K EMAJEMUKAN DAN D EMOKRASI3
3.2 Demokrasi sebagai Manajemen Konflik
3.2.2 Beberapa Pendekatan dalam Menangani Konflik
ras, dan agama, dan sebagai akibatnya, kandidat yang menang pemilu nantinya akan bersikap lebih responsif terhadap aspirasi kaum minoritas saat mereka mengemban jabatan politisnya. Jika dipadukan dengan langkah-langkah lain seperti pengadaan pemukiman yang rasional serta kebijakan mengenai kepemilikan hunian, perlindungan atas hak-hak asasi manusia dan jaminan keamanan, maka sistem demokrasi liberal atau demokrasi mayoritas mungkin akan menjadi solusi yang lebih menarik ketimbang berbagai pendekatan lain yang semata-mata didesain hanya untuk meredakan atau mengatasi kesenjangan sosial bertalar belakang identitas atau etrnis melalui perwakilan-perwakilan kelompok etnis di dewan.
Meski ada fleksibilitas yang besar dalam mendesain sistem demorasi lokal untuk mengatasi konflik, pada umumnya disepakati bahwa pemberian otonomi dan pembagian kukuasaan atas dasar kelompok cenderung bisa memenuhi kepentingan atau tujuan dari berbagai elemen masyarakat yang tinggal di perkotaan. Pembagian kekuasaan yang integratif dan demokrasi mayoritas dapat ikut andil membantu menyatukan kelompok-kelompok etnis secara lebih leluasa melalui institusi- institusi politik dan gerakan masyarakat madani.
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
n Manajemen konflik. Sebagai sebuah sistem tawar-menawar dan bernegosiasi, demokrasi dapat membantu mengatasi konflik antar kelompok dan menggiring mereka ke dalam dialog dan debat politik, dan menjauhkan mereka dari kekerasan di jalan. Tujuan manajemen konflik adalah menjaga supaya perselisihan yang ada bisa disalurkan ke dalam arena negosiasi dan mencegahnya jangan sampai mengalami peningkatan yang berujung pada konfrontasi dan kekerasan.
n Penyelesaian konflik. Resolusi adalah proses mendiskusikan sebuah atau serangkaian isu, mencapai kesepakatan, dan melaksanakannya, kemudian menghilangkan akar penyebab konflik sebisa mungkin. Banyak perselisihan bernuansa kemajemukan masyarakat – misalnya masalah kebijakan pemakaian bahasa pengantar pendidikan di sekolah – dapat diselesaikan dengan menyepakati seperangkat peraturan yang menjadi panduan dalam pengambilan keputusan. Contoh paling mutakhir adalah diperkenalkannya sekolah berbahasa Albania di wilayah Montenegro sebagai cara memadamkan ketegangan antar kelompok. Sejauh perangkat peraturan itu dipandang adil oleh segenap lapisan masyarakat dan tidak ada kelompok mayoritas yang menentang atau berniat mengganti peraturan itu, konflik yang ada bisa dikatakan berhasil diselesaikan.
n Transformasi konflik. Beberapa konflik yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat, seperti yang dipaparkan pada studi kasus mengenai Jerusalem, Belfast, dan Johannesburg, nyaris mustahil diselesaikan atau diatasi. Demikian pula upaya-upaya yang hanya mengatasi problem utama antar kelompok dominan di dalam masyarakat perkotaan tidak akan membantu mengatasi akar utama konflik yang ada. Untuk kasus-kasus seperti ini yang diperlukan adalah pendekatan yang berlapis-lapis, sambil menjalin kerjasama dengan para pemuka politik dan ornop – baik yang di tingkat nasional maupun regional, serta langsung berbaur dengan kelompok akar rumput – secara serentak. Tujuan pendekatan transformasi konflik adalah mengubah kesenjangan struktural masyarakat yang mendasari dasar atau penyebab utama konflik — misalnya akses memperoleh pelayanan kesehatan – yang menyulut konflik antar kelompok identitas.
Banyak yang menyatakan bahwa pendekatan masyarakat internasional dalam upaya pemulihan perdamaian pasca-perjanjian (post-settlement peace-building) kerap hanya berfokus pada para elite politik di pentas nasional. Upaya membangun perdamaian dilakukan tanpa strategi yang terpadu yang bertujuan menciptakan perdamaian langsung dengan para aktor kelas menengah (misalnya para fungsionaris partai di tingkat regional maupun lokal atau kaum milisi) dan masyarakat akar rumput.
