KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
Kesamaan yang dapat ditemui di kota-kota tersebut adalah kenyataan bahwa identitas etnis dan semangat nasionalisme bisa berpadu dan menciptakan tekanan dahsyat yang menyangkut hak tiap kelompok, otonomi, dan pemisahan teritorial.
Akibatnya, kota-kota itu bisa berubah menjadi ajang pertempuran antar kelompok etnis pribumi yang sama-sama mengklaim wilayah tersebut sebagai daerah kedaulatan mereka. Pada umumnya legitimasi struktur politik pemerintah kota setempat berikut semua produk ketetapan dan administrasinya akan ditentang oleh kelompok-kelompok etnis yang menuntut pembagian kekuasaan yang lebih berimbang (misalnya masyarakat kulit hitam Afrika Selatan), atau meminta otonomi berdasarkan kelompok etnis atau bahkan kemerdekaan (misalnya oleh bangsa Palestina di Jerusalem atau kelompok etnis Perancis di kota Montreal). Tentu saja tidak semua ketegangan etnis berubah menjadi kekerasan. Di Montreal, misalnya, ketegangan terjadi pada 1995 manakala pada pelaksanaan referendum tahun itu kelompok etnis Prancis di Propinsi Quebec yang menuntut kemerdekaan dari Kanada kalah tipis dalam perolehan suara; meski metode pemilihannya murni didasarkan atas afiliasi etnis para pemilih dan seluruh penjuru kota sudah dijejali oleh para pengunjuk rasa, toh kekerasan yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi.
Kebijakan-kebjiakan yang menyentuh kehidupan masyarakat perkotaan memang bisa berdampak sangat besar terhadap stabilitas atau instabilitas etnis. Kebijakan- kebijakan itu mungkin menyangkut masalah rencana dan peraturan peruntukan tanah, pembangunan ekonomi, penyediaan dan alokasi pemukiman umum, perencanaan fasilitas penting, pengadaan pelayanan masyarakat, partisipasi masyarakat, serta struktur organisasi pemerintah daerah. Kebijakan-kebijkan itu bisa bersifat menjaga atau justru mengganggu tuntutan hak teritorial kelompok masyarakat tertentu, dapat menciptakan pemerataan pendapatan atau sebaliknya kesenjangan, dapat membuka atau justru menghambat akses pada pengambilan keputusan atau kekuasaan politik, dapat melindungi atau malah merongrong hak-hak etnis/budaya kolektif, serta memecah belah atau sebaliknya memperkokoh kekuatan oposisi.
Belfast Latar Belakang
Belfast merupakan ajang pertikaian dua kelompok nasionalis (Irlandia vs. Inggris) dan sentimen agama (Katolik vs. Protestan). Sejak 1969 kota itu menjadi kancah perang sektarian. Wilayah perkotaan di sana sangat terkotak-kotak dan penduduknya cenderung hidup dalam komunitas-komunitas tersendiri sesuai sikap atau pemihakan mereka. Masing-masing kelompok hidup berjauhan atau malah sangat dekat satu sama lain. Permusuhan antar kelompok itu begitu hebatnya sehingga memaksa pihak berwenang membangun 15 garis perdamaian dari yang hanya berupa pagar seng
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
atau tonggak-tonggak baja yang runcing, hingga bentangan tembok bata atau beton permanen, hingga garis pemisah alamiah atau wilayah-wilayah netral.
Belfast, seperti Irlandia Utara pada umumnya, memiliki jumlah penduduk mayoritas pemeluk agama Protestan. Populasi kota itu pada 1996 adalah 297.000 jiwa, dan 54 persen di antaranya umat Protestan dan 43 persen sisanya Katolik, meski sesungguhnya persentase pemeluk Katolik lambat laun kian meningkat beberapa dasawarsa ini karena banyaknya orang Protestan yang pindah ke kota-kota sekitarnya.
