• Tidak ada hasil yang ditemukan

CAR (Capital Adecquacy Ratio)

Dalam dokumen 1. Dr - etheses UIN Mataram (Halaman 34-41)

BAB I PENDAHULUAN

D. Definisi Operasional Variabel

4. CAR (Capital Adecquacy Ratio)

CAR merupakan rasio kecukupan modal bank yang diukur berdasarkan perbandingan jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Minimum rasio CAR yang ditentukan Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 3/21/PBI/2011 sebesar 8%.32 Menurut Kuncoro dan Suhardjono (2011) “Capital Adequacy Ratio adalah rasio kecukupan modal bank yang menunjukkan kemampuan bank tersebut dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-risiko yang muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap besarnya modal bank.33

Bank Indonesia pada Peraturan BI Nomor 15/12/PBI/2013 menyatakan Bank harus menyediakan modal minimum sesuai profil resiko. Penyediaan modal minimum sebagaimana

31Bank Indonesia, “PBI Nomor 14/26/PBI/2012,” Peraturan, last modified 2012,

diakses September 8, 2021,

https://www.bi.go.id/id/publikasi/peraturan/Pages/pbi_142612.aspx.

32Bank Indonesia, “Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/21/PBI/2011.”

33Kuncoro Mudrajad and Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta: BPFE, 2011), 519.

17

dimaksud dihitung menggunakan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Penyediaan modal minimum tersebut paling rendah sebesar 8% dari Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).34CAR bertujuan apabila bank mengalami kerugian maka ketersedian modal tersebut dapat menanggulangi atas kerugiannya itu. Rasio CAR didapat dari hasil perbandingan antara modal yang dimiliki bank dibagi dengan aset tertimbang menurut resiko, dalam rumus digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

ATMR=Perhitungan Modal dan Aset Tertimbang Menurut Resiko

Kriteria Penilaian Peringkat:35 Peringkat 1 CAR ≥ 15%

Peringkat 2 13,5% ≤ CAR ≤ 15%

Peringkat 3 12% ≤ CAR ≤13,5%

Peringkat 4 8% ≤ CAR <12%

Peringkat 5 CAR < 8%

Sumber: Lampiran 1 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor SEOJK.03/2019 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Kinerja keuangan bank syariah yang diukur melalui CAR menjadi faktor yang dapat mempengaruhi pembiayaan mudharabah yang disalurkan bank, karena semakin tinggi rasio CAR sebuah bank akan menjadikan energi finansial bagi bank dalam peningkatan penyaluaran pembiayaan dan menghitung kerugiann bank dalam penyaluran pembiayaan murabahah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Giannini, yang berjudul “Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah pada Bank

34Bank Indonesia, “Peraturan Bank Indonesia,” accessed June 19, 2021, https://www.bi.go.id/id/archive/arsip-peraturan/Documents/pbi_151213rev.pdf.

35 Otoritas Jasa Keuangan, SEOJK.03/2019 Tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, 2019.

18

Umum Syariah di Indonesia dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa Capital Adecquacy Ratio berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.36 Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Rianto dan Hikmah yang menyatakan CAR berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan bagi hasil (mudharabah).37 Namun berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Baiti dan Wildaniyati yang menyatakan bahwa CAR tidak mempengaruhi terhadap pembiayaan mudharabah.38

5. FDR (Finance to Deposit Ratio)

Fungsi utama bank adalah sebagai lembaga perantara keuangan atau financial intermediary. Fungsi intermediasi ini dapat ditunjukkan oleh Financing to Deposit Ratio (FDR).

Menurut Dendawidjaja Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah rasio perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank.39 Menurut pendapat lain menyatakan FDR merupakan rasio untuk mengukur jumlah pembiayaan yang disalurkan bank yang berasal dari dana pihak ketiga.40

FDR menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber

36Nur Gilang Giannini, “Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia,” Accounting Analisys Journal, last modified

2013, accessed September 8, 2021,

https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/aaj/article/view/1178/1146.

