BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Konsep Budaya Religius di Sekolah
3. Budaya Religius di Sekolah
Budaya religius adalah cara berfikir dan bersikap berdasarkan agama.34 Nilai religiusitas dalam islam yaitu menjalankan ajaran agama secara menyeluruh (kaffah). Glock dan Stark yang dikutip Muhaimin mengatakan bahwa dimensi religiusitas ada 5 macam, seperti berikut :
a. Dimensi keyakinan berupa harapan yang menjadikan seseorang teguh pada sebuah keyakinan.
b. .Dimensi praktik agama, berupa komitmen dalam melakukan kegiatan ibadah dan kegiatan lain
c. Dimensi pengalaman, berupa memperhatikan fakta yang mengungkap bahwa semua agama mengandung harapan tertentu.
d. Dimensi pengetahuan agama , berupa harapan terhadap orang religius memiliki pengetahuan terkait keyakinan, ritus, kitab suci dan tradisi.
e. Dimensi pengalaman, berupa identifikasi akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang.35
Budaya religius dalam konsep islam difahami dari ajaran islam bahwa adanya perintah bagi setiap orang untuk menjalankan ajaran agama
33 Fuad Nashori dan Rachmi Muchrram, Mengembangakan Kreativitas dalam Perspektif Islam.,305
34 Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah., 75
35 Muahaimin, Paradigma Pendidikan Islma.,293-294
29 secara kaffah, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur‟an surat al- Baqarah ayat 208:
ي ٱا يأٰٓي ا اء
ا خ دٱ يف
س ٱ ٰ طخ ا ع َ ٗ فٓاك
ۚ ٰط يش ٱ ٞ ي ٞ دع هۥ
٢
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan jangan kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhanya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.36
Lingkungan belajar di sekolah harus menciptakan keadaan lingkungan yang saling menghargai dengan pemeluk agama lain sehingga tumbuh pemahaman akan kemajemukan agama yang dipelajari dan mengamalkannya, saling hormat menghormati dan sebagainya.37
Dalam konsep pendidikan islam, religius bersifat vertikal dan horizontal. Vertikal berupa hablun min allah, seperti shalat, dzikir, puasa, khatmul Qur‟an dan lain sebagainya. Sedangkan horizontal berupa hablun min an-nas serta hubungan manusia dengan alam sekitar.38 Muhaimin berpendapat bahwa lingkungan religius yang bersifat vertical, berupa
36 QS. Al-Baqarah (2): 208
37 Mustafa Rembangy, Pendidikan Transformatif Penguatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, (Yogyakarta: Teras, 2010)
38 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi., 61
30 kegiatan shalat berjama‟ah, puasa sunnah, do‟a bersama, berkomitmen terhadap moral force di sekolah. 39
Sedangkan lingkungan religius yang bersifat horizontal mendukung sekolah sebagai lembaga sosial. Jika dikaitkan dengan hubungan antara pimpinan dengan karyawan, maka dibutuhkan ketaatan dan loyalitas para guru terhadap kepala sekolah dan siswa terhadap guru. Hubungan profesional perlu menciptakan hubungan yang rasional dan dinamis antar sesama guru dan sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas sekolah.
Hubungan dengan alam sekitar berupa membangun hubungan yang berkomitmen menjaga fasilitas dan melestarikan lingkungan sekolah.40 menciptakan suasana religius di sekolah dapat berpengaruh terhadap sikap dan tingkah laku warga sekolah. 41
Pada hakikatnya, budaya religious di sekolah dapat terlihat pada akhlak dan sikap warga sekolah. Jika agama menjadi sebuah tradisi dan budaya di sekolah, maka sadar maupun tidak, warga sekolah telah mengikuti tradisi yang telah tertanam dan telah menjalankan ajaran agama.42
39 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi., 62
40 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum ,63
41 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum , 61
42 Sahlan, Mewujudkan Budaya, 77
31 Muhaimin berpendapat bahwa tempat dapat mempengaruhi suasana religius yang ingin diwujudkan.43 Menciptakan suasana religius adalah menciptakan suasana sekolah yang bernilai dan bersikap religius. Hal ini dapat dilakukan dengan kepemimpinan, skenario penciptaan suasana religius, tempat ibadah dan dukungan masyarakat.44
Dari segi pembelajaran, menerapkan nilai religius di sekolah bukanlah semata tugas guru agama, akan tetapi menjadi tugas guru mata pelajaran lain juga dengan melakukan pembiasaan bagi warga sekolah.
