• Tidak ada hasil yang ditemukan

Celah-Celah Korupsi Pada Proses Pengurusan SIM

Dalam dokumen HASIL SURVEY KORUPSI DI PELAYANAN PUBLIK (Halaman 69-72)

Bab III...................................................................................................................................... 44

III.1. Deskripsi Korupsi Dalam Proses Pengelolaan Pembuatan SIM

III.1.3. Korupsi dalam Pengelolaan Pembuatan SIM

III.1.3.2. Celah-Celah Korupsi Pada Proses Pengurusan SIM

bagian lain…’Banyak calo, gue nyalo juga, ah!’ Temen-temennya juga banyak di situ. Misalnya gue di situ.. ‘Bang, tolongin, dong, Bang’—‘Oh,. boleh. lewat gue aja..cepek deh,’ ‘Oya, nggak pa- pa.. ‘ gitu, kan, nyalo dia..”34

Bagi calo yang status kepegawaiannya adalah sebagai karyawan bantuan, diterapkan sistim magang sebelum ia memperoleh kesempatan menjadi calo. Status kepegawaian ini diisi oleh mereka yang sebelumnya menjadi pesuruh, tukang koran, petugas foto copy, atau tukang cuci mobil di lingkungan Polda terlepas apakah mereka mempunyai keahlian baca-tulis atau tidak.

Kesempatan magang dan kenaikan status didukung oleh kedekatan mereka dengan para petugas dijajaran Polda. Artinya kedekatan hubungan yang dijalin oleh calon karyawan bantuan dengan petugas tidak selalu berasal dari Subbag SIM, banyak dari bagian lain yang juga “menitipkan”

kliennya pada bagian Satpas SIM untuk memperoleh kesempatan menjadi calo. Lamanya proses magang pun relatif sangat panjang yaitu sekitar 5-6 tahun. Ada yang menganggap bahwa jabatan karyawan bantuan ini merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian mereka, namun ada yang menggunakannya hanya sebagai batu loncatan untuk melakukan mobilitas sosial vertikal di luar lembaga penerbitan SIM misalnya seorang tukang cuci mobil yang menjadi karyawan bantuan akhirnya memperoleh gelar sarjana dari uang hasil nyalo.

Meskipun posisi PNS-Polri yang terdiri dari PNS, Pegawai Harian Lepas (PHL), dan karyawan bantuan (Karban) tidak rentan terhadap razia calo yang sewaktu-waktu dapat terjadi, namun posisi mereka sangat lemah dalam kerangka hubungan industrial. Disamping sebagai kelompok yang paling dieksploitasi dan disubordinasi sebagai mesin pengumpul uang tanpa kepastian jenjang karir35, kelompok ini juga sangat rentan terhadap pemecatan secara tiba-tiba.36

Walaupun pengunaan jasa calo diharapkan dapat membantu kelancaran proses pengurusan SIM namun pada kenyataannya harapan tersebut belum tentu terwujud. Misalnya informan J mengemukakan bahwa dia pernah menemukan pemohon yang menolak jasa calo karena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk jasa calo, sementara ia sendiri menggunakan jasa calo. Yang terjadi justru pemohon yang mengurus sendiri lebih cepat selesai dibanding dengan SIM miliknya.

“Saya liat malah justru duluan dia selesainya daripada saya. padahal dia ngurus sendiri, lho. Itu, saya ikuti apa saja yang orang itu lakukan, prosesnya sama aja kok, kalo kita ngurus sendiri..

Yang saya nggak ngerti, yah, kalo emang ada bayaran ke petugas di dalem—kenapa prosesnya sama dengan yang ngurus sendiri gitu loh..berarti kan uangnya bisa buat dirinya sendiri semuanya.”37

hambatan terutama apabila pemohon mengurus melalui prosedur resmi dengan biaya yang resmi pula. Artinya meskipun pada hari pertama hingga ketiga pemohon mengurus SIM melalui prosedur resmi namun pengalaman gagal dalam mengikuti kedua jenis ujian itu yang terjadi berkali-kali membuat pemohon harus mengambil pilihan dengan menggunakan jasa calo.

