BAB III
sumberdaya hutan secara berkeadilan, mencegah terjadinya konflik antar masyarakat adat dengan multipihak, dan relevan dengan Agenda Abad 21.
3. Kearifan lokal dalam pengelolaan hutan telah banyak dipraktikkan, baik di luar maupun di dalam negeri. Contoh implementasi kearifan lokal dalam pengelolaan hutan di luar negeri, di antaranya: a. Komunitas Atayal di Taiwan, b.
Komunitas Berber di Maroko, c. Suku Ban Nong Hua Khon, dan Tambon Nong Muen Than di Thailand, dan d. Suku Mapuche di Chile; sedangkan di dalam negeri, di antaranya: a.
Di Jawa, 1). Jawa Timur, 2). Baduy, b. Di Sulawesi 1).
Komunitas Suku Wana (Sulawesi Tengah), 2). di Sumatera, 3).
Kalimantan
4. Rendahnya tingkat keberhasilan dalam pengelolaan hutan adat disebabkan oleh berbagai kendala. Kendala-kendala tersebut, berasal dari internal dan eksternal masyarakat. Kendala internal masyarakat di antaranya: lemahnya kelembagaan, rendahnya tingkat pendidikan, bertambahnya jumlah penduduk, dan rendahnya taraf sosial ekonomi masyarakat. Sementara itu, kendala eksternal, misalnya lemahnya dukungan pemerintah, dan kesenjangan informasi antar stakeholder, serta derasnya intervensi pasar dan politik.
5. a. Untuk menjamin terjaganya kelestarian hutan adat, maka strategi pengelolaan ke depan diarahkan pada kegiatan yang mencakup tiga hal berikut, yaitu: 1) penetapan masyarakat adat, 2) penetapan tata batas hutan adat, dan 3) pembentukan kelembagaan masyarakat adat.
b. Di masa depan, model pengelolaan hutan dengan kearifan lokal memiliki prospek untuk dikembangkan karena adanya berbagai kebijakan yang mendukung untuk itu, di antaranya:
a). Terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.
35/2012, b). Adanya Program Ekowisata, c) Adanya Program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat, dan d). Adanya Aliansi Masyarakat Adat
6. Pengelolaan hutan adat oleh masyarakat adat berbasis kearifan lokal diyakini relevan dengan prinsip pengelolaan hutan lestari (berkelanjutan) dengan asumsi: (1) modernisasi ekologi dengan menjadikan hutan adat sebagai destinasi ekowisata, (2) pelibatan anggota komunitas dalam mengelola hutan melalui program Perhutanan Sosial, (3) penerapan sanksi terhadap pelanggaran aturan adat guna menghindari risiko sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan yang kalau tidak diatasi dapat mengancam sustainabilitas, (4) pemaksimalan potensi lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat dapat melatih masyarakat untuk memikul tanggung jawab dan kewenangan dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi hutan.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, N. R. (2020). 8 Fakta Edelweis, Bunga Abadi di Gunung yang tak boleh dipetik. Diakses tanggal 20 Oktober 2020 dari:https://travel.kompas.com/read/2020/09/02/08080092 7/8-fakta-edelweis-bunga-abadi-di-gunung-yang-tak-boleh dipetik?page=all
Alderton, D. (2003). The Ultimate Encyclopedia of Caged and Aviary Birds. London, England: Hermes House. p. 204.
ISBN 1-84309-164-X.
Andriyani, A. A. I., Martono, E. & Muhammad. (2017).
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Desa Wisata dan Implikasinya terhadap Ketahanan Sosial Budaya.
Jurnal Ketahanan Nasional, 23, 1–6.
Anonim. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. p. 110.
Ahimsa-Putra, H. S. (2012). Fenomenologi agama: Pendekatan Fenomenologi untuk memahami agama. Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, 20(2), 271-304.
Alviya, I. & Suryandari, E. Y. (2009). Kendala dan strategi implementasi pembangunan KPH Rinjani Barat. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 6(1), 1-14.
Arifandy, M. I. & Sihaloho, M. 2015. Efektivitas Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat sebagai Resolusi Konflik Sumber Daya Hutan. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 2(3), 147-158.
