BAB III TINJAUAN KHUSUS TERMINAL PENUMPANG TIPE B
C. Tinjauan Lokasi Terminal Penumpang Tipe B Di Sofifi
4. Aspek pendukung
54
satu sama lainnya sehingga mudah untuk berkomunikasi dalam mendukung perencanaan Terminal Tipe B di Provinsi Maluku Utara.
e. Ekonomi
Interaksi dalam aspek ekonomi dapat melahirkan kerja sama dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan materi pada khususnya. Struktur ekonomi yang menonjol di desa Oba Utara antara lain adalah petani ladang yaitu bercocok tanam secara menetap. Bercocok tanam cengkeh, pala dan kelapa terutama dilakukan oleh masyarakat pribumi. Adapun suku-suku lain, mereka fokuskan pada sistem perekonomian antara lain adalah sebagai nelayan dan pedagang.
f. Budaya
Masyarakat di Oba Utara yang kaya akan budaya sering menggelar acara festival Haleyora dengan beberapa tarian khas daerah, seperti: tarian soya-soya, cakalele, baramasuwen atau bambu gila dan menjadi agenda tetap yang diselenggarakan setiap tahun.
4. Aspek Pendukung
55
Gambar 32 : Peta administratif Perencanaan Kecamatan Oba Utara Sumber : Pemerintah Provinsi Maluku Utara
56 b. Iklim dan Curah Hujan
Di Kecamatan Oba Utara sangat di pengaruhi oleh iklim tropis, dimana iklimnya sangat dipengaruhi oleh angin laut dengan tingkat curah hujan rata-rata kurang dari 2.000 mm. Musim kemarau terjadi pada bulan Desember sampai Maret, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan Mei sampai dengan Oktober. Musim pancaroba terjadi pada bulan April sampai Desember.
c. Pencapaian
Faktor pencapaian sangat berpengaruh pada jumlah penumpang terhadap suatu Objek. Begitu juga dengan objek terminal, dengan kondisi jalan yang dapat di laluai ole berbagai macam kendaraan dengan kondisi wilayah yang saangat strategis yang terhubung langsung dengan beberapa kabupaten maju di Provinsi Maluku Utara.
d. Jenis Pelaku
Jenis pelaku dapat di kelompokkan menjadi dua bagian yaitu pengunjung dan pengelolah.
1. Pengunjung
Pengunjung adalah orang yang sengaja datang untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan terminal. Pengunjung dalam terminal terdiri dari tiga jenis aktiftas yaitu:
a) Penumpang
Penumpang adalah orang yang sengaja berkunjung ke terminal untuk menggunakan moda transportasi dalam rangka melakukan perjalanan menuju suatu tempat.
57 b) Pengantar/penjemput
Pengantar/penjemput adalah orang yang hanya mengantar dan menjempur orang yang ingin menggunakan moda transportasi terminal.
c) Pengunjung khusus
Pengunjung khusus adalah orang berkunjung ke terminal untuk melakukan kegiatan khusus sepetri studi tour, penelitian dan pembangunan.
2. Pengelola
Pengelola terminal adalah orang yang bertanggung jawab terhadap aktifitas yang terjadi pada terminal. Pengelola didalam terminal juga dibedakan menjadi dua jenis aktifitas yaitu:
a) Pengelola administrasi dan operasional utama
Pengelola administrasi dan operasional utama adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kegiatan administrasi dan kegiatan operasional pada terminal.
b) Pengelola operasional servis
Pengelola operasional servis adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan pendukung aktifitas utama dan juga kegiatan servis, seperti petugas/retail area konsesi, petugas keamanan terminal, petugas mekanikal dan petugas cleaning service.
58
BAB IV KESIMPULAN
A. Kesimpulan Umum
1. Seiring dengan perkembangan kabupaten/kota dan perkembangan lalu lintas di Provinsi Maluku Utara sangat pesat dari tahun ke tahun, sehingga proses angkutan penumpang dan barang sangat dibutuhkan.
