• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Kewilayahan dalam Perspektif Nasional

Tahun 2045

2.7 Pengembangan Pusat Petumbuhan Wilayah

2.7.3 Pengembangan Kewilayahan dalam Perspektif Nasional

Gambar 2.66

Peta Arah Kebijakan Kewilayahan WP CIAYUMAJAKUNING

Sumber: Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat

d. Pengendalian pemanfaatan ruang pada sempadan pantai, sempadan sungai, dan kawasan sekitar danau atau waduk yang berpotensi mengganggu dan/atau merusak fungsi sempadan pantai, sempadan sungai, dan kawasan sekitar danau atau waduk dengan menggunakan teknologi lingkungan, serta pengembangan struktur alami berupa jenis dan kerapatan tanaman dan/atau struktur buatan di sempadan pantai, sempadan sungai, dan kawasan sekitar danau atau waduk untuk mencegah daya rusak air dilakukan di sempatan pantai Kabupaten Cirebon serta Waduk Sedong (Kabupaten Cirebon) dan Waduk Situ Patok (Kabupaten Cirebon)

e. Pelestarian dan pengembangan pengelolaan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dilakukan di Makam Sunan Gunung Jati (Kabupaten Cirebon) f. Penetapan zona-zona rawan bencana alam beserta ketentuan mengenai standar

bangunan gedung yang sesuai dengan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana, penyelenggaraan Upaya mitigasi dan adaptasi bencana melalui penetapan lokasi dan jalur evakuasi bencana serta pembangunan sarana pemantauan bencana, dan pengendalian perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana alam dilakukan pada Kawasan rawan tahan longsor di kabupaten Cirebon, Kawasan rawan gelombang pasang di kabupaten Cirebon, Kawasan rawan banjir di kabupaten Cirebon,

g. Penetapan zona-zona rawan bencana alam geologi beserta ketentuan mengenai standar bangunan gedung yang sesuai dengan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana, pengendalian perkembangan kawasan budi daya terbangun yang berpotensi terjadinya bencana, dan penyelenggaraan upaya mitigasi dan adaptasi bencana melalui penetapan lokasi dan jalur evakuasi bencana serta pembangunan sarana pemantauan bencana dilakukan pada Gunung Ciremai (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka), kawasan rawan abrasi di Kabupaten Cirebon,

h. Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya terbangun dan rehabilitasi kawasan imbuhan air tanah pada CAT dilakukan pada CAT Tegal-Brebes (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kota Tegal) i. Pengembangan pengelolaan kawasan peruntukan hutan dengan menggunakan

teknologi lingkungan, pengendalian perubahan peruntukan dan/atau fungsi kawasan hutan sebagai upaya untuk mewujudkan kawasan berfungsi lindung paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas Pulau Jawa-Bali sesuai dengan ekosistemnya, rehabilitasi kawasan peruntukan hutan yang mengalami deforestasi dan degradasi, dan peningkatan fungsi ekologis kawasan peruntukan hutan dilakukan di Kabupaten Cirebon

j. Pemertahanan luas lahan pertanian pangan berkelanjutan, pengendalian perkembangan kegiatan budi daya pada Kawasan pertanian pangan berkelanjutan terutama di sisi kiri dan sisi kanan jalan, pengendalian alih fungsi peruntukan lahan pertanian tanaman pangan, dan pengembangan sentra pertanian tanaman pangan yang didukung peningkatan fungsi industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan untuk ketahanan pangan nasional dilakukan di Kabupaten Cirebon

k. Pengembangan sentra perkebunan berbasis bisnis yang didukung prasarana dan sarana dengan menggunakan teknologi lingkungan, serta memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, dan rehabilitasi kawasan peruntukan pertanian untuk kegiatan perkebunan yang terdegradasi dilakukan di Kabupaten Cirebon

l. Pengembangan kawasan peruntukan pertanian untuk kegiatan hortikultura guna meningkatkan daya saing pertanian hortikultura dilakukan di Kabupaten Cirebon m. Pengembangan sentra perikanan tangkap dan perikanan budi daya yang

didukung peningkatan fungsi industri pengolahan hasil perikanan serta prasarana dan sarana yang ramah lingkungan dilakukan di Kabupaten Cirebon n. Rehabilitasi kawasan peruntukan perikanan budi daya untuk menjaga ekosistem

sekitarnya dilakukan di Kabupaten Cirebon

o. Pengembangan kawasan minapolitan berbasis Masyarakat dilakukan di Kabupaten Cirebon

p. Revitalisasi wilayah penangkapan ikan yang mengalami gejala tingkat penangkapan yang berlebih (overfishing) dilakukan di Kabupaten Cirebon

q. Pengembangan kawasan peruntukan kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi dilakukan di Kabupaten Cirebon

r. Pengendalian perkembangan kawasan peruntukan pertambangan pada kawasan peruntukan permukiman di Kabupaten Cirebon

s. Pengembangan kegiatan industri di dalam kawasan peruntukan industri dan mendorong relokasi kegiatan industri menuju Kawasan industri, meningkatkan kualitas prasarana dan sarana penunjang kegiatan industri, peningkatan penataan lokasi kegiatan industri di dalam kawasan industri, dan peningkatan kegiatan industri yang benilai tambah tinggi dengan penggunaan teknologi tinggi dan ramah lingkungan dilakukan di Kabupaten Cirebon

t. Rehabilitasi dan pengembangan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, bahari, serta ekowisata yang didukung prasarana dan sarana pariwisata, serta pengembangan pengelolaan Kawasan peruntukan pariwisata dengan menggunakan teknologi lingkungan dan berbasis kerja sama antardaerah

dilakukan pada kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan Makam Sunan Gunung Jati (Kabupaten Cirebon) dan kawasan pariwisata Bahari