Anonim. 1997. Laporan Pengkajian Potensi Penelitian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Bagian
Arifin Z. (2018). Gunung Rinjani Ditumbuhi Jamur Langka Nan Mahal. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2020 dari https://aktual.com/gunung-rinjani-ditumbuhi-jamur-langka- nan-mahal/
Aritonang, D. A. & Agung B. P. T. (2016). Pengakuan Hak Masyarakat Adat Tungkal Ulu Sumatra Selatan Dalam Mengelola Hutan Adat Setelah Putusan MK Nomor 35/PUU-X/2012 Tentang Hutan Adat. Diponegoro Law Journal, 5(3), 1-16.
Aroon, S., Artchawakom, T., Hill, J.G., Kupittayanant, S. &
Thanee, N. (2009). Ectoparasites of the common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus) at Sakaerat Environmental Research Station, Thailand. Suranaree J. Sci. Technol., 16(4), 277-281.
Azis, A. P. A. & Arizona, Y. (2019). Afirmasi MK terhadap Jukstaposisi Masyarakat Adat sebagai Subjek Hak Berserikat di Indonesia (Analisis Terhadap Keterlibatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012). Jurnal Rechts Vinding:
Media Pembinaan Hukum Nasional, 8(1), 19-35.
Baharuddin, A. (2006). Kajian Interaksi Masyarakat Desa Sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani Propinsi Nusa Tenggara Barat (Doctoral dissertation, Tesis tidak diterbitkan. Bogor:
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor).
Bahtiar, A.S. (2013). Interaksi Masyarakat Desa Hutan dengan Hutan Lindung (studi kasus program hutan asuh guna mendukung keberlanjutan hutan lindung kawasan Gunung Arjuna). Disertasi. Minat Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Program Pascasarjana Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. p. 182.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). 1997. Rencana Pengelolaan Taman Nasional 1998-2023. Mataram.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). 2009. Laporan Identifikasi Musang Rinjani (Paradoxurus hermaphroditus rindjanicus) di Kawasan Hutan Resort Sembalun Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wil. II . Mataram.
Berg, B. L. & Lune, H. (2004). Qualitative research methods for the social sciences (Vol. 5). Boston: Pearson.
BirdLife International (2020) Species factsheet: Lichmera lombokia.
Downloaded from http://www.birdlife.org on 26/10/2020 BirdLife International (2020). "Cacatua sulphurea". IUCN Red List
of Threatened Species. 2020. Retrieved 256 Oktober 2020 dari . http://datazone.birdlife.org/species /factsheet/Yellow-crested-Cockatoo?action=
SpcHTMDetails.asp&sid=1398&m=0
BirdLife International. 2016. Ducula lacernulata. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T22691789A93324624.
https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-
3.RLTS.T22691789A93324624.en. Downloaded on 26 October 2020.
BirdLife International. 2018. Cacatua sulphurea. The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T22684777A131874695.
https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2018-
2.RLTS.T22684777A131874695.en. Downloaded on 27 October 2020
BirdLife International. 2018. Lichmera lombokia. The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T22703943A130242801.
https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2018-
2.RLTS.T22703943A130242801.en. Downloaded on 26 October 2020.
Brandon-Jones, D. (1995). "A revision of the Asian pied leaf monkeys (Mammalia: Cercopithecidae: superspecies Semnopithecus auratus), with a description of a new subspecies." Raffles Bulletin of Zoology, 43, 3-43.
Burdock (2010), "CIVET", Fenaroli's Handbook of Flavor Ingredients (6th ed.), Taylor & Francis, p. 326
Burirat, S., Thamsenamupop, P., & Kounbuntoam, S. (2010). A Study of Local Wisdom in Management of the Community Forest in Ban Nong Hua Khon, Tambon Nong Muen Than, At Samat District, Roi-Et Province. Pakistan Journal of Social Sciences, 7(2), 123-128.
Carstensen, D. W., Sweeny, R., Ehlers, B. & Olesen, J. M. (2011).
Coexistence and habitat preference of two Honeyeaters and a Sunbird on Lombok, Indonesia. Biotropica, 43(3), 351-356.
