BENCANA
2. Kerentanan
a. Kerentanan Sosial
Kerentanan sosial terdiri dari parameter kepadatan penduduk dan kelompok rentan. Kelompok rentan terdiri dari rasio jenis kelamin, rasio kelompok umur rentan, rasio penduduk miskin, dan rasio penduduk disabilitas. Masing-masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode MCDA sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan sosial.
Pada analisis kerentanan sosial untuk menghasilkan data keluaran dengan skala 1:50.000, distribusi sebaran jumlah penduduk (populasi) dianalisis dengan teknik pemetaan dasimetrik. Estimasi distribusi spasial populasi dilakukan dengan menggunakan persamaan Khomaruddin et al (2010) sebagai berikut:
dimana, Pij adalah jumlah penduduk pada grid/sel ke-i dan ke- j; Sij adalah kelompok permukiman pada grid/sel permukiman ke-i di unit administrasi desa ke-j; Xdi adalah jumlah penduduk di dalam unit administrasi desa/kelurahan ke-i.
Table 6. Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Sosial
Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan sosial, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan sosial dengan menggunakan persamaan berikut:
dimana, Vs adalah indeks kerentanan sosial; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vkp adalah indeks kepadatan penduduk; vrs adalah indeks rasio jenis kelamin; vru adalah indeks rasio penduduk umur rentan; vrd adalah indeks rasio penduduk disabilitas; vrm adalah indeks rasio penduduk miskin.
Gambar 26. Ilustrasi Konsep Analisis Spasial Distribusi Penduduk
b. Kerentanan Fisik
Kerentanan fisik terdiri dari parameter Rumah, Fasilitas Umum (fasum) dan Fasilitas Kritis (faskris). Masing-masing parameter di- analisis dengan menggunakan metode MCDA sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan fisik.
Table 7. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Fisik
Nilai rupiah mengacu pada satuan harga penggantian kerugian ber- dasarkan tingkat kerusakan rumah, fasum, dan faskris oleh masing- masing Pemerintah Daerah dengan melakukan penyesuaian terha- dap kelas bahaya (kategori kerusakan) yang ada yaitu:
• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerusakan;
• Bahaya Sedang ~ 50% jumlah objek fisik rentan terdampak rusak ringan dikali satuan harga daerah;
• Bahaya Tinggi ~ 50% jumlah objek fisik rentan terdampak ru- sak sedang dikali satuan harga daerah, dan 50% objek fisik rentan terdampak rusak berat dikali satuan harga daerah;
Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan fisik, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan fisik dengan menggunakan persamaan berikut:
dimana, Vs adalah indeks kerentanan sosial; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vrm adalah indeks kerugian rumah; vfu adalah indeks kerugian fasum; vfk adalah indeks kerugian faskris.
Table 8. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Ekonomi
c. Kerentanan Ekonomi
Kerentanan ekonomi terdiri dari parameter Kontribusi PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dan Lahan Produktif. Masing- masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode MCDA berdasarkan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan ekonomi.
Parameter PDRB dalam kajian kerentanan ekonomi dianalisis sebagai nilai konstribusi PDRB sektor yang terkait dengan lahan produktif yang dapat terdampak secara langsung (direct impact) oleh kejadian bencana. PDRB sektor lahan produktif, khususnya sektor pertanian dapat diukur dan dianalisis secara spasial dengan pendekatan pada penggunaan lahan yang di suatu daerah.
Analisis spasial nilai kontribusi PDRB untuk kerentanan ekonomi dapat dilakukan hingga pada level desa/kelurahan dengan menggunakan persamaan berikut:
dimana, eij adalah nilai ekonomi lahan (Rp/Ha) pada jenis lahan ke-i dan ke-j; Eij adalah nilai kontribusi PDRB (Rp) pada jenis lahan ke-i dan pada desa/kelurahan ke-j; Bi adalah nilai PDRB (Rp) sub sektor pada jenis lahan ke-i di level kabupaten/kota; Li adalah luas jenis lahan ke-j di level kabupaten/kota; Ldij adalah adalah luas jenis lahan ke-i dan desa ke-j.
