• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cuaca Ekstrim (Angin Puting Beliung)

Dalam dokumen BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023 (Halaman 98-106)

HASIL

8. Cuaca Ekstrim (Angin Puting Beliung)

dan tidak lazim yang dapat mengakibatkan kerugian terutama keselamatan jiwa dan harta, antara lain:

1. Angin Kencang adalah angin dengan kecepatan di atas 25 (dua puluh lima) knots atau 45 (empat puluh lima) km/jam;

2. Angin Puting Beliung adalah angin kencang yang berputar yang keluar dari awan Cummulonimbus dengan kecepatan lebih dari 34,8 (tiga puluh empat koma delapan) knots atau 64,4 (enam puluh empat koma empat) kilometer (km)/jam dan terjadi dalam waktu singkat;

3. Hujan Lebat adalah hujan dengan intensitas paling rendah 50 (lima puluh) milimeter (mm)/24 (dua puluh empat) jam dan/

atau 20 (dua puluh) milimeter (mm)/jam;

4. Hujan es adalah hujan yang berbentuk butiran es yang mempunyai garis tengah paling rendah 5 (lima) milimeter (mm) dan berasal dari awan Cummulonimbus;

5. Jarak Pandang Mendatar Ekstrim adalah jarak pandang mendatar kurang dari 1000 (seribu) meter.

6. Suhu Udara Ekstrim adalah kondisi suhu udara yang mencapai 3° C (tiga derajat Celcius) atau lebih di atas nilai normal setempat;

7. Siklon tropis adalah sistem tekanan rendah dengan angin berputar siklonik yang terbentuk di lautan wilayah tropis dengan kecepatan angin minimal 34,8 (tiga puluh empat koma delapan) knots atau 64,4 (enam puluh empat koma empat) kilometer (km)/jam disekitar pusat pusaran;

8. Angin Puting Beliung di Lautan yang selanjutnya disebut Waterspout adalah angin kencang yang berputar yang keluar dari awan Cummulonimbus dengan kecepatan lebih dari 34,8 (tiga puluh empat koma delapan) knots atau 64,4 (enam puluh empat koma empat) kilometer (km)/jam dan terjadi di laut dalam waktu singkat;

9. Gelombang Laut Ekstrim adalah gelombang laut signifikan dengan ketinggian lebih besar dari atau sama dengan 2 (dua) meter;

10. Gelombang Pasang (storm surge) adalah

akibat pengaruh angin kencang dan/atau penurunan tekanan atmosfer.

Angin puting beliung disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca. Angin ini berasal dari awan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan yang bergumpal berwarna abu-abu gelap dan menjulang tinggi. Namun, tidak semua awan Cumulonimbus menimbulkan puting beliung. Angin Putting beliung bisa terjadi kapan dan dimana saja, baik didarat maupun di laut dan jika terjadi di laut durasinya lebih lama dibandingkan dengan darat. Angin puting beliung umumnya terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang pada malam hari dan lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba).

Angin puting beliung dianggap sebagai salah satu jenis angin yang berbahaya karena dapat menghancurkan apa saja yang dilewatinya.

Hal ini dikarenakan benda-benda yang terbawa oleh angin puting beliung dapat terangkat dan terlempar begitu saja.Hingga saat ini telah banyak diberitakan bencana angin puting beliung di banyak tempat. Angin puting beliung yang cukup besar bahkan sampai merusak rumah-rumah warga, pohon, alat transportasi sehingga tidak heran jika berlalunya angin ini dapat membuat banyak kerusakan sekaligus menimbulkan kerugian yang tidaklah sedikit.

Hampir semua tempat yang ada di Indonesia, rawan dengan terhadap bencana angin yang satu ini. Namun meski begitu ada beberapa tempat yang nyatanya lebih sering diserang oleh angin puting beliung Table 22. Perbedaan Badai Tropis/siklon/typhoon/huricane dan Puting Beliung

semakin cepat, mirip sebuah siklon yang “menjilat” bumi sebagai angin puting beliung. Terkadang disertai hujan deras yang membentuk pancaran air (water spout).

• Fase Punah. Tidak ada massa udara naik. Massa udara yang turun meluas di seluruh awan. Kondensasi berhenti. Udara yang turun melemah hingga berakhirlah pertumbuhan awan Cb.

Karakteristik Angin Puting Beliung

Angin putting beliung senidiri memiliki karakteristik, yaitu;

• Puting beliung merupakan dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa tumbuh selama periode musim hujan, tetapi tidak semua pertumbuhan awan Cb akan menimbulkan angin puting beliung.