2. Sistem angkutan bus digolongkan menjadi dua tipe angkutan
a. Trayek langsung dan bus cepat merupakan sifat perjalanan angkutan jarak jauh dan
b. Untuk trayek tidak langsung dengan bus lambat merupakan angkutan jarak dekat.
3. Tingkat perkembangan pembangunan serta peningkatan aktifitas penduduk di suatu daerah akan berdampak pada tingginya mobilitas penduduk sehingga harus diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana.
B. Kesimpulan Khusus
1. Keputusan Mentri perhubungan Nomor. 31 tahun 1995, Tentang terminal dan transportasi jalan. Untuk terminal tipe B di Pulau Jawa dan Sumatra seluas 3 Ha dan di Pulau lainnya seluas 2 Ha.
2. Hasil analisa, kapasitas terminal, pergerakan lalu lintas dan tata guna lahan serta tingkat kebutuhan terminal, maka yang direncanakan adalah terminal angkutan darat tipe–B yang terletak di Jalan Trans Maluku Utara dengan luasan areal terminal ± 5 Ha (250 x 200 m2).
59
3. Adapun jumlah pemakai terminal dihitung berdasarkan :
a. Pengamatan data pemakaian penumpang bus yaitu yang masuk dan keluar terminal
b. Pengamatan data perhari yang menonjol pada hari-hari perayaan yang terjadi dua kali setahun.
4. Adapun peningkatan angkutan bus dan penumpang dari tahun ke tahun yang diperkirakan sampai tahun 2027 akan mencapai sebagai berikut : a. Kendaraan
Kendaraan berangkat/tiba : 515.468 kendaraan b. Penumpang
Penumpang berangkat : 2.392.112 orang Penumpang tiba : 2.228.832 orang Dengan perhitungan jumlah perhari adalah : a. Kendaraan
Kendaraan berangkat/tiba : 1.412 kendaraan b. Penumpang
Penumpang berangkat : 6.554 orang Penumpang tiba : 6.106 orang 5. Analisa kendaraan perhari sebagai berikut :
a. Bus besar kapasitas muat 30 orang. Berangkat/tiba 89 bus perhari.
b. Bus sedang kapasitas muat 22 orang. Berangkat/tiba 148 bus perhari.
c. Bus kecil kapasitas muat 10 orang Berangkat/tiba 297 bus perhari d. Non bus 608 unit perhari.
60
BAB V
PENDEKATAN ACUAN PERENCANAAN
A. Pendekatan Penentuan Tapak/Site
Penentuan tapak tergantung pada hasil analisa lokasi, dengan pengertian bahwa alternatif penentuan tapak berada pada lokasi yang telah di tentukan.
1. Dasar-Dasar Pertimbangan Dalam Penentuan Tapak a. Rencana peruntukan lahan kawasan pemerintahan b. Luasan dan kondisi tapak
c. Sarana teransportasi d. Sarana utilitas e. Kondisi lingkungan 2. Kriteria Penentuan Tapak
a. Berada pada area perkantoran pemerintahan.
b. Luas tapak yang cukup memadai.
c. Memiliki bentuk yang memungkinkan penggunaan tapak secara maksimal.
d. Mudah di jangkau dan terdapat sarana transportasi.
e. Dilalui oleh sarana utilitas kota, yaitu air bersih, listrik, telepon, drainase dan sanitasi.
f. Kenyamanan lingkungan berupa kebisingan dan polusi udara berpotensi sedang.
g. Memiliki view yang baik.
61
B. Pendekatan Perencanaan Tapak
Dasar-dasar pertimbangan yang digunakan dalam pendekatan perencanaan terhadap tapak diarahkan untuk memperoleh suatu site yang mampu memberikan pelayanan yang maksimal terhadap peruntukan Terminal Penumpang Tipe B.
