BAB IV GAMBARAN DAN HISTORIS PENELITIAN
D. Bentuk interaksi masyarakat
Meskipun Moncongloe Bulu adalah daerah kawasan Industrialisasi program pemekaran kota Makasar namun Bentuk interaksi yang masyarakat gunakan masih bercorak interaksi pedesaaan.
Interaksi sosial merupakan proses dasar dan pokok dalam setiap masyarakat, dimana sifat-sifat masyarakat sangat dipengaruhi oleh tipetipe utama interaksi yang berlangsung di dalamnya. Proses sosial berpangkal pada interaksi sosial.
Pengertian interaksi adalah hubungan yang sifatnya ada timbale balik. Pengertian interaksi sosial, yaitu bentuk hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok kelompok manusia, atau antara perorangan dengan kelompok manusia ( Soerjono S., 2003). Aktifitas- aktifitas yang merupakan bentuk intraksi sosial, misalnya apabila ada dua orang bertemu, mereka saling menegur, berjabat tangan, mengadakan pembicaraan, dan sebagainya. Apabila dua orang bertemu, tetapi tidak terjadi tatap muka apalagi mengadakan pembicaraan,tandanya tidak terjadi interaksi. Di sisi lain, apabila ada pertemuan dua orang masing-masing tidak bertegur sapa, akan tetapi ada kesan tersendiri karena ada yang menyebabkan perubahan perasaan berkaitan dengan kesan seseorang seperti wangi badan, pakaian yang rapih, maka dikatakan telah
yang menimbulkan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan kemudian.
Beberapa faktor yang menjadi dasar bagi berlangsungnya suatu interaksi sosial adalah:
1. Imitasi 2. Sugesti 3. Identifikasi 4. Simpati
Faktor imitasi berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan. Sisi positif dari suatu imitasi adalah dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Sisi negatif dari imitasi adalah tindakan-tindakan yang menyimpang yang ditiru atau imitasi dapat melemahkan pengembangan kreasi seseorang. Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberikan suatu pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya, kemudian diterima oleh pihak lain. Sisi negatif berlangsungnya sugesti apabila pihak yang menerima dilanda oleh emosi, hal ini akan menghambat daya pikir seseorang secara rasional. Faktor identifikasi merupakan kecenderungan- kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, oleh karena itu kepribadian seseorang dapat dibentuk atas dasar proses ini. Proses indentifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya atau disengaja karena seseorang memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya.
Proses simpati sebenarnya merupakan proses dimana seseorang merasa tertarik
walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya. Dalam proses identifikasi sesuatu terjadi karena didorong keinginan untuk belajar dari pihak lain yang kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kelebihan atau kemampuan tertentu yang patut dicontoh, sedangkan dalam proses simpati berkembang kearah pengertian yang mendalam diantara mereka. Kedua proses ini sama-sama diawali oleh imitasi dan sugesti.
Dalam Konteks kajian kemudian dilihat masyarakat desa dalam hal ini Moncongloe bulu yang Berbatas dengan kelompok militer dan melakukan Interaksi sosial sehari-hari maka dapat dilihat proses interaksi antara kelompok Militer dengan Kelompok Sipil melahirkan Bentuk Interaksi Identifikasi dimana masyarakat sipil memiliki dorongan untuk menjadi sama seperti kelompok Militer yang disebabkan oleh beberapa factor-faktor, factor-faktor inilah yang akan dibahas dalam penelitian ini.
Kemudian Kegiatan sosial kemasyarakatan semakin berkembang di tengah masyarakat yang dapat diartikan bahwa kesejahteraan sosial penduduk relatif meningkat. Karang Taruna sebagai wadah pembinaan generasi muda, PKK/Arisan, gotong royong, Gudep Pramuka dan majelis taklim merupakan aktivitas yang masih sering dilakukan di masing-masing desa se Kecamatan Moncongloe.
