Bab V Pengawasan Perbankan
5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan
5.3 BPR
5.3.1 Perizinan
Pada triwulan III-2017, terdapat tujuh proses perzinan pendirian BPR (2 izin prinsip dan 5 izin usaha), 11 BPR dalam pengawasan khusus dan satu pencabutan izin usaha BPR yang telah diselesaikan. Adapun pencabutan izin usaha dilakukan terhadap PT BPR Sisibahari Dana yang berlokasi di Tangerang, Banten pada 5 September 2017.
Sementara persetujuan izin pendirian BPR baru terdapat di wilayah Sumatera (2 BPR), Papua (2 BPR) dan Madura (1 BPR).
Tabel 46 Perizinan BPR
Sumber: OJK
88
Lulus Tidak
Lulus Total Lulus Tidak
Lulus Total
Direksi 203 43 246 402 44 446
Komisaris 86 12 98 85 10 95
PSP 18 0 18 36 5 41
Pengurus 0 0 0 0 0 0
Jumlah 307 55 362 523 59 582
TW III 2017
TW II New Entry
5.3.2 Jaringan Kantor
Jumlah BPR pada triwulan III-2017 bertambah tiga dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 1.622 BPR. Jumlah jaringan kantor dari 1.622 BPR tersebut berkurang satu kantor dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 6.156 jaringan kantor.
Grafik 35 Jaringan Kantor BPR
Sumber: OJK, September 2017
Penyebaran jaringan kantor pada lima wilayah di Indonesia masih belum merata,
yaitu masih terpusat di wilayah Jawa (74,87% atau 4.609 kantor), diikuti wilayah Sumatera (11,74% atau 723 kantor), wilayah Bali-NTB-NTT (7,28% atau 448 kantor), wilayah Sulampua (4,04% atau 249 kantor), dan wilayah Kalimantan (2,06% atau 127 kantor).
5.3.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)
Pada triwulan III-2017, telah dilakukan FPT New Entry kepada 582 calon pengurus dan PSP BPR, dengan hasil terdapat 523 calon Pengurus/PSP BPR (89,86% dari calon pelamar) yang mendapatkan persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris dan PSP, dan 59 calon yang ditolak. Jumlah calon pengurus dan PSP BPR yang lulus tersebut meningkat 70,36% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Tabel 47 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR
Sumber: OJK
Koordinasi Antar
Lembaga
90
Halaman ini sengaja dikosongkan
Bab VI
Koordinasi Antar Lembaga
Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, dilakukan koordinasi dengan lembaga- lembaga terkait baik secara bilateral maupun melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengembangan industri perbankan.
1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan
1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK), Komite Stabilitas Sistem Keuangan telah menyelenggarakan rapat berkala dalam rangka koordinasi pemantauan dan pemeliharaan Stabilitas Sistem Keuangan pada 27 Juli 2017. Rapat diadakan di Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dan dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur BI dan Ketua Dewan Komisioner LPS serta Ketua Dewan Komisioner OJK yang baru saja dilantik. KSSK menyampaikan apresiasi atas kontribusi Ketua Dewan Komisioner OJK beserta jajaran pada periode 2012-2017 dalam memelihara dan menjaga stabilitas sistem keuangan dan menyambut baik kepemimpinan OJK yang baru.
Berdasarkan hasil pemantauan dan penilaian terhadap perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan non- bank dan penjaminan simpanan, KSSK menyimpulkan stabilitas sistem keuangan
pada triwulan II-2017 dalam kondisi normal.
Stabilitas sistem keuangan ditopang oleh fundamental ekonomi yang terjaga baik seperti deflasi harga pangan, inflasi pada masa Lebaran yang relatif rendah dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan jumlah rekening simpanan yang signifikan, serta penerimaan perpajakan pada semester I-2017 yang relatif stabil. Namun demikian, KSSK tetap mencermati beberapa potensi risiko baik eksternal maupun domestik.
Dari sisi eksternal, KSSK tetap memantau perkembangan rencana lanjutan kenaikan Fed Fund Rate, pengurangan besaran neraca bank sentral AS, ketidakpastian arah kebijakan fiskal AS, tekanan harga komoditas terutama minyak mentah, serta dinamika geopolitik global dan regional.
Sedangkan dari faktor domestik, beberapa faktor risiko yang dicermati oleh KSSK yaitu indikasi dari kegiatan ritel yang kurang sesuai dengan yang diharapkan, dampak penyesuaian harga listrik 900 VA, serta pertumbuhan kredit dan risiko kredit yang masih perlu menjadi perhatian. Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi dalam memelihara stabilitas
92
sistem keuangan, termasuk dengan memperkuat kerjasama riset diantara lembaga anggota KSSK untuk membangun leading economic indicator yang lebih robust.
Sebagai bagian dari komitmen dalam memperkuat rezim pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan nasional, KSSK membahas perkembangan agenda penguatan tata kelola manajemen krisis yang telah dan akan dilaksanakan pada tahun 2017. KSSK membahas tindak lanjut dari pembentukan Sekretariat KSSK melalui penetapan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Selain itu, dalam rapat ini KSSK menetapkan Keputusan KSSK berupa Protokol Manajemen Krisis KSSK (PMK KSSK) yang mengatur pedoman dan tata cara secara bersama dalam langkah pencegahan dan penanganan krisis yang didasarkan pada kewenangan KSSK sebagaimana diatur dalam UU PPKSK. PMK KSSK melengkapi protokol manajemen krisis yang selama ini telah dikelola oleh masing- masing anggota KSSK.
Lebih lanjut, KSSK akan melanjutkan sejumlah kegiatan yang telah diagendakan sampai dengan akhir tahun 2017, diantaranya simulasi penanganan krisis sistem keuangan pada bulan Oktober 2017, tindak lanjut perjanjian kerja sama program pengembangan kompetensi pegawai dan konsultasi dengan DPR atas peraturan pelaksanaan UU PPKSK dalam bentuk Rancangan Peraturan Pemerintah.
1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI)
Terdapat empat aspek kerjasama dan koordinasi antara OJK dan BI sesuai dengan UU PPKSK, yaitu:
a) Pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan;
b) Penanganan krisis sistem keuangan;
c) Penanganan permasalahan (likuiditas dan solvabilitas) bank sistemik, baik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun kondisi krisis sistem keuangan;
dan
d) Pertukaran data dan/atau informasi yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan.
Sebagai tindak lanjut dari UU PPKSK, koordinasi yang dilakukan antara OJK dan BI pada triwulan III-2017 antara lain terkait:
a) Uji coba implementasi ketentuan terkait Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek (PLJP);
b) Penyiapan skenario simulasi pencegahan dan penanganan krisis keuangan tahun 2017 bersama dengan lembaga anggota KSSK lainnya; dan
c) Pemutakhiran daftar Bank Sistemik Periode September 2017.
Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK) juga mengamanatkan OJK dan BI untuk berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing Lembaga. Amanat UU dimaksud ditindaklanjuti dengan Keputusan Bersama (KB) BI-OJK. Pada triwulan III-2017, BI dan OJK telah melakukan beberapa koordinasi, antara lain dalam bidang kebijakan/peraturan makroprudensial dan mikroprudensial, yang terkait dengan:
a) Rancangan Peraturan Bank Indonesia (RPBI) tentang Pelayanan Perizinan Terpadu bagi Kegiatan Operasional Bank Umum di BI (PPTBU);
b) Penyempurnaan ketentuan BI terkait Fasilitas Likuiditas Intrahari (FLI);
c) Koordinasi lanjutan mengenai rencana pengawasan sertifikat deposito di Pasar Uang sesuai dengan PBI tentang Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang;
d) Kajian terkait rencana pengaturan Medium Term Notes (MTN);
e) Finalisasi Petunjuk Pelaksanaan kerjasama dan koordinasi OJK-BI; dan f) RPOJK tentang Penerapan Tata Kelola
dalam Pemberian Remunerasi Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah;
Selain itu, dalam rangka peningkatan pemahaman terkait Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama dan Koordinasi BI-OJK kepada seluruh satuan kerja di BI maupun OJK khususnya Kantor perwakilan Dalam Negeri (KPwDN) BI dan Kantor Regional (KR/KOJK) OJK, pada triwulan III-2017 telah dilaksanakan sosialisasi bersama BI-OJK mengenai Petunjuk Pelaksanaan Kerjasama dan Koordinasi BI-OJK kepada seluruh KPwDN BI dan KR/KOJK.
2. Upaya OJK dalam rangka Fasilitasi Pengembangan Sektor Riil dan Implementasi APU dan PPT
2.1 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Sampai dengan triwulan III-2017, realisasi penyaluran kredit JARING mencapai 172,75% dari target yang ditetapkan dalam
RBB JARING triwulan III-2017. Penyaluran kredit program JARING tumbuh 14,85%
(yoy) menjadi Rp26,69 triliun. Peningkatan kredit JARING terbesar utamanya terdapat pada subsektor industri pengolahan dan perdagangan yang masing-masing tumbuh 19,29% (yoy) dan 15,75% (yoy).
Ditengah meningkatnya penyaluran kredit JARING, risiko kredit JARING masih terjaga meskipun NPL gross sedikit naik sebesar 9 bps (yoy) dari 2,20% menjadi 2,29%, namun masih relatif rendah dan dibawah threshold 5%. Penurunan kualitas kredit utamanya terdapat pada subsektor Jasa Sarana Produksi yang naik 266 bps (yoy).
Sementara terdapat peningkatan kualitas kredit pada subsektor industri pengolahan dan budidaya perikanan.
Secara triwulanan penyaluran kredit program JARING juga tumbuh 2,37% (qtq), lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III-2016 (2,13%, qtq). Peningkatan tersebut juga diiringi dengan perbaikan kualitas kredit dengan NPL gross yang turun 9 bps (qtq). Peningkatan kualitas kredit secara kuartalan terdapat pada subsektor perdagangan, industri pengolahan, dan budidaya perikanan (Tabel 48).
Grafik 36 Realisasi dan NPL Program JARING
Sumber: OJK, diolah
94
Sep Des Mar Jun Sep
Penangkapan 2,77 3,05 3,33 4,02 4,13
Budidaya 2,63 1,96 2,41 2,18 2,10
Jasa sarana produksi 2,68 2,21 5,56 5,25 5,34
Industri Pengolahan 1,58 0,84 0,83 0,91 0,79
Perdagangan 2,11 1,93 2,51 2,56 2,32
NPL JARING 2,20 1,85 2,25 2,37 2,29
Kegiatan Usaha 2016 2017
Tabel 48 NPL Kegiatan Usaha Program JARING (%)
Sumber: OJK, diolah
2.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
Berdasarkan Nota Kesepahaman Nomor PRJ-03/D-01/2013, OJK dan PPATK secara aktif melakukan kerjasama dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme (TPPU dan TPPT) meliputi pertukaran informasi, penyusunan ketentuan, koordinasi pemeriksaan, pendidikan, dan pelatihan.
Pada tanggal 26 s.d 28 Juli 2017, OJK telah menghadiri dan menyampaikan pemaparan terkait peran, capaian, dan tantangan OJK dalam melakukan Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dan TPPT selama tahun 2016-2017 pada Pelatihan dan Pelaksanaan Survei Nasional Persepsi Publik TPPU dan TPPT Tahun 2017 yang diselenggaran oleh PPATK. Pelaksanaan Survei Persepsi Publik Indonesia terhadap TPPU dan TPPT Tahun 2017 secara umum dimaksudkan untuk memperoleh Indeks Persepsi Publik (IPP) Indonesia atas TPPU dan TPPT yang menggambarkan tingkat efektivitas kinerja Pemerintah dalam melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dan TPPT di Indonesia dari sisi publik. Secara lebih khusus IPP terhadap TPPU dan TPPT disusun sebagai
suatu tolak ukur (monitoring tools) untuk memonitor tindak lanjut atas rekomendasi- rekomendasi pokok National Risk Assessment (NRA) TPPU dan NRA TPPT yang juga telah disusun oleh PPATK. IPP menjadi sangat penting dalam mengukur pencapaian seluruh stakeholders rezim APU PPT di Indonesia dalam menentukan arah kebijakan yang paling tepat untuk mencegah dan memberantas TPPU dan TPPT, khususnya yang berkaitan dengan tindak lanjut rekomendasi-rekomendasi pokok NRA. Penyusunan indeks ini menjadi semakin penting, mengingat pada November 2017, FATF selaku standard setter rezim APU PPT internasional akan melakukan Mutual Evaluation terhadap efektivitas Rezim APU PPT di Indonesia sesuai dengan 40 Rekomendasi FATF.
Rangkaian kegiatan IPP selanjutnya yaitu Expert Group Meeting "Pembahasan Hasil Analisis dan Penyusunan Rekomendasi Index Persepsi Terhadap TPPU dan TPPT Tahun 2017". Acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama PPATK, OJK, dan seluruh stakeholders yang tergabung pada Rezim APU PPT Indonesia. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh tim ahli dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Survey Indonesia serta Tim Akademisi yang berasal dari Universitas Sumatera Utara, Universitas
Sriwijaya, Universitas Jember, Universitas Padjadjaran, Universitas Dipenogoro, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Lambung Mangkurat.
Selain itu, sebagai tindak lanjut dari penetapan Peraturan Bersama tentang Pencantuman Identitas Orang atau Korporasi dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal, dan Pemblokiran Secara Serta Merta atas Dana Milik Orang atau Korporasi pada tanggal 5 Juli 2017, PPATK bersama OJK, Kementerian Luar Negeri, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, dan perwakilan industri perbankan melaksanakan Diseminasi Kebijakan dan Regulasi di Bidang Pencegahan Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal pada tanggal 10 Agustus 2017. Adapun pada kegiatan diseminasi tersebut, OJK menjadi salah satu Narasumber dalam Panel Diskusi dengan materi “Penanganan Permintaan Pemblokiran Secara Serta Merta Terkait Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal”. Peserta dalam kegiatan diseminasi tersebut adalah sebanyak 300 orang yang terdiri dari perwakilan kementerian/lembaga terkait, perwakilan asosiasi pihak pelapor, perwakilan pihak pelapor, dan perwakilan pejabat dan pegawai PPATK.
Secara khusus, diseminasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai Peraturan Bersama terkait Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal;
memperoleh informasi terkait tugas dan fungsi, serta mekanisme Pencantuman Identitas Orang atau Korporasi Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal, dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang Tercantum Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal; serta
mengetahui pandangan dan kesiapan kementerian/lembaga, serta pihak pelapor terhadap implementasi Peraturan Bersama tersebut.
Selanjutnya, dalam rangka mendukung penerapan program APU PPT berbasis risiko di sektor jasa keuangan termasuk perbankan, OJK menyelenggarakan Seminar Internalisasi National Risk Assessement (NRA) TPPU/TPPT dalam rangka Penguatan Penerapan Program APU dan PPT Berbasis Risiko di Sektor Jasa Keuangan. Kegiatan internalisasi NRA TPPU/TPPT dibuka oleh Ketua Dewan Komisioner OJK dan penyampaian keynote speech dari Kepala PPATK, serta mengundang narasumber dari DJP, KPK, dan BNN. Peserta yang mengikuti kegiatan ini tidak hanya berasal dari sektor perbankan, tapi juga pasar modal dan IKNB dengan total peserta yang hadir sebanyak 171 orang. Melalui kegiatan tersebut, PJK diharapkan dapat memahami dan menginternalisasi NRA TPPU/TPPT ke dalam kebijakan dan prosedurnya, serta penyusunan risk assessment masing-masing khususnya terkait tiga tindak pidana asal dengan tingkat risiko TPPU tertinggi, yaitu Narkotika, Korupsi, dan Perpajakan.
2.3 Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT)
Sejalan dengan diterbitkannya POJK 12/POJK.01/2017 yang merupakan peraturan penerapan program APU dan PPT yang terintegrasi bagi seluruh sektor jasa keuangan (perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank/IKNB), OJK melanjutkan kegiatan sosialisasi POJK APU dan PPT kepada para pelaku industri jasa keuangan di berbagai daerah dalam rangka
96
Individu Korporasi
1 07-Jul-17 DTTOT/P-4/1035/VII/2017 370 WNA, 22 WNI 75 entitas luar negeri dan 5 entitas dalam negeri 2 22-Agust-17 DTTOT/P-4a/1247/VIII/2017 370 WNA, 22 WNl yang
diduga terkait dengan jaringan terorisme Al- Qaeda dan Taliban, 5 individu yang bersumber dari pemerintah lndonesia berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
75 entitas luar negeri dan 5 entitas dalam negeri yang diduga terkait dengan jaringan terorisme Al-Qaeda dan Taliban,
1 entitas dalam negeri yang bersumber dari pemerintah lndonesia berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta pusat
3 18-Sep-17 DTTOT/P-4b/1402/IX/2017 370 WNA dan 23 WNI yang bersumber dari ISIL (Daesh) and Al-Qaeda Sanction List dan Taliban List,
5 WNI yang bersumber dari pemerintah lndonesia berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
80 entitas luar negeri dan 5 entitas dalam negeri yang diduga terkait dengan jaringan terorisme Al-Qaeda dan Taliban,
1 entitas dalam negeri yang bersumber dari pemerintah lndonesia berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Jumlah Daftar
No. Tanggal Surat No. DTTOT
peningkatan pemahaman dan penguatan penerapan program APU dan PPT. Selama triwulan III-2017, OJK telah menyelenggarakan sosialisasi dimaksud kepada 160 perwakilan PJK perbankan di Yogyakarta, 95 perwakilan PJK BPR/BPRS di Makassar, 85 perwakilan PJK di Palangkaraya, 70 perwakilan PJK di Riau, dan 115 perwakilan PJK Perbankan di Bandung.
Materi yang disampaikan meliputi latar belakang rezim APU dan PPT, modus operandi TPPU dan TPPT, daftar terduga teroris dan organisasi teroris (DTTOT), NRA TPPU dan TPPT, Mutual Evaluation Review (MER) Indonesia, dan ketentuan penerapan program APU dan PPT berbasis risiko yang
mencakup lima pilar sesuai POJK APU dan PPT.
Selanjutnya, OJK juga menerbitkan Surat Edaran OJK Nomor 38/SEOJK.01/2017 tanggal 18 Juli 2017 tentang Pedoman Pemblokiran Secara Serta Merta atas Dana Nasabah di Sektor Jasa Keuangan yang Identitasnya Tercantum dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris, sebagai ketentuan pelaksanaan bagi PJK yang berada di bawah pengawasan OJK.
OJK selaku Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) sektor jasa keuangan telah menyampaikan daftar terduga teroris dan organisasi teroris (DTTOT) kepada seluruh PJK pada triwulan III-2017 dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 49 Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris (DTTOT) Triwulan III-2017
Sumber: OJK, Kapolri dan PPATK
Individu Korporasi
1 07-Agust-17 62 50
2 11-Sep-17 63 53
No Tanggal Jumlah Daftar
Sebagaimana diatur pada Peraturan Bersama Menteri Luar Negeri RI, Kepala Kepolisian Negara RI, Kepala PPATK, dan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir telah menerbitkan Peraturan Bersama tentang Pencantuman Identitas Orang atau Korporasi Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal, dan Pemblokiran Secara Serta Merta Atas Dana Milik Orang atau Korporasi yang Tercantum Dalam Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal pada tanggal 31 Mei 2017, PJK memiliki kewajiban untuk melakukan pemblokiran secara serta merta atas dana yang dimiliki atau dikuasai oleh
orang atau korporasi yang identitasnya tercantum dalam daftar pendanaan proliferasi senjata pemusnah massal.
Selanjutnya, OJK selaku LPP sektor jasa keuangan telah menyampaikan daftar tersebut kepada seluruh PJK pada triwulan III-2017 dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 50 Daftar Pendanaan Proliferasi Senjata Pemusnah Massal Triwulan III-2017
Sumber: OJK
98
Halaman ini sengaja dikosongkan
Asesmen Lembaga
Internasional
100
Halaman ini sengaja dikosongkan
Bab VII
Asesmen Lembaga Internasional
Pada triwulan III-2017, OJK mulai melakukan review atas kebijakan dan implementasi pengawasan perbankan berdasarkan hasil asesmen FSAP 2016-2017 serta merencanakan tindak lanjut yang diperlukan. Terkait dengan persiapan menghadapi Mutual Evaluation Review, telah dilakukan pembahasan first draft Technical Compliance Annex (TC annex) yang berisi penilaian sementara TC Indonesia, dan persiapan on-site visit pada bulan November 2017.
Sejalan dengan keanggotaan Indonesia di beberapa fora internasional (a.l. G-20, Financial Stability Board (FSB), dan Basel Committee on Banking Supervision (BCBS)), Indonesia berkomitmen untuk mengadopsi standar internasional berbagai inisiatif reformasi sektor keuangan global. Terkait dengan itu, FSB dan BCBS melakukan review dan pemantauan secara reguler terhadap sistem keuangan seluruh negara anggota untuk menilai tingkat kepatuhan terhadap kerangka pengaturan dan rekomendasi reformasi sektor keuangan global tersebut.
Beberapa proses review yang dihadapi oleh Indonesia adalah Financial Sector Assessment Program (FSAP) dan Mutual Evaluation Review (MER).
1. Financial Sector Assessment Program (FSAP)
FSAP merupakan joint program yang dikembangkan oleh International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pada tahun 1990 untuk menilai stabilitas dan pengembangan sistem keuangan suatu negara secara komprehensif. FSAP melibatkan berbagai otoritas dan instansi di sektor keuangan di Indonesia. FSAP fokus
pada sinkronisasi peraturan di suatu negara terhadap prinsip internasional yang antara lain ditetapkan dalam Basel Core Principles (BCP) untuk perbankan, IOSCO Principles untuk pasar modal, dan Insurance Core Principles (ICPs) untuk Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
Sebagai anggota IMF dan World Bank, penilaian FSAP terhadap Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun 2009-2010 dan berulang secara berkala dengan tenggat waktu 5 s.d 7 tahun (FSAP updates).
Penilaian FSAP yang dilakukan pada 2016- 2017 adalah FSAP update pertama bagi Indonesia. Dalam FSAP 2016-2017, penilaian meliputi pemenuhan otoritas terhadap standar internasional yang mencakup antara lain kewenangan berdasarkan Undang- Undang, kewenangan untuk mengeluarkan ketentuan dan kebijakan, dan praktik dalam pelaksanaan fungsi/amanat yang dimiliki.
Selain kebijakan dan ketentuan yang ada, dokumentasi terkait pelaksanaan pengawasan menjadi hal yang sangat krusial bagi asesor dalam melakukan asesmen terhadap praktik pengawasan. Rencana pengembangan ke depan juga menjadi krusial dalam asesmen untuk memahami arah perbaikan ke depan.
102
Hasil penilaian FSAP 2016-2017 telah dipublikasikan oleh IMF pada 12 Juni 2017 dan sejalan dengan hal tersebut, anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga telah mengeluarkan Joint Press Release atas hasil FSAP pada 13 Juni 2017 yang terdapat pada website masing-masing lembaga KSSK. Secara umum IMF mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan reformasi di sektor jasa keuangan sehingga kinerja makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan dapat terjaga dengan baik. Hasil penilaian FSAP menunjukkan bahwa sistem keuangan Indonesia memiliki risiko sistemik yang rendah dan telah berhasil melalui krisis keuangan global. Sistem perbankan terjaga kesehatannya serta memiliki kecukupan modal dan likuiditas yang sangat memadai.
Bahkan hasil stress test yang dilakukan otoritas dan perbankan secara periodik menunjukkan sektor perbankan tetap dapat bertahan meskipun dalam tekanan yang besar.
Kondisi tersebut terutama didukung oleh banyaknya kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia sejak dilaksanakannya FSAP pertama tahun 2010, di antaranya penguatan pengawasan sektor keuangan, jaring pengaman keuangan dan protokol manajemen krisis, serta pendalaman pasar keuangan dan inklusi keuangan.
Sejak FSAP terakhir, OJK bersama dengan otoritas lainnya telah menerapkan kerangka permodalan Basel III dan Undang-Undang Asuransi yang baru, serta meningkatkan kualitas pelaksanaan pengawasan lintas sektoral. Selain itu, pengembangan dan penguatan kerangka makroprudensial juga telah dilakukan melalui pengembangan alat analisis untuk menilai risiko sistemik serta
implementasi sejumlah instrumen kebijakan makroprudensial. Indonesia juga telah mengeluarkan Undang-Undang yang secara khusus bertujuan untuk pelaksanaan, pencegahan dan penggulangan krisis sistem keuangan (UU Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan/ UU PPKSK).
Dengan hasil asesmen yang positif, IMF mendorong OJK dan otoritas lainnya untuk mengimplementasikan rekomendasi atas beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam rangka melanjutkan penguatan sektor keuangan serta meningkatkan pendalaman pasar keuangan dan inklusi. Pada triwulan III-2017, OJK memulai melakukan review kebijakan dan implementasi pengawasan perbankan berdasarkan hasil asesmen FSAP 2016-2017 beserta merencanakan tindak lanjut yang diperlukan.
Ke depan, OJK dan anggota KSSK lainnya secara bersama-sama menyampaikan komitmen untuk tetap menjaga stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi, dan mengharapkan hasil asesmen atas sektor keuangan Indonesia tersebut tidak saja semakin menumbuhkan kepercayaan masyarakat domestik dan internasional terhadap kondisi perekonomian Indonesia namun juga dapat menjadi angin segar bagi negara-negara lain di tengah kondisi perekonomian global yang masih belum pulih pasca krisis 2008.
2. Mutual Evaluation Review (MER) Selama tahun 2017 hingga 2018, Indonesia mengikuti rangkaian MER oleh Asia Pacific Group on Money Laundering (APG) yang menilai kepatuhan Indonesia terhadap 40 Rekomendasi Financial Action Task Force