• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data dan Penyebab Anak Putus Sekolah

Dalam dokumen kerjasama sekolah dan masyarakat (Halaman 80-88)

BAB I PENDAHULUAN

B. Hubungan Kerjasama Sekolah dan Masyarakat dalam Meminimalisasi Anak Putus Sekolah di Kecamatan Sakra Barat Anak Putus Sekolah di Kecamatan Sakra Barat

1. Data dan Penyebab Anak Putus Sekolah

Seiring dengan gencarnya upaya Pemerintah mewujudkan tujuan pembangunan Nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, maka hal yang masih membutuhkan perhatian khusus berkaitan dengan dunia pendidikan adalah kondisi anak putus sekolah di Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur. Masalah anak putus sekolah di semua jenjang

pendidikan tidak bisa dibendung karena berbagai latar sosio-historis dari masing-masing individu, keluarga dan lingkungan yang melingkupinya.

Kemudian hasil pengamatan peneliti sehingga permasalahan ini menarik untuk diteliti berdasarkan sebuah anggapan sebagian warga masyarakat di Kecamatan Sakra Barat bahwa ada sebagian orang tua yang beranggapan anaknya tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan bagi perempuan masih ada yang memilih untuk menikah muda dengan alasan takut menjadi perawan tua dan itu semua berawal dari tingkat pendidikan orang tua dan ekonominya.95

Berdasarkan data terkini yang diperoleh penulis di lapangan, pada tahun 2019 jumlah anak putus sekolah di Kecamatan Sakra Barat sebanyak 1.720 anak dari berbagai jenjang pendidikan sesuai dengan data statistik. Dengan alasan itulah, para kepala sekolah dan semua guru berkomitmen akan terus menerus berupaya untuk menekan dan mengikis jumlah anak putus sekolah sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemerintah kepada masyarakat”.

Meskipun tidak menunjukkan angka yang super fantastis namun, adanya anak usia sekolah yang berhenti belajar di sekolah sebelum waktunya atau putus sekolah diberbagai jenjang, ikut mengindikasikan bahwa masih saja ada orangtua yang belum memahami betapa pentingnya nilai sebuah pendidikan bagi seorang anak dalam keluarga. Bahkan, peranan orang tua untuk menjadi motor penggerak semangat bagi anak agar mau bersekolah jauh dari yang diharapkan.

95Kepala Sekolah MTs. NW Darun Najihin. Wawancara, Senin, 29 Juli 2019. Jam 10.03 Wita.

Berdasarkan hasil penelitian di salah satu Desa di Kecamatan Sakra Barat setelah melakukan wawancara terkait masalah hubungan kerjasama sekolah dan masyarakat dalam meminimalisasi anak putus sekolah di Desa Montong Beter masih belum optimal dikarenakan masih banyak ditemukan anak-anak yang putus sekolah disebabkan oleh banyak faktor di dalamnya. Di antara faktor yang menyebabkan anak-anak putus sekolah di Desa Montong Beter yaitu faktor keluarga. Berdasarkan penuturan dari Kepala Desa Montong Beter, menjelaskan bahwa:96

Sebagian kecil dari anak-anak yang putus sekolah di Desa Montong Beter ini dipengaruhi oleh faktor keluarga, karena wali murid tidak terlalu memperhatikan pendidikan anaknya. Terkesan acuh tak acuh dengan pendidikan anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya putus sekolah. Contoh kasus, orang tuanya terlalu sibuk menggarap lahan pertaniannya. Sehingga anak-anaknya tidak terurus dan kurang diperhatikan. Mereka tidak mau tahu apakah anak-anaknya sekolah atau tidak. Ironisnya, ketika anak-anaknya putus sekolah, sedikitpun tidak ada reaksi dari orang tuanya. Semisal alasan anak-anaknya berhenti sekolah, sedikitpun tidak ditanyakan dan tidak diselesaikan permasalahannya. Jadi, Kalau anak-anaknya berhenti sekolah, orang tuanya tidak mau tahu alasannya itu apa. Lantas, orangtuanya mengatakan, kalau tetap tidak mau sekolah silahkan bantu kami untuk menggarap sawah.