Fanatisme agama penduduk Belfast kebetulan searah dengan loyalitas politik mereka. Umat Protestan bersikap setia kepada Kerajaan Inggris, yang sejak 1972 hingga 1999 menguasai wilayah Irlandia Utara. Sedangkan kelompok Katolik lebih bangga dengan identitas sebagai orang Irlandia dan menyatakan kesetiaannya pada Republik Irlandia di wilayah selatan. Masuknya campur tangan Kerajaan Inggris ke Irlandia Utara sesungguhnya disebabkan oleh instabilitas di wilayah itu yang dipicu oleh keresahan penduduk akibat pemerintah Irlandia Utara (sebelum 1972) bersikap diskriminatif. Pendudukan Inggris di wilayah itu menyebabkan nyaris hilangnya partisipasi representatif masyarakat maupun akuntabilitas pihak berkuasa. Dewan kota Belfast yang dikuasai oleh 51 anggota dewan yang didominasi kelompok Protestan jelas sangat minimal kekuatannya dalam pengambilan keputusan.
Kebijakan Perkotaan
Tujuan yang hendak diraih oleh para administratur dan pengambil keputusan Belfast adalah:
n Memposisikan peran dan citra pemerintahan kota Belfast yang netral dan tidak bias terhadap kelompok oranye (Protestan) atau hijau (Katolik).
n Mengupayakan agar kebijakan-kebijakan yang diambil tidak memperburuk ketegangan sektarian dengan mengatur tata kota atau alokasi wilayah etnis yang tidak bertentangan dengan kehendak penduduk.
Sebagai akibatnya, para pengambil keputusan di sana secara ketat mengatur wilayah Belfast: sistem itu diupayakan agar dapat mengontrol perkembangan populasi pemeluk Katolik sambil melindungi lahan-lahan kaum Protestan yang belum dimanfaatkan.
Pemerintah kota Belfast tidak memiliki pendekatan yang komprehensif maupun strategis dalam mengatasi perpecahan sektarian, sehingga dalam membuat berbagai rencana pun lebih banyak mengurusi isu-isu pertikaian, yang nyata-nyata di luar tanggung jawab utamanya.
Salah satu bunyi rencana pembangunan wilayah kota Belfast tahun anggaran 1987 antara lain menyatakan, rencana strategis pemanfaatan lahan tidak akan menyentuh aspek-aspek sosial, ekonomi, dan aspek lainnya. Rencana itu justru lebih menekankan pembangunan wilayah netral di pusat kota dan langkah-langkah untuk PERANAN KEBIJAKAN PUBLIK
merevitalisasi wilayah itu. Para pejabat alokasi perumahan mendesain beberapa kriteria netral yang diharapkan dapat menghindari kesan atau tudingan diskriminasi. Tetapi ternyata citra netral itu justru lebih mengentalkan polarisasi keagamaan penduduk di sana. Sebaliknya, agen-agen yang terlibat dalam pembangunan proyek pemukiman justru memetik pelajaran berharga: bahwa mereka harus menjalin kerjasama dengan kelompok-kelompok sektarian yang menentang prinsip-prinsip netralitas. Namun proyek-proyek sektarian itu sifatnya hanyalah sementara dan tidak tercakup dalam kerangka strategis umum yang bermuara pada manajemen konflik. Pada akhirnya, kebijakan Inggris di Belfast telah menciptakan peredaan ketegangan sesaat, namun jelas tidak efektif bagi sebuah kota yang secara etnis terbelah dan diwarnai oleh kepentingan-kepentingan yang beragam dari pihak Protestan maupun Katolik.
Jerusalem Latar Belakang
Jerusalem adalah teka-teki: sebuah kota dengan masyarakat yang amat majemuk baik dari segi etnis maupun agama, secara teoritis bersatu, namun pada praktiknya terbelah menjadi dua kelompok besar. Di Jerusalem, pertikaian sengit antara kaum Yahudi dan Muslim dan kaum nasionalis Palestina dan yang pro-Israel telah memberi julukan bagi Jerusalem sebagai kota musuh-musuh yang intim. Dengan populasi 603.000 jiwa pada 1996, kota itu telah menjadi medan pertarungan demografis dan fisik antara dua kelompok besar yang sama kuat.
