P ENYEMPURNAAN D IRINYA
4. Ego: Karakteristik “Potensi Dalam” Diri Manusia
benturan dan kesulitan dalam proses kemanusiaanya hingga ajal menjemputnya, dengan dua kemungkinan, akan mendapatkan martabat yang tinggi dengan potensi positifnya (ىوقت), atau sebaliknya posisi yang terendah dengan kekalahannya oleh potensi negatifnya (روجف).78 Al-Qur‘an memang menggambarkan manusia (ناسنلإإ ) secara potensial sebagai makhluk berpotensi ganda baik dan buruk, namun tidak akan mendapat imbalan baik pujian maupun celaan kecuali potensi tersebut mewujud secara aktual. Karenanya Allah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya sekaligus hamba-Nya dalam mana ia dapat mengaktualisasikan potensi tersebut secara maksimal. Bagaimana agar peran dan fungsi manusia itu dapat berjalan secara maksimal dan mengarah pada keberhasilan secara efektif? Langkah pertama dan utamanya adalah memperkuat diri dengan ilmu dan pengetahuan secara umum-sepenuhnya, di samping īmān tentu saja.79 Di sinilah perlunya manusia belajar dan belajar dalam arti seumum dan sepenuhnya, seperti dituntun dan dituntut dalam rangkaian wahyu pertama dari al-Qur‘anal-Karīm.
etis perkataan khudi bermakna self reliance (kepercayaan pada diri sendiri), self respect (rasa harga diri), self-confidence (yakin pada diri sendiri), bahkan self assertion (penegasan diri) bila yang demikian itu diperlukan, untuk kepentingan kehidupan dan kekuasaan agar tetap berpegang pada tujuan kebenaran, keadilan, kewajiban dan lain-lain.81
Dalam pemikiran Sir Muhammad Iqbal, ego menyatakan dirinya sendiri sebagai suatu kesatuan dari yang kita namakan keadaan- keadaan mental. Ego tidaklah terikat kepada ruang sebagaimana halnya dengan jasmani. Ego merupakan fakta sentral di alam semesta dan fakta sentral dalam konstitusi manusia. Dengan potensi ego, manusia kemudian mendapat amanah dan menjadi makhluk pilihan dalam arti (1) bahwa manusia adalah pilihan Tuhan; (2) bahwa manusia, dengan kesalahan-kesalahannya, dimaksudkan menjadi wakil Tuhan di atas bumi; dan (3) bahwa manusia adalah keberadaan suatu pribadi yang merdeka, yang diterima dengan menginsafi resiko yang akan ditanggungnya.82
Bagi Iqbal, sumber kekuatan adalah realisasi diri, relisasi potensi kreativitas dan kebebasan ego. Dengan merealisasi potensi-potensi ego dan menerjemahkannya kedalam perbuatan, individu akan lebih dekat dengan Tuhan. Ia tidak lebur dalam yang Ilahiah, tetapi melebur sifat Ilahiah ke dalam dirinya. Ego adalah sumber, aktivitas waktu yang sebenarnya berasal dari aktivitas ego. Di sini, sekali lagi, Iqbal menyelamatkan kebebasan dari semua jenis determinisme. Ego adalah suatu substansi yang mampu menyerap baik tindakan penciptaan Tuhan maupun aktivitas direktif-Nya.83 Pernyataan tersebut merujuk pada penjelasan Iqbal atas Q.s.17: 85, yang terjemahannya ―dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
81A.Syafii Maarif, ―Filsafat Iqbal tentang Khudi” dalam Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), 70.
82Sir Muhammad Iqbal, ―The Reconstruction of Religious Thought in Islam,‖ 95- 99. 83Wahid Akhtar, ―Unsur-Unsur Eksisrensialis dalam Pemikiran Iqbal‖, dalam Al- Hikmah no. 1 (1990), 44.
