BAB II Tinjauan Pustaka
E. Konsep Dasar Masa N ifas
1. Pengertian Masa Nifas
Ketuban pecah dini (KPD) adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila Ketuban Pecah Dini terjadi sebelum usia kehamila n 37 minggu disebut Ketuban Pecah Dini pada kehamilan prematur. Dalam keadaan normal 8-10 % perempuan hamil aterm akan mengalami Ketuban Pecah Dini (Saifuddin, 2014). Ketuban pecah dini atau spontaneous/ear l y/
premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multi kurang dari 5 cm (Sofian, 2011).
2) Etiologi KPD
Faktor penyebab menurut Varney ( 2007 ) antara lain : a) Serviks Inkompeten
b) Polihidramnion c) Malpresentasi Janin d) Kehamilan Kembar
e) Infeksi Vagina atau Serviks.
3) Tanda dan Gejala KPD
Tanda dan gejala pada kehamilan yang mengalami KPD adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah.
Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran.
4) Diagnosis KPD
Diagnosis ketuban pecah dini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan inspekulo. Dari anamnesis didapatkan penderita merasa keluar cairan yang banyak secara tiba-tiba. Kemudian lakukan satu kali pemeriksaan inspekulo dengan spekulum steril untuk melihat adanya cairan yang keluar dari serviks atau menggenang di forniks posterior. Jika tidak ada, gerakkan sedikit bagian terbawah janin, atau minta ibu untuk mengedan/batuk. Pemeriksaan dalam sebaiknya tidak dilakukan kecuali akan dilakukan penanganan aktif (melahirkan bayi) karena dapat mengurangi latensi dan meningkatkan kemungkinan infeksi.
Pastikan bahwa:
a) Cairan tersebut adalah cairan amnion dengan memperhatikan:
b) Bau cairan ketuban yang khas.
5) Komplikasi KPD a) Persalinan premature
Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90 % terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28 – 34 minggu 50 % persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu
b) Infeksi
Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu dapat terjadi korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septicemia, pneumonia dan omfalitis. Umumnya korioamnionitis terjadi sebelum
janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini premature, infeksi lebih sering daripada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada Ketuban Pecah Dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
c) Hipoksia dan Asfiksia
Pada penelitian yang dilakukan oleh Tahir (2012) didapatkan hasil bahwa, KPD meningkatkan asfiksia neonatarum sebesar 2,47.
Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Wiradharma (2013) didapatkan hasil bahwa KPD merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya asfiksia sebesar 9,7.
Dengan pecahnya ketuban, terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
d) Sindrom deformitas janin
Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuha n janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin.
10. Induksi Persalinan 1) Pengertian
Induksi persalinan adalah suatu tindakan untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan (Wiknjosastro, 2010)
2) Persyaratan Induksi
Persyaratan Untuk dapat melaksanakan induksi persalinan perlu dipenuhi beberapa kondisi/persyaratan sebagai berikut: tidak ada disproporsi
sefalopelvik (CPD) Sebaiknya serviks uteri sudah matang, yakni serviks sudah mendatar dan menipis, hal ini dapat dinilai menggunakan tabel skor Bishop.
Jika kondisi tersebut belum terpenuhi maka kita dapat melakukan pematangan serviks dengan menggunakan metode farmakologis atau dengan metode mekanis. Presentasi harus kepala, atau tidak terdapat kelainan letak janin.
Sebaiknya kepala janin sudah mulai turun kedalam rongga panggul.
(Oxorn, 2010).
Untuk menilai keadaan serviks dapat dipakai skor Bishop. berdasarkan kriteria Bishop, yakni: Jika kondisi serviks baik (skor 5 atau lebih), persalina n biasanya berhasil diinduksi dengan hanya menggunakan induksi. Jika kondisi serviks tidak baik (skor <5) matangkan serviks terlebih dahulu sebelum melakukan induksi. (Yulianti, 2006 & Cunningham, 2013).
