• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Mutakhir

BAB I. PENDAHULUAN

E. Teori Mutakhir

Ada banyak teori yang dapat dipilih sebagai teori yang melandasi penelitian tentang pengelolaan hutan adat berbasis kearifan lokal. Dua di antara teori tersebut, yaitu teori struktural fungsional, dan teori interaksional simbolik.

83 Ibid....

84 Bahtiar, A.S. (2013), Op.cit

a. Teori Struktural Fungsional

Ide pokok dari teori ini adalah masyarakat merupakan satu kesatuan utuh yang terdiri atas banyak bagian, dan setiap bagian memiliki fungsi tersendiri. Jika setiap bagian tersebut menjalankan fungsi, maka masyarakat berada dalam keadaan normal, dan keadaan abnormal jika sebaliknya85. Teori ini berasumsi bahwa pertumbuhan masyarakat akan menuju pada tatanan yang rapi pada sub-bagian tertentu untuk mewadahi berbagai perubahan, juga akan berfungsi pada fungsinya masing-masing. Kecenderungan sebuah sistem sosial akan menuju pada keharmonisan dan keseimbangan tertentu sehingga akan selalu tercipta tertib sosial. Sebuah ide perubahan apabila mengancam kemapanan struktur yang ada dianggap sebagai penghalang dan perlu untuk diseimbangkan86. Parsons menempatkan masyarakat sebagai satu sistem yang memiliki satu kesatuan nilai. Di dalam satu masyarakat tanpa stabilitas, perilaku individu khususnya di lingkungan marketplace akan gagal menjadi kekuatan korektif yang diperlukan bagi terjadinya keteraturan sosial. Bagi Parsons, stabilitas dan keteraturan sosial dapat dicapai melalui penyehatan institusi- institusi sosial yang kurang berfungsi, termasuk juga pasar, dengan lebih menekankan konsensus daripada diversitas opini. Pendekatan Parsonian dalam mengelola masyarakat adalah dengan mengontrol seluruh sistem dan sub-sistemnya. Pendekatan sistem ini juga menekankan superioritas institusi-institusi terhadap individu87.

85 Henslin, J. M. (2006). Essentials of Sosiology. 6th Edition. Sunarto, K.

(penterjemah). Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, 2007. Jakarta:

Erlangga.

86 Yuliati, Y. & Poernomo, M. (2003). Sosiologi Pedesaan. Edisi I. Malang:

Risalah Kerto Pustaka Utama.

87 Siswoyo, E. (2011). Campus Go Green: Aktualisasi Nilai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Insani,, 11(1), 1-37.

Teori Struktural Fungsional banyak digunakan sebagai landasan teori untuk menjelaskan tentang struktur, dan fungsi, serta pola kerja dari setiap unsur sosial yang ada di suatu masyarakat atau komunitas. Beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan teori ini sebagai landasan teorinya, diantaranya adalah: 1. Perubahan sosial kultural masyarakat pedesaan (suatu tinjauan teoritik- empirik)88; 2. Kajian struktur sosial masyarakat nelayan di ekosistem pesisir89; 3. Potret konflik bernuansa agama di Indonesia (signifikansi model resolusi berbasis teologi transformatif)90.

Alasan pemilihan teori struktural fungsional sebagai salah satu yang mendasari penelitian ini di antaranya: 1) Terbitnya UU No.5/1979, tentang Pemerintahan Desa, di era Orde Baru, secara langsung melegetimasi supremasi negara terhadap masyarakat adat, salah satunya dibuktikan dengan perubahan aktor pengelola hutan adat, dari sebelumnya Lembaga Adat kemudian beralih ke Kepala Desa; 2) Pemberlakuan undang-undang tersebut, juga berdampak terhadap aturan-aturan yang digunakan dalam pengelolaan hutan adat, yakni dari sebelumnya menggunakan awig-awig, beralih ke aturan-aturan formal bentukan negara (hukum positif). Intervensi negara melalui perubahan struktur pengelola dan aturan-aturan yang digunakan, berpengaruh terhadap eksistensi dan kelestarian hutan adat; 3) Masyarakat adat merupakan satu sistem yang terdiri atas sub-sub sistem, yang mekanisme kerjanya saling

88 Hatu, R. (2011). Perubahan Sosial Kultural Masyarakat Pedesaan (Suatu Tinjauan Teoritik-Empirik). Jurnal Inovasi, 8(4),1-11.

