• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Persepsi Menikah Dini terhadap Pengambilan Keputusan

Dalam dokumen REMAJA PUTRI DI KABUPATEN GOWA (Halaman 101-200)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

3. Pengaruh Persepsi Menikah Dini terhadap Pengambilan Keputusan

meskipun mengetahui beberapa dampak yang dapat mereka rasakan jika menikah di usia yang tergolong sangat muda.

3. Pengaruh Persepsi Menikah Dini Terhadap Pengambilan Keputusan

bebas terhadap variabel terikat yaitu sebesar 0,028 yang artinya pengaruh variabel bebas dalam hal ini persepsi menikah dini terhadap variabel terikat dalam hal ini pengambilan keputusan yaitu sebesar 2,8% sedangkan sisanya yaitu 97,2% dipengaruhi oleh variabel yang lain. Meskipun besarnya pengaruh antar variabel dalam penelitian ini tergolong rendah, akan tetapi pengaruh tersebut dinyatakan signifikan sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Pengaruh persepsi menikah dini terhadap pengambilan keputusan untuk menikah dini pada remaja putri di kabupaten Gowa tergolong rendah.

Hal itu dapat dilihat dari rendahnya koefisien determinasi yang diperoleh. Dari hasil wawancara yang dilakukan saat penelitian, faktor-faktor lain yang dianggap dapat mempengaruhi pengambilan keputusan remaja putri untuk menikah dini yaitu keinginan orang tua, ekonomi, ataupun lingkungan tempat tinggal remaja tersebut. Beberapa diantara mereka mengatakan bahwa keputusan mereka untuk menikah dini karena menuruti apa yang diinginkan orang tua agar kehidupan ekonomi keluarganya bisa lebih baik.

Di samping itu, kebanyakan dari remaja putri ini masih memiliki persepsi yang ambigu tentang menikah dini atau dengan kata lain, mereka tidak mengetahui secara jelas mengenai apa sebenarnya menikah dini itu sehingga mereka hanya mengikuti orang tua dan lingkungan sekitar yang menganggap menikah dini itu hal yang positif. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhajati dan Wardyaningrum (2012) yang mengatakan bahwa keputusan untuk menikah di usia remaja merupakan keputusan yang terkait dengan latar belakang relasi yang terbangun antara anak dan kedua orang tua dan anak dengan lingkungan pertemanannya.

Beberapa hasil penelitian yang menjadi acuan peneliti mengenai besarnya pengaruh persepsi terhadap pengambilan keputusan yaitu penelitian yang dilakukan oleh Widodo (2010) dimana hasil penelitiannya mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan pada remaja putri, salah satunya yaitu faktor persepsi remaja putri terhadap pernikahan dini atau dapat dikatakan cara remaja putri memandang pernikahan dini dari kehidupan sekitarnya. Indikator dari faktor ini ialah adanya persepsi yang positif ataupun negatif dari remaja putri terhadap pernikahan dini dan dampak dari hal itu yang akan tertuju pada keluarga yang dibentuknya.

Penelitian serupa dilakukan oleh Rafidah, Emilia & Wahyuni (2009) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pernikahan usia dini di kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Penelitian tersebut mengatakan bahwa persepsi responden tentang pernikahan merupakan faktor utama terjadinya pernikahan usia dini. Persepsi responden yang baik tentang pernikahan akan mengurangi risiko menikah usia dini. Perbedaan persepsi seseorang terhadap suatu rangsangan disebabkan oleh perbedaan sosiokultural dan pengalaman belajar individu yang bersangkutan. Persepsi merupakan mata rantai perubahan sikap.

Menurut kedua penelitian tersebut, persepsi merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini. Namun faktanya pada penelitian ini, meskipun memang persepsi menikah dini mempengaruhi pengambilan keputusan menikah dini pada remaja putri di Kabupaten Gowa, akan tetapi pengaruhnya sangat kecil yakni hanya 2,8%. Sebanyak 97,2%

faktor-faktor lain dapat mempengaruhi pengambilan keputusan remaja putri untuk menikah dini akan tetapi tidak diteliti dalam penelitian ini.