CIFOR (Center for international Forestry Research), (2003). Warta Kebijakan.Perhutanan Sosialhttp: //cifor.org /acm/
download/pub/wk/warta09.pdf.
Collar, N.J. & Marsden, S.J. (2014). The subspecies of Yellow- crested Cockatoo (Cacatua sulphurea).
Corbet, G.B. & Hill, J.E. (1992). The Mammals of Indomalayan Region:
a systematic review: 174. Oxford: Nat. Hist. Mus. Publ. &
Oxford Univ. Press
Creswell, J. W. & Miller, D. L. (2000). Determining validity in qualitative inquiry. Theory into practice, 39(3), 124-130.
Dokumen Rencana Investasi Kehutanan Indonesia (DRIKI).
(2012). Program Investasi Kehutanan: Rencana Investasi Kehutanan Indonesia. Jakarta: Departemen Kehutanan Indonesia. p. 146.
Döring, M. (2020). Lichmera lombokia (Mathews, 1926) In English Wikipedia - Species Pages. Wikimedia Foundation.
Checklist dataset https://doi.org/10.15468/c3kkgh accessed via GBIF.org on 2020-10-26.
Ernawi, I. S. (2010). Harmonisasi Kearifan Lokal dalam Regulasi Penataan Ruang. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional “Urban Culture, Urban Future: Harmonisasi Penataan Ruang dan Budaya untuk Mengoptimalkan Potensi Kota”. di UGM pada 1 Mei 2010. p. 21.
FAO. (2010). Global forest resources assessment 2010: Main report. p.
378.
Faot, M. L., Purnama, M. M. & Kaho, N. P. R. (2020). Analisis ketersediaan dan preferensi pakan rusa timor (Rusa timorensis) di stasiun penelitian Bu’at, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Wana Lestari, 2(01), 83-89.
Fathoni, M. Y. (2013). Konsep keadilan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam menurut Undang-Undang Pokok Agraria tahun 1960. Kajian Hukum dan Keadilan, 1(1), 44-59
Fuadi, M. A. (2011). Dinamika Psikologis Kekerasan Seksual:
Sebuah Studi Fenomenologi. Psikoislamika, 8(2), 191-208.
Genin, D. & Simenel, R. (2011). Endogenous Berber forest management and the functional shaping of rural forests in Southern Morocco: implications for shared forest management options. Human Ecology, 39(3), 257-269.
Grubb, P. (2005). "Species Rusa timorensis". In Wilson, D.E.; Reeder, D.M (eds.). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (3rd ed.). Johns Hopkins University Press. p. 670
Gusliana, H. B., & Hanifah, M. (2016). Pola Perlindungan Hutan Adat terhadap Masyarakat Adat di Provinsi Riau Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU- X/2012. Jurnal Hukum Respublica, 16(1), 183-200.
Guthiga, P. M., Mburu, J. & Holm-Mueller, K. (2008). Factors influencing local communities’ satisfaction levels with different forest management approaches of Kakamega Forest, Kenya. Environmental Management, 41(5), 696-706.
Hamidi. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM Press.
Hatu, R. (2011). Perubahan Sosial Kultural Masyarakat Pedesaan (Suatu Tinjauan Teoritik-Empirik). Jurnal Inovasi, 8(4),1-11.
Heath, M. (1992). Manis pentadactyla, Mammalian Species 414: 1-6.
Hedges, S., Duckworth, J.W., Timmins, R.J., Semiadi, G. & Priyono, A. (2015). Rusa timorensis. In IUCN 2015. 2015 IUCN Red List of Threatened Species. http://www.iucnredlist.org/.
Diakses 20 Oktober 2020.
Herrmann, T.M. (2006). Indigenous knowledge and management of Araucaria araucana forest in the Chilean Andes:
Implications for native forest conservation. Biodiversity and Conservation, 15(2), 647-662.
Henslin, J. M. (2006). Essentials of Sosiology. 6th Edition.
Sunarto, K. (penterjemah). Sosiologi dengan Pendekatan Membumi, 2007. Jakarta: Erlangga.
