• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Pengembangan Pengawasan Terintegrasi

Bab IV Pengembangan Pengawasan Terintegrasi

3. Kegiatan Pengembangan Pengawasan Terintegrasi

Pada triwulan III-2017, dalam rangka capacity building bagi Pengawas Terintegrasi dan Pengawas Individu LJK anggota Konglomerasi Keuangan serta untuk mendukung pelaksanaan pengawasan terintegrasi, telah dilakukan sosialisasi Pengawasan Terintegrasi. Adapun materi yang diberikan mencakup ketentuan eksternal dan internal pengawasan terintegrasi serta perkembangan terkini pengawasan terintegrasi terhadap KK.

Selain itu, juga telah diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan anggota Komisi XI DPR untuk membahas perkembangan pengawasan terintegrasi terhadap KK.

Pengawasan

Perbankan

78

Halaman ini sengaja dikosongkan

KP KC Jumlah

Kantor KP KC Jumlah

Kantor BUK 118 393 511 116 372 488 BUS 11 20 31 11 20 31 UUS 36 14 50 36 14 50 BPR 1.373 79 1.452 1.331 72 1.403 BPRS 148 12 160 124 5 129 Total 1.686 518 2.204 1.618 483 2.101 Jenis Bank

Rencana Realisasi

TW I-III 2017 TW I-III 2017

Bab V

Pengawasan Perbankan

Pengawasan oleh OJK dilakukan secara berkala melalui pengawasan langsung (on-site supervision) dan pengawasan tidak langsung (off-site supervision). Selain itu, OJK juga melakukan beberapa pemeriksaan khusus serta terlibat dalam pemberian keterangan saksi/ahli dalam penanganan dugaan tindak pidana perbankan.

1. Pemeriksaan Umum dan Pemeriksaan Khusus

Berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) pengawasan terhadap bank wajib dilakukan pemeriksaan umum setahun sekali secara berkala. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan dilakukan pemeriksaan umum sewaktu-waktu apabila diperlukan.

Sampai dengan triwulan III-2017, telah direalisasikan pemeriksaan terhadap 2.101 kantor bank yang terdiri dari 1.618 Kantor Pusat (KP) dan 483 Kantor Cabang (KC). Dari 2.101 kantor bank tersebut, 569 diantaranya merupakan kantor Bank Umum dan 1.532 kantor BPR dan BPRS. Dibandingkan dengan rencana, realisasi pemeriksaan umum sudah mencapai 95,33% (Tabel 36).

Tabel 36 Pemeriksaan Umum Bank

Sumber: OJK

Selain melakukan pemeriksaan umum, pengawas juga melaksanakan pemeriksaan khusus. Sampai dengan triwulan III-2017, telah dilakukan 302 subjek pemeriksaan khusus terhadap bank umum dengan cakupan pemeriksaan antara lain pemeriksaan setoran modal, aktivitas operasional, joint audit, GCG, teknologi dan

informasi, fraud, serta penetapan pencabutan (Tabel 37). Sementara pemeriksaan khusus untuk Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) telah dilakukan oleh pengawas bersamaan dengan pemeriksaan umum.

80

Subjek Pemeriksaan TW I-III 2017 Suku Bunga - Setoran Modal 105 Aktivitas Operasional 132 Teknologi & Informasi 11 Aktivitas Treasuri - Joint Audit 2 GCG 2 Fraud 19 Penetapan Pencabutan 1 Pemeriksaan Kesiapan Rencana

Bank Devisa - Lainnya 30

Total 302

Tabel 37 Pemeriksaan Khusus Bank

Sumber: OJK

2. Perizinan Produk dan Aktivitas Bank Dalam rangka penerbitan produk dan aktivitas baru, perbankan wajib mematuhi ketentuan yang berlaku. Hal ini mengingat produk dan aktivitas baru yang ditawarkan perbankan berkembang menjadi semakin kompleks dan bervariasi, sehingga eksposur risiko Bank dari aktivitas tersebut semakin tinggi.

