• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023

N/A
N/A
oki oktaviana

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023"

Copied!
296
0
0

Teks penuh

(1)

RBI RISIKO BENCANA INDONESIA

BNPB “Memahami Risiko Sistemik di Indonesia”

Diterbitkan oleh:

(2)
(3)

RBI RISIKO BENCANA INDONESIA

“Memahami Risiko Sistemik di Indonesia”

Diterbitkan oleh:

Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Cetakan Pertama, Februari 2023

(4)

RBI Tim Penyusun : RISIKO BENCANA INDONESIA

Pengarah : Raditya Jati

Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB

Udrekh

Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko BNPB

Edy S. Purba

Analis Kebencanaan Ahli Madya

Penulis :

Osmar Shalih Asfirmanto W. Adi Sesa Wiguna Fathia Z. Shabrina Ahmad Rizqi Anggara S. Putra Rafa Karimah Franta Eveline Afif Alfian Syauqi

Rizky Tri Septian Yudhi Widiastomo Yusuf Bagaskoro Afifa Nomita Dewi Irena Rahmawati Seniarwan Abdul Hafizh

Hannura Ayu Suryaningrum Dian Ika Purnamasiwi Trevi Jayanti Puspasari Agus Iftidah

Kontributor :

Avianto Amri Fredy Chandra

Editor :

Ridwan Yunus

Foto :

Doc. Pusdatinkomben BNPB Desain Tata Letak :

Tri Septian Ghilam F

Penerbit:

Pusat Data Informasi Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana Cetakan Pertama, Februari 2023

ISBN 978-602-5693-29-8

“Memahami Risiko Sistemik di Indonesia”

(5)
(6)
(7)

Daftar isi

Kata Pengantar Kepala BNPB...

BAB I : GAMBARAN UMUM INDONESIA ...

Profil Geologi ...

Profil Lingkungan ...

Profil Geografi dan Kependudukan ...

Profil Ekonomi ...

Profil Kejadian Bencana ...

BAB II : RISIKO BENCANA DI INDONESIA ...

Konsepsi Umum ...

Metodologi Kajian Risiko Bencana ...

1. Bahaya ...

2. Kerentanan ...

3. Risiko ...

4. Penarikan Kesimpulan Kelas...

Hasil Kajian Risiko Bencana ...

1. Gempabumi ...

2. Tsunami ...

3. Letusan Gunungapi ...

4. Banjir ...

5. Tanah Longsor ...

6. Kekeringan ...

7. Kebakaran Lahan dan Hutan ...

8. Cuaca Ekstrim ...

9. Gelombang Ekstrim dan Abrasi ...

10. Banjir Bandang ...

11. Likuefaksi ...

12. Covid-19 ...

BAB III : KAPASITAS DAERAH DALAM PENGURANGAN

RISIKO BENCANA...

BAB IV : RISIKO MULTI BAHAYA...

BAB V : PENUTUP ...

REFERENSI ...

9 1112 1822 2830

3234 3638 5055 5658 6066 7281 8589 9498 106110 116120 124133 145146

(8)
(9)

Puji dan syukur kepada Tuhan YME dengan telah tersusunnya buku Risiko Bencana Indonesia ini pada tahun 2023. Buku ini menggambarkan dan menjelaskan kondisi risiko bencana di seluruh wilayah Indonesia. Informasi tersebut merupakan langkah awal dalam identifikasi risiko bencana yang ada di sekitar kita dan dapat menjadi acuan dalam menjalankan manajemen risiko selanjutnya baik terkait perencanaan maupun perumusan kebijakan dan aksi.

Buku ini juga menjadi perwujudan strategi Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) yaitu terkait dengan Understanding Risk dan juga mendukung salah tujuan Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020-2044, yaitu mengurangi risiko bencana dalam jangka panjang. Hasil kajian risiko bencana yang disajikan di buku ini dapat dijadikan baseline untuk kondisi risiko bencana di tingkat Nasional dan Provinsi sehingga kita dapat mengukur outcome capaian upaya pengurangan risiko bencana di tahun-tahun mendatang.

Saya juga turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pihak yang telah mendukung proses penyusunan kajian risiko bencana dan buku ini sehingga dapat kita manfaatkan. Harapannya, buku ini tidak hanya menjadi bahan bacaan semata, namun juga dapat menjadi referensi bersama dalam membangun negara kita agar menjadi negara yang aman dari bencana dan resiliensi bencana.

Jakarta, Februari 2023

Letjen TNI Suharyanto, S.Sos., M.M

Kata Pengantar

Kepala BNPB

(10)
(11)

BAB I GAMBARAN UMUM

INDONESIA

(12)

PROFIL

GEOLOGI

D

ari segi ilmu kebumian, Indonesia memang merupaka darah yang sangat menarik. Selain memiliki wilayah paparan benua yang luas (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), juga memiliki pegunungan lipatan tertinggi di daerah tropika dan bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua). Selain itu satu-satunya di dunia terdapat laut antar pulau yang sangat dalam yaitu Laut Banda (lebih dari 5.000 meter), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan yaitu palung Weber

(lebih dari 7.000 meter). Dua jalur gunungapi besar dunia juga bertemu di Nusantara dan beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia (Gambar 1).

Kondisi tersebut merupakan bagian dari hasil dari proses pertemuan 4 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo- Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Laut Filipina. Zona pertemuan antara lempeng Indo Australia dengan lempeng Eurasia di lepas pantai barat Sumatera, selatan Jawa dan Nusa Tenggara, lempeng Pasifik di bagian utara pulau Papua dan Halmahera, sedangkan lempeng Laut Filipina di bagian laut Maluku. Zona ini

umumnya juga ditandai dengan keberadaan palung yang cukup dalam.

Aktifitas tektonik yang terjadi menyebabkan terbentuknya deretan gunungapi (volcanic arc) di sepanjang pulau Sumatera, Jawa- Bali-Nusa Tenggara, utara Sulawesi-Maluku, hingga Papua. Deret gunungapi diIndonesia merupakan bagian dari deret gunungapi sepanjang Asia-Pasifik yang sering di sebut sebagai Ring of Fire atau deret sirkum pasifik. Zona atau wilayah yang berada diantara pertemuan lempeng dan deret gunung api sering di sebut sebagai zona aktif atau dikenal dengan istilah busur depan (fore arc), diwilayah ini umumnya banyak terdapat patahan aktif dan sering terjadi gempabumi, misalnya wilayah bagian barat dari bukit barisan, pesisir selatan Jawa, dan pesisir pantai utara

Gambar 1. Peta tektonik wilayah Indonesia dari data geodetik hingga tahun 2016, vektor kecepatan pada referensi sistem ITRF 2008

(13)

Papua. Sedangkan zona atau wilayah yang berada disisi setelah deret gunungapi yang bisa dikenal sebagai busur belakang (back arc) cenderung lebih jarang dijumpai patahan aktif dan biasanya banyak dijumpai endapan alluvial dan rawa, seperti wilayah pesisir timur Sumatera, pesisir Utara Jawa, dan pesisir selatan Papua (Gambar 2).

Pada kawasan ini, seringkali terjadi gempa yang mengakibatkan guncangan sehingga banyak menimbulkan kerugian jiwa dan kerusakan di permukaan bumi, baik yang disebabkan oleh letusan dua jalur gunung api besar, yaitu Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania, di mana terdapat lebih dari 75% gunung berapi aktif di dunia maupun oleh gempa dengan kejadian sekitar 90% gempa di dunia dan 81% gempa terbesar di dunia terjadi di sepanjang kawasan cincin api ini. Pada kawasan ini terdapat pula pertemuan jalur lipatan akibat adanya pertemuan tiga lempeng tektonik besar

antar benua, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Aktivitas tektonik di pertemuan lempeng yang aktif tersebut mengakibatkan pembentukan deretan gunung api sepanjang pulau JawaBali-Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi-Maluku, dan berakhir di Papua. Selain itu, pertemuan tiga lempeng besar tersebut dan sembilan lempeng kecil lainnya, membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang kompleks sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2. Berdasarkan Teori Pelat Tektonik, lempeng-lempeng kerak bumi ini bergerak relatif satu terhadap yang lain. Dalam kasus di Indonesia, lempeng- lempeng ini bergerak saling bertumbukan yang mengakibatkan terkumpulnya energi potensial seiring dengan regangan dan tegangan yang terjadi.

Ketika daerah pertemuan tersebut tidak lagi mampu menahan besarnya tegangan yang terakumulasi, terjadilah pelepasan

energi yang diikuti oleh dislokasi bagian lempenglempeng tersebut.

Fenomena ini mengakibatkan terjadinya getaran tanah atau guncangan permukaan tanah yang lazim disebut sebagai gempa tektonik. Berdasarkan uraian tersebut di atas, tidaklah mengherankan jika Indonesia merupakan daerah rawan gempa.

PuSGen, 2022.

