BAB VI PENUTUP
B. Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)
2.3 Aspek Daya Saing
2.3.1 Daya Saing Ekonomi Daerah
2.3.1.1. Sektor Basis dan Non Basis
Daya saing merupakan kemampuan suatu daerah dibanding daerah lain dalam menetapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Analisis Location Quotient (LQ) merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat spesialisasi sektor-sektor ekonomi di suatu daerah atau sektor-sektor apa saja yang merupakan sektor basis atau leading sektor.
Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah yang menjadi acuan. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien LQ tersebut nantinya dapat berupa jumlah produksi atau satuan lain yang dapat digunakan sebagai kriteria sektor basis. Pada analisis LQ ini yang dianalisis adalah pada jumlah produksi per sektor di Kabupaten Cirebon dibandingkan dengan Jawa Barat, sehingga terlihat keunggulan komparatif masing-masing sektor di tingkat Jawa Barat.
Tabel 2.21
Analisis Location Quotient (LQ) Kabupaten Cirebon
Kategori Uraian 2022 2023 Rata-rata Ket
A Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan 1,816 1,770 1,793 BASIS
B Pertambangan dan Penggalian 0,932 1,026 0,979 NON BASIS
C Industri Pengolahan 0,487 0,485 0,486 NON BASIS
D Pengadaan Listrik dan Gas 0,389 0,407 0,398 NON BASIS E
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
1,096 1,258 1,177 BASIS
F Konstruksi 1,338 1,268 1,303 BASIS
G
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
0,986 0,942 0,964 NON BASIS H Transportasi dan Pergudangan 1,640 1,728 1,684 BASIS
I Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 1,130 1,119 1,125 BASIS
J Informasi dan Komunikasi 0,698 0,683 0,691 NON BASIS K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,440 1,496 1,468 BASIS
L Real Estate 2,079 2,031 2,055 BASIS
M, N Jasa Perusahaan 2,044 2,078 2,061 BASIS
O
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
1,490 1,543 1,517 BASIS
P Jasa Pendidikan 1,870 1,945 1,908 BASIS
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 2,634 2,615 2,624 BASIS
R, S, T, U Jasa lainnya 1,773 1,872 1,822 BASIS
Sumber: BPS Kabupaten Cirebon, Data Diolah
Berdasarkan hasil perhitungan Location Quotient (LQ), dapat diketahui konsentrasi suatu kegiatan pada suatu wilayah dengan kriteria sebagai berikut:
1. Sektor Basis
a. Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.
b. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, dan Daur Ulang.
c. Konstruksi.
d. Transportasi dan Pergudangan.
e. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum.
f. Jasa Keuangan dan Asuransi.
g. Real Estate.
h. Jasa Perusahaan.
i. Administrasi Pemerintahan, Pertanahan dan Jaminan Sosial.
j. Jasa Pendidikan.
k. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, dan l. Jasa Lainnya.
2. Sektor Non Basis
a. Pertambangan dan Penggalian.
b. Industri Pengolahan.
c. Pengadaan Listrik dan Gas.
d. Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor.
e. Informasi dan Komunikasi.
2.3.1.2 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga per Kapita
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) merupakan pengeluaran atas barang dan jasa oleh rumah tangga untuk tujuan konsumsi. Dalam hal ini rumah tangga berfungsi sebagai pengguna akhir (final demand) dari berbagai jenis barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Rumah tangga didefinisikan sebagai individu atau kelompok individu yang tinggal bersama dalam suatu bangunan tempat tinggal. Mereka mengumpulkan pendapatan, memiliki harta dan kewajiban, serta mengkonsumsi barang dan jasa secara bersama-sama utamanya kelompok makanan dan perumahan.
Gambar 2.33
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita
Sumber: Kabupaten Cirebon dalam Angka Tahun 2024, BPS
Berdasarkan data di atas, pengeluaran per kapita makanan dan non makanan Kabupaten Cirebon dari Tahun 2020-2023 meningkat secara signifikan. Pada Tahun 2020, PKRT sebesar Rp 985.859, dan meningkat menjadi Rp 1.230.691 pada Tahun 2023. Kenaikan pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita setiap tahun mencerminkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat.
2.3.1.3. Persentase Pengeluaran Konsumsi Non Pangan per Kapita
Persentase pengeluaran konsumsi non pangan per kapita adalah proporsi dari total pengeluaran per individu dalam suatu populasi yang digunakan untuk membeli barang dan layanan non pangan. Ini mencakup segala sesuatu selain bahan makanan, seperti transportasi, hiburan, pakaian, dan barang-barang lainnya.
