V
Beragama merupakan refleksi kehidupan berpikir, hal senada diungkap Frederick Hegel. Frederic Schleimacher menyebut rasa ketergantungan muthlak (sence of depend) manusia yang menyebabkan ia sadar akan keperluannya pada agama. Rudolf Otto menyebut numinous (rasa gentar, kagum dan cinta pada wholly other/yang sama sekali lain) sebagai sumber rasa dan kesadaran akan keperluan agama. Sigmud Freud menyebut libido sexsual menjadi asal-muasal semua yang dibutuhkan manusia termasuk dalam hal agama (Jalaluddin: 2008).
2. Teori Fakulty. Teori ini berpandangan bahwa segala sepak terjang dan sikap manusia tidak disebabkan hanya oleh satu sebab, tapi oleh beberapa sebab sekaligus. Dalam hal kesadaran beragama, teori ini menyebut ada tiga hal yang menjadi sumber utamanya yaitu:
a. Cipta (reason) fungsi intelektual manusia, berperan dalam menentukan benar tidaknya ajaran suatu agama.
b. Rasa (emosi) fungsi emosional manusia, berperan menimbulkan keseimbangan sikap batin dan rasa positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
c. Karsa (will) menimbulkan amalan-amalan atau implementasi atas doktrin keagamaan yang benar dan logis.
3. Teori Four Wishes. Melalui teorinya ini W. H. Thomas (Daradjat:
1976) mengemukakan, bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama ada empat macam keinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia, yaitu:
a. Keinginan untuk keselamatan (security). Keinginan tampak jelas dalam kenyataan kehidupan manusia untuk memperoleh perlindungan atau penyelamatan dirinya baik dalam berbentuk biologis maupun nonbiologis.
b. Keinginan untuk mendapat penghargaan (recognition).
Keinginan ini merupakan dorongan yang menyebabkan manusia mendambakan adanya rasa ingin dihargai dan dikenal
orang lain. Ia mendambakan dirinya untuk selalu menjadi orang terhormat dan dihormati.
c. Keinginan untuk ditanggapi (response), ini menimbulkan rasa ingin mencinta dan dicintai dalam pergaulan.
d. Keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience). Keinginan ini menyebabkan manusia selalu merasa perlu mengeksplorasi dirinya untuk mengenal sekelilingnya dan mengembangkan dirinya. Manusia pada dasarnya selalu cepat bosan dan jemu terhadap sesuatu dan hal-hal yang selalu ada di sekelilingnya. Mereka selalu ingin mencari dan mengetahui sesuatu yang tak tampak dan berada di luar dirinya.
Dengan berdasar atas keempat keinginan dasar itulah pada umumnya manusia menganut suatu agama. Melalui pengamalan ajaran agama secara teratur diyakini kempat keinginan dasar itu akan dapat tersalurkan dan sekaligus terpenuhi.
FITRAH SEBAGAI POTENSI BERAGAMA
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan ―suci‖ yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci sesuai Q.s. Ar-Rūm/30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.
Secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan
pengakuan terhadap Tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain, telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang-kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
Malik B. Badri (1991) menyatakan bahwa fitrah merupakan insting etis dan religius, yang digambarkan oleh Islam sebagai suatu kondisi yang telah terberi yang akan mengarahkan seseorang, sejak masa kanak-kanaknya, untuk mengenal Tuhannya yang Esa, untuk berbuat baik, dan yang dapat dirusak jika anak dibesarkan oleh orang tua tidak bermoral dan tidak ber-Tuhan.
PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS FITRAH
Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama yaitu:
1. Fitrah berarti suci. Menurut al-Auza‘i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan ruhani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji al- Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apa pun ia dilahirkan.
2. Fitrah berarti Islam. Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi yang maksudnya: ―Bukankah Aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah menceritakan kepadaku dalam kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi Muslim‖.
3. Fitrah berarti mengakui ke-Esa-an Allah. Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esa-kan Tuhannya dan berusaha
terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia.