Kondisi geografis dan sosial Jerusalem secara dramatis telah berubah, dari sebuah mosaik multi-kultural sebelum statusnya menjadi Wilayah Mandat Inggris pada 1948, sampai menjadi kota yang terbelah dua, ketika kota itu sebagian dikuasai Israel dan sebagian lagi oleh pemerintah Jordania pada periode 1949-1967. Sejak 1967, kota yang diduduki Israel itu menjadi kota yang paling dipersengketakan, dengan luas wilayah tiga kali lipat lebih besar dibanding kondisinya pada 1967 dan di dalamnya termasuk pula wilayah Jerusalem Timur yang semula dikuasai orang-orang Arab (setelah terjadinya pencaplokan sepihak oleh Israel yang tidak mendapatkan pengakuan internasional). Wilayah Jerusalem Timur kini tetap berstatus sebagai
wilayah pendudukan. Keuntungan demografis yang didapatkan penduduk Yahudi (yang jumlahnya tiga kali penduduk Arab Palestina) di Jerusalem yang dikuasai Israel tercermin pada dominasi mutlak orang Yahudi di dewan kota dan kantor-kantor penting. Penolakan orang-orang Arab untuk berpartisipasi pada pemilu kotapraja (dengan alasan pemilu itu tidak sah) justru semakin memperkuat penguasaan kaum Yahudi atas Jerusalem. Pada ketiga sisinya, Jerusalem dikelilingi oleh wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel, dengan komposisi populasi kurang lebih 1,7 juta penduduk Palestina dibanding 150.000 orang Yahudi.
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
Kebijakan Perkotaan
Sejak 1967, para pengambil kebijakan dan perencana Israel memang berusaha mewujudkan kontrol dan keamanan bagi bangsa Israel yang akan memperkuat mayoritas Yahudi di kota yang dikuasai Israel. Kebijakan-kebijakan itu telah berdampak:
n meningkatkan kecepatan pembangunan masyarakat Yahudi dan memperkokoh kekuatan demografis Yahudi di wilayah itu;
n mempengaruhi lokasi pembangunan bagi masyarakat Yahudi di wilayah-wilayah pendudukan sedemikian rupa dengan maksud menghambat pembagian ulang (re- division) wilayah itu;
n membatasi pertumbuhan dan pembangunan masyarakat Arab dengan target memperlemah tuntutan mereka tentang reunifikasi Jerusalem.
Pemukiman-pemukiman Yahudi yang besar di titik-titik strategis telah dibangun di seluruh wilayah yang dicaplok, dengan tujuan utama memperbesar populasi Yahudi di wilayah-wilayah perkotaan pasca-1967. Dari wilayah seluas lebih kurang 70 km persegi yang dicaplok Israel setelah perang tahun 1967, kira-kira 24 km persegi (33 persen) telah diambil alih pemerintah Israel. Sasaran di balik pengambilalihan ini sesungguhnya adalah pembangunan wilayah pemukiman Yahudi. Wilayah pemukiman di Jerusalem Timur itu sekarang dihuni kurang lebih 160.000 penduduk Yahudi. Sejak 1967, 88 persen unit perumahan yang dibangun di Jerusalem Timur secara khusus telah dibangun bagi populasi Yahudi.
Lewat berbagai regulasi rencana tata kota dan sejenisnya, para perencana kota Israel telah membatasi pertumbuhan pemukiman Palestina di kota suci Jerusalem.
Pembatasan-pembatasan itu sangat beragam bentuknya, mulai dari pengambilalihan tanah, regulasi zona yang memangkas hak-hak orang Palestina untuk melakukan pembangunan, metode pembangunan jalan untuk menindas dan memecah belah komunitas Palestina, haluan-haluan tersembunyi di balik rencana Israel yang sangat mengekang banyaknya bangunan di zona-zona penduduk Palestina, serta absennya rencana pembangunan fasilitas untuk orang-orang Arab yang dengan nyata telah menjegal penyediaan infrastruktur dan pembangunan masyarakat Arab Palestina.
Akibatnya, sekarang hanya tinggal 11 persen dari total wilayah pendudukan Israel di Jerusalem yang berupa lahan kosong, yang sekarang diizinkan untuk dibangun oleh masyarakat Palestina.
