• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen Prosiding SNKP 2016 - Kimia FMIPA UM (Halaman 44-52)

PERSPEKTIF ENTOMOLOGIST

8. DAFTAR PUSTAKA

Bruin, J., Dicke, M., Sabelis, M.W. 1992. Plants are better protected against spider-mites after exposure to volatiles from infested conspecies. Experimentia 48, 525–529.

Cardé, Ring T; Willis, Mark A. 2008. Navigational Strategies Used by Insects to Find Distant, Wind- Borne Sources of Odor. Journal of Chemical Ecology. 34 (7): 854-886. doi:10.1007/s10886- 008-9484-5.

Chaidir, Z., Hasanah, Q., Zein R. 2015. Penyerapan ion logam cr(iii) dan cr(vi) dalam larutan menggunakan kulit buah jengkol Pithecellobium jiringa (Jack) Prain.), Jurnal Riset Kimia, 8(2): 189-199.

Fridley, J.D., Grime, J.P., Bilton, M. 2007. Genetic identity of interspecific neighbors mediates plant responses to competition and environmental variation in a species-rich grassland. Journal of Ecology, 95: 908–915.

Gordh, G., Headrick, D. 2000. A Dictionary of Entomology. CAB Publishing, New York. 1032 p.

Heinrichs E.A., Mochida O.M. 1984. From secondary to major pest status: the case of insec- ticide- induced rice brown planthopper, Nilaparvata lugens, resurgence. Protection Ecology. 7:201- 218.

Heong K.L., Schoenly K.G. 1998. Impact of insecticides on herbivore-natural enemy commu- nities in tropical rice ecosystems. In: Haskell PT, McEwen P, editors. Ecotoxicology: Pesticides and Beneficial Organisms. pp: 382-403. Dordrecht (Netherlands): Kluwer Academic Publishers.

Kaplan, I. 2012. Attracting carnivorous arthropods with plant volatiles: The future of biocontrol or playing with fire? Biological Control, 60:77-89.

Law, J. H., Regnier F. E. 1971. Pheromones. Annual Review of Biochemistry. 40: 533–

548. doi:10.1146/annurev.bi.40.070171.002533.

Mamaril C.P. 2004. Organic Fertilizer in Rice: Myths and Facts. Asia Rice Foundation, Vol. 1, No. 1.

Available at: http://www.asiarice.org/sections/chapters/Philippines/Rice, vol. 1. No. 1. The Asia Foundation. Philippines.

Matsumura M., Takeuchi H., Satoh M.,Sanada-Morimura S., Otuka A., Watanabe T., Thanh D.V.

2009. Current status of insecticide resistance in rice planthoppers in Asia. In Planthoppers:

New Threats to the Sustainability of Intensive Rice Production Systems in Asia, pp. 233–

243. Eds K.L. Heong and B. Hardy. Los Ba˜nos, the Philippines: International Rice Research Institute.

MillMurphy, G.P., Dudley, S.A. 2009. Kin recognition: competition and cooperation in Impatiens (Balsaminaceae). American Journal of Botany. 96: 1990–1996.

Ninkovic V, Markovic, D., Dahlin, I. 2016. Decoding neighbour volatiles in preparation for future competition and implications for tritrophic interactions, Perspectives in Plant Ecology.

Evolution and Systematics, 23: 11–17.

Nurindah,Wonorahardjo, S.,Sunarto, D.A., Sujak. 2016. Chemical cues in tritrophic interactions on biocontrol of insect pest. The Journal of Pure and Applied Chemistry Research, in press.

Parachnowitsch A. L., Manson J. S. 2015. The chemical ecology of plant-pollinator recent advances and future directions. Current Opinions in Insect Science, 8: 41–46.

Ruberti, I., Sessa, G., Ciolfi, A., Possenti, M., Carabelli, M., Morelli, G. 2012. Plant adaption to dynamically changing environment: the shade avoidance response. Biotechnology Advances, 30: 1047–1058.

Salazar, D., Jaramillo, A., Marquis R. J. 2016. The impact of plant chemical diversity on plant–

herbivore interactions at the community level. Oecologia, 181(4): 1199–1208.

Simmons, L.W., Alcock, J., Reeder, A. 2003. The role of cuticular hydrocarbons in male attraction and repulsion by female Dawson's burrowing bee, Amegilla dawsoni. Animal Behaviour. 66 (4): 677-685. doi:10.1006/ anbe.2003.2240.

Suyasa, I W.B., Mahardika I G., Sari, S.D.M. 2016. Pemanfaatan biosistem tanaman untuk menurunkan kadar fenol, amonia, ion klorida, dan cod dari proses biodegradasi air limbah yang mengandung Rhodamin B. Ecotrophic, 10 (1): 1–8.