Tabel 2.7 Skor Bishop
Keberhasilan induksi persalinan :
1.Skor bishop 0-4 = angka keberhasilan induksi persalinan 50-60%
2.Skor bishop 5-9 = angka keberhasilan induksi persalinan 80 -90%
3.Skor bishop >9 = angka keberhasilan induksi persalinan mendekati 100 %
3) Indikasi
a) Pascamatur
b) KPD (>37 minggu)
c) Hipertensi akibat kehamilan, preeklamsi d) Hemoragi antepartum
e) Insufiensiplasenta dan retardasi pertumbuhan intrauteri f) Kematian intrauteri
4) Kontraindikasi
a) Disproporsi sefalo-pelvik
b) Ibu menderita penyakit jantung berat
c) Hati-hati pada bekas-bekas operasi atau uterus yang cacat seperti bekas sectio sesarea, miometrium yang luas daneksklusif.
5) Risiko induksi persalinan
Pemasangan induksi persalinan juga dapat menyebabkan ancaman bagi ibu dan bayi akan tetapi faktor risiko ini dapat di minima lka n dengan pengawasan yag lebih intensif pada ibu dan bayi selama proses induksi berlangsung.
Peningkatan risiko dari induksi antara lain:
1) Pada ibu : infeksi, inersia uteri, hiperstimulasi uterus, rupture uteri, induksi gagal yang berakhir dengan tindakan pembedahan.
2) Pada bayi : fetal distress, iufd akibat hiperstimulasi uterus.
6) Metode Induksi Persalinan
Beberapa metode yang umumnya dilakukan pada induksi persalinan mencakup metode farmakologi, non farmakologi, mekanik dan surgikal. Metode yang dibahas di sini adalah metode kimiawi berupa prostaglandin analog yaitu misoprostol dan metode mekanik yaitu balon kateter.
a) Misoprostol
Misoprostol adalah analog prostaglandin E1yang pertama kali diterima oleh badan pengawasan obat dan makanan Amerika (FDA = Food & Drug Administration)sebagai obat ulkus peptikum. Dalam perkembangannya efek samping berupa adanya kontraksi miometrium bahkan dimanfaatkan sebagai obat untuk induksi persalinan, sehingga FDA memberi label baru penggunaan misoprostol dalam kehamilan oleh karena mampu membuat pematangan serviksdan memacu kontraksi miometrium.
Misoprostol telah disetujui oleh lebih dari 80 negara termasuk Indonesia untuk pencegahan dan pengobatan ulkus peptikum pada lampung. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan didukung oleh pengalaman dalam bidang obstetri dan ginekologi, obat ini efektif dalam induksi persalinan, penanganan aborsi, dan pencegahan serta pengobatan perdarahan postpartum (PPH) dan penghentian elektif kehamilan.
b) Induksi amniotomy
Induksi Amniotomi Ruptur membrane artifisial atau terkadang disebut dengan induksi pembedahan, teknik ini dapat digunakan untuk menginduksi persalinan. Pemecahan ketuban buatan memicu pelepasan prostaglandin. Amniotomi dapat dilakukan sejak awal sebagai tindakan induksi, dengan atau tanpa oksitosin. Induksi persalinan secara bedah (amniotomi) lebih efektif jika keadaan serviks baik (skor Bishop > 5). Amniotomi pada dilatasi serviks sekitar 5 cm akan mempercepat persalinan spontan selama 1 sampai 2 jam (Cunningham, 2013; Sinclair, 2010)
c) Pemberian Oksitosin drip
Oksitosin adalah suatu peptide yang dilepaskan dari bagian hipofisis posterior. Pada kondisi oksitosin yang kurang dapat memperlambat proses persalinan sehingga diperlukan pemberian oksitosin intravena melalui infuse. (Handerson, Jones, 2006).
Stimulasi Oksitosin pemberian induksi oksitosin perlu mendapat pengawasan ketat agar mampu menimbulkan kontraksi uterus yang adekuat (mampu menyebabkan perubahan serviks) tanpa terjadinya hiperstimulasi uterus. Tanda terjadinya hiperstimulasi adalah kontraksi >60 detik, kontraksi muncul lebih dari 5x/10 menit atau 7x/15 menit, atau timbulnya pola djj yang meragukan.
Induksi oksitosin diberikan intravena, dengan dosis 10-20 IU dicampur dengan larutan RL. Berikut regimen oksitosin yang digunakan untuk induksi persalinan.
