DALAM SISTEM PERADILAn PIDAnA
B. Sistem Hukum
Pada dasarnya hukum mengandung pemikiran/konsep yang abstrak.
Namun, hukum dibuat agar dilaksanakan pada kehidupan sehari- hari, sehingga perlunya kegiatan guna mewujudkan ide atau konsep tersebut ke dalam lingkungan masyarakat. Proses penegakan hukum adalah kegiatan yang terangkai dalam rangka merealisasikan ide-ide agar jadi kenyataan.75 Oleh karena itu, penegakan hukum hendaknya tidak dipandang sebagai komponen yang berdiri sendiri, akan tetapi senantiasa berada di antara berbagai faktor (interchange).
Menurut Harold J. Berman, hukum merupakan sesuatu yang kompleks dan teknis sehingga kita sering menjumpai orang yang menghadapi hukum dengan tidak sabar atau sinis, akan tetapi hukum merupakan salah satu perhatian umat manusia beradab yang paling pokok di mana-mana karena hukum itu dapat menawarkan perlindungan terhadap tirani di suatu pihak dan terhadap anarki di lain pihak.76 Berdasarkan pendapat Berman, menunjukkan pantulan dari sosok hukum di mata masyarakat, karena orang tidak akan mengerti hukum hanya dengan melihat undang-undangnya saja lalu membandingkannya dengan kenyataan atau praktik hukum itu sendiri. Apalagi dalam kenyataan masyarakat sering ditemui penerapan hukum yang berbeda dari apa yang telah dirumuskan dalam undang-undang itu sendiri.
Dengan kata lain, terdapat kesenjangan antara hukum dalam arti positif (rechts positiviteit) dengan hukum dalam kenyataan (rechts werkelijkheid).
Hukum hendaknya dipandang sebagai suatu sistem. Pengertian dasar yang terkandung dalam sistem tersebut meliputi:77
1. sistem itu selalu berorientasi pada suatu tujuan;
2. keseluruhan adalah lebih dari sekadar jumlah dan bagian-bagiannya;
3. sistem itu selalu berinteraksi dengan sistem yang lebih besar yaitu lingkungannya;
75Esmi Warassih, Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, (Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro, 2011), hlm. 68.
76Harold J. Berman, Talks on American Law, hlm. 2, Lihat juga di buku Kadri Husin dan Budi Rizki Husin, Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hlm. 1.
77Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Alumni,2000), hlm. 48-49.
DUMMY
4. Bekerjanya bagian-bagian dari sistem itu menciptakan sesuatu yang berharga.
Shrode dan Voich, mendefinisikan sistem sebagai “a set of interrelated parts, working independently and jointly, in pursuit of common objectivies of the whole, within a complex environment”78 (serangkaian bagian yang saling terkait, bekerja secara mandiri dan bersama-sama guna mencapai tujuan bersama dalam lingkungan yang kompleks). Pemahaman sistem tersebut menyiratkan bahwa kompleksnya permasalahan hukum yang kita hadapi. Disebut sebagai grundnorm atau basic norm karena hukum dipandang sebagai suatu sistem nilai secara keseluruhan dipayungi oleh norma dasar. Norma dasar dipakai sebagai dasar, sekaligus sebagai penuntun penegakan hukum. Disebut sebagai sistem nilai, maka grundnorm merupakan sumber nilai serta pembatas dalam penerapan hukum.
Perspektif lain, hukum adalah bagian dari lingkungan sosialnya, maka dengan itu hukum adalah salah satu subsistem di antara subsistem-subsistem sosial lainnya, yakni sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Hal demikian berarti hukum tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang merupakan basis bekerjanya. Di sini tampak bahwa hukum berada di antara dunia nilai atau dunia ide dengan dunia kenyataan sehari-hari.79
Unsur-unsur sistem hukum menurut Lawrence Friedman, terdiri atas tiga aspek, yaitu legal structure, legal substance, and legal culture. Unsur- unsur tersebut memengaruhi proses penegakan hukum sejak di tingkat penyidikan sampai di lembaga pemasyarakatan.
Menurut Lawrence Friedman, struktur hukum (legal structure) yaitu:
“The structure of a system is its skeletal frame-work; it is the permanent shape, the institutional body of the system. The tough, rigid bones that keep the process flowing within bounds. We describe the structure of a judicial system when we talk about the number of judges, the jurisdiction of courts,
78William A. Shrode and J.R. Voich, Organization and Management, Basic System Concept, (Tllahassee, Fla: Florida State University Press,1974), p. 48.
79Satjipto Rahardjo, Op. Cit., hlm. 170.
DUMMY
how higher courts are stacked on top of lower courts, what persons are attached to various courts, and what their roles consist of.”80
Berdasarkan aspek struktural merupakan sebagai institusi yang menjalankan proses penegakan hukum. Dalam hal ini struktural sebagai perangkat penggerak dalam menjalankan sebuah sistem hukum di dalam masyarakat. Terkhusus mengenai struktur di dalam lembaga pemasyarakatan karena sistem struktural menentukan tercapai atau tidaknya tujuan pemasyarakatan.
