“Pada dasarnya yang menyebabkan kelompok militer tetap memiliki wibawa yang tinggi dimasyarakat moncongloe bulu adalah dikarenakan anggota militer yang berseragam banyak diidam-idamkan oleh masyarakat sekitar yang mayoritasnya adalah petani, dilubuk hati mereka tersimpan harapan mereka dapat seperti mereka dan mengangkat strata sosial keluarga mereka. Selain itu ketegasan kelompok militer tak segan-segan diperlihatkan dihadapan masyarakat ketika ada anggota mereka melakukan pelanggaran ataupun kesalahan yang melanggar adab adab kebiasaan dan tak jarang pula masyarakat sipil yang ditertibkan langsung ketika didapati melakukan pelanggaran seperti mencuri, hingga membawa motor dengan kecepatan tinggi mendapat hukuman fisik dari Provos mulai dari Push-up hingga yang lebih keras tergantung tingkat pelanggarannnya sebelum dibawa ke polisi jika terkait hukum pidana”.
Selanjutnya, komentar yang senada dilontarkan kedua tokoh Provos Praka Yhudik Susanto:
“ Aparat militer dihadapan warga sipil harus tetap menjaga wibawa meraka, apabila ada masalah yang terjadi dimasyarakat sekitar kami biasanya kami memediasi untuk mencari jalan keluarnya dengan cara musyawarah”.
dan Pratu Andi Mangngaweang:
“Saya diamahkan menjadi provos tidak hanya untuk menertibkan anggota militer tetapi juga memastikan keamanan masyarat sekitar Kesatuan kami, dan bila diperlukan kami akan mengambil tindakan tegas jika ada masyarakat yang mengganggu keamanaandaerah penjagaan kami”.
Tingkat kedisiplinan militer terhadap anggota-angotanya serta masyarakat disekitarnya memberikan penghargaan terhadap kelompok militer dihadapan kelompok sipil, seperti yang dapat kita maknai dari konotasi berikut:
Komentar Bapak Sirajuddin selaku Ketua RW :
“ kami selalu memberikan penghargaan yang tinggi terhadap aparat militer, disebabkan karena hubungan yang telah terjalin sejak lama juga karena kami melihat bahwa aparat militer adalah bagian dari pemerintahan yang harus dipedomani dan tidak mendengarkan arahannya sama saja tidak mengikuti aturan dinegara ini dan itu tidak berani kami lakukan tentunya”.
Kemudian komentar Bapak Japa’ Selaku ketua RT:
“ masyarakat akan tetap disegani dan dihormati oleh masyarakat kami dikarenakan selain mereka yang selalu memediasi permasalahan dilingkungan kami, mereka juga kadang memberikan peneguran keras ketika ada yang misalnya balap-balap apalagi mencuri sehingga kami merasa segan terhadap mereka yang pakai pakaian loreng”.
Selanjutnya komentar dari saudara Halim :
“saya pernah bercita-cita menjadi tentara namun itu dulu waktu masih sekolah, sekarang saya betah dengan hidup saya di pelayaran, persoalan segan saya tentu segan lah dengan aparat militer dan saya pun pernah dibuat push-up di depan rumah sendiri karena balap-balap”.
Dari pemaparan tersebut, maka kita dapat melihat mekanisme dari relasi yang terbangun dari kelompok militer dalam mempertahankan superioritasnya dihadapan kelompok sipil menggunakan pendekatan Teori Strukturasi dari Antonny Giddens yang melahirkan Dominasi kelompok yang berujung pada Hegemoni Kelompok dalam konsep Gramsci seperti yang telah dijelaskan di pembahasan pertama sebagai berikut:
Pembahasan
Giddens (2011) memaparkan, struktur tidak disamakan dengan kekangan (constraint) namun selalu mengekang (constraining) dan membebaskan (enabling). Hal ini tidak mencegah sifat-sifat struktur system sosial untuk melebar masuk kedalam ruang dan waktu diluar kendali actor-aktor individu, dan tidak ada kompromi terhadap kemungkinan bahwa teori-teori sistem sosial para aktor yang dibantu ditetapkan kembali dalam aktivitasativitasnya bisa merealisasikan sistem- sistem itu.
Manusia melakukan tindakan secara sengaja untuk menyelesaikan tujuan- tujuan mereka, pada saat yang sama, tindakan manusia memiliki unintended consequences (konsekuensi yang tidak disengaja) dari penetapan struktur yang berdampak pada tindakan manusia selanjutnya. Manusia menurut teori ini yaitu agen pelaku bertujuan yang memiliki alasan-alasan atas aktivitas-aktivitasnya dan mampu menguraikan alasan itu secara berulangulang.
