BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3. Aspek-Aspek Pengambilan Keputusan
Syamsi (2007) mengatakan bahwa pengambilan keputusan memiliki aspek-aspek yang terdiri dari:
a. Tujuan
Tujuan harus ditegaskan dan tentunya harus jelas dalam suatu pengambilan keputusan. Apa yang sebenarnya menjadi tujuan individu dari pengambilan keputusan tersebut. Sehingga ketika tujuan yang ingin dicapai telah ada, yang dilakukan kemudian ialah memikirkan cara agar tujuan tersebut tercapai.
b. Identifikasi alternatif
Untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya diperlukan adanya beberapa alternatif tindakan. Kemudian, setelah alternatif-alternatif tersebut ada, dipilihlah satu alternatif yang dianggap paling tepat diantara semua alternatif yang tersedia.
c. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya
Faktor semacam ini dinamakan uncontrollable events. Keberhasilan pemilihan alternatif itu baru dapat diketahui setelah putusan itu dilakukan.
Waktu yang akan tidak dapat diketahui dengan pasti. Untuk itu keahlian dalam memprediksi masa mendatang sangat menentukan berhasil tidaknya keputusan yang akan dipilih.
d. Sarana untuk mengukur hasil yang dicapai
Masing-masing alternatif perlu disertai akibat positif dan negatifnya, termasuk sudah diperhitungkan didalamnyauncontrollable events.
Selain pendapat yang dikemukakan oleh Syamsi di atas mengenai aspek- aspek pengambilan keputusan, Kemdal & Montgomery (Randyard, Crozier,
Svenson, 2002) juga menyatakan terdapat 5 aspek-aspek pengambilan keputusan, yaitu:
a. Circumstances
Dalam Bahasa Indonesia,circumstancesberarti lingkungan atau keadaan sekitar. Kategori ini meliputi segala sesuatu yang bersifat stabil atau berada di luar kontrol pengambil keputusan, seperti peristiwa eksternal, komponen lingkungan, pengaruh dari orang lain, dan kualitas dalam pengambilan keputusan. Lingkungan ataupun keadaan relatif objektif dalam artian bahwa orang lain mungkin saja memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan si pembuat keputusan. Dengan kata lain, individu dapat mengambil keputusan dikarenakan adanya masukan dari orang lain serta pandangannya terhadap lingkungan sekitar.
Beberapa ilmuwan menegaskan bahwa proses pengambilan keputusan tidak hanya berfokus pada membuat pilihan, tetapi juga mencari pendapat- pendapat untuk mempertahankan alternatif yang telah dipilih, menghindari perasaan menyesal, dan untuk menghadapi kritikan dari orang lain. Contoh:
“Banyak berita yang menunjukkan kebahagiaan pasangan yang menikah dini”; “Orangtuaku berfikir bahwa menikah dini adalah ide yang baik”.
b. Preferences
Kategori ini meliputi apa yang diinginkan dan yang lebih disukai oleh pengambil keputusan, termasuk keinginan, mimpi, harapan, tujuan, dan ketertarikan. Jika circumstances berkaitan dengan faktor eksternal dari pengambil keputusan maka kategori preferences berkaitan dengan faktor internal dari pengambil keputusan. Sehingga sifatnya terarah dan konkret atau kuat. Montgomery mengatakan bahwa penilaian yang terbentuk dalam
situasi pengambilan keputusan dibatasi oleh perspektif evaluatif pengambil keputusan. Contoh: “Saya pikir menikah cepat lebih baik daripada menjadi perawan tua”; “saya ingin memiliki ekonomi yang lebih baik setelah menikah”.
c. Emotions
Kategori emotions merujuk pada suasana hati dan reaksi positif atau negatif terhadap situasi, orang, dan alternatif pilihan yang berbeda. Contoh:
“Saat ini adalah periode dalam hidupku dimana saya tidak merasa bahagia”;
“saya menyukainya saat pertama bertemu”.
Ungkapan emosi lebih jauh lagi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif contohnya yaitu kebahagiaan (kepuasan, kesenangan, sukacita, kenyamanan); Cinta/Rasa suka (fokus pada objek yang dinilai positif seperti penghargaan, ketertarikan, kasih sayang); Harapan (fokus pada kemungkinan tetapi tidak yakin, masa depan yang positif seperti keinginan, optimism); serta rasa lega (fokus pada tidak adanya objek yang dinilai negatif). Sedangkan untuk emosi negatif, contohnya yaitu ketidakbahagiaan (ketidakpuasan, kesedihan, kecanggungan, kebosanan); Benci/Rasa tidak suka (fokus pada objek yang dinilai negatif, misalnya jijik); Takut (fokus pada kemungkinan situasi yang negatif di masa depan dengan unsur ketidakpastian dan kontrol yang lemah seperti khawatir, cemas, tidak aman); Malu/rasa bersalah (evaluasi negatif dari diri sendiri atau orang lain mengenai diri sendiri atau perbuatan);
Menyesal (fokus pada konsekuensi negatif dari suatu tindakan dan harapan untuk melakukan hal yang berbeda) serta Ambivalence (kesulitan dalam memilih antara dua atau lebih kemungkinan situasi di masa depan).
d. Actions
Kategori actions merujuk pada interaksi pengambil keputusan dengan lingkungannya dalam pencarian informasi, berdiskusi dengan orang lain, menyusun rencana, dan membuat komitmen dengan diri sendiri. Proses pengambilan keputusan mencakup siklus aksi-reaksi terhadap suatu hubungan dalam kaitannya dengan perubahan lingkungan. Dalam hal menyelesaikan suatu permasalahan dan untuk menemukan lebih banyak alternatif, pengambil keputusan menghubungkan rentetan kejadian dari masa lalu. Kemudian, jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan untuk menikah dini, pengambil keputusan akan mencari informasi atau setidaknya membicarakannya dengan pasangan dalam hal rencana serta komitmen untuk berumah tangga. Contoh: “saya berjanji untuk tetap menjaga hubungan ini”; “saya dan pasangan berencana untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap pernikahan”.
e. Beliefs
Beliefsmerupakan hal-hal yang diyakini dan nilai yang dijadikan rujukan yang juga mengacu pada hipotesis dan teori mengenai konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Dalam pengambilan keputusan untuk menikah dinipun, pengambil keputusan memiliki pemikiran-pemikiran atas hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahannya serta konsekuensi seperti apa yang harus diterimanya ketika keputusan tersebut dipilih. Contoh: “Saya menikah dini karena saya yakin hal itu akan membuat saya bahagia”.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis memilih aspek-aspek pengambilan keputusan yang diungkapkan oleh Kemdal dan Montgomery sebagai dasar alat ukur dalam penelitian ini. Kemdal dan Montgomery membagi
aspek pengambilan keputusan ke dalam lima aspek seperti yang dituliskan di atas, yaitucircumstances,preferences, emotions, actions,danbeliefs. Adapun alasan penulis memilih teori dari Kemdal dan Montgomery sebagai dasar teori dikarenakan aspek yang dikemukakan oleh Kemdal dan Montgomery telah mencakup aspek pengambilan keputusan yang diungkapkan oleh Syamsi.
Kemudian pembahasan dari aspek-aspek oleh Kemdal dan Montgomery lebih jelas jika dibandingkan aspek-aspek yang diungkapkan oleh Syamsi.