Sehubungan dengan itu, Bank wajib menyampaikan laporan untuk setiap penerbitan produk atau aktivitas baru apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a) Tidak pernah diterbitkan atau dilakukan oleh Bank sebelumnya; atau

b) Telah diterbitkan atau dilaksanakan sebelumnya oleh Bank namun dilakukan pengembangan yang mengubah atau meningkatkan eksposur risiko tertentu pada Bank. Pengembangan yang mengubah atau meningkatkan eksposur risiko tertentu pada produk atau aktivitas bank, antara lain meliputi:

1) Pengembangan produk Bank yang telah diterbitkan sebelumnya oleh Bank, misalnya:

a. Penerbitan obligasi dengan tingkat kupon dan/atau jangka waktu yang berbeda dari obligasi yang sudah diterbitkan sebelumnya.

b. Penerbitan principally protected structured product yang berubah jangka waktunya dan/atau underlying-nya dari yang pernah diterbitkan sebelumnya.

2) Pengembangan aktivitas Bank yang merupakan aktivitas kerjasama dengan pihak lain, yang dalam pengembangannya memerlukan persetujuan dari atau pelaporan kepada otoritas pengawas yang berwenang, misalnya penambahan atau perubahan partner dalam melakukan aktivitas pemindahan dana (transfer).

Perorangan Badan Hukum 415.849

13.003

Jumlah Rekening Outstanding Tabungan BSA 11.808.868

Rp1,26 Triliun Agen Laku Pandai

Nasabah Laku Pandai Produk/Aktivitas Baru TW I-III 2017

Reksadana 153 Bancassurance 136 E-Banking 36 Perkreditan/Pembiayaan 20 Surat Berharga

(Obligasi/MTN/Sukuk) 21 Pendanaan 17

APMK 11

Structured Product 11 Aktivitas Call Center 1

LC 3

Cash Management 16 Fitur SMS Notifikasi 1 e-Commerce 4 Kepemilikan Logam Mulia 2 Refferal Retail Brokerage - Lainnya 46

Total 478

Sampai dengan triwulan III-2017, variasi produk dan aktivitas baru yang diterbitkan oleh Bank dan telah disetujui OJK cukup beragam. Produk dan aktivitas baru yang telah diterbitkan mencapai 478 produk yang sebagian besar terkait dengan reksadana dan bancassurance (Tabel 38).

Tabel 38 Produk dan Aktivitas Baru Perbankan

Sumber: OJK

3. Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai)

Pada triwulan III-2017, terdapat tambahan satu BUK yang menjadi penyelenggara Laku Pandai sehingga secara total bank penyelenggara Laku Pandai berjumlah 23 bank, yang terdiri dari 21 BUK (termasuk 9 BPD) dan dua BUS.

Jumlah agen Laku Pandai pada triwulan III- 2017 mencapai 428.852 agen (415.849 agen perorangan dan 13.003 outlet badan hukum) yang tersebar di 34 Provinsi dan 512 Kota/Kabupaten. Sementara itu, jumlah

nominal dan nasabah tabungan berkarakteristik basic saving account (BSA) yang berhasil dihimpun masing-masing sebesar Rp1,26 triliun dan 11.808.868 nasabah.

Sebagian besar agen Laku Pandai masih terkonsentrasi di pulau Jawa (63,41%), diikuti pulau Sumatera (19,68%), Sulawesi (6,33%), Bali-NTB-NTT (4,62%), Kalimantan (4,06%), dan sisanya tersebar di Maluku dan Papua (1,91%). Sama halnya dengan persebaran agen, sebagian besar nasabah BSA juga tersebar di pulau Jawa (71,11%) (Grafik 32).