• Kehadirannya belum dapat diprediksi. Terjadi secara tiba-tiba (5 - 10 menit) pada area skala sangat lokal.

• Pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner.

• Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan.

• Lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah dataran rendah.

Dampak Angin Puting Beliung

Ada beberapa dampak angin puting beliung yang dapat menimbulkan banyak sekali kerusakan yang tidak ringan bahkan ada yang menimbulkan kerugian yang tidak sedikit yang akan mengganggu ruang publik untuk kehidupan. Berikut dampak-dampak yang bisa ditimbulkan oleh angin puting beliung yang bersifat merusak seperti:

• Kerusakan pada rumah serta infrastruktur pada suatu daeah

• Dalam kasus puting beliung ada beberapa yang kasus yang menimbulkan korban jiwa

• Menimbulkan kerugian material

• Merusak kebun-kebun warga

• Menciptakan banyak puing-puing dari kerusakan materi jika dibandingkan dengan tempat yang lain. Hal ini sering terjadi

pada Nusa Tenggara, Sumatera serta Sulawesi. Bahkan pulau Jawa juga termasuk pada tempat yang sering diserang oleh jenis angin ini. Terutama di wilayah Jawa Barat maka angin puting beliung biasa terjadi di Banjar, Ciamis, Garut dan Tasik. Selain itu angin ini juga sering terjadi di Sukabumi serta pada daerah Sumedang. Angin puting beliung memiliki Gejala awal yaitu sebagai berikut :

• Udara terasa panas dan gerah (sumuk).

• Di langit tampak ada pertumbuhan awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis).

• Diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol.

• Awan tiba-tiba berubah warna dari berwarna putih menjadi berwarna hitam pekat (awan Cumulonimbus).

• Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin yang terasa sangat dingin.

• Jika fenomena ini terjadi, kemungkinan besar kehadiran hujan disertai angin kencang sudah menjelang.

• Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode ini.

Proses Terjadinya Puting Beliung

Proses terjadinya puting beliung sangat terkait erat dengan fase tumbuh awan Cumulonimbus (Cb). Terjadinya angin puting beliung melalui tiga fase, yaitu;

• Fase Tumbuh. Dalam awan terjadi arus udara naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun kristal es masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan.

• Fase Dewasa/Masak. Titik-titik air tidak tertahan lagi oleh udara naik ke puncak awan. Hujan turun menimbulkan gaya gesek antara arus udara naik dan turun. Temperatur massa udara yang turun ini lebih dingin dari udara sekelilingnya.

Antara arus udara yang naik dan turun dapat timbul arus geser yang memuntir, membentuk pusaran. Arus udara ini berputar

serta sampah yang berserakan

• Dapat menganggu jalannya ekonomi.

Dampak buruk dari angin puting beliung, dapat meluluhlantahkan tempat dengan area seluas 5 kilometer. Dalam hal ini rumah serta banyak tanaman akan hancur serta tumbang akibat diterjang oleh angin puting beliung. Bukan hanya itu namun makhluk hidup juga bisa mati akibat terlempar atau terbentur oleh benda-benda keras yang ikut masuk dalam pusaran angin.

Upaya Mitigasi Angin Puting Beliung

Angin puting beliung merupakan bencana yang bisa muncul kapan saja, dan susah untuk diprediksi. Untuk itu bagi masyarakat pada umumnya terutama yang tinggal pada risiko bencana angin putting beliung yang tinggi sangat di harapkan dapat mampu mengenali dan menghadapi angin putting beliung. Ada beberapa saran yang diberikan agar dapat menghadapi bencana angin putting beliung, dalam saran ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Sebelum Bencana, saat bencana dan setelah bencana:

Sebelum bencana

• Perlu dilakukan sosialisasi mengenai puting beliung agar masyarakat memahami dan mengenal puting beliung, baik difinisi, gejala awal, karakteristik, bahaya dan mitigasinya.

• Menyusun peta rawan bencana puting beliung berdasarkan data historis.

• Memangkas ranting pohon besar dan menebang pohon yang sudah rapuh serta tidak membiasakan memarkir kendaraan di bawah pohon besar.

• Jika tidak penting sekali, hindari bepergian apabila langit tampak awan gelap dan menggantung.

• Mengembangkan sikap sadar informasi cuaca dengan selalu mengikuti informasi prakiraan cuaca atau proaktif menanyakan kondisi cuaca kepada instansi yang berwenang.

• Penyiapan lokasi yang aman untuk tempat pengungsian sementara.