Faktor-faktor lain yang dimaksud berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa subjek maka dapat berupa keinginan orang tua, ekonomi, ataupun lingkungan tempat tinggal remaja tersebut. Hal ini sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi remaja dalam memutuskan untuk menikah dini menurut Alfiyah (2010) yaitu faktor ekonomi, faktor Pendidikan, faktor keluarga atau orang tua, faktor kemauan sendiri, faktor media massa, dan juga faktor MBA (Marriage by Accident).

Faktor-faktor yang mempengaruhi menikah dini menurut Cohen (2004), antara lain faktor adat yang mengatakan bahwa anak yang terlambat menikah akan membuat keluarganya malu, faktor agama yang mengharuskan anak menikah agar terhindar dari pergaulan yang salah, faktor ekonomi yang ditanggung oleh anak yang menjadi tulang punggung keluarga atau anak yang ingin meringankan beban keluarganya, faktor pendidikan yang menjadi alasan seorang anak menikah dini karena tidak adanya kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, faktor hukum dan peraturan yang menentukan usia minimum seseorang yang ingin menikah, faktor larangan perilaku seksual yang mengakibatkan seseorang lebih cepat menikah agar kebutuhan seksualnya dapat terpenuhi, romantis mengenai kehidupan pernikahan yang dialami oleh orang yang berpacaran sebagai perpanjangan dari hubungan pacaran mereka, stimulasi dorongan seksual yang ditimbulkan dari banyaknya video-video dewasa di internet, film, majalah, dll serta pendidikan seks yang jarang terjadi di Indonesia sehingga para remaja putri mudah menjadi korban perbuatan nafsu seksual.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Mariyatul Qibtiyah (2014) yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan untuk menikah dini yaitu faktor sosial, ekonomi dan budaya. Faktor sosial yang dimaksud yaitu lingkungan tempat tinggal dari responden. Serta tingkat pendidikan yang dapat mempengaruhi keputusan dari responden, tingkat pendidikan yang berbeda akan mempengaruhi perilaku yang berbeda dalam mengambil keputusan untuk menikah atau menunda. Faktor ekonomi misalnya pekerjaan dan penghasilannya karena masyarakat seringkali memilih pernikahan sebagai jalan keluar untuk kesulitan ekonominya. Hal ini juga didapatkan berdasarkan wawancara yang dilakukan saat penelitian. Kemudian dari faktor budaya misalnya stigma dari masyarakat mengenai status perawan tua jika tidak menikah saat anak telah berusia 17 tahun ke atas.

Melalui penelitian ini diketahui bahwa meskipun secara statistik, hipotesis diterima akan tetapi pada kenyataannya persepsi menikah dini tidak terlalu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk menikah dini pada remaja putri di kabupaten Gowa karena hanya memiliki peran sebesar 2,8% dalam pengambilan keputusan pada remaja. Hal ini seperti yang telah dijelaskan di atas dapat disebabkan karena terdapat faktor-faktor lain seperti ekonomi dan budaya yang lebih mempengaruhi pengambilan keputusan remaja putri untuk menikah dini, akan tetapi faktor-faktor tersebut tidak menjadi variabel yang diteliti dalam penelitian ini.

Ketika aspek persepsi yang pengaruhnya hanya sebesar 2,8% tersebut dikaitkan dengan aspek dari pengambilan keputusan, aspek-aspek dari persepsi lebih berpengaruh pada aspekbeliefsdi pengambilan keputusan.

Aspekbeliefsseperti yang telah dipaparkan oleh Kemdal & Montgomery (Randyard, Crozier, Svenson, 2002) merupakan suatu pembuktian dari apa yang dipercayai dan dijadikan sebagai suatu acuan, misalnya mengenai konsekuensi dari keputusan yang diambil. Dalam memutuskan untuk menikah dini, subjek telah memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahannya kelak atau mengenai konsekuensi yang dapat dirasakan akibat dari pernikahannya.

