• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arti Penting Pengelolaan Hutan Adat Berbasis

Dalam dokumen Pengelolaan Hutan Adat Berbasis Kearifan Lokal (Halaman 129-139)

BAB II. PEMBAHASAN

B. Arti Penting Pengelolaan Hutan Adat Berbasis

Pengelolaan hutan adat berbasis kearifan lokal dapat dijadikan sebagai salah satu model pengelolaan hutan, karena memiliki beberapa kelebihhan, di antaranya: menjamin terpeliharanya ekosistem secara berkelanjutan, menjamin pembagian sumberdaya hutan secara berkeadilan, mencegah terjadinya konflik antar masyarakat adat dengan multipihak, dan relevan dengan Agenda Abad 21.

1. Menjamin terpeliharanya ekosistem secara berkelanjutan Kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu masyarakat telah berhasil menciptakan harmonisasi antara ekosistem hutan dengan

271 Mangunjaya, F.M. (2007). Konservasi Alam dan Lingkungan dalam Perspektif Islam. Jurnal Islamia, 3(2), 90-96.

masyarakat yang hidup di dalam hutan maupun sekitar hutan.

Terwujudnya harmonisasi karena praktik tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun, dan sudah mengakar serta dijalani secara turun temurun sebagai suatu jalan hidup.

Praktik pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal merupakan salah satu implementasi dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan lingkungan hidup Bab II Pasal 4, yang menyatakan bahwa setiap pemanfaatan lingkungan hidup harus bertujuan, seperti tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup;

terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan melindungi serta membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana;

terlindunginya Indonesia terhadap dampak dari luar yang dapat menyebabkan pencemaran atau kerusakan lingkungan.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sebagaimana yang dipraktikkan dalam kearifan lokal, menurut Nurjaya (2008) berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi, yaitu: a. Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan); b. Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah); c. Mengendalikan cara-cara

pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya (pemanfaatan secara lestari)272.

2. Menjamin pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkeadilan

Pemanfaatan sumberdaya alam juga harus mencerminkan rasa keadilan antar kelompok masyarakat (di internal masyarakat adat sendiri, dan antar masyarakat adat dengan masyarakat di luar), dan antar generasi (generasi saat ini dengan generasi yang akan datang).

Banyaknya pihak yang terlibat dalam pengelolaan sumberdaya alam menyebabkan prinsip keadilan itu sulit terpenuhi.

Masing-masing pihak yang terlibat cenderung mengutamakan kepentingan kelompoknya dan mengabaikan kepentingan kelompok yang lain. Faktor inilah yang seringkali menjadi pemicu timbulnya konflik dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk pemanfaatan sumberdaya hutan. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Fathoni (2013) bahwa persoalan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam memang merupakan salah satu persoalan esensial di dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam menciptkan stabilitas di masyarakat. Hal ini karena sumber daya alam, khususnya bidang agraria, sesungguhnya merupakan tempat menggantungkan keberlanjutan hidup dan cerminan harga diri suatu masyarakat. Karena begitu vitalnya persoalan keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam ini bagi masyarakat, Undang- Undang Pokok Agraria 1960, sebagai aturan dasar pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, menempatkan “keadilan” sebagai tujuan dibentuknya aturan ini

”…bumi, air dan ruang angkasa, sebakarunia Tuhan Yang Maha Esa mempunyai fungsi yang amat penting untuk membangun masyarakat yang

272Nurjaya, I. N. (2008), Op.cit

adil dan makmur (Undang-Undang Pokok Agraria 1960 bagian menimbang huruf a)

Tujuan Undang-undang pokok agraria ialah meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, yang akan membawa kemakmuran kebahagiaan dan keadilan (Penjelasan umum Undang- Undang Pokok Agraria 1960)273

