PERSPEKTIF ENTOMOLOGIST
4. Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam pembelajaran, karena dengan memahami konsep siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam setiap materi pelajaran. Pemahaman konsep terdiri dari dua kata yaitu pemahaman dan konsep. Jika seseorang mengerti dan mampu menjelaskan sesuatu dengan benar, maka orang tersebut dapat dikatakan paham atau memahami. Menurut Aksela (2005) pemahaman kimia merupakan kemampuan untuk membangun pengertian dari pesan-pesan dalam mempelajari kimia, yang mencakup lisan, tulisan dan komunikasi grafis.
Pemahaman merupakan perangkat standar program pendidikan yang merefleksikan kompetensi sehingga dapat mengantarkan siswa untuk menjadi kompeten dalam berbagai ilmu pengetahuan.
Anderson (1990) dalam Chiu (2000) mengkategorikan pemahaman menjadi dua, yaitu pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik.
1) Pemahaman Konseptual
Chiu (2000) menjelaskan pemahaman konseptual merupakan kemampuan menangkap pengertian- pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan dalam bentuk yang lebih dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengaplikasikannya. Pemahaman konseptual sering disebut juga sebagai pengetahuan konseptual. Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi bersama-sama. Pengetahuan mencakup skema, model pemikiran dan teori baik yang implisit maupun eksplisit.
2) Pemahaman Algoritmik
Pemahaman algoritmik merupakan sebuah pemahaman yang berhubungan dengan perhitungan matematika. Pemahaman algoritmik memerlukan penggunaan serangkaian pemahaman tentang prosedur-prosedur pemecahan masalah termasuk penggunaan rumus matematika (Nakleh, 1993 dalam Muntori, 2007). Pemahaman algoritmik disebut juga sebagai pengetahuan prosedural.
Muntori (2007) menjelaskan bahwa pengetahuan prosedural direfleksikan dalam kemampuan siswa untuk menghubungkan sebuah proses algoritma dengan situasi masalah yang diberikan untuk mengerjakan algoritma dengan benar dan mengkomunikasikan hasil algoritma ke dalam konteks masalah. Pemahaman procedural juga mengarahkan kemampuan siswa untuk berargumen melalui sebuah situasi, menggambarkan mengapa prosedur yang teliti akan memberikan jawaban yang benar untuk sebuah masalah dalam konteks yang digambarkan.
Tingkat Pemahaman Konsep
Pemahaman konsep merupakan tipe belajar yang lebih tinggi dibanding tipe belajar pengetahuan.
Nana Sudjana menyatakan bahwa pemahaman dapat dibedakan kedalam tiga kategori, yaitu: Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari menerjemahkan dalam arti yang sebenarnya, mengartikan dan menerapkan prinsip-prinsip. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran yaitu menghubungkan bagian-bagian dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dengan yang tidak pokok. Tingkat ketiga merupakan tingkat pemahaman Ekstrapolasi (Sudjana, 2009).
Berdasarkan pendapat tersebut, maka tingkatan pemahaman konsep mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi dapat dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu: Tingkat pertama adalah mengartikan sebuah konsep kedalam bentuk simbol. Tingkat kedua adalah menjelaskan makna atau konsep yang terdapat dalam simbol dan menghubungkannya dengan kejadian berikutnya. Tingkat ketiga adalah kemampuan melihat arah atau kelanjutan dari suatu kejadian tersebut.
Kesimpulan
Berdasarakan kajian ini literatur yang ada maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Model pembelajaran problem solving berbantuan LKS dan diagram V dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa
2. Model pembelajaran problem solving berbantuan LKS dan diagram V dapat meningkatkan pemahaman konsep pada materi termokimia
3. Model pembelajaran problem solving berbantuan LKS dan diagram V efektif dalam meningkatkan retensi pemahaman konsep siswa pada materi termokimia
DAFTAR RUJUKAN
Alvarez, M.C. 2004. Teaching and learning. Diakses lewat: ttp://explorers.tsuniv.edu/veeweb/
Aksela, M. 2005. Disertation: Supporting Meaningful Chemistry Learning and Higher-order Thinking through Computer-Assisted Inquiry: A Design Research Approach. Helsinky : Faculty of Science University of Helsinky.