Berdasarkan apa yang ditemukan di lapangan, dalam aspek beliefs ditemukan bahwa sebagian besar subjek memiliki keyakinan akan keputusannya dan subjek merasa yakin bahwa setelah menikah kehidupannya akan menjadi jauh lebih baik, sebab telah ada seseorang yang menjaga dan menafkahi subjek. Subjek juga yakin rezki akan bertambah setelah menikah. Sebagian besar remaja putri di kabupaten Gowa telah memiliki nilai-nilai yang dijadikan acuan dalam memutuskan sesuatu tidak terkecuali dalam hal menikah.

Mereka telah percaya bahwa menikah dini itu baik karena masyarakat sekitar tempat tinggalnya juga kebanyakan melakukan hal itu dan tampak baik-baik saja. Bahkan ada beberapa yang orang tuanya juga menikah di usia yang masih sangat muda. Adapun mengenai konsekuensi yang dapat mereka rasakan jika menikah dini, beberapa remaja putri tahu mengenai hal tersebut akan tetapi mereka lebih tidak menyukai apa yang akan mereka dapatkan jika tidak menikah sesegera mungkin. Terlebih beberapa dari mereka tinggal di lingkungan yang memiliki pandangan bahwa anak perempuan akan menjadi perawan tua jika tidak menikah saat telah berumur 17 tahun. Dengan pemikiran seperti itu maka beberapa diantara para remaja putri tersebut

menganggap menikah di usia yang masih muda merupakan suatu jalan yang baik untuk dilakukan.

Setelah melihat besarnya pengaruh aspek persepsi secara keseluruhan terhadap aspek beliefs, di bawah ini merupakan besarnya pengaruh aspek- aspek dalam persepsi terhadap aspek belief. Adapun tabelnya, yaitu:

Tabel 20.

Pengaruh Aspek Fisiologis Terhadap Aspek Beliefs

R R Square

.505a .255

Aspek fisiologis mempengaruhi aspek beliefs sebesar 25,5%. Aspek fisiologis berpengaruh terhadap aspekbeliefsdalam hal nilai-nilai atau aturan- aturan yang mereka yakini atau dijadikan acuan terkait memiliki keturunan dan juga kebutuhan akan hubungan seksual misalnya. Kedua contoh di atas merupakan kebutuhan yang pemenuhannya bisa dipenuhi meskipun tidak melalui pernikahan. Akan tetapi, para remaja di kabupaten Gowa memiliki nilai-nilai atau aturan masyarakat yang menganggap hal tersebut sebagai aib jika dipenuhi tidak melalui suatu pernikahan. Maka dari itu, beberapa diantara para remaja putri yang dijadikan subjek, ada yang melakukan pernikahan di usia yang masih sangat muda karena ingin segera memenuhi kebutuhan fisiologisnya tersebut. Terbukti dengan cukup besarnya pengaruh aspek fisiologis ini terhadap aspek dari pengambilan keputusan untuk menikah dini.

Tabel 21

Pengaruh Aspek Psikologis Terhadap Aspek Beliefs

R R Square

.279a .078

Aspek psikologis mempengaruhi aspek beliefs sebesar 7,8%. Aspek psikologis berpengaruh terhadap aspekbeliefskarena dalam aspek psikologis dikatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan- kebutuhan psikologis yang membutuhkan pemenuhan. Sedangkan pemenuhan-pemenuhan tersebut tetap harus mempertimbangkan apa yang telah diyakini oleh subjek sebagai suatu nilai atau aturan dalam hidupnya. Jika dikaitkan dengan subjek penelitian ini, ditemukan bahwa beberapa dari remaja putri yang memutuskan untuk menikah dini, telah memiliki pacar sebelumnya dan ingin segera tinggal bersama untuk mengurangi resiko akan putus dan sebagai ungkapan rasa sayang mereka terhadap pasangan. Maka dari itu, beberapa dari mereka memutuskan untuk menikah meskipun masih di usia yang sangat muda karena setelah menikah maka pemenuhan kebutuhan tersebut sudah tidak menjadi aib ataupun zina jika dilakukan.

Tabel 22

Pengaruh Aspek Sosial Ekonomi Terhadap Aspek Beliefs

R R Square

.309a .095

Aspek sosial ekonomi mempengaruhi aspek beliefs sebesar 9,5%.

Manusia merupakan makhluk social yang hidup bersama dengan orang lain.

