HASIL
3. Letusan Gunungapi
Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung. Gunungapi diklasifikasi- kan ke dalam empat sumber erupsi, yaitu erupsi pusat, erupsi samp- ing, erupsi celah dan erupsi eksentrik. (1) Erupsi pusat merupakan erupsi keluar melalui kawah utama. (2) Erupsi samping merupakan erupsi keluar dari lereng tubuhnya. (3) Erupsi celah merupakan erupsi yang muncul pada retakan / sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer. (4) Erupsi eksentrik merupakan erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang meny- impang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
Indonesia juga memiliki beberapa tipe erupsi gunungapi yang di- dasarkan pada tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, juga kuat lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, maka erupsi gu- nungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi. Aktivitas gunungapi yang ada di Indonesia adalah tipe erupsi Hawai, Stromboli, Vulkano, Plini dan Ultra Plini. (1) Erupsi Tipe Hawai bersifat effusif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pi- jar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana. Erupsi dalam bentuk aliran lava yang ter- jadi di G. Batur tahun 1962 merupakan contoh erupsi tipe ini. (2) Erupsi Tipe Stromboli hampir sama dengan tipe Hawai berupa sem- buran lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua. Erupsi yang selama ini terjadi di G. Anak Krakatau merupakan tipe ini. (3) Erupsi Tipe Vulkano merupakan erupsi magmatis berkomposisi an- desit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vul- kanik di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti. Material yang dierupsikan tidak hanya berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik. Sebagian besar gunungapi di Indonesia mempunyai tipe erusi Vulkano dengan berbagai variannya.
Erupsi G. Merapi merupakan salah satu varians tipe erupsi Vulka- no yang terjadi karena adanya guguran kubah lava. (4) Erupsi tipe Plini merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma bervisko- sitas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar. (5) Erupsi Tipe Ultra Plini merupakan erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas
dari Plinian biasa. Salah satu contoh dikenal terbaik adalah letusan Krakatau pada tahun 1883 yang memberikan efek pada iklim dunia.
Salah satu dari bencana gunungapi yang terbesar di zaman sejarah menjadi letusan dari Tambora pada 1815. Selama letusan ini ten- tang 150 juta m3 produk gunungapi dikeluarkan dan menyebabkan 92.000 korban yang merupakan seperempat total korban dari letu- san gunungapi di dunia. (6) Erupsi Tipe Sub Plini merupakan erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit. (7) Erupsi Tipe Surtsey- an dan Tipe Freatoplini, merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basal- tic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya dis- ebut freatomagmatik.
Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas bentuk kerucut, kubah, kerucut sinder, maar, plateau. Kerucut dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya. Kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah sehingga membentuk seperti kubah. Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria. Maar biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik. Plateau merupakan dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava. Struktur gunungapi, terdiri atas struktur kawah, kaldera, graben dan depresi vulkano-tektonik.
(1) Kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegia- tan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar. (2) Kaldera mempu- nyai bentuk morfologi seperti kawah dengan garis tengah lebih dari 2 km. Kaldera terdiri atas kaldera letusan, kaldera runtuhan, kaldera resurgent dan kaldera erosi. Kaldera letusan terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya. Kaldera runtuhan terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengelu- aran material yang sangat banyak dari dapur magma. Kaldera resur- gent terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti den- gan runtuhnya blok bagian tengah. Kaldera erosi terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kalde- ra. (3) Rekahan dan graben, retakan-retakan atau patahan pada tu- buh gunungapi yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan paralel yang mengakibatkan am- blasnya blok di antara rekahan disebut graben. (4) Depresi volkano- tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungapian
yang berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.
Gunungapi-gunungapi di Kepulauan Indonesia menunjukkan tingkat letusan yang tinggi, dicirikan dengan material lepas yang dominan dibandingkan dengan seluruh material vulkanik yang keluar. Rit- mann menghitung angka indeks erupsi gunungapi (IEG) dari Asia sekitar 95%, Filipina-Minahasa lebih dari 80%, Halmahera lebih dari 90%, Papua New Guinea lebih dari 90%, Busur Sunda sekitar 99%.