Dampak lain dari aktifitas tektonik adalah terbentuknya patahan atau sesar. Beberapa patahan yang cukup besar antara lain adalah patahan semangko di Sumatera, patahan Sorong di Papua dan Maluku, dan patahan Palukoro di Sulawesi. Patahan Semangko yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Gambar 2. Peta sebaran jalur gunungapi Asia-Pasifik (ring of fire)

(14)

Gambar 3. Ilustrasi penampang wilayah aktivitas tektonik Semangka di Lampung (hampir mencapai 2.000 km). Patahan

inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi. Sedangkan patahan Sorong (sorong Fault) merupakan sebuah patahan geser yang terbentuk akibat pertemuan antara lempeng samudara pasifik yang bergerak kerarah barat dengan lempeng Australia yang relatif bergerak keutara, akibat dari pertemuan ini mengakibatkan patahan disekitar pantai utara papua yang memanjang dari kabupaten manokwari-kabupaten sorong. Patahan ini juga yang menyebabkan terbentuknya selat sagewin yang berlokasi disekitar daerah batanta-misol. Berbeda dengan patahan Semangko dan Sorong, patahan Palu Koro merupakan patahan yang memanjang mulai dari Selat Makassar sampai pantai utara Teluk Bone dengan panjang patahan sekitar 500 km. Di Kota Palu, patahan itu melintas dari Teluk Palu masuk ke wilayah daratan, memotong tengah kota, terus sampai ke Sungai Lariang di Lembah Pipikoro, Donggala (arah selatan Palu). Sebaran patahan sangat berasosiasi dengan sebaran pusat gempa, daerah yang

berada disekitar jalur patahan sangat rawan terhadap goncangan gempabumi yang umumya relatif dangkal. Dibeberapa lokasi, patahan juga membentuk tebing yang curam dan danau, seperti Ngarai Sihanok di Sumatera Barat, lembah di Lembang Jawa Barat, danau Singkarak di Sumatera, dan danau Tempe serta danau Poso di Sulawesi.

Aktivitas patahan dan gunungapi diwilayah Indonesia selain memberikan banyak anugerah sumberdaya alam termasuk kesuburan tanah, juga memberikan sumbangsih pada pembentukan risiko beberapa jenis bencana. Gempabumi dan tsunami yang terjadi banyak dipengaruhi oleh aktivitas patahan tektonik. Sedangkan aktivitas gunungapi, selain memberikan dampak pada bencana erupsi gunungapi, batuan sedimen/

endapan yang merupakan hasil dari endapan letusan gunung berapi yang berupa campuran kerikil biasanya tidak memiliki struktur yang kuat sehingga pada lereng yang terjal mudah terjadi longsor. Sebaran batuan dan patahan di Indonesia dapat dilihat dalam Peta Geologi Indonesia yang telah disusun oleh Badan Geologi.

(15)
(16)

PETA GEO

(17)

PETA GEO

(18)

PROFIL

LINGKUNGAN

I

ndonesia dikaruniai dengan salah satu hutan tropis yang paling luas dan paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia.

Puluhan juta masyarakat Indonesia mengandalkan hidup dan mata pencahariannya dari hutan, baik dari mengumpulkan berbagai jenis hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka atau bekerja pada sektor

industri pengolahan kayu. Hutan tropis ini merupakan habitat flora dan fauna yang kelimpahannya tidak tertandingi oleh negara lain dengan ukuran luas yang sama.

Bahkan sampai sekarang hampir setiap ekspedisi ilmiah yang dilakukan di hutan tropis Indonesia selalu menghasilkan spesies baru.

Pengertian hutan sendiri adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan). Berdasarkan hasil Buku Rekalkulasi Penutupan Lahan Indonesia 2014-2020, kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas daratan

Indonesia adalah 1.878,52 juta ha, sementara luas tutupan hutannya adalah 95,562 Juta ha atau sekitar 50,9% dari luas daratan Indonesia. Namun tutupan hutan ini tidak tersebar secara proporsional di seluruh pulau di Indonesia. Tutupan hutan paling besar berada di wilayah Papua, yakni sekitar 343,62 juta ha pada 2020. Angka tersebut mencapai 84,43% dari total luas daratan pulaunya. Wilayah dengan tutupan hutan terbesar berikutnya adalah Kalimantan, yaitu 183,83 juta ha (65,24%).

Diikuti Sumatera dengan tutupan hutan 139,85 juta ha (33,38%) dan Sulawesi 69,56 juta ha (40,77%). Setelahnya ada wilayah Maluku dengan luas tutupan hutan 50,99 juta ha (65,77%), Bali- Nusa Tenggara 140,64 juta ha (41,92%), dan Jawa 27,12 juta ha (20,36%).

Gambar 4. Perbandingan Luas Tutupan Lahan terhadap Luas Daratan Indonesia Tahun 2020

(19)

Berdasarkan luas total tutupan hutan Indonesia, Papua merupakan daerah yang memiliki proporsi tutupan hutan terluas di Indonesia dengan presentase sebesar 37,28%, diikuti Kalimantan 19,94%, Sumatera 15,17%, Bali-Nusa Tenggara 11,60%, Sulawesi 7,54%, Maluku 5,53, dan Jawa 2,94%.

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia meningkat sebesar 3,72 poin dari angka 66,55 pada tahun 2019 menjadi 70,27 pada tahun 2020. Secara rinci, pengukuran terhadap indeks-indeks yang mendukung peningkatan IKLH. IKA tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 0,91 menjadi 53,53 dibanding tahun 2019.

Nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) terdiri dari Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) dan Indeks Kualitas Ekosistem Gambut (IKEG), yang mempresentasikan kondisi kualitas lahan yang dipengaruhi oleh tutupan lahan.

Khusus untuk ekosistem gambut, dipertimbangkan dampak kebakaran dan keberadaan kanal pada ekosistem lahan gambut sebagai faktor koreksi kualitas tutupan lahan.

Gambar 6. Sebaran Tutupan Hutan di Indonesia Tahun 2020

IKTL mengalami penurunan sebesar 1,26 poin yaitu 60,74 dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 62.00, sehingga belum memenuhi target Rencana Strategis KLHK 2020- 2024 yaitu sebesar 61,90. Penyebab turunnya nilai IKTL adalah penurunan tutupan belukar, hutan lahan kering sekunder dan hutan tanaman yang cukup besar menjadi perkebunan, pertanian lahan kering, dan campuran atau kebun campur. Kemudian terkait IKEG tahun 2020, hasil analisis menunjukkan sebanyak 9 provinsi memenuhi target yaitu Jambi, Kep. Bangka Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua Barat. Kemudian, sebanyak 10 provinsi tidak memenuhi target yaitu Aceh, Bengkulu, Kep. Riau, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Secara keseluruhan, nilai IKL pada tahun 2020 adalah sebesar 59,54.

Terakhir, hasil analisis terhadap IKAL tahun 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 13 provinsi telah memenuhi target dan 21 provinsi belum. Sebanyak 16 provinsi

berkategori baik dan 18 provinsi berkategori cukup baik. Pemantauan kualitas air laut untuk mendapatakan nilai IKAL dilakukan 801 titik yang tersebar di 34 provinsi. Lokasi yang dipilih mewakili aktivitas di daerah pesisir yaitu wisata bahari, wilayah konservasi, pemukiman, pelabuhan penumpang, pelabuhan barang, kawasan industri, tempat pelelangan ikan dan muara sungai. IKAL Nasional bernilai 68,94 (berkategori baik), yang artinya telah memenuhi target dari RPJMN yang sebesar 58,5 (berkategori cukup baik).

(20)
(21)
(22)

M

erujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Indonesia pada tahun 2020 diprediksi mencapai 269.602.317 Jiwa. Lebih dari separuh penduduk Indonesia bertempat tinggal di Pulau Jawa (56,25 %) dan hanya 1,13

% penduduk tinggal di Kepulauan Maluku. Sumatera berada pada urutan kedua pulau paling banyak jumlah penduduknya, yaitu sekitar 21,96 %. Sedangkan sisanya tersebar di Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara dan Pulau Papua dengan persentasi 7,33 %, 6,10 %, 5,62% dan 1,62 % berturut-turut.

Penduduk Indonesia diprediksi akan berkembang di wilayah perkotaan, artinya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan akan tumbuh lebih banyak dibanding penduduk yang tinggal di wilayah perdesaan. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, sebanyak 56,7% penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan pada 2020. Persentase tersebut diprediksi terus meningkat menjadi 60% pada 2025.

