BAB I PENDAHULUAN
G. Sistematika Pembahasan
1. Kerjasama Sekolah dan Masyarakat a. Kerjasama
Kerjasama adalah satu bentuk partisipasi untuk memperoleh pengertian, dukungan kepercayaan dan penghargaan dari masyarakat umum. Partisipasi tersebut antara lain berujud bantuan administrasi secara langsung dan tidak langsung yang mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Adanya kerjasama sekolah dengan masyarakat itu sebagai usaha untuk mewujudkan tujuan pemerintah dalam pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
23Abdurrahman Shaleh Abdullah, Educational Theory A Qur`anic Outlook (Makkah al- Mukarramah: Umm al-Qur University, t.t.), 26.
Untuk mencapai tujuan itu harus ada hubungan yang harmonis antara lembaga pendidikan dengan masyarakat.24
Menurut B. Suryosubroto, kerjasama dikarenakan adanya :25 1) Kesamaan Tanggungjawab
Di dalam GBHN ditegaskan bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Masyarakat terdiri atas kelompok-kelompok dan individu-individu yang berusaha menyelenggarakan pendidikan atau membantu usaha-usaha pendidikan. Dalam masyarakat terdapat berbagai organisasi penyelenggara pendidikan, organisasi keagamaan, organisasi olahraga, atau organisasi kesenian yang bergerak dalam usaha pendidikan. Dalam masyarakat juga terdapat individu-individu yang bersimpati terhadap pendidikan di sekolah.
2) Kesamaan Tujuan
Sekolah menghendaki agar para siswa kelak menjadi manusia pembangunan yang Pancasilais. Masyarakat juga menghendaki agar semua warga negara menjadi manusia pembangunan yang Pancasilais. Individu yang Pancasilais diharapkan datang dari sekolah. Oleh karena itu, antara sekolah dan masyarakat harus
24Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1990), 47.
25Suryosubroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Bina Aksara, 2004), 16.
mempunyai kesamaan tujuan. Wujud dari kerjasama adalah: (a) Hubungan sekolah dengan orang tau murid harus dipelihara sebaik-baiknya, (b) Untuk mewujudkan hubungan tersebut, perlu dibentuk satu panitia pemeliharaan sekolah yang terdiri atas beberapa orang tua murid, dan (c) Susunan dan kewajiban panitia pembantu pemeliharaan sekolah ditetapkan oleh Mendikbud.
Hubungan sekolah dengan masyarakat serta hubungan sekolah dengan orang tua murid, pada hakikatnya adalah sarana yang cukup mempunyai peran menentukan dalam usaha pembinaan, pertumbuhan, dan pengembangan murid-murid di sekolah. Oleh karena itu, hubungan tersebut perlu dibina, dibangun dan dipelihara sebaik-baiknya karena merupakan jembatan saling pengertian sehingga mereka dapat berpartisipasi secara positif dan dapat memberikan dukungan moral material secara ikhlas.
Menurut Suryosubroto tujuan kerjasama sekolah dengan masyarakat dan orang tua murid adalah: (a) Membantu dan mengisi kegiatan anak di sekolah yang hanya berkisar tujuan, sementara siswa waktunya dihabiskan di rumah dan di masyarakat, (b) Memberikan sumbangan keuangan dan barang, dan (c) Mencegah perbuatan dan tingkah laku yang kurang baik.26
26Suryosubroto, Dimensi-dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Bina Aksara, 2004), 17.
Terjadinya hubungan yang baik antara sekolah dengan orang tua murid serta masyarakat, akan bermanfaat bagi sekolah, masyarakat, orang tua murid, dan anak didik sendiri. Peran serta masyarakat berfungsi untuk ikut memelihara, menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan pendidikan nasional. Bentuk- bentuk kerjasama sekolah dengan masyarakat dalam penelitian ini merujuk pada Pasal 4 PP Nomor 39 Tahun 1992 yang meliputi: (a) Mengikutsertakan wali murid dalam menunjang pelaksanaan pendidikan. (b) Pemberian bantuan tenaga ahli. (c) Mendayagunakan tokoh-tokoh masyarakat untuk turut menunjang pelaksanaan pendidikan. (d) Pengadaan dana dan memberi bantuan yang berupa wakaf, beasiswa, hibah, pinjaman dan bentuk-bentuk lain. (e) Pengadaan dan pengadaan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah.
Dalam hal ini, sekolah sebagai sistem sosial merupakan bagian integral dari sitem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat.
Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Sekolah juga harus menunjang pencapaian tujuan atau
pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya kebutuhan pendidikan. Oleh karena itu, sekolah berkewajiban untuk memberi penerangan tentang tujuan-tujuan, pogram-program, kebutuhan, serta keadaan masyarakat. Sebaliknya, sekolah juga harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan dan tuntutan masyarakat, terutama terhadap sekolah. Dengan perkataam lain, antara sekolah dan masyarakat harus dibina suatu hubungan yang harmonis.27
Esensi hubungan (kerjasama) sekolah dengan masyarakat adalah untuk meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial. Dalam arti yang sebenarnya, hubungan sekolah dan masyarakat sudah didesentralisasikan sejak lama. Oleh karena itu, hampir sama halnya dengan pelayanan siswa, yang dibutuhkan adalah peningkatan intensitas dan ekstensintas hubungan sekolah dan masyarakat.28
b. Bentuk-Bentuk Kerjasama
Ada pun bentuk-bentuk kerjasama sekolah dan masyarakat dalam meminimalisasi anak putus sekolah yang harus dibangun oleh kedua pihak tersebut adalah:29
27Suryabrata, Humas dan Dunia Pendidikan, (Yogyakarta : Mitra Gama Widya, 1988), 87.
28Daryanto, Administrasi Pendidikan(Jakarta : Rineka Cipta, 2005), 67.
29 F. B. Surbakti, Kenalilah Anak Remaja Anda, (Jakarta: Komputindo, 2008), 58.
1. Kemitraan orang tua dan guru
Kerjasama dan komunikasi abtara orang tua dan guru untuk membantu perkembangan anak di sekolah dapat mencegah anak putus sekolah. Bridgeland menunjukkan bahwa penyebab utama putus sekolah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan orang tua dan guru terhadap kebutuhan siswa.30 Guru bisa selalu member tahu orang tua tentang kehidupan sekolah anak-anak dan sebaliknya. selain itu, guru bisa memberi tahu orang tua tentang kekuatan dan kelemahan anak sehingga orang tua menjadi lebih peduli tentang apa yang harus dikembangkan dan dikerjakan anak- anak.
2. Kemitraan Keluarga-Sekolah-Masyarakat
Cara lain untuk mencegah putus sekolah adalah membangun kemitraan sekolah-keluarga-masyarakat. Untuk memaksimalkan rasa keterhubungan siswa di sekolah membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antar sekolah, keluarga, dan masyarakat.31 Kolaborasi ini bisa menciptakan lingkungan belajar yang positif sehingga bisa meningkatkan antusiasme anak untuk mencintai sekolah.
Misalnya, sekolah memungkinkan orang tua bahkan mendorong
30 J. M. Bridgeland, The New Dropout Challenge: Bridging Gaps Among Students, Parents, and Teacher, (New Directiona for Yout Development, 2010), 101-110.
31 C. Lee Goss & Kristina Andrean, Dropout Prevention, (New York: The Guilford Press, 2014), 76. Bandingkan Zainal Aqib, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Sarana Tutorial Nurani Sejahtera, 2015), 35.
mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah baik di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Masalah sekolah bukanlah tanggungjawab sekolah saja, namun merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat. Kemitraan masyarakat dan komunitas dapat memberikan layanan seperti mengawal, memperhatikan dan membantu keluarga dan siswa yang berpotensi putus sekolah.
Melihat pentingnya kerjasama antara sekolah dan masyarakat dalam menanggulangi anak putus sekolah, maka tugas ini harus terintegrasi antara keduanya guna sama-sama menyelesaikan masalah ini. Maka di sini penting sekali adanya integrasi sekolah dan masyarakat.
Teori integrasi dipopulerkan oleh salah satu tokoh berpengaruh dalam dunia pendidikan yaitu M. Amin Abdullah, rektor dua priode UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Teori integrasi-interkoneksi merupakan teori yang diusungkan sebagai teori ilmiah untuk menunjukkan dan menegaskan bahwa ilmu itu tidak dikotomis, meliankan antara ilmu yang satu dengan lainnya saling berkaitan.32 Selanjutnya dalam Waryani Fajar Riyanto, penulis biografi M. Amin Abdullah menjelaskan dalam bukunya, menyatakan bahwa tata cara berpikir integralistis, yaitu melihat segala sesuatu tak terpisah-pisahkan dari keseluruhannya.33
32 Baca Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif- Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).
33 Waryani Fajar Riyanto, Integrasi-Interkoneksi Keilmuan: Biografi Intelektual M. Abdullah (1953…), Person, Knowlwdge, and Institution, (Yogyakarta: Suka-Press, 2013),763.
Integrasi adalah sebuah sistem yang mengalami pembaruan hingga menjadi suatu kesatuan yang utuh. Integrasi berasal dari bahasa Inggris
“integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi.34
Menurut Koentjaraningrat bagi masyarakat pedesaan, nilai solidaritas merupakan kebutuhan umum yang dinilai lebih tinggi daripada kebutuhan individu.35 Maka, di sinilah pentingnya integritas. Proses integrasi melalui beberapa tahapan di antaranya: Integrasi interpersonal yaitu taraf ketergantungan antar pribadi, integrasi sosial yaitu taraf ketergantungan antar unsur-unsur sosial ekonomi, dan integrasi budaya yaitu ketergantungan fungsional dari unsur-unsur kebudayaan.36
Artikel M. Amin Abdullah yang ditulis tahun 2002 yang berjudul:
Etika Tauhidik sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan dan Agama: dari Paradigma Positivistik-Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik, untuk pertama kalinya menggunakan istilah “integralistik” keilmuan. Kata Amin, “Adanya gagasan tentang pengembangan IAIN (khususnya IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta) sebagai pilot project menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), di bawah
34 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), 45.