89 Susilo, E., Sukesi, K., & Hidayat, K. (2012). Kajian struktur sosial masyarakat nelayan di ekosistem pesisir. Wacana, Jurnal Sosial dan Humaniora, 13(2), 366-380.

90 Muqoyyidin, A. W. (2013). Potret Konflik Bernuansa Agama di Indonesia (Signifikansi Model Resolusi Berbasis Teologi Transformatif). Jurnal Analisis, 12(2), 319-344.

mempengaruhi, dan jika fungsi satu subsistem berubah maka akan mempengaruhi sistem secara keseluruhan; 4) Masyarakat adat tidak menjadikan kearifan lokal yang mereka pedomani sebagai sesuatu yang statis, tetapi terus mengalami penyempurnaan sesuai dengan perubahan sosiokultural masyarakat, 5) perubahan aturan adat yang dimiliki oleh masyarakat adat dilakukan berdasarkan musyawarah (gundem) lembaga adat. Ini menunjukkan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang memiliki mekanisme tertentu dalam pengambilan keputusan.

b. Teori Interaksional Simbolik

Para tokoh pelopor teori ini (Mead dan Herbert Blumer) memiliki pandangan bahwa perubahan sosial sangat ditentukan oleh kemampuan individu dalam menangkap, menafsirkan dan memodifikasi simbol-simbol dalam proses interaksi sepanjang aktivitas sosialnya di masyarakat91.

Teori interaksional simbolik banyak digunakan sebagai landasan teori untuk menjelaskan bahwa objek, orang, situasi, dan peristiwa tidak memiliki pengertian sendiri, tetapi memiliki makna yang telah disepakati oleh suatu kelompok tertentu. Beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan teori ini sebagai landasan teorinya, di antaranya adalah: 1. Pengelolaan program hutan kemasyarakatan berbasis kearifan lokal: studi kasus di Kawasan Hutan Lindung Sesaot Lombok Barat92; 2. Penyelesaian konflik pertanahan berbasis nilai-nilai kearifan lokal di Nusa Tenggara Barat93; 3. Ambivalensi pendekatan yuridis normatif dan yuridis

91 Ritzer, G., & Goodman, D.J. (2003). Modern Sociology Theory. Sixth Edition.

Alimandan (penterjemah). Teori Sosiologi Modern. 2004. Jakarta:

Prenada Media.

92 Mukhtar, Soemarno & Hidayat, K. (2010), Op.cit...

sosiologis dalam menelaah sistem kearifan lokal masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam94.

Alasan pemilihan teori interaksional simbolik sebagai salah satu yang mendasari penelitian ini di antaranya: 1) Masyarakat adat merupakan satu sistem yang terdiri atas individu-individu yang independen, 2) Masyarakat adat mengembangkan kode-kode dan pola komunikasinya sendiri yang khas (tumbuhan dan hewan), yakni dengan mengunakan hutan adat sebagai simbol fisik dan simbol religi, sebagai identitas komunitasnya, 3) eksistensi dari setiap individu tersebut dapat dipertahankan sepanjang individu tersebut well-difined dan memiliki kontribusi tunggal dan spesifik bagi lingkungan sekitarnya yang berisi sistem-sistem yang lain, 4) Masyarakat menerapkan aturan adat yang disebut awig-awig, yang berperan untuk mengunci atau mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diharapkan dari hubungan atau fungsi dari setiap individu dalam berinteraksi dengan hutan adat.

2. Tinjauan Pustaka

a. Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Hutan 1. Deskripsi kearifan lokal

Kearifan lokal dapat dideskripsikan berdasarkan tipologinya.

Tipologi kearifan lokal menurut Ernawi (2010) dibagi menjadi dua,

93 Asmara, M. G., Arba, M., & Maladi, Y. (2012). Penyelesaian Konflik Pertanahan Berbasis Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Nusa Tenggara Barat.

Jurnal Mimbar Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 22(1), 1- 17.