Parameter lahan produktif dalam kajian kerentanan ekonomi dianalisis sebagai jumlah kerugian yang dapat timbul (potensi) akibat lahan produktif yang secara umum merupakan lahan- lahan pertanian (lahan pangan, perkebunan, dan perikanan darat) berada pada daerah yang berpotensi terdampak (bahaya) bencana.
Acuan nilai ekonomi lahan produktif menggunakan data hasil analisis kontribusi PDRB dengan melakukan penyesuaian kondisi terhadap kelas bahaya yang ada yaitu dengan asumsi:
• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerugian;
• Bahaya Sedang ~ 50% jumlah kerugian lahan produktif;
• Bahaya Tinggi ~ 100% jumlah kerugian lahan produktif;
Setelah diperoleh data indeks masing-masing parameter penyusun kerentanan ekonomi, maka proses selanjutnya adalah menggabungkan semua indeks parameter menjadi indeks kerentanan ekonomi dengan menggunakan persamaan berikut:
dimana, Ve adalah indeks kerentanan ekonomi; FM adalah fungsi keanggotaan fuzzy; vpd adalah indeks kontribusi PDRB; vlp adalah indeks kerugian lahan produktif.
d. Kerentanan Lingkungan
Kerentanan lingkungan terdiri dari parameter hutan lindung, hu- tan alam, hutan bakau/mangrove, semak/belukar, dan rawa.
Masing-masing parameter digunakan berdasarkan jenis bencana yang telah ditentukan dan dianalisis dengan menggunakan me- tode MCDA berdasarkan Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai indeks kerentanan lingkungan.
Analisis parameter kerentanan lingkungan tidak melibatkan pem- bobotan antar parameter karena merupakan data spasial yang tidak saling bersinggungan dan dapat tersedia langsung pada data penggunaan/penutup lahan. Masing-masing parameter
dalam kajian kerentanan lingkungan dianalisis sebagai jumlah luasan (Ha) lahan yang berfungsi ekologis lingkungan yang ber- potensi (terdampak) mengalami kerusakan akibat berada dalam suatu daerah (bahaya) bencana. Penyesuaian kondisi parameter terhadap masing-masing kelas bahaya dapat diasumsikan seba- gai berikut:
• Bahaya Rendah ~ tidak ada kerusakan;
• Bahaya Sedang ~ 50% luasan lingkungan terdampak keru- sakan;
• Bahaya Tinggi ~ 100% luasan lingkungan terdampak keru- sakan;
Table 9. Penentuan Bobot dan Indeks masing-masing Paramater Kerentanan Lingkungan
e. Indeks Kerentanan
Indeks kerentanan masing-masing ancaman diperoleh dari hasil penggabungan skor kerentanan sosial, fisik, dan ekonomi dengan menggunakan bobot masing-masing komponen kerentanan sebagai berikut:
Gempabumi : IKG=(IKS x 40%)+(IKF x 30%)+(IKE x 30%)
Tsunami : IKT=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Gunungapi : IKLGA=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Banjir : IKB=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Tanah Longsor : IKTL=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Kekeringan : IKK=(IKS x 50%)+(IKE x 40%)+(IKL x 10%)
KarlaHut : IKKLH=(IKE x 40%)+(IKL x 60%)
Cuaca Ekstrim : IKCE=(IKS x 40%)+(IKF x 30%)+(IKE x 30%)
Gel. Ekstrim & Abrasi :IKGEA=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%) Banjir Bandang : IKBB=(IKS x 40%)+(IKF x 25%)+(IKE x 25%)+(IKL x 10%)
Keterangan :
IKG = Indeks Kerentanan Gempabumi IKT = Indeks Kerentanan Tsunami
IKLGA = Indeks Kerentanan Letusan Gunungapi IKB = Indeks Kerentanan Banjir
IKTL = Indeks Kerentanan Tanah Longsor IKK = Indeks Kerentanan Kekeringan
IKKLH = Indeks Kerentanan Kebakaran Lahan & Hutan IKCE = Indeks Kerentanan Cuaca Ekstrim
IKGEA = Indeks Kerentanan Gel. Ekstrim & Abrasi IKBB = Indeks Kerentanan Banjir Bandang IKS = Indeks Kerentanan Sosial
IKF = Indeks Kerentanan Fisik IKE = Indeks Kerentanan Ekonomi IKL = Indeks Kerentanan Lingkungan