Harga tertinggi IEG dalam sejarah tercatat pada letusan Tambora ta- hun 1815. Ragam bahaya yang ada adalah:
• Awan panas dan guguran abu. Guguran abu di lereng gunungapi disebut ladu. Ladu merupakan campuran fragmen lava, dengan pasir dan abu yang dibentuk dari kubah aktif. Ladu akan disebut sebagai awan-panas guguran ketika volume yang digugurkan menjadi besar dan terdiri dari bongkah lava membara merah pijar dan bergerak cepat. Apabila jumlah material yang gugur sangat besar, maka diasumsikan awan-panas guguran ini sudah merupakan karakter dari awan-panas letusan. Distribusi guguran gunungapi sangat dipengaruhi oleh topografi lokal. Guguran ladu cenderung mengikuti lembah; sementara guguran awan-panas akan menerjang melintasi lembah dan punggungan. Suhu awan- panas di bagian dalam sangat tinggi, sementara di bagian tepi lebih cepat mendingin, sampai di bawah 450°C. Aliran awan-pa- nas mampu menghanguskan tumbuh-tumbuhan, berbahaya bagi manusia dan hewan, serta merusak paru-paru. Suhu ladu relatif tinggi, diasumsikan suhu awal setingkat aliran lava antara 800- 1000°C. Setelah di kaki kerucut gunungapi suhu menurun men- jadi 400-450oC. Kecepatan jatuhan batu sekitar 30-35 m/detik pada kemiringan 35°, sedang kecepatan awan-panas guguran berawal dari 15-20 m/detik. Apabila terjadi peningkatan suhu lava dari 850°C menjadi 950°C, serta peningkatan kandungan gas, maka lava didorong ke luar oleh letusan kecil, sehingga masuk dalam kategori awan-panas letusan. Kecepatan awan-panas jenis ini sekitar 30-40 meter/detik, melebihi kecepatan guguran kubah lava. Penghancuran bongkah lava panas sepanjang peluncuran mendorong keluarnya gas yang tertekan. Efek dari pelepasan gas dan udara panas ini menjadikan tidak terjadi gesekan antar frag- men padat batuan. Ini menyebabkan selama terjadi awan-panas tidak terjadi bunyi bergemuruh.
• Longsoran gunungapi. Kerucut gunungapi muda mempunyai struktur labil sehingga mudah longsor dan membentuk rombakan di kaki lereng. Contoh kasus longsoran gunugapi ini terdapat di G. Raung dan G. Galunggung. Di G. Raung, longsoran gunungapi membentuk bukit-bukit kecil di kaki gunungapi. Bukit-bukit terse- but merupakan sisa-sisa retas lava sepajang 60 km. Di sekitar G.
Galunggung terdapat 3.600 bukit-bukit kecil yang dikenal dengan Perbukitan Seribu. Total volume bukit 142.4 juta m3, atau hanya 1/20 dari total volume sektor yang longsor. Pembentukan per- bukitan ini diasumsikan terjadi karena kaldera dengan dinding tipis yang tersisa didorong ke luar, maka serakan dinding kaldera membentuk bukit-bukit di kaki gunungapi. Peristiwa di G. Raung dan G. Galunggung ini mungkin merupakan longsoran sangat be- sar yang kejadiannya dipicu oleh gempabumi, pembentukan re- takan, guguran vulcano-tectonic, atau oleh erupsi ultra-volcanic.
• Aliran Lava. Oleh karena explosivitas yang tinggi, breksi dan debu menjadi produk utama gunungapi di Indonesia, namun aliran lava juga merupakan gejala yang umum dijumpai. Contoh terbaru, lava mengalir dari celah pada G. Batur pada tahun 1926 dan 1963, serta aliran lava parasitik terjadi di G. Semeru pada tahun 1941.
Tingkat kemampuan pengaliran sangat bervariasi. Aliran lava G.