Tambunan, M.A., Abidjulu, J., Wuntu, A. 2015. Analisis Fisika-Kimia Air Sumur di Tempat Pembuangan Akhir Sumompo Kecamatan Tuminting Manado. Jurnal MIPA Unsrat Online, 4(2): 148-152.

The Society of American Foresters (SAF). 2008. Definition of Semiochemical. The Dictionary of Forestry. Bethesda, Maryland.

Wonorahardjo S., Nurindah, Sunarto, D. A., Sujak, Zakia, N. 2015. Analisis Senyawa Volatil Dari Ekstrak Tanaman Yang Berpotensi Sebagai Atraktan Parasitoid Telur Wereng Batang Coklat, Anagrus Sp. (Hymenoptera: Mymaridae). Jurnal Entomologi Indonesia. 12: 48–57.

Zamhar, K.N., Dewi, N.K. 2015. Fitoremediasi kadmium (Cd) pada leachate menggunakan kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk.) (Studi Kasus TPA Jatibarang), Jurnal MIPA, 38 (1): 8-13

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATAKULIAH DASAR-DASAR KIMIA ANALISIS MENURUT TEORI ELABORASI MELALUI PEMBUATAN

PETA KONSEP

Endang Budiasiha dan Dedek Sukarianingsiha

aProgram Studi Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang 65145

E-mail: [email protected] ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian yang berjudul Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matakuliah Dasar-dasar Kimia Analisis menurut Teori Elaborasi melalui Pembuatan Peta Konsep. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui peningkatan kualitas proses belajar mengajar ditinjau dari aspek kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas tiga siklus, dengan mengambil pokok bahasan Pendahuluan, Ruang Lingkup Kimia Analisis, Analisis Kation, dan Analisis Anion. Subyek penelitian adalah mahasiswa S1 Pendidikan Kimia yang sedang mengambil perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis pada semester gasal 2013 – 2014, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 36 orang. Instrumen penelitian terdiri dari instrumen pembelajaran, yaitu bahan ajar yang diwajibkan dan suplemen bahan ajar (hand out). Instrumen pengukuran dibedakan menjadi dua macam, yaitu instrumen pengukuran kualitatif (lembar observasi), serta instrumen pengukuran kuantitatif (peta konsep dan tes tertulis). Data kuantitatif dikelompokkan berdasarkan rentangan skor tertentu, dan hasilnya disimpulkan berdasarkan patokan kemampuan yang berlaku di Universitas Negeri Malang.

Berdasarkan analisis data, maka dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran menurut teori elaborasi melalui pembuatan peta konsep pada matakuliah Dasar-dasar Kimia Analisis dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar ditinjau dari aspek kualitatif maupun kuantitatif. Secara kualitatif peningkatan itu dapat diketahui dari kemampuan kooperatif mahasiswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Indikator peningkatan tersebut dapat dilihat dari aspek-aspek saling ketergantungan yang positif, interaksi langsung antar mahasiswa, pertanggungjawaban individu, dan keterampilan berinteraksi antar individu dan kelompok Secara kuantitatif dapat diketahui dari penilaian aspek kognitif, yaitu hasil peta konsep dan hasil ujian pada pokok Pendahuluan, Ruang Lingkup Kimia Analisis, Analisis Kation, dan Analisis Anion.

Berdasarkan hasil analisis data, dapat disimpulkan telah terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa siklus demi siklus.

Kata Kunci: Teori Elaborasi, Peta Konsep

ABSTRACT

The Improvement of The Basic Analytical Chemistry Lecture Learning Quality Based on Elaboration Theory by The Development of Concept Mapping research already finished. The aim of this research is to acknowledge the improvement of learning and teaching process quality based on qualitative and quantitative aspect. The research designed as three cycle class action research, using Introduction, The Range of Analytical Chemistry subject, Kation Analysis subject, and Anion Analysis subject. The subjects of the research were 36 S1 Chemistry Education students which had attended the lecture at 2013 – 2014 odd semester. The research instrument consists of learning instrument, that is mandatory teaching material and teaching material supplement (hands out).

Measurement instrument divided into two kinds, which are qualitative measurement instrument

(observation sheets), and quantitative measurement instrument (concept map and writing test).

Quantitative data grouped based on particularly ranged score, and the result obtained based on accepted standardized ability measurement at Malang State University.

According to data analysis on the research, is ascertainable that the application of concept mapping based on elaboration theory to The Basic Analytical Chemistry subject could improve the quality of learning and teaching process based on quantitative and qualitative aspect. Qualitatively, the improvement could be known from students‘ cooperative ability in completing adjusted task. The improvement indicator could be seen from positive dependence aspect, inter student direct interaction aspect, individual responsibility aspect, and individual and group interaction skills aspect.

