11 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahannya (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemahan/Pentafsir Al-Qur'an, 1970). Muhammad Mahmud Hijazi, Al-Qur'an menyebutkan dua tanggung jawab intelektual muslim (Q.s. Ar. 21), yaitu: (1) Memenuhi janji Allah mitzaq; apa yang mengikat mereka dalam hubungan antara mereka dengan Tuhannya, antara mereka dengan diri mereka sendiri, dan antara mereka dengan manusia lain; (2) Berhubungan dengan apa yang diperintahkan Allah kepada kita.
L ATAR B ELAKANG
Oleh karena itu, sulit menemukan definisi ilmiah yang komprehensif tentang agama, yang sebagian besar hanya dapat memuaskan mereka yang menciptakannya. Bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, baginya kebahagiaan dan balasan yang baik (Q.s. al-Ra'd/13:28-29).
M EMAHAMI M ANUSIA DAN
P ENYEMPURNAAN D IRINYA
Tahapan dan Proses Penciptaan Manusia
Lebih lanjut, dalam Al-Qur'an, kata ruh dalam berbagai konteksnya selalu dijelaskan dengan atau sebagai "amr" Allah. Dalam Al-Qur'an, kata amr juga digunakan dalam berbagai arti, antara lain dalam arti "perintah", 55 dalam arti "arah", 56 dalam arti.
Insān dan Basyar : Karakteristik Dasar Manusia
67 Al-Qurtubī dalam tafsiran ―تطرقلإ‖ di Bilik CD, Al-Quran 6.5: 30 juz dengan Tafsir al-Qur'an. Anbija.' Al-Qurtubī dalam tafsirannya tentang ― تطرقلإ‖ di Bilik CD, Al-Qur'an 6.5: 30 juz dengan Tafsir al-Qur'an.
Ego: Karakteristik “Potensi Dalam” Diri Manusia
81A. Syafii Maarif, “Filsafat Khudi Iqbal” dalam Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), 70. Banyak keajaiban, namun tidak ada yang lebih ajaib dari manusia (Ungkapan Sophocles dari abad ke-5 SM Kr .di Antigone).
Manusia dan Kebutuhannya
Dalam hubungan tersebut terdapat berbagai pandangan mengenai kebutuhan manusia dalam rangka pertahanan dan peningkatan kehidupannya. Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia menjadi lima tingkatan (lima hierarki kebutuhan), yaitu: 1) Kebutuhan fisik (physiological need) meliputi sandang, pangan, dan papan; 2) Kebutuhan rasa aman meliputi jiwa dan raga serta harta benda; 3) Kebutuhan sosial meliputi rasa ingin diterima, ingin dihormati, ingin maju dan mencapai kesuksesan, ingin berpartisipasi; 4) Kebutuhan akan gengsi, rasa bernilai dan keinginan untuk dihargai; 5) Kebutuhan aktualisasi diri (Jarvis: 2006). Dalam penataan lainnya disebutkan bahwa kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan psikologis, terdiri atas: 1) Kebutuhan akan rasa aman; 2) Kebutuhan akan cinta; 3) Perlunya penghargaan; 4) Perlunya rasa kebebasan; 5) Kebutuhan akan rasa sukses; 6) Perlunya kekuasaan bimbingan-pengendali (El-Qussy: 1994).
Manusia dan Kecenderungannya pada Agama
91Sharon Bigley, ―Bos Merasakan Kepedihan Anda: Di Tempat Kerja, Kecerdasan Emosional Membuat Perbedaan‖, dalam Newsweek, 19 Oktober. 93 Lihat Subandi, ―Tema Pengalaman Beragama‖, dalam Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, Politikka, No. 3 Tahun 1997, hal. 7-18. . menang/menang: prinsip kepemimpinan interpersonal.
A GAMA , T UHAN , S PIRITUAL , K EPERCAYAAN
Oleh karena itu, sedangkan para ulama mengatakan bahwa kata 'Allah' diucapkan oleh manusia, baik disengaja maupun tidak, baik mereka menginginkannya atau tidak. Dari segi makna dapat dikatakan bahwa kata 'Allah' mencakup seluruh sifat-sifat-Nya, bahkan Dialah yang menyandang nama-nama tersebut, maka jika mengucapkan 'Ya Allah', maka seluruh nama/sifat-sifat-Nya tercakup dalam kata tersebut. .
D ISIPLIN I LMU – P SIKOLOGI A GAMA
- Dokumen Pribadi
- Angket dan Wawancara
- Pengumpulan Pendapat Masyarakat
- Skala Penilaian
- Eksperimen
- Observasi
- Metode Klinis dan Proyektivitas
- Kajian Psikologi Agama di Timur
- Pendekatan Ilmiah Psikologi Agama
Jadi, psikologi agama mempelajari jiwa manusia dalam kaitannya dengan manifestasi keagamaannya, yaitu kesadaran beragama yang diwujudkan dalam pengalaman beragama. Buku ini kini dipandang sebagai buku standar dalam bidang psikologi agama (Clark: 1958). 34; Psikologi Agama” dipandang sebagai era awal di mana psikologi agama dibahas secara mandiri.