PROFIL

GEOGRAFI DAN KEPENDUDUKAN

Tabel Proyeksi Penduduk menurut Provinsi, 2020-2025 (Ribuan)

Gambar 8. Distribusi proyeksi penduduk berdasarkan kelompok Pulau tahun 2020

(23)
(24)

PETA DEM

(25)

PETA DEM

(26)
(27)
(28)

PROFIL EKONOMI

D

alam menyusun perencanaan pembangunan memerlukan bermacam data statistik sebagai dasar berpijak dalam menentukan strategi kebijakan, agar sasaran pembangunan dapat dicapai dengan tepat termasuk dalam perencanaan pembangunan yang berbasis pengurangan rsisiko bencana. Strategi dan kebijakan yang telah diambil pada masa-masa lalu perlu dimonitor dan dievaluasi hasil-hasilnya.

Berbagai data statistik yang bersifat kuantitatif diperlukan untuk memberikan gam-baran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini, serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang.

Pada hakikatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Hal ini dilakukan dengan memperluas lapangan kerja, memeratakan distribusi pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan melalui pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan kata lain, arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Jika dilihat dari data yang dipublikasikan oleh Badan Pusat

Statistik (BPS), pertumbuhan Gambar 11. Data Produk Domestik Regional Bruto Provinsi-Provinsi Indonesia menurut lapangan usaha tahun 2017-2021

ekonomi di Indonesia sejak tahun 2017 telah mengalami peningkatan. Salah satu indikator yang dapat menunjukkan hal tersebut adalah dari peningkatan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Data Produk Domestik Bruto (PDRB) dapat digunakan untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat secara berkala dan sesuai dengan batas- batas wilayah administrasi pemerintahan. Data produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Provinsi, 2017- 2015 (Miliar Rupiah) dapat dilihat pada grafik di bawah.

Keterangan :

* Angka sementara

** Angka sangat sementara

(29)
(30)

PROFIL

KEJADIAN BENCANA

M

Menurut data yang dihimpun dalam Data Informasi Bencana Indonesi (DIBI)-BNPB, terlihat bahwa dari lebih dari 25,487 kejadian bencana pada periode tahun 2015 hingga 2021 lebih dari 74,10% (78,890) kejadian bencana merupakan bencana hidrometeorologi dan hanya sekitar 25,90% (6,604) merupakan bencana geologi (gambar 1). Kejadian bencana kelompok hidrometeorologi berupa kejadian bencana banjir, gelombang ekstrim, kebakaran lahan dan hutan, kekeringan, dan cuaca esktrim. Sedangkan untuk kelompok bencana geologi yang sering terjadi adalah gempabumi, tsunami, letusan gunungapi, dan tanah

longsor. Kecenderungan jumlah kejadian bencana secara total untuk kedua jenis kelompok yang relatif terus meningkat.

JuJumlah kejadian bencana yang disebabkan oleh faktor geologis tidak terlalu signifikan dibandingkan jumlah kejadian bencana yang disebabkan oleh faktor hidrometeorologis.

Meskipun demikian, bencana geologis, khususnya gempa bumi dan tsunami pada kenyataannya ba nyak menimbulkan dam pak yang cukup besar baik dari sisi korban dan kerugian ekonomi.

Pengaruh perubahan iklim juga ikut memberikan kontribusi dalam peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi. Dengan frekuensi kejadian yang banyak, kelompok bencana ini juga memberikan dampak yang sangat besar terutama pada sektor ekonomi dan lingkungan, baik dampak langsung kejadian bencana maupun dampak tidak langsung. Aktivitas manusia juga ikut memperburuk kondisi lingkungan, seperti perambahan hutan untuk perkebunan dan permukiman atau aktivitas pembangunan yang mempengaruhi ekosistem dan ekologi di daerah penyangga.

Gambar 12. Grafik Jumlah Kejadian Bencana 2015 - 2021 (diolah dari BNPB, 2021)

(31)
(32)
(33)

BAB II RISIKO BENCANA DI INDONESIA

(34)

KONSEPSI

P UMUM

engkajian risiko bencana merupakan sebuah pendekatan untuk memperlihatkan potensi dampak negatif yang mungkin timbul akibat suatu potensi bencana yang ada. Potensi dampak negatif tersebut dihitung juga dengan mempertimbangkan tingkat kerentanan dan kapasitas kawasan tersebut. Potensi dampak negatif ini menggambarkan potensi jumlah jiwa, kerugian harta benda, dan kerusakan lingkungan yang terpapar oleh potensi bencana. Dalam pelaksanaannya, pengkajian risiko menggunakan rumus umum sebagai berikut :

Dalam melakukan kajian risiko bencana, pendekatan fungsi dari tiga parameter pembentuk risiko bencana, yaitu ancaman, kerentanan, dan kapasitas terkait bencana. Beberapa prinsip dari proses pengkajian risiko bencana yang juga menjadi pertimbangan proses analisa adalah:

1. Menggunakan data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada, dengan mengutamakan data resmi dari lembaga yang berwenang;

2. Melakukan integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari para ahli dengan kearifan lokal masyarakat;

3. Proses analisis yang dilakukan harus mampu menghitung potensi jumlah jiwa, kerugian harta benda, dan kerusakan lingkungan yang terpapar;

4. Hasil kajian risiko dapat diterjemahkan menjadi kebijakan umum untuk pengurangan risiko bencana.

Sedangkan beberapa kriteria yang digunakan dalam pemanfaatan data untuk kajian ini yang diperoleh dari berbagai sumber adalah:

1. Memenuhi aturan tingkat kedetailan analisis di tingkat provinsi, yaitu minimal hingga kecamatan dengan skala peta minimal adalah 1:250.000.

2. Data yang ada harus dapat digunakan untuk menghitung jumlah jiwa terpapar bencana (dalam jiwa), menghitung nilai kerugian harta benda (dalam rupiah), dan menghitung luas kerusakan lingkungan (dalam hektar) dengan menggunakan analisa Grid GIS 1 ha dalam pemetaan risiko bencana.

3. Dapat digunakan dalam perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan 3 kelas interval tingkat risiko, yaitu tingkat risiko tinggi, sedang dan rendah.

(35)
(36)

METODOLOGI

KAJIAN RISIKO

BENCANA

(37)
(38)

1.Bahaya

a. Gempabumi

Bahaya gempabumi dapat didefinisikan sebagai suatu ancaman berupa intensitas guncangan di permukaan tanah pada saat terjadi gempabumi sehingga mengakibatkan kerusakan bangunan/

infrastruktur yang dapat menimbulkan korban. Guncangan gempabumi dapat menjadi bencana gempabumi, sehingga peta intensitas guncangan gempabumi di permukaan tanah merupakan alat dasar untuk kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana gempabumi.

Secara umum proses pembuatan peta bahaya gempa terdiri dari (Earthquake Research Committee, 2005):

1. Pemetaan intensitas guncangan (percepatan puncak) pada batuan dasar menggunakan analisis skenario gempa bumi atau pendekatan probabilistik dan hubungan jarak atenuasi.

2. Pemetaan intensitas guncangan di permukaan dengan perkalian faktor amplifikasi tanah dan intensitas guncangan di batuan dasar.

Berdasarkan proses pada langkah ke-2, salah satu parameter yang diperlukan untuk menentukan faktor amplifikasi tanah adalah nilai distribusi kecepatan gelombang geser rata-rata dari permukaan tanah sampai kedalaman 30 m (Vs30 atau AVS30). Idealnya, pengukuran kecepatan gelombang geser dilakukan langsung di lapangan (teknik borehole), namun, membutuhkan sejumlah besar pendanaan dan banyak waktu, sehingga dianggap tidak efektif atau tidak efisien dalam kegiatan pengurangan risiko bencana yang mendesak. Cara alternatif untuk dapat menghasilkan nilai faktor amplifikasi (ground amplification factor) adalah dengan pendekatan metode empiris yang diusulkan oleh Midorikawa et al (1994) yaitu menggunakan persamaan berikut:

Secara umum proses pembuatan peta bahaya gempa terdiri dari (Earthquake Research Committee, 2005):

1. Pemetaan intensitas guncangan (percepatan puncak) pada batuan dasar menggunakan analisis skenario gempa bumi atau pendekatan probabilistik dan hubungan jarak atenuasi.

2. Pemetaan intensitas guncangan di permukaan dengan perkalian faktor amplifikasi tanah dan intensitas guncangan di

batuan dasar.

Berdasarkan proses pada langkah ke-2, salah satu parameter yang diperlukan untuk menentukan faktor amplifikasi tanah adalah nilai distribusi kecepatan gelombang geser rata-rata dari permukaan tanah sampai kedalaman 30 m (Vs30 atau AVS30). Idealnya, pengukuran kecepatan gelombang geser dilakukan langsung di lapangan (teknik borehole), namun, membutuhkan sejumlah besar pendanaan dan banyak waktu, sehingga dianggap tidak efektif atau tidak efisien dalam kegiatan pengurangan risiko bencana yang mendesak. Cara alternatif untuk dapat menghasilkan nilai faktor amplifikasi (ground amplification factor) adalah dengan pendekatan metode empiris yang diusulkan oleh Midorikawa et al (1994).