Untuk kriteria penentuan tapak yaitu sesuai dengan pertimbangan- pertimbangan yang bertujuan dalam pengelolaan potensi, permasalahan yang berkaitan dengan fungsi dalam tapak dan tata fisik serta kondisi lingkungan dalam tapak. Dalam penentuan tapak terdapat beberapa pertimbangan yaitu :(
White, Edward T. 1991 )
1. Kondisi site, baras tapak, topografi dan pola tapak, orientasi tapak dan tingkat kebisingan.
2. Kondisi lingkungan, pola pencapaian, jaringan jalan, fasilitas menunjang lingkungan dan penampilan disekitar bangunan tapak. Sedangkan kriteria pengelolaan secara utuh dalam kesatuan antara ruang luar dengan massa bangunan meliputi yaitu:
a. Tuntunan pendaerahan
1) Penempatan massa bangunan sesuai fungsi dan mengikuti filosofi bangunan.
2) Penempatan ruang luar pada area yang mengelilingi massa bangunan.
62
b. Tuntunan penataan
1) Memungkinkan pencapaian dari jalur-jalur sirkulasi dengan memperlihatkan arah sirkulasi master plan, kawasan bangunan dan view.
2) Tidak mengganggu lalulintas dan memberi kemudahan parkir.
c. Tuntunan penampilan fisik
1) Menggunakan analogi yang sesuai dengan konsep bangunan terminal tipe B.
2) Menghindari kesan monoton dan tetap menjaga keharmonisan dengan pola bangunan sekitar.
Untuk itu dasar-dasar pemikiran yang dipakai dalam pendekatan terhadap site adalah:
1) Mudah dicapai dari berbagai sudut kota dan berbagai lapisan masyarakat.
2) Mampu memberikan keluasan dari berbagai jenis aktifitas yang diwadahinya.
3) Mampu memberikan rasa betah, aman dan nyaman bagi pengunjung.
4) Mampu memberikan view yang bagus secara timbal balik ke berbagai arah.memberikan keluasan dari berbagai jenis aktifitas yang diwadahinya.
5) Mampu memberikan rasa betah, aman dan nyaman bagi pengunjung
63
C. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Tapak
Tujuan dari pengelolaan lingkungan mempunyai dampak yang sangat berpengaruh pada penampilan bangunan, sehingga dalam pengelolaan tersebut yang dapat diperhatikan adalah:
1. Dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
2. Sebagai alternatif pengembangan kota di Sofifi Provinsi Maluku Utara.
Sedangkan untuk pengelolaan lingkungan yang berkaitan erat dengan penampilan bangunan meliputi:
a. Orientasi lingkungan
Faktor-faktor yang dapat diperhatikan dalam pendekatan orientasi bangunan adalah:
1) Orientasi terhadap matahari yang dapat mempengaruhi tata letak bangunan yang memiliki tanaman dan pengembangan terhadap pemanfaatan sinar matahari serta faktor pemanasan yang akan menimbulkan pemborosan dalam pengkodisian ruang.
2) Orientasi terhadap angin yang dapat dimanfaatkan untuk memberikan kesejukan dan kenyamanan pada tempat-tempat bersantai serta pengaruhnya terhadap keawetan bangunan pada masa-masa tertentu untuk mengantisipasi angin pengaruh angin laut trhadap bangunan.
3) Orientasi terhadap view yang baik dari dalam bangunan untuk lingkungan sekitarnya, maupun dari lingkungan sekitar terhadap
64
bangunan dalam upaya untuk menciptakan suatu area secara arsitektur dari bangunan terhadap lingkungan disekitarnya.
b. View bangunan
1) Memberikan identitas sebagai bangunan terminal penumpang tipe B dari fungsi yang diwadahi.
2) Memungkinkan sebagai titik tangkap yang ideal dari segala arah dengan memperhatikan lintasan matahari dan arah angin.
c. Penzoningan dan tata massa
Penataan zoning tapak harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta hirarki fungsi, dimana masing-masing fungsi dikelompokkan kedalam beberapa zona sehingga dapat memudahkan pendistribusian aktifitas pelaku kegiatan.Fungsi kegiatan pada tapak dikelompokkan kedalam zona poblik, private dan survice dengan pertimbangan tingkat aksebilitas dan privasi bagi pegawai dan pengunjung.
Penentuan penzoningan pada tapak didasarkan pada pertimbangan yaitu : ( Snyder dan Cataneese 1991 : 180 )
1) Keadaaan kondisi tapak yang ada.