Menurut Barker (2011) Strukturasi mengandung tiga dimensi, yaitu sebagai berikut: Pertama, pemahaman (interpretation / understanding), yaitu menyatakan cara agen memahami sesuatu. Kedua, moralitas atau arahan yang tepat, yaitu menyatakan cara bagaimana seharusnya sesuatu itu dilakukan. Ketiga, Kekuasaan dalam bertindak, yaitu menyatakan cara agen mencapai suatu keinginan.
Subjektivitas yang dititik beratkan pada etnisitas kelompok pada gilirannnya memberdayakan kita untuk bertindak bedasarkan fakta sosial tertentu.
Sejalan dengan itu, masalah-masalah mengenai bagaimana seorang aktor bias memperngaruhi keadaan atau bahkan kualitas lingkungan tak pelak turut menjadi kajian kotemporer yang juga bisa dikaji secara mikro kemudian menjadi makro.
Dari sedikit pembahasan mengenai system dari Teori Sturukturasi tersebut, maka dapat dilihat bagaimana relasi yang dibangun kelompok militer dalam membangun, mengarahkan penanaman pemahaman kelompok sipil tentang hal-hal yang baik maupun yang tidak baik menyangkut tindakan hingga penentuan moralitas ideal yang ketika tidak dilaksanakan maka akan berakibat pada pemberian hukuman atas otoritas yang dimilik oleh kelompok militer tersebut.
Dari beberapa sample yang didapatkan dari informan dan pendekatan relasi system melalui Teori Strukturasi yang dibangun kelompok militer terhadap kelompok sipil tersebutlah yang di amati oleh peneliti sacara berangsur-angsur lalu peneliti kemudian menarik sebuah konklusi melalui praktek pelestarian Superioritas kelompok militer dihadapan kelompok sipil, lalu relasi system yang dibangun tersebutpun melahirkan dominasi kelompok dan berujung pada Hegemoni kelompok militer dihadapan kelompok Sipil masyarakat kabupaten maros.
1. Dampak Yang Terjadi Akibat Ter-Hegemoni-Nya Kelompok Sipil Atan Kelompok Militer Di Desa Moncongloe Bulu
Dampak yang terjadipun dapat dikategorikan menjadi dua:
A. Dampak positif
1) Benturan dari pertemuaan kebudayan yang bersifat heterogen kelompok militer
mau tidak mau mendominasi kebudayaan dari masyarakat lokal yang awalnya bersifat homogen yang mebuat masyarakat tersebut sedikit lebih maju dibandingkan masyarakat pedesaan yang jauh dari asrama militer.
2) Tingkat keamanan masyarakat lebih baik dibandingkan daerah –daerah lainnya
disebabkan masih tingginya ketakutan masyarakat akan melakukan pelanggaran hukum yang berimplikasi pada hukuman dari kelompok militer.
3) Tingkat ketertiban dan kesadaran hukum masyarakat jauh lebih baik
dibandingkan daerah-daerah lain disebabkan pemberian contoh dan sanksi tegas dari aparat militer.
B. Dampak negatif
1) Nilai-nilai kearifan lokal yang hampir tidak adalagi nampak akibat meleburnya kebudayaan pendatang yang mendominasi.
2) Paradigma masyarakat yang statis melihat kehidupan yang ideal hanya pada kepegawai negeriaan.
3) Keinginan menjadi sama dengan aparat militer yang tidak berimbang dengan kemampuan materi, dan kualitas individu membuat masyarakat mudah merasa pesimis ketika keinginannya tersebut tidak dapat terwujud.
68 A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Hegemoni Culture konsentrasi kelompok militer terhadap kelompok sipil desa Moncongloe Bulu kabupaten maros menunjukkan bahwa Superioritas kelompok militer dihadapan kelompok sipil disebabkan adanya kekaguman masyarakat terhadap kehidupan yang lebih layak seperti yang mereka lihat terhadap kelompok militer, serta adanya perasaan segan kepada anggota militer akan diberikan hukuman secara langsung ketika melanggar dan membuat kesalahan hingga yang berhubungan dengan pelanggaran hukum akan mendapat sentuhan fisik oleh kelompok militer tersebut.
Selain itu keberadaan Asmil Yon-Zipur-8 SMG terhadap masyarakat sipil berimplikasi pada dua kutup yaitu positif dan negatif, dimana benturan kebudayaan yang terjadi membuat masyarakat sedikit lebih maju didalam perkembangannya, paradigma berfikir merekapun terkontruksi mengikuti kelompok militer yang dimanifestasikan dalam sikap dan sifat mereka walaupun masih bisa dikatakan tidak secara keseluruhan. Hal ini pula akhirnya membuat masyarakat Moncongloe Bulu sedikit demi sedikit menghilangkan kebiasaan kebiasaan mereka yang tumbuh dari leluhur mereka seperti bahasa,adab kebiasaan hingga tradisi yang menjadi identitas lokal mereka.