Gambar 15. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Gempabumi

(39)

b. Tsunami

Sebaran luasan wilayah terdampak (bahaya) tsunami diperoleh dari hasil perhitungan matematis yang dikembangkan oleh Berryman (2006) berdasarkan perhitungan kehilangan ketinggian tsunami per 1 m jarak inundasi (ketinggian genangan) berdasarkan harga jarak terhadap lereng dan kekasaran permukaan.

Parameter ketinggian gelombang tsunami di garis pantai mengacu pada hasil kajian BNPB yang merupakan lampiran dari Perka No. 2 BNPB Tahun 2012 atau dari data kementerian dan lembaga yang terkait. Parameter kemiringan lereng dihasilkan dari data raster DEM dan koefisien kekasaran permukaan dihasilkan dari data tutupan lahan (landcover).

Table 2. Nilai koefisien permukaan masing-masing jenis penutupan/

penggunaan lahan

Gambar 16. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Tsunami

(40)

c. Gunungapi

Data peta KRB Gunungapi yang telah disiapkan dalam format data GIS, selanjutnya dianalisis dengan mengidentifikasi pada masing- masing kelas KRB (I-III) mana yang termasuk zona landaan atau zona lontaran. Setelah itu, dilakukan pemberian bobot pada masing zona dengan mengikuti Tabel 3.

Agar lebih mudah memahami proses pemberian bobot masing- masing KRB, dapat melihat Gambar 17.

Tabel 3. Indikator dan Bobot Penilaian Bahaya Letusan Gunungapi

d. Banjir

Banjir didefinisikan sebagai kenaikan drastis dari aliran sungai, kolam, danau, dan lainnya dimana kelebihan aliran tersebut menggenangi keluar dari tubuh air (Smith & Ward 1998). Apabila suatu peristiwa terendamnya air di suatu wilayah yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis maka banjir tersebut dapat disebut Bencana Banjir (Reed 1995). Berdasarkan Perka BNPB No.2 Tahun 2012, ukuran bahaya (hazard) dari banjir adalah ketinggian genangan.

Secara umum, peta tematik yang terkait banjir banyak ditemukan dan tersedia di level kabupaten/kota, namun dalam kategori peta daerah rawan banjir (flood-prone). Tentunya pengertian daerah rawan banjir adalah daerah yang sering atau berpotensi terjadi banjir berdasarkan besaran frekuensi kejadian atau berdasarkan parameter-parameter fisik yang berhubungan dengan karakteristik daerah banjir (flood plain) di suatu wilayah. Sementara itu, sebagai salah satu data dasar Gambar 17. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Letusan Gunungapi

(41)

dalam melakukan pengurangan risiko bencana banjir, peta bahaya banjir sangat diperlukan untuk mengetahui seberapa besar potensi risiko yang akan diminimalisir.

Peta bahaya banjir dapat dihasilkan dari peta (potensi) genangan banjir. Sebagian besar peta genangan banjir dikembangkan oleh pemodelan komputer, yang melibatkan analisis hidrologi untuk memperkirakan debit aliran puncak untuk periode ulang yang ditetapkan, simulasi hidraulik untuk memperkirakan ketinggian permukaan air, dan analisis medan untuk memperkirakan area genangan (Alfieri et al, 2014). Namun pada kenyataannya, ketersediaan data-data dasar penyusun dan data yang akan digunakan untuk kalibrasi dan validasi model sangat terbatas (kurang).

Dalam rangka mengakomodir keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam penyusunan peta bahaya banjir, maka pembuatan peta bahaya banjir dapat dilakukan secara cepat dengan 2 tahapan metode, yaitu:

1. Mengidentifikasi daerah potensi banjir dengan pendekatan geomorfologi suatu wilayah sungai, yang dapat dikalibrasi dengan ketersediaan data area dampak yang pernah terjadi (Samela et al, 2017)

2. Mengestimasi ketinggian genangan berdasarkan ketinggian elevasi (jarak vertikal) di atas permukaan sungai di dalam area potensi genangan yang telah dihasilkan.

Area potensi genangan dapat diperoleh dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Samela et al, 2018 yaitu Indeks

Gambar 18. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Banjir

Geomorfik Banjir (Geomorphic Flood Index/GFI). GFI merupakan sebuah metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi area genangan banjir pada skala DAS yang luas dan menjadi sebuah prosedur yang efektif dan cepat untuk suatu wilayah yang memiliki keterbatasan data hidrologi.

(42)

e. Tanah Longsor

Penilaian bahaya tanah longsor dilakukan dengan mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi terkena dampak kegagalan lereng, menghitung probabilitas kejadian, dan memperkirakan besarnya magnitudo (area, volume, laju pergerakan) dari peristiwa tersebut (Petley, 2010).

Namun, terkait dengan ketersedian data di Indonesia untuk:

1. Pemetaan intensitas guncangan (percepatan puncak) pada batuan dasar menggunakan analisis skenario gempa bumi atau pendekatan probabilistik dan hubungan jarak atenuasi.

2. Pemetaan intensitas guncangan di permukaan dengan perkalian faktor amplifikasi tanah dan intensitas guncangan di batuan dasar.

Secara nasional melalui Kebijakan Satu Peta (KSP) yang dituangkan dalam Perpres No. 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Kebijakan Satu Peta pada Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000, telah tersedia Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM melalui PVMBG dengan cakupan seluruh wilayah Indonesia. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah tersebut merupakan peta yang berisi informasi kerentanan (susceptibility) gerakan tanah untuk berbagai jenis gerakan tanah, baik yang terjadi pada wilayah yang berlereng curam (longsor) maupun wilayah datar (ambles).

f. Kekeringan

Kekeringan adalah berkurangnya persediaan air di bawah normal yang bersifat sementara baik di atmosfer maupun di permukaan. Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air baik untuk kebutuhan hidup pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Penyebab utama terjadinya kekeringan adalah defisit curah hujan yang terjadi selama periode tertentu sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan manusia, atau yang biasanya disebut dengan kekeringan meteorologis. Kekeringan akibat defisit curah hujan dapat berdampak pada kekeringan pertanian (vegetasi), namun ada lag (jarak waktu) di antara keduanya. Sehingga kekeringan meteorologis

Gambar 19. Alur Proses Pembuatan Indeks Bahaya Tanah Longsor

(43)

dapat menjadi indikator awal terjadinya kekeringan agrikultural (pertanian).

Dalam menganalisis bahaya kekeringan, jenis kekeringan yang digunakan adalah kekeringan meteorologis.

Berbagai metode tersedia untuk menghitung indeks kekeringan meteorologi, salah satunya adalah metode SPEI (Standardize Precipitation Evapotranspiration Index) yang dikembangkan oleh Vicente-Serrano dkk pada tahun 2010. lndeks kekeringan SPEI sebagai indeks multi skalar dihitung menggunakan data hujan dan suhu. Jika perhitungan evapotranspirasi menggunakan Thornthwaite maka data suhu yang digunakan adalah hanya suhu bulanan rata-rata, sedangkan metode Hargreaves menggunakan suhu bulanan rata-rata, suhu maksimum bulanan rata dan suhu minimum bulanan rata-rata.

Penentuan kekeringan dengan SPEI membutuhkan data curah hujan dan suhu udara bulanan dengan periode

waktu yang cukup panjang, sehingga pada kegiatan ini digunakan data global hasil reanalysis dari Terra Climate dengan alat analisis menggunakan Google Earth Engine.

Tahapan dalam perhitungan nilai SPEI-12 adalah sebagai berikut:

(1) Data utama yang dianalisis adalah curah hujan dan suhu udara bulanan yang mencakup wilayah kajian. Rentang waktu data dipersyaratkan dalam berbagai literatur adalah minimal 30 tahun; (2) Melakukan perhitungan mean, standar deviasi, lambda, alpha, beta dan frekuensi untuk setiap bulannya; (4) Melakukan perhitungan distribusi probabilitas Cumulative Distribution Function (CDF) Gamma;

(5) Melakukan perhitungan koreksi probabilitas kumulatif H(x) untuk menghindari nilai CDF Gamma tidak terdefinisi akibat adanya curah hujan bernilai 0 (nol); dan (6) Transformasi probabilitas kumulatif H(x) menjadi variabel acak normal baku. Hasil yang diperoleh adalah nilai SPEI.

Selanjutnya, untuk membuat peta bahaya kekeringan dapat dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut:

• Menghitung nilai SPEI-12 di masing-masing tahun data

• Mengkelaskan nilai SPEI menjadi 2 kelas yaitu nilai <-0.999 adalah kering (1) dan nilai >0.999 adalah tidak kering (0);

• Hasil pengkelasan nilai SPEI di masing-masing tahun data digabungkan secara keseluruhan (akumulasi semua tahun);

• Menghitung frekuensi kelas kering (1) dengan minimum frekuensi 5 kali kejadian dalam rentang waktu data dijadikan sebagai acuan kejadian kekeringan terendah;

• Melakukan transformasi linear terhadap nilai frekuensi kekeringan menjadi nilai 0 – 1 sebagai indeks bahaya kekeringan;

Gambar 19. Alur Proses Pembuatan Indeks Bahaya Tanah Longsor

(44)

g. Kebakaran Lahan dan Hutan

Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian ekonomi dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar (Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.12/Menhut/- II/2009 tentang Pengendalian Hutan).