37M Nur Rianto and Ika Nur Hikmah, “Determinan Pembiayaan Bagi Hasil Perbankan Syariah Di Indonesia: Model Regresi Panel,” Al Falah: Journal of Islamic Economics 2, no. 1 (2017): 1–12, accessed September 8, 2021, http://journal.iaincurup.ac.id/index.php/alfalah/article/view/161.

38Indarti Nur Baiti and Arini Wildaniyati, “Pengaruh FDR, NPF, ROA, CAR Terhadap Pembiayaan Mudharabah (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah Yang Terdaftar Di Bank Indonesia Pada Tahun 2015-2019),” JAMER : Jurnal Ilmu - IlmuAkuntansi 1, no. 2 (2020): 86–93, accessed September 8, 2021, http://180.211.90.68/index.php/jamer/article/view/26.

39Dendawijaya, Manajemen Perbankan, 82.

40Muhammad, Manajemen Bank Syariah (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2005), 65.

19

likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendah kemampuan likuiditas bank. Hal ini dikarenakan penyaluran kredit merupakan salah satu tujuan dari penghimpunan dana bank, yang sekaligus memberikan kontribusi pendapatan terbesar bagi bank. Semakin banyak kredit yang disalurkan, maka semakin baik likuiditas suatu bank, karena seluruh dana yang berhasil dihimpun telah disalurkan dalam bentuk kredit, sehingga tidak terdapat kelebihan dana untuk dipinjamkan lagi atau untuk diinvestasikan.

Tingginya rasio FDR ini, di satu sisi menunjukkan pendapatan bank yang semakin besar, tetapi menyebabkan suatu bank menjadi tidak likuid dan memberikan konsekuensi meningkatnya risiko yang harus ditanggung oleh bank, berupa meningkatnya jumlah non performing finance atau credit risk, yang mengakibatkan bank mengalami kesulitan untuk mengembalikan dana yang telah dititipkan oleh nasabah karena kredit yang disalurkan mengalami kegagalan atau bermasalah.

Namun, di sisi lain rendahnya rasio FDR, walaupun menunjukkan tingkat likuiditas yang semakin tinggi, tetapi menyebabkan bank memiliki banyak dana menganggur yang apabila tidak dimanfaatkan dapat menghilangkan kesempatan bank untuk memperoleh pendapatan sebesar-besarnya dan menunjukkan bahwa fungsi utama bank sebagai financial intermediary tidak berjalan. Untuk menghitung nilai dari FDR, dapat menggunakan suatu persamaan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004, yaitu: Dalam penetapan bagi hasil, logika yang menjadi acuan utama adalah pendapatan. Semakin tinggi pendapatan yang diperoleh, maka akan semakin tinggi return bagi hasilnya.

Faktor yang menjadi sumber pendapatan adalah aset produktif dalam bentuk pembiayaan. Semakin banyak dana yang bisa disalurkan kepada pembiayaan berarti semakin tinggi earning assets, artinya dana-dana yang dihimpun dari masyarakat dapat dihimpun kepada pembiayaan yang produktif (tidak banyak aset yang menganggur). Hal ini tercemin dari tingkat Financing

20

to Deposits Ratio (FDR) bank. Bila rasio semakin tinggi, FDR akan berpengaruh meningkatkan perolehan pendapatan sebagai bank syariah akan memberikan return bagi hasil yang tinggi untuk investor atau deposan.

Kualitas dari penyaluran dan atau investasi yang dilakukan oleh bank syariah mempunyai pengaruh langsung terhadap bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana. Pendapatan yang dibagikan sangat tergantung pada pendapatan penyaluran dana yang benar-benar diterima oleh bank syariah. Pendapatan ini tergantung pada kualitas aktiva produktif (penyaluran dana).