2) Kondisi lingkungan disekitar tapak yang mendukung ataupun tidak mendukung.
3) Kondisi arus lalu lintas dan transportasi disekitar lingkungan tapak.
4) Hirarki dan fungsi kegiatan yang ada.
5) Unsur iklim dan kondisi cuaca serta orientasi bangunan.
65
Faktor-faktor yang menjadi dasar pertimbangan pola tata massa : 1) Tata massa memusat, simetris berimbang untuk memberikan kesan
formal dan menyatu.
2) Kebutuhan fasilitas parkir disesuaikan dengan luas area tapak, sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki.
3) Tinggi massa disesuaikan dengan fungsi ruang dan jumlah ruang.
4) Space yang terbentuk oleh penataan massa di sesuaikan untuk kelancaran sirkulasi luar dan ditunjang oleh penataan landscap untuk menjaga kelembaban udara, mengurangi suara bising dan untuk menamba estetika bangunan.
5) Beradaptasi dengan lingkungan dan memperhatikan arah matahari serta fungsi kegiatan yang ada.
Adapun tujuan dari penzoningan dan tata massa yaitu :
a) Masing-masing kelompok tidak saling mengganggu. Mempunyai hubungan sesuai dengan karakter.
b) Pencapayan yang efektif dan tidak mengikat adalah sifat kegiatan serta pengelompokanya.
d. Penempatan entrance 1) Maen entrance
Maen entrance adalah pencapaian utama bagi pengunjung yang difungsikan sebagai jalan masuk dari luar kedalam site.
Persyaratan main entrance adalah sebagai berikut:
a) Kemungkinan pengunjung datang dalam jumlah yang besar.
66
b) Kemudahan pencapaian ke tapak bangunan.
c) Kelancaran arus lalu lintas disekitarnya.
Pencapaian Main Entrance dapat dipertimbangan dengan tujuan:
a) Mudah dilihat oleh pengunjung.
b) Dekat dengan arah datangya pengunjung.
c) Tidak mengganggu arus lalu lintas disekitarnya.
2) Side entrance
Side entrance merupakan alternatif pencapaian bagi pengunjung yang difungsikan sebagai jalan dari dalam site untuk keluar dengan tujuan:
a) Kejelasan dan kemudahan arah masuk site.
b) Menghindari terjadinya crossing sirkulasi didalam site.
c) Memudahkan pengawasan dari segi keamanan.
3) Service entrance
Service entrance merupakan alternatif pencapaian bagi serkulasi kegiatan service seperti kegiatan service bangunan.
Service entrance ini digunakan secara berkala atau hanya pada waktu-waktu tertentu saja.
67
D. Pendekatan Perwujudan Bangunan
1. Perwujudan Bentuk Dan Ruang
Perwujudan bentuk dan ruang bertujuan mendapatkan bentuk dasar yang sesuai dan baik dari kemungkinan bentuk-bentuk dasar yang ada, yaitu:
a. Bentuk dasar segiempat
1) Penampilan formal 2) Efesiensi dalam penataan
3) Fleksibilitas tinggi, ,memungkinkan adanya pengermbangan b. Bentuk dasar segitiga
1) Penampilan dinamis
2) Tidak efesien dalam penataan ruang terutama pada sudut segitiga.
3) Fleksibilitas cukup
68
c. Bentuk dasar lingkaran
1) Penampilan dinamis
2) Efesien untuk pelayanan yang mudah dan cepat tetapi kurang efesien dalam penataan ruang
3) Fleksibilitas kurang
Ada beberapa pertimbangan untuk memilih bentuk dasar yaitu:
a) Fungsional dan fleksibilitas b) Penyesuaian lingkungan c) Psikologis dan pelaku kegiatan
Gabungan massa segi empat yang diatur secara fleksibel dan dinamis sarta disesuaikan dengan lingkungan, namun tetap bersifat formal, spiritual dan tidak menutup kemungkinan pemakayan bentuk lain yang menunjang.