Kebakaran hutan dan lahan biasanya terjadi pada wilayah yang vegetasinya rawan untuk terbakar misalnya pada wilayah gambut. Faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan antara lain kekeringan yang berkepanjangan, sambaran petir, dan pembukaan lahan oleh manusia.

Analisis bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berkembang adalah analisis multi-kriteria yang menggabungkan beberapa parameter yang memiliki hubungan sebagai faktor penyebab terjadinya ancaman karhutla. Pada kajian ini, metode pemetaan bahaya karhutla dilakukan dengan pendekatan statistik yang memperhitungkan probabilitas kejadian karhutla menggunakan metode Weight of Evidence (WoE) seperti disajikan pada Gambar berikut.

WoE ini merupakan teknik kuantitatif yang dimotori data, menggunakan sejumlah kombinasi data untuk menghasilkan peta dari pembobotan data, baik yang berbentuk kontinyu (continuous) dan berkategori (categorical), berdasarkan probabilitas prior(awal) dan posterior (sesudah) (Carter 1994; Westen, 2003; Sterlacchini 2007). WoE dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

Gambar 21. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan

(45)

h. Cuaca Ekstrim

Cuaca ekstrim merupakan fenomena cuaca yang dapat menimbulkan bencana, korban jiwa, dan menghancurkan tatanan kehidupan sosial.

Contoh cuaca ekstrim antara lain hujan lebat, hujan es, angin Kencang, dan badai taifun. Pada kajian ini analisis bahaya cuaca ekstrim lebih dititikberatkan kepada Angin Kencang / Puting Beliung.

Angin Kencang merupakan angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit) (BNPB). Terjadinya Angin Kencang diawali dengan terbentuknya siklon yang dapat terjadi ketika wilayah bertekanan udara rendah

dikelilingi oleh wilayah bertekanan udara tinggi. Pada umumnya kasus Angin Kencang di Indonesia ditandai dengan terbentuknya awan kumulonimbus yang menjulang ke atas. Selanjutnya terjadi hujan lebat dengan hembusan angin kuat dalam waktu relatif singkat. Kejadian tersebut dapat memicu terjadinya Angin Kencang.

Pada kajian ini yang dipetakan adalah wilayah

yaitu wilayah dataran landai dengan keterbukaan lahan yang tinggi. Wilayah ini memiliki potensi lebih tinggi untuk terkena dampak Angin Kencang. Sebaliknya, daerah pegunungan dengan keterbukaan lahan rendah seperti kawasan hutan lebat memiliki potensi lebih rendah untuk terdampak Angin Kencang. Oleh karena itu, semakin luas dan landai (datar) suatu kawasan, maka potensi bencana Angin Kencang semakin besar.

Gambar 22. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Cuaca Ekstrim

(46)

i. Gelombang Ekstrim dan Abrasi

Gelombang ekstrim adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.

Sementara itu, abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.

Bahaya gelombang ekstrim dan abrasi dibuat sesuai metode yang ada di dalam Perka No. 2 BNPB Tahun 2012. Parameter penyusun bahaya gelombang ekstrim dan abrasi terdiri dari parameter tinggi gelombang, arus laut, tipologi pantai, tutupan vegetasi, dan bentuk garis pantai.

Pemetaan bahaya gelombang ekstrim dan abrasi hanya dilakukan di daerah darat dikarenakan potensi kerentanan yang akan dihitung hanya yang terdapat di daratan. Mengacu pada hal tersebut parameter yang digunakan bertujuan untuk melihat tingkat

keterpaparan wilayah pesisir terhadap bahaya. Nilai tinggi gelombang dan kecepatan arus digunakan sebagai data awal untuk menghitung potensi bahaya di daratan.

Masing-masing parameter diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Klasifikasi tinggi gelombang dianggap rendah ketika tinggi gelombang di bibir pantai kurang dari 1 m, sedang di antara 1 – 2,5 m, dan tinggi ketika lebih dari 2,5 m. Untuk kecepatan arus dianggap rendah ketika kecepatannya kurang dari 0,2 m/detik, sedang ketika kecepatannya antara 0,2 – 0,4 m/detik, dan tinggi ketika kecepatannya lebih dari 0,4 m/detik.

Setelah diketahui potensi sumber bahayanya selanjutnya dilakukan penilaian terhadap tingkat keterpaparan wilayah pesisir terhadap bahaya tersebut. Oleh karena itu, parameter selanjutnya seperti tipologi (proses terbentuknya) pantai, bentuk garis pantai, dan tutupan lahan digunakan untuk melihat

potensi keterpaparannya. Sebagai contoh Gambar 23. Alur Proses Pembuatan Bahaya Gelombang Ekstrim dan Abrasi

gelombang tinggi lebih dari 2,5 m tidak akan terlalu berbahaya di wilayah pesisir yang berbentuk tebing atau di wilayah yang terdapat banyak hutan mangrove. Ketiga parameter ini juga diklasifikasikan ke dalam tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Klasifikasi tipologi pantai dikategorikan rendah ketika tipologinya berupa daerah pantai yang berbatu karang, sedang ketika tipologinya berupa daerah yang berpasir, dan tinggi ketika tipologi pantainya berupa daerah yang berlumpur.

Bentuk garis pantai berteluk memiliki potensi rendah untuk terpapar, lurus berteluk berpotensi sedang untuk terpapar, dan garis pantai yang lurus berpotensi tinggi untuk terpapar. Parameter terakhir yaitu tutupan lahan memiliki potensi rendah untuk terpapar ketika tutupan lahannya tinggi seperti terdapat hutan mangrove, sedang ketika tutupan lahannya berupa semak belukar, dan tinggi ketika tidak terdapat vegetasi. Seluruh parameter diindeks-kan dengan metode Fuzzy, kemudian digabungkan dengan metode Fuzzy Overlay untuk menentukan indeks bahaya gelombang ekstrim dan abrasi. Sebelum dilakukan overlay, masing- masing parameter diberikan skor dan bobot sesuai dengan pengaruhnya terhadap intensitas bahaya.

(47)

j. Banjir Bandang

Kejadian banjir bandang secara alamiah tidak berhubungan dengan batas administrasi suatu wilayah melainkan terjadi pada suatu sistem ekologi batas Daerah Aliran Sungai (DAS). Banyak kejadian banjir bandang yang terjadi di wilayah tengah atau hilir DAS bersumber dari wilayah hulu DAS (yang merupakan suatu wilayah administratif tertentu).

Dalam rangka mengkaji potensi banjir bandang suatu wilayah, maka pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifkasi cakupan wilayah DAS pada suatu wilayah administratif kabupaten/kota.

Pendekatan tersebut dapat dilakukan secara geospasial dengan ketersediaan peta batas DAS dan peta batas administrasi kabupaten/kota. Hal ini berhubungan dengan konektivitas wilayah banjir bandang berdasarkan karakteristik wilayah DAS.

Gambar 24. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Banjir Bandang

(48)

k. Likuefaksi

GLikuefaksi atau pencairan tanah adalah hilangnya kekuatan dan kekakuan tanah jenuh air akibat adanya perubahan tegangan pada tanah. Akibat dari hilangnya kekuatan tanah ini dapat berupa longsor, perubahan tekstur tanah menjadi lumpur, atau penurunan atau pergerakan tanah secara tiba-tiba menyebabkan daya dukung pondasi menurun dan terjadi kerusakan bangunan/

infrastruktur yang lebih besar.

Data likuefaksi akan menggunakan data bahaya likuefaksi yang sudah disesuaikan oleh Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya

Mineral, tahun 2019. Gambar 25. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Likuefaksi

l. Covid-19

Pada tanggal 11 Maret 2020 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai pandemi karena sebagai wabah patogen baru telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara di seluruh dunia. Kondisi ini telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang lebih besar, dan telah berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Pada tanggal 13 April 2020, Presiden RI menetapkan bencana non-alam penyebaran Covid-19 sebagai bencana nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Covid-19 sebagai Bencana Nasional.

Analis Bahaya penting untuk dilakukan dalam rangka memetakan tingkat bahaya Covid-19 yang ada di dalam suatu daerah. Data-

data yang dapat digunakan dalam penyusunan peta bahaya Covid-19 adalah berupa data spasial yang dapat dilihat pada tabel Kebutuhan data yang digunakan dalam penyusunan peta bahaya covid-19 (tabel 4).

