Kemerdekaan yang diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia tidak berarti segera merdekanya situasi umum perekonomian pasca-proklamasi. Kemerdekaan yang secara politik diperoleh dari kombinasi perang gerilya dan perang diplomasi tidak diikuti oleh peran politik kapitalis lokal. Kebanyakan perusahaan-perusahaan waktu itu masih dikuasai oleh perusahaan swasta Belanda. Sektor-sektor perekonomian perkebunan dan pertambangan masih merupakan sektor yang menguntungkan sementara modal investasi yang masuk ke sektor industri masih sangat kecil. Namun kecilnya modal investasi ini relatif melonjak dengan arus deras investasi tahun 1930-an yang ditandai dengan kemunculan pabrik perakitan General Motors, dua buah pabrik British American Tobacco, sebuah pabrik tekstil besar milik Belanda dan sebuah lagi milik Jerman, pabrik sabun dan margarin Unilever, pabrik ban Goodyear, dan perusahaan raksasa Belanda--Lindeteves, serta pabrik-pabrik lain seperti cat, tinta, sepeda, bola lampu listrik, radio, kosmetika, dan baterai. Menjelang akhir 1930-an pabrik-pabrik sudah mengalami mekanisasi dan menghasilkan separuh dari hasil industri serta hampir tiga juta tenaga kerja bekerja dalam industri sekunder dimana perusahaan Belanda dan Inggris mendominasi impor barang sekunder.1
Pengabaian atas peran manufaktur beserta modal asing membawa pengaruh pada cara pandang politisi nasionalis yang memang pada dekade 1940-an kebanyakan menganut doktrin anti-imperialis untuk mengembangkan kewenangan negara dalam mengembangkan keseimbangan sektoral yang lebih beragam. Kedua, pengalaman kolonial itu kemudian memunculkan semacam keinginan untuk menggunakan kewenangan kekuasaan negara untuk melakukan proteksi kelas bisnis pribumi. Di pulau-pulau luar Jawa, khususnya Sumatera, kaum pengusaha pribumi umumnya mampu bersaing dengan kelompok bisnis non-pribumi dan hanya di Jawa saja resistensi mengambil bentuk yang lebih politis. Untuk kasus Jawa, bentuk resistensi tersebut antara lain diwujudkan dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam.2
Pada tahun-tahun awal kemerdekaan telah tumbuh beberapa embrio kapitalis lokal yang relatif tangguh dalam industri manufaktur. Kapitalis-kapitalis lokal ini kebanyakan berasal dari luar Jawa, terutama Sumatera, yang kebanyakan bergerak diperdagangan lokal dengan usaha skala menengahnya seperti Agus Dasaad, Haji Abdul Ghani Azis, dan Rahman Tamin. Bidang usaha mereka adalah sektor pertanian seperti beras, karet, dan lada yang diperoleh dari Sumatera dan Sulawesi. Namun selepas deklarasi kemerdekaan para pemimpin politik terserap seluruh perhatiannya pada perlawanan politik terhadap Belanda sehingga sektor industri hanya ditengok sebelah mata. Perlahan-lahan kebutuhan akan rehabilitasi pasca perang memunculkan tekanan bagi strategi pembangunan menyeluruh dan nasionalisme ekonomi pun mulai diabadikan dalam kebijakan-kebijakan.
1 Ian Chalmers, 1996, op.cit., hal. 97
2 Keanggotaan organisasi ini terus membesar dalam upayanya membendung ekspansi pedagang Tionghoa yang berupaya memegang kendali atas bahan mentah lokal dalam industri batik. Gerakan ini akhirnya melemah dan hancur karena proses pembelahan didalam organisasi antara kelompok SI-Merah yang dipimpin oleh Semaun berkedudukan di Semarang dengan SI- Putih yang dipimpin oleh Tjokroaminoto berkedudukan di Solo. Secara keseluruhan gerakan akhirnya dihancurkan oleh pemerintah Belanda-Kolonial karena dianggap SI terlibat dalam pemberontakan 1926.