Gambar 2.34
Persentase Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Perkapita
Sumber: Kabupaten Cirebon dalam Angka Tahun 2024, BPS
Dalam rentang waktu 2020 sampai 2023 data menunjukkan fluktuasi persentase pengeluaran konsumsi non pangan per kapita. Fluktuasi tersebut dapat dipengaruhi
985.859 1.016.767 1.135.006 1.230.691
2020 2021 2022 2023
42,74
44,31
43,88
45,08
2 0 2 0 2 0 2 1 2 0 2 2 2 0 2 3
oleh banyak hal seperti faktor ekonomi, kebijakan pemerintah, dan perubahan tren konsumsi masyarakat. Pada tahun 2020 persentase pengeluaran konsumsi pangan per kapita sebesar 42,74%, dan pada tahun 2023 meningkat menjadi sebesar 45,08% Data ini mengindikasikan bahwa tingkat konsumsi barang dan jasa non pangan oleh masyarakat di Kabupaten Cirebon relatif tinggi.
2.3.1.4. Rasio Ekspor dan Impor Terhadap PDB
Rasio ekspor dan impor terhadap PDB mengukur seberapa besar nilai ekspor dan impor berkontribusi terhadap ekonomi suatu wilayah. Tingkat rasio ini memberikan gambaran tentang sejauh mana perdagangan internasional mempengaruhi kegiatan ekonomi regional. Jika nilai rasio tinggi, itu menunjukkan bahwa perdagangan internasional memiliki dampak yang signifikan terhadap kegiatan ekonomi wilayah tersebut.
Gambar 2.35
Rasio Ekspor dan Impor terhadap PDB
Sumber: BPS Kabupaten Cirebon dalam Angka Tahun 2024, Data Diolah
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa Rasio Ekspor dan Impor terhadap PDB memiliki nilai cukup besar yaitu sebesar 50,61% pada Tahun 2020. Hal ini berarti nilai gabungan dari ekspor dan impor tersebut setara dengan 50 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka. Namun demikian, sampai dengan Tahun 2023, rasio ini cenderung mengalami penurunan, dan pada Tahun 2023 menurun menjadi 44,39%.
2.3.1.5. Indeks Ekonomi Biru Indonesia (IBEI)
Indeks Ekonomi Biru Indonesia menghitung kontribusi sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan terhadap kemajuan ekonomi biru. IBEI disusun dari beberapa indikator perekonomian makro, yang dapat mencerminkan perkembangan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan yang terkait dengan sektor Ekonomi Biru. Secara umum, IBEI yang tinggi menunjukkan bahwa suatu wilayah telah berhasil dalam mengelola sumber daya lautnya dengan baik sehingga menghasilkan keuntungan ekonomi dan pemberdayaan manusia tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan hidup. Indeks Ekonomi Biru
50,61%
48,04%
49,02%
44,39%
2 0 2 0 2 0 2 1 2 0 2 2 2 0 2 3
Kabupaten Cirebon pada Tahun 2023 adalah 44,46 poin yang artinya pemanfaatan sumber daya laut masih belum terkelola dengan maksimal. Indeks ekonomi memiliki peran penting dalam upaya Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan dan transformasi ekonomi yang bertujuan untuk mencapai Visi Indonesia 2045.
2.3.1.6. Rasio Kewirausahaan Daerah
Rasio kewirausahaan daerah merupakan perbandingan jumlah orang yang berusaha dibantu buruh tetap di masing-masing daerah dengan total angkatan kerja daerah pada tahun yang sama. Pengusaha yang berusaha dibantu buruh tetap mengindikasikan adanya orientasi untuk tumbuh dengan merekrut tenaga kerja tetap.
Semakin besar pengusaha yang berusaha dibantu buruh tetap, semakin banyak penyerapan tenaga kerja tetap oleh para pengusaha.
Gambar 2.36
Rasio Kewirausahaan Daerah Kabupaten Cirebon
Sumber: BPS Kabupaten Cirebon, 2024
Rasio kewirausahaan daerah Kabupaten Cirebon mengalami peningkatan setiap tahun. Namun, angka ini terbilang masih sangat rendah sehingga diperlukan upaya-upaya dalam meningkatkan pengusaha-pengusaha yang unggul dan inovatif di Kabupaten Cirebon. Rasio kewirausahaan menjadi prasyarat untuk menjadi negara maju pada Tahun 2045 sehingga jumlah pengusaha harus ditambah. Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya angka wirausaha yaitu, pola pikir masyarakat untuk lebih mencari pekerjaan, rendahnya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku wirausaha, dan kendala mengakses modal.