Semakin baik kualitas aktiva produktif maka semakin besar dana yang nyata diterima bank sedangkan kualitas aktiva produktif yang buruk akan memperkecil dana yang dapat diterima. FDR sebagai rasio untuk mengukur likuiditas bank dalam membayar deposan yang melakukan penarikan dana yang dihasilkan dari pembiayaan yang diberikan bank sebagai sumber likuiditasnya, dengan cara membagi jumlah pembiayaan yang diberikan bank terhadap dana pihak ketiga (DPK). Besarnya nilai FDR dapat dihitung menggunakan rumus:41

Nilai FDR yang semakin tinggi menunjukkan besarnya kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan.Hal ini menjadikan kesempatan bank untuk mendapatkan keuntungan juga semakin besar. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya bank akan lebih tertarik untuk menyalurkan pembiayaan yang lebih besar lagi. Bank Indonesia sendiri telah menetapkan standar FDR sebesar 78% - 100% sesuai Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Bank

41Bank Indonesia, “Lampiran SE BI No. 13/24/DPNP/2011,” accessed June 19,

2021, bi.go.id/id/archive/arsip-

peraturan/Documents/ebb141736bea4ca1bc687b8e262bd74eLampiranISENo13_24_DP NP.pdf.

FDR

=

Pembiayaan Yang Diberikan

Total Dana Pihak Ketiga X 100%

21

Indonesia nomor 12/19/PBI/2010 tentang Giro Wajib Minimum Bank pada Bank Indonesia dalam Rupiah dan valuta asing.42 6. DPK (Dana Pihak Ketiga)

Bank dalam aktivitasnya berfungsi sebagai penghimpun Dana Pihak Ketiga. Kasmir mendefinisikan Dana Pihak Ketiga (DPK) adalah dana yang berhasil dihimpun bank dari masyarakat berupa simpanan tabungan, deposito, dan giro.43 Menurut Undang-undang no. 21 tahun 2008 tentang Perbankan syariah, DPK adalah dana yang dipercayakan nasabah kepada Bank Syariah dan/atau Unit Usaha Syariah berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan syariah dalam bentuk giro, tabungan, deposito atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.44

Dalam menyalurkan pembiayaan mudharabah, bank harus melihat dari faktor likuiditas dalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga. Semakin banyak pihak bank mengumpulkan Dana Pihak Ketiga maka kemungkinan bank dalam menyalurkan pembiayaan mudharabah juga semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Setiawan dan Afrianti (2018), yang memberikan hasil bahwa Dana Pihak Ketiga berpengaruh signifikan terhadap pemberian kredit.45 Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan Thohari, dkk (2018) menyatakan Dana Pihak Ketiga secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pembiayaan musyarakah.46

42Bank Indonesia, “Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/7/PBI/2013,” accessed June 20, 2021, https://www.bi.go.id/id/archive/arsip-peraturan/Pages/PBI_150713.aspx#.

43Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, 72.

44Otoritas Jasa Keuangan, “UU No. 21 Tahun 2008.”

45Djodi Setiawan and Devi Afrianti, “Pengaruh Dana Pihak Ketiga Terhadap Pemberian Kredit Dan Laba Bersih Bank (Studi Kasus Pada PT. Bank Rakyat Indonesia(Persero),Tbk Kantor Cabang Majalaya Unit Dayeuhkolot),” Akurat 9, no. 3 (2018): 1–20.

46Ayu Azillah Thohari and Debbi Chyntia Ovami, “Pengaruh Dana Pihak Ketiga Dan Non Performing Financing Terhadap Pembiayaan Musyarakah,” Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora 3, no. 1 (2018): 298–304, accessed June 21, 2021, https://jurnal-lp2m.umnaw.ac.id/index.php/JP2SH/article/view/90.

22 7. ROA

Return on Asset (ROA) yakni kemampuan perbankan untuk memperoleh laba dari sejumlah asset yang dimiliki oleh bank.47 Adapun ROA dihitung dengan cara membandingkan laba atau rugi sebelum pajak dibagi total aset berikut dijabarkan dalam rumus:

Berdasarkan rumus ROA tersebut terdapat pringkat dari ROA yang tertera pada surat edaran Otoritas Jasa Keuangan yang dapat dilihat pada Tabel 1.1:

Tabel 1.1 P

eringk at ROA

Sumber : Lampiran Edaran Otoritas Jasa Keuangan NO.SEOJK.03/2019 Keterangan :

1. Dalam perhitungan laba/rugi sebelum pajak dengan menggunakan perhitungan disetahunkan.

2. Laba/rugi sebelum pajak bulan pelaporan dihitung dengan total pendapatan dikurangi total beban sebelum dikurangi taksiran pajak penghasilan.