Rencana partisan Israel di kota Jerusalem telah dilaksanakan selama 30 tahun.
Namun ada kenyataan bahwa kebijakan itu telah menimbulkan berbagai konsekuensi di tingkat regional maupun kotapraja yang mengancam dominasi politik Israel di sana.
Perencanaan kota sistem partisan itu telah menghambat terwujudnya negosiasi menuju penyelesaian konflik dengan masyarakat Palestina yang sedianya dimaksudkan untuk memperkukuh kepentingan Israel di kota yang paling dipersengketakan ini.
PERANAN KEBIJAKAN PUBLIK
Johannesburg Latar Belakang
Johannesburg adalah kota besar yang carut-marut dan dipenuhi oleh kontras, dari segi ekonomi maupun kesenjangan sosial. Tampak jelas bahwa hasil dari perencanaan tata kota yang merupakan warisan masalah peninggalan pemerintah apartheid itu masih akan tercermin beberapa tahun kalau bukan dasawarsa mendatang. Wilayah metropolitannya dihuni sekurangnya 2 juta penduduk dengan komposisi sekitar 60 persen warga kulit hitam dan 31 persen kulit putih. Perkampungan dan daerah pusat kota yang terkotak-kotak secara rasial dan dipadati oleh pemukiman kumuh merupakan ciri Johannesburg modern, bahkan sesudah era apartheid berlalu.
Keterpecahbelahan rasial de facto ini langsung maupun tidak langsung adalah warisan peninggalan perundang-undangan yang berlaku pada era 1950-an. Sejumlah besar kebutuhan pokok warga penduduk pada saat ini tidak terpenuhi, termasuk pemukiman, hak guna tanah, air, dan fasilitas sanitasi. Distribusi pendapatan sangatlah tidak berimbang, baik pada tingkat provinsi maupun nasional.
Warga kulit hitam memadati beberapa wilayah yang miskin yang tersebar di seluruh pelosok Johannesburg. Dua lokasi penduduk miskin yang terkemuka adalah daerah Alexandra dan Soweto; Soweto sesungguhnya adalah peleburan dari 29 wilayah kotapraja kecil yang terletak di barat daya dan tidak menyatu dengan Johannesburg. Pemukiman nonpermanen dari batu bata dan adukan semen sengaja dibangun dengan kualitas rendah, sebab kaum pendatang kulit hitam dulu dianggap hanya pendatang musiman, dan sangat tidak diinginkan kehadirannya. Losmen-losmen dibangun untuk menampung pekerja industri dan pertambangan di sekitar Johannesburg. Losmen-losmen itu menjadi wilayah ketegangan yang bernuansa politis, etnis, serta kekerasan fisik. Gubug-gubug di balik gedung serta pondok-pondok liar di lahan kosong milik kotapraja diwarnai oleh kondisi kehidupan yang nyaris tidak manusiawi, tidak adanya jaminan hak guna lahan, buruknya mutu hunian dan kebersihan, serta absennya fasilitas dan jasa sosial.
Kebijakan Perkotaan
Pada 1995, pemerintah lokal dan metropolitan Johannesburg direstrukturisasi, dengan tujuan menghubungkan pemerintah lokal (yang semula didominasi orang kulit putih) dengan wilayah kotapraja di sekitarnya yang mayoritas penduduknya adalah warga kulit hitam. Sesudah itu, kebanyakan wakil-wakil yang dipilih untuk empat pemerintahan lokal, serta anggota dewan kota Johannesburg, adalah dari kaum kulit hitam.
Prinsip pembangunan kota dengan semangat pasca-apartheid bercita-cita merekatkan kembali daerah-daerah yang terpecah-belah, sekaligus mempersatukan
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
segenap elemen masyarakat dan warga kota Johannesburg. Di satu sisi, kebijakan publik itu ditujukan untuk mengatasi berbagai kebutuhan jangka pendek serta terkait dengan krisis yang ada, yang antara lain berkaitan dengan pemukiman, kesehatan masyarakat, keamanan diri, serta kebutuhan yang tidak terpenuhi, misalnya air, sanitasi, serta aliran listrik. Di sisi lain, kebijakan itu juga didesain untuk mewujudkan sosok kota Johannesburg yang kompak dan secara fungsional terpadu, yang di dalamnya kaum miskin tinggal di pusat-pusat lapangan kerja dan peluang-peluang bisnis lainnya di kota.