John Paul Lederach, seorang pakar di bidang resolusi konflik, berpendapat bahwa strategi terpadu pemulihan perdamaian yang secara terus terang berusaha membangun perdamaian di berbagi tingkat masyarakat, termasuk masyarakat pinggiran dan masyarakat jelata, yang disertai oleh sararan-sasaran jangka pendek dan jangka panjang, akan jauh lebih efektif hasilnya. Ia lama terjun langsung ke dalam masyarakat jelata dan gerakan masyarakat madani di wilayah konflik Balkan, Kolombia, Nikaragua, dan Irlandia Utara, bekerja dengan menggunakan sistem pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) demi mewujudkan rekonsiliasi di kancah konflik yang amat mendalam. Di Kolombia, sebagai contoh, Lederach bekerja sama dengan sebuah pusat pemulihan perdamaian yang disebut Justapaz.
Mereka melakukan pelatihan dengan seluruh lapisan masyarakat di sana dan juga bekerja bahu-membahu dengan masyarakat jelata, masyarakat kelas menengah, para pejabat senior, dan staf ornop dalam sebuah proyek jangka panjang yang bertujuan mengatasi krisis kekerasan yang menjadi ciri perang saudara yang lama berkecamuk di negeri itu. Program pelatihan tersebut lebih mengedepankan perlunya mengkoordinasikan langkah-langkah untuk meredakan kekerasan, baik pada tingkat lokal, regional, maupun nasional, untuk mendukung proses-proses perdamaian tingkat nasional antara pihak pemerintah dan kelompok gerilyawan.
Bekerja dengan terjun langsung ke lapisan masyarakat bawah merupakan taktik penting untuk mengikis masalah-masalah penyebab terjadinya konflik antar kelompok di wilayah perkotaan. Seperti ditulis oleh John Burton, “Pengambilan keputusan di tingkat masyarakat bawah cenderung berfokus pada kebutuhan manusia yang mengemuka di dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Karenanya, pendekatan seperti itu lebih mampu mengatasi masalah ketimbang pengambilan keputusan yang dilakukan tanpa adanya kontak langsung antara pengambil keputusan dan pihak-pihak yang akan menjadi sasarannya.”
Pada beberapa kasus, mengatasi masalah kemajemukan masyarakat memang lebih baik dilakukan secara informal atau melalui jalur tidak resmi. Kini ornop- ornop internasional dan lokal semakin banyak terlibat dalam upaya-upaya pemulihan perdamaian dan tidak sedikit yang mengklaim pihaknya memiliki keunggulan komparatif dalam menangani konflik lokal. Meski ornop-ornop itu juga banyak memiliki kelemahan (selain segudang kelebihan) dalam berkiprah di dunia yang senantiasa berubah ini, kenyataan menunjukkan bahwa mereka kian banyak dibutuhkan dalam upaya-upaya pemulihan perdamaian di kancah dan kondisi yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh organisasi-organisasi internasional. Pernyataan Andrew Natsios mendukung pendapat ini:
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
Ornop menjalankan tugas mereka di lapisan masyarakat paling bawah, di pedesaan terpencil, dan di perkampungan di kota-kota besar. Sistem pengambilan keputusan dan manajemen program yang bersifat partisipatoris itu, meski sangat menyita waktu dan melelahkan, bisa menyerap energi dan komitmen masyarakat. Pendekatan pembangunan seperti ini mampu menciptakan loyalitas dan rasa saling percaya antara ornop dan komunitas- komunitas yang mereka layani, dan ini tujuan penting dalam upaya penyelesaian konflik.
Sebuah pelajaran menarik yang pantas dicantumkan dari pengalaman itu:
janganlah berharap proses pemecahan masalah yang kolaboratif dengan masyarakat akan serta-merta melenyapkan konflik yang ada; harapan itu jelas tidak realistis.
Pendekatan-pendekatan yang ditujukan pada pencapaian konsensus terhambat oleh beberapa fakta dan situasi konflik yang telah mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Namun, jika masyarakat dapat diarahkan untuk lebih memusatkan perhatian mereka pada masalah riil yang dihadapi bersama, ketimbang saling menyerang musuh masing-masing, niscaya mereka akan dapat memperoleh solusi yang praktis dan dilandasi oleh konsensus di tengah-tengah suasana pasca-perang yang masih dipenuhi ketegangan.
Semua sasaran dan pendekatan penanganan konflik seperti tersebut di atas tidaklah bersifat eksklusif. Namun, menyimak bermacam perselisihan yang ada itu bisa membantu menentukan strategi mana yang tepat untuk kondisi tertentu.
Maksudnya, sebelum mulai mendesain suatu institusi atau meluncurkan forum- forum partisipatoris, para pengambil keputusan dan pemuka masyarakat perlu lebih dulu menyepakati sasaran apa yang hendak dicapai dalam strategi penanganan konflik yang hendak digunakan, kesesuaian antara masing-masing sasaran, desain institusional, serta prinsip-prinsip kebijakan publik yang dijalankan.