Tabel 39 Realisasi Laku Pandai Triwulan III- 2017

Sumber: OJK

Grafik 32 Wilayah Penyebaran Agen Laku Pandai

Sumber: OJK, September 2017

Selain tabungan berkarakteristik BSA, agen Laku Pandai dapat melayani pengajuan kredit mikro, pembelian asuransi mikro, dan produk/layanan keuangan lainnya seperti uang elektronik sepanjang agen Laku

82

Objek Track Record TW III '17 Kepala Kantor Perwakilan 0

Direksi 2

Pejabat Eksekutif 1

Pejabat Non Eksekutif 7

TOTAL 10

Pandai telah memenuhi klasifikasi tertentu sebagaimana diatur dalam ketentuan Laku Pandai. Sampai saat ini telah terdapat 1 (satu) bank yang memiliki agen yang dapat melayani pengajuan kredit mikro berupa KUR Mikro dan pembelian asuransi mikro, sementara beberapa bank lainnya sedang dalam tahap persiapan untuk dapat memasarkan kredit mikro dan asuransi mikro melalui agen Laku Pandai.

Jaringan agen Laku Pandai yang telah tersebar di 34 Provinsi dan 512 kabupaten/kota mendorong beberapa kementerian/lembaga memanfaatkan keberadaan agen Laku Pandai untuk mendukung program yang diusungnya seperti Bantuan Sosial Non Tunai dan Inklusi Zakat (zakat inclusion) yang memerlukan jangkauan layanan sampai ke daerah pelosok. Selain didayagunakan untuk mendukung pelaksanaan program/kegiatan pemerintah, agen Laku Pandai dapat dimanfaatkan untuk mendorong penciptaan ekosistem ekonomi digital. Terkait hal ini, beberapa bank penyelenggara telah berencana untuk bekerjasama dengan perusahaan e-commerce/marketplace.

Mengingat implementasi program Laku Pandai masih tergolong baru di industri perbankan, masih terdapat beberapa kendala dalam implementasi Laku Pandai.

Adapun kendala yang dihadapi antara lain:

(i) belum memadainya ketersediaan jaringan telekomunikasi dalam menunjang penggunaan perangkat elektronis untuk Laku Pandai; serta (ii) kurangnya pemahaman baik masyarakat maupun pemerintah daerah terhadap program Laku Pandai dan manfaat keberadaan agen Laku Pandai untuk membantu transaksi keuangan di daerah.

4. Penegakan Kepatuhan Bank

4.1 Uji Kemampuan dan Kepatutan (Existing)

Dalam rangka melindungi industri bank dari pihak-pihak yang diindikasikan tidak memenuhi persyaratan kemampuan dan kepatutan, secara berkesinambungan terhadap pihak–pihak yang telah mendapat persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris, Pemegang Saham Pengendali (PSP), dan Pejabat Eksekutif, dilakukan penilaian kembali atas kemampuan dan kepatutannya sebagai pemilik dan pengelola Bank (Fit and Proper Existing).

Penilaian kembali dilakukan dalam hal terdapat indikasi permasalahan integritas, reputasi keuangan dan/atau kompetensi.

Pada triwulan III-2017, terdapat tiga Direksi dan tiga Pejabat Eksekutif bank yang tidak lulus proses Fit and Proper Existing.

Dalam melakukan penilaian FPT existing, kelayakan (calon) pengurus dan pegawai bank ditentukan oleh data track record yang menggambarkan history perilaku penyimpangan ketentuan perbankan yang pernah dilakukan selama menjabat. Selama triwulan III-2017, terdapat penambahan 10 pelaku pelanggaran yang dilakukan oleh pihak–pihak yang telah mendapat persetujuan untuk menjadi Direksi, Pejabat Eksekutif, dan Pejabat Non Eksekutif.

Adapun modus yang dilakukan antara lain terkait penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran/penyimpangan SOP.

Tabel 40 Jumlah Track Record

Sumber: OJK

BU BPR BU BPR Kantor Bank

Kasus (PKP)

1. PKP yang diterima dan ditindaklanjuti 3 4 5 7 7 12

2. PKP yang dikembalikan sebelum investigasi 0 0 0 0 0 0

a. Atas dasar analisis tim 0 0 0 0 0 0

b. Atas dasar QA 1 0 0 0 0 0 0

3. PKP yang diinvestigasi 2 3 4 5 5 9

a. Tindak Lanjut dengan Pelimpahan ke DPJK 0 0 0 0 0 0

b. Tindak Lanjut oleh Satker Pengawasan Bank

(Pengembalian PKP setelah Investigasi) 0 0 0 0 0 0

4. Pelimpahan kepada Satker Penyidikan 0 0 0 0 0 0

Tahapan Kegiatan

Triwulan III 2017

Kantor Bank Kasus (PKP) Total

4.2 Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan (Tipibank)

Seiring dengan perkembangan industri perbankan, pelaku fraud juga terus berupaya memanfaatkan berbagai kelemahan bank, baik dalam ketentuan maupun pengawasan yang ditetapkan.