Bila membicarakan kegiatan ekonomi, maka istilah ’kegiatan’ diartikan sebagai suatu proses. Dengan kata lain, suatu kegiatan ekonomi terjadi bila
dan teknik produksi dikombinasikan untuk menghasilkan barang dan jasa tertentu.
Jadi, kegiatan ekonomi ditandai dengan adanya suatu input, suatu proses produksi dan suatu output. Menurut konvensi, suatu kegiatan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang mengkombinasikan berbgai sumber-sumber produksi untuk menghasilkansatu set barang-barang yang homogen.
Ada tiga aspek yang diuraikan berkaitan dengan penduduk usia kerja ini, yaitu pembagian penduduk yang bekerja menurut sektor/lapangan usaha, jenis pekerjaan, dan status pekerjaan. Pada aspek yang berkaitan dengan sektor pekerjaan penduduk akan diuraikan perkembangan tentang pergeseran tenaga kerja dari sektor agraris ke non-agraris (industri dan jasa).
Analisis mengenai kegiatan penduduk menitik-beratkan pada alokasi angkatan kerja menurut sektor, trend perpindahan dari sector pertanian ke sektor lain, dan penyebab perpindahan tersebut. Perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri disoroti para ekonom untuk menghitung peningkatan produktivitas dan pendapatan angkatan kerja. Pembagian penduduk yang bekerja dan perkembangannya menurut sektor sering dianalisis dengan membedakan tiga sektor pokok: sektor A (pertanian), sektor M (termasuk pertambangan, industri, bangunan, listrik, air, pengangkutan dan perhubungan), dan sektor S (perdagangan dan jasa). Menurut beberapa teori ekonomi, pembangunan biasanya disertai dengan perpindahan tenaga kerja dari sektor A ke sektor M dan S. Keberhasilan strategi pembangunan sering dikaitkan dengan kecepatan pertumbuhan sektor M yang dianggap berkaitan dengan peningkatan produktivitas angkatan kerja.
menunjukkan bahwa sektor ekonomi masih dominan dalam menyerap tenaga kerja. Walaupun peranan sektor pertanian dalam menampung penduduk yang bekerja makin lama semakin menurun namun penurunan tersebut tidak signifikan dalam merubah struktur ekonomi Kecamatan Moncongloe ke arah struktur yang membawa keseimbangan antara sektor pertanian dan sektor industri. Peranan sektor pertanian masih lebih banyak dibandingkan dengan peranan sektor industri pengolahan/manufaktur. Jika dikaitkan dengan Produktivitas tenaga kerja, ini berarti produktivitas tenaga kerja di Kecamatan Moncongloe rata-rata masih rendah, karena sektor pertanian umumnya dapat disimpulkan bahwa kualitas penduduk belum meningkat secara berarti.
Banyaknya usaha menurut lapangan usaha/sektor di Kecamatan Moncongloe antara lain ; Pertambangan dan penggalian tidak ada usaha, industri pengolahan sebanyak 69 usaha, eceran sebesar 672 usaha, Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi sebanyak 50 usaha, Penyediaan Akomodasi dan Penyediaan Makan Minum 43 usaha , Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan Perorangan lainnya sebesar 28 usaha disusul Jasa Pendidikan sekitar 20 usaha, dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebanyak 8 usaha.
Untuk lapangan usaha Real estat, usaha Persewaan dan Jasa Perusahaan sebanyak 3 usaha, Perantara Keuangan 2 usaha sedangkan Konstruksi 1 usaha.
1) Saranan dan Prasarana Pendidikan
Peranan pendidikan bagi suatu negara/daerah sangat menentukan, dalam rangka mencapai kemajuan di suatu negara bidang kehidupan, utamanya
untuk memperoleh dan menggunakan informasi, maka pendidikan memperdalam pemahaman seseorang atas diri pribadinya dan lingkungannya, memperkaya kecerdasan pikiran dengan memperluas baik konsumen, produsen, maupun sebagai warga negara. Pendidikan memperkuat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan keluarga melalui peningkatan produktivitas dan potensi untuk mencapai standar hidup yang tinggi. Dengan meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan seseorang mencipta dan menemukan inovasi baru, pendidikan akan melipatgandakan prestasi perorangan maupun prestasi masyarakat.