3. Mencegah terjadinya konflik antar masyarakat adat dengan multipihak

Pengelolaan hutan adat berbasis kearifan lokal dapat mencegah terjadinya konflik, baik konflik internal di dalam masyarakat adat sendiri, maupun konflik masyarakat adat dengan pihak eksternal. Seharusnya konflik seperti ini dapat dihindari jika masing-masing pihak memahami tugas dan tanggung jawabnya dalam pengelolaan hutan. Berikut ini beberapa konflik yang terjadi berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi, dapat dicermati dari kasus-kasus pada taman-taman nasional, seperti pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Konflik masyarakat adat dengan pihak eksternal No. Kawasan

Konservasi Aktor dan Kasus/Konflik 1. Taman Nasional

Komodo (TNK) NTT

a. Masyarakat adat Sape dan Masyarakat adat Labuhan Bajo VS TNK & TNC (The Nature Conservacy).

b. Larangan menangkap ikan pada

273 Fathoni, M. Y. (2013). Konsep keadilan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam menurut Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960. Kajian Hukum dan Keadilan, 1(1), 44-59

zona larangan (zona ditetapkan sepihak dan tidak pernah dikonsultasikan dengan masyarakat

c. TNK sebagai lahan konsesi TNC untuk ekowisata

d. Konflik dengan kekerasan

e. Kearifan lokal wilayah tangkapan ikan

2. Taman Nasional Gunung Merapai DIY dan Jateng

a. Masyarakat lokal VS TNGM b. Hak atas informasi, partisipasi,

dan berpendapat telah diabaikan c. Pemindahan masyarakat yang telah

tinggal turun temurun

d. Kearifan lokal konservasi hutan

“Alas Mbiyungan”

3. Taman Nasional Bromo-Tengger- Semeru (TNBTS), Jatim

a. Masyarakat Tengger VS TNBTS b. Pembiaran penghilangan tanah

pada enclave

c. Terbatasnya hak-hak akses tradisional atas kawasan hutan d. Privatisasi TNBTS untuk wisata e. Perlawanan tidak tampak ke

permukaan tetapi berpotensi muncul

f. Kearifan lokal menjaga ibu bumi (tanah) sebagai menjaga

keselamatan leluhur dan Sang Hyang Widhi

4. Taman Nasional Kepulauan

Wakatobi (TNKW) Sultra

a. Masyarakat adat Wakatobi VS TNKW, PT Wakatobi Diver Resort (PMA Swiss) Yayasan Operation Walacea, (berpusat di UK), TNC dan WWF

b. Nelayan yang turun temurun mengelola secara adat seluruh kawasan perairan tersebut dilarang memasuki kawasan yang telah dizonasi secara sepihak menjadi zona terlarang, zona riset, dan zona pemanfaatan

c. TNKW sebagai lahan wisata penelitian, bahari, dan konservasi steril dari masyarakat d. Terjadi perampasan tanah,

konflik belum selesai

e. Kearifan lokal “laut tempat mencari hidup, daratan tempat tinggal, menghormati laut menghormati kehidupan”

5. Taman Nasional

Lore Lindu a. Masyarakat adat Sinduru VS TNLL

(TNLL) Sulteng b. Lahan masyarakat sebagai sumber ekonomi dipindahkan c. Masyarakat tidak mau diubah

kebiasaan bercocok tanamnya d. Pendudukan TNLL oleh

masyarakat

e. Kearifan lokal tata ruang, pohambei, pongko, pangale,

wanangkik, wana, taolo, balingkea, oma

6. Taman Kepulauan

Togian (TNKT) Sulteng

a. Masyarakat adat Togian VS TNKT, PT Walea (PM Italia wisata bahari), PT Tamashu Cahaya Indonesia (PMA Jepang budidaya mutiara), PT. Cahaya Cemerlang (PMA Australia budidaya mutiara).