Selama triwulan III-2017, terdapat 12 Penyimpangan Ketentuan Perbankan (PKP) pada 7 kantor bank. PKP tersebut selanjutnya dianalisis dan dikoordinasikan untuk memastikan apakah dapat ditindaklanjuti dengan investigasi. Apabila akan ditindaklanjuti dengan investigasi,

maka dilakukan pembahasan dalam forum Quality Assurance yang bertujuan antara lain untuk memastikan langkah-langkah investigasi yang akan dilakukan dalam mengungkap penyimpangan yang terjadi.

Sebagai tindak lanjut dari 12 PKP tersebut, telah dilakukan investigasi pada 9 PKP pada 5 kantor bank (2 kantor bank umum dan 3 kantor BPR). Pada triwulan III-2017, tidak terdapat PKP hasil investigasi yang dilimpahkan ke satuan kerja penyidikan atau dikembalikan kepada satuan kerja Pengawasan Bank (ditindaklanjuti dengan langkah-langkah pengawasan) (Tabel 41).

Tabel 41 Statistik Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan

Sumber: OJK

Mengingat penyebab dugaan tipibank pada umumnya bersumber dari internal bank seperti kelemahan pengawasan internal, kurangnya integritas pegawai, dan kelemahan sistem bank, maka bank perlu peningkatan pengawasan manajemen bank melalui pelaksanaan independent review oleh SKAI, kaji ulang kebijakan internal, serta pengamanan teknologi informasi dan infrastruktur pendukungnya.

4.3 Pemberian Keterangan Ahli dan/atau Saksi

Dalam rangka memenuhi permintaan aparat penegak hukum (APH), selama triwulan III- 2017 terdapat 22 permintaan keterangan ahli, yang berasal dari Kepolisian Negara RI (Polri) sebanyak 20 permintaan keterangan, Kejaksaan RI sebanyak 1 permintaan keterangan, dan satuan kerja penyidikan OJK sebanyak 1 keterangan. Sementara itu,

84

Saksi Ahli Total

1 Polri 0 20 20

2 Kejaksaan RI 0 1 1

3 Penyidikan

OJK 0 1 1

0 22 22

No. APH Permintaan

Total

tidak ada pemberian keterangan oleh saksi (Tabel 42).

Tabel 42 Pemberian Keterangan Ahli/Saksi

Sumber: OJK

Keterangan ahli yang diberikan meliputi kasus-kasus yang pernah ditangani OJK maupun terhadap kasus-kasus yang dilaporkan oleh pihak bank atau pihak lainnya kepada Polri atau Kejaksaan RI.

Pemberian keterangan ahli dilakukan sesuai dengan kompetensi terkait ketentuan perbankan dan pengawasan bank serta pengalaman pegawai dalam menangani kasus dugaan tipibank.

4.4 Sosialisasi

Dalam rangka peningkatan pemahaman terhadap dugaan tipibank, pada triwulan III- 2017 OJK ikut serta sebagai narasumber dalam sosialisasi pihak eksternal yang diberikan kepada industri perbankan dan aparat penegak hukum di Jakarta, Bandung, Jambi, Pontianak, dan Pekanbaru. Kegiatan ini penting agar industri perbankan dikelola oleh bankir-bankir yang fit dan proper serta apabila ditemukan adanya fraud dapat segera diproses guna menimbulkan announcement effect.