Jadi, psikologi agama yang menggunakan agama sebagai objek kajiannya belum bisa dipandang sebagai ilmu yang berdiri sendiri.
D ALAM B ERAGAMA
Jika dikaitkan dengan potensi keagamaan, kesucian berarti kesucian manusia dari dosa warisan atau dosa asal, seperti pendapat Ismail Raji al-Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, suci, mampu mengatur drama kehidupannya. , tanpa memandang lingkungan keluarga atau jenis masyarakat lainnya, di manapun ia dilahirkan. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai sarana mengabdi dan marifatullah, seperti dalam Q.s. Faktor lain yang dianggap mempengaruhi keyakinan beragama adalah kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi secara sempurna sehingga menimbulkan rasa perlunya pemuasan agama.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dikelompokkan antara lain, kebutuhan akan cinta, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan akan kesuksesan, kebutuhan akan rasa ingin tahu, dan kebutuhan yang timbul akibat kematian. .
P ERKEMBANGAN B ERAGAMA
M ASA K ANAK -K ANAK
The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Pada tahap ini, pada anak usia 3-6 tahun, konsep tentang Tuhan sangat dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menyikapi agama, anak masih menggunakan konsep-konsep fantastik yang diisi dengan dongeng-dongeng yang tidak masuk akal. Pada usia ini perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama dibandingkan isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa kanak-kanak karena sesuai dengan semangat kekanak-kanakan mereka.
The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tahap ini ada satu hal yang perlu ditegaskan, yaitu anak pada usia 7 tahun dianggap sebagai awal pertumbuhan yang logis. Maka wajar jika anak-anak diajarkan dan dibiasakan berdoa sejak dini. dan dipukuli jika mereka melanggarnya.
The Individual Stage (Tingkat Individu)
Anak-anak pada usia dini belum memahami penerapan ajaran Islam, namun inilah peran orang tua dalam mengenalkan dan mendidik anak untuk melakukan amalan keagamaan walaupun hanya bersifat meniru. Seiring dengan perkembangan aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Pada usia 7-9 tahun, doa khusus berkaitan dengan aktivitas atau gerakan tertentu, namun bersifat sangat konkrit dan personal.
Berbeda dengan rasa ingin tahu pada orang dewasa, rasa ingin tahu pada anak belum bersifat kritis dan kreatif.
M ASA R EMAJA
Perasaan remaja terhadap Tuhan tidak bersifat tetap dan stabil, melainkan merupakan perasaan yang bergantung pada perubahan emosi yang sangat cepat, terutama pada masa remaja pertama. Motivasi didorong oleh keinginan untuk mengatasi rasa frustasi yang terdapat dalam hidup, baik frustasi karena kesulitan beradaptasi dengan alam, frustasi sosial, frustasi moral, atau frustasi karena kematian. Motivasi keagamaan disebabkan adanya keinginan untuk memuaskan keingintahuan manusia atau keingintahuan manusia.
Jika seorang anak merasa tertindas oleh kekuasaan atau kezaliman orang tuanya, maka ia telah memendam tantangan terhadap kekuasaan orang tuanya, kemudian terhadap kekuasaan apapun, termasuk kekuasaan Tuhan.[].
VIII
K EADAAN B ERAGAMA M ASA D EWASA DAN L ANJUT U SIA
Cenderung realistis, sehingga norma agama lebih banyak diterapkan dalam sikap dan perilaku. Tingkat pengamalan keagamaan didasarkan pada pertimbangan dan tanggung jawab pribadi sehingga sikap keagamaan merupakan perwujudan sikap hidup. Dampak dari semua ini adalah mereka yang berada di usia tua merasa tidak berharga lagi (Hurlock: 1996).
Sikap keagamaan cenderung mengarah pada perlunya rasa saling mencintai antar sesama dan sifat-sifat yang luhur.
M ENYIKAPI M ASA D EWASA M ADYA D INI
Usia paruh baya awal seringkali dianggap sebagai “puncak” dalam berbagai dimensi perkembangan manusia, termasuk perkembangan dalam dunia agama. Dalam status masa transisi, masyarakat yang berada pada usia paruh baya awal mempunyai berbagai sifat internal yang kontradiktif dalam dirinya. Pertama, mempersiapkan diri untuk memasuki/bagaimana melakukan proses perkembangan usia paruh baya awal; kedua, pembahasan mengenai “kiat-kiat” dalam menyikapi (edukasi/menjadikan pendidikan) bagi kelompok masyarakat paruh baya awal.
Dalam lingkup kehidupan manusia, usia pertengahan awal sering dipandang sebagai “reget” yang hampir sama dengan masa remaja awal (pubertas pertama).