b. Melayang masuk wilayah tangkap nelayan sejauh 7 km, mengkapling areal pemanfaatan laut tradisional nelayan, Lab mutiara menghalangi lintasan tradisional nelayan

c. Tuntutan nelayan meninjau ulang penetapan TNKT

d. Kearifan lokal konservasi laut bapongka, mengombai, ba’etu, batonda-tonda

7. Taman Nasional

Rawa Aopa

Watomohai (TN RAW) Sultra

a. Masyarakat adat Moronere VS TNRAW

b. Masyarakat menuntut pengem balian wilayah leluhur di dalam kawasan TNRAW

c. Pendudukan TNRAW dijawab dengan operasi Sapujagat yang mengakibatkan pembakaran dan pengrusakan rumah penduduk,

pembabatan tanaman

masyarakat yang siap panen, penangkapan orang-orang Moronene

d. Kearifan lokal menjaga tanah sebagai penghormatan kepada leluhur

8. Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) Jabar dan Banten

a. Mayarakat adat Kasepuhan VS TNGH

b. Perluasan TNGH menjadikan masyarakat Kasepuhan enclave sehingga akses terhadap hutan terbatas dan dituduh perambah saat mengakses TNGH

c. Kearifan lokal konservasi hutan leuweung awisan, leuweung tutupan, leuweung garapan yang kontrolnya dijaga oleh petugas adat kemit leuweung

9. Taman Nasional Bunaken (TNB) Sulut

a. Masyarakat adat Arakan VS TNB (Natural Resource Management) b. Akses hak mengelola SDA

terbatas, menolak zonasi larangan

c. Konflik disertai kekerasan

d. Kearifan lokal zonasi laut berdasar napa, alogaseng, napo pangaluang, napa agis

10. Taman Nasional Taka Bonerate (TNTB) Sulsel

a. Masyarakat lokal Taka Bonerate VS TNTB

b. Akses daerah tangkapan tradisional menjadi terbatas karena adanya zona inti atau zona larang tangkap

c. Kasus pemboman justru meningkat saat keamanan kawasan ditingkatkan (jagawanan, marinir, binmas, babinsa), pemboman sebagai simbul perlawanan

d. Kearifan loka konservasi laut dengan struktur ponggawa laut dan ponggawa lolo

Sumber: 274

4. Relevan dengan Agenda Abad 21

Akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam, khususnya banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Bencana alam tersebut menyebabkan kerugian nasional, baik berupa kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta terganggunya tata kehidupan masyarakat.

274 Negara, P. D. (2011). Rekonstruksi kebijakan pengelolaan kawasan konservasi berbasis kearifan lokal sebagai kontribusi menuju pengelolaan sumber daya alam yang Indonesia. Jurnal Konstitusi, 4(2), 91-138.

Penyebab utama terjadinya bencana tersebut adalah kerusakan lingkungan, terutama di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (watershed) sebagai daerah tangkapan air (catchment area).

Untuk itu maka perlu dilakukan perbaikan dan pengembalian fungsi hutan, yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh dan terkoordinasi.

Agar bencana alam tidak terus berulang setiap tahun karena penyebab yang sama, maka dibutuhkan suatu pemikiran yang serius mengenai pola pengelolaan hutan di masa kini dan masa depan.

Salah satu solusinya adalah pengelolaan yang berbasis kearifan lokal dengan memaksimalkan peran dan partisipasi masyarakat lokal.

Pola tersebut sejalan dengan arah pembangunan kehutanan di Abad 21 yang telah bergeser dari orientasi ekonomi ke arah pembangunan kehutanan yang berorientasikan pada resources and community based development, sebagaimana yang dinyatakan oleh Suntana & Sugih (2000), yaitu sebagai berikut: (1) Perubahan orientasi produksi kayu dari hutan alam ke hutan tanaman; (2) Perubahan orientasi dari hasil hutan kayu ke hasil hutan non kayu dan jasa; (3) Pergeseran pola pengusahaan hutan dari konglomerasi ke peningkatan peran masyarakat; (4) Perubahan bentuk pengelolaan hutan dari optimasi produksi log ke optimasi fungsi hutan; dan (5) Pergeseran kewenangan pengelolaan hutan dari sentralisasi ke desentralisasi275.Aril 2013 lm,59

275 Suntana & Sugih, A. (2000). Agenda 21 Sektoral, Agenda Kehutanan Untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan. Jakarta: Kantor Menteri KLH

C. Contoh Implementasi Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan

Dalam dokumen Pengelolaan Hutan Adat Berbasis Kearifan Lokal (Halaman 129-139)

Dokumen terkait