Ahli antropologi melihat bahwa agama merupakan bagian inti dari sistem nilai kebudayaan masyarakat dan mengontrol anggota masyarakat supaya konsisten dalam menjalani kehidupan sesuai nilai kebudayaan dan ajarannya.45 Sekolah menerapkan pembiasaan dalam menerapkan nilai religi karena agama merupakan acuan moral masyarakat. pembiasaan tersebut dapat dilakukan dalam proses pembelajaran dalam kelas dan di luar kelas.
Implementasi budaya religius di sekolah memiliki landasan kuat baik secara normatif maupun konstitusional, sehingga tidak ada alasan untuk menghindar dari upaya tersebut.46 Oleh karena itu, patut diadakannya pendidikan agama yang diimplementasikan dalam penerapan
43 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam.,305
44 Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah., 129
45 Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), 50
46 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Upaya Reaktualisasi Pendidikan Islam, (Malang: LK2p, 2009), 23
32 budaya religius di berbagai jenjang pendidikan. Budaya religius sangat penting diterapkan karena mampu mempengaruhi sikap, karakter dan tindakan secara tidak langsung.
Diantara kegiatan yang dilakukan peserta didik dalam upaya menciptakan budaya religius di sekolah, yaitu : membaca al-Qur‟an, menghafal surat yasin, sholat dhuhur berjama‟ah, sholat dhuha, jujur, taat kepada guru, rutin mengadakan istigitsah dan lain sebagainya. 47
Implementasi budaya religius terlihat pada 2 hal:
a. Budaya religius sebagai orientasi moral
Moral merupakan ketertarikan jiwa menjalankan aturan yang ditetapkan, baik agama, budaya masyarakat atau tradisi berfikir ilmiah.
Ketertarikan berpengaruh pada ketertarikan sikap dalam menjalani kehidupan, aturan dalam memutuskan pilihan serta menetapkan tindakan.
Ketertarikan menjalani hidup sesuai aturan agama dapat membentuk sikap dalam mengatasi masalah. Akhlak yang berpijak pada agama akan lebih berorientasi pada kewajiban beragama.
Sedangakan Segala tindakan berdasarkan aturan agama akan menimbulkan rasa tanggung jawab kepada Allah SWT.
47 Jamal Ma‟mur Asmani, Buku Panduan Internlisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Jokyakarta: DIVA Press, 2011), 167
33 Budaya religius terbentuk dari ketertarikan menjalankan aturan agama sehingga dijadikan sebagai pedoman pertama dalam berakhlak..48
a. Budaya religius sebagai internalisasi terhadap nilai agama
Internalisasi adalah memasukkan nilai agama sepenuhnya ke dalam hati sehingga bertindak berdasarkan agama. Internalisasi agama dimulai dari memahami ajaran agama kemudian menyadari akan pentingnya agama sehingga bersemangat menagmalkannya dalam kehidupan.
Dari segi isi, agama terdiri dari seperangkat ajaran berupa perangkat nilai kehidupan yang harus dijalani oleh para pengikutnya dalam menjalani kehidupan. Inilah yang disebut dengan nilai agama.
Oleh karena itu nilai-nilai agama merupakan seperangkat standar kebenaran dan kebaikan.
