Bab III...................................................................................................................................... 44
III.1. Deskripsi Korupsi Dalam Proses Pengelolaan Pembuatan SIM
III.1.3. Korupsi dalam Pengelolaan Pembuatan SIM
III.1.3.1. Percaloan
Berdasarkan observasi yang dilakukan di Satpas Sim Daan Mogot27, saat para pemohon mendekati gedung Satpas biasanya langsung didekati oleh seseorang yang menawarkan jasa untuk mengurus SIM. Mereka yang menawarkan jasa tersebut berasal dari biro jasa28, calo perorangan, dan tukang-tukang ojek yang mangkal disekitar pintu masuk kantor tersebut. Sementara polisi dan PNS-Polri yang biasanya juga dapat diminta bantuan mengurus SIM hanya bersikap pasif dengan duduk bergerombol di bawah pohon yang terdapat di pelataran parkir muka gedung.
Banyaknya calo-calo disekitar kantor Satpas SIM, menurut W, disebabkan karena masih adanya anggota masyarakat yang mengurus SIM tidak mempunyai kemampuan baca-tulis. Selain itu, tambahnya, masyarakat sebenarnya belum paham peraturan lalu lintas dan, yang ketiga, SIM sangat dibutuhkan karena berkaitan dengan mata pencaharian.
“Yah, sebenarnya inilah kelemahannya. Jadi ada masalah di masyarakat yang membuat calo-calo ini tetap ada, dan nggak bisa diberantas. Pertama, rata-rata masyarakat nggak semuanya itu intelek. Artinya tidak semua pemohon SIM itu orang yang sekolah, bisa baca tulis. Misalnya kaya sopir-sopir itu. Kedua, masyarakat sebenarnya belum paham peraturan lalu lintas…Orang baru akan menghadapi hal-hal berkaitan dengan peraturan lalu lintas justru saat ujian teori pas mau bikin SIM. Itulah makanya karena tidak tahu apa-apa tentang peraturan lalu lintas, sebenarnya masyarakat jadi tidak percaya diri. Kemudian yang ketiga, SIM itu sangat
27 Observasi, 22 Mei 2000
28 Jumlah biro jasa yang terdapat dalam daftar Taud Subbag SIM hingga tahun 1999 sebanyak 39 biro jasa.
PEMOHON DAFTAR UJI TEORI
LULUS
TIDAK LULUS Uji ulang setelah 1
minggu
UJI PRAKTEK
LULUS FOTO PRODUKSI SIM
TIDAK LULUS Uji ulang setelah 1
minggu
dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat karena berkaitan dengan mata pencaharian.
Misalnya tukang ojek, mau jadi supir bis atau supir truk, mereka kan perlu SIM, entah itu SIM A atau SIM B1 atau B2. Makanya akhirnya karena ketidakpercayaan diri tadi, dan mereka butuhnya cepat, mereka minta bantuan calo-calo itu. Jadi celahnya sebenarnya adalah memanfaatkan ketidakpercayaan diri masyarakat akibat ketidaktahuannya terhadap peraturan lalu lintas…makanya calo-calo itu ‘gak akan bisa ‘ilang,.. “29
Para calo yang mendapat order dari pemohon biasanya hanya bertugas meletakkan berkas-berkas pemohon SIM ke dalam tiap loket. Ketidakpercayaan diri pemohon memang terjadi namun bila dibandingkan penyebabnya tampak ada perbedaan ketika salah seorang pemohon menyatakan bahwa saat dirinya tiba di kantor Satpas SIM, kondisinya sangat kacau balau karena para pemohon berkumpul hanya pada satu loket yang dibuka.
“Saya sendiri, karena melihat orang ramai begitu, dan kondisinya yang membingungkan karena ada banyak loket—padahal di depan itu ada, ya, saya udah liat ada papan yang menerangkan prosedur cara bikin SIM, gitu, tapi nggak jelas di mana dan bagaimana harus menjalani prosedur itu—mana tempatnya luaas lagi, akhirnya saya terima saja tawaran salah seorang dari mereka…”30
Selama 3 hari observasi, keberadaan mereka di kantor Satpas hampir selalu dapat kita temui dan kenali, kecuali apabila pada kesempatan tertentu pihak Polda mengadakan razia calo.
Apabila sedang dilakukan razia calo maka otomatis wilayah sekitar kantor Satpas menjadi sepi seperti yang terjadi pada saat observasi dilakukan. Namun razia terhadap calo tersebut tidak dapat menghilangkan praktek percaloan karena adanya jaringan yang telah mereka miliki di dalam lingkungan Polda. Kalaupun mereka dapat diusir sifatnya sangatlah sementara karena ketika dirasakan razia tersebut menunjukkan aktivitas yang rendah maka mereka akan kembali ke lokasi tersebut. Disamping itu keberadaan para calo juga dibutuhkan oleh lembaga penerbitan SIM di bawah Subbag SIM. Pernyataan tersebut ditegaskan oleh W.
