Bab III...................................................................................................................................... 44
III.3 Deskripsi Korupsi Pada Sektor Penyediaan Sumber Daya Strategis : Kasus PLN dan
III.3.2. Perusahaan Listrik Negara Sebagai Sapi Perah
III.3.2.3. Pencurian Listrik
Secara teknis tegangan PLN dapat mengalami losses atau hilangnya sejumlah tegangan akibat beberapa persoalan teknis yang tidak dapat dihindari, seperti karena panjangnya transmisi, usia atau kondisi gardu dan lain-lain. Menurut informasi yang didapat baik dari informan U, K dan M tingkat losses yang dapat diterima menurut standar internasional adalah maksimal 6%
sampai 7%. Sementara itu tingkat losses di Jakarta saja sekitar 10,94% yang menurut informasi dari ketiga informan tersebut kemungkinan besar selisih dari angka 7% sampai 10,94% (3,94%) adalah kerugian PLN akibat praktek-praktek pencurian listrik.131
130 Informasi didapat dari wawancara.
131 Informasi berdasarkan wawancara dengan informan U, K dan M.
Tekanan dari birokrasi : Bappenas Deptamben Deperindag Depkeu Pemda, dll
Rencana Kelistrikan 5 tahun (PLN Pusat)
Rencana kelistrikan tahunan (Rapat koordinasi PLN dengan instansi-
instansi lain & Pemda)
Kerugian PLN akibat kesalahan investasi pada
proyek operasional
Menurut Informan B, jika kita menghitung secara kasar persentase tersebut dengan potensi pendapatan PLN, yaitu 4% dari 19 triliun, maka akan ketemu angka 760 miliar. Menurut Informan B itulah potensi kehilangan pendapatan PLN dari pencurian listrik. Lebih lanjut Informan B menyatakan bahwa angka losses sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Jika dihitung dari pendapatan 4,3 triliun, maka setiap turun 1%, PLN DKI kehilangan sekitar 43 miliar. Tetapi lanjutnya, untuk menangkap pencuri listrik ini sulit. Diantaranya karena ada orang dalam yang bermain, dari berbagai macam divisi.
PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang sendiri menurunkan OPAL (Operasi Penertiban Aliran Listrik). Tim operasi ini paling tidak sudah mengungkap bahwa ada 14 konsumen listrik besar yang mencuri listrik. Akibat berbagai pencurian ini, PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang kehilangan daya sebesar 8,4 juta kWh dengan kerugian sekitar Rp 10 miliar.132 Pencurian ini sulit untuk ditanggulangi, sebab telah berupa jaringan sindikat yang profesional dan melibatkan orang dalam.
Pada intinya korupsi eksternal ini dilakukan oleh konsumen listrik yang bekerja sama dengan oknum PLN dalam melakukan pencurian listrik atau manipulasi terhadap kewajiban pembayaran listrik. Pola korupsi ini melibatkan pihak petugas PLN & konsumen yang menikmati pelayanan penyediaan listrik. Level korupsi dalam hal ini yang melibatkan oknum PLN terutama pada tingkatan middle & lower management, terutama pada bagian distribusi yang berinteraksi langsung dengan konsumen baik rumah tangga maupun bisnis/perusahaan. Modus operandi yang digunakan adalah pembagian keuntungan antara konsumen oknum PLN dalam selisih kewajiban pembayaran yang harus dipenuhi oleh konsumen. Teknik korupsi yang dilakukan antara lain adalah manipulasi terhadap alat pencatat (meteran) listrik yang dilakukan oleh petugas distribusi atau penggunaan alat untuk memanipulasi kemampuan pencatatan listrik oleh PLN (berdasarkan informasi yang didapat hal tsb terutama dilakukan oleh kalangan bisnis apartemen atau perhotelan sejak proses pembangunan gedung).
Korupsi eksternal yang dilakukan oleh konsumen listrik yang bekerja sama dengan oknum PLN dalam melakukan pencurian listrik atau manipulasi terhadap kewajiban pembayaran listrik.
Pola korupsi ini melibatkan pihak petugas PLN & konsumen yg menikmati pelayanan penyediaan listrik. Level korupsi dalam hal ini yg melibatkan oknum PLN terutama pada tingkatan middle &
lower management, terutama pada bagian distribusi yg berinteraksi langsung dengan konsumen baik rumah tangga maupun bisnis/perusahaan133. Modus operandi yg digunakan adalah pembagian keuntungan antara konsumen oknum PLN dalam selisih kewajiban pembayaran yg harus dipenuhi oleh konsumen. Teknik korupsi yg dilakukan antara lain adalah manipulasi terhadap alat pencatat (meteran) listrik yg dilakukan oleh petugas distribusi atau penggunaan alat untuk memanipulasi kemampuan pencatatan listrik oleh PLN (berdasarkan informasi yg didapat hal tsb terutama dilakukan oleh kalangan bisnis apartemen atau perhotelan sejak proses pembangunan gedung).
