• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Pertanyaan Tentang Penelitian Kualitatif

Dalam dokumen METODE PENELITIAN KUALITATIF (Halaman 38-41)

PEMBAHASAN

B. Dasar Penelitian Kualitatif 1. Karakteristik Penilaian Kualitatif

2. Beberapa Pertanyaan Tentang Penelitian Kualitatif

Sebagaimana telah disebutkan bahwa penelitian kualitatif berkembang sebagai sebuah metode penelitian dalam konteks permasalahan tentang fenomena sosial, budaya, dan tingkah laku manusia. Dalam ilmu-ilmu fisik- kealaman, penelitian kualitatif tidak dikenal; yang dikenal adalah penelitian laboratoris-eksperimental. Semangat penelitian laboratoris-eksperimental tersebut (yang dalam ilmu-ilmu alam membuahkan hasil menakjubkan, dan telah berkembang ratusan tahun lamanya sebelum ilmu-ilmu sosial mulai berkembang) kemudian mewarnai pemikiran Auguste Comte (1798-1857) yang dikenal sebagai bapak sosiologi itu, Comte juga dikenal sebagai pelopor pandangan filsafat positivisme (salah satu pandangan filsafat yang berkembang dari empirisme) yang mengagungkan semangat penelitian ekperimental-laboratoris dalam mempelajari masyarakat. Sebab, masyarakat manusia juga dianggap mempunyai sifat universalistis dan mekanistis sebagaimana halnya objek ilmu-ilmu kealaman sehingga dapat dipecah- pecah kedalam variabel-variabel, bisa diukur dan dikuantifikasikan, serta dapat secara objektif dan terkendali diperiksa hubungan sebab akibat antar variabel. Dalam perkembangannya, pandangan posivifistik Comte menjadi sandaran metode ilmiah “logika deduktif-hipotesis”.

Paradigma positivistik tersebut amat kuat dan luas mempengaruhi konsep metode ilmiah dan bahkan konsep ilmu pengetahuan itu sendiri;

termasuk di dalamnya konsep penelitian ilmiah dan bagaimana penelitian ilmiah itu harus dilakukan. Dalam hubungan inilah, kemudian muncul beberapa pertanyaan yang biasanya diajukan dalam penelitian kualitatif.

Dalam karya Bogdan dan Biklen disebutkan ada delapan pertanyaan yang biasa diajukan tentang penelitian kualitatif, seperti berikut ini:

a. Apakah penelitian kualitatif benar-benar ilmiah?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut sangat bergantung pada konsep penelitian ilmiah itu sendiri. Jika penelitian ilmiah didefinisikan sebagai “penelitian empiris yang dilakukan secara sistematis dan ketat”

(rigorous and systematic empirical inquiry), atau sebagai disciplined inquiry, maka penelitian kualitatif jelas tergolong ilmiah. Definisi tersebut jauh lebih mengena dan realistis daripada mempersempitnya menjadi “metode deduktif dan pengujian hipotesis”

b. Dapatkah temuan penelitian kualitatif digeneralisasikan?

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut juga bergantung pada konsep generalisasi itu sendiri. Jika pengertian generalisasi itu menunjuk pada “generalisasi yang bebas konteks dan waktu” (time and context-free generalizations), sebagaimana yang biasa dipakai oleh mereka yang menggunakan paradigma positivistik, maka temuan penelitian kualitatif memang tak dapat digeneralisasikan. Yang jelas, hasil penelitian kualitatif dapat secara cerdik ditransfer (transferable) keberlakuannya oleh siapapun pada latar lainnya yang setipologi dengan latar yang telah diteliti, dalam arti transferability generalicity, jawabannya ya.

c. Apakah dua peneliti yang berbeda dapat menghasilkan temuan-temuan yang sama mengenai suatu latar atau subjek yang sama?