Apa yang dilakukan para pengambil kebijakan pemerintah kota Johannesburg pasca-apartheid adalah sebuah tantangan besar, sebab mereka berupaya mengatasi krisis kebutuhan dasar manusia yang sulit ditanggulangi, di tengah-tengah proses
normalisasi wilayah perkotaan berbasis pasar seperti suburbanisasi lapangan kerja (berpindahnya lapangan kerja dengan upah tinggi dari wilayah-wilayah miskin ke daerah pinggir kota yang sudah makmur) yang bisa memperkuat geografi rasial ala apartheid.
Di tengah-tengah transformasi sosial itu terdapat sebuah batu ujian yang penting terhadap praktik kebijakan perkotaan. Ujian yang dimaksud adalah munculnya dua paradigma yang bersaing satu sama lain: paradigma pertama berkaitan dengan kecenderungan rencana tata kota untuk memberlakukan kontrol regulasi; paradigma yang kedua adalah yang bersemangat anti-apartheid, yakni mobilisasi masyarakat yang berkaitan dengan definisi makna pembangunan yang lebih luas. Paradigma yang terakhir inilah yang tengah diusahakan oleh pemerintah lokal Johannesburg, yang merupakan usaha bersejarah untuk menciptakan sistem bimbingan masyarakat dengan memanfaatkan warisan sejarah dan mobilisasi sosial.
Pelajaran Penting
Berbagai tantangan yang hadir di sekitar kasus pengambilan keputusan pemerintah di Belfast, Jerusalem, dan Johannesburg kiranya dapat dijadikan sumber informasi berharga bagi para pengambil kebijakan dan perencana tata kota di seluruh dunia, baik mereka yang bekerja di kota-kota yang dicabik oleh persaingan ideologis serta wilayah-wilayah yang nyaris hancur lebur karena konflik etnis. Beberapa pelajaran serta strategi yang dapat diterapkan tergantung pada konteksnya adalah:
n Mendorong terciptanya kesepakatan antar etnis, bukan politik kekuasaan mayoritas. Membangun demokrasi lokal di dalam suasana yang majemuk dan dililit konflik membutuhkan sikap dan paradigma yang jauh dari demokrasi mayoritas, dan menggantinya dengan prinsip-prinsip yang mempersyaratkan kesepakatan antar etnis untuk berbagai masalah bersama, serta penggunaan insentif-insentif politik yang bisa membangun koalisi. Meksipun kekuasaan PERANAN KEBIJAKAN PUBLIK
mayoritas dapat diterapkan bahkan di lokasi yang diwarnai oleh perbedaan etnis dan ras, di kota-kota yang dipenuhi oleh ketegangan dan kekerasan yang akut, sistem demokrasi yang membangun konsensus mungkin akan lebih tepat.
n Kebijakan kota dan wilayah perkotaan besar artinya di tengah konflik yang lebih besar. Kebijakan pemerintah lokal bisa berdampak meredakan, mengobarkan, atau secara pasif merefleksikan konflik historis yang lebih besar. Ini tergantung strategi yang dipilih, kondisi tata ruang, ekonomi, dan psikologis beserta segala kontradiksi yang ditimbulkannya di wilayah yang bersagkutan, serta kualitas organisasi dan mobilisasi kelompok-kelompok oposisi. Perencanaan tata kota model partisan hanya akan memperburuk konflik antar kelompok, dan jika dilihat dari dampak ketidakadilan dan instabilitas wilayah perkotaan yang ditimbulkannya, tentu kelanjutan penggunaan model partisan ini pantas dipertanyakan. Pengambikan kebijakan yang netral hanya menghentikan perseteruan dalam jangka pendek, namun tetap mengandung potensi unsur kekerasan dan sulitnya mendamaikan visi masing-masing kelompok etnis yang berseberangan.