2. Bentuk Bangunan
Terminal Penumpang Tipe B sebagai serana transportasi untuk mengangkut barang dan jasa dalam lingkup provinsi, maka membutuhkan kedisiplinan yang tinggi untuk menciptakan suatu bangunan yang simetris sehingga dapat mencerminkan dan membentuk perilaku yang baik untuk melayani penumpang dengan baik sesuai dengan fungsi bangunan
69
Terminal Penumpang Tibe B.
a. Pendekatan kebutuhan ruang
Untuk Terminal Penumpang Tipe B ini didasarkan pada pelaku dan macam kegiatan/aktifitas, unsur kegiatan yang berlangsung yaitu:
1) Pengelolaan operasional dan administrasi terminal, pengusaha dan bus dan pengusaha komersial.
2) Penumpang kendaraan antar kota, kendaraan umum, kendaraan pengelola, kendaraan pribadi dan kendaraan pengusaha.
3) Service
Berdasarkan unsur pelaku kegiatan, maka dibutuhkan ruang yang dirancanakan untuk area tarminal penumpang tipe B ini adalah:
a) Kelompok pengelola (1) Ruang pimpinan
(2) Ruang kepala sub bagian tata usaha (3) Ruang unsur bagian administrasi umum (4) Ruang urusan keuangan
(5) Ruang urusan perlengkapan (6) Ruang seksi pengembangan (7) Ruang seksi ketertiban (8) Ruang seksi kebersihan (9) Ruang istirahat pegawai (10) Ruang cleaning service (11) Ruang pengawas tower
70
(12) Loket retribusi pengunjung (13) Gudang
(14) Ruang piket keamanan
(15) Pos penarikan retribusi kendaraan (16) Toilet
b) Kelompok Kendaraan (1) Kendaraan antar kota
(a) Peron permuatan penumpang (b) Peron penurunan penumpang (c) Parkir istirahat
(d) Parkir service
(2) Kendaraan angkutan dalam kota (a) Parkir angkutan mikrolet
(b) Peron permuatan dan penurunan bus dalam kota (3) Kendaraan pribadi
(a) Parkir pengantar dan penjemput (b) Parkir mobil pengelola
(c) Parkir sepeda motor
c) Kelompok penumpang dan pengunjung (1) Ruang informasi
(2) Ruang P3K (3) Ruang loket peron
(4) Ruang kontrol penumpang
71
(5) Ruang tunggu penumpang dan pengantar (6) Peron permuatan
(7) Ruang tunggu penjemputan (8) Peron penurunan
(9) Peron angkutan dalam kota (10) Toilet
d) Kelompok pengusaha komersial (1) Ruang administrasi agen bus (2) Ruang penjualan loket tiket (3) Ruang istirahat sopir (4) Kios-kios
(5) Kantor pos (6) Wartel (7) Kafetaria
e) Kelompok ruang penunjang dan service (1) Mushollah
(2) Ruang service ringan bus (3) Ruang genset
(4) Ruang kontrol eletrikal 3. Pengelompokan Ruang
Prinsip pendekatan yang direncanakan:
a. Pengelompokan pelaku kegiatan yaitu dibedakan antara yang melayani (pengelola) dan dilayani (penumpang/barang) kendaraan
72
b. Pengelompokan ruang berdasarkan jenis keberangkatan dan jarak serta fasilitas kendaraan yang digunakan
Pengelompokan ruang menurut sifat fasilitas penggunaannya terbagi menjadi dua pengelompokan yaitu:
1) Pengelompokan ruang dalam terminal a) Ruang fasilitas penumpang
b) Ruang fasilitas administrasi pengelola c) Ruang fasilitas kontrol khusus
d) Ruang fasilitas utilitas e) Ruang fasilitas komersial
f) Ruang fasilitas pengusaha angkutan bus 2) Pengelompokan ruang luar terminal yaitu;
a) Ruang parkir kendaraan b) Ruang penumpang service
c. Pengelompokan ruang berdasarkan faktor keamanan dan kenyamanan yaitu ruang penumpang/barang dan ruang kontrol.