35 Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial (Jakarta: Dian Rakyat, 1997), 78.
36 Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi (Jakarta: Rajawali Press, 1983), 157-158. Bandingkan,
Departemen Agama (Kementerian Agama), harus di arahkan pada corak epistemologi keilmuan dan etika moral keagamaan yang integralistik.
Dalan konsep ini, fakultas-fakultas agama tetap dipertahankan seperti yang ada sekarang, namun perlu dikembangkan kurikulumnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengguna jasa IAIN di era globalisasi dan diperkuat tenaga pelajar dan dosen-dosennya dengan berbagai metode dan pendekatan baru dalam Islamic Studies, humanities, dan ilmu-ilmu social, sedangkan dalam fakultas-fakultas umum—baik dalam bentuk wider mandate maupun “universitas”—perlu dibekali muatan-muatan spiritualitas dan moral keagamaan yang lebih kritis dan terarah dalam format integral curriculum, dan bukannya separated curriculum seperti yang berjalan selama ini.37
Maksud yang ingin disampaikan dalam teori integrasi ini adalah dalam menangani anak putus sekolah disetiap jenjang pendidikan adalah perlu adanya sebuah integrasi dari masyarakat setempat, karena masyarakat dan sekolah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan. Majunya dunia pendidikan didukung dan disuport oleh masyarakat. Oleh karena itu, peran penting antara keduanya harus bersinergi dalam mencari solusi atau pemecahannya pada kasus anak putus sekolah.
37 M. Amin Abdullah dalam Waryani Fajar Riyanto, Integrasi-Interkoneksi Keilmuan: Biografi Intelektual M. Abdullah (1953…), Person, Knowlwdge, and Institution, (Yogyakarta: Suka-Press, 2013), 764.
Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki dua pengertian, yaitu: (1) pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu, (2) membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Prilaku ‘antisosial’ semisal ketidakpedulian masyarakat terhadap penyimpangan-penyimpangan sosial semisal, kenakalan remaja yang bisa mempengaruhi anak putus sekolah.38
Suatu integrasi sosial diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadap berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut:39
a. Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya consensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota
38 Jim Ife & Frank Tesoriero, Community Devolopment: Community-Based Alternatives in an Age of Globalisation. Terj. Sastrawan Manullang, Nurul Yakin, dan M. Nursyahid, Community Developoment: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 216-217.
39 Dalam sejarah sosio;ogi, masyarakat dan kebudayaan adalah dua tema besar yang tak pernah lepas dari pembahasan para sosiolog. Kasus social menjadi tema penting untuk soroti dan diberikan argumentasi serta pemecahannya. Baca Muhammad Qowim dalam M. Amin Abdullah, dkk, Islamic Studies dalamParadigma Integrasi-Interkoneksi (Yogyakarta: Suka Press, 2007), 94-95.
masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
b. Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross- cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalitas) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegrasi atas paksaan dank arena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok. Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas territorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.40
Bentuk integrasi sosial yaitu:41
a) Asimilasi, yaitu pembaruan kebudayaan yang disertai ciri khas kebudayaan asli.
b) Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli. Contoh: Saketan, yaitu akulturasi antara budaya Jawa, Islam dan Hindu.
Faktor-faktor pendorong Integrasi sosial terdiri dari :42
40Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1982), 138.
41 Nasikun, Sistem Sosial Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 1998), 64.
1) Faktor Internal, terdiri dari:
o Kesadarsan diri sebagai makhluk sosial o Tuntunan kebutuhan
o Jiwa dan semangat gotong royong 2) Faktor Eksternal, terdiri dari:
o Tuntunan perkembangan zaman o Persamaan kebudayaan
o Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama o Persamaan visi, misi, dan tujuan
o Sikap toleransi
o Adanya tantangan dari luar 3) Homogenitas Kelompok
Dalam masyarakat yang kemajemukannya rendah, integrasi sosial akan mudah dicapai.
4) Besar Kecilnya Kelompok
Dalam kelompok kecil integrasinya lebih mudah 5) Mobilitas Geografis
Adaptasi sangat diperlukan mempercepat integrasi Integrasi antara dua hati
Syarat keberhasilan integrasi sosial, yaitu:43
42 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu…, 138.
43Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1982),154.
(1) Untuk meningkatkan integrasi sosial setiap individu harus dapat mengendalikan perbedaan atau konflik yang terdapat pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
(2) Tiap warga masyarakat harus saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya.
(3) Terciptanya kesepakatan bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai sosial untuk menjadi pedoman hidup bersmasyarakat.
Berdasarkan teori tentang integrasi dan ruang lingkupnya di atas merupakan kerangka teori untuk memahami objek penelitian.