Salah satu program terkenal dari periode ini adalah program Benteng yang diperkenalkan tahun 1950 oleh Dr. Juanda sebagai Menteri Kemakmuran Rakyat. Kebijakan ini dimaksudkan untuk membangun basis modal bagi pengusaha-pengusaha pribumi yang dilindungi tembok proteksi dengan harapan bahwa pengusaha-pengusaha yang mendapatkan kredit lunak dari bank pemerintah dapat mengulangi kesuksesan para pedagang pribumi masa 1930-an agar berekspansi ke usaha manufaktur. Meski gagasan nasionalisme ekonomi sangat kental namun program tersebut dijiwai oleh cara pandang teknokratis yang dimunculkan oleh aparat-aparat negara pada paruh pertama dasawarsa 1950. Peran besar ini dimainkan oleh Dr. Soemitro Djojohadikusumo dari Partai Sosialis Indonesia dalam kabinet Natsir.
April 1951 diluncurkan Rencana Urgensi Perekonomian yang dikenal dengan 'Rencana Soemitro' dengan dukungan pembentukan Biro Perancang Negara tahun 1952 di bawah kordinasi pengawasan Soemitro dengan bantuan PBB. Rencana ini mengedepankan industri skala besar yang prinsipnya berasal dari kebijakan Industrie-Plan 1941 Belanda-Kolonial. Bank Industri Negara (BIN) pun didirikan untuk mengelola dan membiayai proyek-proyek tersebut. Gagasan Soemitro selama tahun-tahun itu membuatnya terkenal sebagai penganut kebijakan yang nasionalis dan etatis sehingga pada periode selanjutnya dijadikan pembenaran bagi intervensi negara dalam perekonomian walau motivasi sebenarnya adalah mencapai tujuan membantu pengusaha pribumi. Kecenderungan keberpihakan terus berlanjut ketika ia diangkat menjadi Menteri Keuangan dalam kabinet Wilopo dimana waktu itu posisi tersebut menerima banyak pengaruh dari lobi bisnis untuk bantuan keuangan. Dalam jabatannya Soemitro bertanggungjawab atas pembengkakan jumlah impor yang tercakup dalam program Benteng dari 10 persen menjadi 25 persen. 3
Labilnya situasi politik dengan jatuh bangunnya kabinet dan perubahan personil lembaga- lembaga yang bertugas mengakselerasi perekonomian menghambat kelancaran pelaksanaan program tersebut.4. Sebagian dari program Benteng gagal akibat pergeseran lokus kekuasaan politik selama era 1950-an dimana komunitas bisnis sealur dengan aliran-aliran partai politik dimana para importir beraliansi dengan partai-partai politik.5 Labilnya situasi politik juga dipengaruhi oleh faksionalisasi politik yang tinggi sehingga dapat dikatakan tidak ada kekuatan politik yang dominan dan cukup kuat mempengaruhi situasi kecuali PKI. Disamping itu banyaknya pemberontakan-pemberontakan di daerah, korupsi, dan ketidak-efektifan formula serta implementasi kebijakan membuat beberapa elit kunci militer mulai tidak puas. Peran serta mereka dalam menumpas berbagai pemberontakan menjadikan posisi tawar militer mulai menguat terutama seusai pemberontakan PRRI/Permesta 1957-1958. Hal itu disertai dengan konsolidasi internal pada struktur kewenangan yang sentralistik serta kohesif dibawah Jendral Abdul Haris Nasution.
Aktivitas jual beli lisensi impor oleh para importir yang dekat dengan sumbu kekuasan kepada pengusaha yang memiliki modal cukup kuat turut memberikan sumbangan kegagalan
3 Ian Chalmers, 1996, op.cit, hal. 105
4 Faktor penghambat lainnya adalah masalah keberadaan modal asing yang masih bercokol di Indonesia. Keputusan tersebut merupakan sebagian hasil Konferensi Meja Bundar dimana jaminan terhadap keberadaan modal asing akan dihormati.