Aspek kedua dalam sistem hukum menurut Lawrence Friedman adalah substansi hukum (legal substance), yaitu:
“The substance is composed of substantive rules and rules about how institutions should behave. H.L.A. Hart, indeed, feels that the distinctive feature of a legal system is this double set of rules. A legal system is the union of primary rules and secondary rules. Primary rules are norms of behavior, secondary rules are norms about those norms-how to decide whether they are valid, how to enforce them, etc 81.”
Berdasarkan aspek substansi, maka proses implementasi hak- hak warga binaan pemasyarakatan diatur di dalam undang-undang pemasyarakatan, namun hak-hak narapidana terkhusus mengenai pemenuhan kebutuhan seksual belum diatur, karena setiap narapidana mempunyai hak dalam memenuhi kebutuhan seksualnya.
Bagi narapidana, masalah akan timbul ketika dorongan libido naik dan rancangan seksual meningkat sementara tingkat kebebasan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak sama dengan di masyarakat luas, yang
80Lawrence Friedman, The Legal System: a social science perspective, (New York: Russel Sage Foundation, 1975), p. 14. Struktur dari suatu sistem hukum seperti sebuah kerangka yang memiliki bentuk permanen, institusi dari sebuah sistem. Kerangka inilah yang menjaga proses di dalam sistem hukum terjadi.
Kita menggambarkan sistem peradilan dengan menunjukkan jumlah hakim, kewenangan pengadilan, hierarki peradilan dan juga peran yang dimiliki oleh para hakim.
81Ibid. Substansi terdiri dari aturan yang substantif dan aturan tentang bagaimana institusi sebaiknya bertindak. Menurut H.L.A. Hart, kedua aturan tersebut merupakan gambaran khusus dari suatu sistem hukum. Suatu sistem hukum terdiri dari primary rules dan secondary rules. Primary rules terkait dengan norma-norma tingkah laku sedangkan secondary rules terkait dengan norma menentukan validitas dan menegakkan primary rules.
DUMMY
tentunya akan menimbulkan kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan seksualnya karena berbagai keterbatasan dan aturan di dalam lembaga pemasyarakatan yang tidak mengatur dan mengakomodir pemenuhan kebutuhan seksual narapidana.
Aspek ketiga dalam sistem hukum menurut Lawrence Friedman adalah budaya hukum (legal culture), yaitu:
“We can call some of these forces the legal culture. It is the element of social attitude and value. The phrase social forces is it self an abstraction; in any event, such forces do not work directly on the legal system. People in society have needs and make demands; these sometimes do and sometimes do not invoke legal process-depending on the culture. The values and attitudes held by leaders and members are among these factors, since their behavior depends on their judgment about which options are useful or correct. Legal culture refers, then to those parts of general culture-customs, opinions, ways of doing and thinking-that bend social forces toward or away from the law and in particular ways.”82
Dalam budaya hukum maka hukum bekerja dan tertanam dalam sebuah matriks sosio-kultural. Dalam hal ini masyarakat akan menilai, menuntun, membatasi, menuntun bagaimana hukum itu secara nyata berjalan, bekerja, serta berlaku untuk masyarakat.83 Dalam budaya hukum, masyarakat akan merespons melalui tingkah laku serta nilai- nilai baik secara positif maupun negatif. Hukum akan diterima dengan baik, apabila masyarakat memiliki nilai-nilai yang positif. Namun, masyarakat akan menentang dan menjauhi hukum, apabila masyarakat merespons/mempunyai nilai-nilai yang negatif. Keterpaduan antara ketiga aspek dalam sistem hukum menjadi penentu efektivitas suatu peraturan. Apabila seluruh unsur saling melengkapi dan mendukung,
82Ibid., hlm.15. Kita bisa menyebut hal ini sebagai budaya hukum. Ini merupakan unsur dari nilai dan sikap sosial. Frase kekuatan sosial itu merupakan abstraksi, berbagai peristiwa, yang tidak bekerja secara langsung dalam sebuah sistem hukum. Masyarakat memiliki kebutuhan dan kehendak. Ini terkadang melibatkan proses hukum yang terkait dengan budaya. Nilai-nilai dan sikap- sikap yang diperlihatkan oleh pemimpin dan anggota bergantung pada penilaian mengenai apa yang berguna atau benar. Budaya hukum merupakan pendapat, cara berpikir dan bertindak yang memengaruhi hukum.
83Nur Rochaety, Peradilan Restoratif Berdasarkan Pancasila Sebagai Sarana Non Penal Dalam Penanggulangan Delinkuensi Anak, Disertasi, (Semarang: Universitas Diponegoro, 2012), hlm. 465.
DUMMY
maka sistem hukum dapat berjalan secara baik, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Apa yang telah dikemukakan oleh Friedman, merupakan penjabaran hukum sebagai suatu sistem. Dalam praktiknya, hukum sebagai sistem maka ketiga komponen/unsur sistem hukum tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat sekali.