Kenyataan membuktikan bahwa pendidikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan dengan demikian memungkinkan sasaran lain dari pembangunan yang akan dicapai. Dalam kaitan itu tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator dari kualitas penduduk. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kecamatan Moncongloe dewasa ini adalah Sekolah Dasar Negeri sebanyak 9 buah, Sekolah Dasar Sarana Inpres sebanyak 3 buah, Sekolah Menengah Negeri sebanyak 3 buah, Swasta sebanyak 2 buah, Sekolah Menengah Umum Swasta 3 buah dan Sekolah Madrasah Ibtidaiyah sebanyak 1 buah. Keberadaan sekolah merupakan hal penting bagi penduduk untuk memperoleh pendidikan formal. Makin tinggi jenjang sekolah yang berada di desa, cenderung semakin menarik minat penduduknya untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi., menyajikan banyaknya desa yang mempunyai sarana sekolah, dari sekolah taman
dikelola pihak swasta menurut desa di kecamatan tersebut.
Dari seluruh penduduk berusia lima tahun dan lebih di Kecamatan tersebut terdapat 4145 orang yang masih sekolah di berbagai tingkatan mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum atau sederajat. Anak Usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) yang masih sekolah ada 3013 orang. Anak Usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (13-15 tahun) yang masih sekolah ada 955 orang. Di tingkat Sekolah Menengah Umum terdapat 177 orang yang masih sekolah dari anak usia sekolah 16-18 tahun. Data pendidikan tersebut yang dimasukkan hanya penduduk yang bersekolah di Kecamatan Moncongloe, adapun yang bersekolah di luar kecamatan tidak dimasukkan datanya.
Pada umumnya penduduk usia sekolah yang akan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini Perguruan Tinggi/Universitas pada umumnya mereka melanjutkan ke Kota Makassar atau ke Kecamatan tetangga yaitu Kecamatan Mandai serta Kecamatan Turikale. Karena keberadaan Perguruan Tinggi/Universitas di Kecamatan Moncongloe belum tersedia.
2) Prasarana Ibadah
Mayoritas Penduduk Kecamatan Moncongloe memeluk Agama Islam sebesar 19461 jiwa, Agama Katolik 123 jiwa dan Agama Protestan 690 , Hindu 3 jiwa, lainnya belum ada.
Adapun Sarana Ibadah yang tersedia Mesjid sebanyak 29 buah, Langgar/Surau/Musallah sebanyak 6 buah dan Gereja/Kapel terdiri dari 2 buah.
3) Sarana dan Prasarana Kesehatan
masyarakat mendapatkan akses pelayanan yang murah, mudah, dan merata.
Upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di antaranya dilakukan dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membiayai sendiri kebutuhan pencegahan dan pengobatan penyakit yang mungkin diderita.
Peningkatan partisipasi seperti ini terutama ditunjukkan kepada masyarakat yang tergolong mampu secara sosial ekonomi. Kemajuan pembangunan di bidang kesehatan dapat ditelusuri melalui berbagai indikator, seperti tersedianya fasilitas kesehatan dikomunitas yang bersangkutan. Selain itu, dapat pula dilihat dari intensitas jenis penyakit tertentu yang diderita oleh pada umumnya anggota masyarakat.
Salah satu faktor yang penting dalam pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik adalah tersedianya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan.
Ada konsistensi antara peningkatan tenaga medis dengan penambahan jumlah fasilitas kesehatan di Kecamatan Moncongloe. Ini berarti secara teoritas pelayanan di kecamatan ini semakin baik pelaksanaannya. Disamping itu didukung oleh adanya penambahan tenaga kesehatan juga ditunjang oleh fasilitas yang semakin memadai.
