempak dalm menghayati pandangan- pandangan, sikap-sikap dan falsafah yang secara menyeluruh mendasari jalannya sistem peradilan pidana.92
Beberapa subsistem dalam sistem peradilan pidana harus saling mendukung, yaitu pihak kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga pemasyarakatan merupakan subsistem yang secara keseluruhan adalah satu kesatuan yang berupaya mentransformasikan segala masukan agar menjadi luaran yaitu menanggulangi dan mengendalikan terjadinya kejahatan di masyarakat.93 Dalam sistem peradilan pidana di Indonesia mempunyai perangkat struktur atau subsistem kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga pemasyarakatan dan advokat atau penasihat hukum sebagai subsistem.
Lembaga pemasyarakatan sebagai subsistem terakhir menurut sistem peradilan pidana. Sebagai sebuah subsistem paling akhir, masih ada tujuan dan harapan berdasarkan sistem peradilan pidana terpadu. Harapan dan tujuan menurut subsistem ini, berupa aspek pembinaan berdasarkan penghuni lembaga pemasyarakatan yang dianggap narapidana. Tata cara pelaksanaan pembina telah diatur pada Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.94 Seperti diketahui bahwa sebagai seseorang pelaku kriminal sudah dinyatakan sebagai orang yang bersalah dari hukum. Dalam posisi seperti itu, sebagai orang yang sudah dianggap melanggar dan menyimpang berdasarkan kebiasaan dan norma masyarakat, maka ia harus dibina supaya dapat kembali sebagai warga masyarakat yang taat hukum. Oleh sebab itulah dibentuk sistem pemasyarakatan, yang mempunyai tugas menyiapkan agar terpidana bisa berintegrasi secara sehat dengan warga
92Muladi, Pidato Pengukuhan Guru Besar, (Semarang: Universitas Diponegoro, 1990), hlm. 1-2.
93Ibid., hlm. 13.
94Kadri Husin dan Budi Rizki Husin, Op. Cit., hlm. 27.
DUMMY
sehingga dapat berperan kembali menjadi anggota warga yang bebas dan bertanggung jawab.
Pembinaan merupakan kegiatan yang bersifat kontinu dan intensif. Dengan pembinaan, salah satu wujud menjunjung tinggi hak asasi sebagai manusia. Maka pembinaan dilakukan dengan maksud mengarahkan narapidana supaya menyadari kesalahannya, memperbaiki diri dan tidak mengulangi kembali perbuatan salahnya, karena pembinaan bukan untuk menderitakan narapidana, namun untuk memperbaiki perilakunya. Dengan kata lain, terpidana wajib tetap memperoleh keadilan yang sinkron dengan kedudukannya sebagai seorang yang telah dinyatakan bersalah menurut hukum.
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan pedoman dalam menjalankan sistem pemasyarakatan, karena sebagai bagian akhir dalam sistem peradilan pidana maka sistem pemasyarakatan merupakan tempat untuk mengubah perilaku buruk narapidana agar narapidana setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan dapat menjadi manusia yang berguna dan menjadi warga negara yang baik serta bertanggung jawab.
Dalam penerapannya, terdapat beberapa asas sistem pembinaan pemasyarakatan, di antaranya:95
a. pengayoman;
b. persamaan perlakuan dan pelayanan;
c. pendidikan;
d. pembimbingan;
e. penghormatan harkat dan martabat manusia;
f. kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan;
g. terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu.
Tujuan utama dari lembaga pemasyarakatan adalah melaksanakan pembinaan narapidana sesuai sistem, kelembagaan serta metode pembinaan sebagai bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam sistem peradilan pidana. Sebagai instansi terakhir, lembaga pemasyarakatan
95Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
DUMMY
wajib memerhatikan secara sungguh-sungguh terhadap hak dan kepentingan narapidana dalam melaksanakan pembinaan di lembaga pemasyarakatan.96 Harus diakui bahwa mengembalikan dan menyembuhkan kondisi narapidana sangat strategis dan dominan merupakan fungsi dari lembaga pemasyarakatan, jika peran itu telah dilaksanakan secara baik maka dapat terwujudnya sistem peradilan pidana terpadu.
Dalam sistem peradilan pidana terpadu, lembaga atau instansi yang bekerja dalam penegakan hukum, meskipun tugasnya berbeda- beda dan secara internal mempunyai tujuan sendiri-sendiri, tetapi pada hakikatnya masing-masing subsistem dalam sistem peradilan pidana tersebut saling bekerja sama dan terikat dalam satu tujuan yang sama.
Hal ini bisa terjadi bila didukung adanya sinkronisasi berdasarkan segi substansi yang mencakup produk aturan di bidang sistem peradilan pidana yang memungkinkan segenap subsistem dapat bekerja secara koheren, koordinatif, dan integratif.
96Djisman Samosir, Sekelumit tentang Penologi dan Pemasyarakatan, 2012, (Bandung: Nuansa Aulia, 2012), hlm. 128-129.
DUMMY
[Halaman ini sengaja dikosongkan]