Jawablah, ruh itu berada di bawah amr Tuhanku, dan pengetahuan yang diberikan kepada kalian hanya sedikit.‖
Dalam pandangan Iqbal, bahwa untuk memahami kata amr itu harus diingat perbedaan yang digariskan al-Qur‘an antara amr dengan khalq. Sangat disayangkannya bahwa bahasa Inggris hanya mengenal dan memilih sepatah kata ―creation‖ untuk menyatakan hubungan antara Tuhan dengan alam semesta disatu pihak, dan hubungan antara Tuhan dengan ego manusia di pihak lain. Rupanya bahasa Arab lebih beruntung dalam hal ini. Bahasa Arab memiliki khalq dan amr untuk menyatakan dua cara yang menunjukan kegiatan kreatif Tuhan pada kita. Khalq adalah pencitaan (creation); Amr adalah pimpinan (direction). Sebagaimana yang di katakan oleh al-Qur‘an:
‗Dialah yang memiliki kreasi (pencitaan) dan pimpinan itu. Ayat 85 dari surah ke 17 itu mempunyai arti bahwa kodrat esensial jiwa bersifat memimpin; sekaligus itu berati bahwa amr yang agung itu bwerfungsi sebagai satuan-satuan ego. Kata penunjuk nama yang digunakan dalam perkataan Robbi (Tuhanku) memberikan penjelasan yang lebih lanjut mengenai kodrat dan tatalaku ego.84
Jika direnungkan lebih jauh surah al-Sajdah/32: 9, dalam kaitannya dengan peniupan ruh ke dalam diri manusia dengan penciptaan pendengaran, penglihatan dan qalbu, maka dapat dipahami bahwa ruh dapat merupakan pemimpin dalam diri manusia yang membimbing pendengaran, penglihatan dan qalbunya untuk memahami kebenaran. Dalam pola pemahaman seperti ini, pendengaran, penglihatan dan qalbu bisa merupakan instrumentasi ruh (ruhani?) manusia yang memungkinkannya untuk memahami bimbingan Allah, sehingga ia dapat menangkap dan memahami kebenaran.
Bagi Iqbal, ego lah yang bertanggung jawab memilih yang paling cocok dan juga memilih cara untuk terus bertahan hidup. Sering beribu-ribu diri dikorbankan untuk sebuah diri yang lebih tinggi.
84Muhammad Iqbal, ―The Reconstruction of Religious Thought in Islam,‖ 110.
Konsep mengenai diri merupakan sesuatu yang bertingkat-tingkat dan tingkatannya beragam dalam intensitas dan kelemahan. Setara dengan tingakatan egonya itu, manusia senantiasa bergerak maju untuk selalu menerima cahaya-cahaya yang baru dari suatu Realitas Yang Tak Terbatas, yang setiap saat muncul sebagai kemegahan yang baru. Dan sang penerima cahaya Uluhiyat bukanlah hanya seorang yang pasif belaka. Setiap tindakan ego yang merdeka mencipyakan situasi baru, dan dengan demikian memberikan kemungkinan selanjutnya untuk kerja kreatif
Untuk meraih kemerdekaan ego, manusia berkeharusan untuk selalu mengadakan ―pendekatan‖ dan secara terus menerus ber- taqarrub kepada Allah sebagai Penciptanya disatu sisi dan disisi lain dapat berarti agar manusia hendaknya selalu berupaya mendekatkan anasir dirinya yang berasal dari ―yang rendah‖ dengan anasir dirinya yang bersumber dari ―yang tinggi‖, sehingga dengan demikian akan tercipta keharmonisan yang padu dan utuh dalam kehidupannya.
Untuk menjadi dinamis, manusia memerlukan daya dorong, dan daya dorong itu pada dasarnya terletak dalam egonya. Bila seseorang di dalam dirinya mengandung ego yang positif dan kuat dalam arti dekat dengan Ego Tertinggi maka ia akan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi dan meraih kebebasan dan kemerdekaan.
TINJAUAN PSIKOLOGI ATAS MANUSIA 1. Manusia dan Struktur Kejiwaannya
JIWA
membuat pemiliknya misterius. Banyak keajaiban tetapi tidak ada yang lebih ajaib dari manusia (ungkapan Sofokles abad 5 SM. dalam Antigone). Psikologi mendekati manusia dari kejiwaannya, melalui tingkah yang nampak sabagai gejala jiwanya, bukan jiwa itu sendiri. Para peminat ilmu humaniora, tak henti mengkaji siapa- bagaimana manusia. Sebagai gambaran umum tentang manusia yang ber-jiwa, tentang struktur kejiwaan, di sini dilihat beberapa pandangan.1. Sigmund Freud:
Tokoh pertama yang meneliti tentang kejiwaan melampaui batas kesadaran manusia adalah Sigmund Freud. Dia menemukan bahwa di samping alam kesadaran, ada alam di bawah sadar bahkan ada lagi alam ketidaksadaran. Dan sejak 1800-an Freud percaya bahwa perilaku menusia dipengaruhi oleh alam ketidaksadarannya (Plotnik: 1999).
