• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risiko Sistemik Indonesia

Dalam dokumen BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023 (Halaman 138-143)

BAB IV RISIKO MULTI BAHAYA

E. Risiko Sistemik Indonesia

risiko sistemik diperlukan identifikasi terhadap kemungkinan munculnya ancaman-ancaman ikutan beserta luasan sebarannya maupun dampak lansung dan tidak langsung terhadap sistem dan sektor. Relasi dan koneksi antar sektor yang menyebabkan kerugian menjadi massif. Dalam skala besar dapat meliputi lintas wilayah administrasi serta memicu collapse system. Aspek keterkaitan dan ketergantungan tersebut belum tergambar dalam analisis atau kajian risiko bencana saat ini di Indonesia.

Untuk itu, atribut analisis risiko relasional dan procedural yang menyebabkan dampak berjenjang diperlukan dalam sebuah kajian risiko bencana dimasa mendatang agar dapat menyajikan informasi risiko sistemik.

Singkatnya, diperlukan pengembangan scenario spesifik melalui dukungan ilmu

pengetahuan dan teknologi.

Selain itu, informasi elemen berisiko juga perlu dimodelkan dengan mempertimbangkan ragam aspek yang saling terkait, seperti kondisi keterkaitan biofisik, sosial ekonomi, dan detail informasi lainnya.

Tantangan utama dalam menganalisis risiko sistemik adalah fokus masalah. Dalam risiko sistemik, kausalitas dikaburkan oleh kompleksitas factor-faktor kerentanan, sehingga meningkatkan kesulitan

dalam memprediksi relasi antar factor tersebut. Sebagaimana risiko sistemik meliputi lintas sistem serta factor penyebab dampak lintas batas wilayah/

kawasan dan sektor. Sehingga sangat penting dalam sebuah

spesifik telah menyasar sebuah sistem dan sektor apa saja yang paling berisiko terdampak serta peluang kejadiannya.

Secara garis besar, karakteristik risiko sistemik dapat diamati dari skala dampak, relasi antar sektor dan sistem, pemahaman terhadap risiko, dampak lintas kawasan, dan dampak yang mungkin diakibatkan dari semua komponen risiko sistemik baik langsung maupun tidak langsung dalam ruang dan waktu.

Diagram dibawah merupakan sinteasa karakteristik risiko sistemik (Gambar 51):

Gambar 51. Sintesa domain definisi risiko sistemik berdasarkan kompilasi berbagai literature, dimuat dalam Brief Note Systemic

Pengelolaan Risiko Sistemik

Pengalaman Indonesia menghadapi ragam risisko bencana diberbagai level dan skala intensitas, telah memberikan pelajaran bahwa pentingnya memastikan system tata kelola pengurangan risiko bencana yang berfungsi dengan baik dan adaptif. Seperti bagaimana memastikan rantai pasokan tetap dapat bekerja ketika terjadi shock atau stress yang diakibatkan kejadian-kejadian yang berdampak sistemik. Selain itu, bagaimana agar lintas sektor pembangunan dapat saling terintegrasi dan sinergis dalam pengelolaan risiko bencana, seperti perawatan kesehatan, pangan, jaminan sosial, dan pendidikan.

Setidaknya terdapat 4 elemen kunci dalam dimensi pengelolaan risiko sistemik, diantaranya:

1. Bagaimana akar masalah kerentanan perlu diindentifikasi pada tiap tingkatan pemerintahan dan sektor;

2. Pemahaman terhadap risiko yang saling terkait dan berjenjang serta ketidakpastian risiko yang mungkin dihadapi terhadap ancaman tertentu;

3. Penguatan tata kelola pengurarang risiko bencana yang integrative dan adaptif diberbagai level pemerintahan; dan

4. Penguatan respon sosial terhadap potensi risiko, dalam hal ini kepemimpinan dan kapasitas lokal dalam merespon dan beradaptasi menjadi esensial.