Quantitatively result could be known from cognitive aspect assessments, which are concept map result and test result on these subjects, Introduction, The Range of Analytical Chemistry, Kation Analysis, and Anion Analysis. According to the data analysis, it‘s concluded that students‘ ability were improved cycle by cycle.

Keywords: Elaboration Theory, Concept Mapping PENDAHULUAN

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, umumnya dosen mengharapkan semua mahasiswanya memiliki motivasi dan minat yang tinggi terhadap matakuliah yang dibinanya. Hal yang paling diharapkan seorang dosen adalah semua mahasiswanya memiliki prestasi yang tinggi.

Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya motivasi, minat, dan prestasi belajar mahasiswa.

Strategi penyajian yang kurang menarik, patut dicatat sebagai faktor utama. Strategi pembelajaran yang tidak banyak melibatkan mahasiswa cenderung membosankan, sehingga pada akhirnya prestasi belajarnya juga akan rendah. Disamping rendahnya motivasi, minat, dan prestasi belajar, hal yang banyak dikeluhkan dosen adalah kurangnya kemampuan mahasiswa dalam berpikir tingkat tinggi.

Selama  15 tahun menjadi pengajar perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis, hal yang sangat dirasakan adalah rendahnya kemampuan menganalisis, mensintesis, serta mengevaluasi permasalahan yang diberikan Mahasiswa umumnya sangat trampil bila menyelesaikan masalah-masalah sebatas recall, pemahaman, maupun aplikasi. Kegiatan aplikasipun sebatas penyelesaian soal-soal yang ada kaitan secara jelas dengan rumus tertentu. Umumnya mahasiswa tidak bisa menyimpulkan arti fisik dari hasil perhitungan yang diperoleh. Dengan kata lain daya analisis mahasiswa umumnya rendah.

Perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis merupakan sajian matakuliah bagi mahasiswa semester III. Ditinjau dari hirarki perkuliahan, matakuliah ini berada pada urutan pertama dalam bidang Kimia Analisis. Isi perkuliahan pada prinsipnya terdiri dari dua pokok bahasan besar, yaitu Analisis Kualitatif dan Analisis Kuantitatif. Selama menjadi pembina perkuliahan ini + 15 tahun, umumnya mahasiswa kurang menguasai dengan baik pada pokok bahasan terkait masalah konsep dan prinsip. Masalah konseptual utamanya terkait hubungan antar konsep kurang dikuasai. Kontribusi nilai terbesar dari soal hitung menghitung, asalkan kaitan dengan rumus tertentu cukup jelas. Bila kondisi soal dibuat sedikit bervariasi, mahasiswa kurang bisa menyelesaikan soal-soal yang demikian. Dari segi soal terkait masalah konseptual, umumnya mahasiswa akan menjawab dengan kalimat yang sama dengan buku ajar yang dipelajari (dalam perkuliahan ini sudah tersedia buku ajar). Daya analisis, sintesis, dan evaluasi begitu rendah, dan umumnya mahasiswa hanya pandai menghafal, tanpa bisa memahaminya. Ditinjau dari proses pembelajaran yang terjadi, umumnya mahasiswa jarang sekali bertanya, dan kalau ditanya sangat malas menjawab pertanyaan.

Selaku dosen pengajar, keadaan demikian merupakan hal yang memprihatinkan. Oleh karena itu perlu mengubah keadaan tersebut menjadi lebih baik, dengan menggunakan strategi pembelajaran yang melinatkan mahasiswa secara aktif. Strategi penugasan membuat peta konsep dipilih sebagai alternatif pemecahan, karena diyakini pemetaan konsep dapat meningkatkan penyusunan konsep oleh mahasiswa sendiri, serta menghindari miskonsepsi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Iskandar (2002) yang menyatakan bahwa dengan peta konsep, dapat membantu mahasiswa mencapai hasil pembelajaran yang berkualitas tinggi, serta bermakna. Donna, K. (1997) dalam tulisannya yang

berjudul ―Mapping for Understanding‖, menyatakan bahwa peta konsep merupakan jendela pembuka pikiran siswa.

Pengorganisasian pembelajaran merupakan fase yang amat penting dalam rancangan pembelajaran. Synthesizing akan membuat topik-topik dalam suatu bidang studi menjadi lebih bermakna bagi si belajar (Ausubel, 1968). Kebermaknaan ini akan menyebabkan si belajar memiliki retensi yang lebih baik dan lebih lama terhadap topik-topik yang dipelajari. Sequencing juga penting karena sangat diperlukan dalam pembuatan sintesis. Bila isi bidang studi ditata maka akan membuat sintesis lebih efektif, dan kebermaknaan itu menjadi lebih tinggi (Gagne, 1968).