Metode analisis bahaya pandemi Covid-19 disusun dengan metode densitas dan skoring/pembobotan terhadap parameter utama yaitu faktor kerawanan dan faktor pendorong terjadinya penularan melalui tempat-tempat yang berpotensi besar menimbulkan kerumunan.

Faktor kerawanan yang bersumber dari peta rawan kecamatan merupakan parameter penentu tingkat bahaya Covid-19, sedangkan faktor pendorong yang merupakan gabungan dari beberapa parameter densitas lokasi-lokasi berpotensi terjadinya penularan melalui kerumunan orang-orang digunakan sebagai

(49)

pola distribusi sebaran spasial nilai indeks bahaya Covid-19 di masing-masing kecamatan rawan tersebut (tabel 5).

Berdasarkan tingkat kerawanan Covid-19, perhitungan nilai indeks bahaya Covid-19 (IBC19) dilakukan dengan persamaan transformasi linear di masing-masing kelas rawan yaitu:

dimana b adalah nilai indeks maksimum pada suatu kelas bahaya yang setara dengan kelas rawan; a adalah nilai indeks minimum pada suatu kelas bahaya yang setara dengan kelas rawan; x_i adalah nilai indeks faktor pendorong ke-i; x_

min adalah nilai minimum indeks faktor pendorong pada suatu kelas bahaya yang setara dengan kelas rawan; dan x_max adalah nilai maksimum indeks faktor pendorong pada suatu kelas bahaya yang setara dengan kelas rawan.

Table 4. Kebutuhan data yang digunakan dalam penyusunan peta bahaya covid-19

Table 5. Bobot dan Indeks masing-masing Paramater covid-19

(50)

2. Kerentanan

a. Kerentanan Sosial

Kerentanan sosial terdiri dari parameter kepadatan penduduk dan kelompok rentan. Kelompok rentan terdiri dari rasio jenis kelamin, rasio kelompok umur rentan, rasio penduduk miskin, dan rasio penduduk disabilitas. Masing-masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode MCDA sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan sosial.

Pada analisis kerentanan sosial untuk menghasilkan data keluaran dengan skala 1:50.000, distribusi sebaran jumlah penduduk (populasi) dianalisis dengan teknik pemetaan dasimetrik. Estimasi distribusi spasial populasi dilakukan dengan menggunakan persamaan Khomaruddin et al (2010) sebagai berikut:

dimana, Pij adalah jumlah penduduk pada grid/sel ke-i dan ke- j; Sij adalah kelompok permukiman pada grid/sel permukiman ke-i di unit administrasi desa ke-j; Xdi adalah jumlah penduduk di dalam unit administrasi desa/kelurahan ke-i.

Table 6. Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Sosial

Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan sosial, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan sosial dengan menggunakan persamaan berikut:

dimana, Vs adalah indeks kerentanan sosial; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vkp adalah indeks kepadatan penduduk; vrs adalah indeks rasio jenis kelamin; vru adalah indeks rasio penduduk umur rentan; vrd adalah indeks rasio penduduk disabilitas; vrm adalah indeks rasio penduduk miskin.

Gambar 26. Ilustrasi Konsep Analisis Spasial Distribusi Penduduk

(51)

b. Kerentanan Fisik

Kerentanan fisik terdiri dari parameter Rumah, Fasilitas Umum (fasum) dan Fasilitas Kritis (faskris). Masing-masing parameter di- analisis dengan menggunakan metode MCDA sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan fisik.

Table 7. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Fisik

Nilai rupiah mengacu pada satuan harga penggantian kerugian ber- dasarkan tingkat kerusakan rumah, fasum, dan faskris oleh masing- masing Pemerintah Daerah dengan melakukan penyesuaian terha- dap kelas bahaya (kategori kerusakan) yang ada yaitu:

• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerusakan;

• Bahaya Sedang ~ 50% jumlah objek fisik rentan terdampak rusak ringan dikali satuan harga daerah;

• Bahaya Tinggi ~ 50% jumlah objek fisik rentan terdampak ru- sak sedang dikali satuan harga daerah, dan 50% objek fisik rentan terdampak rusak berat dikali satuan harga daerah;

Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan fisik, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan fisik dengan menggunakan persamaan berikut:

dimana, Vs adalah indeks kerentanan sosial; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vrm adalah indeks kerugian rumah; vfu adalah indeks kerugian fasum; vfk adalah indeks kerugian faskris.

(52)

Table 8. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Ekonomi

c. Kerentanan Ekonomi

Kerentanan ekonomi terdiri dari parameter Kontribusi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan Lahan Produktif. Masing- masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode MCDA berdasarkan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan ekonomi.

Parameter PDRB dalam kajian kerentanan ekonomi dianalisis sebagai nilai konstribusi PDRB sektor yang terkait dengan lahan produktif yang dapat terdampak secara langsung (direct impact) oleh kejadian bencana. PDRB sektor lahan produktif, khususnya sektor pertanian dapat diukur dan dianalisis secara spasial dengan pendekatan pada penggunaan lahan yang di suatu daerah.

Analisis spasial nilai kontribusi PDRB untuk kerentanan ekonomi dapat dilakukan hingga pada level desa/kelurahan dengan menggunakan persamaan berikut:

dimana, eij adalah nilai ekonomi lahan (Rp/Ha) pada jenis lahan ke-i dan ke-j; Eij adalah nilai kontribusi PDRB (Rp) pada jenis lahan ke-i dan pada desa/kelurahan ke-j; Bi adalah nilai PDRB (Rp) sub sektor pada jenis lahan ke-i di level kabupaten/kota; Li adalah luas jenis lahan ke-j di level kabupaten/kota; Ldij adalah adalah luas jenis lahan ke-i dan desa ke-j.

Parameter lahan produktif dalam kajian kerentanan ekonomi dianalisis sebagai jumlah kerugian yang dapat timbul (potensi) akibat lahan produktif yang secara umum merupakan lahan- lahan pertanian (lahan pangan, perkebunan, dan perikanan darat) berada pada daerah yang berpotensi terdampak (bahaya) bencana.

Acuan nilai ekonomi lahan produktif menggunakan data hasil analisis kontribusi PDRB dengan melakukan penyesuaian kondisi terhadap kelas bahaya yang ada yaitu dengan asumsi:

• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerugian;

• Bahaya Sedang ~ 50% jumlah kerugian lahan produktif;

• Bahaya Tinggi ~ 100% jumlah kerugian lahan produktif;

Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan ekonomi, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan ekonomi dengan menggunakan persamaan berikut:

dimana, Ve adalah indeks kerentanan ekonomi; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vpd adalah indeks kontribusi PDRB; vlp adalah indeks kerugian lahan produktif.

(53)

d. Kerentanan Lingkungan

Kerentanan lingkungan terdiri dari parameter hutan lindung, hu- tan alam, hutan bakau/mangrove, semak/belukar, dan rawa.

Masing-masing parameter digunakan berdasarkan jenis bencana yang telah ditentukan dan dianalisis dengan menggunakan me- tode MCDA berdasarkan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan lingkungan.

Analisis parameter kerentanan lingkungan tidak melibatkan pem- bobotan antar parameter karena merupakan data spasial yang tidak saling bersinggungan dan dapat tersedia langsung pada data penggunaan/penutup lahan. Masing-masing parameter

dalam kajian kerentanan lingkungan dianalisis sebagai jumlah luasan (Ha) lahan yang berfungsi ekologis lingkungan yang ber- potensi (terdampak) mengalami kerusakan akibat berada dalam suatu daerah (bahaya) bencana. Penyesuaian kondisi parameter terhadap masing-masing kelas bahaya dapat diasumsikan seba- gai berikut:

• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerusakan;

• Bahaya Sedang ~ 50% luasan lingkungan terdampak keru- sakan;

• Bahaya Tinggi ~ 100% luasan lingkungan terdampak keru- sakan;

Table 9. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Lingkungan

(54)

e. Indeks Kerentanan

Indeks kerentanan masing-masing ancaman diperoleh dari hasil penggabungan skor kerentanan sosial, fisik, dan ekonomi dengan menggunakan bobot masing-masing komponen kerentanan sebagai berikut:

Gempabumi : IKG=(IKS x 40%)+(IKF x 30%)+(IKE x 30%)

Tsunami : IKT=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Gunungapi : IKLGA=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Banjir : IKB=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Tanah Longsor : IKTL=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Kekeringan : IKK=(IKS x 50%)+(IKE x 40%)+(IKL x 10%)

KarlaHut : IKKLH=(IKE x 40%)+(IKL x 60%)

Cuaca Ekstrim : IKCE=(IKS x 40%)+(IKF x 30%)+(IKE x 30%)

Gel. Ekstrim & Abrasi :IKGEA=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Banjir Bandang : IKBB=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%)

Keterangan :

IKG = Indeks Kerentanan Gempabumi IKT = Indeks Kerentanan Tsunami

IKLGA = Indeks Kerentanan Letusan Gunungapi IKB = Indeks Kerentanan Banjir

IKTL = Indeks Kerentanan Tanah Longsor IKK = Indeks Kerentanan Kekeringan

IKKLH = Indeks Kerentanan Kebakaran Lahan & Hutan IKCE = Indeks Kerentanan Cuaca Ekstrim

IKGEA = Indeks Kerentanan Gel. Ekstrim & Abrasi IKBB = Indeks Kerentanan Banjir Bandang IKS = Indeks Kerentanan Sosial

IKF = Indeks Kerentanan Fisik IKE = Indeks Kerentanan Ekonomi IKL = Indeks Kerentanan Lingkungan

(55)

3. Risiko

Konsep umum pengkajian risiko bencana dilakukan dengan pendekatan formula berikut:

Gambar 27. Alur Proses Penyusunan Peta Risiko Namun, pendekatan ini tidak dapat disamakan dengan rumus

matematika. Pendekatan ini digunakan untuk memperlihatkan hubungan antara bahaya, kerentanan dan kapasitas yang membangun perspektif tingkat risiko bencana suatu kawasan.