Chang, R. 2001. Chemistry Sixth edition. New York: McGraw-Hill Companies
Chiu, M. 2000. Algorithmic Problem Solving and Conceptual Understanding of Chemistry by Students at a Local High School in Taiwan. Proc. Natl. Sci Counc. ROC(D,11(1), 20-38
Chukwuyenum, A N. 2013. Impact of Critical Thinkingon Performance in Mathematics among Senior Secondary School Students in Lagos State. IOSR Journalof Reasearch & Method in Education (IOSR-JRME), 3(5): 18-25.
Duron, Robert, Barbara Limbach and Wendy Waugh. 2006. Critical Thinking Framework For Any Discipline. International Journal of Teaching and Learning in Higher Education 2006, Volume 17, Number 2, 160-166
Effendy. 2007. A-Level Chemistry Volume 1A. Malang: Bayumedia Publishing
Effendy. 2016. Ilmu Kimia untuk Siswa SMA dan MA Kelas X Jilid 1A. Malang: Bayumedia Publishing
Eggen, Paul dan Kauchak, Don. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran – Mengajarkan Konten Ketrampilan Berpikir. (Edisi Keenam). Jakarta: PT Indeks
Ebenezer, J.V. 1992. Making Chemistry Learning More Meaningful. Journal of Chemical Education (JCE). 69 (6) : 464-467
Ennis, Robert H. 2011. The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Thinking Dispositions and Abilities. University of Illinois.Diakses dari
Gueldenzoph, Liza Snyder dan Mark J. Snyder. 2008. Teaching Critical Thinking and Problem Solving Skills.The Delta Pi Epsilon Journal Volume L, No. 2,
Heong, Y.M, et al. 2011. The level of Marzano higher order thinking skillss among technical education students. International Journal of Social Science and humanity. Vol 1, No. 2. pp 121- 125.
Iskandar, M. S. 2011. Pendidikan Pembelajaran Sains Berbasis Kontruktivis. Malang: Bayumedia Publishing.
Kemendikbud. 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Luft, J. A., Tollefson, S. J., & Roehrig, G. H. 2001. Using An Alternative Report Format in Undergraduate Hydrology Laboratories. Journal of Geoscience Education, 49(5), 454-460.
DOI: 10.5408/1089-9995-49.5.454
Muntori. 2007. Peningkatan Pemahaman Kimia Melalui Paduan pembelajaran Kooperatif dan Pemecahan Masalah Kimia Dengan Teknuk Pathway. Jurnal Ilmu Pendidikan.
Nakhleh, M.B.1994. Chemical Education Research In the Laboratory
Environment “ How can Research Uncover What Students Are Learning?”.Journal of Chemical Education ( JCE). 71 (3) : 201-205 DOI: 10.1021/ed071p201
Novak, Gowin, 1984. Learning How to Learn, Cambridge, Cambridge Univercity Press Novak, J.D & Gowin D. 1985. Learning How to Learn. Cambridge, MA :
Cambridge University Press
Oloruntegbe, K.O. & Alake, E.M. 2010. Chemistry For Today And The Future: Sustainability Through Virile Problem Based Chemistry Curriculum. Australian Journal Of Basic And Applied Science, ISSN 1991- 8178. 4(5):800-807
Passmore, G.G. 1998. Using vee diagrams to facilitate meaningful learning and misconception remediation in radiologic technologies laboratory education. Radiologic science and education 4(1), 11 – 28. diakses lewat:
Peter, E E. 2012. Critical Thinking: Essence for Teachiing Mathematics and Mathematics Problem Solving Skill. African Journal of Mathematics and Computer Science Research, vol 5(3): 39- 43. doi: 10.5897/AJMCSR11.161.
Polya, G. 2004. How to Solve It (John Conway, Ed). United State of America: Princenton University Press
Rahayu, S. 2012. Penelitian Pendidikan Kimia: TREND GLOBAL. Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa
Ristitiati A.S. 2007. Penggunaan Modul Praktikum Dilengkapi Diagram Vee dan Suplemen pada Pelaksanaan Praktikum Kimia Dasar I terhadap Prestasi Belajar Laboratorium dengan Memperhatikan Kemandirian Mahasiswa (Studi Kasus Pada Percobaan Kesetimbangan Kimia Pada Mahasiswa Semester I Jurusan P MIPA FKIP UNS Tahun Ajaran 2006/2007).Tesis.