5. Jaringan Kantor dan Kelembagaan Perbankan

5.1 Bank Umum 5.1.1 Perizinan

Pada triwulan III-2017 telah diselesaikan 122 perizinan perubahan jaringan kantor BUK yang terdiri dari pembukaan kantor, penutupan kantor, pemindahan alamat kantor, dan perubahan status. Perizinan tersebut sebagian besar berupa penutupan Kantor Cabang Pembantu (KCP) (36,07% - 44 perizinan) dan pemindahan alamat KCP (18,85% - 23 perizinan).

Selain itu, terdapat dua perizinan perubahan nama izin usaha dan satu perizinan perubahan badan hukum. Perubahan nama izin usaha yaitu pada Bank of China menjadi izin usaha atas nama Bank of China (Hongkong) Limited, dan PT BANK ANDARA menjadi izin usaha atas nama PT BANK OKE INDONESIA. Sementara perubahan badan hukum terjadi pada BPD Kaltim menjadi PT BPD Kalimantan Timur.

5.1.2 Jaringan Kantor

Perkembangan jaringan kantor Bank Umum pada triwulan III-2017 dibandingkan triwulan sebelumnya meningkat 1.583 jaringan kantor menjadi 138.283 jaringan kantor. Peningkatan terbesar terjadi pada ATM/ADM yang bertambah 1.588 unit, sementara pengurangan terbesar terdapat pada KCP dalam negeri yang berkurang 88 kantor.

TW II TW III Kantor Pusat Operasional 51 50 Kantor Pusat Non Operasional 54 55 Kantor Cabang Bank Asing 9 9 Kantor Wilayah Bank Umum (konven+syariah) 175 174 Kantor Cabang (Dalam Negeri) 2.890 2.879 Kantor Cabang (Luar Negeri) 1 1 Kantor Cabang Pembantu Bank Asing 28 27 Kantor Cabang Pembantu (Dalam Negeri) 16.850 16.762 Kantor Cabang Pembantu (Luar Negeri) - -

Kantor Kas 10.680 10.726

Kantor Fungsional (konven+syariah) 1.623 1.578

Payment Point 1.700 1.758

Kas keliling/kas mobil/kas terapung 1.530 1.567 Kantor dibawah KCP KCBA yg tidak termasuk 11,12,13,14 *) 13 13 Kantor Perwakilan Bank Umum di Luar negeri 2 2

ATM/ADM 101.094 102.682

TOTAL 136.700 138.283

STATUS KANTOR 2017

Tabel 43 Jaringan Kantor Bank Umum

Sumber: OJK

Berdasarkan wilayah penyebaran jaringan kantor, 63,42% jaringan kantor bank umum berada di pulau Jawa dengan jumlah sebanyak 87.698 jaringan kantor, diikuti pulau Sumatera (22.936 atau 16,59%), Sulampua (11.411 atau 8,25%), Kalimantan (8.985 atau 6,50%), dan Bali-NTB-NTT (7.253 atau 5,25%).

Peningkatan jumlah jaringan kantor terjadi pada seluruh wilayah dengan peningkatan terbesar berada di pulau Jawa yang bertambah sebanyak 897 jaringan kantor.

Grafik 33 Penyebaran Jaringan Kantor Bank Umum di Lima Wilayah di Indonesia

Sumber: LKPBU, September 2017

5.1.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat, selain dilakukan melalui perbaikan kondisi keuangan perbankan, juga dapat dilakukan dengan penerapan tata kelola serta pemenuhan prinsip kehati-hatian.

Bank sebagai lembaga intermediasi setiap saat harus menjaga kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, lembaga perbankan perlu dimiliki dan dikelola oleh pihak-pihak yang memiliki integritas, komitmen, dan kemampuan yang tinggi untuk pengembangan operasional bank yang sehat.

Selain itu, dalam pengelolaan bank diperlukan SDM yang berintegritas tinggi, kompeten, dan memiliki reputasi keuangan yang baik. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan proses uji kemampuan

86

Lulus Tidak Lulus Lulus Tidak Lulus

PSP/PSPT 1 0 2 0 1 4

Dewan Komisaris 17 0 31 2 11 61

Direksi 34 2 52 5 19 112

Total 52 2 85 7 31 177

New Entry

Wawancara Surat Keputusan (SK) FPT

Jumlah Tidak ditindaklanjuti

TW III - 2017 dan kepatutan terhadap calon pemilik dan

calon pengelola bank melalui penelitian administratif yang lebih efektif dan proses wawancara yang lebih efisien, dengan tetap memperhatikan pemenuhan persyaratan yang ditetapkan Fit and Proper Test New Entry (FPT New Entry).