3. Dalam perhitungan total aset penggunaan rata – rata aset sepanjang tahun.

47Hutabarat, Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan, 83.

Peringkat Keterangan Kriteria 1 Sangat Memadai ROA >1,45%

2 Memadai 1,215%<ROA≤1,45%

3 Cukup Memadai 0,999%<ROA≤1,215%

4 Kurang Memadai 0,765%<ROA≤0,999%

5 Tidak Memadai ROA≤0,765%

23 BAB II

PENELITIAN TERDAHULU DAN HIPOTESIS

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Penelitian terdahulu terkait pengaruh CAR, DPK, FDR, ROA terhadap pembiayaan mudharabah yang digunakan dalam penelitian ini yang dijadikan landasan atau acuan dalam penelitian ini.

Perbedaan yang signifikan terdapat pada lokasi penelitian yang terfokus pada bank syariah buku 2 sedangkan penelitian terdahulu lebih pada bank umum unit syariah. Berikut uraian dari beberapa penelitian terdahulu:

1. Penelitian yang dilakukan Anwar dan Miqdad mengenai Pengaruh CAR, DPK, ROA terhadap pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah periode 2008 sd 2012. Tujuan dari penelitiannya anwar yaitu untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap pembiayaan Mudharabah, untuk mengetahui DPK terhadap pembiayaan Mudharabah, untuk mengetahui ROA terhadap pembiayaan Mudharabah dan untuk mengetahui CAR, DPK dan ROA secara bersama-sama terhadap pembiayaan Mudharabah.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan Mudharabah, CAR tidak berpengaruh terhadap pembiayaan Mudharabah dan ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan Mudharabah. Sedangkan CAR, DPK dan ROA secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap pembiayaan Mudharabah pada Bank Umum Syariah periode 2008 sd 2012. Berpengaruh positif memiliki makna/arti pengaruh yang searah, semakin tinggi nilai CAR, DPK dan ROA maka akan semakin tinggi pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut. Sebaliknya semakin rendah CAR, DPK dan ROA maka akan menurunkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.1

1Chairul Anwar dan Muhammad Miqdad, “Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Return On Asset (ROA) Terhadap Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012,” Riset Dan Jurnal Akuntansi 1, no. 1 (2017): 42–47, diakses September 2, 2021, http://owner.polgan.ac.id/index.php/owner/article/view/14.

24

2. Penelitian yang dilakukan oleh Nafis dan Sudarsono mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan mudharabah.

Dimana faktor penelitianya Nafis dan Sudarsono yaitu DPK, CAR, ROA, NPF, FDR, BOPO, BI Rate, Inflasi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh DPK terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh NPF terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh FDR terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh BOPO terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh BI Rate terhadap pembiayaan mudharabah dan untuk mengetahui pengaruh Inflasi terhadap pembiayaan mudharabah. Dimana hasil dari penelitian mereka menunjukkan bahwa DPK berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, CAR berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah, ROA berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah, NPF tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudhrabah, FDR berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah BOPO berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah, inflasi tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dan BI rate tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah. Berpengaruh negatif memiliki makna/arti pengaruh yang berlawanan, semakin tinggi nilai DPK, CAR, ROA, NPF, FDR, BOPO, BI Rate, Inflasi maka akan semakin rendah pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut. Sebaliknya semakin rendah DPK, CAR, ROA, NPF, FDR, BOPO, BI Rate, Inflasi maka akan menaikkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.

Sedangkan berpengaruh positif memiliki makna/arti pengaruh yang searah, semakin tinggi nilai DPK, CAR, ROA, NPF, FDR, BOPO, BI Rate, Inflasi maka akan semakin tinggi pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.