Tidak dipublikasikan
Roth, W. M & Bowen, M. 1993. The unfolding vee. Science Scope. 16(5),28 – 32 Sanjaya W. 2009.
Strategi Pembelajaran Berbasis Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kanisius.
Silberbeg, M.S. 2007. Principles of General Chemistry. New York: The McGraw w-Hill Companies.
Suastra, IW. 2009. Pembelajaran Sains Terkini. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Sudjana, Nana, 2009. Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaj Rosdakarya..
PENGARUH BLENDED LEARNING DALAM STRATEGI POGIL MATERI
KESETIMBANGAN KIMIA BERBASIS KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN MOTIVASI SISWA SMK
Asisul Khoirot*a
aProdi S2 Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang Jl.Semarang 5 Malang 65145
*Corresponding author‘s e-mail: [email protected] ABSTRAK
Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengharuskan adanya inovasi dalam pembelajaran. Inovasi tersebut salah satunya adalah blended learning. Konsep blended learning ialah pencampuran model pembelajaran tatap muka di kelas dengan belajar secara online. Blended learning ini akan memperkuat model belajar konvensional yang dilakukan di kelas tersebut melalui pengembangan teknologi pendidikan. Siswa SMA/SMK sudah mengenal internet, sehingga diharapkan dapat menggunakan internet dengan memanfaatkannya sebagai media pembelajaran yang akan menambah wawasan lebih luas. Pembelajaran blended learning ini dapat dipadukan dengan pembelajaran yang berbasis konstruktivistik dan kooperatif menggunakan strategi POGIL.
Pembelajaran POGIL blended learning berbasis kontekstual cocok digunakan pada materi kesetimbangan kimia karena memiliki karakteristik yang abstrak, luas, dan sulit dipahami siswa.
Pembelajaran POGIL blended learning dengan berbasis kontekstual diharapkan dapat membantu siswa SMK meningkatkan softskill, membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan dapat mengatasi kesulitan dalam mempelajari materi kesetimbangan kimia, sehingga siswa menjadi lebih memahami materi secara utuh dan dapat mendukung kesiapan siswa menghadapi persaingan masyarakat di zaman modern yang telah mengalami perkembangan teknologi.
Kata kunci: blended learning, POGIL (process oriented guided inquiry learning), berbasis kontekstual, kesetimbangan kimia, hasil belajar kognitif.
ABSTRACT
Rapid technology development requires innovation in learning. One of innovations required is blended learning. The basic concept of blended learning is combining face-to-face learning model in the classroom with online learning. Blended learning equips the conventional base learning during classroom activity through the development of technology in education. Vocational students have been already familiar with the internet. They supposed to use it wisely as learning media to broaden knowlege. Blended learning model can be combined with the constructivist and cooperative base learning using POGIL strategy. Blended learning with POGIL strategy with contextual based matches with chemistry lesson such as chemical equilibrium whose abstract, limitless, and incomprehensible characteristics. Blended learning with POGIL strategy and contextual based are expected to help student will increase softskill, help the teacher connect in material studied with the real world situations and effective to overcome the students‘ difficulties when learning chemical equilibrium.
Thus, the students are capable in comprehending the tough lesson easily. In addition, the learning model has big impact to make the students get prepared in facing tough competition among societies in the age of modern technology development.
Keywords: blended learning, POGIL (process oriented guided inquiry learning), contextual based, chemical equilibrium, cognitive learning.
PENDAHULUAN
Mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa SMK baik itu di kelas X dan kelas XI yang mengambil kompetensi keahlian teknik pemesinan, teknik kendaraan ringan, dan teknik instalasi tenaga listrik. Salah satu materi yang harus dipelajari siswa kelas XI pada ketiga kompetensi keahlian tersebut adalah kesetimbangan kimia. Kesetimbangan kimia adalah materi kimia yang dianggap cukup sulit oleh siswa (Solomonidou & Stavridou, 2001; Piquette & Heikkinen, 2005;
Özmen, 2008). Hal ini disebabkan dalam memahami kesetimbangan diperlukan pemahaman materi pada konsep-konsep sebelumnya, seperti konsep mol, stoikiometri, hukum gas ideal dan laju reaksi.