5 Dalam konteks ini terdapat dua kelompok dimana yang satu mendukung subsidi dan proteksi oleh negara sebagai wujud visi nasionalisme ekonomi. Kelompok ini diwakili oleh sayap kiri PNI, PKI, dan Soekarno, sedangkan kelompok yang condong kepada ekonomi pasar adalah sayap moderat PNI, Masyumi, dan PSI. Kebanyakan anggota sayap moderat PNI mendominasi kabinet pada awal 50-an seperti pada kabinet Natsir, Wilopo, Ali Sastroamijoyo I. Pengelompokan ini turut mempengaruhi afiliasi politik kelompok pengusaha pada tahun-tahun itu. Lihat Richard Robison, The Rise Of Capital, Allen and Unwin Pty Ltd, Australia, 1986, hal. 46 dan Ian Chalmers, 1996, ibid., hal.107
program Benteng. Kedekatan tersebut adakalanya bersifat personal, misalnya kedekatan Agus Dasaad dengan Soekarno, maupun institusional, seperti posisi Dasaad sebagai anggota eksekutif PNI Jakarta. Hal tersebut membuat pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang tidak mempunyai kedekatan dengan birokrat, politisi atau partai terpaksa tersingkir terutama setelah pengetatan kredit tahun 1953-1954. Meski program ini telah menghasilkan beberapa kelas kapitalis pribumi namun pada tahun 1957 di bawah kabinet Djuanda program ini dihentikan.
Menurut Robison6, terdapat konsekuensi sosial politik yang penting dari keberadaan proteksi negara dan subsidi bagi para kapitalis pribumi. Pertama, modal yang dimiliki oleh pengusaha Tionghoa merupakan bagian integral dari struktur perekonomian Indonesia. Kedua, embrio kapitalis pribumi pada umumnya dianggap lemah dalam memperluas usahanya melampaui sektor perdagangan dan produksi komoditi kecil-kecilan. Ketiga, sumber-sumber modal swasta dalam negeri yang didominasi pengusaha Tionghoa masih tidak mampu menandingi modal asing yang ditanamkan pada perusahaan besar penambangan dan industri.
Konsekuensinya negara terpaksa memulai peranan sentralnya dalam mendanai, memiliki, dan mengalola investasi pada sektor tersebut. Pada titik ini negara beroperasi dalam dua tataran, yaitu level kebijakan publik seperti masalah fiskal, keuangan, dan hukum untuk terus menerus memapankan seluruh hubungan negara dan modal. Kedua, level dimana kebijakan publik diimplementasikan oleh para pejabat negara dan pengusaha atas dasar apropriasi pribadi terhadap sumber daya serta kekuasaan negara. Aspek patrimonial inilah yang sangat menandai siapa pengusaha yang berhasil dan yang jatuh dalam konteks seluruh kebijakan negara.
Kontrol atas alokasi kredit dari negara, lisensi, monopoli, kontrak-kontrak, dan konsesi- konsesi lainnya kemudian menjadi obyek pertarungan antara pengelola negara (state managers), yang berkeinginan mempergunakan kontrol sebagai sarana mengatur strategi ekonomi, dengan faksi-faksi dari para politiko-birokrat, yang mempergunakan statusnya untuk mengamankan sumber-sumber pemasukan bagi kebutuhan politik dan pribadinya serta memapankan basis akumulasi modal oleh klien politik maupun bisnisnya. Hal ini bisa dilihat pada periode 1950-an dimana partai-partai politik mampu memapankan hegemoninya atas kantor-kantor pemerintahan yang aksesnya kepada ekonomi cukup strategis. Fasilitas-fasilitas tersebut di atas kemudian disalurkan kepada perusahaan-perusahaan yang secara langsung dimiliki oleh partai atau orang- orang yang mempunyai kedekatan politik dimana hubungan ini dibentuk di sekitar lingkaran partai politik, individu-individu politiko-birokrat, dan kelompok-kelompok bisnis terutama dari kalangan Tionghoa.
Dengan demikian kekuasaan negara dioperasionalkan melalui cara yang lebih bersifat patrimonial dan merkantilis. Dikatakan patrimonial karena individu dan faksi-faksi politik secara pribadi menggunakan sarana-sarana aparat negara seperti departemen-departemen dan kewenangan jabatan negara sehingga mengaburkan perbedaan antara kekuasaan politik dan kewenangan birokratis. Kemudian dikatakan merkantilis karena upeti/pendapatan yang dikumpulkan oleh negara diperoleh melalui penciptaan dan penjualan monopoli dagang serta akses kontrol politik atas keuangan negara, kontrak, lisensi. Namun demikian mekanisme patronase tersebut akhirnya tidak menyediakan dasar bagi kemunculan dan konsolidasi kelompok kapitalis pribumi serta tidak mampu memapankan aliansi ekonomi politik yang mantap bagi munculnya kekuatan ekonomi nasional.
6 Richard Robison, 1986, Ibid., hal. 47