Hidayat. (2011). Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Kelembagaan Lokal. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 15(1), 19-32.
Higgins, P. J., Christidis, L. & Ford, H. (2020). Sunda Honeyeater (Lichmera lombokia), version 1.0. In Birds of the World (J. del Hoyo, A. Elliott, J. Sargatal, D. A. Christie, and E. de Juana, Editors). Cornell Lab of Ornithology, Ithaca, NY, USA.
Hunt, C. (2010). The costs of reducing deforestation in Indonesia.
Bulletin of Indonesian Economic Studies, 46(2), 187-192.
Ikbar, Y. (2012). Metode Penelitian Sosial Kualitatif. Bandung:
Refika Aditama.
Iqbal, M., Nurmanaf, A.R. & Agustian, A. (2008). Fenomena Perambahan Hutan dan Perpektif Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Info Sosial Ekonomi, 8(2), 71-85 Iswandi, M.H, Ahyadi, H., Islamul H, I. & Suana, I.W. (2017).
Populasi dan karakteristik habitat Burung Koak Kaok (Philemon buceroides) di Taman Wisata Alam Kerandangan.
Jurnal Metamorfosa, 4(2), 159-163.
Jayadi, E.M., Soemarno, Yanuwiadi, B. & M. Purnomo, M. (2014).
Revitalization on Local Wisdom of Wetu Telu Community in Forest Management of Bayan, North Lombok, West
Nusa Tenggara. Journal of Biodiversity and Environmental Sciences, 4(4), 384-397.
Jayadi, E.M., Soemarno, Yanuwiadi, B. & Purnomo, M. (2014).
Local Wisdom Transformation of Wetu Telu Community on Bayan Forest Management, North Lombok, West Nusa Tenggara. Research on Humanities and Social Sciences, 4(2), 109- 118.
Jayadi, E. M. & Soemarno. (2014). Analisis Transformasi Awig- Awig Dalam Pengelolaan Hutan Adat (Studi Kasus pada Komunitas Wetu Telu di Daerah Bayan, Lombok Utara).
The Indonesian Green Technology Journal, 3(1), 39-50.
Kamaruddin, K., Najamuddin, N. & Patahuddin, P. (2019).
Menjaga Tanah Leluhur: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Sulawesi Selatan 2003-2016. Jurnal Pattingalloang, 4(3), 121-129.
Karl-Georg, F., Hammerschmidt, F.J. & Johannes Panten, J.
(2007). "Flavors and Fragrances". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry (7th ed.). Wiley. p. 86.
Keraf, S. (2002). Etika Lingkungan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Kastanya, A. (2006). Konsep pengelolaan hutan lestari pulau-pulau kecil berbasis ekosistem dan masyarakat di Kepulauan Maluku. Prosiding Perencanaan Pembangunan Kehutanan Berbasis Ekosistem Pulau Kecil. Ambon, 5-6 Juli 2006. pp.82-96.
Kitchener, D.J., Boeadi, Charlton, L. & Maharadatunkamsi. (2002).
Mamalia Pulau Lombok. Tyas APE, Ibnu M (Penerjemah) Jakarta: The Gibbon Foundation. Terjemahan Dari: Wild Mammals of Lombok Island.
Laksana, N. S. (2013). Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat desa dalam program desa siaga di Desa Bandung kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kebijakan Dan Manajemen Publik, 1(1), 1–12.
Lanangputra, I.B. & Mukarom, M., (2011). Laporan Inventarisasi Sosial Ekonomi dan Budaya di KPHL Rinjani Barat 2011. Balai KPH Rinjani Barat. Dinas Kehutanan NTB. p. 28.
Lebel, L., Contreras, A., Pasong, S. & Garden, P. (2004). Nobody knows best: alternative perspectives on forest management and governance in Southeast Asia. International Environmental Agreements, 4(2), 111-127.
Lisnawati, N., Indawan, A. & Sheil, D. (2004). Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape, Malinau, East Kalimantan. Tropical Forest Management Journal, 10(2), 1-13.
Li, M.T. (2007). Practices of assemblage and community forest management. Economy and society, 36(2), 263-293.