Selain itu karakter materi kesetimbangan yang abstrak membutuhkan pemahaman konseptual yang tepat. Karpudewan, et al (2015:857) juga menyatakan jika sebagian kesulitan pada materi kesetimbangan kimia berkaitan tentang kesalahan siswa yang tidak dapat menuliskan tetapan kesetimbangan heterogen, perhitungan pada konstanta kesetimbangan, serta pengaruh suhu terhadap kesetimbangan.
Barke, et al (209:145)mengungkapkan bahwa pemahaman tentang kesetimbangan sangatlah penting karena kesetimbangan merupakan dasar untuk memahami topik lain seperti asam basadanreaksi redoks. Fakta lain juga menunjukkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stewart dan Yarroch, jika kesetimbangan merupakan salah satu topik yang sulit dalam kimia. Hal tersebut disebabkan oleh adanya konsep-konsep yang sulit untuk diajarkan di dalam topik kesetimbangan tersebut.Kesulitan dalam memahami materi kesetimbangan kimia juga dialami oleh siswa pada banyak sekolah-sekolah menengahkejuruan. Berdasarkan wawancara pada beberapa SMK di Kabupaten Blitar, diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep kesetimbangan kimia, antara lain kesulitan dalam menyelesaikan soal perhitungan dan soal yang melibatkan konsep abstrak serta penggunaan strategi pembelajaran yang kurang tepat, sehingga menyebabkan belajar siswa rendah dan kurang semangatnya siswa dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan data hasil nilai mata pelajaran kimia dan hasil observasi di SMK, masih banyak siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar minimal yakni 70, rata-rata dari siswa baru mencapai ketuntasan 67. Selain masih rendahnya ketuntasan belajar, motivasi, dan hasil belajar siswa juga masih rendah. Hasil pengamatan peneliti terlihat masih kurangnya persiapan siswa ketika waktu pelajaran kimia dimulai atau sering terlambat karena siswa dengan sengaja mengulur waktu untuk masuk ke kelas. Meskipun setiap siswa sudah mempunyai sumber belajar (LKS Kimia), akan tetapi mereka masih saja ada yang lupa membawanya ataupun mereka membawanya tapi hanya dibawa saja, tidak mencoba untuk memahaminya. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi sekolah.
Beberapa penelitian telah dilakukan dalam upaya menyelesaikan masalah kesulitan pada materi kesetimbangan kimia. Sebuah penelitian di Iran menemukan bahwa sistem presentasi kelas berbasis PC tablet dapat meningkatkan belajar, meningkatkan siswa pada fokus dan perhatiannya di kelas, serta meningkatkan tingkat kepuasan pada siswa dalam proses pembelajaran (Naseriazar, et al:
2010). Hanson (2006) menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna jika melibatkan siswa dalam proses pembelajaran konstruktivistik dan juga kooperatif. Siswa akan dituntut menganalisis informasi melalui pengamatan dalam kehidupan sehari-hari ataupun pembelajaran di kelas sehingga pemahaman akan lebih baik karena terjadi suatu konstruksi konsep dari siswa itu sendiri. Salah satu strategi pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran konstruktivistik dan juga kooperatif tersebut adalah POGIL (process-oriented guided-inquiry learning)
POGIL (process-oriented guided-inquiry learning) adalah strategi pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam memperoleh konsep. Pada strategi POGIL ada dua aspek yang ditekankan, yaitu aspek konten dan skill learning (Hanson, 2006). Keberhasilan penerapan POGIL ditunjukkan oleh hasil-hasil penelitianyang pernah dilakukan. Sen, dkk. (2015) menyatakan bahwa penggunaan POGIL dalam pembelajaran kimia dapat mendorong siswa meningkatkan self regulated learning skills. Maulidiawati dan Soeprodjo (2014) menyatakan bahwa keefektifan pembelajaran kooperatif dengan POGIL pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan ditunjukan olehrata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol, hasil belajar kognitif telah mencapai proporsi ketuntasan klasikal, dan hasil belajar afektif dan psikomotorik kelas eksperimen lebih besar dibanding kelas kontrol.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan pada guru kimia di SMK, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran POGIL dapat dilakukan pada materi kesetimbangan kimia. Hal ini dikarenakan sifat dan ciri-ciri materi kesetimbangan kimia ada yang dapat diamati dan fenomenanya dapat dipelajari melalui serangkaian kegiatan percobaan. Konsep kesetimbangan kimia yang tidak dapat diperoleh melalui percobaan bisa diperoleh dengan mengamati pola dari suatu data atau dengan studi literatur. Penerapan POGIL dalam mempelajari kesetimbangan kimia diharapkan dapat membangun pemahaman dan mengembangkan kemampuan proses siswa melalui tim belajar, membangun pertanyaan untuk berpikir kritis dan analitis, pemecahan masalah, pelaporan, metakognisi, dan tanggung jawab individu.
Kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai organisasi yang berfungsi mengelola pendidikan di Indonesia menyambut baik perkembangan ICT dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pengenalan teknologi informasi dan komunikasi, terutama di jenjang pendidikan menengah kejuruan. Guru-guru di SMK mengatakan bahwa salah satu kebijakan umum direktorat pembinaan SMK Tahun 2011 yang didasarkan pada hasil evaluasi pelaksanaan program tahun 2010, dan rancangan direktorat pembinaan SMK Tahun 2010-2014 adalah upaya untuk mencapai sasaran sekurang-kurangnya 70% SMK melaksanakan e-learning, e-management dan e-service. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis IT perlu dilakukan dengan tujuan agar siswa memiliki bekal kemampuan untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kelak pada saat lulus tidak buta sama sekali dengan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di masyarakat.
Salah satu pembelajaran yang dapat membantu siswa mengatasi hal tersebut adalah dengan pembelajaran yang menekankan pada aspek kemandirian dan saling berkomunikasi, salah satunya adalah pembelajaran blended learning, yaitu pembelajaran yang melaksanakan pembelajaran tatap muka dan online learning. Pembelajaran online merupakan pembelajaran yang dilaksanakan di luar kelas tanpa ikatan waktu dan tempat akses (Kumar dan Kumar, 2013: 2). Penggunaan media online dalam pembelajaran dapat membantu keterbatasan pengajar dalam menyampaikan informasi maupun keterbatasan jam pelajaran di dalam kelas. Pembelajaran online juga dapat menjadi media pembelajaran interaktif yang dapat mengatasi adanya bahan ajar secara luas.
Driscoll (2002) menyatakan bahwa blended learning adalah kombinasi dalam blended learning bisa antara bentuk teknologi instruksional (misalnya: rekaman video, CD-ROM, pembelajaran berbasis Web, film) dengan pembelajaran tatap muka (F2F) untuk meningkatkan efektivitas dan fleksibilitas proses pembelajaran. Penerapanblended learning dalam strategi POGILdiperkirakan tidak hanya dapat meningkatkan pemahaman konsep tetapi juga semangat belajar siswa. Kesempatan siswa yang lebih luas dalam mengakses sumber belajar dan komunikasi dengan guru atau sesama siswa menggunakan media online yang disukai siswa akan dapat meningkatkan semangat siswa dalam membangun konsep sendiri melalui tahapan POGIL. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang ―Pengaruh Blended Learning dalam Strategi POGIL Materi Kesetimbangan kimia berbasis kontekstual terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Motivasi Siswa SMK‖.
PEMBAHASAN
Karakteristik Materi Kesetimbangan Kimia
Beberapa pelajardi sekolah menengah banyak yang mengalami kesulitan dalam memahami ilmu kimia (Nakhleh, 1993; Agung & Schwartz, 2007; Othman, Treagust & Chandrasegaran, 2008).
Hal ini karena siswa tidak dapat menerima banyaknya konsep pada mata pelajaran kimia (Kozma &
Russell, 1997). Pada kenyataannya terdapat beberapa siswa yang tidak dapat memahami konsep- konsep kimia tanpa adanya pembelajaran yang menyenangkan, melalui teknologi yang menampilkan gambar, video, dan berbagai model atom(Haidar, 1997; Niaz & Rodriguez, 2000).
