BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan
aspek pengambilan keputusan ke dalam lima aspek seperti yang dituliskan di atas, yaitucircumstances,preferences, emotions, actions,danbeliefs. Adapun alasan penulis memilih teori dari Kemdal dan Montgomery sebagai dasar teori dikarenakan aspek yang dikemukakan oleh Kemdal dan Montgomery telah mencakup aspek pengambilan keputusan yang diungkapkan oleh Syamsi.
Kemudian pembahasan dari aspek-aspek oleh Kemdal dan Montgomery lebih jelas jika dibandingkan aspek-aspek yang diungkapkan oleh Syamsi.
data tersebut kemudian diolah menjadi informasi. Informasi yang diperlukan harus lengkap sesuai kebutuhan, terpercaya kebenarannya dan masih aktual. Berdasarkan informasi inilah pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan baik.
c. Keadaan ekstern
Keadaan eksternal sangat menentukan bagaimana seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Keadaan eksternal atau lingkungan yang mempengaruhi pengambilan keputusan dapat berupa keadaan ekonomi, sosial, politik, hukum dan budaya.
d. Kepribadian dan kecakapan
Ketepatan keputusan yang diambil juga sangat tergantung kecakapan dan kepribadian si pengambil keputusan. Hal ini meliputi penilaiannya, kebutuhannya, tingkat inteligensinya, kapasitasnya, kapabilitasnya dan keterampilannya.
Siagian (1991) menyebutkan dalam pengambilan keputusan terdapat aspek atau faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi. Aspek internal antara lain, (1) pengetahuan secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan seseorang; (2) kepribadian. Sedangkan aspek eksternal dalam pengambilan keputusan antara lain, (1) kultur atau budaya yang dijadikan kerangka rujukan oleh individu dan (2) orang lain dimana dalam hal ini yaitu bagaimana individu melihat cara orang lain (terutama orang terdekat) dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pada umumnya yaitu faktor budaya atau kultur, sosial atau
lingkungan, kepribadian, pengetahuan, serta orang terdekat seperti keluarga atau teman sebaya.
B. Persepsi Menikah Dini
1. Pengertian Persepsi Pernikahan Dini
Setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu hal. Hal tersebut tergantung pada bagaimana ia memaknai suatu persoalan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah ia dapatkan terkait dengan persoalan tersebut. Oleh karena itu, meskipun persoalan atau peristiwa yang terjadi sama, individu akan menanggapinya berbeda sesuai dengan kondisi dirinya. Dalam hal pernikahanpun seperti itu. Meskipun objeknya yaitu pernikahan dini tetapi setiap individu akan menanggapinya secara berbeda. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rakhmat (2012) bahwa persepsi merupakan suatu proses pemberian makna pada sensasi sehingga stimulus yang ditangkap oleh indera kita memiliki makna yang sesuai dengan pengalaman individu mengenai suatu objek, peristiwa atau kejadian, atau hubungan-hubungan yang didapatkan dengan menyimpulkan informasi.
Solso, Maclin & Maclin (2007) berpendapat bahwa persepsi melibatkan kognisi tingkat tinggi dalam penginterpretasian terhadap informasi sensorik.
Kejadian sensorik tersebut diproses sesuai dengan pengetahuan seseorang tentang dunia, seni budaya, pengharapan, bahkan disesuaikan dengan orang yang bersama mereka saat itu. Hal-hal tersebut memberikan makna terhadap pengalaman sensorik sederhana dan itulah yang dinamakan persepsi (Solso, Maclin, & Maclin, 2007). Persepsi seseorang mengenai pernikahan dini sangat berhubungan dengan pengetahuan, hipotesis atau dugaan sementara
mengenai pernikahan dini tersebut dan juga prasangka-prasangka yang telah dimiliki sebelumnya.
Lingkungan tempat tinggal, baik itu lingkungan fisik ataupun lingkungan sosial akan selalu memberikan stimulus atau rangsangan, yang akan berkaitan dengan persepsi. Akan tetapi sebagian besar dari rangsangan tersebut berasal dari lingkungan sosial. Sekalipun rangsangan tersebut dapat ditangkap oleh macam-macam alat indera yang ada pada individu, akan tetapi sebagian besar rangsang yang diproses menjadi persepsi yaitu rangsang yang ditangkap melalui indera penglihatan. Karena itulah banyak penelitian mengenai persepsi yang berkaitan dengan alat penglihatan (Walgito, 2010).