Teori elaborasi merupakan salah satu cara pengorganisasian pembelajaran yang mempreskripsikan pembelajaran mengikuti urutan umum yang rinci. Urutan itu diawali dengan menampilkan epitome, kemudian mengelaborasi bagian-bagian yang ada dalam epitome secara lebih rinci. Konteks selalu ditunjukkan dengan menampilkan sintesis secara bertahap. Menurut Reigeluth dan Stein (1983), seseorang biasanya akan mulai dengan pandangan yang menyeluruh, yang menunjukkan bagian-bagian utama. Tanpa memberikan perhatian khusus pada hal-hal yang rinci.

Setelah gambaran menyeluruh diperoleh, baru kemudian mengarahkan perhatian kepada suatu bagian dan terus ke bagian-bagian utama lainnya. Dengan cara ini, pemahaman si belajar terhadap suatu topik akan menjadi lebih baik. Pembelajaran sehari-hari tanpa menggunakan teori elaborasi di dasarkan atas urutan yang terdapat dalam buku teks. Pembelajaran demikian ini memungkinkan untuk tidak terlewatinya konsep demi konsep yang akan disampaikan. Namun, pembelajaran yang demikian ini berdasarkan pengalaman memberikan perolehan belajar sepotong demi sepotong, yang memungkinkan pemahaman siswa tidak optimal. Ketidak optimalan menyebabkan hasil belajar mahasiswa juga kurang maksimum. Oleh karena itu perlu diteliti apakah terdapat perbedaan hasil belajar.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pada bahasan yang terdapat di bagian pendahuluan, maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: Apakah strategi penugasan membuat peta konsep menggunakan teori elaborasi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran pada mahasiswa peserta perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis di Jurusan Kimia UM?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan apakah strategi pengorganisasian pembelajaran menurut teori elaborasi melalui penugasan membuat peta konsep, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran pada mahasiswa peserta perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis. Peningkatan kualitas pembelajaran ditinjau dari proses pembelajaran yang dilakukan dan hasil belajar yang diperoleh mahasiswa

Manfaat Penelitian

Kontribusi penelitian ini adalah:

1. Dapat digunakan sebagai alternatif strategi pembelajaran bagi dosen dalam upaya lebih mengaktifkan mahasiswa selama proses pembelajaran.

2. Mendorong mahasiswa untuk aktif belajar secara bermakna sehingga tercipta kemampuan berpikir tingkat tinggi.

3. Memberikan sumbangan pemikiran berupa inovasi pembelajaran yang berorientasi pada teori konstruktivisme.

4. Memberikan sumbangan konkrit, dengan tersusunnya seperangkat alat pembelajaran pada pokok- pokok bahasan yang dipilih, yaitu berupa:

- Skenario Pembelajaran - Suplemen Bahan Ajar

- Alat evaluasi terkait kemampuan kognitif, dan kemampuan kinerja, yaitu pembuatan peta konsep.

METODE PENELITIAN 1. Siklus I

1) Perencanaan atau Persiapan

- Menentukan pokok bahasan acuan, yaitu Pendahuluan, Ruang Lingkup Kimia Analisis yang merupakan pokok bahasan awal dari perkuliahan ini.

- Menyiapkan Skenario Pembelajaran, Suplemen Bahan Ajar, Alat Evaluasi Kognitif dengan penekanan soal-soal yang bersifat analisis, sintesis, dan evaluasi, dan Kinerja (peta konsep).

- Menyiapkan instrumen monitoring Proses Belajar Mengajar.

2) Pelaksanaan Tindakan

- Membagikan suplemen bahan ajar satu minggu sebelum topik acuan berlangsung, menugaskan mahasiswa membacanya.

- Menugaskan mahasiswa membuat peta konsep, kemudian dikumpulkan, dan memberikan penilaian.

- Melakukan pembelajaran berdasar skenario yang telah disiapkan, yaitu menurut teori elaborasi.

- Menugaskan kembali membuat peta konsep pada pokok bahasan yang sama.

- Melakukan monitoring proses Belajar Mengajar menggunakan instrumen yang telah disiapkan.

- Melakukan ujian pada pokok bahasan acuan.

3) Kegiatan Observasi

Kegiatan observasi diarahkan untuk dapat menilai aspek kualitatif proses belajar mengajar.

Kegiatan observasi menggunakan instrumen monitoring proses belajar mengajar.

4) Evaluasi dan Refleksi

- Evaluasi: Berdasar peta konsep yang dibuat mahasiswa, dan hasil ujian pada pokok bahasan acuan.

- Refleksi: Dari hasil observasi dan hasil evaluasi, akan diketahui kelemahan-kelemahan pada siklus I, yang akan dicoba diperbaiki pada siklus II.

Dalam dokumen Prosiding SNKP 2016 - Kimia FMIPA UM (Halaman 44-52)