Selain dari faktor keluarga, ada juga faktor lain yang menyebabkan anak-anak putus sekolah di Kecamatan Sakra Barat. Di antaranya yaitu faktor lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Rensing. Peneliti berhasil mewawancarai salah satu kepala dusunnya menyatakan bahwa:

Di desa Rensing ini tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua warganya mampu menyelesaikan sekolah sampai selesai. Banyak juga ditemukan

96 Kepala Desa Montong Beter, Wawancara, Montong Beter, 02 Januari 2020. Jam 10.17 Wita.

anak-anak putus sekolah disebabkan karena faktor lingkungan yaitu dipengaruhi oleh teman-temannya yang sudah menikah. Tidak sedikit dari mereka menikah dini atau menikah diusia sekolah setingkat SMA/MA, dan ada juga menikah setingkat MTs. Tapi, tidak semuanya putus sekolah disebabkan karena terpengaruh dengan pergaulan teman- temannya. Ada juga faktor lain. semisal faktor keluarga yang tidak terlalu memperhatikan pendidikan anak-anaknya, sehingga orang tua ketika anak-anaknya mau menikah, maka respon kedua orang tuanya malah memberikan izin anaknya menikah jika memang itu keinginannya sekalipun nantinya anak itu putus sekolah.97

Ada pun faktor lain yang peneliti temukan di tempat yang lain terkait anak putus sekolah yaitu faktor kenakalan anak. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan kepala Madrasah Tsanawiyah NW Darun Najihin Bagik Nyala menjelaskan bahwa:98

Salah satu faktor anak-anak putus sekolah disebabkan karena kenakalan anak yang suka mengganggu temannya, sehingga temannya itu tidak mau sekolah. Kemudian anak yang bersangkutan ditegur sama orang tua, pada akhirnya anak itu tidak mau sekolah karena malu. Dan juga ditemukan anak putus sekolah karena berkelahi sehingga salah satunya tidak mau sekolah, sekalipun telah ditegur sama orang tuanya untuk tetap sekolah, tapi tetap saja tidak mau.

Kasus yang berbeda peneliti temukan di tempat yang lain yaitu anak putus sekolah disebabkan karena sering bolos. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan wali kelasnya mengatakan bahwa:99

Ada salah satu dari murid kelas 2 MTs di Desa Bungtiang berhenti sekolah gara-gara sering bolos sehingga sering mendapat teguran (hukuman) baik dari gurunya, teman-temannya,masyarakat dan orangtuanya. Karena terlalu sering melakukan hal tersebut menyebabkannya tidak mau datang lagi sekolah. Walaupun sudah

97Kepala Dusun Rensing, Wawancara, Rensing, 02 Januari 2020. Jam 11.36 Wita.

98Kepala Madrasah MTs NW Darun Najihin, Wawancara, Bagik Nyala, 6 Januari 2020. Jam 10.00 wita.

99 H. Marzuki Kepala Sekolah MTs NW Baungtiang, Wawancara, 4 Januari 2020.

dikirimkan surat kepada orang tuanya tetap saja tidak mau datang sekolah sampai didatangi ke rumah untuk menasehatinya tetap saja tidak mau sekolah.

Kasus lain yang peneliti temukan di Desa Gunung Rajak terkait anak putus sekolah disebabkan oleh faktor ekonomi. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan orang tuanya yaitu:

Penyebab anak saya putus sekolah karena melihat kondisi ekonomi kami sebagai orang tuanya tidak menentu karena penghasilan kami terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Maka, untuk memenuhi kehidupan mereka, kami sebagai orang tua sering berhutang dan terkadang hutang itu tidak mampu kami bayar cepat sesuai dengan perjanjian. Dengan sebab itulah anak kami memilih putus sekolah pada saat kelas 3 Aliyah dan memilih untuk pergi cari uang ke Malaysia.100

Penyebab yang lain terkait masalah anak putus sekolah juga dipengaruhi oleh minat belajarnya yang kurang. Kasus ini terjadi di salah satu SDN di Kecamatan Sakra Barat, berdasarakan penuturan salah satu gurunya mengatakan bahwa:

Ada salah satu murid kami putus sekolah karena minder dengan temannya yang motivasi belajarnya bagus sehingga nilainya bagus, tapi anak ini sering mendapat nilai rendah karena tidak faham dengan mata pelajaran padahal sudah dijelaskan panjang lebar, tetap saja anak yang satu ini tidak faham. Karena terlalu sering mendapat nilai rendah, akhirnya dibully sama teman-teman kelas. Dengan alasan itulah ia memutuskan untuk tidak ke sekolah lagi101.