Dalam perhitungan secara matematis dan spasial, risiko bencana dinilai dalam bentuk nilai indeks yang merupakan gabungan nilai dari indeks bahaya, indeks kerentanan, dan indeks kapasitas yang dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut:

(56)

4. Penarikan Kesimpulan Kelas

Pengkajian Risiko Bencana menggunakan unit analisis desa untuk mendeskripsikan kelas bencana. Penentuan kelas yang akan dijelaskan berlaku untuk kajian bahaya, kerentanan dan risiko.

Penentuan kelas tersebut sesuai ketentuan kelas rendah, sedang, tinggi. Nilai indeks mayoritas adalah unit analisis yang digunakan untuk menentukan kelas per desa. Kelas maksimal per desa digunakan untuk menentukan kelas di tingkat kecamatan.

Selanjutnya kelas maksimal per kecamatan digunakan untuk menentukan kelas di tingkat kabupaten.

Sebagai ilustrasi, jika suatu desa memiliki luas 300 ha dengan hasil kajian bahaya, kerentanan dan risiko menunjukkan sebesar 50 ha kelas rendah, 100 ha kelas sedang, dan 150 ha kelas tinggi, maka penarikan kesimpulan kelas pada desa tersebut adalah tinggi. Sementara itu untuk tingkat kecamatan, penentuan kelas menggunakan kelas desa maksimum yang terdapat di kecamatan tersebut. Ilustrasinya, jika suatu kecamatan memiliki 5 desa dengan 3 desa pada kelas rendah, 2 desa kelas sedang, dan 1 desa kelas tinggi maka kesimpulan kelas di kecamatan tersebut adalah tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk penarikan kesimpulan kelas kabupaten yaitu kelas disimpilkan dari kelas kecamatan maksimum yang terdapat di kabupaten tersebut. Ilustrasinya, jika suatu kabupaten terdiri dari 6 kecamatan dengan 2 kecamatan pada kelas rendah, 3 kecamatan kelas sedang, dan 1 kecamatan kelas tinggi, maka kesimpulan kelas bahaya, kerentanan dan risiko di kabupaten tersebut adalah tinggi. Penarikan kesimpulan kelas bahaya, kerentanan, dan risiko dapat dilihat pada Gambar 28.

Gambar 29. Pengambilan Kesimpulan Kelas Kapasitas.

Sumber: Modul Teknis Kajian Risiko Bencana BNPB, 2019

Pengambilan kesimpulan untuk indeks kapasitas berbeda dengan metode pengambilan kesimpulan kelas bahaya, kerentanan dan risiko. Penarikan kesimpulan kelas kapasitas untuk tingkat desa diambil dari hasil perhitungan indeks ketahanan daerah (IKD) dan kesiapsiagaan masyarakat.

Selanjutnya dalam penentuan kelas kapasitas kecamatan dengan menggunakan rata-rata indeks kapasitas desa yang terdapat di kecamatan tersebut. Pada tingkat kabupaten, penentuan kelas kapasitas disimpulkan berdasarkan rata- rata indeks kapasitas seluruh desa yang terdapat di kabupaten tersebut.

Pengambilan kesimpulan untuk kelas kapasitas digambarkan pada gambar 29.

Gambar 28. Pengambilan Kesimpulan Kelas Bahaya, Kerentanan dan Risiko. Sumber: Modul Teknis Kajian Risiko

Bencana BNPB, 2019

(57)
(58)

HASIL

KAJIAN RISIKO

BENCANA

(59)
(60)

1. Gempabumi

a. Gambaran singkat

Negara Indonesia tergolong rawan bencana geologi, khususnya bencana gempa bumi. Hal ini berkaitan dengan keberadaan sumber gempa bumi yang terbentuk akibat interaksi empat lempeng tektonik yang terdapat di Indonesia, yaitu : Lempeng Benua Eurasia yang bergerak lambat ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 0,4 cm/ tahun, Lempeng Samudera Indo - Australia yang bergerak ke arah utara dengan kecepatan sekitar 7 cm/ tahun, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 11 cm/ tahun dan Lempeng Laut Philiphina yang bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 8 cm/ tahun (Minster dan Jordan, 1978 dalam Yeats, 1997).

Pertemuan antar lempeng tersebut mengakibatkan terbentuknya cekungan muka, cekungan belakang, jalur magmatik, pola struktur geologi dan sumber gempa bumi yaitu : zona subduksi, zona kolisi, dan sesar aktif.

Berdasarkan catatan dari Badan Geologi sejak tahun 2000 hingga 2021 telah terjadi sebanyak 5 hingga 26 kejadian gempa bumi merusak (destructive earthquake) di Indonesia, artinya kejadian gempa bumi tersebut telah mengakibatkan terjadinya korban jiwa, kerusakan bangunan, kerusakan lingkungan dan kerugian harta benda

Kejadian gempa bumi merusak pada tahun 2021 merupakan tertinggi dalam kurun 20 tahun terakhir sebanyak 26 kali. Kejadian gempa bumi merusak tahun 2021 diawali dengan gempa bumi di Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah tanggal 4 Januari 2021 dan diakhiri oleh kejadian gempa bumi Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada tanggal 30 Desember 2021. Kejadian gempa bumi merusak tersebut mengakibatkan jumlah korban jiwa 119 orang meninggal dan 6.803 orang luka-luka. Selama tahun 2021 kejadian gempa bumi yang mengakibatkan dampak besar adalah gempa bumi Mamuju tanggal 15 Januari 2021 dengan magnitudo (M 6,2) pada kedalaman 10 km. Kejadian gempa bumi ini mengakibatkan 105 meninggal, 6.489 orang luka-luka dan kantor

(61)

Gubernur Sulawesi Barat mengalami rusak berat (Kementerian Energi dan Sumberdaya mineral).

Proses terjadinya gempa sangat sulit untuk diamati secara langsung, sebab melibatkan interaksi yang sangat kompleks antara materi dan energi yang terdapat pada sistem sesar aktif di bawah permukaan bumi. Dengan demikian proses ini juga sangat sulit untuk diprediksi. Pada wilayah tertentu, aktivitas kegempaan dapat diam selama ratusan atau bahkan ribuan tahun, namun tiba-tiba terjadi dengan melepaskan energi besar yang dapat merusak lingkungan alami maupun buatan.

Proses gempa melibatkan proses fisika yang tidak biasa tentang bagaimana materi dan energi berinteraksi selama kondisi ekstrim dari pecahnya batuan/lempeng bumi. Selama ini belum ada teori yang dapat digunakan untuk menggambarkan dengan jelas terkait dengan dinamika ruptur/pecahnya batuan dan pembangkit energi gempa. Gempa bumi belum dapat diprediksi lokasi, waktu,

tahu bahwa gempa besar suatu saat akan terjadi, dampaknya tetap masih sulit untuk diantisipasi.

Terkait dengan upaya untuk mengurangi risiko bencana gempa bumi di Indonesia, langkah pertama yang terpenting untuk dilakukan adalah melakukan pemetaan risiko bencana gempa bumi di seluruh wilayah di Indonesia. Peta ini diperlukan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan risiko gempa yang tinggi. Dengan diketahuinya wilayah-wilayah dengan risiko gempa yang tinggi, antisipasi untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin timbul di wilayah-wilayah tersebut dapat dilakukan sedini mungkin. Selama ini wilayah Sumatera Barat berdasarkan hasil studi telah diberitakan akan mengalami gempa besar. Namun para ahli gempa belum bisa memprediksi kapan tepatnya dan seberapa besar. Dalam hal ini diyakini bahwa pemahaman yang mendalam tentang teori proses pecahnya batuan (rupture process) sangatlah diperlukan.