94 Safa'at, R. (2013). Ambivalensi Pendekatan Yuridis Normatif dan Yuridis Sosiologis dalam menelaah Sistem Kearifan Lokal Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. Lex Jurnalica (Ilmu Hukum), 10(1), 46-62.

yaitu berdasarkan jenis dan bentuk. Jenis kearifan lokal meliputi tata kelola, sistem nilai/nilai-nilai adat, tata cara/prosedur, dan kawasan khusus; sedangkan bentuknya dibagi dua, yaitu kearifan lokal yang berwujud nyata (tangible), misalnya tekstual, bangunan/arsitektur, benda cagar budaya; dan kearifan lokal yang tidak berwujud (intangible), yaitu dapat berupa nyanyian dan kidung yang mengandung nilai-nilai ajaran tradisional95

2. Landasan hukum kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam

Kearifan lokal dalam pembangunan hukum nasional yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam telah mendapat tempat dan pengakuan oleh pemerintah. Pengakuan tersebut dapat dilihat dari terbitnya berbagai peraturan perundangan, sebagai tercantum pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Peraturan perundangan yang terkait dengan kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam

No. Jenis Peraturan

perundangan Perihal Substansi Pengaturan 1. UU No. 5

Tahun 1967 Ketentuan Pokok Kehutanan

Hutan marga yang dikuasai masyarakat hukum adat (MHA) termasuk dalam hutan negara dengan tidak meniadakan hak-hak MHA yang bersangkutan dan

95 Ernawi, I. S. (2010). Harmonisasi Kearifan Lokal dalam Regulasi Penataan Ruang. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional “Urban Culture, Urban Future: Harmonisasi Penataan Ruang dan Budaya untuk Mengoptimalkan Potensi Kota”. di UGM pada 1 Mei 2010. p.21.

anggota-anggotanya untuk mendapatkan manfaat dari hutan tersebut sepanjang hak-hak itu menurut kegiatannya masih ada (Pasal 2) 2. UU No. 5

Tahun 1960 Dasar-Dasar Pokok Agraria

Hak-hak adat yang mencakup tanah, air dan udara diakui sejauh tidak

bertentangan dengan kepentingan

nasional (Pasal 5) 3. UU No. 41

Tahun 1999 Kehutanan - Hutan adat

ditetapkan sepanjang menurut ke-

nyataannya MHA yang bersangkutan masih ada dan diakui

keberadaannya (Pasal 5).

- Memberi kesempatan kepada masyarakat hu- kum adat, lembaga pendidikan, lembaga peneli- tian dan lembaga sosial dan keagamaan dalam pengelolaan hutan dengan tujuan khusus (Pasal 34)

- Pengukuhan dan keberadaan

masyarakat hukum adat ditetapkan dengan peraturan daerah, tetapi

ppenetapan hutan adat merupakan

kewenangan menteri (Pasal 67)

4. UU No. 21

tahun 2001 Migas Kegiatan usaha migas tidak dapat dilaksa-nakan pada tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat, sarana dan

prasarana umum, cagar alam, cagar budaya serta tanah milik masyarakat adat (Pasal 33)

5. UU No. 27

Tahun 2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Kegiatan usaha panas bumi tidak dapat dilaksanakan pada tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat, sarana dan prasarana umu, cagar alam, cagar budaya serta tanah milik masya- rakat adat (Pasal 16) 6. UU No. 27

Tahun 2003 Panas Bumi - Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat pe-sisir yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan asal-usul leluhur, adanya

hubungan yang kuat dengan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum (Pasal 1, angka 35)

- Masyarakat lokal adalah kelompok masyarakat yang menjalankan tata kehidupan

berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku umum tetapi tidak sepenuhnya tergantung pada sumberdaya pesisir dan pulau- pulau kecil tertentu (Pasal 1, angka 35)

- Masyarakat tradisional adalah masyarakat per- ikanan tradisonal yang masih diakui hak tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penang- kapan ikan atau

kegiatan lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut (Pasal 1, angka 35)

