• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Perbandingan

T IGA S TUDI K ASUS

2.3 Kriteria Perbandingan

dewan regional merupakan kumpulan dari penguasa-penguasa kota kecil seperti dimaksud di atas – sebagai contoh adalah forum mayor atau walikota regional – yang bekerjasama untuk mengkoordinasikan kebijakan menyangkut isu-isu seperti jaringan transportasi atau peningkatan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Sebagai contoh, di negara Ghana ada 110 dewan regional yang dipimpin oleh pejabat-pejabat terpilih.

n Demokrasi langsung. Ada banyak wilayah kotapraja yang memotong otoritas para pemimpin atau dewan parlemen dan mengambil keputusan-keputusan penting melalui partisipasi langsung warga masyarakat, baik lewat referendum atau pertemuan desa atau rukun kampung. Para birokrat pun sepenuhnya mengimplementasikan keputusan yang diambil para warga. Sebagai contoh, Swiss terdiri atas 23 wilayah yang disebut canton. Masing-masing canton dan half-canton (yang seluruhnya berjumlah tiga dan dibentuk karena alasan historis tertentu) memiliki konstitusi, parlemen, pemerintah dan bahkan sistem peradilan sendiri.

Demokrasi langsung yang berupa Landsgemeinde atau pertemuan warga di tempat terbuka bisa ditemui di daerah (canton) Appenzel Innerrhoden dan daerah (canton) Glarus; sedangkan di canton-canton lainnya, para pemilih menggunakan kotak-kotak suara untuk menyatakan keputusan atau pilihannya.

Kesemua canton di Swiss dibagi ke dalam wilayah-wilayah kotapraja dan yang disebut commune. Kurang lebih satu perlima dari 2.900 pemerintah kotapraja di sana memiliki parlemen sendiri; sementara pada empat perlima yang lain, semua keputusan ditetapkan dalam rapat-rapat lokal yang bersifat demokrasi langsung. Tipe pemerintahan seperti ini dibatasi oleh luas/besarnya wilayah kota, meskipun perkembangan terbaru dalam teknologi komunikasi, seperti Internet, misalnya, bisa membuka kemungkinan-kemungkinan baru ke arah pemerintahan lokal yang lebih demokratis (lihat Bagian 5.7).

MENDESAIN SISTEM DEMOKRASI LOKAL

untuk semua kondisi, ada kesepakatan umum bahwa semakin padat populasi penduduk di sebuah wilayah yang sempit, semakin besar pula tantangan yang dihadapi manajemen atau pengelola kota di wilayah itu. Penyusunan aturan-aturan yang menyangkut interaksi sosial di wilayah perkotaan padat penduduk harus pula memper-timbangkan upaya untuk mempererat interaksi antar komunitas serta perlunya meningkatkan kerjasama dan manajemen konflik.

Disebabkan oleh alasan tersebut, tidak tertutup kemungkinan kota-kota besar akan dipecah menjadi wilayah-wilayah yang lebih kecil dan kewenangan pemerintahannya didesentralisasikan/dilimpahkan kepada unit-unit kecil seperti distrik, wilayah, rukun kampung, dan wilayah lain yang lebih rendah tingkatnya.

Konsep yang cocok untuk menyebut pemerintahan kota seperti itu adalah konsep

“pemerintahan berlapis” (layered governance) atau “pemerintahan menginduk”

(nested governance). Maksudnya, di dalam kota-kota besar itu terdapat berbagai lapisan pemerintahan pada berbagai tingkat, di mana terdapat tingkat-tingkat pemerintahan yang “menginduk” kepada tingkat lainnya; sistem pemerintahan ini dapat diibaratkan sebagai serangkaian lingkaran konsentris; setiap lingkaran mewakili tingkat pemerintahan yang lebih tinggi dengan jumlah populasi yang lebih besar. Di dalam sistem seperti ini, sebisa mungkin setiap keputusan harus diambil pada tingkat pemerintahan yang paling dekat dengan rakyat.