Menurut informasi dari informan T, PLN dapat mendeteksi kemungkinan pencurian listrik berdasarkan perhitungan batas minimal atau batas maksimal pemakaian listrik berdasarkan
132 Lihat majalah Listrik Indonesia, Edisi April, Tahun II, 2000, hal 23.
133 Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa pembatasan tugas PLN adalah sampai pada tingkatan penyediaan energi seperti yang diutarakan oleh informan M (lihat diagram 3), sehingga terdapat kemungkinan manipulasi dalam bidang penyambungan instalasi listrik ke rumah berhubungan dengan petugas instalatir (swasta).
tegangan yang terpasang. Dari penjelasan informan T tersebut modus operandi pencurian listrik yang dilakukan oleh konsumen terbagi pada 2 pola, yaitu manipulasi terhadap meteran yang mengukur pencatatan pemakaian listrik (pemakaian listrik yang tercatat di meter kwh lebih rendah daripada pemakaian sebenarnya), sedangkan pola yang kedua adalah pencurian energi listrik secara langsung sehingga pemakaian listrik melebihi kapasitas tegangan yang terpasang134.
Berdasarkan perhitungan dari pemakaian listrik yang tidak sesuai dengan batas bawah atau batas atas tersebut bagian distribusi & cabang PLN akan mengirimkan tim Pengendalian &
Penertiban Anggaran Listrik (PPAL). Kemungkinan kolusi selanjutnya terbuka antara konsumen yang melakukan pencurian listrik dengan tim PPAL.
Gambar 9
Pola-Pola Pencurian/Manipulasi Pemakaian Listrik
Berdasarkan paparan di atas dengan melihat kerangka teoritik yang dibangun oleh Syed Hussein Alatas, dapat disusun sebuah bagan yang menunjukkan tipe pola korupsi pada penyediaan listrik sebagai berikut di bawah ini:
Tabel 16
Tipe Pola Korupsi Pada Penyediaan Kelistrikan
No Cakupan Bentuk Kegiatan Tingkatan Manajemen Tipe Korupsi Pengadaan sumber daya
strategis Tinggi a.Patronase Institusi
secara transaktif lewat pencurian aset.
b.Suportif 1. Internal
Pengadaan operasional a.Tinggi
b.Menengah Autogenik-Transaktif lewat komisi atau suap 2. Eksternal Instalasi Bawah/operasional Ekstortif-Autogenik
lewat pungutan liar
134 Informasi berdasarkan wawancarawawancara dengan informan T.
Meter Kwh, manipulasi terhadap pencatatan pemakaian listrik dilakukan dengan cara pemasangan plat untuk memperlambat putaran pencatat pemakaian listrik.
Sambungan rumah (SR)
Conector, pencurian terhadap energi listrik dilakukan dengan alat ini yang dipasang pada SR untuk mendapatkan surplus energi listrik melebihi kapasitas tegangan terpasang.
Tiang listrik
Pencurian sumber daya strategis a.Menengah
b.Bawah Transaktif lewat pungutan liar atau suap
Di dalam manajemen tingkat bawah dalam relasi antara PLN dengan masyarakat, terdapat dua tipe korupsi, yaitu korupsi yang bersifat transaktif berupa pungutan liar atau suap dalam bentuk pencurian listrik, serta korupsi yang bersifat ekstortif-autogenik berupa pungutan liar yang biasa terjadi dalam proses instalasi listrik. Korupsi transaktif adalah korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal balik antara pihak yang memberi dan menerima demi keuntungan bersama dimana kedua belah pihak sama-sama aktif menjalankan perbuatan tersebut. Sedangkan korupsi ekstortif-autogenik adalah korupsi yang menunjukkan adanya korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk koersi tertentu dimana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap untuk mencegah kerugian yang mengancam diri, kepentingan, orang-orangnya, atau hal-hal yang dihargainya dan korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahuinya seorang diri. Korupsi yang bersifat transaktif lewat pungutan liar ataupun suap juga terjadi dalam manajemen tingkat bawah, yang biasany terjadi dalam kasus pencurian listrik berskala besar (di tingkat perusahaan, misalnya).
Sedangkan dalam relasi internal di dalam tubuh PLN sendiri terdapat tiga tipe korupsi yaitu korupsi yang bersifat patronase institusi secara transaktif lewat pencurtian aset dan tipe suportif, di mana keduanya terjadi dalam manajemen tingkat tinggi dan terjadi dalam proses pengadaan sumber daya strategis, serta tipe autogenik-transaktif, yaitu korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahuinya seorang diri dan korupsi yang menunjukkan adanya kesepakatan timbal balik antara pihak yang memberi dan menerima demi keuntungan bersama dimana kedua belah pihak sama-sama aktif menjalankan perbuatan tersebut, yang terjadi pada level manajemen menengah dan tinggi yang biasanya terjadi dalam pengadaan operasional.