- MHA dapat memegang atau dapat diberikan hak penguasaan perairan

pesisir (HP3) (Pasal 18) 7. UU No. 7

Tahun 2004 Sumber Daya

Air - Penguasaan sumberdaya alam diselenggarakan oleh pemerintah dan pemda dengan tetap mengakui keberadaan hak ulayat MHA setempat dan hak serupa dengan itu sepanjang tidak ber-tentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan per- undangan yg berlaku (Pasal 6 Ayat 2)

- Pengakuan MHA disertai syarat: 1)

sepanjang masih ada dan jika tidak ada, maka hak ulayat MHA tidak dapat dihidupkan lagi; 2) keberada- annya harus dikukuhkan oleh pemda melalui perda; 3) tidak

bertentangan dengan kepentingan nasional; 4) tidak bertentangan dgn peraturan perun-dangan yg berlaku (Pasal 6, Ayat 3)

8. UU No.32

Tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

MHA adalah kelompok masyarakat yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan

lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum

Sumber:96

b. Prinsip Pengelolaan Hutan Lestari

1. Pengertian Pengelolaan Hutan Lestari

Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management/SFM).

Namun dari semua itu, ada satu definisi universal yang paling banyak disepakati antar negara, yakni konsep yang diadopsi oleh Forum Hutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Forum on

96 Subarudi, S. (2014). Kebijakan Pengelolaan Hutan Adat Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012: suatu Tinjauan Kritis.

Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 11(3), 207-224.

Forests/UNFF) pada bulan Desember 2007. Menurut UNFF (2007) pengelolaan hutan lestari merupakan suatu konsep dinamis dan berkembang, yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai ekonomi, sosial dan lingkungan dari semua jenis hutan, untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang97.

2. Unsur-unsur Pengelolaan Hutan Lestari

Pengelolaan hutan lestari mempunyai 3 ciri yaitu: 1) kelestarian produksi dan jasa/manfaat hutan; 2) kelestarian lingkungan fisik hutan (tanah, flora, fauna, hidrologi, dan iklim);

dan 3) kelestarian lingkungan sosial masyarakat (meliputi sosial, ekonomi, dan budaya)98. Secara lebih detail, UNFF (2007) menyebutkan bahwa ada 7 unsur yang tercakup dalam pengelolaan hutan lestari, yaitu: 1) tingkat sumber daya hutan; 2) keragaman hayati hutan; 3) kesehatan dan vitalitas hutan; 4) fungsi produktif sumber daya hutan; 5) fungsi perlindungan sumber daya hutan;

fungsi 6) sosial-ekonomi hutan; dan 7) kerangka hukum, kebijakan dan kelembagaan99.

97 UNFF. (2007). Non-legally Binding Instrument on Sustainable Forest Management of all Types of Forests, GA/Res/62/98 of 17 December 2007.

98 Kastanya, A. (2006). Konsep pengelolaan hutan lestari pulau-pulau kecil berbasis ekosistem dan masyarakat di Kepulauan Maluku. Prosiding Perencanaan Pembangunan Kehutanan Berbasis Ekosistem Pulau Kecil. Ambon, 5-6 Juli 2006. pp.82-96.

99 UNFF. (2007). Op.cit...

c. Pengelolaan Hutan di Pulau Lombok

1. Pembentukan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR)

Gambar 1.1. Peta Posisi Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok, dan Indonesia100

a). Sejarah Pembentukannya

Awalnya, TNGR merupakan Suaka Margasatwa yang penetapannya dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1941, dan diperkuat dengan Surat Pernyataan Menhut No.

448/Menhut-VI/1990. Selanjutnya, dikembangkan menjadi menjadi Taman Nasional dengan SK Menhut No. 280/Kpts- VI/1997 tanggal 23 Mei 1997 dengan luasan 40.000 ha. Delapan tahun berikutnya, dikeluarkan kembali SK oleh Menhut RI melalui Kep.Menhut Nomor: SK. 298/Menhut-II/2005 tanggal 3 Agustus 2005, dengan penambahan 1.330 ha dari luas sebelumnya, sehingga luasan definitif berdasarkan tata batas adalah 41.330 ha. Kawasan hutan Gunung Rinjani meliputi 26,5% dari luas daratan P. Lombok,

100 Myers, S. D., & Bishop, K. D. (2005). A review of historic and recent bird records from Lombok, Indonesia. Forktail, 21, 147-160.

dan merupakan 86,11% dari luas keseluruhan hutan Pulau Lombok, dengan luas 125.740 ha101,102,103,104.