Nilai-nilai agama adalah nilai luhur yang ditransfer dan diadopsi ke dalam diri. Oleh karena itu, seberapa banyak dan seberapa jauh nilai-nilai agama bisa mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku seseorang sangat tergantung pada diri orang tersebut. Oleh sebab itu, berbagai aspek terkait agama perlu dikaji secara spesifik,
48 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 9-10
34 sehingga dapat memberikan pemahaman keagamaan yang komprehensif.49
C. Manajemen Kepala Sekolah dalam Upaya Pengembangan Budaya Religius di Sekolah
1. Bentuk Budaya Religius yang dikembangkan oleh Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Kopang
Untuk membudayakan nilai-nilai religius dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain yaitu melalui kebijakan kepala sekolah, proses kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekskul dan tradisi serta konsistennya perilaku warga sekolah. 50
Dalam upaya menciptakan budaya religius, Tafsir dalam Sahlan berpendapat bahwa kepala sekolah menggunakan beberapa strategi untuk mengembangkan budaya religius, di antaranya yaitu, dengan cara memberikan teladan dan hal yang positif, menegakkan disiplin, me motivasi, memberikan reward secara psikologis, memberi sangsi supaya disiplin, pembiasaan menerapkan nilai agama yang dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.51
Muhaimin berpendapat bahwa budaya religius di sekolah dapat diciptakan melalui upaya pembiasaan, menjadi panutan, dan pendekatan
49 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim, 10-11
50 Sahlan, Mewujudkan Budaya, 77
51 Sahlan, Mewujudkan Budaya,84
35 persuasif dengan cara membujuk dan memberikan alasan yang baik sehingga meyakinkan warga sekolah terutama siswa.52
Teladan dalam KBBI diartikan sebagai yaitu perbuatan atau sifat yang layak ditiru atau baik untuk dicontoh. Dalam memberikan didikan kepada peserta didik, guru memberikan pemahaman atau penjelasan tentang bagaimana Allah SWT mendidik Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab : 21
س يف اك دق لٱ
سح سأ ا ج ي اك ٞ
اًرْيِثَك َ هٰ َرَكَذ َو َر ِخٰ ْْا َم ْوَيْلا َو لٱ
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”53
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi Nabi Muhammad SAW bersabda :
ق ا ي اس ج ي ب قأ ي حأ
َخأ ساحأ اي
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku tempatnya pada hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya diantara kalian” (HR At-Tirmidzi 2018).
52Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi., 64
53 QS. Al-Ahzab (33): 21
36 Sedangkan Koentjaraningrat yang dikutip oleh Muhaimin, mengungkap strategi yang digunakan dalam upaya mengembangkan budaya religius di sekolah.
a. Tataran nilai yang di anut
Dalam tataran tersebut, perlu merumuskan secara demokratis terkait nilai religius yang disepakati dan penting untuk dikembangkan di sekolah. Selanjutnya, membangun komitmen dan loyalitas bersama antara semua warga sekolah terhadap nilai-nilai yang telah disepakati.
Nilai tersebut berupa nilai yang berhubungan dengan Tuhan dan nilai yang berhubungan dengan sesama manusia.54
b. Tataran Praktik keseharian
Tataran praktik dapat terlihat melalui sikap dan prilaku dalam kehidupan. Dibutuhkan beberapa tahapan sebelum dikembangkan di sekolah, yaitu pertama, mensosialisasikan nilai religius yang telah disepakati kepada warga sekolah . Kedua, menetapkan tindakan rencana mingguan atau bulanan untuk merealisasikan nilai religius yang telah disepakati dan disosialisasikan. Ketiga, memberikan reward kepada warga sekolah yang berprestasi baik guru, pegawai maupun peserta didik.55
c. Tataran simbol budaya
54 Muhaimin, Pemikiran dan Akulturasi Pengembangan Pendidikan Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), 135
55 Sahlan, Mewujudkan Budaya, 85
37 Tataran ini dilakukan dengan merubah hal yang non atau kurang religius menjadi bersifat religius, seperti merubah cara berpakaian dengan konsep islami, pemajangan kreatifitas siswa, motto islami dan sebagainya.56
Diantara strategi yang dapat dilakukan untuk membudayakan nilai religius di sekolah yaitu, melalui:
a. Power Strategi
Power strategi adalah pembudayaan agama di sekolah dengan menggunakan kekuasaan melalui people‟s power yaitu kepala sekolah.
ini menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sangat penting dalam melakukan perubahan. Kewenangan kepala sekolah dapat mengkondisikan sekolah untuk menciptakan budaya religius.
Strategi tersebut dilakukan melalui perintah atau larangan.
Peraturan sekolah akan membentuk sanksi dan reward pada warga sekolah sehingga warga sekolah secara tidak sadar akan membentuk suatu budaya, yang bila diarahkan ke religius akan tercipta budaya religius.
b. Strategi Persuasif
Strategi Persuasif dilakukan dengan membentuk image warga sekolah. Strategi ini dilakukan melalui pembiasaan, menjadi panutan,
56 Muhaimin, Pemikiran dan Akulturasi, 136
38 dan pendekatan persuasive seperti pembiasaan membaca al-Qur‟an atau menghafal surah yasin
c. Normative reduactive
Normative reduactive yaitu aturan yang berlaku di masyarakat.
melalui pendidikan. Norma dibarengi pendidikan dengan merubah gaya berfikir warga seolah dari gaya lama menjadi gaya baru. Dalam lembaga pendidikan, jika norma dihubungkan dengan pendidikan, maka budaya religius dapat terbentuk.