Dosis yang lazim digunakan di Indonesia adalah 2,5-5 unit oksitosin dalam 500 ml cairan kristaloid. Tetesan infus dimulai dari 8tpm dan ditambahkan 4 tpm tiap 30 menit hingga dosis optimal untuk his adekuat tercapai. Dosis maksimum pemberian oksitosin adalah 20mU/menit (Wulandari, 2012).
7) Hubungan perdarahan dengan induksi persalinan
Induksi persalinan adalah usaha agar persalinan mulai berlangsung sebelum atau sesudah kehamilan cukup bulan dengan jalan merangsa ng timbulnya his. (Saifuddin, 2010).
Dari penelitian yang sudah dilakukan didapatkan hasil yaitu ada hubungan antara perdarahan postpartum pada ibu bersalin dengan induksi persalinan. Hasil ini sesuai dengan jurnal penelitian menurut Khireddine (2013) dalam jurnalnya yang berjudul “Induction of Labor and Risk of Postpartum Hemorrhage in Low Risk Parturients”
mengatakan bahwa induksi dapat berisiko tinggi terhadap terjadinya
perdarahan postpartum jika dalam induksi persalinan dilakukan pada situasi kandungan yang tidak menguntungkan. Beberapa hipotesis menjelaskan perdarahan postpartum dapat terjadi karena obat yang digunakan untuk menginduksi persalinan mungkin memiliki efek langsung pada otot rahim dan juga faktor kelelahan pada otot miometrium sehingga menyebabkan atonia uteri serta mungkin PPH (Postpartum Haemorrhage).
Hasil penghitungan odds ratio (OR) pada induksi persalinan dengan kejadian perdarahan postpartum adalah 3,931. Nilai tersebut menunjukan bahwa ibu bersalin dengan induksi persalinan memilik i risiko 4 kali lebih besar mengalami perdarahan dibandingkan denga n ibu bersalin tanpa diinduksi.
11. Hubungan perdarahan post partum dengan berat bayi macrosomia
Dari hasil penelitian didapatkan adanya hubungan antara perdarahan postpartum pada ibu bersalin dengan berat bayi makrosomia.Berat bayi lahir yang lebih dari normal atau yang dalam penelitian ini disebut makrosomia dapat menyebabkan perdarahan postpartum karena uterus meregang berlebihan dan mengakibatkan lemahnya kontraksi sehingga dapat terjadi perdarahan postpartum. Kondisi ini karena uterus mengalami overdistens i sehingga mengalami hipotoni atau atonia uteri setelah persalinan. Adapun beberapa keadaan overdistensi uterus yang juga dapat menyebabkan atonia uteri yaitu kehamilan ganda dan hidramnion (Cuningham, 2013).
3) Usia
Usia berpengaruh terhadap imunitas. Penyembuhan luka yang terjadi pada orang tua sering tidak sebaik pada orang yang muda. Hal ini disebabkan suplai darah yang kurang baik, status nutrisi yang kurang atau adanya penyakit penyerta seperti diabetes melitus. Sehingga penyembuhan luka lebih cepat terjadi pada usia muda dari pada usia tua (Suherni, 2009).
4) Gizi
Proses fisiologi penyembuhan luka perineum bergantung pada tersedianya protein, vitamin (terutama vitamin A dan C) dan minera l renik zink dan tembaga. Kolagen adalah protein yang terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibroblas dari protein yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat mengura ngi efek negatif steroid pada penyembuhan luka (Cuningham, 2006).
D. Konsep Dasar Bayi Baru Lahir 1. Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamila n genap 37 minggu sampai 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000 gram.
Neonatus ialah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri ke kehidupan ekstra uteri (Muslihatun, 2011).
2. Penanganan Bayi Baru Lahir a. Pencegahan infeksi
Sebelum menangani bayi baru lahir, pastikan penolong persalina n telah melakukan upaya pencegahan infeksi seperti berikut :
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan bayi
2) Pakai sarung tangan bersih saat menangani bayi yang belum dimandikan
3) Semua peralatan dan perengkapan yang akan di gunakan telah di DTT atau steril. Khusus untuk bola karet penghisap lender jangan dipakai untuk lebih dari satu bayi
4) Handuk, pakaian atau kain yang akan digunakan dalam keadaan bersih (demikian juga dengan timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop dll)
5) Dekontaminasi dan cuci setelah digunakan (JNPK-KR, 2013).
b. Penilaian bayi baru lahir
Segera setelah lahir lakukan penilaian awal secara cepat dan tepat (0-30 detik) → buat diagnosa untuk dilakukan asuhan berikutnya.Ya ng dinilai (Sukarni, 2013):
1) Bayi cukup bulan atau tidak ?