4. Fitrah dalam arti murni (al-Ikhlas). Manusia lahir membawa berbagai sifat, di antaranya kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan pada hadits Nabi saw: ―Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dari-Nya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng-penjagaan‖.
5. Fitrah, kondisi penciptaan manusia yg cenderung menerima kebenaran.
6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma‟rifatullah, sebagaimana dalam Q.s.
Yasin/36:22: “Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang menciptakanku dan yang Hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?”
7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya. Bahwa manusia lahir dengan ketetapan-Nya, apakah ia akan menjadi orang bahagia atau orang yang sesat.
8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia. Manusia lahir dengan membawa tabi‟at (perwatakan) yang berbeda-beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma‟rifatullah. Sebelum usia baligh, anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir, karena wujud fitrah terdapat dalam qalb maka ia dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.
9. Fitrah dalam arti insting (al-Gharizah) dan wahyu dari Allah (al-Munazzalah). Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam:
a. Fitrah al-Munazzalah. Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al-Qur‘an dan
sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah al-Ghariziah.
b. Fitrah al-Ghariziah. Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
FAKTOR PENGARUH DALAM BERAGAMA
Robert H. Thouless (1992) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi keberagamaan yang dimasukkan kelompok faktor utama yaitu pengaruh sosial, kebutuhan serta proses pemikiran dan pengalaman.
Faktor sosial mencakup semua hal yang mempengaruhi secara sosial dalam perkembangan sikap keberagamaan, seperti pendidikan, orang tua, tradisi-tradisi sosial dan tekanan-tekanan lingkungan sosial, yang memaksa siapapun dapat menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan berbagai pendapat dan sikap yang berkembang di tengah lingkungan.
Faktor lain yang dianggap sebagai yang mempengaruhi keyakinan beragama adalah kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna, sehingga mengakibatkan terasa adanya kebutuhan akan kepuasan agama. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam antara lain kebutuhan akan rasa kasih sayang, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri, kebutuhan akan rasa sukses, kebutuhan rasa ingin tahu dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.
Faktor proses pemikiran yang berkenaan dengan masa remaja, karena disadari bahwa masa remaja mulai kritis dalam menyikapi berbagai persoalan yang melingkupi, termasuk persoalan-persoalan keagamaan. Terutama bagi mereka yang mempunyai keyakinan secara sadar dan bersikap terbuka. Mereka akan mengkritik hal-hal yang tidak rasional dalam penjelaskan agama, khususnya bagi remaja yang
selalu ingin tahu, dengan pertanyaan kritisnya. Meski demikian, sikap kritis remaja juga tidak menafikkan faktor-faktor lainnya, seperti faktor pengalaman.
Pengalaman adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh setelah melakukan atau melihat sesuatu. Atau bisa juga pengalaman adalah suasana sensasi perasaan emosi atau fisik setelah melakukan atau melihat sesuatu (Cowi: 2003). Pengalaman yang bisa memberi pengaruh dalam hal keberagamaan adalah pengalaman yang ekstrim atau yang sensasional. Pengalaman dimaksud bisa berupa pengalaman ruhaniah yang indah, menawan dan menakjubkan hati hingga terkenang-kenang dalam jangka waktu yang berlama-lama. Hal tersebut bisa memberi pengaruh positif bagi semangat keberagamaan.
Atau sebaliknya, yang menggentarkan dan sangat menakutkan bahkan sangat menyakitkan, bisa memberi pengaruh positif dalam keberagamaan. Sebab pada dasarnya manusia ingin dan butuh yang enak yang menyenangkan, maka untuk mempertahankan keenakan- kemenyenangkan serta menghindari yang menakutkan-menyakitkan seseorang akan menjadi terpengaruh dalam bersikap positif dalam beragama.
Gabungan dari faktor-faktor semuanya itu akan dapat memberi pengaruh atau mempengaruhi seseorang sehingga merasa bahwa apapun beragama memang diperlukan.[]