Sebaliknya semakin rendah DPK, CAR, ROA, NPF, FDR, BOPO,

25

BI Rate, Inflasi maka akan menurunkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.2

3. Penelitian yang dilakukan oleh Dwiyanti mengenai Analisis Faktor yang mempengaruhi Equivalent Rate Of Return (ERR) bagi hasil deposito mudharabah. Dimana faktor-faktor yang mempengaruhi ERR yaitu FDR, CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO, pembiayaan mudharabah. Penelitian Dwiyanti bertujuan untuk mengetahui pengaruh FDR terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap ERR bagi hasil doposito dari mudharabah, untuk mengetahui pengaruh ROE terhadap ERR bagi hasil deposito mudharabah, untuk mengetahui pengaruh NPF terhadap ERR bagi hasil deoposito dari mudharabah, untuk mengetahui pengaruh BOPO terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, untuk mengetahui pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap ERR bagi hasil deoposito dari mudharabah dan untuk mengetahui FDR, CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO, pembiayaan mudharabah secara berama-sama terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah.

Hasil penelitian Dwiyanty menunjukkan bahwa FDR tidak berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, CAR tidak berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, ROA tidak berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, ROE berpengaruh positif terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, NPF tidak berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, BOPO tidak berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah, pembiayaan mudharabah berpengaruh positif terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah. Sedangkan FDR, CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO, pembiayaan mudharabah secara bersama- sama berpengaruh terhadap ERR bagi hasil deposito dari mudharabah. Sedangkan berpengaruh positif memiliki makna/arti

2Rifqi Khuamirotun Nafis dan Heri Sudarsono, “Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia,”

Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 7, no. 1 (2021): 164, diakses September 2, 2021, http://www.jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jei/article/view/1614.

26

pengaruh yang searah, semakin tinggi nilai FDR, CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO, pembiayaan mudharabah maka akan semakin tinggi pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut. Sebaliknya semakin rendah FDR, CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO, pembiayaan mudharabah Inflasi maka akan menurunkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.3

4. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan mengenai pengaruh tingkat bagi hasil dan DPK terhadap nisbah pembiayaan mudharabah dengan CAR sebagai variabel Moderasi. Tujuan penelitian Kurniawan yaitu untuk menguji tingkat bagi hasil terhadap nisbah pembiayaan mudharabah, untuk menguji DPK terhadap nisbah pembiayaan mudharabah dan untuk menguji tingkat bagi hasil dan DPK terhadap nisbah pembiayaan mudharabah dengan CAR sebagai variabel Moderasi. Hasil penelitian dari Kurniawan menyimpulkan bahwa tingkat bagi hasil berpengauh negatif terhadap nisbah pembiayaan mudharabah, DPK berpengaruh positif terhadap nisbah pembiayaan mudharabah dan CAR berpengaruh negatif terhadap hubungan diantara tingkat bagi hasil dengan pembiayaan mudharabah dan memiliki hubungan dana pihak ketiga dengan pembiayaan mudharabah. Berpengaruh positif memiliki makna/arti pengaruh yang searah, semakin tinggi nilai tingkat bagi hasil dan DPK maka akan semakin tinggi pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut. Sebaliknya semakin rendah tinggi nilai tingkat bagi hasil dan DPK maka akan menurunkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.

sedangkan berpengaruh negatif makna/artinya memiliki pengaruh yang berlawanan , semakin tinggi nilai tingkat bagi hasil dan DPK maka akan semakin rendah pembiayaan mudharabah yang diberikan kepada nasabah bank tersebut. Sebaliknya semakin rendah tinggi nilai tingkat bagi hasil dan DPK maka akan

3Rima Dwijayanty, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Equivalent Rate of Return Bagi Hasil Deposito Mudharabah,” Jurnal SIKAP (Sistem Informasi, Keuangan, Auditing Dan Perpajakan) 1, no. 1 (2016): 36, diakses September 2, 2021, http://jurnal.usbypkp.ac.id/index.php/sikap/article/view/45.