Kesetimbangan kimia merupakan salah satu materi yang diajarkan di kelas XI pada kompetensi keahlian teknik pemesinan, teknik kendaraan ringan, dan teknik instalasi tenaga listrikdengan sub pokok bahasan meliputi prinsip kesetimbangan kimia, jenis-jenis kesetimbangan kimia, dan pergeseran kesetimbangan.Menurut beberapa penelitian, disebutkan bahwa terjadi beberapa kesulitan dan kesalahan konsep pada materi kesetimbangan kimia. Hal ini mengakibatkan
konsep dasar yang tertanam pada siswa menjadi salah.. Kesalahan konsep tersebut diantaranya dapat dilihat pada tabel 1.1
Tabel 1.1 beberapa kesalahan konsep siswa pada materi kesetimbangan kimia
Sub Materi Kesalahan Konsep Pada Siswa Sumber
Keadaan setimbang dan Kesetimbangan dinamis
Siswa berasumsi bahwa saat tercapai kesetimbangan konsentrasi reaktan dan produk adalah sama dan perbandingan jumlah mol zat sebanding dengan molaritasnya.
Barke et al, 2009
siswa menganggap bahwa konsentrasi berubah-ubah sebagai bentuk dari kesetimbangan
Barke et al, 2009
Siswa berpikir jika reaksi maju terjadi secara tuntas dulu sebelum reaksi balik dimulai
Barke et al, 2009
penambahan reaktan berlebih hanya akan merubah konsentrasi produk
Barke et al, 2009
Siswa menganggap bahwa pada saat keadaan setimbang tidak ada reaksi yang berlangsung
Raviolo &
Garritz, 2009 Tetapan
kesetimbangan
Kesalahan tentang makna Kc yang digambarkan sebagai suatu harga yang berubah-ubah pada suhu konstan dan diasumsikan bahwa perubahan nilai Kc sesuai dengan jumlah produk dan reaktan.
Barke et al, 2009
Siswa tidak dapat menghitung nilai tetapan kesetimbangan jika diketahui mol dan reaktan
Kousathana &
Tsaparlis, 2002 Siswa tidak dapat menuliskan tetapan kesetimbangan
heterogen
Kousathana &
Tsaparlis, 2002 Pergeseran
arah
kesetimbangan
Siswa menganggap bahwa azas Le Chatelier diterapkan pada semua system kesetimbangan termasuk kesetimbangan heterogen
Raviolo &
Garritz, 2009 Kesalahan tentang penggunaan prinsip Le Chatelier, muncul
asumsi bahwa untuk menggeser kesetimbangan, dapat dilakukan dengan meningkatkan konsentrasi semua zat kecuali reaktan.
Barke et al, 2009
Siswa tidak sepenuhnya memahami tentang pengaruh volume, suhu, tekanan, dan konsentrasi terhadap kesetimbangan
Barke et al, 2009
Rina, S.Si selaku guru di SMK PGRI Wlingi juga mengatakan bahwa materi kesetimbangan kimia memerlukan media dan strategi pembelajaran yang menarik agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan siswa menjadi semangat dalam belajar. Apalagi kebanyakan sekolah menengah kejuruan sekarang melaksanakan pembelajaran berbasis IT termasuk di SMK PGRI Wlingi.
Kementerian pendidikan dan kebudayaan sebagai organisasi yang berfungsi mengelola pendidikan di Indonesia menyambut baik perkembangan ICT dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pengenalan teknologi informasi dan komunikasi, terutama di jenjang pendidikan menengah kejuruan.
Pembelajaran Online
Model pembelajaran yang mengacu pada online atau lebih dikenal dengan e-learning sudah mulai diterapkan di sekolah menengah sejak awal tahun 2000. Bahkan di SMK sekarang banyak yang menerapkan pembelajaran berbasis IT. Hal ini terjadi seiring dengan perkembangan zaman yang serba teknologi di sekitar kita. Adanya teknologi membuat para pelaku pendidikan dapat mengakses materi pendukung lewat jaringan internet melalui komputer, notebook, tablet bahkan pada handphone.
Beberapa aplikasi pendidikan pun sudah dapat dengan mudah di download, seperti edmodo, sistem periodik unsur (SPU), dan program pembelajaran lain yang sifatnya mendukung proses pembelajaran.
Pembelajaran online dapat meningkatkan minat belajar siswa dengan tidak membatasi pencarian
artikel atau materi yang ditugaskan oleh guru (Kumar dan Kumar, 2013: 12; Potter dan Overton, 2003:
201).