Jika perhatikan dari jumlah sarana kesehatan yang ada di Kecamatan Moncongloe, maka dapat dikatakan cukup memadai. Dari lima desa yang ada telah terdapat sebuah Puskesmas di Desa Moncongloe dan Rumah Umum 165 di Desa Moncongloe Lappara tepatnya di kompleks BTN Asabri, keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut memengaruhi kesadaran masyarakat
adanya dokter praktek yang bertempat tinggal di kecamatan serta ini. Keberadaan dokter praktek atau dokter yang berdomisili di kecamatan sebenarnya sangat diharapkan, hal ini untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan diluar jam kerja atau jam beroperasinya pustu yang ada.
jumlah tenaga kesehatan yang ditempatkan atau mengabdi di Kecamatan Moncongloe sebanyak 12 orang, yang terdiri dari 2 orang Dokter, 3 orang Paramedis dan 7 orang Bidan. Keberadaan dukun bayi yang merupakan salah satu ikon penduduk di daerah, masih sangat membantu upaya pertolongan pertama terhadap kaum ibu yang mengalami persalinan terhadap bayi yang dikandungnya.
Pada umumnya penduduk yang mengalami gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan dokter, mereka sangat sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut, disebabkan tidak adanya dokter yang berdomisili di kecamatan tersebut (Dokter Praktek). Maka akses untuk pelayanan kesehatan semacam ini rata-rata penduduk ke kecamatan tetangga atau ke Kota Makassar yang mana jarak tempuhnya tidak terlalu jauh serta terjangkau oleh sipasien dengan menggunakan alat transportasi umum. Dari 4528 rumah tangga di Kecamatan Moncongloe, sebanyak 295 atau 6,5 persen merupakan keluarga pra sejahtera dan untuk keluarga tahap sejahtera (I, II, III, dan III plus) sebesar 2876 atau sekitar 63,51 persen.
4) Lahan Dan Penggunaannya
Luas seluruh desa di Kecamatan Moncongloe adalah 4 686,72 ha. Pada umumnya kondisi lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian di Kecamatan
Moncongloe Lappara seluas 138,90 ha (15,91%), Moncongloe Bulu 21,31 (1,67%). Desa Moncongloe dibanding dengan kedua desa sebelumnya, luas lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian lebih luas yaitu sekitar 245,80 (37,36%).
Sementara untuk desa Bonto Bunga luas lahan sawah tadah hujan sekitar 156,00 (15,57%), sedangkan Bonto Marannu luas lahan sawah yang diusahakan untuk pertanian tadah hujan seluas 262,38 (33,72%). Sektor pertanian khususnya padi sawah masih menjadi mata pencaharian utama bagi penduduk di Kecamatan Moncongloe.
5) Perumahan
Rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga memiliki arti sosial yang sangat penting. Baik bentu k maupun keadaannya, rumah dapat menentukan status sosial bagi pemiliknya, selanjutnya kemampuan ekonomi seseorang mencerminkan keadaan perumahannya secara umum dan keserasian tata lingkungan tempat tinggalnya. Dari kondisi rumah penduduk di Kecamatan Moncongloe sebagian besar adalah rumah panggung.
6) Fasilitas Listrik
Listrik merupakan sarana yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai kegiatan suatu penduduk. Pada umumnya desa di Kecamatan Moncongloe sudah menggunakan fasilitas listrik. Dari total rumah tangga sebanyak 4528 yang sudah menggunakan fasilitas listrik sebanyak 4528 (Lihat Tabel 3.2 dan 8.5).
Kecamatatan Moncongloe merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Maros yang sebagian besar sumber penghasilannya adalah pertanian tanaman pangan dan tanaman palawija. Sebagian besar penduduknya bekerja disektor pertanian (85%), sedangkan sisanya pada sektor perdagangan (3%), (7%) angkutan/ transportasi (sebagian besar tukang ojek), jasa (2%) dan lainnya (2%).