Kawasan TNGR termasuk salah satu perwakilan ekosistem peralihan antara Asia dan Australia dalam garis Wallace. Di dalamnya terdapat lebih dari 19 jenis mamalia, 8 jenis reptilia, 5 jenis amfibi, 20 jenis insekta dan 154 jenis burung, lebih dari 55 jenis anggrek, 140 famili pohon dengan spesies lebih dari 500 jenis.

TNGR merupakan bagian dari hutan hujan tropis di Provinsi NTB yang terdiri atas berbagai tipe ekosistem dan vegetasi yang cukup lengkap dari hutan tropis dataran rendah (> 1500 m dpl) sampai hutan hujan tropis pegunungan (1.500 – 2.000 m dpl) yang masih utuh dan berbentuk hutan primer, hutan cemara dan vegetasi subalpin (> 2.000 m dpl). Kawasan ini juga sebagai daerah resapan air bagi wilayah-wilayah di bawahnya, karena merupakan hulu dari sekitar 90% sungai di Pulau Lombok. Tercatat sekitar 22 sungai dan 13 mata air yang telah dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat105,106,107.

101 Sudarsono, D., Sulistyono, Sulistani, G., & Rudjito. (1999). Dari Pelestarian Hingga Pembusukan: Hasil Studi Dampak Pariwisata terhadap Hak Masyarakat Adat di NTB. Mataram: Yayasan Koslata Bekerjasama dengan INPI-Pact. pp. 25-43

102 Lanangputra, I.B., & Mukarom, M., (2011). Laporan Inventarisasi Sosial Ekonomi dan Budaya di KPHL Rinjani Barat 2011. Balai KPH Rinjani Barat. Dinas Kehutanan NTB. p. 28.

103 Mukarom, M., I.B. Lanangputra, Yuwono, T., Sirajudin, & Sutikno.

(2012). Profil Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Rinjani Barat. Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. p. 28.

104 Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012). Tentang TNGR.

http://rinjaninationalpark. org/tentang -TNGR. (Diakses 20 Oktober 2020).

105 Lanangputra, I.B., & Mukarom, M., (2011), Op.cit..

106 Mukarom, M., I.B. Lanangputra, Yuwono, T., Sirajudin, & Sutikno.

(2012), Op.cit

107 Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012), Op.cit..

b). Zonasi

TNGR terletak di tiga kabupaten, yakni Lombok Utara dengan luas 12.357,67 ha, di Lombok Tengah dengan luas 6.819,45 ha dan di Lombok Timur seluas 22.152,88 ha. Kawasan TNGR dibagi menjadi 4 zona pengelolaan yaitu: 1). Zona Inti: 20.843,50 ha; 2). Zona Rimba: 17.349,50 ha; 3). Zona Pemanfaatan: 799,00 ha berupa: Zona Pemanfaatan Intensif: 390,00 ha dan Zona Pemanfaatan Khusus: 401,00 ha (Zona Pemanfaatan Khusus Kultural: 75,00 ha dan Zona Pemanfaatan Khusus Wisata: 326,00 ha; 4). Zona Lainnya: 2.338,00 ha berupa: Zona Pemanfaatan Tradisional: 583,00 ha dan Zona Rehabilitasi: 1.755,00 ha108.

Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan pada beberapa zona di TNGR: a) Zona Pemanfaatan Khusus Wisata, yaitu:

pemanfaatan untuk kegiatan wisata alam, seperti: wisata tracking, panorama alam (Danau Segara Anak, Puncak Rinjani, air terjun Jeruk Manis), pengobatan berbagai macam penyakit di air terjun Otak Kokok, air panas Sebau, dan lain-lain; b) Zona Kultural, yaitu: Danau Segara Anak juga digunakan sebagai tempat upacara adat, dan upacara keagamaan bagi sebagian suku sasak di Pulau Lombok, misalnya peringatan maulid adat bagi masyarakat desa Bayan (Gambar 1.2), dan kegiatan upacara mulang pakelem bagi umat Hindu (Gambar Gambar 1.3); dan c) Zona Tradisional, yaitu:

untuk mengakomodasi kebutuhan dasar masyarakat sekitar kawasan dan mempertahankan hubungan tradisional antara masyarakat lokal dan kawasan TNGR, seperti pemanfaatan tumbuhan pakis sebagai sayur mayur oleh masyarakat di desa Timbenuh dan Srijata109,110,111.

