Bab I Kinerja Industri Perbankan Nasional
B. Kinerja Perbankan Nasional
4. Kinerja BPR Syariah (BPRS)
4.5 Permodalan
Permodalan BPRS mengalami perbaikan, tercermin dari peningkatan CAR menjadi 20,89% dibandingkan 20,72% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan modal sebesar 15,38% (yoy) akibat peningkatan laba dan adanya tambahan setoran modal oleh pemilik. Dengan tingkat permodalan yang cukup baik tersebut, diperkirakan kemampuan BPRS masih cukup memadai dalam menyerap potensi risiko yang dihadapi.
Box 2. Perkembangan Kredit berdasarkan Segmen Usaha Bank
Perkembangan kegiatan usaha dapat tercermin dari pelaksanaan fungsi intermediasi perbankan.
Sebagai agen pembangunan, perbankan diharapkan menjalankan fungsi intermediasi dengan seimbang, berkualitas, serta ikut berperan dalam meningkatkan akses keuangan kepada berbagai segmen pelaku usaha. Fungsi intermediasi perbankan yang berjalan baik dapat mendorong perbaikan iklim usaha yang selanjutnya dapat menurunkan biaya intermediasi antara lain karena berkurangnya biaya monitoring kredit bagi bank.
Di tengah pertumbuhan kredit yang masih stagnan, penyaluran kredit kepada segmen usaha Komersial dan Ritel mengalami perlambatan tajam, sementara segmen Korporasi tumbuh relatif signifikan.
Tren Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Segmen Porsi Kredit Berdasarkan Segmen*
Sumber : OJK
*Keterangan:
a) Kredit Korporasi, Komersil dan Ritel direklasifikasi dari seluruh kredit sektor lapangan usaha (Lapus) yang terdiri dari 18 sektor ekonomi. Reklarifikasi didasarkan pada plafon kredit sebagai berikut:
1) Ritel : kredit < Rp5M;
2) Komersial : kredit Rp5M – Rp100M; dan 3) Korporasi : kredit > Rp100M.
b) Sementara kredit Non-Lapangan Usaha terdiri dari kredit Rumah Tangga dan Bukan Lapangan Usaha lainnya.
Kredit perbankan ke segmen Korporasi memiliki porsi terbesar (31,40%) dalam portofolio kredit perbankan. Kredit Korporasi tumbuh relatif signifikan sebesar 13,20% (yoy), lebih tinggi dibanding posisi September 2016 yang tumbuh 10,38% (yoy). Pertumbuhan kredit Korporasi sejalan dengan mulai membaiknya kinerja usaha Korporasi yang dipengaruhi oleh perkembangan dari sisi internal maupun eksternal. Dari sisi internal didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2017 yang tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan III-2016, sedangkan dari sisi eksternal, perbaikan dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi global dan harga beberapa komoditas meskipun belum cukup meyakinkan.
Sementara itu, pertumbuhan kredit segmen komersial melambat dalam tiga tahun terakhir meskipun telah terjadi perbaikan dalam tahun terakhir. Pada September 2017, kredit komersial tumbuh 3,36% (yoy) setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 0,57% (yoy).
Dalam pada itu, penyaluran kredit ke segmen Ritel masih relatif rendah dengan porsi 18,46%. Kredit ke segmen Ritel mengalami perlambatan tajam dalam tiga tahun terakhir yaitu hanya tumbuh 2,92% (yoy), lebih rendah dibanding September 2016 yang tumbuh 6,08% (yoy). Kredit ke segmen Ritel pada umumnya disalurkan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menguasai sekitar 98,74% unit bisnis di Indonesia dan memiliki andil cukup besar terhadap PDB yaitu sekitar 59%. Hal ini mengindikasikan bahwa segmen UMKM relatif mengalami dampak negatif yang lebih buruk dibandingkan segmen korporasi. Mengingat peran dan kontribusi usaha UMKM yang cukup signifikan dalam perekonomian, maka dukungan pembiayaan/kredit dan peningkatan akses keuangan kepada segmen Ritel sangat dibutuhkan agar upaya peningkatan kapasitas UMKM dapat diwujudkan dan kualitas pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik.
Pertumbuhan Kredit Segmen Berdasarkan Peer Kepemilikan Bank (yoy)
Sumber : OJK Sumber : OJK
42
Berdasarkan peer kepemilikan bank, pertumbuhan kredit Korporasi utamanya disumbang oleh BUSN yang tumbuh mencapai 14,51% (yoy), lebih tinggi dibanding September 2016 yang tumbuh 5,75%
(yoy), sementara perlambatan kredit segmen Ritel dan Komersial didorong oleh melambatnya penyaluran kredit oleh BUMN dan relatif rendahnya pertumbuhan kredit pada BUSN. Adapun BPD mengalami akselerasi pertumbuhan kredit pada segmen Komersial (13,48%, yoy).