Kasus lain, terjadi di SDN 2 Gunung Rajak, Kecamatan Sakra Barat, berdasarkan wawancara dengan kepala sekolahnya, menyatakan bahwa:

Terdapat seorang anak yang putus sekolah, yakni siswa kelas V ( lima ) atas nama Ahmad Junaidi. Anak tersebut tidak lagi kembali bersekolah,

100Amaq Sulhan, Wawancara, Bagik Nyala, 7 Januari 2020.

101Ibu Fatmawati (Wali Kelas), Wawancara, 5 Maret 2020.

dan setelah ditelusuri oleh pihak sekolah, ternyata ia sudah bekerja disebuah tempat pencucian kendaraan bermotor. Upaya pihak sekolah menghubungi orang tua agar anaknya dapat kembali bersekolah seperti teman-temannya, namun tidak mendapat respons positif. Bahkan informasi yang didapat dari anak yang bersangkutan bahwa ia bekerja karena ingin memiliki penghasilan sendiri, tetapi juga ingin membantu keadaan ekonomi orang tuanya.

Ada pun terkait dengan anak yang putus sekolah pada sekolah MTs.

Peneliti berhasil menemui dan mewawancarai anaknya langsung:102

Salah satu alasan saya putus sekolah, disebabkan karena terlalu sering malas dan sering bolos sekolah. Akhirnya, saya malau untuk datang lagi ke sekolah. Walaupun saya dimarahi oleh kedua orangtua dan pernah didatangi oleh wali kelas. Tapi, saya tetap tidak mau lagi datang ke sekolah.

Satu anak lagi yang peneliti wawancarai di Desa Mengkuru Kecamatan Sakra Barat, menjelaskan alasannya putus sekolah, yaitu:103

Sebab saya putus sekolah karena kedua orangtua saya bercerai, kemudian tinggal sama nenek, kemudian Ibu pergi menjadi TKW ke Saudi Arabia dan ayah menikah lagi. jadi, sekolah saya terbengkalai karena nenek saya tidak begitu memperhatikan pendidikan saya.

Demikian juga ayah saya juga demikian.

Selanjutnya, kasus yang terjadi di Desa Mengkuru, Kecamatan Sakra Barat, tepatnya di SDN 4 Mengkuru sedikit berbeda. Berdasarkan wawancara dengan pihak sekolah dalam hal ini Kepala Sekolahnya menjelaskan bahwa:

Terdapat satu anak yang berhenti atau putus sekolah di kelas IV (empat) atas nama Ahmad Zaki Putra. Siswa tersebut yang tergolong anak yang berbakat, meskipun prestasinya tidak menonjol. Tetapi kemudian ia menunjukkan tingkah laku yang tidak seperti biasanya, yaitu sering melamun, menjadi pendiam dan suka bolos hingga akhirnya tidak pernah kembali ke sekolah. Hasil penelusuran pihak sekolah kepada

102 Abdul Razak, Wawancara, 13 Januari 2020

103 Imtihan, Wawancara, 14 Januari 2020.

orangtuanya, ternyata telah terjadi disharmonis dalam keluarga.

Keretakan rumah tangga, ikut mempengaruhi psikologi anak, sekaligus menjadi pemicu bagi anak untuk mengambil keputusan yang “keliru“

yakni meninggalkan sekolah tempat dimana ia sedang dipersiapkan dan mempersiapkan diri untuk meraih masa depan yang baik.104

Kasus yang berbeda juga terjadi di Desa Pengkelak Mas, Kecamatan Sakra Barat, terjadi pada keluarga Amaq Rifa’i (62 thn) dan Inaq Rifa’i (57 thn), yang memiliki 5 orang anak (3 laki-laki dan 2 perempuan). Anak pertama dan keduanya tidak menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Dasar, anak ketiganya menyelesaikan pendidikannya di tingkat Sekolah Dasar dan 2 anak perempuannya sementara mengenyam pendidikan di tingkat sekolah dasar. Saat diwawancarai, Inaq Rifa’I menjelaskan bahwa:

Anaknya terpaksa harus berhenti sekolah. Mereka tidak dapat menikmati pendidikan diberbagai jenjang karena kondisi ekonomi keluarga, di mana suaminya yang hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak tetap serta kondisi kesehatan suaminya yang sangat memprihatinkan, membuat mereka harus mengorbankan kesempatan untuk menimba ilmu di sekolah. Sekalipun sekolahnya digratiskan, tapi kebutuhan seperti alat sekolah, dan terutama yang paling mendesak adalah belanjanya setiap hari105.

