• Tidak ada hasil yang ditemukan

Catatan Akuntansi dan Prosedur Sistem Persediaan Barang

BAB IV PEMBAHASN

4.2. Hasil Analisis

4.2.1. Identifikasi Data dari Sistem Informasi Akuntansi atas Prosedur

4.2.1.1. Catatan Akuntansi dan Prosedur Sistem Persediaan Barang

SOHO, obat merk PT. Ethica, dan kosmetik. Berikut adalah data rinci yang diproduksi oleh PT. Parit Padang.

Tabel 4.1 Data Penjualan bulanan dan Harga Produk PT. Parit Padang

Rak-rak Display Penjualan per-bulan 400.000-500.000 per-biji Harga Obat merk SOHO Rp.15.000,-s/d Rp. 800.000,- Harga Obat merk PT. Ethica Rp. 10.000,- s/d Rp. 700.000,- Harga Kosmetik Rp. 5.000,- s/d Rp. 400.000,- Sumber: PT. Parit Padang, 2019

74

barang yang tercantum dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang berdasarkan hasil penghitungan fisik persediaan.

3. Jurnal umum

Jurnal umum digunakan untuk mencatat jurnal adjustment rekening persediaan karena adanya perbedaan antara saldo yang dicatat dalam rekening persediaan dengan saldo menurut penghitung fisik.

4.2.1.2 Dokumen yang digunakan pada Persediaan Barang Dagang PT. Parit Padang

Dokumen yang digunakan Sistem akuntansi persediaan barang dagang adalah:

1. Kartu Perhitungan Fisik

Dokumen ini digunakan untuk merekam hasil perhitungan fisik persediaan.

Sumber: PT. Parit Padang, 2019

Gambar 4.3 Kartu Perhitungan Fisik 2. Daftar hasil perhitungan fisik

Dokumen ini digunakan untuk meringkas data yang telah direkam dalam hasil kartu perhitungan fisik persediaan.

PT. Parit Padang Berbek Sidoarjo

Laporan Penghitungan Fisik persediaan Barang tanggal….s/d tanggal………….

No Nama barang Unit Harga Jumlah Keterangan

Mengetahui, Petugas Stock Opname, (Kepala Gudang) (……….)

Sumber: PT. Parit Padang, 2019

Gambar 4.4

Daftar Hasil Perhitungan Fisik 3. Bukti memorial

Dokumen ini digunakan untuk membukukan adjustment rekening persediaan sebagai akibat dari hasil penghitungan fisik ke dalam jurnal umum.

Sumber: PT. Parit Padang, 2019

Gambar 4.5 Bukti memorial

DAFTAR HASIL PENGHITUNGAN FISIK

Periode Penghitung Fisik Dikalikan oleh:……

Disalin dari kartu penghitung fisik oleh: Dijumlah oleh:…….

Diisi harga pokok satuan oleh: Diperiksa oleh:……

No Kode Nama Kuantitas Satuan Harga pokok satuan Harga Pokok Total

BM no:

Tanggal:

BUKTI MEMORIAL Penjelasan

transaksi:………...

Qty Item Decription Prie(Rp) Total(Rp)

Sub Total PPN Total,

Direktur, Kabag Akuntansi, Dibukukan,

(………) (……….) (……….)

76

4.2.1.3 Fungsi yang Terkait dalam Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

Adapun fungsi lebih rinci dari persediaan barang dagang tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagian Gudang

Pada sistem persediaan barang dagang, bagian Gudang bertanggung jawab untuk menlaksanakan penghitungan fisik persediaan dan menyerahkan hasil penghitungan tersebut kepada bagian kartu persediaan untuk digunakan sebagai dasar adjustment terhadap catatan persediaan dalam kartu persediaan.

2. Bagian Akuntansi

Bertugas untuk mencantumkan harga pokok satuan persediaan yang dihitung ke dalam daftar hasil penghitung fisik, mengalikan kuantitas dan harga pokok per satuan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik, mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil penghitungan fisik, melakukan adjustment data persediaan dalam jurnal umum berdasarkan hasil perhitungan fisik persediaan.