Strategi persuasif dan normative reduactive dapat dijalankan melalui pembiasaan, keteladanan dan pendekatan persuasif atau mengajak warga sekolah secara halus dengan alasan dan prospek yang baik sehingga dapat meyakinkan mereka.57 Seperti mengajak untuk sholat berjamaah dengan menggambarkan pahala sholat berjama‟ah dan hal-hal positif yang bisa diperoleh dari sholat berjamaah.
Diantara langkah-langkah merealisasikan budaya religius, yaitu : a. Pembentukan suasana religius
Langkah ini dibentuk dengan cara menciptakan kondisi sekolah yang bernilai dan berperilaku religious yang dapat dijalankan melalui kepemimpinan, menciptakan suasana religius, tempat ibadah, dan dukungan warga masyarakat.
b. Internalisasi nilai religius
57 Muhaimin, Pemikiran dan Akulturasi, 137-138
39 Langkah ini dilakukan dengan cara memberikan pemahaman agama kepada siswa, terutama mengenai tanggung jawab manusia sebagai pemimpin yang bersikap arif dan bijaksana.
c. Keteladanan
Keteladanan termasuk faktor wajib yang harus dimiliki guru.
Keteladanan berproses dari pendidikan yang panjang, mulai dari pengayaan materi, pengamatan, penghayatan, eksperimen, katahanan, hingga konsistensi.58 Sikap teladan berupa tindakan yang patut dicontoh, seperti menghormati orang yang lebih tua, bertutur kata yang santun, mengenakan pakaian muslim atau muslimah, mengucap salam dan menyapa. Allah SWT berfirman dalam QS. Mumtahanah : 6 terkait keteladanan :
ا ج ي اك ٞ سح سأ يف اك دق ۚ خٓ ۡٱ ي ٱ لٱ
ف ي لٱ
ه ى غ ٱ
دي ح ٱ Artinya : “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian, dan Barangsiapa yang berpaling, Maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.59
58 Asmani, Buku Panduan Internlisasi,75
59 QS. Al-Mumtahanah (60): 6.
40 d. Pembiasaan
Dalam mendidik secara islami, pembiasaan sangat penting dilakukan karena peserta didik akan terbiasa mengamalkan ajaran atau aturan agama yang telah diterapkan sekolah baik secara individual maupun kelompok dalam kehidupannya sehari-hari sehingga tercipta budaya religius di sekolah.
Melalui strategi pembiasaan, dengan sendirinya akan terbentuk karakter dan akhlak peserta didik. Moral yang baik akan menghiasi kepribadian yang baik pula. Begitu pula sebaliknya, akhlak buruk akan membentuk kepribadian yang buruk pula. Berakhlak, bukan hanya sebagai pelengkap iman, taqwa dan intelektualitas saja, akan tetapi terpadu dalam ketiga hal tersebut. Jadi, akhlak merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pendidikan sekaligus memelihara buah atau hasil ari pendidikan tersebut.60
2. Model Kepala Sekolah dalam Upaya Mengembangkan Budaya Religius.
Model merupakan sesuatu yang di anggap benar namun bersifat kondisional. Oleh Karena itu, model penciptaan suasana religius dipengaruhi oleh suasana tempat model tersebut yang akan diterapkan dengan penerapan nilai-nilai yang mendasarinya.
60 Mujamil Qomar, Kesadaran Pendidikan Sebuah Penentu Keberhasilan Pendidikan (Jokyakarta: Ar-Ruzz Media. 2012), 129
41 Muhaimin menyebutkan beberapa model untuk mengembangkan budaya religius di sekolah :
a. Model Struktural
Model ini didasarkan dengan aturan, membentuk image yang bagus dari luar terhadap kebijakan yang ditetapkan sekolah.
Model ini bersifat “top down” yaitu aktifitas religi yang dilaksanakan atas perintah pimpinan yang memegang kebijakan di sekolah.
b. Model Formal
Model ini lebih cenderung pada akhirat daripada dunia serta lebih menekankan untuk mendalami ilmu agama sebagai jembatan menuju akhirat. Dalam hal ini, peserta didik dibentuk sebagai manusia yang taat dan memiliki pengabdian yang tinggi terhadap agamanya.
c. Model Mekanik
Model ini lebih cenderung pada aspek afektif daripada kognitif dan psikomotor.