Madja, J. T., Koibur, J. F. & Pattiselanno, F. (2019). Tingkah laku sosial rusa timor (Cervus timorensis) di Penangkaran Bumi Marina, Manokwari. Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science), 8(2), 51-55.
Malkab, H. (2019). Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan dalam proses lahirnya perda pengakuan Masyarakat Adat Ammatoa Kajang Kabupaten Bulukumba. Administrasita', 10(02), 146-157.
Mangunjaya, F.M. (2007).Konservasi Alam dan Lingkungan dalam Perspektif Islam. Jurnal Islamia, 3(2), 90-96.
Markum, Sutedjo, E.B. & Hakim, R.M. (2004). Dinamika Hubungan Kemiskinan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam Pulau Kecil: Kasus Pulau Lombok. Mataram: WWF-Indonesia Program Nusa Tenggara. p. 57.
McLafferty, I. (2004). Focus group interviews as a data collecting strategy. Journal of advanced nursing, 48(2), 187-194.
Medway, L. (1969). The Wild Mammals of Malaya. London: Oxford University Press.
Mitchell, B., Setiawan, B. & Rahmi, D. (2000). Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Miller, S., & Fredericks, M. (2008). The nature of" evidence" in qualitative research methods. International Journal of Qualitative Methods, 2(1), 39-51.
Moleong, L. J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mukarom, M., I.B. Lanangputra, Yuwono, T., Sirajudin & Sutikno.
(2012). Profil Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Model Rinjani Barat. Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. p. 28.
Mukhtar, Soemarno & Hidayat, K. (2010). Pengelolaan Program Hutan Kemasyarakatan Berbasis Kearifan Lokal: studi kasus di kawasan Hutan Lindung Sesaot, Lombok Barat.
WACANA, 13(1), 132-151.
Muliawan, H. (2000). Perencanaan dan penegembangan desa wisata, makalah yang disampaikan dalam diklat bidang pariwisata bagi kepala desa di Provinsi DIY Tanggal 14-16 Agustus 2000. Yogyakarta.
Mulyasari, G. (2015). Pinjam Perempuan (SPP) PNPM Mandiri di Kota Bengkulu. JSEP, 8(1), 37-43.
Munthaha, D. (2019). Karhutla, pembusukan politik, dan pembangunan berkelanjutan. Diakses dari https://news.detik.com/kolom/d-4722672/karhutla-
pembusukan-politik-dan-pembangunan-berkelanjutan pada tanggal 10 Oktober 2020.
Murti, H. A. (2018). Perhutanan sosial bagi akses keadilan masyarakat dan pengurangan kemiskinan. Jurnal Analis Kebijakan, 2(2). 62-75
Myers, S. D. & Bishop, K. D. (2005). A review of historic and recent bird records from Lombok, Indonesia. Forktail, 21, 147-160.
Muqoyyidin, A. W. (2013). Potret Konflik Bernuansa Agama di Indonesia (Signifikansi Model Resolusi Berbasis Teologi Transformatif). Jurnal Analisis, 12(2), 319-344.
Murdiati, C.W.R. (2013). Rekonstruksi Kearifan Lokal sebagai Fondasi Pembangunan Hukum Kehutanan yang Berkelanjutan: studi terhadap masyarakat adat Kajang.
Prosiding The 5th International Conference on Indonesian Studies:
Ethnicity and Globazations. Yogyakarta, 13-14 Juni 2013. pp.
82-99.
Nababan, A. (1995). Kearifan tradisional dan pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Analisis CSIS, (6), 422-435.
Nababan, A. (2006). Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Adat:
antara konsep dan realitas. Makalah ini pernah disampaikan dalam Seminar “Hutan Tanaman Rakyat, Untuk Apa dan Siapa”, Pertemuan Mitra Siemenpuu Foundation, Muara Jambi, 5 Nopember 2008.
Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Naipospos, Tri S. P. (2003). Rencana Strategis Dalam Pemanfaatan Rusa Sebagai Usaha Aneka Ternak. Lokakarya Pengembangan rusa: Pendayagunaan Rusa Sebagai Sumber Protein Hewani Alternatif dalam Rangka Diversifikasi Usaha Ternak. Dirjen Bina Produksi Peternakan. Taman Mini lndonesia Indah, Jakarta, 11 September 2003.