4.2.1.4 Kebijakan Manajemen Persediaan PT. Parit Padang

Adapun kebijakan Manajemen Persediaan Parit Padang adalah sebagai berikut:

1. Barang yang diterima dan keluar harus dicatat ke dalam sistem secara real time dan transaksi persediaan yang terjadi dalam periode berjalan harus ditutup pada akhir bulan. Saldo akhir dari periode berjalan akan menjadi saldo awal periode berikutnya.

2. Penilaian persediaan dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang.

3. Store keeper bertanggung jawab atas penerimaan, pengeluaran dan penyimpanan persediaan, perlindungan terhadap kehilangan dan kerusakan, pengawasan dan pelaporan dan juga pengelolaan identifikasi fisik persediaan untuk semua gudang yang berada didalam perusahaan.

4. Setiap persediaan didalam gudangmemiliki kode persediaan yang unik (struktur kode yang sama dalam perusahaan) Store keeper tidak diperkenankan merubah, menambah ataupun mengurangi kode yang telah ada.

5. Storekeeper bertanggung jawab untuk menindaklanjuti setiap masalah /kerusakan/kehilangan di area gudang dan berkoordinasi aktif dengan pihak- pihak terkait untuk memecahkan masalah tersebut.

6. Penyimpanan persediaan diluar gudang harus memperoleh persetujuan dari Manajer.

4.2.2 Analisa Deskriptif Kualitatif Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

4.2.2.1 Prosedur yang membentuk Sistem Informasi Akuntansi pada PT. Parit Padang

Adapun prosedur yang membentuk sistem informasi akuntansi pada PT. Parit Padang adalah:

1. Prosedur penghitung fisik

Dalam prosedur ini tiap jenis persediaan di gudang dihitung oleh penghitung dan pengecek secara independen yang hasilnya dicatat dalam kartu penghitung fisik.

78

2. Prosedur kompilasi

Dalam prosedur ini pemegang kartu penghitung fisik melakukan perbandingan data yang dicatat dalam kartu penghitung fisik serta melakukan pencatatan data yang tercantum dalam kartu penghitung fisik ke dalam daftar penghitung fisik.

3. Prosedur penentuan harga pokok persediaan

Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan mengisi harga pokok persatuan tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik berdasarkan informasi dalam kartu persediaan yang bersangkutan serta mengalihkan harga pokok persatuan tersebut dengan kuantitas hasil penghitungan fisik untu mendapatkan total harga pokok persatuan tersebut dengan kuantitas hasil penghitungan fisik untuk mendapatkan total harga pokok persediaan yang dihitung.

4. Prosedur Adjustment

Dalam prosedur ini bagian kartu persediaan melakukan adjustment terhadap data persediaan yang tercantum dalam kartu persediaan berdasarkan data hasil perhitungan fisik persediaan yang tercantum dalam daftar hasil penghitungan fisik persediaan.

4.2.2.2 Bagan Alir Sistem Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang Bagan alir sistem persediaan barang dagang PT. Parit Padang seperti yang tampak pada gambar 4.6 dan gambar 4.7

Gambar 4.6

Sumber: PT. Parit Padang, 2019

Bagan Alir Pencatatan Produk, Pencatatan Harga Produk Yang Dijual, dan Pengeluaran Barang