Guru-guru di SMK mengatakan bahwa salah satu kebijakan umum direktorat pembinaan SMK Tahun 2011 yang didasarkan pada hasil evaluasi pelaksanaan program tahun 2010, dan rancangan direktorat pembinaan SMK Tahun 2010-2014 adalah upaya untuk mencapai sasaran, sekurang-kurangnya 70% SMK melaksanakan e-learning, e-management dan e-service. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis IT perlu dilakukan dengan tujuan agar siswa memiliki bekal kemampuan untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kelak pada saat lulus tidak buta sama sekali dengan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di masyarakat.
Fasilitas yang memadai menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembelajaran online. Hal ini mengartikan bahwa sekolah yang yang telah memiliki fasilitas internet berupa wifi, dapat menggunakan pembelajaran online dengan mudah, sedangkan sekolah yang tertinggal karena tidak adanya fasilitas, tidak dapat menggunakan teknologi tersebut dengan lancar. Pembelajaran online yang telah diterapkan memberikan respon yang positif dari siswa, yaitu melalui pembelajaran online siswa dapat mengekspresikan diri dengan cara mereka masing-masing (Potter dan Overton, 2003:201).
Berdasarkan observasi di sekolah maka diperlukan upaya dalam mengembangkan suatu model pembelajaran baru agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan menarik. Sehingga besar harapan, jika penelitian ini nantinya dapat memberikan kontribusinya ke arah yang lebih baik, yaitu pengembangan proses pembelajaran yang dilakukan tidak hanya diberikan ketika di kelas saja tetapi dapat memanfaatkan fasilitas kelas online yang berkembang pesat dan dapat diakses di mana pun dan kapan pun.
Blended Learning
Adanya teknologi yang semakin maju dan berkembang, menyebabkan dunia pembelajaran juga semakin modern. E-learning menawarkan penggunaan metode elektronik seperti CD-ROM, video conferencing, website, dan email. E-Learning sebenarnya adalah sebuah pembelajaran yang difasilitasi oleh penggunaan alat-alat digital dan konten yang biasanya melibatkan beberapa bentuk interaktivitasyang dapat mencakup interaksi online antara siswa dan guru atau rekan-rekannya (Ramakrisnan, et. al., 2012).
Blended learning merupakan salah satu jenis pembelajaran online dengan porsi pembelajaran online berkisar antara 30 – 79 % (Picciano & Seaman, 2007: 2).Garrison dan Vaughan (2008:148) mendefinisikan blended learning sebagai:
―The organic integration of thoughtfully selected and complementary face to face and online approaches and technologies‖.
Power (2008: 503) menambahkan bahwa blended learning adalah pembelajaran secara simultan dan saling melengkapi antara pembelajaran yang terjadi secara langsung (synchronous) dengan tidak langsung (ansynchronous).
Berdasarkan pendapat tersebut, blended learning merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka (face to face) dan pembelajaran elektronik (online). Blended learning dalam penelitian ini berfungsi sebagai alat bantu untuk mengoptimalkan pembelajaran POGIL. Ginns dan Ellis (2007:53) mengatakan bahwa proses pembelajaran dalam blended learningdapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu pembelajaran tatap muka dan pembelajaran online, jika dikombinasikan akan menjadi pembelajaran yang baru yaitu blended learning.
Kombinasi dari pembelajaran tatap muka dan online menjadi blended learning memberi banyak keuntungan bagi dunia pendidikan. Pembelajaran online pada blended learning memberi kesempatan kepada siswa untuk melanjutkan diskusi yang belum selesai pada saat pembelajaran tatap muka (Collopy dan Arnold, 2009: 87). Pembelajaran tatap muka pada blended learning memberikan nilai lebih karena siswa memiliki kesempatan untuk mengklarifikasi hal yang telah dipelajari selama pembelajaran online (Smyth dkk,. 2012: 466).
Garrison (2008: 13) menyatakan kerangka dasar dari pengembangan blended learning adalah pembangunan konsep yang didasarkan pada perspektif pembelajaran konstruktivistik. Teori pembelajaran konstruktivisme dikembangkan oleh Piaget dan Vygotsky (Arends, 2008:46). Teori