27

meningkatkan pembiayaan yang diberikan kepada nasabah bank tersebut.4

5. Penelitian yang dilakukan oleh Annisa dan Fernanda mengenai Pengaruh CAR, DPK, NPF dan ROA Terhadap Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Pada Bank Syariah Mandiri Periode 2011-2015. Tujuan penelitian Annisa dan Fernanda yaitu untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh DPK terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh NPF terhadap pembiayaan mudharabah, untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap pembiayaan mudharabah. untuk mengetahui pengaruh CAR terhadap pembiayaan musyarakah untuk mengetahui pengaruh DPK terhadap pembiayaan musyarakah, untuk mengetahui pengaruh NPF terhadap pembiayaan musyarakah, untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap pembiayaan musyarakah. dan mengetahui pengaruh CAR, DPK, NPF, ROA secara bersama-sama terhadap mudharabah dan musyarakah.

Penelitian Annisa dan Fernanda menunjukkan hasil bahwa DPK tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah, DPK tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. CAR berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dan CAR tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. NPF berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dan NPF berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dan ROA tidak berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. sedangkan hasil Uji F menunjukkan bahwa CAR, DPK, NPF, ROA secara bersama-sama berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah dan bahwa CAR, DPK, NPF, ROA secara bersama-sama berpengaruh terhadap pembiayaan musyarakah. Setiap terjadi kenaikan atau penurunan CAR, DPK,

4Elan Kurniawan, “Pengaruh Tingkat Bagi Hasil Dan Dana Pihak Ketiga Terhadap Nisbah Pembiayaan Mudharabah Dengan Capital Adequacy Ratio Sebagai Variabel Moderasi,” AkunNas 18, no. 2 (2020): 62–81, diakses September 3, 2021, http://journal.unas.ac.id/akunnas/article/view/1080.

28

NPF, ROA akan berpengaruh terhadap kenaikan atau penurunan pembiayaan mudharabah dan musyarakah.5

6. Penelitian yang dilakukan oleh Sabtatianto dan Yusuf mengenai Pengaruh dari BOPO, ROA, CAR dan FDR terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah. Bertujuan untuk menagalisis pengaruh dari BOPO terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, untuk menagalisis pengaruh dari ROA terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, untuk menagalisis pengaruh dari CAR terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, untuk menagalisis pengaruh dari FDR terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah dan untuk mengalisis pengaruh BOPO, ROA, CAR dan FDR terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa BOPO tidak berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, ROA berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, CAR tidak berpengaruh tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah, FDR tidak berpengaruh tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah. Sedangkan BOPO, ROA, CAR dan FDR secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah. Setiap terjadi kenaikan atau penurunan BOPO, ROA, CAR dan FDR akan berpengaruh terhadap kenaikan atau penurunan tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah.6

7. Penelitian yang dilakukan oleh Sulfiani dan Mais mengenai pengaruh kinerja keuangan terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah pada BUS di Indonesia periode 2012-2018.

Tujuan penelitian Sulfiani dan Mais yaitu untuk mengetahui pengaruh ROA terhadap tingkat bagi hasil dari deposito mudharabah pada BUS di Indonesia periode 2012-2018, untuk

5Suci Annisa dan Dedi Fernanda, “Pengaruh DPK, CAR, NPF dan ROA Terhadap Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah Mandiri Periode 2011-2015,” Jurnal Ekonomi & Bisnis Dharma Andalas 19, no. 2 (2017): 300–305, diakses September 2, 2021, http://ojs.unidha.ac.id/index.php/edb_dharmaandalas/article/view/63.

6Reandy Sabtatianto dan Muhamad Yusuf, “Pengaruh BOPO, CAR, FDR dan ROA terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah pada Bank Umum Syariah di Indonesia,” ULTIMA Accounting 10, no. 2 (2019): 169–186, diakses September 2, 2021, https://ejournals.umn.ac.id/index.php/Akun/article/view/978

Dalam dokumen 1. Dr - etheses UIN Mataram (Halaman 34-41)

Dokumen terkait