Membuat catatan barang

1 Catatan 2

Baang 1

1 2

DP

Mencatat pengeluaran

barang

1 Catatan pengeluaran

barang

Menyiapkan barang yang diperan

Barang yang dipesan

3

Membuat DHJB

1 DHJB 2

3

Daftar pengeluaran

barang

Membuat laporan pengeluaran

barang

1 Laporan 2 pengeluran barang

4

2 Catatan barang

2

2 DHJB

Menyetujui DHJB

1 DHJB yang 2

disetujui

3

Laporan 2 Pengeluaran barang

5

Laporan 1 Keuangan

6

Membuat DHB untuk

customer

DHB

Permintaan DHB

DHB

1 DP 2

2

Membuat surat jalan 3

Barang yang dipesan

Surat jalan

Mengirim barang Barang

4 Surat jln yg di ttd

Membuat laporan keuangan 1

Lap keu 2

END

Membuat daftar permintaa

n DP

7

Barang

Menandatnangani surat jalan dan

melakukan pembayaran

Surat jalan yang telah ditandatangani

7

80

Gambar 4.7 Sumber: PT. Parit Padang, 2019

Bagan Alir Pencatatan Harga Pokok Persediaan Yang Dibeli dan PermintaanBarang Bagian GudangBagian Pembelian Supplier Pimpinan

Start

Melakukan pengeluaran barang

Membuat form permintaan

barang

2 FPB 1

3

LPB 1 2

Membuat Laporan penambahan

persediaan

1 2 Laporan penambahan persediaan

END

4

Form pembelian barang 2

Pencarian harga barang, membuat surat permintaan penawaran barang

2 SPPH

1

2 SPH

1

Pencarian harga yang cocok, membuat

SOP

3 2 SOP

1

3 1

SPPH 2

Membuat SPH

2 SPPH 1

4

SOP 3

Membuat surat permintaan

barang

2 SPB 1

5 2

4

Laporan Penambahan

Persediaan

6

4.2.1.1 Penjelasan Bagan Alir Sistem Persediaan Barang Dagang PT. Parit Padang

Dari gambar 4.6 bagan alir sistem flowchart pencatatan produk jadi, pencatatan harga pokok jadi yang dijual, dan pengeluaran barang:diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Gudang

Gudang membuat catatan barang rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diberikan ke Pimpinan, Dari daftar pemesanan customer yang diterima dari bagian penjualan, gudang mencatat pengeluaran tersebut dengan membuat catatan pengeluaran barang rangkap 2, lembar pertama sebagai dasar penyiapan barang yang akan dipesan, sedangkan lembar kedua untuk gudang.

Barang yang dipesan lalu diberikan ke bagian penjualan.Dari catatan pertambahan barang, bagian ini membuat daftar harga Jual barang (DHJB) rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diberikan ke pimpinan.Dari catatan pengeluaran barang, bagian ini membuat laporan pengeluaran barang rangkap 2, lembar pertama untuk arsip, lembar kedua diberikan ke pimpinan.

2. Pimpinan

Catatan pertambahan barang dari gudang dijadikan arsip.Setelah menerima DHJB (daftar harga jual barang) dari bagian akuntansi persediaan, pimpinan menyetujui lalu dijadikan arsip dan diberikan ke bagian penjualan.Laporam pengeluaran barang yang diterima dari bagian akuntansi persediaan dan laporan keuangan yang diterima dari bagian penjualan dijadikan arsip.

82

3. Bagian Penjualan

DHJB (daftar harga jual barang) yang diterima dari pimpinan serta permintaan daftar harga barang (DHB) dari customer dijadikan dasar untuk membuat DHB (daftar harga barang) yang diminta oleh customer, lalu DHB tersebut diberikan ke customer.Bagian penjualan lalu menerima daftar pemesanan (DP) dari customer, lalu diserahkan ke gudang. dari DP, bagian penjualan membuat surat jalan. Barang beserta surat jalan dikirim ke customer. Setelah mendapat surat jalan yang ditandatangani, bagian penjualan membuat laporan keuangan rangkap 2, lembar pertama diserahkan ke pimpinan, sedangkan lembar kedua dijadikan arsip.

Dari gambar 4.7 bagan alir sistem flowchart pencatatan harga pokok persediaan yang dibeli dan permintaan barangdiatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Gudang

Gudang melalukan pengecekan barang lalu membuat form permintaan barang rangkap 2, lembar kedua diberikan ke bagian pembelian, sedangkan lembar pertama bersama dengan laporan penerimaan barang (LPB) yang diterima dari bagian penerimaan dijadikan sebagai dasar pembuatan laporan penambahan persediaan rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke pimpinan.

2. Bagian pembelian

Form pembelian barang yang diterima dari gudang oleh bagian pembelian dibuat surat permintaan penawaran harga (SPPH) rangkap 2, lembar pertama

sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke supplier.Surat penawaran harga (SPH) yang diterima dari supplier, bagian pembelian mencari harga yang cocok dan membuat surat order pembelian (SOP) rangkap 3, lembar 1 sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke bagian penerimaan, lembar ketiga diserahkan ke supplier.

3. Supplier.

Setelah menerima SPPH dari bagian pembelian, lalu supplier membuat SPH (surat penawaran harga) lalu diberikan ke bagian pembelian.SOP yang diterima dari bagian pembelian dibuat surat penerimaan barang (SPB) rangkap 2, lembar pertama diberikan bagian penerimaan bersama barang, lembar kedua dijadikan arsip.

4. Pimpinan

Laporan penambahan persediaan yang diterima dari gudang dijadikan arsip.

4.2.2 Evaluasi Potensi Resiko dan Kelemahan Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

Berikut adalah mengenai potensi resiko sistem informasi akuntansi persediaan barang dagang yang di terapkan pada PT. Parit padang:

1. Perangkapan fungsi gudang dan fungsi Akuntansi

Tidak adanya pemisahan antara fungsi gudang dengan fungsi Akuntansi mengakibatkan seringnya kesalahan dalam pencatatan persediaan dan lemahnya pengendalian internal terhadap stock persediaan.

84

2. Tidak adanya Fungsi Penerimaan

Tidak adanya fungsi penerimaan barang mengakibatkan adanya selisih jumlah stok barang digudang dengan jumlah stok barang yang ada pada pencatatan pembukuan.

4.3 Interprestasi

4.3.1 Usulan Rekomendasi dan Solusi Atas Kelemahan dan Potensi Resiko yang Ditemukan Sistem Akuntansi Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

Dari kelemahan yang terdapat pada PT. Parit Padang maka terdapat usulan rekomendasi sebagai berikut:

1. Pemisahan Fungsi

Kelemahan dari pemisahan fungsi yaitu akan menambah biaya karena adanya perekrutan karyawan baru. Adanya pemisahan fungsi antara fungsi gudang dengan fungsi Akuntansi memudahkan untuk pengecekan stok persediaan barang dan dapat tercapainya pengendalian internal.

2. Fungsi penerimaan

Adanya fungsi penerimaan mempermudah melihat jumlah stok barang digudang dengan jumlah stok barang yang ada pada pencatatan pembukuan.

Kelemahannya perusahaan harus menambah karyawan baru yang ditempatkan pada fungsi penerimaan dan akibatnya menambah biaya yang dikeluarkan perusahaan. Solusinya adalah mengambil karyawan lama untuk ditempatkan pada fungsi penerimaan.

4.3.2 Usulan Rekomendasi Solusi atas Perbaikan Struktur Organisasi Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

Berdasarkan usulan rekomendasi perubahan fungsi diatas maka berikut adalah rekomendasi struktur organisasi pada PT. Parit Padang yang diusulkan oleh peneliti:

Sumber: Rekomendasi peneliti, 2019

Gambar 4.8Rekemendasi Struktur Organisasi PT. Parit Padang 4.3.3 Deskripsi Tugas dan Wewenang Rekomendasi Perbaikan Struktur

Organisasi PT. Parit Padang

Adapun uraian tugas dan wewenang dari setiap bagian dan fungsi dalam struktur organisasi PT. Parit Padang adalah sebagai berikut:

a. Accounting

Tugas dan Wewenang accountingadalah sebagai berikut:

1). Membuat pembukuan keuangan kantor dan laporan keuangan.

2). Menginput data jurnal akuntansi kedalam sistem perusahaan.

Tanggung Jawab:

Operational Manager

Salesman Gudang Merchandiser Delivery

Operarational Coodinator

Accounting Direktur

86

1). Memastikan pemeriksaan dan verifikasi kelengkapan dokumen yang berhubungan dengan transaksi keuangan terlaksana dengan baik.

4.3.4 Usulan Bagan Alir Sistem Persediaan Barang Dagang pada PT. Parit Padang

Pada gambar 4.9 dan gambar 4.10 terdapat perbaikan bagan alir sistem persediaan barang dagang yang ada pada PT. Parit Padang sebagai berikut:

Gambar 4.9 Sumber: Usulan Peneliti, 2019

Usulan Bagan Alir Pencatatan Produk, Pencatatan Harga Produk Yang Dijual, dan Pengeluaran Barang

Membuat catatan barang 1

Catatan 2 Baang 1

1 2 DP

Mencatat pengeluaran

barang 1

Catatan pengeluaran

barang

Menyiapkan barang yang diperan

Barang yang dipesan

3

Membuat DHJB 1 DHJB 2

3

Daftar pengeluaran

barang

Membuat laporan pengeluaran

barang

1 Laporan 2 pengeluran barang

4

2 Catatan barang

2

2 DHJB

Menyetujui DHJB

1 DHJB yang 2

disetujui

3

Laporan 2 Pengeluaran barang

5

Laporan 1 Keuangan

6

Membuat DHB untuk customer

DHB

Permintaan DHB

DHB

1 DP 2

2

Membuat surat jalan 3

Barang yang dipesan

Surat jalan

Mengirim barang Barang

4 Surat jln yg di ttd

Membuat laporan keuangan 1

Lap keu 2 END

Membuat daftar permintaan

DP

4 Barang

Menandatnangani surat jalan dan

melakukan pembayaran Surat jalan yang

telah ditandatangani

7

88

Dijual, dan Pengeluaran Barang

Gambar 4.10 Sumber: Usulan Peneliti, 2019

Usulan Bagan Alir Pencatatan Harga Pokok Persediaan Yang Dibeli dan PermintaanBarang Bagian Gudang Bagiuan PembelianSupplierBagian PenerimaanPimpinan

Start Melakukan pengeluaran barang Membuat

form permintaan

barang 2 FPB 1

3

LPB 1

2

Membuat Laporan penambahan

persediaan 1

2 Laporan penambahan persediaan

END

4

Form pembelian barang 2 Pencarian harga barang, membuat surat permintaan

penawaran barang

2 SPPH

1

2 SPH

1

Pencarian harga yang

cocok, membuat

SOP

3 2 SOP

1

3 1

SPPH 2 Membuat

SPH 2 SPPH 1

4

SOP 3

Membuat surat permintaan

barang

2 SPB 1

2 5

4

Laporan Penambahan

Persediaan

7

1 2

SOP 2

SPB

Pengecekan barang yang dikirim

Membuat laporan penerimaan

barang

2 Laporan

penerimaan barang 1

3

6

89

4.3.5 Penjelasan Usulan Bagan Alir Sistem Persediaan Barang Dagang PT. Parit Padang

Dari gambar usulan bagan alir sistem persediaan barang dagang diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Rekomendasi bagan alir (gambar 4.9) 1. Bagian Gudang

Gudang membuat catatan barang rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diberikan ke Pimpinan, Dari daftar pemesanan customer yang diterima dari bagian penjualan, gudang mencatat pengeluaran tersebut dengan membuat catatan pengeluaran barang rangkap 2, lembar pertama sebagai dasar penyiapan barang yang akan dipesan, sedangkan lembar kedua untuk gudang. Barang yang dipesan lalu diberikan ke bagian penjualan.Dari catatan pertambahan barang, bagian ini membuat daftar harga Jual barang (DHJB) rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diberikan ke pimpinan.Dari catatan pengeluaran barang, bagian ini membuat laporan pengeluaran barang rangkap 2, lembar pertama untuk arsip, lembar kedua diberikan ke pimpinan.

2. Bagian Akuntansi

Dari Catatan Pertambahan Barang, Bagian ini membuat Daftar Harga Jual Barang (DHJB) rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diberikan ke Pimpinan.Dari Catatan Pengeluaran Barang, Bagian ini membuat Laporan Pengeluaran Barang rangkap 2, lembar pertama untuk

90

arsip, lembar kedua diberikan ke Pimpinan, sehingga hal ini bertujuan untuk mengecek stok barang yang tersedia dan yang telah dikeluarkan.

3. Pimpinan

Catatan pertambahan barang dari gudang dijadikan arsip.Setelah menerima DHJB (daftar harga jual barang) dari bagian akuntansi persediaan, pimpinan menyetujui lalu dijadikan arsip dan diberikan ke bagian penjualan.Laporam pengeluaran barang yang diterima dari bagian akuntansi persediaan dan laporan keuangan yang diterima dari bagian penjualan dijadikan arsip.

4. Bagian Penjualan

DHJB (daftar harga jual barang) yang diterima dari pimpinan serta permintaan daftar harga barang (DHB) dari customer dijadikan dasar untuk membuat DHB (daftar harga barang) yang diminta oleh customer, lalu DHB tersebut diberikan ke customer.Bagian penjualan lalu menerima daftar pemesanan (DP) dari customer, lalu diserahkan ke gudang. dari DP, bagian penjualan membuat surat jalan. Barang beserta surat jalan dikirim ke customer. Setelah mendapat surat jalan yang ditandatangani, bagian penjualan membuat laporan keuangan rangkap 2, lembar pertama diserahkan ke pimpinan, sedangkan lembar kedua dijadikan arsip.

5. Customer

Meminta daftar harga barang lalu membuat daftar permintaan. Setelah itu menandatangani surat jalan dan melakukan pembayaran.

b. Rekomendasi bagan alir (gambar 4.10) 1. Gudang

Gudang melalukan pengecekan barang lalu membuat form permintaan barang rangkap 2, lembar kedua diberikan ke bagian pembelian, sedangkan lembar pertama bersama dengan laporan penerimaan barang (LPB) yang diterima dari bagian penerimaan dijadikan sebagai dasar pembuatan laporan penambahan persediaan rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke pimpinan.

2. Bagian pembelian

Form pembelian barang yang diterima dari gudang oleh bagian pembelian dibuat surat permintaan penawaran harga (SPPH) rangkap 2, lembar pertama sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke supplier.Surat penawaran harga (SPH) yang diterima dari supplier, bagian pembelian mencari harga yang cocok dan membuat surat order pembelian (SOP) rangkap 3, lembar 1 sebagai arsip, lembar kedua diserahkan ke bagian penerimaan, lembar ketiga diserahkan ke supplier.

3. Supplier.

Setelah menerima SPPH dari bagian pembelian, lalu supplier membuat SPH (surat penawaran harga) lalu diberikan ke bagian pembelian.SOP yang diterima dari bagian pembelian dibuat surat penerimaan barang (SPB) rangkap 2, lembar pertama diberikan bagian penerimaan bersama barang, lembar kedua dijadikan arsip.

92

4. Bagian Penerimaan

SOP yang diterima dari Bagian Pembelian dan SPB yang diterima dari supplier, dilakukan pengecekan lalu membuat Laporan Penerimaan Barang (LPB) rangkap 2, lembar pertama diserahkan ke Gudang, lembar kedua sebagai arsip, sehingga diharapkan barang yang diterima sesuai.

5. Pimpinan

Laporan penambahan persediaan yang diterima dari gudang dijadikan arsip.

93 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa simpulan guna menjawab rumusan masalah.