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep reliabilitas dalam khasanah penelitian kuantitatif.dalam hubungan ini, peneliti-peneliti kualitatif sesungguhnya tak dapat dipaksa untuk memenuhi harapan tersebut. Sebab, masing-masing peneliti tentunya mempunyai variasi minat dan tekanan tinjauannya yang lazimnya berbeda-beda pula, sejalan dengan perbedaan latar belakang masing-masing peneliti. Yang menjadi kepedulian utama peneliti kualitatif terletak pada keakuratan dan kekomprehensifan data yang mereka kumpulkan. Peneliti kualitatif cenderung mengartikan reliabilitas sebagai “kecocokan antara data yang mereka rekam dengan apa yang sesungguhnya terdapat/terjadi pada latar yang distudinya”, bukan mengartikannya secara harfiah atau literal, sebagaimana lazimnya diartikan di kalangan peneliti kuantitatif.

d. Bagaimana tentang opini, prasangka, dan bias peneliti beserta efeknya terhadap data?

Peneliti kualitatif menghargai bahwa dirinya subjektif menurut kodratnya (acknowledge that they are subjective by nature), sebagaimana halnya semua orang, termasuk semua peneliti manapun. Dalam pandangan

peneliti kualitatif, subjektivitas diperlukan untuk memahami subjektivitas orang-orang yang sedang ditelitinya. Dalam hubungan ini, peneliti-peneliti kualitatif menggunakan berbagai teknik untuk tetap terjaganya kegiatan mereka sebagai disciplined inquiry yang memenuhi standar, misalnya melalui teknik-teknik confirmability dan dependability.

e. Tidakkah kehadiran peneliti bisa mengubah tingkah laku orang-orang yang sedang diteliti?

Masalah efek kehadiran pengamat (observer effect) sesungguhnya terdapat pada semua penelitian sosial (dan mungkin juga pada apa yang selama ini dianggap sebagai “ilmu-ilmu keras”). Persoalan tersebut oleh peneliti-peneliti kualitatif diatasi dengan jalan mengembangkan iklim interaksi yang sewajar mungkin dengan orang-orang yang sedang mereka teliti, dan itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

Peneliti juga menelaah dirinya sendiri sebagai instrumen utama penelitian, yaitu untuk menghitung seberapa banyak penampilan dirinya memberikan efek pada kewajaran latar penelitian. Beberapa teknik yang tercakup dalam standar kredibilitas juga mengarah pada peniadaan “efek pengamat” dalam proses penelitian kualitatif.

f. Di manakah letak perbedaan penelitian kualitatif dengan yang dilakukan orang lain seperti guru, wartawan, atau seniman?

Meskipun orang-orang seperti guru, wartawan, dan seniman juga melakukan hal-hal yang serupa dengan penelitian kualitatif (seperti melakukan wawancara, mengobservasi, mengkreasi sesuatu, menulis, dan sebagainya), tetapi peneliti-peneliti kualitatif melakukannya dalam kerangka disciplined inquiry dan dengan tujuan yang berbeda. Sebagai kegiatan disciplined inquiry, terdapat persyaratan standar yang harus dipenuhinya yang dalam penelitian kualitatif setidak-tidaknya harus memenuhi persyaratan kredibilitas, transfermabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas.

g. Dapatkah penelitian kualitatif dan kuantitatif digunakan bersama-sama dalam suatu penelitian?

Meskipun data kuantitatif dan data kualitatif jelas dapat digunakan bersama-sama, dan beberapa peneliti menggunakan

rancangan/prosedur pengumpulan data secara kuantitatif dan kualitatif, sangat disarankan supaya peneliti pemula tidak menggabungkannya secara bersama dalam satu kegiatan/projek penelitian. Dan, yang lebih penting lagi, mengingat paradigma metodologinya sangat berbeda satu dengan yang lain, rasanya mustahil ia bisa menyatukannya secara sempurna dalam “satu rumah”. Salah satunya akan kurang memadai terperhatikan persyaratan standarnya atau bahkan kedua-duanya.

h. Bagaimanakah perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif?

Pertanyaan tersebut telah cukup banyak dijawab dijawab para ahli dengan mengkontraskan satu dengan yang lain. Mulai dari asumsi- asumsinya hingga kepersoalan-persoalan teknis kemetodean dalam penelitian. Untuk membedakan kedua jenis penelitian ini akan dibahas pada sub bab tersendiri.

Dalam dokumen METODE PENELITIAN KUALITATIF (Halaman 38-41)