Kemungkinan kegagalan itu diilustrasikan oleh perwira Q dengan mengatakan bahwa dari 100 pemohon, yang lulus hanya 35, sedangkan 65 pemohon lainnya gugur sehingga harus kembali lagi mengikuti ujian walaupun materi ujian menurutnya tidak sulit untuk dikerjakan.38 Jika pemohon memilih paket yang harus mengikuti kedua jenis ujian tersebut maka hal itu hanyalah formalitas.

Lulusnya pemohon dalam ujian teori belum berarti ia akan lulus dalam ujian praktek terutama dialami oleh pemohon yang tidak memiliki mobil sendiri untuk melakukan ujian praktek.

“Ada juga masyarakat ini yang ingin memake kendaraan pribadi, kendaraan sendiri untuk praktek, gitu. Jadi tidak diharuskan, gitu. Jadi’kan rancu… kalo kita wajibkan mereka mnyewa kendaraan, mereka bersikeras, ‘Udah saya punya mobil, kok, saya pake mobil saya sendiri’.

Kenapa? Karena peraturannya relatif. Soalnya kondisi kendaraan kan emang lain-lain. Kalo untuk praktek, namanya dipake banyak orang, ya bisa aja barangkali setelan koplingnya lain, harusnya lulus malah jadinya nggak lulus, gitu.”39

Keterpaksaan pemohon yang harus menggunakan jasa calo selain disebabkan kegagalannya mengikuti ujian juga didukung oleh pertimbangan kerugian waktu yang harus dialami sehingga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi mereka. Misalnya informan W yang menginformasikan pengalamannya :

“Tadi sekitar pukul 4, ada dua orang nggak lulus, ikut simulasi. Harus kembali seminggu kemudian. Deketin saya. nah, seperti yang tadi saya bilang, ‘Saya seminggu lagi ke sini lagi, ijin lagi, nggak bakalan dikasih saya kerja, Pak. Sementara SIM saya gimana nih nggak jadi-jadi mau diperpanjang. Tolonglah, Pak kasih kebijaksanaan..yaa, saya mau deh Pak ngeluarin duit 100 ribu lagi’. Jadi, mereka itu rugi sedikit nggak masalah, pertimbangan waktu. Mereka di swasta itu, nggak bisa sembarangan bisa ijin. Sementara imej mereka satu hari selesai, kan gitu.

Sehingga ketimbang dia waktunya abis. Itu mungkin biayanya bisa lebih gede lagi. Buat ongkos bis, buat makan, sementara dia dipotong uang makannya oleh perusahaan.”40

Hal yang menyebabkan ujian teori menjadi tahap yang paling lama adalah lambannya proses pemeriksaan hasil ujian teori. Pemeriksaan itu menggunakan mesin/komputer yang hanya berjumlah satu buah. Tentu saja ini membuat pemohon harus lama menunggu karena jumlah peserta yang berkisar sekitar 100-150 orang setiap gelombangnya.41 Sehingga one day service42 yang pernah diprogramkan oleh Kapolda sebelumnya yaitu Mayjend (Pol) Nugroho Djayusman tidak mungkin tercapai karena perbandingan antara sarana dengan jumlah pemohon sangat besar rasionya meski sudah dilakukan penambahan shift waktu kerja petugas. Hal ini juga ditegaskan oleh perwira Q yang menyatakan bahwa secara logika hal itu tidak mungkin dilaksanakan karena banyaknya jumlah pemohon yang mencapai angka rata-rata antara 2000 hingga 3000 orang per

38 Wawancara 19 April 2000 dengan Q.

39 Wawancara 19 April 2000 dengan W.

40 Wawancara 19 April 2000 dengan W.

41 Wawancara, 11 April dengan W

42 Harian Republika, 15 Juni 1998, dan Harian Media Indonesia, 13 Juni 1998

hari.43 Faktor penghambat program one day service selain faktor sarana dan tahap ujian adalah tidak sinkronnya antara kebijakan yang dikeluarkan Kapolda waktu itu dengan UU Lalu Lintas No.14/1992 yang menyatakan bahwa pemohon harus tetap mengikuti kedua jenis ujian.