Persepsi berlangsung ketika seseorang menerima rangsangan atau stimulus dari luar yang ditangkap oleh alat indera yang kemudian masuk ke dalam otak. Sarwono (2012) menyatakan bahwa dalam otak terjadi suatu proses berpikir yang pada akhirnya terwujud dalam sebuah pemahaman.
Pemahaman inilah yang kurang lebih dapat disebut dengan persepsi. Akan tetapi dikarenakan pada dasarnya kemampuan indera yang terbatas maka kesalahan persepsi mungkin saja terjadi. Hal ini jugalah yang menyebabkan adanya individu yang mendukung pernikahan dini dan ada yang tidak.
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului dengan penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus atau rangsang oleh individu melalui alat inderanya. Proses tersebut berlanjut dengan diteruskannya stimulus yang telah diterima ke otak. Proses ini dinamakan dengan proses psikologis, dimana individu dapat menyadari apa yang ia lihat, dengar, dan sebagainya. Ketika hal tersebut terjadi maka individu tersebut telah mengalami proses persepsi (Fitriyah & Jauhar, 2016).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat kita simpulkan bahwa persepsi menikah dini yaitu suatu proses psikologis yang dimulai saat alat indera yang individu miliki menangkap rangsangan atau stimulus yang berasal dari lingkungan, baik lingkungan fisik atau dari lingkungan sosialnya tentang menikah dini yang kemudian diteruskan ke otak dan diproses hingga pemaknaan atau persepsi terjadi sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh individu. Hal inilah yang menyebabkan terdapat individu yang memiliki persepsi positif mengenai pernikahan dini dan ada yang negatif. Positif disini artinya individu tersebut setuju dengan pernikahan dini, sedangkan negatif berarti ia tidak setuju.
2. Proses Terjadinya Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului dengan proses penginderaan, atau dapat dikatakan sebagai suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Stimulus yang telah diterima oleh alat indera kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris menuju otak. Terjadinya proses di otak sebagai pusat kesadaran membuat individu menyadari stimulus yang diterimanya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proses akhir dari persepsi yaitu saat individu menyadari apa yang dilihat, didengar, dan dirabanya atau stimulus yang diterima alat inderanya. Respon individu mengenai persepsi tersebut dapat dilakukan oleh individu dalam berbagai macam bentuk (Walgito, 2010).
Rahmawati (2010) menuliskan dalam penelitiannya bahwa proses persepsi melalui tiga tahap yaitu:
a. Tahap penerimaan stimulus. Stimulus yang bersifat fisik ataupun sosial akan ditangkap melalui alat indera. Proses pengenalan dan juga pengumpulan
informasi mengenai stimulus yang tertangkap juga termasuk dalam tahapan ini.
b. Tahap pengolahan stimulus sosial dapat dilakukan melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
c. Tahap perubahan stimulus. Pada tahapan ini, stimulus yang telah diterima individu diubah menjadi suatu makna yang memiliki arti. Perubahan ini melalui suatu proses kognisi yang mendapat pengaruh dari pengalaman dan juga pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Tidak semua stimulus atau rangsangan yang diterima oleh individu akan direspon. Respon diberikan oleh individu terhadap stimulus atau rangsangan yang menarik perhatiannya. Stimulus yang mendapatkan pemilihan dari individu tergantung pada bermacam-macam faktor, salah satu faktor adalah perhatian individu, yang merupakan aspek psikologis individu dalam berpresepsi (Walgito, 2010). Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang menyebabkan individu memiliki pengertian tentang situasi sekarang atas dasar pengalaman individu sebelumnya, sedangkan perhatian (attention) merupakan proses awal dari pengamatan (Fitriyah & Jauhar, 2016).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas mengenai proses terjadinya persepsi, maka dapat kita simpulkan yaitu ketika stimulus atau rangsangan telah diterima oleh alat indera individu, tidak semuanya akan diteruskan langsung menuju otak. Rangsangan yang diteruskan ke otak hanyalah rangsangan yang menarik perhatian individu. Setelah rangsangan diteruskan ke otak, terjadilah proses pengolahan atau penginterpretasian stimulus agar memiliki makna atau arti. Proses tersebut membuat individu menyadari akan apa yang telah dilihat, didengar, diraba, dirasa, dan yang telah
diciumnya. Dalam memberikan makna atau menginterpretasikan stimulus- stimulus yang telah diterimanya tersebut, individu akan melakukannya sesuai dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimilikinya.