P ENYEMPURNAAN D IRINYA
3. Insān dan Basyar : Karakteristik Dasar Manusia
Dalam al-Qur‘an, ada tiga konsep yang digunakan untuk menunjuk kepada manusia, pertama konsep yang menggunakan -ن – إ س dalam berbagai bentuknya ناسن ؤ سنؤ سان atau سانأ dengan berbagai pengertiannya; kedua konsep شب dan ketiga konsep مدآ تب atau مدآ ةيرذ Sesuai dengan tema kajian ini, telisik akan ditekankan pada konsep pertama karena lebih dekat kaitannya dengan belajar. Sementara konsep kedua dibahas sebagai padanan-telaah63 yang diharapkan dapat membantu kejelasannya, dan untuk maksud seperti itu konsep kedua dianalisis terlebih dahulu.
Kata شبلإ dalam al-Qur‘anmuncul sebanyak 35 kali,64 terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata ةي شبلإ yang berarti
62Q.s. al-Baqarah/2: 30.
63Meski banyak pihak yang menganggap dua konsep tersebut dapat dipandang sebagai ―sinonim‖, namun ―rasa bahasa‖ yang otentik dalam bahasa Arab menolak pandangan tersebut, dan retorika al-Qur‘ān lah yang dapat mengungkapkan rasa yang sensitif ini dalam puncak kemurniannyadan kekuatan otentisitasnya. Lihat, Aisyah Abdurrahman (Bintusī-Shati‘), Maqāl fī al-Insān: Dirāsah Qur‟āniyyah, terj. M. Adib al- arief, Manusia: Sensitivitas al-Qur‟ān (Yogyakarta: LKPSM, 1997), 7.
64Muhammad Fu‘ad Abdul Bāqī, Al-Mu„jam Mufradāt li Alfāzh al-Qur‟ān al-Karīm (Bairūt: Dār al-Fikr, 1981), 120-21.
kulit. Manusia dinamai شب karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang umpamanya. Penelitian terhadap penempatan kata شب dalam al-Qur`an mengindikasikan bahwa ةي شبلإ menunjukkan dimenasi material dari manusia, yang suka makan dan berjalan-jalan.65 Para Mufassir memandang bahwa penempatan kata شب dalam al-Qur`an banyak menegaskan kemanusiaan para Rasul dan Nabi yang tidak beda dengan orang-orang biasa yang menjadi sasaran kemana mereka di utus oleh Allah Swt. Sebagai contoh, al-Qurtubī dalam menafsirkan penggalan ayat 66انلثم شبلإ menyatakan:
ةروصلإو ةئيهلإ ف امم لكأت
لكأن امم نوب شتو ب شن
متسلو ةكئلام
67
Dari berbagai penafsiran atas berbagai ayat yang tersebar dalam al-Qur`an yang di dalamnya memuat konsep tentang manusia dalam bentuk kata شب sangat jelas penekanan dimensi kesamaan material- jasadiah di antara makhluk manusia, baik antar orang yang beriman dengan yang tidak beriman maupun bahkan dengan para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini tentu dapat dipahami bahwa itu disebabkan karena ―bahan dasar‖ penciptaannya secara material-jasadiah memang sama. Adalah berbeda ketika kita bicara tentang manusia sebagai ناسنلاإ yang memiliki dominan dimensi non-material, dan keberbedaan itu bisa jadi disebabkan karena perbedaan dalam menyikapi sisi non-material itu, seperti akan terlihat dalam analisis berikut.
Seperti telah disinggung bahwa ada tiga kata yaitu سن لاإ, سانلإ dan لاإ
ناسن yang berkenaan dengan manusia dalam dimensinya yang non- material, dan ketiga istilah tersebut tidak pernah digunakan al-Qur`an untuk menunjuk manusia dalam pengertian secara fisik. Kata سانلإ digunakan dalam al-Qur‘anuntuk menunjuk atau sebagai nama jenis atau ras manusia keturunan Adam. Sedangkan kata سنلإإ dan ناسنلإإ memiliki makna yang sama sebab berakar pada akar kata yang sama
65Aisyah Abdurrahman (Bintusī-Shati‘), Maqāl fī al-Insān: Dirāsah Qur‟āniyyah, 7.
66Q.s. Ibrahīm/14: 10.
67Al-Qurtubī dalam tafsirnya ― تطرقلإ‖ dalam CD Room, Holy Qur‟an 6.5: 30 juz dengan Tafsir al-Qur‟an.
yang menunjukkan arti lawan dari kebuasan. Namun dalam al- Qur‘andua kata tersebut mendapatkan tekanan makna yang berbeda.
Kata سنلإإ selalu disebutkan bersama dengan نجلإ sebagai perbandingan, dan muncul dalam al-Qur‘an sebanyak 18 kali. Dalam penyebutan-penyebutan tersebut, tekanan makna ةيسنلإإ sebagai lawan dari kebuasan adalah arti yang sangat jelas karena perbandingannya dengan kata نجلإ yang dalam pengertiannya yang asli adalah kesamaran yang seram –seirama dengan kebuasan. 68 Dengan demikian, penyebutan ةيسنلإإ sekaligus dapat dipahami sebagai menunjukkan bahwa jenis kita manusia ini berbeda dengan jenis-jenis lain yang menakutkan, tidak diketahui/samar, tidak berproses seperti kita dan mempunyai kehidupan yang lain dari dunia kehidupan kita.
Tetapi sekaligus juga bahwa analisis terkahir ini menunjukkan adanya makhluk lain yang memiliki ―kesetaraan‖ (sehingga dapat saling menggangu-dalam level tertentu) di samping manusia.
Konsep ناسنلإإ yang secara kuantitatif muncul dalam penyebutan al-Qur‘an sebanyak 65 kali,69 dari segi akar katanya dapat berarti antara lain ―senang, jinak dan harmonis,‖ atau dapat berarti ―lupa‖
dan ada pula yang berpendapat ia bisa berarti ―pergerakan atau dinamisme.‖ Makna-makna tersebut paling tidak memberi gambaran awal tentang karakteristik manusia atau sifat-sifat manusia yang bisa lupa, atau juga bisa dipandang sebagai memiliki kemampuan yang mengarahkannya kepada dinamisme dan bisa mempengaruhi pihak lain. Dalam kerangka pemahaman etimologis seperti itu, maka secara potensial, ناسنلإإ bisa dipahami sebagai membawa dan menunjukkan nilai kemanusiaan yang tidak terbatas pada kenyataan spesifiknya untuk tumbuh dan berkembang menjadi سنلإإ sebagaimana dia juga tidak hanya terbatas sebagai manusia secara fisik yang suka makan dan berjalan ke dan di pasar-pasar.70
68Aisyah Abdurrahman (Bintusī-Shati‘), Maqāl fī al-Insān: Dirāsah Qur‟āniyyah,13.
69Muhammad Fu‘ad Abdul Bāqī, Al-Mu„jam Mufradāt li Alfāzh al-Qur‟ān, 93-4.
70Tentang dimensi fisikal-bsyariyah manusia yang sekedar suka makan dan berjalan- jalan ini lihat lebih kanjut komentar Al-Qurtubī ketika menafsirkan ayat 3 dari surah al-
Penyebutan ناسنلإإ dalam al-Qur`an dimulai dari surah al-‗Alaq, sebanyak tiga kali, semuanya mencerminkan gambaran umum tentang manusia namun mengandung makna-makna yang khas dan kuat mengenai apa yang kemudian disebut sebagai ةيناسنلإإ atau kemanusiaan. Dalam pemahaman al-Qurtubī, kata ناسنلإإ yang pertama (al-‗Alaq/96: 2) yang dimaksudkan adalah anak keturunan Adam, kataناسنلإإ yang kedua (al-‗Alaq/96: 5) merujuk kepada Adam sendiri yang dikaitkannya dengan pengajaran Adam oleh Allah tentang nama-nama segala benda, sedangkan kata ناسنلإإ yang ketiga pada surat al-‗Alaq (ayat 7) tersebut diartikannya sebagai secara khusus memaksudkan Abu Jahl (لهج وبإ انه ناسنلإإ). Karakteristik Abu Jahal yang kemudian dikomentarinya secara agak luas, sebab sebagian besar –kalau bukan secara keseluruhan menurutnya—surah tersebut diturunkan dalam kaitannya dengan Abu Jahal. Bahwa Abu Jahal dipandang sebagai refresentasi karakteristik negatif manusia yang bila merasa diri sudah ―cukup‖ lalu kemudian menampakkan sikap keangkuhan dan arogansi terhadap pihak lainnya, bahkan terhadap Allah sebagai Penciptanya.71
Sayyid Qutb di samping menyebutkan dan menunjukkan kehebatan Allah dalam penciptaan manusia dari ―darah beku‖ juga menjelaskan tentang ―pembelajaran‖ manusia (akan dianalisis nanti pada bagian berikutnya), tetapi tidak menyebutkan secara khsusus siapa yang dimaksud dengan kata ناسنلإإ pada surah al-‗Alaq itu.
Namun, karakter manusia dibicrakannya secara luas, diantaranya dia menyatakan bahwa bagian awal surah al-‗Alaq mempersoalkan bahwa Allah Maha Pencipta, Maha Mulia, yang mengajarkan dan memperkenalkan kepada manusia bagaimana harus bershukur dan berzikir, tetapi malah sebaliknya manusia menyeleweng dari itu semua, manusia tak pandai bahkan tak mau berterima kasih setelah
Anbiyā.‘ Al-Qurtubī dalam tafsirnya ― تطرقلإ‖ dalam CD Room, Holy Qur‟an 6.5: 30 juz dengan Tafsir al-Qur‟an.
71Abī Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Ansārī al Qurtubī, Al-Jāmi„ li Ahkām al- Qur‟ān, Juz 30, 107, 109, 110-113.
mendapatkan kenikmatan dan kekayaan yang cukup. Sedangkan bagian-bagian selanjutnya menggambarkan bagaimana manusia yang sudah sedemikian itu, dengan sifat dan sikap angkuhnya justru lebih jauh menghalangi orang untuk berbuat baik. ―Menyaksikan‖
penggambaran karakter manusia yang berbuat ―durhaka secara beruntun‖ dalam bagian-bagian berikutnya dari surah al‘Alaq itu, Sayyid Qutb menyatakan:
دشأ ىرخأ ةلعف ةركنتسملإ ةلعفلإ لىؤ فاضأ نؤ تيأرأ
72إركن
Al-Tabatabaī ketika mengomentari ناسنلإإ pada ayat kedua al-
‗Alaq menyatakan abahwa manusia di situ adalah manusia secara turun temurun, terhadap ayat yang kelima ia menyatakan:
وه امك سنجلإ ناسنلإاب دإرملإو ليقو قايسلإ رهاظ
مدآ هب دإرملإ ليقو
لوأ هنلأ سيردإ
ملقلاب طخ نم Sedangkan atas ayat yang keenam komentarnya adalah bahwa setelah Allah memberinya nikmat yang besar, seperti mengajarkannya dengan qalam mengenai banyak hal yang tak diketahuinya dsb., mestinya ia bershukur, namun malahan sebaliknya ia mengingkari nikmat yang begitu banyak dan angkuh lagi.Ia mengkaitkan watak manusia seperti itu dengan penggambaran manusia sebagai yang zalim dan suka mengingkairi.73
Secara umum namun kuat, meski terkesan emosional, Bintusy Shati‘ menyatakan bahwa manusia memiliki karakteristik lebih dari itu semua, ia sampai pada tingkat yang membuatnya pantas menjadi khalifah di bumi, menerima beban taklif, dan amanat kemanusiaan.
Karena hanya dialah yang dibekali dengan لقعلإ نايبلإ ملعلإ dan ييمتلإ Sekaligus dengan konsekuensi dia harus berhadapan dengan ujian kebaikan dan kejahatan, serta ilusi tentang kekuatan dan kemampuannya. Juga optimisme untuk mencapai tingkat perkembangan yang paling teinggi di antara spesies-spesies lain di
72Sayyid Qutb, Fī Zhilal al-Qur‟ān, Jilid 8, Juz 30, 208.
73 Gambaran watak manusia seperti disebut terakir itu terungkap dalam Q.s.Ibrahī/14: 34. Sayyid Husain al-Tabataba‘ī, Al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur‟an, Juz 20, 372.
alam semesta.74 Dalam ungkapan Fazlur Rahman bahwa fakta moral yang tertanam dalam, adalah merupakan tantangan abadi manusia dan membuat hidupnya sebagai perjuangan moral yang tak berkesudahan.
Di dalam perjuangan ini Allah berpihak kepada manusia asalkan ia melakukan usaha-usaha yang diperlukan. Manusia harus melakukan usaha-usaha ini karena di antara ciptaan Tuhan ia memiliki posisi unik, ia diberi kebebasan berkehendak agar ia dapat menyempurnakan missinya sebagai khalifah Allah di atas bumi.75
Manusia memiliki potensi berupa fasilitas-fasilitas mental- ruhaniah yang bernuansa rasionalitas dan emosionalitas sekaligus.
Dalam penelitian dibidang neurobiology-neurosains ditemui bahwa secara potensial otak manusia dibedakan menjadi otak kanan yang mengandung irama, kesadaran ruang, gestalt, imajinasi, melamun, warna, dimensi, inovatif-kreatif. Sedangkan otak kiri ditengarai mengandung potensi kata, logika, angka, urutan, kelinieran, analisis, daftar, matematis.76 Dan hebatnya, dalam otak yang beratnya hanya
―satu poud‖ sekitar 0,453592 kilo (hampir setengah kilo) di dalam sel- sel sarafnya yang amat kecil itu, otak mengandung kekuatan yang sangat dahsyat. Sistem kerja sama, keterkaitan, saling mempengaruhi dan memiliki sember awal yang sama, saling memeluk-merangkul tanpa henti dengan mekanisme yang sangat rumit dan cangguh membuat otak dapat menghasilkan tiga jenis pikiran: pikiran rasional- intuitif, pikiran emosional, dan pikiran spiritual.77 Dengan potensi seperti itu, manusia dituntut untuk menjalankan peran dan fungsi kekhalifahan dan kehambaanya sekaligus. Dalam perspektif al- Qur`an, dalam menjalani peran dan fungsinya itulah manusia, ناسنلإإ menghadapi berbagai cobaan dan ujian, akan mengalami berbagai
74Aisyah Abdurrahman (Bintusī-Shati‘), Maqāl fī al-Insān: Dirāsah Qur‟āniyyah, 14-15.
75Fazlur Rahman, Major Themes of The Qur‟ān (Chicago: Bibliotheca Islamica, 1980), 18.
76Tony Buzan, ―The Mind Map Book‖, terj. Alexander Sindoro, Memahami Peta Pikiran (Batam Centre: Interaksara, 2004), 34-40.
77Taufiq Pasiak, Membangunkan Raksasa Tidur (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), 2-7.
benturan dan kesulitan dalam proses kemanusiaanya hingga ajal menjemputnya, dengan dua kemungkinan, akan mendapatkan martabat yang tinggi dengan potensi positifnya (ىوقت), atau sebaliknya posisi yang terendah dengan kekalahannya oleh potensi negatifnya (روجف).78 Al-Qur‘an memang menggambarkan manusia (ناسنلإإ ) secara potensial sebagai makhluk berpotensi ganda baik dan buruk, namun tidak akan mendapat imbalan baik pujian maupun celaan kecuali potensi tersebut mewujud secara aktual. Karenanya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya sekaligus hamba-Nya dalam mana ia dapat mengaktualisasikan potensi tersebut secara maksimal. Bagaimana agar peran dan fungsi manusia itu dapat berjalan secara maksimal dan mengarah pada keberhasilan secara efektif? Langkah pertama dan utamanya adalah memperkuat diri dengan ilmu dan pengetahuan secara umum-sepenuhnya, di samping īmān tentu saja.79 Di sinilah perlunya manusia belajar dan belajar dalam arti seumum dan sepenuhnya, seperti dituntun dan dituntut dalam rangkaian wahyu pertama dari al-Qur‘anal-Karīm.