d. Pengelompokan ruang berdasarkan fungsi yang berbeda ruang tetapi erat misalnya:
1) Ruang tunggu dengan keberangkatan jarak jauh 2) Ruang tunggu pembelian karcis
73
e. Pola organisasi ruang
Pola organisasi ruang terminal angkutan darat adalah sebagai berikut adalah:
Gambar 35 : Skema organisasi ruang Sumber : Hasil analisa penulis 4. Tata Ruang Luar
a. Penataan terminal pada tata ruang luar didasari pertimbangan sebagai berikut:
1) Kebutuhan sirkulasi kendaraan dan penumpang 2) Kebutuhan estetika lingkungan
3) Kebutuhan persyaratan teknis dan keamanan 4) Kebutuhan persyaratan dan kenyamanan
b. Elemen-elemen ruang luar dan material yang digunakan pada perencanaan ini:
1) Sirkulasi/jalan mengunakan material pengerasan aspal hotmix dan sebagian paving block. Penempatannya sesuai pola jalur lalu lintas kendaraan, penumpang, pengantar/penjemput dan pengelola terminal
74
2) Parkir, menggunakan material pengerasan aspal hotmix dan sebagian paving block. Penempatannya sesuai dengan pola kebutuhan parkir kendaraan, dengan memperhatikan segi pencapaian menaikkan dan menurunkan penumpang, barang serta tempat istirahat kendaraan.
3) Tanda/simbol, penempatannya disesuaikan dengan sirkulasi sudut/arah material bahannya dari kayu/tembaga.
4) Taman penutup, menggunakan rumput manila, rumput gajah dan bunga untuk menutupi tanah.
a) Tanaman pembatas, menggunakan pohon perdu dan palm kuning b) Tanaman peneduh, menggunakan pohon yang bertajuk lebar
sebagai pelindung sinar matahari (absorsi panas dan silau) pada areal parkir.
5) Lampu jalan dan lampu taman
Lampu jalan menggunakan TL parabola, sedangkan lampu taman berbentuk bundar dengan tiang besi ukir.
6) Kran hydrant sebagai salah satu elemen estetika yang luasnya ditempatkan pada tempat-tempat tertentu sesuai radius pelayananya.
7) Bak menara air sebagai sebagai tempat menampung air bersih yang akan digunakan oleh terminal.
8) Bak sampah, tempatkan di tempat yang kemungkinan besar mudah untuk di angkut.
75 BAB VI
ACUAN PERANCANGAN
A. Acuan Perancangan Makro 1. Penentuan Lokasi
Untuk mendapatkan lokasi yang sesuai dengan bangunan Terminal Penumpang Tipe B harus di lakukan pendekatan yang mampu mewadahi kegiatan yang berlangsung di dalam maupun di luar bangunan, sehingga dapat mendukung fungsi dan kualitas dalam bangunan. Untuk itu penentuan lokasi disesuaikan dengan kegiatan utama dalam bangunan yang melayani jasa transportasi agar sesuai dan dapat menunjang fungsi fisik bangunan.
Faktor-faktor yang berkaitan erat dalam menentukan lokasi berdasarkan aspek-aspek sebagai brikut:
a. Aspek pengembangan kota
Sangat strategis pada lokasi rencana pengembangan kota, terletak di lokasi pengembangan kota dan sangat berpotensi untuk perkembangan pada masa yang akan datang.
b. Aspek transportasi dan utilitas 1) Faktor aksebilitas yang tinggi
2) Tersedia sarana utilitas kota yang cukup terjamin
Untuk itu dasar-dasar pertimbangan yang digunakan dalam pendekatanpenentuan lokasi ini yaitu:
76
1) Pertimbagan atas peraturan rencana tata ruang wilayah Provinsi Maluku Utara.
2) Dapat dicapai dengan mudah oleh seluruh kalangan masyarakat.
3) Dapat dijangkau sarana dan prasarana utilitas kota.
4) Mudan dan dapat dijangkau dalam waktu tempuh yang tidak lama.