68
69 1. Melihat fenomena tersebut perlu rasanya toko masyarakat yang berada di
wilayah tersebut memahami krisis identitas lokal tersebut dan melakukan inisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi-tradisi mereka yang telah ditinggalkan seperti angngaru agar kelak mereka tidak lupa asal mereka dan kekhasan mereka sebagai masyarakat asli Moncongloe Bulu akibat ter- Hegomini oleh adab-adab kelompok militer yang dianggap lebih Superior.
2. Kepada pemerintah pusat dan daerah agar tidak melihat masalah ini sebagai hal yang tak perlu diperhatikan secara serius mengingat banyaknya asrama militer yang tersebar di seluruh kabupaten maros, tidak dimunafikkan dampak positif yang ada akibat masuk nya kebudayaan yang dibawa individu-individu dari kelompok militer yang memberikan kemajuaan berfikir sedikit lebih maju serta keamanaan yang dirasakan masyarakat yang ada di regional Asrama militer namun dampak negatf yang ditimbulkanpun rasanya tidak jauh besarnya dengan dampak positif yang diberikan dan perlu adanya inisiatif yang serius.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 24(1).
Budiman Djoko Said, QD , vol # 5, no # 12, Juni 2012, “Menakar Ulang Hubungan Sipil-Militer (HSM)”.
Clifton, More Rick. 1998. “Hegemony, Agency, and dialectical tension in Ellul’s technological society”.Journal of Communication, Summer.
Fakih, Mansour. 2011. Jalan lain. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Giddens, Anthony (1984). “The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration”. Cambridge: Polity Press.
Janowitz, Morri, 1985, Hubungan Sipil Militer,Jakarta: Bina Aksara.
KSK Moncongloe. 2016. Kecamatan Moncongloe Dalam angka tahun 2016.
Moncongloe: BPS Kabupaten Maros.
Lawang, Robert M. Z. 1986. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Jakarta:
Gramedia.
Makalah dibawakan dalam Konferensi Nasional LSM/Organisasi Non Pemerintah, PACT-INPI-CSSP, Hotel Salak, Bogor, 1-4 Agustus 2000.
M. Setiadi, Elly & Usman, Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta Dan Gejala Permasalahan Sosial (Teori, Aplikasi, Dan Pencerahannya).
Jakarta: Kencana Pernada Media Group.
Nazar Patria & Andi Arief, 2015. Antonio Gramsci Negara Dan Hegemoni.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nordlinger, Eric, 1994, Militer Dalam Politik, Jakarta: Rineka Cipta, Nugroho, Sugeng. 2003. “Pertunjukan wayang Gedhog Dengan Berbagai
Permasalahannya”.SENI, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, IX/02-03, Maret. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
Patria, Nezar dan Andi Arief. 2003. Antonio Gramsci Negara dan Hegemoni.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prof. H. Garna, Ph.D. Judistira K. 1996. Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Konsep-Posisi.
Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
70
Pruitt, Dean G. & Rubin, Jeffrey Z. 2011. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Staf Institute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta, editor dan angggota tim penulis buku Masyarakat Pasca-Militer: Tantangan dan Peluang Demiliterisme di Indonesia (Yogyakarta: IRE dan Pact Indonesia, 2000).
.Walfajri, Walfajri. Peran Bahasa Dalam Hegemoni Politik, Sosial, Dan Budaya.
Akademika Jurnal Pemikiran Islam, [S.L.], V. 16, N. 1, Jun. 2011. Issn 2356-2420.Tersedia Pada: <Http://Stainmetro.Ac.Id/E-Journal/Index.Php/
Akademika/Article/View/26/10>. Tanggal Akses: 23 juli. 2016.
LAMPIRAN
Umur : 47 Tahun Status : Menikah Pendidikan : SMA
Pekarjaan : Intel Provos YON-ZIPUR-8 SMG Nama : Pratu Andi Mangngaweang
Umur : 28 Tahun
Status : Belum Menikah Pendidikan : SMA
Pekarjaan : Provos YON-ZIPUR-8 SMG Nama : Praka Yhudik Susanto
Umur : 32 Tahun
Status : Menikah Pendidikan : SMA
Pekarjaan : Provos YON-ZIPUR-8 SMG Nama : Sirajuddin
Umur : 47
Status : Menikah Pendidikan : SMA Pekarjaan : RW
Pendidikan : SD Pekarjaan : RT
Nama : Saidin., S.E
Umur : 30 Tahun
Status : Kawin
Pendidikan : S1
Pekarjaan : Wiraswasta
Nama : Musfirah Ardiyanti
Umur : 19 Tahun
Status : Belum Kawin Pendidikan : SMA
Pekarjaan : Mahasiswa
Nama : Iwan Malayat
Umur : 16 Tahun
Status : Belum Kawin Pendidikan : SMP
Pekarjaan : Siswa
Pendidikan : SMA Pekarjaan : Sopir
Nama : Halim
Umur : 28
Status : belum Kawin Pendidikan : SMA
Pekarjaan : Pelayaran
pengambilan data tentang eksistensi komunitas pencintaroad racedi kabupaten maros.