Negara, P. D. (2011). Rekonstruksi kebijakan pengelolaan kawasan konservasi berbasis kearifan lokal sebagai kontribusi
menuju pengelolaan sumber daya alam yang Indonesia. Jurnal Konstitusi, 4(2), 91-138.
Nijman, V. & J. Supriatna. (2008). Trachypithecus auratus. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2014.3.
<www.iucnredlist.org>. Downloaded on 31 March 2015.
Nijman, V. (2000). Geographic distribution of ebony leaf monkey Trachypithecus auratus (E. Geoffroy Saint-Hilaire, 1812)(Mammalia: Primates: Cercopithecidae. Contributions to Zoology, 69(3), 157-177.
Noske, R.A. & N. Saleh. (1996). The Conservation Status of Forest Birds in West Timor. Proc. of the First Int. Conf. on Eastern Indonesia-Australian Vertebrate Fauna, Manado, 1994, 65-74.
Novirita. 1992. Kajian Ekologis Edelweiss (Anaphalis javanica (Bl) Boerl)di Taman Nasional Gunung Gede
Nowak, R. (1999). Walker's Mammals of the World, Sixth Edition.
Baltimore: The Johns Hopkins University Press.
Nurjaya, I. N. (2008). Pengelolaan sumber daya alam dalam perspektif antropologi hukum. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Onwuegbuzie, A. J. & Leech, N. L. (2007). A call for qualitative power analyses. Quality & Quantity, 41(1), 105-121.
Orbe, M. P. (2000). Centralizing diverse racial/ethnic voices in scholarly research: The value of phenomenological inquiry.
International Journal of Intercultural Relations, 24(5), 603-621.
Pagdee, A., Kim, Y. S. & Daugherty, P. J. (2006). What makes community forest management successful: a meta-study from community forests throughout the world. Society and Natural Resources, 19(1), 33-52.
Pardianti, R., Adriyanti, D.T. & Syahbudin, A. (2014). Persebaran Edelweiss (Anaphalis spp.) pada sub tipe hutan Montana dan Alpindi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Prosiding Seminar Nasional Silvikultur II “Pembaruan Silvikultur Untuk Mendukung Pemulihan Fungsi Hutan Menuju Ekonomi Hijau” Yogyakarta, 28-29 Agustus 2014 Proyek Pengembangan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas.
Purwanto, S., Syaufina, L., & Gunawan, A. (2014). Kajian potensi dan daya dukung Taman Wisata Alam Bukit Kelam untuk
strategi pengembangan ekowisata. Journal of Natural Resources and Environmental Management, 4(2), 119-129.
Patilima, H. (2013). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Alfabeta.
Permana, C. E., Nasution, I. P., & Gunawijaya, J. (2012). Kearifan Lokal tentang Mitigasi Bencana pada Masyarakat Baduy.
MAKARA of Social Sciences and Humanities Series, 15(1), 67-76.
Perum Perhutani. (2007). Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM): Kolaborasi antara Masyarakat Desa Hutan dengan Perum Perhutani dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Jawa.
Dokumen yang disusun sebagai media sosialisasi LMDH dalam kerangka Levelling the Playing Field Project, yang didanai oleh Uni Eropa, bekerjasama dengan CIRAD, CIFOR, Fakultas Kehutanan UGM dan Perum Perhutani. p. 4.
Perum Perhutani. (2007). Tingkat partisipasi petani hutan dalam program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) Perhutani. MIMBAR, 28(1), 65-76.
Poffenberger, M. (2006). People in the Forest: community forestry experiences from Southeast Asia. International Journal of Environment and Sustainable Development, 5(1), 57-69.
Purnomo, H. (2004). To facilitate Collaborative Forest Management Using System Dynamic Modelling. Tropical Forest Management Journal, 10(2), 32-46.
Purnomo, H., Mendoza, G. A., Prabhu, R. & Yasmi, Y. (2005).
Developing multi-stakeholder forest management scenarios:
a multi-agent system simulation approach applied in Indonesia. Forest Policy and Economics, 7(4), 475-491.
