PEMBAHASAN
G. Rencana Pengujian Keabsahan Data
IV. JADWAL PENELITIAN
Pada umumnya penelitian kualitatif memerlukan waktu yang relatif lama, antara 6 bulan sampai 24 bulan. Untuk itu perlu direncanakan jadwal pelaksanaan penelitian. Jadwal penelitian berisi aktivitas yang yang dilakukan dan kapan akan dilakukan. Berikut ini diberikan contoh rencana jadwal penelitian kualitatif.
CONTOH JADWAL PENELITIAN KUALITATIF
No Kegiatan Bulan ke:
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Penyusunan Proposal √
2 Diskusi Proposal √
3 Memasuki lapangan, grand tour, dan minitour question, analisis domain
√ √
4 Menentukan fokus.
Minitour question, analisis taksonomi
√ √
5 Tahap selection, structural question, analisis komponensial
√ √ √
6 Menentukan tema, analisis utama
√ √
7 Uji keabsahan data √ √
8 Membuat draf laporan penelitian
√ √
8 Membuat draf laporan
penelitian √ √
9 Diskusi draf laporan √ √
10 Penyempurnaan
laporan √ √
Contoh Proposal Penelitian Kualitatif
Judul
MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH PADA SMA NEGERI 1 MATARAM
Oleh
Yudin Citriadin
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN Agustus 2005
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan pergeseran paradigma sistem kebijakan, dari sentralistik menjadi sistem desentralistik. Dengan perubahan paradigma ini, maka seluruh sektor pemerintahan harus menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan yang berkembang dalam masyarakat.
Sektor pembangunan yang didesentralisasikan telah di atur dalam pasal 11 ayat (2) yang menetapkan 11 bidang yang wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten/kota. Salah satu di antaranya adalah bidang pendidikan.
Satuan pendidikan sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat harus menyediakan sumber belajar. Dalam penjelasannya dinyatakan bahwa pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik apabila para tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Salah satu sumber belajar tersebut adalah perpustakaan.
Perpustakaan sebagaimana halnya suatu institusi harus dikelola secara profesional sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen. Manajemen sangat diperlukan dalam suatu organisasi termasuk dalam organisasi perpustakaan sekolah karena manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan. Terlaksananya fungsi-fungsi manajemen dalam organisasi
perpustakaan sekolah tentunya akan berdampak positif terhadap pencapaian tujuan perpustakaan sekolah.
Namun selama ini banyak sekolah belum mampu melaksanakan fungsi manajemen sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan tujuan yang diinginkan sulit tercapai karena pelaksanaannya tidak mempunyai panduan yang jelas, perpustakaan cenderung kurang dikelola dengan baik. Pendapat ini merupakan hasil survey yang dilakukan oleh Natadjumena (1991) yang mengungkapkan bahwa manajemen perpustakaan sekolah belum dilakukan secara profesional.
Untuk dapat mengelola perpustakaan sekolah secara profesional haruslah menempatkan petugas-petugas yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan selain sebagai pendidik juga mempunyai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang perpustakaan. Kedua kemampuan ini sangat diperlukan mengingat perpustakaan sekolah berperan sebagai salah satu sumber belajar di sekolah.
Kurang profesionalnya mengelola perpustakaan antara lain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan petugas pengelola perpustakaan sekolah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Kalimantan Timur (2000) tenaga terampil pengelola perpustakaan sekolah sangat terbatas.
Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah mempunyai peran yang sangat penting bagi perpustakaan sekolah. Kepala sekolah haruslah memberikan perhatian terhadap perkembangan perpustakaan sekolah sebagai mana perhatiannya terhadap komponen-komponen lain di sekolah.
Perhatian kepala sekolah diwujudkan berupa kebijakan-kebijakan yang medukung proses pencapaian tujuan perpustakaan sekolah yang juga berinteraksi dengan tujuan pendidikan khususnya tujuan sekolah sebagai lembaga induk perpustakaan sekolah.
Menurut hasil penelitian Badan Perpustakaan Nasional (1992) keberadaan dan kegiatan perpustakaan sekolah sangat tergantung kepada sikap kepala sekolah, karena kepala sekolah yang memegang kebijakan dan pendanaan. Perhatian kepala sekolah yang kurang terlihat dari minimnya kebijakan yang mendukung pelaksanaan pengembangan perpustakaan sekolah.
Untuk dapat melayani warga sekolah terhadap kebutuhan sumber belajar dan layanan akan informasi, maka perpustakaan dituntut untuk menyediakan komponen koleksi yang menunjang, memperlancar dan meningkatkan kualitas pelaksanaan kurikulum sekolah dan pendidikan secara umum. Agar dapat memberikan layanan untuk mencapai tujuan perlu didukung dengan berbagai jenis koleksi. Koleksi dapat meliputi bahan- bahan pustaka yang berbentuk buku juga dilengkapi dengan bahan non buku, seperti koran, majalah, kliping, bahkan dapat juga alat pandang
dengar seperti kaset tape, kaset video, cd, slide projector, jaringan keinternet, televisi dan sebagainya.
Sedangkan kondisi yang ada koleksi perpustakaan sekolah cenderung sedikit, kalaupun ada lebih banyak pada buku-buku paket materi pelajaran. Sedangkan jenis koleksi lainya seperti koran, majalah juga relatif sedikit dan tidak kontinyu, demikian juga dengan perlengkapan alat pandang dengar.
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. Perpustakaan sekolah secara bersama- sama dengan komponen pendidikan lainnya turut meningkatkan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran.
Pada kenyataannya perpustakaan belum dapat berfungsi sebagai sumber belajar, perpustakaan seolah-olah berdiri sendiri tanpa keterkaitan untuk peningkatan mutu dalam proses belajar mengajar. Guru belum dapat menggunakan sarana penunjang tersebut untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, sehingga siswapun kurang terbiasa untuk belajar secara mandiri dengan mempergunakan fasilitas perpustakaan. Keterbatasan koleksi membuat guru tidak maksimal menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sarana untuk memperdalam disiplin ilmu maupun menambah pengetahuan.
Melihat dari uraian di atas perpustakaan sekolah sebagai organisasi memerlukan pengelola yang paham tentang perpustakaan baik dari segi manajerial maupun fungsi sebagai pustakawan. Pengelola ataupun pimpinan yang mempunyai kemampuan manajerial tentunya memperhatikan kemampuan fungsional.
B. Fokus Penelitian
Bertitik tolak dari latar belakang di atas maka dirumuskan focus penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana perencanaan program pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
2. Bagaimana pengorganisasian pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
3. Bagaimana penggerakan pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
4. Bagaimana pengawasan pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
C. Tujuan Penelitian.
Tujuan penelitian ini adalah menelaah secara empiris pelaksanaan manajemen perpustakaan sekolah. Lebih terperinci tujuan ini untuk mengetahui:
1. Perencanaan program pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
2. Pengorganisasian pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
3. Penggerakan pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?
4. Pengawasan pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Mataram?