2) Usaha nafas → bayi menangis keras ? 3) Warna kulit → cyanosis atau tidak ? 4) Gerakan aktif atau tidak ?
Jika bayi tidak bernafas atau megap-megap atau lemah maka segera lakukan resusitasi bayi baru lahir (JNPK-KR, 2013). Menurut Sukarni
(2013), bahwa bayi normal/asfiksia sampai 6, dan bayi asfiksia berat apabila nilai AS 0-3.
Tabel 2.8 APGAR SKOR
Skor 0 1 2
Appearance color (warna kulit)
Biru pucat Badan mera h muda, ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemereh-
merahan Pulse (heart rate)
atau frekuensi jantung
Tidak ada Lambat
<100x/men it
>100x/men it
Grimace (reaksi terhadap rangsangan)
Tidak ada Merintih Menangis dengan kuat, batuk/
bersin Activity (tonus otot) Tidak ada Ekstremitas dala m
fleksi sedikit
Gerakan aktif Respiration (usaha
nafas)
Tidak ada Lemah/tidak teratur
Baik/Menangis kuat
Sumber : Perawatan Ibu Bersalin (Sumarah Dk k , 2011)
c. Pemeriksaan bayi baru lahir
Menurut Muslihatun (2011), dalam waktu 24 jam, apabila bayi tidak mengalami masalah apapun, segeralah melakukan pemeriksaan fisik yang lebih lengkap. Pada saat melakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemeriksa hendaknya memperhatikan beberapa hal penting berikut ini : 1) Periksa bayi di bawah pemancar panas dengan penerangan yang cukup,
kecuali ada tanda-tanda jelas bahwa bayi sudah kepanasan.
2) Untuk kasus bayi baru lahir rujukan, minta orang tua/keluarga bayi hadir selama pemeriksaan dan sambil berbicara dengan keluarga bayi serta sebelum melepaskan pakaian bayi, perhatikan warna kulit, frekuensi nafas, postur tubuh, reaksi terhadap rangsangan dan abnormalitas yang nyata.
3) Gunakan tempat yang hangat dan bersih untuk pemeriksaan.
4) Cuci tangan sebelum dan sesudah pemeriksaan, gunakan sarung tangan.
5) Bersikap lembut pada waktu memeriksa.
6) Lihat, dengar dan rasakan tiap-tiap daerah pemeriksaan head to toe secara sistematis.
7) Jika ditemukan faktor risiko atau masalah, carilah bantuan lebih lanjut yang memang diperlukan.
8) Catat setiap hasil pengamatan Pemeriksaan Umum :
a) Pemeriksaan tanda-tanda vital: Denyut jantung bayi (120-160 kali per menit), Suhu tubuh (36,5oC-37oC), Pernafasan (40-60 kali per menit)
b) Pemeriksaan antropometri (Saifuddin, 2010) : Berat badan (2500- 4000 gram), Panjang badan (44-53 cm), Lingkar kepala (31-36 cm), Lingkar dada (30-33 cm), Lingkar lengan (>9,5 cm)
c) Berikan vitamin K 1 mg IM dipaha kiri anterolateral dan setelah 1 jam pemberian vitamin K1 dalam sediaan ampul yang berisi 10 mg vitamin K1 per 1 ml, atau sediaan ampul yang berisi 2 mg per 1 ml, berikan suntikan imunisasi hepatitis B dipaha kanan anterolateral.
3. Pemantauan bayi baru lahir
Menurut Saifuddin (2010), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah
kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
Pada 2 jam pertama sesudah kelahiran, hal-hal yang perlu dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama sesudah kelahiran, meliputi:
a. Kemampuan menghisap bayi kuat atau lemah b. Bayi tmpak aktif atau lunglai
c. Bayi kemerahan atau biru
d. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayi
Penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap ada tidaknya masalah kesehatan yang memerlukan tindak lanjut, seperti:
bayi kecil untuk masa kehamilan atau kurang bulan, gangguan pernafasan, hipotermi, infeksi,cacat bawaan atau trauma lahir.