Pada triwulan III-2017, terdapat 52 pemohon FPT New Entry yang lulus mengikuti proses wawancara, terdiri dari 34 Direksi, 17 Dewan Komisaris dan satu PSP/PSPT. Selain itu, terdapat 85 calon pengurus yang mendapat surat keterangan lulus, disertai dengan carry over periode sebelumnya (Tabel 44).

Tabel 44 FPT Calon Pengurus dan Pemegang Saham Bank Umum

Sumber: OJK

5.2 Bank Syariah 5.2.1 Perizinan

Pada triwulan III-2017, terdapat 67 permohonan perizinan perbankan syariah yang terdiri dari 5 perizinan produk baru, 53 perizinan pengembangan jaringan kantor dan 9 perizinan lainnya. Dari 67 permohonan tersebut, terdapat 42 (62,69%) permohonan perizinan pengembangan jaringan kantor yang telah disetujui, terdiri dari pembukaan kantor, pemindahan alamat kantor, penutupan kantor, dan penghentian kegiatan Layanan Syariah Bank (LSB).

Sementara itu, terdapat dua perijinan yang ditolak dan dihentikan serta 23 perizinan yang masih dalam proses penyelesaian.

5.2.2 Jaringan Kantor

Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, jaringan kantor BUS bertambah 189 jaringan kantor menjadi 10.118 jaringan kantor.

Peningkatan terbanyak terdapat pada layanan syariah atau office channeling dan payment point masing-masing bertambah 90 dan 84 unit (Tabel 45).

Sebaran jaringan kantor BUS sebagian besar berada di wilayah Jawa (57,73% - 5.841 kantor), diikuti Sumatera (25,07% - 2.537 kantor), Kalimantan (7,69% - 778 kantor), Sulampua (7,03% - 711 kantor), dan Bali- NTB-NTT (2,48% - 251 kantor) (Grafik 34).

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat peningkatan jumlah jaringan kantor BUS yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Peningkatan terbanyak berada di wilayah Jawa yaitu 116 kantor.

TW II TW III Pendirian BPR - 7 Merger BPR - - BPR dalam Pengawasan Khusus 9 11 Pencabutan Izin Usaha 2 1 Total 11 11

Perijinan BPR 2017

Kantor Pusat Bank Umum Syariah 13 13 Kantor Cabang (Dalam Negeri) Syariah 609 610 Kantor Cabang (Luar Negeri) - - Kantor Cabang Pembantu (Dalam Negeri) Syariah 1.326 1.327 Kantor Cabang Pembantu (Luar Negeri) Syariah - -

Kantor Kas Syariah 239 240

Unit Usaha Syariah 21 21

Payment Point 1.925 2.009

Kas keliling/kas mobil/kas terapung Syariah 149 156

ATM/ADM Syariah 2.677 2.682

Layanan Syariah/Office Channeling (di KC/KCP Konvensional) 2.970 3.060

TOTAL 9.929 10.118

TW II - 2017

STATUS KANTOR TW III - 2017

Tabel 45 Jaringan Kantor Bank Umum Syariah

Sumber: OJK

Grafik 34 Penyebaran Jaringan Kantor BUS di Lima Wilayah di Indonesia

Sumber: OJK, September 2017

5.2.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Selama triwulan III-2017, telah dilaksanakan Fit and Proper Test New Entry terhadap 3 calon PSP, 30 Pengurus Bank Syariah, dan 9 calon Dewan Pengawas Syariah (DPS). Hasil FPT yaitu terdapat 4 calon Pengurus Bank dan 2 calon DPS yang dinyatakan memenuhi syarat. Selanjutnya 3 dokumen calon PSP bank, 6 dokumen calon Pengurus Bank Syariah dan 2 calon DPS dikembalikan karena tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Hingga akhir triwulan III-2017,

terdapat 20 proses perizinan FPT Pengurus Bank Syariah dan 5 calon DPS yang masih dalam proses penyelesaian.

