• Tidak ada hasil yang ditemukan

I SLAM

Dalam dokumen PSIKOLOGI AGAMA (Halaman 168-173)

XIV

c. Melaksanakan ibadah sesuai kemampuan sehingga anak bisa belajar dan terbiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah.

d. Penanaman nilai kecintaan kepada rasul dan keluarganya serta kecintaan membaca al-Qur`an.

Upaya teknis penanaman nilai-nilai keagamaan tersebut menurut Nasih Ulwan bisa ditempuh melalui tiga cara:

a. Penanaman nilai secara bertahap, dari yang indrawi sampai kerasional dan emosional, dari persial sampa universal, dsb.

b. Penerapan jiwa khusyu‟, taqwa, dan ibadah dalam segala kiprahnya.

Cara ini disadari dan sulit unutk dilaksanakan, tetapi bila anak sudah diberi pengertian dan peringatan sejak dini, akan bisa merubah karakternya.

c. Penyadaran akan pengawasan Allah terhadap setiap tingkah laku dan situasi melalui latihan dan keyakinan.

CATATAN PINGGIR:

KESAN TENTANG ILMU PENDIDIKAN

Dalam suatu Seminar, H. Surakhmad1 dalam makalah berjudul Mendidik Memang Tidak Memerlukan Ilmu Pendidikan menyatakan:

―Bagaimana mungkin pendidikan bisa dilaksanakan tanpa ilmu!

Tetapi begitulah jadinya; ilmu pendidikan tersingkirkan menjadi ilmu yang mati suri. Itu sebuah kenyataan. Di mana-mana diterapkan pendidikan-tanpa-ilmu-pendidikan” (Untuk sementara, saya menyingkat jenis praktek itu, pendidikan-tanpa-ilmu-pendidikan menjadi ‗pentip‘, yang bentuk kata kerjanya adalah ‗mementip‘?). Sekaligus saya ingin menegaskan bahwa persoalan yang kita hadapi lebih luas dari pada sekadar mengembalikan ilmu pendidikan ke dalam praktek pendidikan.

1Winarno Surakhmad, Mendidik Memang Tidak Memerlukan Ilmu Pendidikan, Makalah Seminar Internasional Pendidikan, pada Pertemuan FIP/JIP se-Indonesia, 12-14 September 2005 di Bukittinggi, dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Padang Ke-51, 2005.

Ambillah misalnya sepasang suami istri yang tiba-tiba harus menjadi orangt ua hanya karena mereka berhasil melahirkan seorang anak. Hampir-hampir tanpa persiapan apapun, apalagi tanpa ilmu pendidikan apapun, karena orangtua diamanahkan oleh agama, oleh hukum, dan dipercayai oleh masyarakat, serta diberi hak dan tanggung jawab oleh negara untuk tampil sebagai pendidik utama anak mereka, maka mereka leluasa mementip anak kandung mereka.

Walaupun pengamatan ini mungkin agak didramatisasi dan dianggap kurang relevan, realitas yang hidup adalah berjuta-juta orangtua ‗tiba- tiba‘ saja menjadi pendidik. Dan tidak tanggung-tanggung: posisi mereka adalah seumur hidup!

Ternyata, mereka adalah pendidik anak bangsa dengan kompetensi pentip. Bukan satu, bukan dua, tetapi berjuta-juta orangtua yang melaksanakan pentip sepanjang masa. Mereka, singkatnya, adalah Orangtua Pentip! Walaupun demikian, mereka tidak pernah memasalahkan kondisi tersebut. Bukankah selama berabad-abad memang begitu kewajarannya? Tetapi kalau Anda berpendapat bahwa realitas ini tidak perlu dimasalahkan, mari kita melihat realitas yang lain.

Lepas dari ―pendidikan keluarga‖, makin banyak saja anak bangsa yang masuk dalam perangkap pembodohan yang dilakukan terang- terangan, atas nama play group dan taman kanak-kanak. Memang, tidak di semua tempat dan tidak oleh semua guru, tetapi di tempat serupa itulah, untuk pertama kali kemampuan bernalar anak bangsa benar- benar dihancurkan melalui pentip. ―Pendidik‖ yang diketemukan sedapatnya, dengan pengetahuan sekadarnya, kemudian dipekerjakan sebisanya, yang mengajar sekenanya, dengan pengetahuan seadanya, adalah mereka yang termasuk Guru-guru PENTIP. Tulen pentip.

Di tingkat lembaga pendidikan tinggi (IKIP bukan Tarbiyah juga kan?)) yang bertugas menyiapkan tenaga pendidik, pada suatu hari yang terkutuk, dilahirkan sebuah bencana dengan cara mengeluarkan Falsafah Pendidikan – yakni dasar dari segala dasar ilmu pendidikan-- dari dalam kurikulum, untuk ‗lebih efisien‘ menyiapkan tenaga

pendidik profesional. Entah karena falsafah pendidikan dinilai sudah tidak berguna, atau karena sebagian ‗orang IKIP‘ tidak ada pemahaman yang jelas mengenai makna dan peran falsafah pendidikan di dalam praktek pendidikan, maka tanpa merasa terusik, IKIP (dan bentuk konversinya) melanjutkan mendidik calon pendidik dengan ilmu pendidikan yang bukan.

Kehadiran teknologi pendidikan, oleh sebagian insan IKIP, diterima sebagai alternatif ilmu pendidikan yang lebih modis.

Teknologi pendidikan yang dipahami terbatas dalam konteks itu, hanya mampu menjadikan calon guru sebagai perpanjangan teknologi tanpa dasar metafisika, aksiologi, dan epistemologi yang adekuat.

Dosennya hanya menjadi insan teknis, dan mahasiswanya hanya idem ditto. Realitasnya ialah bahwa para lulusan IKIP diterima masyarakat untuk melaksanakan tugas pendidikan, tanpa prasangka masyarakat akan adanya praktek pentip. Lahirlah dan semakin merajalelalah Pendidik Pentip!

PSIKOLOGI DAN PRAKTEK PENDIDIKAN

Kesan tentang praktek pendidikan yang berlangsung di tengah masyarakat tanpa dilambari-dibarengi-diliputi oleh pemahaman yang benar dan memadai tentang makna-filosofi-dan psikologi dari pendidikan itu sendiri (terlihat sekilas dari catatan pinggir tersebut), dituding sebagai biang dari ―semrawutnya‖ kondisi generasi yang sedang ―manggung‖ yang sedang berada diatas pentas sekarang ini.

Betapa luas dan dalam dan beragamnya jenis pelanggaran berbagai norma yang ada dan masih hidup ditengah masyarakat.

Pentingnya makna-filosofi-dan psikologi bagi pelaksanaan praksis pendidikan, dan karenanya penting sekali dipahami dan dihayati (dibawa dalam kehidupan) secara baik-memadai-signifikan oleh para pendidik dan para yang terlibat dalam dunia pendidikan, terlihat gambaran umumnya (dalam tingkat tertentu sangat kongkrit) dalam ungkapan puitis Dorothy L Nolt berikut ini:

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.[]

XV

Dalam dokumen PSIKOLOGI AGAMA (Halaman 168-173)