Beberapa simpulan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sistem akuntansi persediaan barang dagang yang ada pada PT. Parit Padang telah terlaksana dengan baik namun masih perlu adanya beberapa perbaikan.

2. Tidak adanya pemisahan fungsi antara fungsi gudang dengan fungsi Akuntansisehingga mengakibatkan kesalahan dalam pengecekan stok persediaan barang sehingga menyebabkan lemahnya pengendalian internal gudang.

3. Tidak adanya fungsi penerimaan barang mengakibatkan adanya selisih jumlah stok barang digudang dengan jumlah stok barang yang ada pada pencatatan pembukuan.

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka berikut ini diketahui beberapa saran sebagai bahan pertimbangansebagai berikut:

1. Perlu adanya pengrekrutan karyawan baru untuk menjalankan fungsi/bagian akuntansi.

2. Perlu adanya pengrekrutan karyawan baru untuk menjalankan fungsi/bagian penerimaan barang sehingga memudahkan untuk pengecekan stok persediaan.

94

3. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan, dan diharapkan untuk mencari referensi variabel lainnya sehingga hasil penelitian selanjutnya akan semakin baik serta dapat memperoleh ilmu pengetahuan yang baru.

Baramuli, J.P.J., & Karamoy, Herman. 2013. Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan pada PT. Ciputra Internasional Manado.

Jurnal, Universitas Sam Ratulangi Manado.

Bodnar, George H., & William S Hopwood. 2013. Sistem Informasi Akuntansi.

Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Dhika, Permana. 2015. Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Persediaan Bahan Baku. Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Jogiyanto, Hartono. 2013. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta:

BPFE Yogyakarta, Edisi Kedelapan.

Ikatan Akuntansi Indonesia 2017, Pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No.14 Persediaan barang, Salemba empat, Jakarta.

Jusup, Al Haryono. 2015, Dasar-dasar akuntansi. Jilid 1. Penerbit Erlangga.

Yogyakarta.

Krismiadji. 2015. Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Laudon, Kenneth C., & Laudon Jane. (2013). Management Information Systems:

Managing the Digital Firm. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Mardi. 2016. Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Mulyadi. 2012. Akuntansi Biaya. Edisi ke-5. Cetakan Kesebelas. Yogyakarta:

STIM YKPN.

Mulyadi. 2013. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, Cetakan Keempat. Jakarta:

Salemba Empat.

_______. 2014. Sistem Akuntansi. Yogyakarta: Salemba Empat.

_______. 2016. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Rajoe. 2013. Sistem Pengendalian Intern. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.

Romney, M.B., & Paul, J.S. 2015. Accounting Information Systems. 13th ed.

England: Pearson Educational Limited.

Soemarso. 2013. Sistem Informasi Akuntansi. Bandung: Lingga Jaya.

Susanto, Azhar. 2013. Sistem Informasi Akuntansi. Bandung: Lingga Jaya.

Sutabri, Tata. 2012. Analisis Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.

Sutarman. 2012. Pengantar Teknologi Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Umami, Riza. 2013. Sistem Akuntansi Penjualan Pada PT. Alfa Scorpii Air Tiris.

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Ulfatuzzahroh, 2014, Analisis Sistem Informasi Akuntansi Persediaan barang dagangan pada Bussiness Center UIN Maliki Malang. Skripsi, Universitas Islam Negeri Maliki, Malang.

Wahyu, galih, 2017, Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Persediaan barang dagang dan Bahan Baku UD. Puteri Bakery. Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta.

Wiratna (2015). Sistem Informasi Akuntansi, Edisi 1,Salemba empat, Jakarta.

Weigant, Kieso (2016). Pengantar Akuntansi 1, Edisi 1,Salemba empat, Jakarta.

Windana, Daud (2014). Sistem Informasi Akuntansi. Yogyakarta: Andi.

Yakub. 2012. Pengantar Sistem Informasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Yin, Robert K. 2012. Studi Kasus Desain & Metode. Jakarta: Raja Grafindo.

Dokumen terkait