“Nahh..itulah percaloan sebenarnya susah untuk diberantas… Gimana ya, soalnya kan mereka kan jual jasa, dan itu nggak dilarang sama undang-undang. Makanya kemudian oleh pimpinan saya itu (Kasubbag SIM.pen) para biro jasa/calo itu kemudian didata. Jadi mereka dikumpulkan lalu diberitahu, ‘Oke, kalian boleh nyari duit di sini tetapi harus tertib!’.
Dikumpulinnya juga nggak pake surat pemberitahuan atau pengumuman resmi, tapi yah didatengin itu satu-satu… Biasanya mereka tidak mau dibilang calo, mereka mengatakan bahwa mereka itu berada di bawah satu PT. Jadi biro-biro jasa itu memakai nama PT. Nah, kalo udah gitu kan nggak ada peraturan yang melarang mereka menjual jasa. Jadi calo-calo yang boleh beroperasi di sini adalah mereka yang udah punya surat ijin usaha. Sehingga begitu mereka kita datengin lagi dan mengatakan bahwa mereka adalah biro jasa, mereka harus memberikan buktinya, ya, surat ijin usaha itu."31
Para calo tersebut sulit dihilangkan karena sebagian dari mereka, terutama yang tinggal di lingkungan sekitar kantor Satpas, adalah preman yang bekerja sebagai tukang ojek sekaligus calo.
Keberadaan mereka selain menjadi calo juga membantu mengamankan lingkungan kantor Satpas,
29 Wawancara, 7 dan 11 April 2000 dengan W
30 Wawancara 26 Mei 2000 dengan J
31 Wawancara 7 April 2000 dengan W
misalnya dari kerusuhan 13-14 Mei tahun lalu. Pihak Satpas SIM tidak mampu mengusir mereka oleh karena itu pihak Polda-lah yang melakukan pengusiran dan penangkapan mereka. Kenyataan ini diakui oleh W bahwa apabila dilakukan pengusiran mereka khawatir akan terjadi demostrasi dan penyerangan ke kantor Satpas SIM.32
Para calo dibutuhkan sejauh mereka tetap memberikan uang upeti kepada atasan dan cara- cara mengakomodasi calo untuk tetap bekerja di lingkungan Satpas dilakukan secara berbeda- beda oleh tiap Kasubbag. Misalnya Kasubbag X memberikan rambu-rambu bahwa mereka boleh beroperasi di kantor Satpas asalkan para anak buahnya mendapat jatah dan upeti bagi pimpinannya lancar mengalir tanpa para calo tersebut harus melapor setiap hari. Sehingga apabila sewaktu-waktu pihaknya meminta sejumlah uang maka harus tersedia. Dengan adanya petunjuk demikian maka pegawai bawahannya dapat mengatur sendiri alokasi dananya dengan cara menghitung jumlah uang yang diperoleh hari itu kemudian dicatat dan disisihkan bagian yang harus disetorkan kepada pimpinan mereka. Selain itu cara mengakomodasi para calo adalah dengan meminta mereka melaporkan hasil yang diperoleh setiap hari. Cara lain yaitu mereka harus melapor tiap bulan kepada Kasubbag SIM tentang penghasilan yang diperolehnya.
Selain calo yang berasal dari biro jasa atau perorangan, calo lainnya adalah wartawan yang tiap hari berada di lingkungan Polda. Informan W menyatakan kekesalannya kepada para wartawan tersebut karena sejak adanya sistim sentralisasi alokasi keuntungan yang mana dana hasil kutipan pemohon harus langsung disetorkan kepada Kaditlantas, mereka tidak lagi mendapat prioritas sehingga para wartawan yang ingin memperoleh SIM harus tetap membayar sesuai harga jasa yang dipaketkan.
“Wartawan itu…saya liat sebenarnya, dia nulis itu nggak bener-bener untuk menjadi suara rakyat. Asal tau aja, wartawan itu juga nyalo di sini. Jadi mereka manfaatin itu. Mereka kan di sini dapet prioritas. Artinya mereka itu nggak bayar kalo bikin SIM. Dengan keistimewaan itu, mereka lalu nyalo. Jadi uang yang dibayarkan sama orang yang bikin SIM itu masuk ke kantong mereka sendiri. Herannya itu kalo mereka nggak dituruti kemauannya, mereka langsung nulis di koran. Yah, kita juga jadi gimanaa…”33
Bila dibandingkan dengan para calo dari biro jasa dan perorangan, profesi mereka sebagai wartawan dengan mudah bisa mendapatkan prioritas pembuatan SIM secara gratis dan juga mampu melindungi mereka dari operasi razia calo yang terkadang dilakukan Polda. Demikian pula dengan jenis calo lainnya yang terdiri dari petugas Polri dan PNS-Polri. Cara masing-masing petugas, baik Polri atau PNS-Polri, mencari uang tambahan diluar gaji tiap bulan beraneka ragam.
