• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desentralisasi

T IGA S TUDI K ASUS

2.4 Desentralisasi

keputusan sulit diambil oleh anggota dewan kota dan manajer kota, meskipun peranan walikota masih dipandang sangat penting. Kota-kota yang masuk ke dalam kategori ini sering tergantung struktur pemerintahan distrik atau negara bagian dalam hal pendapatan daerah dan penyediaan pelayanan kepada masyarakat.

Desa (penduduk kurang dari 5.000 jiwa). Desa-desa cenderung menampilkan ciri atau struktur pemerintahan yang tradisional dan kerap menginduk ke dalam wilayah pemerintahan yang lebih luas. Organisasi pemerintahan di desa memungkinkan dilaksanakannya partisipasi langsung para warga masyarakat secara maksimal. Akan tetapi, aspek-aspek praktis dari demokrasi di desa-desa itu mungkin mirip dengan peranan dewan rukun kampung yang ada di megacity.

Maksudnya, ukuran boleh jadi merupakan faktor penting, namun definisi perpolitikan lokal boleh jadi lebih ditentukan oleh tingkat pelimpahan kekuasaan kepada pejabat tertentu ketimbang oleh ukuran aktual dari sebuah arena metropolitan.

MENDESAIN SISTEM DEMOKRASI LOKAL

pribadi, aktor-aktor penguasa, kelembaman dari institusi-institusi yang ada, serta kurangnya niat untuk melakukan perubahan. Pemerintah lokal sering berpendapat bahwa desentralisasi banyak terhambat oleh sikap pemerintah pusat yang memotong dan menafikan ororitas pemerintah lokal. Sebaliknya pemerintah pusat sering menganggap desentralisasi akan mengikis otoritas dan kekuasaan pemerintahan nasional yang berkewajiban mengambil kebijakan sulit demi kebaikan seluruh bangsa (yang kerap mengorbankan aktor lokal).

Di antara isu-isu terpenting seputar desentralisasi adalah:

n Hubungan hirarkis. Interaksi di antara tingkat pemerintah nasional, regional, propinsi, dan kotapraja.

n Kompetensi dan otoritas. Seberapa jauh keputusan-keputusan terpenting menyangkut sebuah isu kebijakan harus ditetapkan dan seberapa besar tingkat tanggung jawab yang diemban masing-masing tingkat pemerintah dalam pelaksanaan/implementasi kebijakan itu.

n Otonomi politik. Apakah suatu keputusan dapat diambil di tingkat lokal tanpa adanya pengaruh, campur tangan, atau bantuan dari lapisan pemerintahan lainnya?

n Independensi judisial dan otonomi hukum. Seberapa jauh lembaga-lembaga dan proses hukum mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah lokal.

n Arus keuangan dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan. Dimensi- dimensi keuangan pada pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pendapatan pemerintah dan perpajakan.

n Pemerintahan kooperatif. Struktur dan proses yang menyelaraskan pelaksanaan pemerintahan (secara vertikal, baik melalui pendekatan dari atas ke bawah atau top-down, maupun dari bawah ke atas atau bottom-up) atau secara horisontal (secara lintas sektoral di berbagai tingkat pemerintahan).

n Lapisan dan tingkatan partisipasi. Seberapa jauh partisipasi warga di berbagai tingkat pemerintahan dapat menghasilkan atau mempengaruhi pengambilan keputusan pada tingkat pemerintahan yang lain.