n Pengambilan kebijakan yang bersifat adil dan merata merupakan komponen pengambilan kebijakan yang penting. Pengambilan kebijakan yang mengupayakan pemerataan dan keadilan, yang di dalamnya mencakup redistribusi sumber daya kepada kelompok-kelompok miskin yang tersisih, merupakan komponen penting proses pengambilan keputusan oleh pemerintah kotapraja. Namun ada kecenderungan langkah ini menjadi kontraproduktif jika mengabaikan unsur-unsur negosiasi mengenai kedaulatan kelompok dan kontrol politik. Pengambilan keputusan yang dapat membawa penyelesaian masalah yakni kebijakan- kebijakan yang ditujukan untuk mencegah dan mengatasi konflik sangat diperlukan, dan cakupannya bukan hanya terbatas pada gejala konflik di daerah kota, melainkan mencapai akar utama penyebab segala konflik yang ada. Model kebijakan seperti ini harus diarahkan untuk bisa menampung berbagai kebutuhan kelompok etnis yang mungkin saling bertentangan, dan mendukung prinsip-prinsip kebijakan perkotaan yang memungkinkan dilakukannya negosiasi pada tingkat nasional untuk membahas klaim kedaulatan, struktur sosial yang mendasar, serta hubungan kekuasaan.
n Sikap netral belum tentu adil dalam mengelola kota-kota yang diperebutkan pihak- pihak bertikai. Sikap netral dan buta warna (color-blindness) dalam membuat kebijakan, apabila diterapkan pada masyarakat perkotaan yang didera ketimpangan struktural, tidak akan membuahkan hasil yang adil. Pemerintah sebaiknya tidak berlagak sebagai pihak luar yang netral dalam menghadapi konflik etnis. Pemberian peluang yang adil tidaklah cukup apabila pilihan-pilihan hidup
KEMAJEMUKAN DAN DEMOKRASI
seseorang berbenturan dengan harapan dan tindakan kolektif masyarakat. Pada kasus lain, tuntutan yang sekilas sama dalam tuntutan kepemilikan tanah atau pembangunan bisa saja membuahkan efek yang berbeda pada berbagai kultur yang memiliki nilai dan adat tradisi yang berlainan.
n Sasaran dari kebijakan perkotaan mestinya adalah memberikan akomodasi, bukannya menciptakan asimilasi yang memaksa orang melepaskan identitas atau akar budaya mereka. Para pembuat kebijakan perkotaan mestinya menyuburkan keanekaragaman etnis dan warna kulit, bukan menyeragamkan atau menghilangkan kemajemukan itu. Para pembuat keputusan harus memberi wahana bagi kebutuhan unik setiap kelompok etnis. Karenanya, strategi-strategi kebijakan perkotaan harus diarahkan pada opsi hidup bersama dari semua kelompok etnis yang memiliki tujuan dan kebutuhan psikologis berlainan, serta harus bisa mendefinisikan cara menjalani hidup di wilayah perkotaan atau metropolitan secara berdampingan melalui kontrol territorial, penyediaan pelayanan umum, serta upaya-upaya pelestarian identitas kelompok.
n Mengelola partisipasi masyarakat di lokasi konflik dengan hati-hati. Para pengambil keputusan perkotaan harus mencari cara menyeimbangkan pembangunan masyarakat di dalam kelompok dengan hubungan masyarakat antar komunitas. Kebijakan yang dijalankan harus bisa meningkatkan dan memupuk rasa percaya diri komunitas-komunitas pinggiran seraya mencegah tumbuhnya kelompok atau daerah miskin atau perpecahan antar kelompok.