Merapi selama November-Desember 1930 rata-rata 300.000 m3 per hari, sedang pada tahun 1942-1943 rata-rata 12.000- 15.000 m3 per hari. Aliran lava panas relatif dinamis, mengikuti lembah sungai sebagai aliran, atau berlembar seperti tirai lava hasil erupsi fase B dari Tangkuban Parahu. Aliran lava dalam viskositas rendah dapat berbentuk lorong lava, sebab inti cairan lava terus mengalir setelah pembekuan mantel sebelah luar.
• Kubah Lava. Sifat kekentalan magma meningkat sebanding dengan penambahan kandungan silika. Sebagian andesit dan dasit yang sangat asam, akan mudah membentuk kubah, yang kadang-kadang disertai dengan lidah lava tebal menonjol pada bagian bawahnya. Banyak contoh dapat ditemukan di Indonesia, misalnya kubah lava hasil erupsi G. Kelud tahun 2007 dan G.
Rokatenda tahun 2013. Kubah lava di Indonesia telah dideskripsi menjadi beberapa tipe. Bentuk kubah dipengaruhi oleh konfigu- rasi dari tempat lava diekstrusikan. Kubah tumbuh seiring den- gan penambahan energi dari dalam sehingga luar lapisan sangat diregangkan. Akan terjadi semacam stratifikasi mantel beruru- tan yang paralel dari luar ke dalam dengan ketebalan sampai beberapa meter. Kubah yang terbentuk mempunyai kemiringan kubah antara 35°- 40°. Akhir pembentukan kubah lava akan
membentuk depresi di bagian puncaknya. Depresi ini merupakan hasil berbagai faktor, seperti penyusutan oleh pendinginan, atau berhentinya tekanan keatas.
• Lahar. Lahar merupakan aliran lumpur yang mengandung mate- rial rombakan dan bongkah-bongkah menyudut berasal dari gu- nungapi. Endapan lahar mampu mencapai ketebalan beberapa meter sampai puluhan meter. Fragmen-fragmen penyusun terle- tak diantara matriks yang membulat sampai menyudut. Bongkah lava yang tertranspor dapat mencapai beberapa meter kubik.
Lahar dapat dibedakan menjadi lahar hujan (dingin) dan lahar letusan (panas). Lahar hujan tidak secara khusus berhubungan dengan aktivitas gunungapi. Ia dipicu oleh hadirnya hujan di atas normal pada lereng yang tertutup oleh material lepas. Contoh la- har yang dipicu oleh hujan antara lain terdapat pada pelaharan G.
Merapi yang mempunyai kisaran sebaran 25-30 km. Contoh lahar terbaru jenis ini terjadi pada pelaharan pada tahun 2011, terha- dap hasil erupsi G. Merapi 2010. Lahar letusan disebabkan oleh
oleh amblesan maupun letusan.
Letusan danau kawah akan me- nyebabkan arus lumpur panas, sehingga air akan bercampur dengan material gunungapi yang panas. Contoh pembentu- kan lahar ini terjadi di G. Kelud.
Pengelolaan gunungapi saat ini dilakukan oleh Pusat Vul- kanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) – Badan Ge- ologi – Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia. Mandat yang dimi- liki PVMBG adalah (1) Peneli- tian dan pemantauan aktivitas gunungapi; (2) Peringatan Dini Bencana Letusan Gunungapi, melalui penentuan tingkat keg- iatan gunungapi: aktif, waspa- da, siaga, awas; (3) Penetapan Kawasan Rawan Bencana; (4) Pembentukan Tim Tanggap Darurat; (5) Sosialisasi kepada Pemerintah daerah dan masyarakat: pelatihan evakuasi dan pena- taan tata ruang.