Mengevaluasi besarnya wilayah kotapraja akan bisa membantu kita memikirkan kemungkinan menjalankan pemerintahan otonom dalam konteks nasional, serta pelimpahan kekuasaan di dalam pemerintahan kota kepada asosiasi-asosiasi rukun kampung, dewan masyarakat, asosiasi pemilik properti atau kelompok-kelompok masyarakat madani. Sebagai kriteria dalam mendesain sistem itu, perlu dipikirkan bagaimana dampak dari interaksi antara faktor pemerintah lokal dan ukuran/

luasnya wilayah kotapraja: apakah membawa keuntungan atau justru kerugian dalam kaitannya dengan berbagai inovasi praktik-praktik demokratis seperti yang akan dipaparkan pada Bab 4 dan 5.

Kriteria lain yang perlu dipertimbangkan adalah pola-pola pemukiman penduduk. Isu terpenting yang berkembang di setiap wilayah perkotaan adalah pola pemukiman dan identitas sosial-budaya penduduk di dalam perkampungan, distrik, atau wilayah lainnya. Tipe permukiman ini biasanya bersifat informal, meskipun di beberapa daerah seperti di Cape Town, pola permukiman berdasar kelompok etnis, ras, atau keagamaan merupakan hasil dari kebijakan khusus.

Banyak kota di zaman sekarang yang memiliki wilayah-wilayah majemuk dan kosmopolitan yang menghargai kemajemukan budaya dan etnis yang merupakan aspek paling menonjol dari identitas sebuah perkampungan atau wilayah. Manakala pola permukiman suatu wilayah “bersinggungan” dengan komunitas-komunitas

etnis, ras, atau keagamaan tertentu, tidak pelak, akan muncul isu-isu menyangkut pembagian dan penyediaan pelayanan dan jasa yang adil – misalnya jasa pengawasan polisi – dan korelasi antara pembayaran pajak dan penyediaan jasa bagi masyarakat. Dalam situasi seperti ini tampak pentingnya hubungan antar komunitas dan antara komunitas-komunitas itu dan pejabat kota.

Sebagai contoh, di Los Angeles – sebuah kota multietnis yang menampilkan kesenjangan ekonomi sangat tajam – selalu saja terjadi ketegangan antara wilayah- wilayah makmur (seperti daerah elit Bel Air) dan bagian-bagian kota lainnya yang miskin, terutama wilayah South Central Los Angeles dan Watts. Pada 1993 pecah kerusuhan bermotif ketidakpuasan terhadap kepolisian di wilayah Watts dan komunitas-komunitas lainnya menyusul insiden brutalitas oknum polisi (kasus Rodney King). Sekarang, beberapa warga Bel Air berusaha melepaskan (atau memisahkan) diri dari pemerintah kota Los Angeles karena mereka merasa bahwa pajak yang mereka bayar kelewat tinggi sedangkan pelayanan yang diterima tidak sebanding dengan kontribusi mereka.

Ada lagi beberapa karakteristik yang tidak kalah penting. Membandingkan luas kota dan mengevaluasi aspek-aspek ukuran luasnya kota dalam kaitannya dengan partisipasi warga dan manajemen konflik tidak hanya berujung pada kesimpulan plus-minus (keuntungan atau kerugian) yang ditimbulkannya (misalnya ada konsep klasik yang mengatakan bahwa kota yang kecil mempunyai kemampuan lebih baik dalam memfasilitasi hubungan antara pemerintah kota dan masyarakat). Yang tidak kalah penting dalam hal ini adalah isu bahwa ukuran sebuah kota erat kaitannya dengan karakteristik-karakteristik tertentu yang dapat membantu para praktisi dan warga masyarakat memandang atau memposisikan diri mereka masing-masing secara komparatif, kemudian mencari berbagai ciri yang menonjol pada masing-masing pihak. Sebagai misal, perhatikan beberapa variabel yang dapat mengindikasikan ciri-ciri khas berbagai kota:

n Basis ekonomi. Apakah pilar utama penyangga perekonomian kota X? Sebagai contoh, apakah sektor pariwisata merupakan sumber utama pemasukan pajak?

Adakah perusahaan atau sektor ekonomi yang dominan?

n Tata kota. Bagaimanakah bentuk tata kota atau jaringan kota X? Adakah ciri fisik khusus yang menunjukkan batas wilayahnya?

n Fungsi. Apakah kota X merupakan kota penghubung dengan wilayah/kota lain ataukah ibukota propinsi? Ataukah kota itu merupakan ibu kota negara dengan ciri khusus seperti tingginya pekerja dari sektor publik?

n Lokasi. Apakah kota X berada dekat – atau jauh – dari garis batas negara?