Sistem layanan dasar sangat fundamental dalam pengelolana risiko sistemik. Sebagaimana sistem layanan dasar, seperti rantai pasokan, fasilitas layanan kesehatan, ketersedian pangan, jaminan sosial, dan aktivitas ekonomi saling terdampak dan bahkan tidak berfungsi ketika pandemic COVID-19. Dengan demikian, pengelolaan risiko sistemik perlu terintegrasi dalam 6 layanan dasar Standard Pelayanan Minimum (SPM).

Oleh karenanya, daerah-daerah yang memiliki risiko tinggi perlu melakukan kajian risiko sistemik diwilayahnya serta merumuskan agenda pembangunannya dengan mempertimbangkan

risiko sistemik yang berperspektif lintas wilayah dan sektor. Selain itu, diperlukan penterjemahan agenda kebijakan kedalam program- program praktis yang dapat membangun resiliensi masyarakat tingkat tapak dalam menghadapi potensi risiko sistemik yang ada.

Pengalaman penangan COVID-19 yang melibatkan warga terbukti efektif saat-saat krisis.

Pendekatan aksi antisipasif (Anticipatory Action) dapat menjadi sebuah pendekatan dalam pengelolaan risiko sistemik. Pendekatan antisipatif berupaya menyiapakan sumberdaya yang dapat dimobilisir sesat ketika terjadi eskalasi krisis. Penyediaan sumberdaya disiapkan pada fase tenang dimana tidak ada eskalasi krisis dengan mengacu pada scenario dampak yang dibangun sebelumnya.

Melalui pendekatan ini, eskalasi krisis yang dapat menyebabkan risiko sistematis dapat direduksi baik besaran maupun waktunya (lihat gambar). Pemerintah Indonesia sendiri saat ini sedang mengembangkan skema Perlindungan Sosial Adaptif yang secara prinsip menggunakan pendekatan aksi antisipatif ini.

Gambar 52. Skema perbandingan pendekatan aksi antisipatif versus pendekatan responsive dalam penangan krisis (Sillman J., et al.,202)

Keberhasilan pengelolaan risiko sistemik membutuhkan pendekatan sistem (System Approach) yang mampu mengindentifikasi system prioritas yang perlu mendapatkan fokus dalam intervensi pengurangan risiko. Intervensi dapat berupa membangun sebuah kapasitas resiliensi baik indivisu maupun institusi dalam sebuah sistem dan wilayah. Kapasitas resiliensi disini merujuk pada aspek kapasitas bertahan (coping) menghadapai shock dan stress, kapasitas beradaptasi dengan perubahan, dan kapasitas trasformatif dimana perubahan paradigma dan prilaku dalam sebuah sistem.

Dalam konteks ini adalah pergeseran dari paradigma pengelolaan risiko bencana menuju resiliensi.

Pemerintah Indonesia sendiri telah berupaya mengintegrasikan disiplin Pengurangan Risiko Bencana, Perubahan Iklim, dan Pembangunan

Berkelanjutan kedalam ragam kebijakan pembangunannya.

Proses pengintegrasian tersebut merupakan manifestasi dari upaya Indonesia mengelola risiko sistemik serta pergeseran paradigma dari pengelolan risiko menuju resiliensi. Upaya pelembagaan komitmen tersebut dilakukan melalui kerangka regulasi baik tingkat nasional maupun daerah.

Namun, dengan semakin komplek dan tidak pastinya risiko global yang dihadapi, Indonesia perlu terus mengembangkan tata kelola yang adaptif agar risiko sistemik selaras dengan kerangka kerja Resiliensi Berkelanjutan (Sustainable Resilience).

Skema komitmen global dalam penanggulangan risiko sistemik sebaiknya tidak berhenti pada tataran normative sebuah kerangka kerja, namun perlu dipastikan agar implementasinya dapat diterjemahkan menjadi program dan aksi pada berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari tingkat nasional hingga ketingkat tapak. Untuk itu, diperlukan penguatan kapasitas lokal dalam pengelolaan risiko sistemik.

Gambar 53 Skema perubahan kerangka strategi risiko iklim menuju ke membangun tata kelola ketahan iklim (climate resilient development) (Sumber :IPCC AR6 WGII Summary For Policymakers, 2022).

Dalam dokumen BUKU RISIKO BENCANA INDONESIA 2023 (Halaman 138-143)

Dokumen terkait