108 Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012), Op.cit..

109 Lanangputra, I.B., & Mukarom, M., (2011), Op.cit..

110 Mukarom, M., I.B. Lanangputra, Yuwono, T., Sirajudin, & Sutikno.

(2012), Op.cit

Gambar 1.2. Upacara Maulid Adat Bayan, salah satu ritualnya dilakukan di Danau Segara Anak, Gunung Rinjani112

Gambar 1.3. Upacara mulang pakelem umat Hindu di Segara Anak113

111 Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012), Op.cit..

112 https://lombokgroup.com/rangkaian-acara-penyambutan-maulid-nabi- di-desa-adat-bayan-03-04-12-2017/), diakses 10 Oktober 2020

113 (https://paduarsana.files.wordpress.com

/2018/08/fb_img_1534681423307.jpg?w=630&h=592), diakses diakases 19 Oktober 2020

c). Struktur Organisasi

Di tahun 2007 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor P.03/Menhut-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani m dalam tipe B.

Berdasarkan SK tersebut Taman Nasional Gunung Rinjani dibagi menjadi 2 (dua) wilayah pengelolaan (Gambar 1.4), yaitu114: 1. Seksi Konservasi Wilayah I Lombok Barat

Menangani wilayah Taman Nasional yang berada di Kabupaten Lombok Barat dengan luas areal ± 12.357,67 Ha (30%) yang dibagi dalam 3 (tiga) Resort (Anyar, Santong, Senaru) dan beberapa Pos Jaga.

2. Seksi Konservasi Wilayah II Lombok Timur

Menangani wilayah Taman Nasional yang berada di 2 (dua) Kabupaten di Kabupaten Lombok Timur seluas ± 22.152,88 Ha (53%), sementara wilayah Taman Nasional yang berada di Kabupaten Lombok Tengah seluas ± 6.819,45 Ha (17%) yang terbagi dalam 6 resort (Aikmel, Kb.Kuning, Joben, Sembalun, Aik Berik, Steling) dan beberapa Pos Jaga .

Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi (Pasal 1, Undang-undang no.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya).

Taman Nasional Gunung Rinjani yang mempunyai fungsi pokok sesuai Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yaitu : a. Perlindungan sistem penyangga kehidupan

114 (https://www.rinjaninationalpark.id/struktur-tngr), diakses 19 Oktober 2020

b. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya

c. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.

Gambar 1.4. Struktur Organisasi TNGR115 d). Keanekaragaman Hayati

1). Flora

Kawasan TNGR terdiri atas hutan primer, hutan dataran rendah dan hutan hujan tropis pegunungan merupakan daerah terluas, dengan luas sekitar 45,11%. Jenis-jenis vegetasi dominan yang tumbuh pada daerah ini seperti bajur (Pterospermum javanicum Jungh.), kukun (Sehrutenia ovate Kort.), rerau (Podocarpus imbricatus

115 Ibid

Blume.), garun (Disoxylum sp.), benuang (Duabanga molluccana Blume.), kemiri (Aleurites molluccana L. (Willd.)), beringin (Ficus superba Miq.), suren (Toona sureni Merr.), bak-bakan (Engelhardia spicata Blume.), keruing (Dipterocarpus hasseltii Blume.) dan beberapa jenis perdu, liana, anggrek, jamur dan paku-pakuan. Hutan sekunder sebagian besar terdapat di bagian selatan dan sedikit di bagian lain yang dekat dengan pemukiman penduduk, dengan luas sekitar 15,8%. Hutan tanaman di bagian timur, yang umumnya merupakan kawasan rehabilitasi, dengan jenis tanaman seperti bajur, mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.), durian (Durio zibethinus Murr.), sonokeling (Dalbergia latifolia Roxb.) dan akasia (Acacia decurrens Willd.) kurang dari 3% luas kawasan TNGR. Vegetasi konifer dengan penyusun utama cemara gunung (Casuariana junghuhniana Miq.) dan vegetasi subalpin dengan jenis-jenis seperti Edelweiss (Anaphalis viscid Blume.) dan cantigi gunung (Vaccinium varingiaefolium (Bl.) Miq.), vegetasi kerdil dan sanggup tumbuh di tempat tumbuh yang ekstrem. Savana di bagian timur-utara cukup luas sekitar 25,2% dari luas kawasan TNGR. Selanjutnya diikuti dengan daerah tandus (daerah tanpa vegetasi) di atasnya atau kadang bercampur dengan tipe subalpin, sekitar 7% dari luas kawasan TNGR116,117.