Tinggal bersama dengan orang lain dalam suatu lingkungan artinya terdapat suatu aturan yang sifatnya untuk mengontrol perilaku dari masyarakyat yang tinggal di lingkungan tersebut misalnya dalam hal interaksi dengan lawan jenis atau mengenai status dalam masyarakat. Berdasarkan wawancara yang dilakukan saat di lapangan, beberapa dari remaja putri memiliki nilai sendiri terkait menikah. Hal tersebut mereka yakini lebih membawa dampak positif kepada mereka. Misalnya, dari beberapa remaja putri di kabupaten Gowa

yang diwawancarai, mereka mengaku bahwa keputusan mereka untuk menikah di usia yang tergolong masih sangat muda karena mereka tidak ingin mendapatkan julukan perawan tua dari masyarakat sekitar tempat tinggal mereka. Hal itu juga dapat dianggap sebagai aib bagi keluarga.

Selain itu, ada pula beberapa remaja putri yang memutuskan untuk menikah dini, karena ingin meringankan beban orang tuanya. Mereka meyakini bahwa dengan menikah kondisi ekonomi keluarganya dapat menjadi lebih baik. Mereka yakin dengan menikah maka beban ekonomi yang ditanggung orangtuanya dapat menjadi ringan. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda agar kondisi ekonomi mereka lebih cepat menjadi baik dan mereka juga tidak mendapat ejekan perawan tua yang diyakini sebagai aib dalam keluarga.

91 A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Tingkat pengambilan keputusan remaja putri di Kabupaten Gowa terkait menikah dini berada pada kategori setuju dengan persentase 36%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri di Kabupaten Gowa ketika dihadapkan dengan pengambilan keputusan untuk menikah, mereka setuju untuk melakukannya.

2. Tingkat persepsi remaja putri di kabupaten Gowa mengenai menikah dini berada pada kategori netral dengan persentase 35%. Hal ini menunjukkan bahwa remaja putri di Kabupaten Gowa sebagian besar masih ambigu atau belum terlalu mengetahui apa sebenarnya menikah dini dan dampaknya bagi seseorang khususnya perempuan.

3. Berdasarkan hasil analisa data diperoleh bahwa ada pengaruh persepsi menikah dini dengan pengambilan keputusan untuk menikah dini pada remaja putri di Kabupaten Gowa. Hasil analisis tersebut didapatkan dengan menggunakan Teknik analisis regresi sederhana yang memperoleh hasil analisis t hitung sebesar 2,938 dengan t tabel sebesar 1,650. Dikatakan hipotesis diterima karena t hitung > t tabel (2,938 > 1,650) dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 yaitu 0,004.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, maka peneliti memberikan beberapa saran yang bermanfaat kepada beberapa pihak, yaitu sebagai berikut:

1. Bagi pemerintah setempat

Pemerintah agar lebih gencar dalam mendukung sebuah program dari BKKBN yang dikenal dengan PIK-KRR (Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja) yang berkonsep “oleh remaja dan untuk remaja”. Program tersebut dapat menjadi sarana bagi para remaja untuk bercerita atau bertukar pikiran dengan konselor sebaya yang telah diberikan pembelajaran terlebih dahulu. Pihak BKKBN dapat mengambil tidak hanya tema seputar reproduksi tetapi juga tema mengenai pernikahan dini. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi angka pernikahan dini yang terjadi dengan bantuan teman sebaya, khususnya di kabupaten Gowa.

2. Bagi Orangtua

Orangtua agar berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait dengan pernikahan anaknya. Jangan sampai apa yang diputuskan malah membahayakan keselamatan dari anak. Subjek penelitian rata-rata telah memiliki anak di usia yang terbilang cukup muda, sehingga jangan sampai mereka juga menerapkan prinsip tersebut ke anak mereka karena berpikir menikah merupakan jalan bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

3. Bagi Remaja

Remaja agar lebih memahami apa yang dimaksud menikah dini dan apa dampak yang dapat ditimbulkan dari hal itu dengan lebih banyak mencari

informasi. Juga agar lebih berani untuk mengutarakan apa pendapat mereka terkait dengan pernikahan.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik dengan pernikahan dini, mungkin dapat mengkajinya lebih dalam dengan menggunakan variabel-variabel yang berbeda. Misalnya dengan mencari faktor-faktor apa yang menyebabkan pernikahan dini di kabupaten Gowa, ataukah mengkaitkan pengambilan keputusan menikah dini dengan faktor ekonomi, sosial, pendidikan, ataukah budaya setempat.