Qurniati, R., Duryat, D. & Kaskoyo, H. (2018). Penguatan Kelembagaan Pengelola Hutan Desa di Sekitar Gunung Rajabasa, Lampung. Sakai Sambayan Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1(3), 80-86.
Rabiee, F. (2004). Focus-group interview and data analysis.
Proceedings of the nutrition society, 63(04), 655-660.
Rahayu, S., Dewi, U. & Fitriana, K. N. (2016). Pengembangan Community Based Tourism sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Penelitian Humaniora, 21(1), 1–13.
Rianto, T. (2012). Ekologi Morel Rinjani (Morchella aff. deliciosa) di Taman Nasional Gunung Rinjani-Nusa Tenggara Barat.
Tesis S2 IPB.
Ritzer, G. & Goodman, D.J. (2003). Modern Sociology Theory.
Sixth Edition. Alimandan (penterjemah). Teori Sosiologi Modern. 2004. Jakarta: Prenada Media.
Ratnadewi, N., Endah, F. dan Nurafi f, T. 2013. Studi Karakteristik Edelweiss (Anaphalis spp.) pada Tapak yang
Ruhardi, A. (2006). “Distribusi Burung Koak Koak (Philemon buceroides) di Pinggiran Hutan Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (Kerandangan-Aik Berik)” (Skripsi).
Mataram, Universitas Mataram.
Ruhimat, I. S. (2010). Implementasi Kebijakan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Kabupaten Banjar. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 7(3), 169-178.
Saatchi, S. S., Harris, N. L., Brown, S., Lefsky, M., Mitchard, E. T., Salas, W., Zutta, B.R., Buermann, W., Lewis, S.L., Hagen, S, Petrova, S., White, L., Silman, M. & Morel, A. (2011).
Benchmark map of forest carbon stocks in tropical regions across three continents. Proceedings of the National Academy of Sciences, 108(24), 9899-9904.
Safa'at, R. (2013). Ambivalensi Pendekatan Yuridis Normatif dan Yuridis Sosiologis dalam menelaah Sistem Kearifan Lokal Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Lex Jurnalica (Ilmu Hukum), 10(1), 46-62.
Sahlan, M. (2012). Kearifan lokal masyarakat Tau Taa Wana Bulang dalam mengkonservasi hutan di Propinsi Sulawesi Tengah.
Jurnal Mimbar Hukum Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 24(2), 318-331.
Samiaji, S. (2012). Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Indeks.
Sanudin & Harianja, A.H. (2009). Kearifan lokal dalam pengelolaan hutan Mangrove di Desa Jaring Halus, Langkat, Sumatera Utara, Info Sosial Ekonomi, 9(1), 37-45.
Sayektiningsih, T., Meilani, R., & Muntasib, E. H. (2008). Strategi Pengembangan Pendidikan Konservasi pada Masyarakat Suku Tengger di Desa Enclave Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Media konservasi, 13(1), 32-37.
Sedyawati, E. (2006). Budaya Indonesia: kajian arkeologi, seni, dan sejarah. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sembiring, R., Rahman, Y., Napitupulu, E., Quina, M. & Fajrini, R.
(2014). Anotasi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Jakarta: Indonesian Center for Environmental Law. p. 414.
Senoaji, G. (2010). Dinamika Sosial dan Budaya masyarakat Baduy dalam mengelola hutan dan lingkungan. Jurnal Bumi Lestari, 10(2), 302-310.
Senoaji, G. (2011). Perilaku masyarakat Baduy dalam mengelola hutan, lahan, dan lingkungan di daerah Banten Selatan.
Humaniora, 23(1), 14-25.
Simon, H. (2001). Pengelolaan Hutan bersama rakyat (Cooperative Forest Management), teori dan aplikasi pada hutan jati di Jawa.
Yogyakarta: Bigraf Publishing
Siombo, M.R. (2011). Kearifan Lokal dalam Perspektif Hukum Lingkungan. Jurnal Hukum, 3(18), 428-443.