Kasus desentralisasi dan partisipasi warga masyarakat di Filipina, yang merupakan salah satu gerakan demokrasi baru di dunia berkembang, dapat dijadikan contoh sangat bagus yang menunjukkan betapa interaksi antara desentralisasi dan demokratisasi dapat memberi manfaat bagi seluruh bangsa dan negara. Seperti yang nanti akan dipaparkan oleh Proserpina Tapales dalam laporan studi kasus, desentralisasi di Filipina dapat dikatakan sebagai hasil eksperimen yang sangat berhasil. Program desentralisasi itu, seperti tertuang dalam Peraturan Pemerintah Lokal tahun 1991, menetapkan badan-badan khusus di berbagai tingkat pemerintahan yang berfungsi merespon berbagai isu menyangkut kebijakan publik,

misalnya kebutuhan penduduk lokal akan sarana kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan pembangunan ekonomi. Salah satu keberhasilan yang dipetik adalah digunakannya metode-metode untuk mengevaluasi efektivitas berbagai tingkat pemerintahan dalam menyediakan pelayanan kepada publik. Namun, inovasi utama yang dipandang spektakuler adalah diperkenalkannya (untuk yang pertama kali) cara-cara praktis meningkatkan peran serta warga masyarakat; langkah- langkah itu telah menciptakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk secara langsung belajar cara bekerja sama dalam mengatasi berbagai masalah yang berkembang di tengah masyarakat.

Kelebihan

Pemerintahan yang otonom (self-government). Di dalam sistem pemerintahan yang terdesentralisasi, banyak keputusan diambil pada tingkat pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat bawah, sehingga mendukung terwujudnya pemerintahan yang otonom, mandiri, dan memaksimalkan nilai-nilai demokratis berupa peran serta, penyertaan (inclusion) masyarakat, dan terjaminnya akuntabilitas pemerintah.

Pluralisme demokrasi. Kecil kemungkinan sebuah partai politik bisa mengendalikan seluruh sistem pemerintahan suatu negara; desentralisasi merupakan cara yang kondusif untuk mewujudkan pluralisme demokratis.

Efisiensi ekonomis. Desentralisasi dapat meningkatkan efisiensi ekonomi manakala kemitraan yang erat antara pemerintah dan kegiatan atau usaha-usaha yang produktif dapat diwujudkan.

Sasaran regional. Mandat-mandat regional dapat dengan mudah dirumuskan dan diimplementasikan apabila dilakukan pelimpahan kekuasaan atau wewenang kepada pemerintah daerah.

Kemitraan efektif. Sistem pemerintahan lokal bisa meningkatkan fleksibilitasnya dalam menjalin kemitraan di antara para perumus kebijakan yang paling efektif dengan pihak pelaksana (misalnya organisasi nonpemerintah lokal).

Kekurangan

Secara ekonomis tidak efisien. Banyak pihak yang menilai desentralisasi sebagai kegiatan yang secara ekonomis tidak efisien dikarenakan berkurangnya kemampuan pemerintah pusat untuk mengkoordinasikan dan mengimplementasikan kebijakan ekonomi nasional.

Kelebihan dan Kelemahan Desentralisasi Ikhtisar 7

MENDESAIN SISTEM DEMOKRASI LOKAL

Kurangnya standar umum. Desentralisasi menyebabkan kemerosotan standar umum pada wilayah-wilayah yang terdesentralisasi, sehingga membuka peluang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di daerah untuk mendominasi secara lebih terbuka.

Perbedaan ekonomi dan sosial. Akan muncul disparitas atau kesenjangan ekonomi dan sosial yang lebar antar berbagai wilayah, yang bisa membuat suatu kota atau daerah bangkrut atau jatuh miskin.

Kesenjangan sumber daya. Pada berbagai kondisi, desentralisasi hanya memberikan otoritas legal tanpa disertai sumber daya yang nyata, dan akibatnya desentralisasi akan gagal total.

Hambatan terhadap partisipasi warga. Kadang-kadang, munculnya terlalu banyak lapisan pengambilan keputusan dan birokrasi, serta menjamurnya berbagai tingkat pemerintah resmi justru menciptakan hambatan baru bagi keterlibatan/peranserta organisasi masyarakat dan warga masyarakat.

Lemahnya kesatuan nasional. Desentralisasi dapat memperlemah kesatuan bangsa yang berakibat pada lunturnya kesetiaan pada negara dan secara potensial mendorong gerakan-gerakan separatis dan kecenderungan untuk makar.