n Mengenali kebutuhan-kebutuhan psikologis antar kelompok masyarakat. Para pembuat kebijakan harus memikirkan aspek-aspek psikologis dari identitas masyarakat dalam menyusun perencanaan yang biasanya hanya berorientasi pada metode-metode yang obyektif dan rasional. Sebuah kelompok etnis yang sedang mengalami ancaman tetap memiliki kebutuhan psikologis maupun obyektif. Konflik akan semakin mengemuka apabila ada sebuah kelompok yang maju, sementara kelompok lain kian terbelakang. Bagi sebuah kelompok etnis yang tengah menghadapi suatu ancaman, kebutuhan psikologis yang berkaitan dengan kelangsungan hidup, identitas kelompok, serta simbolisme kebudayaan mereka tentu sama pentingnya dengan kebutuhan-kebutuhan obyektif yang berkaitan dengan tanah, pemukiman, dan peluang-peluang ekonomis lainnya.
n Perbedaan etnis mestinya diantisipasi, dikenali, dan dihargai. Pengambil kebijakan dan para perencana di kota-kota yang diperebutkan harus bisa menangani atribut- atribut tata ruang, psiko-sosial, dan organisasional yang kompleks dari berbagai komunitas penduduk kota yang potensial saling bertentangan. Para pemikir itu harus peka terhadap lingkungan multi-etnis tempat mereka mempraktikkan keterampilan mereka, serta peka terhadap cara-cara kelompok masyarakat binaan PERANAN KEBIJAKAN PUBLIK
PERANAN KEBIJAKAN PUBLIK
mereka melegitimasi dan menggunakan kekuasaan mereka. Secara khusus, pengambilan keputusan yang menyentuh masyarakat di dalam metode analisis dan keputusannya secara eksplisit memperhitungkan pentingnya identitas komunitas etnis, kewilayahan mereka, dan simbolisme yang melekat di dalam lanskap perkotaan tempat mereka hidup. Pelatihan dan pendidikan pejabat pemerintahan lokal serta tenaga administrasi melalui organisasi-organisasi profesional dan forum antar komunitas harus dapat mempersiapkan mereka agar dapat mengatasi isu-isu kompleks pembangunaan kota di tengah-tengah perbedaan etnis.
n Mengusahakan terjalinnya hidup berdampingan, bukan integrasi semata.
Pengambilan keputusan untuk masyarakat kota harus dilakukan dengan menghormati teritorialitas etnis yang merupakan cikal bakal identitas masyarakat yang sehat, sekaligus mengatasi batas teritorial etnis yang bisa mendistorsi fungsio masyarakat perkotaan dan menghambat hubungan antar komunitas.
Perpecahan pada wilayah perkotaan dapat menyemaikan kebencian. Mempelajari stereotip akan lebih mudah jika anda tidak mengenal orang lain. Namun anda akan kesulitan membenci orang kalau berinteraksi dengan mereka. Pagar dan batas (baik fisik maupun psikologis) di wilayah perkotaan memiliki dua dampak:
memberi rasa aman, sekaligus memperkuat citra orang lain sebagai sumber ancaman. Karenanya, tujuan kebijakan perkotaan janganlah semata-mata mengintegrasikan masyarakat, melainkan menciptakan kehidupan sosial yang memiliki daya serap tinggi, di mana masyarakat yang majemuk bisa hidup saling berdampingan, di mana komunitas-komunitas etnis itu bisa saling berinteraksi, jika mereka menghendaki.
n Normalisasikan kondisi perekonomian dan menindaklanjuti keluhan. Di dalam upaya merekonstruksi wilayah perkotaan yang diwarnai konflik, peranan sektor pemerintah, swasta, dan badan-badan non-pemerintah harus diartikulasikan dengan jelas pada setiap proses normalisasi. Normalisasi wilayah perkotaan yang rusak parah oleh konflik harus menggarisbawahi berbagai kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup kelompok-kelompok masyarakat yang semula terpuruk, dan bukan semata-mata bersandar pada sistem ekonomi pasar yang hanya akan menciptakan kesenjangan baru. Selama masa rekonstruksi daerah perkotaan, para pejabat lokal harus benar-benar peka dan tanggap pada segala kemungkinan dampak yang ditimbulkan oleh tindakannya terhadap pembangunan perkotaan, serta senantiasa mengupayakan kebijakan-kebijakan yang mendorong hidup saling berdampingan, saling berbagi, serta normalisasi kehidupan politik dengan cara yang mencerminkan kondisi psikologis, emosi, dan