Pertanyaan untuk toko masyarakat/RT/RW
1. Siapakah nama anda, umur, pendidikan terakhir?
2. Bagaimana kepercayaan anda terhadap kelompok milliter selama ini?
Alasannya?
3. Seberapa sering masalah-masalah yang terjadi dilingkungan masyarakat di musyawarahkan dengan mediasi kelompok militer?
4. Apakah anda merasakan besarnya pengaruh militer terhadap perkembangan psikologi anak-anak disekitar anda?
5. Apakah anda pernah bercita-cita dapat berseragam militer?
6. Apakah anda mengharapkan anak laki-laki anda dapat menjadi angota militer?
Pertanyaan untuk remaja:
1. Siapakah nama anda, umur, sekolah di mana?
2. Seberapa besar penghormatan/kekaguman anda terhadap kelompok militer di lingkungan anda? Alasannya ?
3. Adakah hal yang anda rasa mencontohi kebiasaan kelompok militer? Sebutkan?
4. Apakah anda pernah atau sedang bercita-cita menjadi anggota militer?
Pertanyaan untuk Anggota Militer:
1. Siapakah nama anda, umur, sekolah dan pangkat anda di kesatuan?
2. Bagaimanakah anda melihat hubungan yang terjalin antara intansi militer dengan komunitas sipil disekitar anda?
masyarakat sipil disekitarnya selama ini baik dalam hal estetika dan etika?
Wawancara Informan
No Nama Informan Umur Pekerjaan Keteranagan
1 Kopka S.Harun 47 Intel Provos
YON-ZIPUR- 8 SMG
“ Kami memberikan contoh kepada masyarakat secara langsung, memberikan sanksi ketika ada yang melanggar atau membuat kesalahan mulai dari push-up hingga tindakan fisik ketika terkait dengan pelanggaran hukum”
2 Pratu Andi Mangngawean g
28 Provos YON- ZIPUR-8
SMG
“Saya diamahkan menjadi provos tidak hanya untuk
menertibkan anggota militer tetapi juga memastikan keamanan masyarat sekitar Kesatuan kami, dan bila diperlukan kami akan mengambil tindakan tegas jika ada masyarakat yang mengganggu
keamanaan daerah penjagaan kami”.
3 Praka Yhudik Susanto
32 Provos YON- ZIPUR-8
SMG
“ Aparat militer dihadapan warga sipil harus tetap menjaga wibawa meraka, apabila ada masalah yang terjadi
dimasyarakat sekitar kami biasanya kami memediasi untuk
terjalin antara aparat dengan masyarakat selama ini selalu terjalin baik, terkait masa depan anak saya, saya memang masih sedang mendaftarkan dia masuk menjadi tentara.
5 Japa’ 48 RT “ banyak sekali
persoalan-persoalan di masyarakat kami yang akhirnya diselesaikan melalui bantuan aparat militer baik itu yang
menyangkut maslah hukum maupun pelanggaran biasa”
6 Saidin., S.E 30 Wiraswasta “ Pada dasarnya yang menyebabkan kelompok militer tetap memiliki wibawa yang tinggi dimasyarakat moncongloe bulu adalah dikarenakan anggota militer yang berseragam banyak diidam-idamkan oleh masyarakat sekitar yang mayoritasnya adalah petani, dilubuk hati mereka tersimpan harapan mereka dapat seperti mereka dan mengangkat strata sosial keluarga mereka”
7 Musfirah
Ardiyanti
19 Mahasiswi “ kalau ditanya masalah ketertarikan,
Malayat SMA saya memang berencana mendaftar menjadi Anggota dan itu sudah di dukung penuh oleh keluarga saya yang memang ada dari latar belakang pensiunan tentara”.
9 Dirgahayu Pamungkas
21 Supir “ Saya anak dari pensiunan tentara disini, persoalan menghormati tentu saya menghormati aparat militer dan saya pun pernah mengininkan menjadi penerus ayah saya namun apa daya kondisi ekonomi tidak memadai”
10 Halim 28 Pelayaran “saya pernah bercita-
cita menjadi tentara namun itu dulu waktu masih sekolah, sekarang saya betah dengan hidup saya di pelayaran, persoalan segan saya tentu segan lah dengan aparat militer dan saya pun pernah dibuat push-up di depan rumah sendiri karena balap- balap”.
Wawancara dengan Intel Provos YON-ZIPUR-8 SMG Bapak Kopka S.Harun
Wawancara dengan Toko Masyarakat Bapak Saidin ., S.E.