Dengan demikian, jelas bahwa penelitian dasar dalam fisika gempa perlu terus didorong untuk meningkatkan pemahaman praktis tentang bahaya gempa. Selain penelitian dasar potensi dan proses fisis gempabumi diperlukan juga upaya-upaya untuk meningkatkakan pemahaman pengetahauan dasar mengenai faktor fisis, rekayasa dan sosial yang terkait implementasi pengurangan risiko dan strategi mitigasi bencana gempabumi.

Sementara itu untuk keperluan diseminasi informasi diperlukan suatu pengembangan sistem informasi saat dan paska gempa yang lebih baik.

Gambar 30. Kejadian gempa bumi merusak di Indonesia tahun 2000 hingga 2021

(62)

Gambar 32. Episenter gempa utama di Indonesia dan sekitarnya untuk magnitudo, M ≥ 5.0 yang dikumpulkan dari berbagai sumber dalam rentang waktu tahun 1900-2009.

Gambar 31. Distribusi episenter gempa global dari tahun 1964 sampai dengan 2006.

Simbol: titik merah dan segitiga kuning masing-masing menun- jukkan episenter gempa dan stasiun pengamat. (Sumber:

Engdahl dkk, 1998).

(63)

PROVINSI SOSIAL (Jiwa) FISIK (Rp Juta) EKONOMI (Rp Juta)

ACEH 5.325.224 29.070.591 23.533.664

BALI 4.273.992 13.169.629 10.156.345

BANTEN 11.788.692 26.761.401 17.940.416

BENGKULU 2.026.939 21.389.985 19.465.012

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

3.675.662 23.586.595 6.396.047

DKI JAKARTA 11.246.068 11.303.088 487.541

GORONTALO 1.198.765 12.372.480 13.203.159

JAMBI 3.557.073 5.375.470 8.347.692

JAWA BARAT 47.533.935 160.287.756 84.848.232

JAWA TENGAH 37.117.763 22.126.573 13.302.557

JAWA TIMUR 40.994.002 56.912.821 46.678.700

KALIMANTAN BARAT 5.461.993 - -

KALIMANTAN SELATAN 4.103.548 - -

KALIMANTAN TENGAH 2.639.990 - -

KALIMANTAN TIMUR 3.803.972 4.580 16.357

KALIMANTAN UTARA 692.239 - -

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

1.455.485 - -

KEPULAUAN RIAU 2.051.156 - -

LAMPUNG 8.851.566 16.375.338 19.192.577

MALUKU 1.875.506 9.336.547 3.397.322

MALUKU UTARA 1.315.732 8.199.095 4.573.929

NUSA TENGGARA BARAT 5.389.670 35.388.286 16.678.285 NUSA TENGGARA TIMUR 5.452.547 34.652.765 17.331.798

PAPUA 4.190.249 21.089.139 14.262.246

PAPUA BARAT 1.150.081 6.093.753 3.748.666

RIAU 6.210.759 158.690 525.619

SULAWESI BARAT 2.711.368 2.900.693 2.505.608

SULAWESI SELATAN 8.962.956 2.875.417 4.659.638

SULAWESI TENGAH 3.032.535 21.642.976 21.589.577

SULAWESI TENGGARA 2.617.230 21.382 14.958

SULAWESI UTARA 2.674.331 15.380.897 11.142.474

SUMATERA BARAT 5.424.710 45.778.023 36.872.902

SUMATERA SELATAN 8.441.106 11.410.670 7.196.275

SUMATERA UTARA 15.158.566 40.946.187 48.639.843

TOTAL 270.378.471 633.220.8 456.707.439

b. Matriks Kajian Risiko

Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang disusun oleh BNPB pada tahun 2021, terlihat bahwa jumlah jiwa terpapar risiko bencana gempabumi terbesar berada di Pulau Jawa dengan potensi nilai aset terpapar di Pulau Jawa melebihi Rp. 300 Triliun. Secara rinci, hasil kajian risiko bencana gempabumi dapat terlihat dalam Tabel 10 berikut.

Table 10. Matriks jumlah paparan risiko bencana gempabumi di wilayah Provinsi

(64)
(65)
(66)

2. Tsunami

a. Gambaran singkat

Tsunami merupakan salah satu ancaman bencana untuk banyak wilayah pesisir di Indonesia. Bencana ini umumnya dipicu oleh terjadinya gempabumi di laut yang menyebabkan pergeseran secara vertikal didasar laut. Analisis ancaman tsunami dimaksudkan untuk mengetahui karakter tsunami yang mungkin telah terjadi atau akan terjadi dengan mempertimbangkan mekanisme sumber, lokasi, penjalaran gelombang, perambatan gelombang tsunami serta ketinggian genangan tsunami. Tsunami merupakan bencana dengan karakter fast-onset disaster atau jenis bencana dengan proses yang cepat. Tsunami dapat terjadi bersumber dari lokasi yang dekat (near field) yang waktu penjalarannya kurang dari 30 menit dari sumber ke garis pantai pantauan dan lokasi yang jauh (far-field) yang waktu penjalaran ke wilayah pantai pantauan lebih lama dari 30 menit atau sumber tsunami memiliki jarak lebih jauh dari 1000 km (Okal dan Synolakis, 2008a; Okal dan Synolakis, 2008b). Karakter-karakter ancaman tsunami cenderung site-specific yang menyebabkan kita harus secara khusus pula melakukan analisis terhadap ancaman tersebut dan menghindari proses generalisasi. Karakter kejadian tsunami di Indonesia umumnya bersifat lokal, dimana jarak sumber terjadinya tsunami relatif dekat sehingga hanya memiliki waktu yang singkat untuk melakukan upaya antisipasi atau evakuasi.

Selain gempabumi, letusan gunungapi aktif juga dapat memicu terjadinya tsunami. Salah satu tsunami yang disebabkan oleh meletusnya gunungapi adalah peristiwa tsunami yang terjadi pada Tanggal 27 Agustus 1883 yang disebabkan oleh meletusnya Gunungapi Krakatau (van der Bergh et al., 2003), dimana mengakibatkan 36.000 jiwa meninggal.

Berdasarkan catatan sejarah, tsunami bukanlah bencana baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejak tahun 1600 sampai dengan tahun 2007, Indonesia telah mengalami beberapa

(67)

kali tsunami besar dan hampir 90% kejadiannya disebabkan oleh gempa bumi di laut, 9% diakibatkan oleh letusan gunung api dan 1% karena tanah longsor bawah laut (Latief dkk., 2000).

Dalam kurun waktu tersebut tercatat lebih kurang 172 tsunami telah terjadi di Indonesia. Dari rentang waktu tersebut, tercatat bahwa lebih dari 40% kejadian tsunami terjadi di kawasan timur Indonesia, dimana pusat gempa berada di kawasan Laut Maluku.

Gambar berikut menunjukkan kejadian tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi dengan berbagai mekanisme sumber.

Berdasarkan mekanisme sumber, 75% kejadian disebatkan oleh sesar naik, 20% karena sesar geser, dan 5% karena sesar normal (Puspito, 2008).

Catatan kejadian tsunami yang juga pernah ditemukan adalah tsunami 1907 yang terjadi di sekitar Pulau Simeulue, Provinsi

Aceh. Kemudian bencana tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan kawasan pesisir Samudera Hindia juga sudah menjadi catatan sejarah bencana yang sangat kelam di Indonesia.

Pusat gempa berada di perairan Samudera Hindia (255 km terhadap Kota Banda Aceh), dengan magnitud 9,2 pada kedalaman pusat gempa (focal depth) sebesar 30 km.

Penjalaran gelombang tsunami mencapai sepuluh negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia (Shaw, 2006), yaitu Indonesia (Aceh dan Nias), Malaysia, Thailand, Srilangka, Maladewa, Bangladesh,

Gambar

Gambar 1. Peta tektonik wilayah Indonesia dari data geodetik hingga tahun 2016,  vektor kecepatan pada referensi sistem ITRF 2008
Gambar 3. Ilustrasi penampang wilayah aktivitas tektonik Semangka di Lampung (hampir mencapai 2.000 km)
Gambar 4. Perbandingan Luas Tutupan Lahan terhadap Luas Daratan Indonesia Tahun 2020
Gambar 15. Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Gempabumi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data hasil penilaian kerusakan dan kerugian yang dikumpulkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai dengan tanggal 31 Desember

Frekuensi kejadian bencana angin puting beliung di Indonesia selama periode 1990-2011 paling banyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah yang berdampak pada banyaknya

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada periode tahun 2010 - tahun 2015 menyebutkan bahwa Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Hulu Sungai

 Karakteristik kajian geografis adalah holistik dan komprehensif  Tidak ada wilayah yang tidak mempunyai ancaman bencana.  Kejadian bencana akan terus berulang di waktu yang

CONTOH SOAL AM MATEMATIKA MI Bentuk Soal: Isian Singkat Nomor Soal: 1 Berdasarkan data BNPB, rata-rata kejadian bencana di pulau Sulawesi sepanjang tahun 2021 sebanyak … kejadian..