Salah satu flora yang tumbuh di TNGR adalah jamur morel.

Jamur ini adalah jenis jamur kedua termahal di dunia, setelah truffles, dan dinamakan “morels” Rinjani (Morchella crassipes). Jamur yang tergolong hanya bisa tumbuh di daerah tropis tertentu itu pertama kali ditemukan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Teguh Rianto.

Penemuan salah satu jenis jamur termahal di dunia tersebut hanya

116 Mukarom, M., I.B. Lanangputra, Yuwono, T., Sirajudin, & Sutikno.

(2012), Op.cit

117 Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012), Op.cit..

secara kebetulan ketika melakukan patroli di dalam kawasan taman nasional pada 2009118.

Gambar 1.5. Jamur morels (Morchella crassipes (Vent.) Pers) yang tumbuh di TNGR119.

Morel (Morchella spp, Pezizales, Ascomycota) merupakan spesies jamur edible sebagai komoditas bernilai tinggi di pasaran internasional. Morel merupakan hasil hutan bukan kayu yang telah mendatangkan devisa cukup tinggi di China, Amerika Utara, India, Turki dan Pakistan. Nilai komersial tahunan di Amerika Utara morel sekitar 5 juta -10 juta USD, di China 5 tahun terakhir ekspor morel sekitar

118 Arifin Z. (2018). Gunung Rinjani Ditumbuhi Jamur Langka Nan Mahal.

Diakses pada tanggal 20 Oktober 2020 dari https://aktual.com/gunung- rinjani-ditumbuhi-jamur-langka-nan-mahal/, diakses 10 Oktober 2020.

119 Ibid...

181-900 ton dengan harga Ekspor morel sekitar 160 USD/Kg. India dan Pakistan ekspor morel liar dari Himalaya dengan 50 ton/ per tahun Harga : Rs. 14,000-15,000 per kg.

Hasil penelitian yang dilakukan Tim TNGR bekerjasama dengan Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor bahwa berdasarkan uji DNA morel yang ada di Rinjani merupakan spesies Morchella crassipes, satu-satunya morel yang ditemukan pertama di hutan tropis Indonesia.

Secara sebaran alamnya, morel hanya tumbuh di daerah beriklim temperate. Selain harganya yang tinggi mencapai 6 juta rupiah per kg, morel mempunyai cita rasa yang enak dan berdasarkan hasil uji fitokimia mengandung antioksidan yang cukup tinggi sebagai anti kanker. Tindak lanjut dari penelitian tersebut, saat ini spora jamur morel sudah bisa tumbuh di media petri di laboratorium. Selanjutnya akan dilakukan analisis media tumbuh agar dapat dibudidayakan di lapangan.

Apabila pengembangan tersebut berhasil dilakukan, maka akan dibudidayakan oleh masyarakat di lingkar TNGR.

Perlindungan sumberdaya genetik jamur Morel dalam bentuk Hak Paten Jamur Morel kawasan TNGR juga akan dikerjakan120.

Terkait dengan bioekologi Morel Rinjani, Rianto (2012), telah melakukan penelitian, dengan hasil sebagai berikut:

- Tempat tumpuh pada ketinggian tempat antara 1572–1609m dpl,

120(http://ksdae.menlhk.go.id/berita/ 1290/morel,-jamur-termahal-di-dunia

ini ada di

rinjani.(html#:text=Nilai%20komersial%20tahunan%20di%20Amerika,.

%2014%2C000%2D15%2C000%20per%20kg), diakses 10 Oktober 2020.

Dokumen terkait