4. Inisiasi menyusu dini
Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan ibunya segera setelah lahir selama paling sedikit satu jam, bayi harus menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan IMD dan ibu dapat mengenali bayinya siap untuk menyusui serta memberi bantuan jika diperlukan (Depkes RI, 2010).
5. Tanda bahaya pada bayi baru lahir
Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai pada bayi baru lahir adalah sulit menyusu, letargi (tidur terus sehingga tidak menyusu), demam (suhu badan > 37,5oC atau hipotermi < 36,5oC), tidak BAB atau BAK setelah 3 hari lahir (kemungkinan bayi mengalami atresia ani), tinja lembek, hijau tua, terdapat lendir atau darah pada tinja, sianosis (biru) atau pucat pada kulit atau bibir, adanya memar, warna kulit kuning (ikterus) terutama dalam
24 jam pertama, muntah terus menerus dan perut membesar, kesulitan bernafas atau nafas lebih dari 60 kali per menit, mata bengkak dan bernanah atau berair, mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir atau darah tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan berdarah (Saifuddin, 2010).
6. Bayi Besar (Makrosomia) a. Defenisi Makrosomia
Makrosomia atau bayi besar adalah bila berat badan bayi melebihi dari 4000 gram. (Prawirohardjo, 2006). Dalam dunia kedokteran makrosomia disebut giant baby.
Menurut Cunningham (2005) semua neonatus dengan berat badan 4000 gram atau lebih tanpa memandang usia kehamila n dianggap sebagai makrosomia.Sedangkan menurut Bobak ( 2005) Makrosomia adalah bayi yang besar masa kehamilan yang lahir dengan berat badan lebih dari 4000 gram.
b. Karakteristik Makrosomia
Saat lahir bayi makrosomia atau bayi besar memiliki karakteristik yang khas, yaitu:
1) Mempunyai wajah berubi (menggembung), pletoris (wajah tomat) 2) Badan montok dan bengkak
3) Kulit kemerahan 4) Lemak tubuh banyak
5) Plasenta dan tali pusat lebih besar dari rata-rata ( Bobak,2004).
c. Etiologi
1) Diabetes mellitus (DM)
2) Keturunan (orang tuanya besar)
3) Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya d. Komplikasi
Komplikasi- komplikasi yang ditimbulkan ketika terjadinya macrosomia adalah:
1) Komplikasi pada Ibu
c) Ibu mengalami robekan perineum d) Persalinan dengan operasi Caesar
e) Kehilangan darah dalam jumlah banyak saat persalinan f) Ruptur uteri dan serviks
2) Komplikasi pada bayi
a) Bayi akan lahir dengan gangguan nafas dan kadangkala bayi lahir dengan trauma tulang leher dan bahu.
b) Distosia atau macet pada bahu c) Hipoglikemia
Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi dibawah kadar rata-rata. Dikatakan hipoglikemia apabila kadar glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada semua neonatus tanpa menilai masa gestasi atau ada tidaknya gejala hipoglikemia.
Umumnya hipoglikemia terjadi pada neonatus usia 1-2 jam (Rudolph, 2006).
e. Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakuakan ibu hamil agar tidak terjadinya makrosomia adalah:
1) Pencegahan dilakukan dengan melakukan penimbangan berat badan ibu secara teratur, dan antenatal care yang teratur. (Rukiyah, 2010).
2) Ibu harus selalu menjaga berat badannya agar tetap normal, ibu hamil sebaiknya melakukan pengaturan pola makan sesuai kebutuhan kalori. Ngemil boleh saja dilakukan, tapi hindari cemilan manis (Rukiyah, 2010).
3) Lakukan olahraga ringan.
4) Ibu hamil hendaknya memeriksakan kadar gula darahnya, meskipun sebelumnya tidak ada diabetes milletus (Rukiyah, 2010).
E. Konsep Dasar Masa Nifas 1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan (Suherni, dkk, 2010).
Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim sebab melahirkan atau setelah melahirkan. Darah nifas yaitu darah yang tertahan tidak bisa keluar dari rahim dikarenakan hamil. Maka ketika melahirkan, darah tersebut keluar
sedikit demi sedikit. Darah yang keluar sebelum melahirkan disertai tanda- tanda kelahiran, maka itu termasuk darah nifas juga (Saifuddin, 2010).