Dari situ dinyatakan bahwa jiwa manusia pada dasarnya berlapis yang terdiri dari: a) Lapisan kesadaran: berisi hasil-hasil pengamatan kepada dunia sekitar; b) Lapisan bawah sadar: berisi hal-hal yang dilupakan tetapi dapat direproduksi kembali bila ada perangsang; c) Lapisan ketidaksadaran berisi kompleks-kompleks terdesak. Dalam kehidupan sehari-hari ketidaksadaranlah yang seakan mengemudikan hidup kejiwaan. Ketidaksadaran yang lebih berpengaruh kepada kehidupan.
Ketidaksadaran terletak lebih dalam dari pada kesadaran. Itulah sebabnya disiplin ilmu jiwa yang menelaah ketidaksadaran disebut ilmu jiwa dalam (deep psyichology).
Dengan demikian kepribadian, yang membuat seseorang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, terdiri dari hal-hal yang merupakan isi alam ketidaksadaran, yaitu:
a) Das ES atau The Id adalah aspek biologis dan merupakan sistim yang orisinil didalam kepribadian, karena ia berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir termasuk instink-instink. Das ES merupakan
"reservoir" energi psykhis yang menggerakan Das Ich dan Das Uebar Ich.
b) Das Ich atau The Ego adalah aspek psikologis dari pada kepribadian dan berfungsi sebagai media untuk berhubungan dengan dunia kenyataan. Karenanya Das Ich dapat pula dipandang sebagai aspek eksekutif dari kepribadian, sebab Das Ich mengotrol jalan dalam memenuhi kebutuhan.
c) Das Ueber Ich atau The Super Ego adalah aspek sosiologis dari pada kepribadian yang merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat, karenanya dapat pula dipandang sebagai aspek moral dari pada kepribadian. DasUeber Ich dapat berfungsi
menentukan apakah sesuatu itu benar-salah, pantas-tidak pantas, susila dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai moral masyarakat.
2. Carl Gustav Jung
C. G. Jung (1938) tidak bicara tentang kepribadian, tapi tentang psyche, yaitu keseluruhan dari segala pristiwa kejiwaan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Struktur jiwa manusia terdiri dari dua alam yaitu: alam sadar atau kesadaran dan alam tak sadar atau ketidaksadaran
Antara kedua alam dalam jiwa tersebut selain saling mengisi, juga saling berhubungan. Ketidaksadaran adalah merupakan kekuatan primer dari hidup kejiwaan manusia yang sekaligus merupakan sumber dari kesadaran, kesadaran tidak dapat bekerja tanpa ketidaksadaran. Keduanya memiliki fungsi penyesuain. Kesadaran untuk penyesuaian terhadap dunia luar dan ketidaksadaran untuk penyesuaian ke dunia dalam diri manusia. Batas antara kedua alam itu berubah-ubah. Dalam kenyataannya, menurut Jung, daerah kesadaran itu hanyalah merupakan sebagian kecil saja dari pada alam kejiwaan.
3. Imam al-Ghazaly
Dalam menganalisis struktur kejiwaan manusia, al-Ghazaly (1989) menggunakan peristilahan yang terambil dari al-Qur'an. Di antaranya yang relevan dengan permasalahan kejiwaan adalah istilah nafs. Bila nafs itu tenang, selalu tunduk pada perintah al-Khāliq, jauh dari pemberontakan, maka disebutlah dia nafs muthmainnah (diri atau jiwa yang tenang). Bila ketenangan nafs itu kurang sempurna, masih cenderung pada hal-hal yang negatif, menolak menerima kebaikan walaupun pada akhirnya akan menyesalinya, dinamakan ia nafs lawwāmah, yang mencela tuannya menyesalinya ketika berbuat teledor dari Allah. Bila nafs itu tunduk dan patuh pada undangan negatif, dorongan rendah yang bersifat jasmaniah dan hewaniah, maka dia dinamakan nafs al-ammarah bi al-sū`. Jiwa yang cenderung jahat,
menyakiti, dan merugikan orang lain (Q.s. Yusuf/53). Jadi, struktur jiwa manusia terdiri dari: nafs muthmainnah, nafs lawwāmah dan nafs ammārah.