M ATURITAS D ALAM K EBERAGAMAAN
Konflik dan keraguan tersebut dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama, misalnya taat, fanatik, agnostik atau atheis. Orang yang hidupnya jauh dari Tuhan akan merasa lemah dan kehilangan pegangan hidup, apalagi ketika menghadapi bencana. Banyak orang dewasa yang sudah cukup tua untuk usianya namun belum mengalami kedewasaan beragama.
Kesehatan emosi: Bebas dari rasa takut, tenang dan tenteram, menikmati hidup, kepuasan batin, penerimaan kenyataan, fokus melampaui ego pribadi, seimbang, stabil, harmonis, mengalami ekstasi.
K ONVERSI D ALAM B ERAGAMA
Kisah-kisah bagaimana perpindahan agama diungkapkan dapat dibaca dalam biografi orang-orang yang pernah mengalaminya, misalnya kisah Umar bin Khattab dan Hamka (Daradjat: 1976), atau dalam kisah-kisah masuk Islamnya orang-orang seperti Cat Steven. , Jeffry Lang, dan seterusnya. Atau mungkin banyak cerita di sekitar Anda tentang pengalaman pindah agama dalam arti pindah agama (ada ulama yang keluar Islam atau pendeta masuk Islam), serta pindah agama berupa peningkatan kesadaran dan penghayatan serta pengamalan Islam secara drastis. . agama, memang sudah dianut sebelumnya, seperti Ustadz Jefry al-Bukhary dan masih banyak lagi lainnya).
P SIKOLOGI A GAMA DAN K ESEHATAN M ENTAL
Keadaan seperti ini kemungkinan besar menimbulkan frustasi dan ketakutan yang samar-samar, kecemasan yang berkepanjangan bahkan keputusasaan, yang dalam bidang psikologi dikenal dengan istilah kecemasan. Menurut Zakiah Daradjat, gangguan jiwa adalah “kumpulan keadaan yang tidak normal, baik fisik maupun mental”. 5. Menghindari perbuatan salah artinya menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan perasaan menyesal dan bersalah, sehingga tidak perlu khawatir terhadap hal-hal yang terjadi di masa lalu.
Dan hanya kesadaran inilah yang mampu menjadikan manusia terlindungi dari hal-hal yang tidak dikehendaki dan tidak dikehendaki Allah, dan itulah yang disebut dengan muttaqien.47.
XIII
Tafakkur dan Do„a
Kemampuan ini merupakan karakteristik kesadaran yang paling penting dan merupakan kunci untuk memahami argumen neurologis kecerdasan spiritual (Zohar: 2001). Sejak zaman Babilonia, para penyembah Tuhan telah menggunakan doa sebagai alat komunikasi dengan kekuatan yang mereka yakini mengatur kehidupan manusia (Pasiak: 2006). Doa memberikan keyakinan kepada pelakunya bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya yang selalu memperhatikan dan siap mengabulkan doanya.
Isi doa yang dipanjatkan mempunyai pengaruh langsung terhadap pusat emosi otak dan sistem limbik, meningkatkan lingkungan emosi dan sistem tubuh.
P SIKOLOGI A GAMA DAN P ENDIDIKAN
I SLAM
Pendidikan-tanpa-ilmu-pendidikan digunakan di mana-mana" (Untuk saat ini, praktik semacam ini, pendidikan-tanpa-ilmu-pendidikan-saya menyingkatnya menjadi 'pentip', yang kata kerjanya adalah 'mementip'?). Pada saat yang sama, Saya ingin tegaskan bahwa permasalahan yang kita hadapi, lebih luas dari sekedar membawa kembali ilmu pendidikan ke dalam praktik pendidikan, baik karena filsafat pendidikan dianggap sudah tidak berguna lagi, atau karena sebagian 'orang IKIP' tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang makna dan peranannya. filsafat pendidikan dalam praktik pendidikan, maka IKIP (dan wujud transformasinya) terus mendidik calon guru tanpa merasa terganggu dengan ilmu pendidikan, padahal sebenarnya tidak.
Kehadiran teknologi pendidikan, oleh sebagian warga IKIP, diterima sebagai alternatif ilmu pendidikan yang lebih modis.
P SIKOLOGI A GAMA DAN P EMBELAJARAN
P ROFETIK -T RANSFORMATIF
Mikro Kelas
Komponen dasar yang diperlukan dalam sekolah makro menurut ketiga jenis kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
Makro Kelas
Pada hari yang telah ditentukan, TIM_SP datang dari sekolah pertemuan dan melakukan sosialisasi kepada para guru. Pada sosialisasi ini diskusi tidak terlalu meriah dan para guru masih belum memahami ide pertemuan sekolah yang dibawakan oleh TIM. Namun diskusi tampak lebih hidup dan beberapa guru mulai memahami dan menghargai perlunya 'sekolah perjumpaan'.
Perlawanan dari sebagian guru yang masih ragu dan bimbang juga tidak dapat dihindari, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat pengurus yayasan untuk melanjutkan program sekolah pertemuan di Pondok Pesantren Hikmatusyarief.