2.7.3.2 Posisi Kabupaten Cirebon dalam Kawasan Metropolitan Cirebon Raya Metropolitan Cirebon Raya diusulkan pada RTRW Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 dengan kawasan andalannya yaitu Ciayumajakuning (Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan) yang kemudian ditetapkan melalui Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Pembangunan dan Pengembangan Metropolitan dan Pusat Pertumbuhan Jawa Barat. Fenomena perkembangan metropolitan Provinsi Jawa Barat ditandai oleh aglomerasi ekonomi, aglomerasi penduduk, serta peningkatan intensitas lahan terbangun dan aktivitas sosial masyarakat, salah satunya adalah Metropolitan Cirebon Raya dengan ruang lingkup wilayah pada Tahun 2020 mencakup 30 kecamatan dari 4 kabupaten.

Cirebon Raya adalah sebuah epik baru yang tengah dipahat dalam geografi Jawa Barat arah timur laut. Kota Metropolitan ini direncanakan menjadi 13 Kawasan Peruntukan Industri (KPI) di wilayah sekitar Cirebon. Kawasan ini merentang di beberapa kabupaten, termasuk Majalengka, Subang, Indramayu, Cirebon, dan Sumedang, serta melibatkan Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon sebagai Kawasan Pendukung. Dalam harmoni, Kawasan Peruntukan Industri dan kawasan pengembangan di sekitarnya ini sedang menyusun brand baru dari kota metropolitan bernama "Rebana."

Setiap KPI adalah mata rantai dalam jalinan masa depan sebuah Cirebon Raya.

Inilah daftar 13 KPI dan peruntukannya secara detail:

1. KPI Patimban: Simpul pendukung PKN Kawasan Perkotaan Bandung Raya, dengan fokus pada pertanian, industri non-polutif, bisnis kelautan, dan pertambangan mineral.

2. KPI Cipali Subang Barat: Sederet usaha terarah ke pertanian, industri non- polutif, bisnis kelautan, dan pertambangan mineral.

3. KPI Cipali Subang Timur: Menyemai pertumbuhan sektor pertanian, industri, dan bisnis kelautan.

4. KPI Cirebon: Menjadi bagian integral dalam PKN dengan penekanan pada sektor industri, bisnis kelautan, tanaman pangan, hortikultura, dan pariwisata.

5. KPI Patrol: Terus mengembangkan sektor pertanian, bisnis kelautan, industri, dan pertambangan mineral.

6. KPI Losarang: Melibatkan sektor pertanian, bisnis kelautan, dan industri.

7. KPI Tukdana: Berkembang menjadi pusat pertumbuhan pertanian.

9. KPI Balongan: Menghidupkan kembali potensi pertanian.

10. KPI Krangkeng: Berperan dalam pertanian.

11. KPI Jatiwangi: Menjadi lokasi Bandara Internasional Jawa Barat, kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai, dan pusat teknologi tinggi.

12. KPI Kertajati - Jatitujuh: Rencana pengembangan industri di Kertajati Aerocity.

13. KPI Butom: Memadukan pertanian, industri, pariwisata, pendidikan, dan pertambangan mineral.

2.7.3.3 Posisi Kabupaten Cirebon dalam Kawasan Metropolitan REBANA

Kawasan Metropolitan REBANA terletak di Provinsi Jawa Barat, yaitu provinsi dengan jumlah populasi tertinggi di Indonesia, jumlah populasi yang tinggi dapat diartikan sebagai jumlah kepentingan yang bervariasi dan setiap kepentingan harus dipertimbangkan dalam merencanakan provinsi. Kawasan Metropolitan Cirebon-Patimban-Kertajati yang kemudian disebut sebagai Kawasan Metropolitan REBANA merupakan salah satu contoh kawasan regional yang perlu direncanakan dengan benar agar berbagai aktivitas yang terdapat di dalamnya dapat berlangsung dengan baik. Kawasan ini juga dicanangkan sebagai 13 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dapat menyerap kejenuhan yang terjadi di Kawasan Bodebekkarpur yang saat ini sudah melewati batas.

Gambar 2.67

Titik Pengembangan Kawasan pada Kawasan Metropolitan REBANA

Sumber: Rencana Aksi Pengembangan Kawasan Metropolitan Cirebon-Patimban-Kertajati Tahun 2020-2030

Kawasan Metropolitan REBANA meliputi tujuh Kabupaten/Kota yaitu Kebupaten Majalengka (Kertajati), Kabupatan Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang (Patimban) dan Kabupaten Sumedang (Ujung Jaya dan Tomo) serta kawasan pendukung yaitu Kabupaten Kuningan dan Kota Cirebon. Sistem perkotaan ini disusun berdasarkan arahan kawasan sebagai pengembangan industri dan juga kegiatan industri yang nantinya akan dikembangkan pada kawasan.

Arahan dalam fungsi Kawasan kabupaten Cirebon yaitu, sebagai sentra pertanian, industri dan pariwisata sebagai pendukung PKN Cirebon yang berkelanjutan serta pengembangan kawasan industri, agropolitan dan minapolitan terpadu, serta pengembangan agroindustri dan industri kecil mikro sesuai dengan potensi alam dan sumber daya manusia

KPI Cirebon yang merupakan salah satu kawasan dalam Kawasan metropolitan REBANA memliki arah pengembangan industri antara lain: Industri pengolahan makanan dan minuman, Industri furnitur dan barang dari kayu, Industri perkapalan, Industri pakan, Industri bahan galian non logam, Industri bahan bangunan, industri pengolahan garam konsulasi dan Industri pengolahan hotmix dan beton.