Saat Bencana

• Segera berlindung pada bangunan yang kokoh dan aman begitu angin kencang menerjang.

• Jika memungkinkan segeralah menjauh dari lokasi kejadian karena proses terjadinya

• puting beliung berlangsung sangat cepat.

• Jika saat terjadi puting beliung kita berada di dalam rumah semi permanen/rumah kayu, hingga bangunan bergoyang, segeralah keluar rumah untuk mencari perlindungan di tempat lain karena bisa jadi rumah tersebut akan roboh.

• Hindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, papan reklame dan jalur kabel listrik.

• Ancaman puting beliung biasanya berlangsung 5 hingga 10 menit, sehingga jangan terburu-buru keluar dari tempat perlindungan yang aman jika angin kencang belum benar- benar reda.

Setelah bencana

• Melakukan koordinasi dengan berbagai pelaksana lapangan dalam pencarian dan pertolongan para korban.

• Mendirikan posko dan evakuasi korban yang selamat.

• Mendirikan tempat penampungan korban bencana secara darurat di dekat lokasi bencana atau menggunakan rumah penduduk untuk pengobatan dan dapur umum.

• Melakukan koordinasi bahan bantuan agar terdistribusi tepat sasaran dan sampai kepada mereka yang benar- benar membutuhkan dan menghindari para oknum yang memanfaatkan situasi.

• Melakukan evaluasi pelaksanaan pertolongan dan estimasi kerugian material.

PROVINSI SOSIAL (Jiwa) FISIK (Rp Juta) EKONOMI (Rp Juta)

ACEH 4.839.117 40.009.039 13.673.462

BALI 4.072.073 24.960.574 10.177.752

BANTEN 11.600.830 95.169.615 23.502.941

BENGKULU 1.945.739 13.098.725 5.064.456

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 3.575.748 26.993.157 4.806.083

DKI JAKARTA 11.246.068 98.417.763 2.168.087

GORONTALO 1.011.392 5.840.866 1.826.758

JAMBI 3.476.770 26.285.117 16.461.628

JAWA BARAT 45.729.148 340.224.452 69.329.789

JAWA TENGAH 35.672.080 282.488.574 81.067.724

JAWA TIMUR 40.101.528 315.478.772 116.395.576

KALIMANTAN BARAT 5.377.756 41.877.531 21.124.453

KALIMANTAN SELATAN 4.046.023 37.681.677 14.094.146

KALIMANTAN TENGAH 2.624.535 25.918.128 17.107.376

KALIMANTAN TIMUR 3.747.116 27.232.166 11.539.462

KALIMANTAN UTARA 663.113 5.407.638 6.927.214

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 1.411.737 13.768.772 9.714.370

KEPULAUAN RIAU 1.982.520 15.508.507 3.251.356

LAMPUNG 8.380.680 69.487.727 63.419.894

MALUKU 1.580.323 10.060.288 2.746.738

MALUKU UTARA 1.113.111 6.663.198 1.346.536

NUSA TENGGARA BARAT 5.123.099 35.904.169 9.555.367

NUSA TENGGARA TIMUR 4.060.220 18.968.688 4.594.375

PAPUA 1.980.097 13.740.196 8.728.663

PAPUA BARAT 971.225 7.019.268 3.137.461

RIAU 6.111.158 45.902.079 74.759.232

SULAWESI BARAT 1.680.205 6.600.488 3.074.039

SULAWESI SELATAN 8.148.962 67.668.388 49.709.023

SULAWESI TENGAH 2.642.416 17.506.637 8.357.189

SULAWESI TENGGARA 2.421.645 15.193.502 8.058.577

SULAWESI UTARA 2.379.742 16.262.401 3.325.500

SUMATERA BARAT 4.458.396 33.680.228 16.391.590

SUMATERA SELATAN 8.278.585 67.849.414 37.297.701

SUMATERA UTARA 12.984.642 94.129.638 58.600.944

TOTAL 255.437.799 1.962.997.383 781.335.463

b. Matriks Kajian Risiko

Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang disusun oleh BNPB pada tahun 2021, terlihat bahwa jumlah jiwa terpapar risiko bencana cuaca ekstrim tersebar diseluruh Provinsi dengan jumlah seluruh Indonesia melebihi 253 juta jiwa. Secara rinci, hasil kajian risiko bencana cuaca ekstrim dapat terlihat dalam tabel berikut.

Tabel 23. Matriks jumlah paparan risiko bencana cuaca ekstrim di wilayah Provinsi

Dalam dokumen BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023 (Halaman 98-106)

Dokumen terkait