Misalnya, sebelum dilakukan komputerisasi yang berfungsi menjadi calo hanyalah dari kalangan petugas polisi dan PNS-Polri. Mereka membagi pekerjaannya kepada petugas di tiap loket sesuai dengan tugas sehari-harinya dan mendapatkan imbalan dari tiap berkas SIM yang dikerjakan sebesar sepuluh ribu hingga duapuluh ribu rupiah. Cara petugas loket menghitung jumlah imbalannya yaitu dengan memberikan tanda tertentu pada setiap berkas SIM yang dikerjakannya.
Keterlibatan petugas dalam praktek percaloan juga ditegaskan oleh seorang perwira menengah.
“Calo ini bisa dari petugas sendiri, bisa dari orang lain. Petugas, ya, jelas dong. Petugas itu kan nggak semuanya yang kerja. Nggak semuanya di loket, ada yang bagian Taud, dan ada yang dari
32 Wawancara 19 April 2000 dengan W
33 Wawancara, 7 April 2000 dengan W
bagian lain…’Banyak calo, gue nyalo juga, ah!’ Temen-temennya juga banyak di situ. Misalnya gue di situ.. ‘Bang, tolongin, dong, Bang’—‘Oh,. boleh. lewat gue aja..cepek deh,’ ‘Oya, nggak pa- pa.. ‘ gitu, kan, nyalo dia..”34
Bagi calo yang status kepegawaiannya adalah sebagai karyawan bantuan, diterapkan sistim magang sebelum ia memperoleh kesempatan menjadi calo. Status kepegawaian ini diisi oleh mereka yang sebelumnya menjadi pesuruh, tukang koran, petugas foto copy, atau tukang cuci mobil di lingkungan Polda terlepas apakah mereka mempunyai keahlian baca-tulis atau tidak.
Kesempatan magang dan kenaikan status didukung oleh kedekatan mereka dengan para petugas dijajaran Polda. Artinya kedekatan hubungan yang dijalin oleh calon karyawan bantuan dengan petugas tidak selalu berasal dari Subbag SIM, banyak dari bagian lain yang juga “menitipkan”
kliennya pada bagian Satpas SIM untuk memperoleh kesempatan menjadi calo. Lamanya proses magang pun relatif sangat panjang yaitu sekitar 5-6 tahun. Ada yang menganggap bahwa jabatan karyawan bantuan ini merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian mereka, namun ada yang menggunakannya hanya sebagai batu loncatan untuk melakukan mobilitas sosial vertikal di luar lembaga penerbitan SIM misalnya seorang tukang cuci mobil yang menjadi karyawan bantuan akhirnya memperoleh gelar sarjana dari uang hasil nyalo.
Meskipun posisi PNS-Polri yang terdiri dari PNS, Pegawai Harian Lepas (PHL), dan karyawan bantuan (Karban) tidak rentan terhadap razia calo yang sewaktu-waktu dapat terjadi, namun posisi mereka sangat lemah dalam kerangka hubungan industrial. Disamping sebagai kelompok yang paling dieksploitasi dan disubordinasi sebagai mesin pengumpul uang tanpa kepastian jenjang karir35, kelompok ini juga sangat rentan terhadap pemecatan secara tiba-tiba.36
Walaupun pengunaan jasa calo diharapkan dapat membantu kelancaran proses pengurusan SIM namun pada kenyataannya harapan tersebut belum tentu terwujud. Misalnya informan J mengemukakan bahwa dia pernah menemukan pemohon yang menolak jasa calo karena tidak mempunyai biaya yang cukup untuk jasa calo, sementara ia sendiri menggunakan jasa calo. Yang terjadi justru pemohon yang mengurus sendiri lebih cepat selesai dibanding dengan SIM miliknya.
“Saya liat malah justru duluan dia selesainya daripada saya. padahal dia ngurus sendiri, lho. Itu, saya ikuti apa saja yang orang itu lakukan, prosesnya sama aja kok, kalo kita ngurus sendiri..
Yang saya nggak ngerti, yah, kalo emang ada bayaran ke petugas di dalem—kenapa prosesnya sama dengan yang ngurus sendiri gitu loh..berarti kan uangnya bisa buat dirinya sendiri semuanya.”37