Berdasarakan kriteria tersebut diatas, terdapat dua alternatif lokasi yang layak untuk sebuah terminal angkutan darat tipe B yang direncanakan. Alternatif satu terletak di pusat kota dan alternatif dua mempunyai jarak agak dekat dengan pusat kota.
Alternatif 1
Gambar 33 : Alternatif 1 penentuan lokasi Sumber: SAS planet 2017
77 Alternatif 2
Gambar 34 : Alternatif 2 penentuan lokasi Sumber: SAS planet 2017
Lokasi terletak di kecamatan Oba Utara yang merupakan Ibukota Provinsi Maluku Utara yang di tunjang oleh pemukiman, pengembangan kota baru danprovinsi.
2. Penentuan Site
Sesuai dengan kriteria-kriteria dalam penentuan lokasi terminal angkutan darat tipe B ini.
a. Site terminal mempunyai aksebilitas dan pencapaian yang mudah.
b. Luas site sesuai dengan kebutuhan untuk dikembangkan.
78
c. Secara visualisasi bangunan dapat diorentasikan menghadap kejalan.
d. Kondisi bangunan serta space lingkungan mendukung perwujudan terminal angkutan darat tipe B ini.
Dari kriteria diatas dapat disimpulkan bahwasite terminal harus memenuhi seluruh kriteria yang wajib dipenuhi oleh setiap site yang diajukan. Maka dari itu site teripilih adalah alternatif satu yang berada di Kecamatan Oba Utara.
B. AcuanPerancangan Mikro 1. AcuanBesaran Ruang
a. Besaran tuang didekati dengan standar-standar literatur dan pengamatan lapangan yaitu:
1) Standar-standar literatur
a) Never architecture date, the time sever standar for building type.
b) Standar bappenas untuk ruangan perkantoran dan bangunan- bangunan pemerintahan.
2) Observasi dan pengamatan lapangan disesuaikan tipe terminal dengan lokasi dan studi sistim terminal angkutan lainnya.
b. Unsur-unsur yang dapat mempengaruhi besaran ruaang yaitu:
1) Kebiasaan penumpang menurut sifat perjalanan
2) Pengaturan jadwal perjalanan dalam frekuensi angkutan 3) Aliran penumpang pada jam puncak kegiatan
4) Banyaknya personil yang melayani
79 5) Kecepatan muat
c. Besaran ruang didekati dengan besaran pelayanan yang diprediksi tahun 2018 dengan penyediaan sampai tahun 2032.
Pendekatan penentuan besaran ruang didasarkan dengan keamanan dan kenyamanan bergerak penumpang, penjemput, pengantar, pengelola dan sebaginya.Adapun penentuan besaran ruang didasarkan pada:
1) Banyaknya jumlah pemakai dalam 1 periode (A) 2) Kebutuhan ruang perunit kegiatan (B)
3) Koefesiensi reduksi terhadap faktor penggabungan space diasumsikan (10% – 40% )
Ketiga faktor diatas tadi dilakukan untuk mendapatkan besaran masing-masing ruang
Sedangkan dasar-dasar yang dipakai untuk menentukan besaran ruang yaitu:
1) Pendekatan standar : Time server, Data architecture, Pedoman pembangunan terminal dan Standar ruang Bappenas.
2) Pendekatan jumlah pengguna ruang 3) Studi perabot
80
Adapun perhitungan besaran ruang masing-masing adalah sebagai berikut:
a. Fasilitas dalam bangunan terminal 1) Ruang informasi
Kapasitas 2 orang, dibagi menjadi 2 unit dimana 1 unit terdiri dari 1orang staf.
Dengan luas = 1x2x3,78x1,3 = 9,83 m2 2) Ruang antri pembelian karcis
Dengan waktu keberangkatan 9 jm = 6,554 orang / hari
Waktu pembelian tiket 2 menit, diambil standar 0,674 m/orang Maka = 6.554 / (9 x 60 / 2) = 24 orang/menit
Luas = 24 x 0,48 = 11,52 m2
Flow/space 10% x 11,52 = 1,15 m2 +
Total = 12,67 m2
Menurut data yang diambil Dari Dinas Perhubungan dan Komunikasi Provinsi Maluku Utara Kecamatan Oba Utara bahwa penumpang berangkat/tiba dengan trayek jarak jauh dan dekat adalh 44% dan 56%.