94

Ali, M., & Asrori, M. (2010). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Azwar, S. (2012).Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2014).Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Azwar, S. (2015).Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bayisenge, J. (2010). Early marriage as a Barrier to Girl’s Education: A Developmental Challenge in Africa. Nigeria: Catholic Institute for Development, Justice & Peace (CIDJAP) Press.

Bety. (2013). Hubungan Pernikahan Dini Dengan Perceraian (Studi Kasus Pengadilan Agama Bengkulu). IAIN Raden Fatah Palembang.

Budinurani, A. (2009). Kemandirian Pada Remaja Putra yang Menikah Muda.

Universitas Gunadarma.

Cahyani, B. (2015). Dinamika Psikologis Perempuan yang Melakukan Pernikahan Di Usia Dini.Naskah Publikasi,1-10.

Cohen, S. (2004). Test Anxiety and Its Effect on The Personality of Student with Learning Disabilities.Journal of learning disability quarterly, 27, 3,176-184.

Fadlyana, E., & Larasaty, S. (2009). Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya.

Sari Pediatri,11, 2, 136-140.

Fitriyah, L., & Jauhar, M. (2016). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Homzah, S., & Sulaeman, M. (2007). Motif (Faktor Pendorong) dan Persepsi Kawin Usia Muda Pada Remaja Pedesaan di Jawa Barat. Jurnal Sosiologi Unpad.

Irham, M. (2011, Desember). Angka Pernikahan Dini di Sulsel Masih Tinggi.

Diakses pada tanggal 13 Mei 2016 dari

http://makassar.tribunnews.com/2011/12/03/angka-pernikahan-dini-di-sulsel- masih-tinggi/

Jannah, F. (2012). Pernikahan Dini Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Keluarga Pada Masyarakat Madura (Perspektif Hukum dan Gender).Egalita, 7,1.

Khoirunnisak, B. (2016).Pengambilan Keputusan untuk Menikah di Usia Remaja. Surabaya: UIN Sunan Ampel.

Malehah, S. (2010). Dampak Psikologis Pernikahan Dini dan Solusinya dalam Perspektif Bimbingan Konseling Islam (Studi Kasus di Desa Depok Kecamatan Kalibawang Kabupaten Wonosobo). Semarang: IAIN Walisongo.

Muhidin, S. A., & Abdurahman, M. (2009). Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia.

Nurhajati, L., & Wardyaningrum, D. (2012). Komunikasi Keluarga dalam Pengambilan Keputusan Perkawinan di Usia Remaja. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, 1, 4, 236-248.

Pamangin, L. O. M. (2012). Faktor yang Berhubungan dengan Sikap Remaja Putri Terhadap Pendewasaan Usia Pernikahan di Kelurahan Singki Kabupaten Toraja Utara. Makassar. Universitas Hasanuddin.

Papalia, D. E., Olds, S.W., & Feldman, R. D. (2015). Human Development (tenth ed). Jakarta: Salemba Humanika.

Rafidah., Emilia, O., & Wahyuni, B. (2009). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pernikahan Usia Dini di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Berita Kedokteran Masyarakat, 25, 2,51-58.

Rahmawati, T. (2010). Persepsi Remaja Putri Suku Osing dan Suku Jawa Tentang Usia Pernikahan yang Sesuai Kesehatan Reproduksi Wanita. Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Rakhmat, J. (2012).Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ranyard, R., Crozier, W., & Svenson, O. (2002). Decision Making: Cognitive Models and Explanations. New York: Library of Congress Catalogue in Publication Data.

Saleh, A. R. (2004).Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Prenada Media.

Santrock, J. W. (2003).Adolescense.Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2010).Remaja jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Santrock. J. W. (2012). Life Span-Develpment Edisi ketigabelas. Jakarta:

Erlangga.

Sarwono, S. W. (2007).Psikologi Remaja. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Sarwono, S. W. (2012).Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.

Setiawati, S. (2017). Persepsi Remaja Terhadap Pernikahan Dini di SMAN 1 Banguntapan Kabupaten Bantul Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Siagian, S.P. (1991). Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan. Jakarta: Haji Mas Agung.

Solso, R. L., Maclin, O. H., & Maclin, M. K. (2007).Psikologi Kognitif Edisi Delapan. Jakarta: Erlangga.

Stefani, B. (2016). Hubungan Dukungan Orang Tua Dengan Persepsi Remaja Putri Tentang Pernikahan Usia Dini Remaja Kelas XI di SMA Negeri 1 Bambanglipuro. Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Steinberg, L. (2010). Adolescent Decision Making and Prevention of Underage Smoking. Philadelphia: Temple University.

Suciati. (2015).Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Buku Litera.

Sugiyono. (2012).Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Sujarweni, V. W. (2008). Belajar Mudah SPSS Untuk Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi & Umum. Yogyakarta: Global Media Informasi.

Suryadi, K. (2002). Sistem Pendukung Keputusan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Syamsi, I. (2007). Pengambilan Keputusan Dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Utami, N. (2015). Pengambilan Keputusan Menikah Dini Pada Remaja Putri di Kecamatan Umbulharjo.Jurnal Bimbingan dan Konseling, 4. 1-10.

Walgito, B. (2010).Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: ANDI.

Widodo. (2010). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan untuk Menikah Dini.Jurnal Psikologi UNS.

www.BKKBN.com diakses pada tanggal 12 Mei 2016

www.unicef.org/indonesia/id/Laporan_Perkawinan_Usia_Anak/ diakses pada tanggal 12 Mei 2016

Yusuf, S. (2006).Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.

97

BLUE PRINT SKALA

BLUE PRINT SKALA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENIKAH DINI SEBELUM UJI COBA

Aspek Indikator No. Aitem

Jumlah Favorable Unfavorable

Circumstances

Mendapatkan pengaruh dari lingkungan

1, 30, 55, 63, 81

16, 40, 53, 70, 100 Mendapatkan 20

pengaruh dari orang lain

2, 25, 52, 75, 90

11, 39, 45, 72, 96

Preferences

Memiliki harapan dan tujuan yang ingin dicapai melalui menikah dini

3, 31, 41, 66, 82

17, 26, 60, 64, 93

20 Memiliki kepentingan

atau kebutuhan yang ingin dipenuhi

4, 24, 57, 83, 91

12, 38, 54, 88, 97

Emotions

Emosi positif yang dirasakan sebelum dan sesudah menikah dini

5, 32, 48, 67, 98

18, 27, 58, 71, 89 Emosi negatif yang 20

dirasakan sebelum dan sesudah menikah dini

6, 23, 44, 62, 85

13, 37, 42, 77, 92

Actions

Mencari informasi mengenai pernikahan dini

7, 33, 51, 76, 94

19, 28, 46, 73, 84

20 Memiliki rencana

setelah menikah dini

8, 22, 43, 74, 99

14, 36, 59, 78, 95

Beliefs

Memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan

9, 34, 56, 68, 80

20, 29, 49, 61, 87 Konsekuensi/hasil 20

yang diperoleh dari keputusan menikah dini

10, 21, 47, 65, 79

15, 35, 50, 69, 86

TOTAL 100

BLUE PRINT SKALA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENIKAH DINI SETELAH UJI COBA

Aspek Indikator No. Aitem

Jumlah Favorable Unfavorable

Circumstances

Mendapatkan pengaruh dari lingkungan

1, 30, 55, 63, 81 Mendapatkan 10

pengaruh dari orang lain

2, 25, 52, 75, 90

Preferences

Memiliki harapan dan tujuan yang ingin dicapai melalui menikah dini

3, 31, 41,

66, 82 64

10 Memiliki kepentingan

atau kebutuhan yang ingin dipenuhi

4, 24, 83 38

Emotions

Emosi positif yang dirasakan sebelum dan sesudah menikah dini

5, 32, 67,

98 58, 89

Emosi negatif yang 8 dirasakan sebelum dan sesudah menikah dini

23 42

Actions

Mencari informasi mengenai pernikahan dini

7, 33, 51,

76 6

Memiliki rencana

setelah menikah dini 22, 43

Beliefs

Memiliki nilai-nilai yang menjadi acuan

9, 34, 56,

68, 80 49, 61 Konsekuensi/hasil 9

yang diperoleh dari keputusan menikah dini

21 35

TOTAL 43

BLUE PRINT SKALA PERSEPSI MENIKAH DINI SEBELUM UJI COBA

Aspek Indikator No. Aitem

Jumlah Favorable Unfavorable

Fisiologis

Masalah Keturunan (Kehamilan)

11, 15, 37, 39, 52

2, 17, 21, 57, 60

20 Kebutuhan

Hubungan Seksual

13, 29, 43, 47, 61

5, 10, 26, 34, 54

Psikologis

Interaksi dengan Lawan Jenis

4, 24, 33, 45, 56

18, 40, 51, 66, 68

30 Kematangan

Emosi dan Pikiran

6, 14, 28, 46, 50

20, 35, 44, 63, 70

Penerimaan diri dan Orang Lain

3, 27, 32, 41, 62

7, 16, 38, 49, 58

Sosial Ekonomi

Kondisi atau Tingkat Keuangan Keluarga

9, 22, 23, 30, 69

19, 36, 42, 55, 65 Norma-norma dan 20

pandangan dalam Masyarakat terkait pernikahan

12, 25, 31, 48, 53

1, 8, 59, 64, 67

TOTAL 70

BLUE PRINT SKALA PERSEPSI MENIKAH DINI SETELAH UJI COBA

Aspek Indikator No. Aitem

Jumlah Favorable Unfavorable

Fisiologis

Masalah Keturunan (Kehamilan)

2, 17, 21,

7 Kebutuhan

Hubungan Seksual

5, 10, 26, 34

Psikologis

Interaksi dengan Lawan Jenis

4, 24, 45, 56

Kematangan 10 Emosi dan Pikiran

6, Penerimaan diri

dan Orang Lain

3, 27, 32, 41, 62

Sosial Ekonomi

Kondisi atau Tingkat Keuangan Keluarga

69 19, 36, 42,

65 Norma-norma dan 8

pandangan dalam Masyarakat terkait pernikahan

59, 64, 67

TOTAL 25

102

SKALA UJI COBA

SKALA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENIKAH DINI DAN PERSEPSI MENIKAH DINI

IDENTITAS DIRI

Nama :

Usia Nikah Pertama : tahun Pendidikan terakhir :

PETUNJUK PENGISIAN

1. Mohon bantuan dan kesediaan anda untuk mengisi skala yang telah diberikan dengan terbuka dan jujur.

2. Pilihlah salah satu jawaban dari pernyataan yang tersedia pada skala, dengan memberikan tanda benar (√) pada jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri Anda, dengan ketentuan:

SS jikaSangat Setujudengan pernyataan S jikaSetujudengan pernyataan

TS jikaTidak Setujudengan pernyataan

STS jikaSangat Tidak Setujudengan pernyataan

PERNYATAAN STS TS S SS

Menikah dini tidak memiliki dampak yang

berbahaya bagi kesehatan √

Jika Anda ingin mengubah jawaban, anda cukup membuat tanda kurang (-) ditengah tanda silang dan beri tanda benar (√) pada jawaban pilihan anda

PERNYATAAN STS TS S SS

Menikah dini tidak memiliki dampak yang

berbahaya bagi kesehatan √ √

3. Setiap orang dapat memiliki pandangan dan jawaban yang berbeda dan tidak ada pandangan atau jawaban yang dianggap salah. Karena pernyataan- pernyataan ini menyangkut perasaan anda ketika memutuskan untuk menikah.

Sehingga pilihlah jawaban yang menurut anda mewakili anda saat itu

4.

Jawaban anda akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk penelitian.

• ATAS KESEDIAAN ANDA, SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH •

Dalam dokumen REMAJA PUTRI DI KABUPATEN GOWA (Halaman 101-200)