Apakah terdapat pusat keramaian yang terkonsentrasi, ataukah keramaian di kota itu cukup tersebar?

MENDESAIN SISTEM DEMOKRASI LOKAL

Kategori Ukuran Kota Ikhtisar 6

Kota Raksasa atau Megacity (lebih dari 10 juta penduduk). Kota-kota yang tergolong ke dalam kategori ini menyodorkan tantangan berat berupa tuntutan pengendalian-diri dari masyarakat lokal, manajemen administrasi, transportasi, kesenjangan sosial-ekonomi, serta masalah pertumbuhan dan pembangunan. Di antara sejumlah kota raksasa yang baru berkembang, kota-kota di kawasan Afrika dan Asia memperlihatkan tingkat pertumbuhan paling pesat, dengan rekor tertinggi dalam tingkat urbanisasi—sementara angka pertumbuhan untuk kawasan Eropa Timur atau Amerika Latin jauh lebih rendah—karena urbanisasi di kedua kawasan itu sudah lama berlangsung, dan bukan merupakan tren terbaru. Di Meksiko, sebagai contoh, tingkat pertumbuhan populasi penduduk perkotaan mulai berkurang, dan khususnya di Mexico City, tingkat kecepatan pertambahan penduduk sudah menurun tajam antara tahun 1980 dan tahun 1999.

Kota Besar (1-10 juta penduduk). Kota-kota besar juga menghadapi berbagai masalah sebagaimana yang mewabah di megacity, meski tentunya dengan skala yang sedikit lebih kecil. Banyak kota setingkat kota propinsi dan distrik yang masuk ke dalam kategori ini, demikian juga ibu kota-ibu kota berbagai negara dunia. Ledakan penduduk menghadirkan sejumlah tantangan berupa masalah pertumbuhan, kekacauan wilayah kota, permukiman liar, di samping masalah transportasi, kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan masalah penyediaan jasa yang lain. Secara bertahap, kota-kota besar mulai dipengaruhi oleh dampak globalisasi yang mengharuskan mereka berkompetisi pada skala internasional untuk menjaring investasi dan menciptakan lapangan kerja. Contoh yang bagus mengenai kategori kota besar adalah kota Durban, Afrika Selatan, yang merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan paling cepat di benua Afrika.

Kota (40.000 sampai satu juta penduduk). Kota-kota yang masuk ke dalam kategori ini cukup besar bagi berkembangnya berbagai masalah dan segala ciri yang melekat di wilayah kota besar, namun dalam banyak hal kota-kota itu menampilkan kesan tradisional dan terkesan seperti kota kecil. Kota-kota sekaliber ini cenderung hanya bergantung pada satu jenis sektor ekonomi atau industri (atau bahkan satu perusahaan saja). Usaha-usaha kecil sering berhasil bertahan dalam kota bertipe ini, dan masalah transportasi tidak begitu akut dibandingkan dengan kota-kota besar.

Kota Kecil (5.000 hingga 40.000 penduduk). Di dalam kota yang masuk ke dalam kategori kota kecil (town) ini terdapat juga warna kehidupan kota, namun tradisi lokal dan warna kehidupan pedesaan juga masih terlihat. Banyak keputusan-

keputusan sulit diambil oleh anggota dewan kota dan manajer kota, meskipun peranan walikota masih dipandang sangat penting. Kota-kota yang masuk ke dalam kategori ini sering tergantung struktur pemerintahan distrik atau negara bagian dalam hal pendapatan daerah dan penyediaan pelayanan kepada masyarakat.

Desa (penduduk kurang dari 5.000 jiwa). Desa-desa cenderung menampilkan ciri atau struktur pemerintahan yang tradisional dan kerap menginduk ke dalam wilayah pemerintahan yang lebih luas. Organisasi pemerintahan di desa memungkinkan dilaksanakannya partisipasi langsung para warga masyarakat secara maksimal. Akan tetapi, aspek-aspek praktis dari demokrasi di desa-desa itu mungkin mirip dengan peranan dewan rukun kampung yang ada di megacity.

Maksudnya, ukuran boleh jadi merupakan faktor penting, namun definisi perpolitikan lokal boleh jadi lebih ditentukan oleh tingkat pelimpahan kekuasaan kepada pejabat tertentu ketimbang oleh ukuran aktual dari sebuah arena metropolitan.