Kasus anak putus sekolah yang terjadi di Desa Sukarara, terdapat keluarga yang memiliki anak putus sekolah. Salah satunya yang terjadi pada keluarga Amaq Fatimah (44 tahun) seorang Tukang ojek dan Inaq Fatimah (42 tahun) yang memiliki 3 orang anak laki-laki, di mana anak pertama dan kedua hanya menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, sedangkan anak ketiganya yang sementara mengenyam pendidikan di kelas 2 SMP Negeri 2

104Kepala Sekolah SDN 4 Mengekuru, Wawancara, 13 Januari 2020.

105Amaq Rifa’I dan Inaq Rifa’I, Wawancara, Desa Pengkelak Mas, 15 Januari 2020.

Sakra Barat terpaksa berhenti. Saat diwawancarai, ibu Juli yang hanya mengecap pendidikan sampai kelas 3 Sekolah Dasar, mengaku bahwa anak- anaknya berhenti sekolah karena mengikuti jejak ayahnya yang dulu hanya sampai pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Selain itu, Inak Fatimah mengatakan bahwa terlalu banyak biaya yang harus disiapkan untuk menyekolahkan anaknya tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh setiap hari.106

Kasus yang terjadi di Desa Boyemare, terdapat beberapa keluarga yang anaknya putus sekolah. Salah satunya terjadi pada Ridho anak pertama dari 4 bersaudara dari Amaq Zulkarnain (59 thn) dan Inaq Zulkarnain (57 thn) yang tiba-tiba enggan bahkan harus berhenti sekolah sebelum waktunya di SMPN 3 Sakra Barat. Saat diwawancarai Inaq Zulkarnain menjelaskan bahwa:

Anaknya terpengaruh dengan teman-teman seusia yang ada disekitarnya, yang sebagian besar sudah putus sekolah. Sebagai orang tua, mereka sudah berusaha membujuk, tetapi anak mereka tetap tidak ingin bersekolah lagi, dan beralasan ingin mencari pekerjaan apa saja.107

Kasus yang terjadi pada ahmad Juwainin yang berhenti sekolah akibat tidak naik kelas pada jenjang Sekolah Dasar, bertempat di Desa Borok Toyang, sebagaimana dituturkan oleh orangtuanya, mengatakan:

Anak kami ini malu untuk datang kesekolah karena tidak naik kelas, disebabkan banyak pelajaran yang mendapat nilai rendah walaupun sering masuk tapi sulit faham. Akhirnya, ia malu sekolah lagi, sekalipun dibujuk oleh guru dan masyarakat, tapi tetap saja tidak mau sekolah.108

106Amak Fatimah dan Inak Fatimah, Wawancara, Desa Sukarara, 16 Januari 2020.

107Inaq Zulkarnain, Wawancara, Desa Boyemare, 18 Januari 2020.

108Inak Zubaedah, Wawancara, Sakra Barat, 17 Maret 2020.

Desa Mengkuru juga terdapat anak yang putus sekolah pada jenjang sekolah Dasar, setelah peneliti berhasil menemuinya di rumah tempat tinggalnya, menjelaskan:

Saya berhenti sekolah atas permintaan kakek saya, Karena tidak mampu memberikan belanja sekolah setiap hari. Kedua orang tua saya bercerai dan dua-duanya sudah menikah. Mereka berdua sudah pindah di Desa lain. saya tinggal bersama kakek dan nenek, karena rumah kedua orangtua saya jauh dari tempat kelahiran saya. Awalanya tinggal bersama Ibu di rumah Kakek, tapi setelah itu Ibu menikah dengan orang lain, dan mengikuti suami barunya.109

Dalam dokumen kerjasama sekolah dan masyarakat (Halaman 80-88)