Tren NPL Berdasarkan Segmen NPL dan KKR Berdasarkan Segmen
Sumber : OJK Sumber : OJK
Kredit dan NPL Segmen Usaha Berdasarkan Peer Kepemilikan Bank
Sumber : OJK
Dari sisi kualitas, kualitas kredit Korporasi relatif cukup baik yang terlihat dari NPL yang relatif rendah sebesar 2,02%. Rendahnya NPL segmen ini mengindikasikan bahwa usaha besar masih berjalan baik yang juga ditopang oleh relatif tingginya laba usaha besar (korporasi). ROA usaha Korporasi naik menjadi 4,52% dari 4,26% pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, penyebab rendahnya pertumbuhan kredit segmen Ritel antara lain karena memiliki risiko kredit yang relatif tinggi. NPL kredit Ritel berada pada level 4,22%, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi September 2016 sebesar 4,62%. Tingginya NPL segmen Ritel mengindikasikan bahwa perlambatan ekonomi lebih dirasakan oleh kelas menengah ke bawah antara lain karena daya beli kelas tersebut relatif menurun serta makin ketatnya persaingan di segmen ini akibat masuknya perusahaan daring (e-commerce).
1 Hasil survei dari Nielsen menyatakan bahwa terdapat penurunan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang memberikan andil terhadap permintaan kredit segmen Ritel.
Kredit Porsi NPL % Kredit Porsi NPL Kredit Porsi NPL Kredit Porsi NPL
BUMN 432 51.57% 3.44% 269 26.99% 6.10% 625 43.86% 1.93% 522 40.68% 1.86%
BUSN 336 40.12% 4.35% 663 66.48% 3.83% 641 44.99% 2.21% 486 37.87% 2.01%
BPD 64 7.64% 8.76% 30 3.04% 11.42% 21 1.48% 7.36% 257 20.07% 1.05%
KCBA 6 0.68% 4.49% 35 3.49% 3.29% 138 9.68% 0.72% 18 1.38% 2.73%
Industri 838 100.00% 4.22% 997 100.00% 4.65% 1,426 100.00% 2.02% 1,283 100.00% 1.77%
Ritel Komersial Korporasi Non Lapangan Usaha
Perkembangan NPL Segmen Berdasarkan Peer Kepemilikan Bank
Sumber : OJK Sumber : OJK
Tingginya NPL segmen Ritel utamanya disumbang oleh kelompok BUSN dengan NPL sebesar 4,35%, dalam hal ini porsi kredit BUSN sebesar 40,12% terhadap total kredit Ritel. Sementara NPL tertinggi pada segmen Ritel berada pada kelompok BPD sebesar 8,76% meskipun hanya memiliki porsi kredit sebesar 7,64% terhadap total kredit Ritel.
Risiko kredit segmen Komersial juga relatif tinggi dengan NPL sebesar 4,65%, utamanya didorong oleh tingginya NPL pada kelompok BUMN yaitu sebesar 6,10%. NPL tertinggi kredit segmen Komersial terdapat kelompok BPD yaitu 11,42%. Secara umum, NPL BPD pada semua segmen (kredit produktif) relatif tinggi dengan porsi kredit yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sumber daya yang dimiliki oleh BPD masih dalam proses pengembangan, sementara BPD lebih terkonsentrasi pada penyaluran kredit Non Lapangan Usaha atau kredit Konsumsi dengan porsi mencapai 69,06% terhadap total kredit.
44
Halaman ini sengaja dikosongkan
Profil Risiko
Perbankan
46
Halaman ini sengaja dikosongkan
Sep-16 Sep-17 Sep-16 Sep-17 1. Lancar 3,853 4,109 4,166 0.90% 1.38% 6.44% 8.13%
2. DPK 229 249 245 2.81% -1.77% -0.29% 6.82%
3. Kurang Lancar 26 28 25 4.23% -12.33% 17.79% -3.00%
4. Diragukan 16 21 18 -26.04% -14.15% -12.95% 12.90%
5. Macet 89 84 90 10.23% 7.95% 32.94% 1.37%
Nominal NPL 131 133 133 2.81% 0.10% 21.89% 1.95%
Rasio NPL % 3.10% 2.96% 2.93% 5 -3 39 -17
Nominal KKR 360 382 378 2.81% -1.12% 6.77% 5.05%
Rasio KKR % 8.54% 8.51% 8.32% 15 -19 2 -22
Total Kredit 4,212 4,491 4,544 1.06% 1.17% 6.47% 7.86%
Jun-17 ∆ qtq ∆ yoy
Sep-16 Sep-17
Kolektabilitas Kredit