3) Ruang penumpang jarak jauh
a) Berangkat = 6.554 x 44 % = 2,884 orang b) Tiba = 6.106 x 44 % = 2.687 orang
c) Frekuensi keberangkatan 30 menit, dengan jam operasi 9 jam
81
Jam/hari = 2,884 / 9 = 320 orang/jam Maka untuk 30 menit = 320 / 2 = 160 orang Kapasitas = penumpang+pengantar (1 : 1)
= 160 + 160 = 320 orang
Diasumsi 60% masuk ruang tunggu, diambil 0,81 m/orang
= 320 x 60% = 192 orang
Luas = 192 x 0,81 = 155,52 m2 d) Peron pemuatan dan pemberangkatan
Kapasitas 160 orang / 30 menit, waktu pemuatan 15 menit antri, diambil 0,81 m/ornng
= 160 / 2 = 80 orang
Luas = 80 x 0,81 = 64,80 m2
e) Frekuensi datang/tiba 30 menit, dengan operasi 9 jam/hari
= 2.687 / 9 = 300 orang/jam
Maka untuk 30 menit = 300 / 2 = 150 orang Kapasitas = penumpang + pengantar (1 : 1)
= 150 + 150 = 300 orang
Asumsi 40% masuk ruang tunggu, diambil 0,81 m/orang 300 x 40% = 120 orang
Luas = 120 x 0,81 = 97.20 m2 f) Peron penurunan/tiba
Kapasitas 150 orang / 30 menit, waktu penurunan 15 menit, diambil 0,81 m/orang
82
= 150 / 2 = 75 orang
Luas = 75 x 0,81 = 60.75 m2
Jumlah = 382.87 m2
Flow/space = 30%x373,23 = 114.68 m2
Total = 496.95 m2
Menurut standar Neufert Architec Data Toilet
Pria = 1 wc = 100 orang = 2.25 m2 = 1 wastafel = 60 orang = 1.50 m2 = 1 urinoir = 20 orang = 0.80 m2 Wanita = 1 wc = 30 orang = 2.25 m2 g) Lavatory
Kapasitas = 160 + 150 = 310 orang Pria : Wanita = (3 : 1)
Penumpang pria 233 orang = 3 wc = 6,75 m2
= 4 wastafel = 6,00 m2
= 12 urinoir = 9,60 m2
Penumpang wanita 77 orang = 3 wc = 6,75 m2
= 2 wastafel = 3,00 m2
Jumlah = 32,10 m2
Total penumpang jarak jauh = 526,9 m2 4) Ruang penumpang jarak dekat
a) Berangkat = 6.554 x 56% = 3.670 orang
83
b) Tiba = 6.106 x 56% = 3.419 orang c) Frekuensi pemberangkatan, 30 menit dengan jam operasi 10
jam/hari = 3.670 / 10 = 367 orang/jam
Maka untuk 30 menit = 367 / 2 = 184 orang Kapasitas = penumpang + pengantar (1 : 1)
= 184 + 184 = 368 orang
Asumsi 60% masuk ruang tunggu, diambil 0,81 m/orang
= 368 x 60% = 221 orang
Luas = 221 x 0,81 = 179,01 m2 d) Peron pemberangkatan/permuatan
Kapasitas 184 orang / 30 menit, waktu permuatan 15 menit antri, diambil 0,81 m/orang
= 184 / 2 = 92 orang
Luas = 92 x 0,81 = 74,52 m2
e) Frekuensi tiba/datang 30 menit, dengan jam operasi 9 jam/hari = 3.419 / 10 = 342 orang/jam Maka untuk 30 menit = 342 / 2 = 171 orang Kapasitas = penumpang + pengantar (1 : 1)
= 171 + 171 = 341 orang
Asumsi 40% masuk ruangan tunggu, diambil 0,81 m/orang
= 342 x 40% = 137 orang
Luas = 137 x 0,81 = 110,97 m2 f) Peron penurunan/tiba