d. Model Organik
Model ini berimplikasi pada pengembangan pendidikan agama yang dibentuk dari asas doktrin dan nilai yang tertuang dalam Al-Qur‟an dan Al-Sunnah Shahih sebagai sumber pokok.61
61 Muhaimin, Paradigma Pendidikan,305-307
42 3. Implikasi Pengembangan Budaya Religius terhadap Peserta Didik di
Sekolah
Termotivasi mengkaji islam, aktif mengikuti kegiatan religi, mencitai Al-Qur‟an, mengambil keputusan dengan agama dan menggunakan daya fikir dengan agama merupakan indikator sikap religius.62
Gay dan Ludeman dalam Ginanjar yang dikutip Sahlun menyebutkan sikap religius seseorang dapat terlihat ketika melaksanakan tugas dan tanggung jawab. Diantara sikap tersebut, yaitu :
a. Kejujuran
Jujur adalah jalan menuju sukses. Berlaku tidak jujur kepada orang lain akan terjebak dalam kesulitan berkepanjangan. Kejujuran adalah sifat terpuji sekalipun kenyataannya sulit untuk dilakukan.
b. Keadilan
berlaku adil kepada semua orang sekalipun dalam situasi darurat merupakan kemampuan orang religius.
c.Bermanfaat bagi orang lain
Sebagaiman sabda Nabi Muhammad SAW :
62 Alim, Pendidikan Agama Islam, 12
43 Artinya : “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain” (HR. Ahmad, Ath-Tabrani, ad-Daruqutni)
d. Rendah Hati
Sikap ini tidak sombong, menghargai orang lain dan tidak merasa paling benar
e. Bekerja Efisien
Mampu terfokus pada pekerjaan sekarang dan selanjutnya.
Selain itu, sikap ini mampu menyelesaikan pekerjaan dengan santai, namun dapat terfokus ketika belajar dan bekerja.
f. Visi Ke depan
Mampu mempengaruhi orang lain utnuk mencapai satu tujuan dan memberikan pemahaman tentang cara mencapai tujuan tersebut.
g. Disiplin yang Tinggi
sikap disiplin bukan lahir dari rasa terpaksa, akan tetapi lahir dari kesadaran sendiri yang dibarengi dengan semangat tinggi sehingga mampu berkomitmen dalam bekerja
h. Keseimbangan
44 Menjaga keseimbangan hidup pada empat aspek seperti keakraban, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas merupakan karakteris orang religius. 63
Dalam upaya memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, terdapat 18 nilai pendidikan karakter yang harus dijalankan yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, suka membaca, peduli lingkungan, peduli social dan bertanggung jawab. Semua nilai tersebut penting dilaksananakan dalam mencapai tujuan pendidikan dan penentu keberhasilan pendidikan karakter di sekolah.64
Suyanto dalam Muhaimin menyebutkan setidaknya ada Sembilan pilar karakter nilai luhur universal (agama) yaitu : mencintai Tuhan, mandiri dan tanggung jawab, jujur, memiliki rasa hormat, dermawan, senang membantu ,bekerjasama, percaya diri dan pekerja keras, adil , rendah hati, toleransi, cinta damai serta bersatu.65
D. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir berisi alur pemikiran peneliti dalam membuat dan menyusun solusi dari sebuah masalah atau sebagai jawaban dari pertanyaan
63 Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah., 67
64 Najib Sulhan, Pendidikan Berbasis Karakter, Sinergi Antara Sekolah dan Rumah dalam Membentuk Karakter Anak, (Surabaya: PT Jepe Press Media Utama, 2010), 15.
65 Akhmad Muhaimin, Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 14
45 dalam penelitian. Untuk memudahkan penelitian, peneliti telah menyusun kerangka berfikir seperti berikut ini :
46 Bagan 2.1 Kerangka Berfikir
BAB III
MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALAM PENGEMBANGAN
BUDAYA RELIGIUS DI SMK
NEGERI 1 KOPANG
Latar Belakang Penelitian
Fokus Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Metodologi Penelitian
1. Moral siswa rendah
2. Pendidikan agama sangat penting sehingga harus menerapkan budaya religius.
1. Apa bentuk budaya religius yang dikembangkan oleh kepala sekolah di SMK Negeri 1 Kopang?
2. Bagaimana strategi kepala sekolah dalam pengembangan budaya religius di SMK Negeri 1 Kopang?
3. Bagaimana implikasi pengembangan budaya religius terhadap siswa di SMK Negeri 1 Kopang?
1. Menganalisa bentuk pengembangan budaya religius di SMK Negeri 1 Kopang
2. Menganalisa strategi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius di SMK Negeri 1 Kopang
3. Menganalisa implikasi pengembangan budaya religius terhadap siswa di SMK Negeri 1 Kopang
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan dalam bidang manajemen kepemimpinan pendidikan Islam
2. Manfaat Praktis
Diharapkan dapat memberikan referensi baru kepada praktisi pendidikan dalam mengembangkan budaya religius di sekolah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus melalui teknik interview, observasi dan dokumentasi.