Indonesia memiliki beragam tipe gunungapi yaitu Tipe-A (79 buah), yakni gunungapi yang pernah mengalami erupsi sekurang-kurangnya satu kali sesudah 1600 Masehi. Tipe-B (28 buah), yakni gunungapi yang sesudah 1600 Masehi belum mengalami erupsi magmatik, na- mun masih memperlihatkan gejala kegiatan misalnya solfatara dan fumarola. Tipe-C (20 buah), yakni gunungapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia namun masih terlihat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan fumarola. Dari beragam gunungapi yang ada tercatat bahwa gunungapi Tipe A tersebar di Sumatra (13 buah), Jawa (21 buah), Bali (2 buah), Nusa Tenggara (19 buah), Sulawesi (11 buah), dan Kepualuan Maluku (13 buah). Di setiap provinsi tersebut memiliki lebih dari satu gunungapi aktif yang berpotensi dapat meletus dan diantaranya menjadi prioritas utama.
Gambar 26. Sebaran Gunungapi tipe A di Indonesia
PROVINSI /
NAMA GUNUNG SOSIAL (Jiwa) FISIK (Rp Juta) EKONOMI (Rp Juta) KERUSAKAN LINGKUNGAN (Ha) ACEH 145.968 188.686 217.537 17.798
BURNI GEUREDONG 74.705 92.475 103.340 6.049 BURNI TELONG 58.189 90.325 101.736 5.041 JABOI 3.565 1.293 964 138 PEUT SAGUE 178 330 - 2.480 SEULAWAH AGAM 9.331 4.263 11.497 4.090 BALI 335.886 541.869 790.981 5.660 AGUNG 287.820 458.119 777.283 5.226 BATUR 48.066 83.750 13.697 434 BANTEN 125.578 48.596 52.495 882 KARANG 40.327 2.985 21.133 306 PULOSARI 85.251 45.611 31.362 576 BENGKULU 58.098 24.504 61.133 6.490 BELIRANG BERITI 6.513 2.728 21.641 826 BUKIT DAUN 974 8.283 17.709 2.626 KABA 50.611 13.493 21.783 3.038 DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA 63.428 141.670 557.022 175 MERAPI 63.428 141.670 557.022 175 JAMBI 13.725 13.690 12.371 5.157 KERINCI 12.905 7.248 12.371 1.514 KUNYIT 711 3.130 - 904 SUMBING 109 3.313 - 2.739 JAWA BARAT 1.573.301 461.446 1.191.231 19.134 CIREMAI 214.121 10.052 37.703 4.685 GALUNGGUNG 160.513 71.142 340.670 2.705 GEDE 322.286 48.162 13.414 2.628 GUNTUR 417.386 192.361 78.439 1.847 PAPANDAYAN 76.656 28.261 123.363 2.301 PERBAKTI 13.364 9.220 5.739 1.134 SALAK 120.194 22.003 17.693 1.282 TALAGA BODAS 183.133 60.744 497.243 1.745 TANGKUBAN PARAHU 49.799 11.669 49.061 692 WAYANG WINDU 15.849 7.833 27.905 115 JAWA TENGAH 1.191.630 741.665 1.947.227 13.753 DIENG 39.456 92.431 99.898 58 LAWU 69.828 31.264 73.931 1.457 MERAPI 200.806 299.002 641.423 2.442 MERBABU 140.515 64.581 346.770 2.286 SLAMET 116.140 14.120 63.231 4.744 SUMBING 239.380 58.043 369.816 96 SUNDORO 271.027 172.157 319.058 1.186 UNGARAN 114.478 10.067 33.100 1.485
b. Matriks Kajian Risiko
Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang disusun oleh BNPB pada tahun 2021, terlihat bahwa jumlah jiwa terpa- par risiko bencana erupsi gunungapi banyak tersebar pulau Jawa, Bali dan Nusatengara dengan total seluruh Indonesia melebihi 5 juta jiwa dan nilai asset terpapar melebihi 16 Trili- un. Secara rinci, hasil kajian risiko bencana gunungapi dapat terlihat dalam Tabel 13 berikut
Tabel 13. Matriks jumlah paparan risiko bencana gunungapi
PROVINSI / NAMA GUNUNG
SOSIAL (Jiwa)
FISIK (Rp Juta)
EKONOMI (Rp Juta)
KERUSAKAN LINGKUNGAN (Ha)
SULAWESI TENGAH 1.047 4.326 2.471 803
COLO 1.047 4.326 2.471 803
SULAWESI UTARA 537.900 426.364 800.952 13.102
AMBANG 58.334 24.113 14.077 1.076
AWU 26.401 52.414 86.173 2.661
BATU KOLOK 2.881 769 9.980 61
KARANGETANG 25.377 70.665 74.003 1.251
KLABAT 22.116 19.441 66.535 3.279
LAHENDONG 36.747 33.072 51.514 -
LOKON 57.574 15.224 23.090 1.005
MAHAWU 96.647 18.098 43.133 1.156
RUANG 11.615 18.101 43.190 -
SARONGSONG 45.205 33.092 50.837 -
SEMPU 20.677 44.485 124.841 618
SOPUTAN 60.241 51.911 143.786 1.032
TAMPUSU 10.419 9.033 12.264 -
TANGKOKO 45.691 25.919 51.770 965
TEMPANG 17.975 10.026 5.760 -
SUMATERA BARAT 195.181 88.638 121.470 17.765
KERINCI 6.849 11.930 381 2.122
MARAPI 69.065 27.800 30.423 4.869
TALAMAU 14.006 21.887 6.481 5.264
TALANG 80.478 24.231 37.562 1.295
TANDIKAT 24.783 2.790 46.623 4.215
SUMATERA SELATAN 23.142 1.930 19.039 2.053
BUKIT LUMUT BALAI 1.406 - 577 922
DEMPO 21.736 1.930 18.462 1.131
SUMATERA UTARA 111.670 158.901 378.721 8.658
PUSUK BUKIT 9.594 6.360 8.226 1.076
SIBAYAK 33.431 5.384 7.156 1.858
SIBUALBUALI 5.612 141 253 1.358
SINABUNG 38.637 136.165 354.585 2.336
SORIK MARAPI 24.396 10.851 8.500 2.030
TOTAL 5.864.711 3.589.410 8.459.281 193.541
PROVINSI / NAMA GUNUNG
SOSIAL (Jiwa)
FISIK (Rp Juta)
EKONOMI (Rp Juta)
KERUSAKAN LINGKUNGAN (Ha)
JAWA TIMUR 962.796 240.058 1.983.839 45.410
ARJUNO WELIRANG 51.261 16.267 118.695 2.448
BROMO 10.785 19.870 2.864 1.355
IJEN 68.713 15.147 82.031 2.166
IYANG ARGOPURO 9.379 8.987 35.939 6.066
KELUD 514.286 77.976 417.657 14.391
LAMONGAN 36.660 15.258 378.742 1.408
LAWU 94.313 17.969 220.578 1.680
RAUNG 108.609 23.879 574.935 7.299
SEMERU 55.364 42.509 148.025 4.838
WILIS 13.426 2.197 4.373 3.759
LAMPUNG 36.263 5.439 88.581 2.521
ANAK KRAKATAU 303 734 180 -
RAJABASA 32.993 4.339 78.559 1.724
SEKINCA UBELIRANG 2.967 365 9.841 797
MALUKU 20.390 20.799 2.188 597
BANDA API 16.297 3.941 35 461
WURLALI 4.093 16.858 2.153 136
MALUKU UTARA 71.477 112.702 71.608 10.166
DUKONO 671 6.245 341 1.061
GAMALAMA 25.225 27.150 26.990 955
GAMKONORA 13.564 27.399 15.309 2.332
IBU 15.605 18.552 8.960 2.009
KIEBESI 13.603 32.982 18.871 440
TODOKO 2.809 375 1.137 3.369
NUSA TENGGARA BARAT 22.545 29.093 17.679 3.322
RINJANI 18.845 8.582 - 188
SANGEANGAPI 1.337 9.173 17.514 2.664
TAMBORA 2.363 11.338 165 470
NUSA TENGGARA TIMUR 374.686 339.036 142.734 20.093
ANAK RANAKAH 24.734 3.112 849 610
BATU TARA 3.167 22.040 - -
EBULOBO 44.790 21.292 31.090 1.820
EGON 5.938 5.543 3.067 1.050
ILE BOLENG 54.214 100.879 21.595 2.532
ILE MUDA 5.198 4.973 3.577 1.434
ILE WERUNG 3.946 - 645 36
INI ELIKA 8.263 14.694 9.449 480
INI ERIE 12.106 38.264 5.711 1.716
IYA 57.104 3.570 - 144
KELIMUTU 26.546 9.512 3.302 1.746
LABALEKAN 8.541 20.492 13.593 1.670
LEREBOLENG 6.574 4.099 28.016 1.023
LEWOTOBI LAKILAKI - - 154 44
LEWOTOBI LAKILAKI & PEREMPUAN 12.372 4.700 4.620 1.196
LEWOTOBI PEREMPUAN 238 - 1.410 96
LEWOTOLO 9.586 46.651 6.862 1.478
NDETU NAPI 251 77 20 23
POCO LEOK 69.697 1.934 231 483
POCOLEOK 97 - - 70
RIANG KOTANG 6.517 2.097 3.115 9
ROKATENDA 9.438 23.101 - 872
SIRUNG 1.775 23 579 -
SUKARIA 2.025 - - -
WAESANO 1.569 11.983 4.848 1.561
PROVINSI SOSIAL (Jiwa) FISIK (Rp Juta)
EKONOMI (Rp Juta)
KERUSAKAN LINGKUNGAN (Ha)
ACEH 3.101.890 14.970.503 12.706.523 46.793
BALI 713.786 2.796.931 1.677.138 392
BANTEN 5.951.838 23.897.159 14.218.424 1.166
BENGKULU 484.863 2.198.949 2.545.479 2.492
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 932.972 4.362.890 1.979.551 4
DKI JAKARTA 8.319.439 29.794.197 1.199.942 10
GORONTALO 625.217 3.342.037 1.896.563 2.066
JAMBI 1.673.969 10.301.752 18.037.294 122.878
JAWA BARAT 15.238.382 59.318.854 40.892.196 149
JAWA TENGAH 14.867.751 61.355.910 40.171.170 3.422
JAWA TIMUR 17.878.850 76.624.342 52.640.486 4.323
KALIMANTAN BARAT 4.144.329 27.499.633 16.029.690 258.424
KALIMANTAN SELATAN 2.796.490 16.659.995 11.633.155 71.895
KALIMANTAN TENGAH 1.859.984 13.498.672 11.958.668 767.351
KALIMANTAN TIMUR 1.822.582 12.035.613 14.095.529 278.373
KALIMANTAN UTARA 288.251 1.768.363 3.189.899 51.887
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 530.642 3.210.371 3.469.583 48.194
KEPULAUAN RIAU 621.100 2.701.007 1.666.173 19.911
LAMPUNG 2.278.205 10.889.977 25.373.126 16.327
MALUKU 333.176 1.647.375 1.075.787 62.889
MALUKU UTARA 266.171 1.688.390 1.026.189 11.369
NUSA TENGGARA BARAT 1.712.041 7.675.909 3.035.085 1.964
NUSA TENGGARA TIMUR 721.246 3.173.518 2.273.930 7.432
PAPUA 1.187.967 7.779.834 6.397.171 1.611.008
PAPUA BARAT 442.439 3.048.212 1.755.401 246.262
RIAU 3.424.350 20.105.113 76.363.995 251.164
SULAWESI BARAT 1.035.434 3.212.686 3.741.307 886
SULAWESI SELATAN 4.007.951 17.902.516 22.887.661 4.675
SULAWESI TENGAH 1.056.595 5.678.540 6.459.847 14.831
SULAWESI TENGGARA 837.746 4.865.412 5.678.724 27.277
SULAWESI UTARA 627.532 3.489.624 1.327.101 1.672
SUMATERA BARAT 1.884.978 9.271.856 8.394.299 9.705
SUMATERA SELATAN 4.882.644 25.910.771 26.699.774 261.893
SUMATERA UTARA 7.278.686 33.977.294 37.768.111 16.149
TOTAL 113.829.496 526.654.209 480.264.971 4.225.236