Disamping itu sistim administrasi SIM itu sendiri secara langsung dapat menjadi penghambat pengurusan SIM oleh pemohon, terutama bagi pemohon perpanjangan SIM.

Misalnya sistim dokumentasi SIM saat ini pada prinsipnya masih menggunakan sistim pencatatan lama secara manual. Sistim ini digunakan ketika pengurusan SIM belum menggunakan sistem komputerisasi. Artinya data penerbitan SIM diinventarisir dengan cara ditulis tangan karena tidak sedikit pemohon SIM yang hendak membuat SIM perpanjangan masih memiliki SIM yang lama karena lama sekali tidak pernah diperpanjang hingga SIM sudah berubah bentuknya. Atau jika bagi pemohon SIM hilang atau peningkatan golongan, ia tidak memiliki fotokopi SIM lama yang telah menggunakan sistem komputerisasi, ia dapat menyertakan SIM lama yang masih menggunakan teknologi sebelum sistem komputerisasi diberlakukan. Data dari SIM yang telah habis masa berlakunya kemudian dicocokkan dengan catatan manual di Taud. Cara pencatatannya adalah dengan mencatat nomor SIM, nama pemilik dan golongan SIM yang bersangkutan secara manual ke dalam sebuah buku, yang disebut Buku Ekspedisi atau Buku Kerja Harian. Setelah itu barulah data dimasukkan kedalam komputer dan hingga kini di ruang Taud Satpas SIM Daan Mogot, data tersebut masih tersimpan dengan baik.

Karena harus dicocokkan secara manual maka waktu yang dibutuhkan sangat lama dan walau setelah dimasukkan kedalam komputer untuk dicetak data tersebut tidak disimpan di dalam sebuah pusat bank data yang memudahkan polisi dalam mengusut kasus, khususnya yang berkaitan dengan sidik jari dan foto. Contoh tersebut dapat ditemukan dalam tahap foto dan produksi SIM yaitu pemohon perpanjangan SIM harus tetap difoto kembali karena pada sistim komputerisasi tidak ada “program” (penyimpanan data foto.pen) untuk memuat foto pemohon.

Artinya dalam file yang memuat data bersangkutan, tidak terpampang tampilan wajah, maupun sidik jari. Sehingga tidak mengherankan apabila sering ditemui kasus penggandaan kartu, dengan pemegang yang berbeda-beda.44

Untuk menghindari terbuangnya waktu karena pencocokan data dan kewajiban untuk mengikuti ujian kembali bagi pemegang SIM yang masa berlakunya telah habis lebih dari satu tahun, serta syarat-syarat administratif lainnya maka pemohon perpanjangan SIM, khususnya pemohon yang bekerja sebagai supir, memanipulasi sistim tersebut antara lain dengan membuat surat keterangan hilang dari kepolisian setempat.45 Prosedur yang juga dianggap sebagai kendala bagi pemohon perpanjangan atau peningkatan SIM yaitu penahanan SIM lama tanpa diberikan surat keterangan resmi sementara yang berfungsi sebagai pengganti SIM yang ditahan.

“Ini mumpung saya inget… Dalam salah satu ketentuannya berkas itu ditahan di loket pendaftaran beserta SIM asli yang lama. Dalam berkas itu’kan SIM-nya juga ikut ditempel di situ. Naah, suatu saat karena peningkatan golongan, dia nggak lulus, di teorilah katakanlah.

Dalam kondisi tersebut, SIM lamanya masih ditahan di Satpas Daan Mogot, sedangkan dalam waktu seminggu sebelum ia mengikuti ujian kembali ia harus tetap bekerja. Padahal ia tidak

43 Wawancara 19 April 2000 dengan Q.

44 Informan W mengilustrasikan kasus ini sambil menyebutkan bahwa ada supir-supir dari etnis tertentu yang memanfaatkan persamaan nama warga dalam melakukan penggandaan SIM.

45 Wawancara, 7 April 2000 dengan W

memiliki SIM saat itu…”46

Dalam dokumen HASIL SURVEY KORUPSI DI PELAYANAN PUBLIK (Halaman 69-72)