Mulyasa : Teori Kepala Sekolah Muhaimin : Budaya
Religius
Hasil Penelitian
47 METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan penelitian
Dalam penelitian, harus melakukan pendekatan untuk mencari informasi di lapangan yang akan menjadi pedoman untuk memperoleh data yang diinginkan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang diguanakn untuk mendeskripsikanfenomena yang terjadi di lapangan.1
Dalam penelitian, tentu menggunakan metode.2 Alasan peneliti menggunakan metode kualitatif, yaitu : pertama, Metode ini bersifat deskriptif. Kedua, peneliti langsung ke lapangan untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan langsung bertemu dengan informan sehingga peneliti dapat memperoleh data lebih spesifik. Ketiga, masalah yang diteliti diperoleh dilokasi penelitian langsung.
Penelitian kualitiatif berfungsi untuk mendapatkan pemahaman tentang fenomena yang terjadi dalam suatu latar yang berkonteks khusus sebagaimana yang dikemukakan oleh Jane Richie tentang prinsip kualitatif merupakan usaha menyajikan dunia sosial perspektif konsep, persepsi, perilaku, dan persoalan tentang manusia sebagai objek yang diteliti.3
1 Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian (Malang: UIN-Press, 2010), 9.
2 Lexi J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2013),5
3 Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, 6.
48 Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, dalam upaya mencari kebenaran ilmiah dalam waktu relatif cukup lama. Dalam hal ini, kebenaran informasi yang diperoleh bukan diukur dari jumlah informan, akan tetapi berdasarkan kejelian peneliti dalam memperoleh data baik melihat kecenderungan, faktor penghambat, interaksi banyak faktor, pola, arah dan sebagainya.4
Creswell yang dikutip Sugiyono mengatakan bahwa studi kasus termasuk jenis penelitian kualitatif. Peneliti melakukan penelitian secara lebih spesifik terhadap peristiwa, proses, dan kegiatan seseorang atau lebih dan mengumpulkan data secara berkesinambungan.5
B. Kehadiran peneliti
Kehadiran peneliti di lokasi penelitian bertujuan untuk memperoleh data yang diperlukan. Peneliti dapat melakukan observasi kehidupan subyek dalam situasi yang diinginkan untuk dipahami. Peneliti berperan sebagai instrument utama yang mengimplikasikan diri dalam kehidupan subyek yang telah ditentukan secara langsung.
Kehadiran peneliti bukan untuk mempengaruhi subyek penelitian, akan tetapi untuk memperoleh data yang akurat dan sewajarnya sesuai dengan tujuan penelitian. Di lapangan, peneliti melakukan beberapa hal, yaitu
4Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif: Telaah Positivistik, Rasionalistik, Fhenomenologik, Realism Metafhisik, (Yokyakarta: Rake Sarasin, 1992), 60
5 Sugiyono, Cara Mudah Menyusun Skripsi, Tesis, dan Disertasi, (Bandung: ALFABETA, 2013), 230.
49 pertama, melakukan observasi terhadap objek penelitian. Kedua, mendapatkan izin dari pemegang kebijakan yaitu kepala sekolah di SMKN 1 Kopang, wakil kepala sekolah dan dewan guru. Ketiga, melakukan interview dengan beberapa pihak yang dapat memberikan informasi dan langsung terlibat di lokasi penelitian.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Kopang, Desa Kopang Rembiga, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi ini karena sekolah ini memiliki nilai yang unik dalam menerapkan kegiatan sekolah dalam upaya mengembangkan budaya religius.
D. Sumber Data
Untuk mendapatkan sumber data, peneliti melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi hingga bahan audiovisual. Fokus pada satu sumber data saja tidak cukup untuk mendapatkan pemahaman secara lebih spesifik. 6
Sumber data dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu : 7 1. Data Primer
6 John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Ter.
Achmad Fawaid, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 139
7 Sugiyono, Medote Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2014), 137