Siradz, U., Rosidi, M., Yamin, M. & Albayani, I. (1995). Wujud, Arti dan Fungsi Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya di Daerah Nusa Tenggara Barat. Mataram:
Depdikbud. pp. 6-14.
Siscawati, M. (2014). Masyarakat Adat dan Perebutan Penguasaan Hutan. Wacana/Jurnal Transformasi Sosial, 33, 3-23.
Siswoyo, E. (2011). Campus Go Green: Aktualisasi Nilai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Insani,, 11(1), 1-37.
Steenis, C. G.G. J. van. (2008). Flora untuk sekolah di Indonesia.
Jakarta: Pradnya Paramita.
Sri Suharti, (2010). Prospek pengusahaan gaharu melalui pola pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM). Info Hutan, 7(2), 141-154.
Suana, I.W., Sukenti, K. & Astuti, S.P. (2012). Distribution Mapping of Koak Kaok (Philemon buceroides) in the Edge Forest of Gunung Rinjani National Park, Lombok, Indonesia. JOSST, 8, 125-130
Subarudi. (2013). Dampak Putusan MK No. 35/PUU-X/2012 terhadap Pengurusan dan Pengelolaan Hutan. Policy Brief, 7(2), 1-7. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Subarudi, S. (2014). Kebijakan Pengelolaan Hutan Adat Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-X/2012: suatu Tinjauan Kritis. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 11(3), 207- 224.
Sudarsono, D., Sulistyono, Sulistani, G. & Rudjito. (1999). Dari Pelestarian Hingga Pembusukan: Hasil Studi Dampak Pariwisata terhadap Hak Masyarakat Adat di NTB. Mataram: Yayasan Koslata Bekerjasama dengan INPI-Pact. pp. 25-43
Sudarsyah, A. (2013). Kerangka Analisis Data Fenomenologi (Contoh Analisis Teks Sebuah Catatan Harian). Jurnal Penelitian Pendidikan, 14(1), 21-27.
Sumanto, S. E. (2009). Kebijakan pengembangan perhutanan sosial dalam perspektif resolusi konflik. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 6(1), 13-25.
Sumardjono, M. S. (2008). Tanah dalam perspektif hak ekonomi, sosial, dan budaya. Penerbit Buku Kompas.
Suprayitno, A. R. (2008). Pelibatan Masyarakat Lokal: Upaya Memberdayakan Masyarakat Menuju Hutan Lestari. Kajian Analitik, Jurnal Penyuluhan, 4(20), 20-28.
Suntana & Sugih, A. (2000). Agenda 21 Sektoral, Agenda Kehutanan Untuk Pengembangan Kualitas Hidup Secara Berkelanjutan.
Jakarta: Kantor Menteri KLH
Susilo, E., Sukesi, K. & Hidayat, K. (2012). Kajian struktur sosial masyarakat nelayan di ekosistem pesisir. Wacana, Jurnal Sosial dan Humaniora, 13(2), 366-380.
Takandjandji, M. & Garsetiasih, R. (2002). Pengembangan penangkaran rusa Timor (Cervus timorensis) dan permasalahannya di NTT. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Bioekologi dan Konservasi Ungulata. Bogor (Indonesia): PSIH- IPB; Puslit Biologi; Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Taman Nasional Gunung Rinjani. (2012). Tentang TNGR.
http://rinjaninationalpark. org/tentang -TNGR. (Diakses 20 Mei 2012).
Tang, C. & Tang, S. (2010). Institutional adaptation and community-based conservation of natural resources: the cases of the Tao and Atayal in Taiwan. Human Ecology, 38, 101-111.
Tesfaye, Y., Roos, A. & Bohlin, F. (2012). Attitudes of local people towards collective action for forest management: the case of participatory forest management in Dodola area in the Bale Mountains, Southern Ethiopia. Biodiversity and Conservation, 21(1), 245-265.
The Indonesian Parrot Protection for Life/IPPL, (2010).
https://indonesiaparrotprotection.wordpress.com/category /identifikasi-parrot/psittaciformes/cacatuidae/
cacatua/cacatua-sulphurea/cacatua-sulphurea-parvula/
diakses dari (https://indonesiaparrotprotection.
Wordpress.com/about-ippl/