5.3 BPR

5.3.1 Perizinan

Pada triwulan III-2017, terdapat tujuh proses perzinan pendirian BPR (2 izin prinsip dan 5 izin usaha), 11 BPR dalam pengawasan khusus dan satu pencabutan izin usaha BPR yang telah diselesaikan. Adapun pencabutan izin usaha dilakukan terhadap PT BPR Sisibahari Dana yang berlokasi di Tangerang, Banten pada 5 September 2017.

Sementara persetujuan izin pendirian BPR baru terdapat di wilayah Sumatera (2 BPR), Papua (2 BPR) dan Madura (1 BPR).

Tabel 46 Perizinan BPR

Sumber: OJK

88

Lulus Tidak

Lulus Total Lulus Tidak

Lulus Total

Direksi 203 43 246 402 44 446

Komisaris 86 12 98 85 10 95

PSP 18 0 18 36 5 41

Pengurus 0 0 0 0 0 0

Jumlah 307 55 362 523 59 582

TW III 2017

TW II New Entry

5.3.2 Jaringan Kantor

Jumlah BPR pada triwulan III-2017 bertambah tiga dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 1.622 BPR. Jumlah jaringan kantor dari 1.622 BPR tersebut berkurang satu kantor dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 6.156 jaringan kantor.

Grafik 35 Jaringan Kantor BPR

Sumber: OJK, September 2017

Penyebaran jaringan kantor pada lima wilayah di Indonesia masih belum merata,

yaitu masih terpusat di wilayah Jawa (74,87% atau 4.609 kantor), diikuti wilayah Sumatera (11,74% atau 723 kantor), wilayah Bali-NTB-NTT (7,28% atau 448 kantor), wilayah Sulampua (4,04% atau 249 kantor), dan wilayah Kalimantan (2,06% atau 127 kantor).

5.3.3 Uji Kemampuan dan Kepatutan (New Entry)

Pada triwulan III-2017, telah dilakukan FPT New Entry kepada 582 calon pengurus dan PSP BPR, dengan hasil terdapat 523 calon Pengurus/PSP BPR (89,86% dari calon pelamar) yang mendapatkan persetujuan untuk menjadi Direksi, Komisaris dan PSP, dan 59 calon yang ditolak. Jumlah calon pengurus dan PSP BPR yang lulus tersebut meningkat 70,36% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Tabel 47 Daftar Hasil Fit and Proper Test New Entry BPR

Sumber: OJK

Koordinasi Antar

Lembaga

90

Halaman ini sengaja dikosongkan

Bab VI

Koordinasi Antar Lembaga

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, dilakukan koordinasi dengan lembaga- lembaga terkait baik secara bilateral maupun melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengembangan industri perbankan.

1. Koordinasi dalam rangka Stabilitas Sistem Keuangan

1.1 Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (UU PPKSK), Komite Stabilitas Sistem Keuangan telah menyelenggarakan rapat berkala dalam rangka koordinasi pemantauan dan pemeliharaan Stabilitas Sistem Keuangan pada 27 Juli 2017. Rapat diadakan di Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dan dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur BI dan Ketua Dewan Komisioner LPS serta Ketua Dewan Komisioner OJK yang baru saja dilantik. KSSK menyampaikan apresiasi atas kontribusi Ketua Dewan Komisioner OJK beserta jajaran pada periode 2012-2017 dalam memelihara dan menjaga stabilitas sistem keuangan dan menyambut baik kepemimpinan OJK yang baru.

Berdasarkan hasil pemantauan dan penilaian terhadap perkembangan moneter, fiskal, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar modal, pasar Surat Berharga Negara (SBN), perbankan, lembaga keuangan non- bank dan penjaminan simpanan, KSSK menyimpulkan stabilitas sistem keuangan

pada triwulan II-2017 dalam kondisi normal.

Stabilitas sistem keuangan ditopang oleh fundamental ekonomi yang terjaga baik seperti deflasi harga pangan, inflasi pada masa Lebaran yang relatif rendah dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan jumlah rekening simpanan yang signifikan, serta penerimaan perpajakan pada semester I-2017 yang relatif stabil. Namun demikian, KSSK tetap mencermati beberapa potensi risiko baik eksternal maupun domestik.

Dari sisi eksternal, KSSK tetap memantau perkembangan rencana lanjutan kenaikan Fed Fund Rate, pengurangan besaran neraca bank sentral AS, ketidakpastian arah kebijakan fiskal AS, tekanan harga komoditas terutama minyak mentah, serta dinamika geopolitik global dan regional.

Sedangkan dari faktor domestik, beberapa faktor risiko yang dicermati oleh KSSK yaitu indikasi dari kegiatan ritel yang kurang sesuai dengan yang diharapkan, dampak penyesuaian harga listrik 900 VA, serta pertumbuhan kredit dan risiko kredit yang masih perlu menjadi perhatian. Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi dalam memelihara stabilitas

92

sistem keuangan, termasuk dengan memperkuat kerjasama riset diantara lembaga anggota KSSK untuk membangun leading economic indicator yang lebih robust.

Sebagai bagian dari komitmen dalam memperkuat rezim pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan nasional, KSSK membahas perkembangan agenda penguatan tata kelola manajemen krisis yang telah dan akan dilaksanakan pada tahun 2017. KSSK membahas tindak lanjut dari pembentukan Sekretariat KSSK melalui penetapan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Selain itu, dalam rapat ini KSSK menetapkan Keputusan KSSK berupa Protokol Manajemen Krisis KSSK (PMK KSSK) yang mengatur pedoman dan tata cara secara bersama dalam langkah pencegahan dan penanganan krisis yang didasarkan pada kewenangan KSSK sebagaimana diatur dalam UU PPKSK. PMK KSSK melengkapi protokol manajemen krisis yang selama ini telah dikelola oleh masing- masing anggota KSSK.

Lebih lanjut, KSSK akan melanjutkan sejumlah kegiatan yang telah diagendakan sampai dengan akhir tahun 2017, diantaranya simulasi penanganan krisis sistem keuangan pada bulan Oktober 2017, tindak lanjut perjanjian kerja sama program pengembangan kompetensi pegawai dan konsultasi dengan DPR atas peraturan pelaksanaan UU PPKSK dalam bentuk Rancangan Peraturan Pemerintah.

1.2 Koordinasi OJK dengan Bank Indonesia (BI)

Terdapat empat aspek kerjasama dan koordinasi antara OJK dan BI sesuai dengan UU PPKSK, yaitu:

a) Pemantauan dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan;

b) Penanganan krisis sistem keuangan;

c) Penanganan permasalahan (likuiditas dan solvabilitas) bank sistemik, baik dalam kondisi stabilitas sistem keuangan normal maupun kondisi krisis sistem keuangan;

dan

d) Pertukaran data dan/atau informasi yang diperlukan dalam rangka pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan.

Sebagai tindak lanjut dari UU PPKSK, koordinasi yang dilakukan antara OJK dan BI pada triwulan III-2017 antara lain terkait:

a) Uji coba implementasi ketentuan terkait Pinjaman Likuiditas Jangka Pendek (PLJP);

b) Penyiapan skenario simulasi pencegahan dan penanganan krisis keuangan tahun 2017 bersama dengan lembaga anggota KSSK lainnya; dan

c) Pemutakhiran daftar Bank Sistemik Periode September 2017.

Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK) juga mengamanatkan OJK dan BI untuk berkoordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangan masing-masing Lembaga. Amanat UU dimaksud ditindaklanjuti dengan Keputusan Bersama (KB) BI-OJK. Pada triwulan III-2017, BI dan OJK telah melakukan beberapa koordinasi, antara lain dalam bidang kebijakan/peraturan makroprudensial dan mikroprudensial, yang terkait dengan: